KAJASHA
"Mampir nyoto," begitu pesan Triyatmo disertai foto suasana warung Soto Bening Boyolali di Rest Area Sartondho, warung yang digagas Pak Bei untuk menghidupkan Bumdes JEMAWAN di Jl. Klaten-Boyolali km 7. Tentu sahabatnya itu bermaksud ngabari bahwa dia sedang nglarisi soto Pak Bei.
"Oke, Nda. Sebentar lagi aku meluncur," jawab Pak Bei yang kebetulan sedang longgar tidak ada agenda keluar kota. Triyatmo memang sedang beruntung, berbeda dengan beberapa teman lain yang belum pernah bisa ketemu Pak Bei di Rest Area Sartondho.
"Nda, ayo kita ke warung nemui Om Triyatmo," Pak Bei mengajak Bu Bei yang sedang asyik dengan karyawan di workshop Bundaco.
"Om Triyatmo di warung?" tanya Bu Bei.
"Iya, dia barusan ngabari."
Tak sampai lima menit, Pak Bei dan Bu Bei sudah sampai di parkiran Rest Area Sartodho. Juru parkir menyambutnya dan dengan sigap memandu di mana Pak Bei harus memarkir mobilnya. Segera ditemuinya Triyatmo yang sedang asyik menikmati soto non-micin bersama Mas Ifan Nuri rekan kerjanya.
Pak Bei mengenal sahabatnya ini sejak masih sama-sama mahasiswa di UGM. Sebenarnya mereka beda fakultas dan angkatannya pun terpaut beberapa tahun. Triyatmo mahasiswa Teknik Mesin angkatan '89, sedangkan Pak Bei mahasiswa Sastra angkatan '85. Jadi usia Triyatmo lebih muda beberapa tahun dari Pak Bei. Tapi karena sama-sama aktivis di Gelanggang Mahasiswa, di Jamaah Shalahuddin khususnya, maka keduanya pun menjadi akrab dan bersahabat. Dulu, Triyatmo sempat jadi Ketua Jamaah Shalahuddin, dan Pak Bei Ketua Sanggar Shalahuddin, sayap kegiatan Jamaah Shalahuddin di bidang seni-budaya.
"Kok njanur gunung, pada mau ke mana ini?" tanya Pak Bei.
"Mau ke Semarang, Pak Bei. Ada meeting jam 13.00 nanti," jawab Triyatmo.
"Ikut nggarap jalan tol Joglosemar, to?"
"Wah enggaklah, Pak Bei. Berat."
"Berat piye?"
"Profitnya kecil, pembayarannya tempo dan rumit."
"Iya, Pak Bei. Sekarang kami pilih proyek-proyek kecil tapi pembayarannya bagus dan profitnya jelas," Mas Ifan ikut nembahi.
Pak Bei masih ingat betul, sahabatnya ini seorang enterpreuneur sejati. Sejak masih mahasiswa sudah merintis bisnis dengan teman-temannya, bergerak di bidang rekayasa mesin. Mereka punya mitra satu perusahaan cukup besar di Cilegon yang secara rutin memberi pekerjaan sebagai sub-kontraktor. Lalu, beberapa temannya setelah lulus kuliah ditarik ke perusahaan mitranya itu, ada yang jadi Dirut, manajer SDM, manajer produksi, dan sebagainya. Triyatmo memilih tetap khusyuk mengelola perusahaannya sendiri dengan segala dinamikanya.
"Menjadi kepala ikan teri lebih nikmat daripada menjadi ekor ikan hiu," begitu prinsip Triyatmo.
Pada Reuni Akbar (lintas angkatan) Keluarga Alumni Jamaah Shalahuddin (Kajasha) di Bulaksumur sekitar empat tahun yang lalu, secara aklamasi Triyatmo terpilih sebagai Ketua Umum. Semua musyawirin mengakui kecakapan Triyatmo dalam mengelola organisasi dan diyakini akan mampu menjembatani generasi tua angkatan 70-80-an dengan generasi millenial, 90-2.000-an.
"Piye kabare Kajasha, Nda?" tanya Pak Bei.
"Belum ada progress, Pak Bei. Masih gini-gini saja," jawab Triyatmo.
"Lha piye, to?"
"Sebenarnya sudah lama saya pengin Kajasha punya usaha, punya bisnis, atau semacam Bisnis Center, tempat semua anggota, terutama yang punya bisnis atau produk, bisa mengembangkan usahanya. Pusat bisnis itu sekaligus jadi tempat kongkow-kongkow bila teman-teman luar kota datang ke Jogja."
"Wah bagus itu. Kajasha Bisnis Center, KBC. Lebih bagus lagi kalau tempatnya bisa di kawasan Bulaksumur."
"Insya Allah bisa, Pak Bei. Aku pernah menjajaki kemungkinan Kajasha menggunakan satu-dua bagian di area Masjid Kampus. Respon dari pihak yayasan juga cukup bagus."
"Lah terus kenapa belum bisa jalan sampai sekarang?"
"Masalahnya belum ketemu ide usaha apa yang cocok untuk mengawali. Ide besar-besar banyak, tapi kesulitan dari mana mau memulainya. Maklum semua sudah punya kesibukan, dan tinggalnya banyak yang berjauhan di berbagai kota. Pak Bei ada ide?"
"Kalau ideku sih sederhana saja, Nda."
"Apa itu, Pak Bei?"
"Mungkinkah kalau kita mulai dari buka warung soto seperti ini? Marketnya jelas potensial, lho."
"Wah cocok, Pak Bei. Kalau saya sih YES," Ifan menyahut. "Tempatnya jelas strategis. Marketnya sangat potensial. Komoditas soto non-micin ini jelas marketable. Enak tenan je. Pasti laris. Tapi ya terserah Pak Ketua," lanjut Ifan.
"Saya sih YES juga. Ide bagus Pak Bei bisa jadi alternatif. Coba kita share ke teman-teman dulu. Kalau responnya positif, kapan-kapan kita ketemu lagi untuk bikin bisnis-plannya," kata Triyatmo.
"Mas Tri," Bu Bei yang dari tadi hanya diam mendengarkan mulai ikut bicara, "Usaha soto ini kelihatannya memang sederhana, cuma warung soto. Tapi jangan salah, Mas Tri. Profitnya lumayan lho."
"Iya saya percaya, Bu Bei. Dan yang lebih penting bagi Kajasha sebenarnya soal perlunya tempat yang nyaman bagi anggota untuk bisa ketemu ngobrol-ngobrol kangen-kangenan."
"Mas Tri, kami sudah membuktikan bahwa warung soto seperti ini bisa menjadi pilihan tempat yang nyaman untuk ketemuan. Kami biasa ketemu teman-teman di sini sambil nyoto dan ngopi," kata Bu Bei.
"Memang Bu Bei," Ifan menyahut," Sesuatu yang besar harus dimulai dari yang kecil dan sederhana. Tentu sulit bikin sesuatu yang langsung besar, apalagi bila harus melibatkan orang banyak. Usaha soto seperti ini mungkin justru bisa jadi solusi."
"Baiklah Pak Bei-Bu Bei, kapan-kapan kita sambung lagi, ya. Kita matangkan ide ini. Kami harus melanjutkan perjalanan dulu nih," kata Triyatmo sambil berdiri.
"Oke, Nda. Semoga lancar dan aman perjalanan kalian. Terima kasih sudah mau mampir menikmati soto kami."
Pak Bei dan Bu Bei pun mengantar sahabatnya itu hingga mobilnya keluar dari parkiran.
#serialpakbei
#wahyudinasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar