Cerita tentang Sasa, juru parkir warung soto Kartongali Jolotundo, Jatinom, Klaten, yang bekerja secara profesional, yang kritis mencermati setiap fenomena sosial-budaya-ekonomi-politik dengan caranya yang khas wong cilik, dengan kaca matanya yang tajam dan menggelitik
Jumat, 30 Mei 2025
PAK BEI NAIK HAJI
Kamis, 29 Mei 2025
TAMU ALLAH DAN SISTEM PELAYANAN BERBASIS SYARIKAH
Tamu Allah dan Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah: Jangan Hanya Pegang Buntut Gajah
Ketika seseorang diundang menjadi tamu, apalagi oleh pemilik rumah yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih berpengalaman, maka ia sejatinya sedang berada dalam wilayah pelayanan yang tidak bisa serta-merta ia pahami. Ia harus bertanya, melihat, dan belajar terlebih dahulu sebelum menilai.
Hal inilah yang juga berlaku bagi jamaah haji di Tanah Suci. Sebagai tamu Allah, setiap jamaah sejatinya datang dalam posisi istimewa sekaligus sensitif. Mereka diposisikan sebagai orang yang dilayani — bukan oleh sembarang orang — tetapi oleh sistem yang sudah disiapkan negara penerima tamu, yakni Kerajaan Arab Saudi.
Sayangnya, sebagian jamaah belum benar-benar memahami bagaimana pola pelayanan itu bekerja. Akibatnya, banyak salah paham, keluhan, hingga tuduhan miring yang bersumber dari ketidaktahuan dan informasi tidak utuh. Maka dari itu, penting bagi jamaah — dan siapa pun yang terlibat dalam penyelenggaraan haji — untuk mengenali sistem pelayanan haji berbasis syarikah secara menyeluruh.
Adh-DhoifukalMayyit: Menjadi Tamu yang Tunduk dan Tawadhu'
Dalam Islam, ada sebuah filosofi yang kuat tentang tamu:
"Adh-dhoifukalmayyit" — tamu itu seperti mayit.
Ungkapan ini bukan dalam arti merendahkan, tapi menggambarkan posisi penuh tawadhu’ dan pasrah dari seorang tamu kepada tuan rumahnya. Tamu tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi di rumah orang lain. Apalagi ketika menjadi Tamu Allah di dua tanah haram, Makkah dan Madinah — tunduk dan pasrah adalah sikap terbaik yang bisa ditunjukkan.
Syarikah, Maktab, dan Kafilah: Sistem Tuan Rumah di Dua Tanah Suci
Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi mengubah pola pelayanan haji menjadi lebih terstruktur dan profesional melalui sistem yang dikenal sebagai Pelayanan Berbasis Syarikah. Tujuannya adalah efisiensi, akuntabilitas, dan standarisasi layanan kepada jutaan jamaah dari seluruh dunia.
Agar jamaah tidak bingung, berikut tiga entitas penting dalam sistem ini:
1. Syarikah
Perusahaan resmi yang mendapat izin dari pemerintah Saudi untuk menyediakan layanan-layanan haji utama:
- Makanan (katering)
- Transportasi
- Tenda dan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
- Toilet dan sarana umum lainnya
2. Maktab
Adalah unit kerja atau kantor yang bernaung di bawah Syarikah. Maktab bertugas menangani jamaah dari negara tertentu secara administratif dan teknis, termasuk Indonesia.
3. Kafilah
Tim teknis di lapangan. Merekalah yang menangani makanan, pengaturan tenda, transportasi, dan keperluan harian jamaah secara langsung.
Sederhananya, Syarikah merancang sistem, Maktab mengatur wilayah kerja, dan Kafilah melaksanakan teknisnya di lapangan.
Dengan sistem ini, jamaah tidak lagi direpotkan oleh urusan logistik, rute perjalanan, atau keperluan domestik lainnya. Semua sudah diatur oleh tuan rumah.
