Senin, 03 Februari 2020

VIRUS

VIRUS

"Orang sekarang kok gampang kagetan ya, Om," Sasa mengawali obrolan di tengah suasana gerimis sore. Dua gelas kopi telah kusajikan di meja. Aku pun sudah duduk manis siap nemani glenak-glenik sahabatku ini. Setelah nyeruput kopi satu dua teguk dan menyalakan rokok, Sasa meneruskan grenengannya, "Orang sekarang jadi gumunan, gampang kagum. Nerima kabar sedikit saja heboh berhari-hari. Semua orang ikut komentar, pinter-pinteran ngomong. Jadi njelehi ya, Om."

"Sebentar, Sa. Kamu ini mau ngomong soal apa, to? Ngalangnya kok jauh. Mbok to the point saja."

"Gumun tenan aku, Om."

"Loh, tadi katanya orang sekarang gumunan. Jebul kamu sendiri to yang gumunan?"

"Wah jindul ik. Maksudku, aku ini gak habis pikir dengan kecenderungan orang sekarang yang dikit-dikit heboh, Om. Bukan gumun karena kagum."

"Makanya kalau ngomong gak usah muter-muter, dadi mumet dhewe ndhasmu. Apa yang membuatmu heran, Sa?"

"Soal virus corona, Om. Beritanya kok nggegirisi, seolah-olah hal paling penting dan semua rakyat harus tahu."

"Ya memang itu virus berbahaya kok, Sa. Konon belum ada vaksin penangkalnya. Cepat sekali menular. Hingga saat ini sudah 300an orang meninggal dan puluhan ribu orang terinveksi."

"Tapi itu kan di China sana to, Om?"

"Iya memang asalnya dari Wuhan, China, tapi sudah menular ke kota-kota lain dan beberapa negara, Sa.  Kita pun pantas khawatir virus itu masuk ke Indonesia melalui para pelancong dari sana. Makanya Pemerintah kita memulangkan WNI yang selama ini tinggal di sana, juga menutup sementara semua penerbangan dari dan ke China."

"Ya ini lho maksudku, Om."

"Yang mana, Sa?"

"Aku setuju-setuju saja Pemerintah kita melakukan itu. Memang sudah menjadi kewajibannya melindungi semua warga negara dari mara bahaya."

"Iya, terus....?"

"Memangnya virus berbahaya dan mematikan hanya corona?"

"Maksudmu?"

"Menurutku ada virus lebih berbahaya dan menular yang bisa membunuh orang dan jelas akan meruntuhkan negara, Om."

"Apa itu?"

"Korupsi, Om. ."

Jindul tenan Sasa. Ternyata ngomong mutar dari tadi ujung-ujungnya ke sana. Cerdas tenan sahabatku ini.

"Virus ini jelas sangat berbahaya dan belum ada obatnya sampai sekarang."

"Benar itu, Sa. Sudah mewabah di mana-mana. Semua instansi dari tingkat Desa sampai tingkat Pusat rawan korupsi. Dari Menteri, wakil rakyat, Direktur BUMN, penegak hukum, tokoh agama, petugas pajak,  pemungut retribusi di pasar-pasar, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan Perangkatnya, sudah terpapar korupsi."

"Edyan tenan. Semua orang korupsi ya, Om."

"Ya tapi jangan gebyah-uyah, Sa. Masih banyak pejabat dan petugas yang lurus, lho."

"Aku jadi curiga jangan-jangan semua pejabat sudah korupsi, Om, cuma ndelalah masih tampak bersih dan belum ketangkap KPK saja."

"Wah ya jangan terus pesimis gitu to, Sa. Jangan negative thinking. Percayalah bahwa fitrah semua manusia cenderung baik dan lurus."

"Ya saya percaya itu, Om. Tapi masalahnya virus korupsi ini sudah terlanjur mewabah di seantero Nusantara. Penegak hukum saja sudah terpapar. KPK pun tampaknya sedang sakit keras dan nyaris mati suri."

"Kita doakan saja semoga wabah korupsi segera berlalu, Sa."

"Aku jadi khawatir juga, Om."

"Khawatir apa?"

"Jangan-jangan berlalunya wabah korupsi ini menunggu turunnya azab. Terjadi bencana alam yang luar biasa, misalnya."

"Wah ya jangan gitu, Sa. Tuhan kan sudah sering nurunkan bencana alam, tapi bangsa kita juga tak kunjung tobat. Iya, to?"

"Iya ya, Om. Pas ada bencana alam semua orang jadi baik budi. Begitu bencana berlalu, para pejabat kembali andrawina kembul bujana."

"Mudah-mudahan ancaman virus corona ini bisa menyadarkan bangsa kita ya, Sa."

"Iya, Om. Kayaknya perlu ada tobat nasional ini, Om. Biar selamat semua."

Sebentar lagi maghrib tiba. Tapi Sasa tidak pamitan karena bakda maghrib nanti mau langsung ke rumah pasien pijatnya. Maklumlah, di samping pagi hari dia kerja sebagai juru parkir Soto Kartongali Jolotundo, di sore dan malam hari dia biasa melayani pijat panggilan dari rumah- ke rumah. Pijat capek, bukan pijat pengobatan seperti tabib.