Mengapa Banyak Keluhan di Media Sosial?
Berbagai keluhan yang muncul — makanan basi, AC mati, bus datang terlambat — adalah kasus-kasus parsial yang sebetulnya wajar dalam skala pelayanan jutaan orang dari berbagai negara. Tapi jika tidak dipahami dengan utuh, maka akan timbul generalisasi negatif yang tidak adil: seolah-olah sistem ini buruk seluruhnya.
Untuk menjelaskan hal ini, Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Muhammadiyah Klaten, menggunakan analogi bijak:
“Orang yang hanya memegang buntut gajah, akan bilang gajah itu seperti tali. Yang memegang telinga akan bilang seperti kipas. Yang pegang kaki bilang seperti tiang. Semua tidak salah, tapi semua tidak utuh. Maka jangan nilai sistem syarikah hanya dari satu sisi saja.”
Peran Petugas Haji Indonesia: Mitra Strategis, Bukan Tukang Komplain
Pemerintah Indonesia mengirim ribuan petugas untuk mendampingi jamaah selama haji. Mulai dari Ketua Kloter, pembimbing ibadah, tenaga medis, hingga petugas non-kloter yang tergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Mereka bukan pelayan utama, karena itu adalah peran Syarikah. Tapi mereka menjadi mitra strategis, penghubung, sekaligus pelindung psikologis dan spiritual bagi jamaah. Ketika terjadi masalah, mereka-lah yang membantu menjembatani antara jamaah dan tuan rumah.
Kesimpulan: Jangan Pegang Buntut Gajah, Lihat Keseluruhannya
Ibadah haji bukan sekadar ritual. Ini perjalanan spiritual sekaligus sosial. Jamaah perlu mempersiapkan kesabaran dan keikhlasan sebanyak mungkin. Sistem pelayanan haji bukan sistem sempurna, tapi dibangun untuk melayani jutaan tamu Allah dengan cara yang tertib, bermartabat, dan manusiawi.
Alih-alih menyalahkan sistem karena satu kekeliruan, mari belajar memahami, bersyukur, dan menjaga prasangka baik — bahwa tuan rumah sedang berusaha sebaik mungkin untuk memuliakan tamu-tamu Allah.
ADHDHOIFUKALMAYYIT
“Adh-Dhoifukalmayyit”: Tamu Itu Ibarat Mayit
Reportase Rapat Koordinasi Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah Klaten
Mekah, 29 Mei 2025 – Bertempat di lobi Hotel Shafwat Al-Shorouq (592) Raudhah, Mekah, telah berlangsung rapat koordinasi yang dipimpin oleh Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten. Rapat ini dihadiri oleh para Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah.
Tema yang dibahas dalam rakor kali ini adalah:
“Memahami Pola Pelayanan Jamaah Haji Berbasis Syarikah Secara Sederhana.”
Jamaah Perlu Memahami Pola Kerja Tuan Rumah
Dalam arahannya, Dr. Husen menekankan bahwa jamaah haji Indonesia adalah tamu Allah sekaligus tamu Kerajaan Arab Saudi. Karena itu, penting bagi jamaah untuk memahami pola pelayanan yang digunakan tuan rumah.
"Siapa pun tamunya, pasti akan bingung bila belum paham pola pelayanan dari tuan rumah. Jika bingung, bisa jadi muncul kekecewaan. Apalagi jika mendengar berita-berita kasuistik, lalu digeneralisasi seakan-akan semua pelayanan buruk," ujarnya.
Filosofi Adh-Dhoifukalmayyit: Tamu Ibarat Mayit
Dr. Husen mengingatkan kembali filosofi penting yang berlaku dalam bimbingan haji:
“Adh-dhoifukalmayyit – tamu itu ibarat mayit.”
Filosofi ini mengajarkan bahwa jamaah sebaiknya bersikap pasrah dan percaya pada para pelayan yang membimbing dan melayani mereka, seperti halnya mayit yang mengikuti kehendak orang yang memandikannya.
Analogi Gajah: Jangan Hanya Lihat Sebagian
Untuk menjelaskan pentingnya memahami sistem secara utuh, Dr. Husen menggunakan analogi gajah:
"Ada orang buta pegang gajah. Satu pegang buntut, bilang gajah seperti tali. Satu pegang telinga, bilang seperti kipas. Satu lagi pegang kaki, bilang seperti tiang. Semua benar, tapi itu hanya bagian, bukan keseluruhan."
"Demikian pula dengan sistem pelayanan haji berbasis Syarikah. Jangan hanya menilai dari satu kejadian atau satu berita. Harus dipotret secara utuh," tambahnya.
Mengenal Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah
Dalam sistem ini, Kerajaan Arab Saudi menyerahkan layanan teknis kepada perusahaan-perusahaan resmi yang disebut Syarikah. Sistem ini memiliki tiga entitas utama:
1. SYARIKAH
Adalah Perusahaan resmi yang memiliki izin dari Pemerintah Arab Saudi. Mereka menyediakan berbagai layanan teknis haji: katering, transportasi, tenda, toilet, pengelolaan logistik, dll.
2. MAKTAB
Adalah Kantor atau unit kerja di bawah naungan Syarikah. Maktab bertanggung jawab terhadap jamaah dari negara tertentu. Mereka berkoordinasi langsung dengan petugas kloter dan pemerintah Indonesia.
3. KAFILAH
Adalah Tim Teknis Lapangan yang bekerja langsung di lokasi. Mereka menangani kebutuhan harian jamaah seperti menyajikan makanan, mengatur bus, mengurus tenda dan toilet, serta mendampingi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Dengan sistem ini, jamaah tidak perlu lagi mengurus sendiri urusan tenda, logistik, rute perjalanan, atau fasilitas. Semua sudah disiapkan oleh tuan rumah.
Berita Kasuistik Bukan Cerminan Utuh
Rakor juga membahas fenomena di media sosial. Banyak jamaah atau netizen yang menyebarkan keluhan tanpa memahami konteks atau struktur sistem secara menyeluruh.
“Kalau ada toilet macet, makanan telat, atau bus terlambat, jangan langsung simpulkan sistemnya gagal. Itu kejadian kasuistik, bukan gambaran utuh,” ungkap salah satu ketua rombongan.
Peran Penting Petugas Haji Indonesia
Rapat menegaskan bahwa para petugas haji dari Indonesia tetap berperan penting, antara lain:
- Ketua Kloter: Menjadi jembatan antara jamaah dan Maktab/Syarikah. Dia memastikan seluruh jamaahnya mendapatkan pelayanan dan haknya sebagai tamu.
- Petugas Pembimbing Ibadah: Menenangkan jamaah dan membimbing ibadah.
- Petugas Kesehatan: Menangani kesehatan jamaah di semua fase perjalanan.
- PPIH Arab Saudi (Non-Kloter): Menangani kebutuhan darurat, advokasi, dan layanan luar kloter. “Petugas kita adalah penyambung komunikasi dan penguat psikologis jamaah. Keberadaan mereka tetap krusial walau pelayanan teknis ditangani Syarikah,” jelas Dr. Husen.
Penutup: Tetap Sabar dan Fokus
Rapat ditutup dengan ajakan agar seluruh ketua rombongan menjadi peneduh dan pelurus informasi di antara jamaah. Jangan ikut menyebarkan kabar negatif, tapi justru membantu jamaah memahami tujuan utama haji: beribadah dengan khusyuk, sabar, dan ridha.
“Kita di sini bukan sedang berwisata. Kita sedang melayani tamu-tamu Allah. Maka kita pun harus menjaga adab, kesabaran, dan keikhlasan,” pungkas Dr. Husen.
#wahyudinasution