#serialsasa









Kamis, 23 Januari 2020

TA'AWUN

TA'AWUN

Sore itu, aku sedang ngobrol bersama istri dan sahabatku Sasa ketika tiba-tiba datang seorang pemuda menyampaikan uluk-salam seperti umumnya orang bertamu. Kami pun menjawab salamnya dan mempersilakan pemuda itu duduk. Menilik penampilannya, pemuda itu umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Wajahnya bersih tampak belum banyak dosa. Sorot matanya jernih tajam, bibirnya juga murah senyum. Dia kuliah semester 6 dan masih aktif sebagai anggota IMM di Klaten.

"Mohon maaf, Pak. Perkenalkan nama saya Sandi," pemuda itu memperkenalkan diri.

"Siapa, Mas? Sandi? Sandi Uno, ya?," tanya Sasa sok usil.

"Sandi saja, Pak, gak pakai Uno," jawabnya.

"Mungkin bapakmu dulu pengagum Sandi Uno ya, Mas? Atau jangan-jangan kemarin juga ikut relawan Prabowo-Sandi?" Sasa masih neruskan usilnya.

"Mas Sasa ini bagaimana, to?" istriku menyela, "Waktu Mas Sandi ini lahir, tentu Sandiaga Uno masih anak-anak dan  belum terkenal seperti sekarang," lanjutnya.

"Iya ya, Mbak. Lha kok ndelalah namanya sama-sama Sandi, ya?"

"Ada agenda apa ini, Mas Sandi?  Wonten dhawuh?" tanyaku ke Sandi.

"Begini, Pak. Saya marketing dari LDKWM Pimpinan  Daerah Muhammadiyah Klaten, sowan ke sini mau sosialisasi program. Mungkin nanti Bapak dan Ibu berkenan ikut program ini, syukur juga berkenan mengikutkan semua karyawan Bunda Collection," jawab Sandi.

"Program apa tadi, Mas?" tanya istriku.

"LDKWM, Bu, yaitu Lembaga Dana Kerukunan Warga Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten."

"Maksudnya bagaimana itu, Mas?," Sasa ganti bertanya.

Sandi pun berusaha menjelaskan tentang LDKWM. Berbeda dengan cara sales asuransi atau agen MLM dalam memprospek calon klien atau downline-nya, Sandi tampak santun memahamkan kami tentang pentingnya LDKWM. Dijelaskannya bahwa program ini dibuat sebagai upaya PDM Klaten membangun dan mengembangkan budaya ta'awun, budaya tolong-menolong antar warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya. Masyarakat perlu diajak untuk saling tolong-menolong terutama pada yang sedang teekena musibah atau kesusahan dengan menjadi anggota LDKWM. Caranya gampang sekali. Calon anggota cukup mendaftar dan membayar infaq atau iuran sebesar Rp 20.000 per tahun. Setelah itu, peserta akan mendapatkan Kartu Anggota yang akan berlaku satu tahun.

"Cuma Rp 20.000 per tahun, Mas? Kok murah banget ya, Om? Gak seperti iuran wajib BPJS yang semakin mahal, "  Sasa menyela.

"Iya, Pak. Memang murah. Bahkan untuk anak-anak pelajar TK, SD, SMP, SMA besarnya iuran cuma Rp 10.000 per tahun. Ini karena kita menyesuaikan dengan kekuatan warga yang ekonominya rendah," jawab Sandi.

"Terus peserta dapat manfaat apa, Mas Sandi?," tanya istriku.

"Ada beberapa manfaat yang akan didapatkan peserta, Bu. Pertama, bila peserta sakit lalu periksa dokter dan rawat jalan, dia bisa ngajukan klaim ke LDKWM untuk mendapatkan santunan sebesar Rp 30.000. Kedua, kalau peserta diopname, dia bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 350.000. Klaim santunan yang pertama dan kedua ini bisa dilakukan tiga kali dalam satu tahun."

"Lumayan juga ya, Mbak?" Sasa menyela.

"Masih ada manfaat ketiga dan keempat, Pak."

"Apa itu, Mas?"

"Yang ketiga, kalau peserta meninggal karena sakit, keluarganya bisa mendapatkan santunan, semacam bebungah, sebesar Rp 500.000. Dan yang keempat, bila peserta meninggal karena kecelakaan, keluarga bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 1.250.000."

"Wah hebat itu. Dengan membayar iuran Rp 20.000 dan Rp 10.000 per tahun bisa dapat manfaat lumayan lho, Mas Sasa," kata istriku, "Terus cara ngajukan santunan bagaimana, Mas Sandi?"

"Cukup nunjukkan bukti periksa dokter, kuitansi opname, atau surat keterangan meninggal, Bu," jawab Sandi.

"Dengan iuran cuma segitu dan manfaatnya yang lumayan bagi peserta, apa pengelola gak rugi ya, Om?," Sasa komentar lagi.

"Insya Allah tidak, Pak. Pertama, karena biaya operasional kami sangat kecil. Kedua, dengan mengelola ini kami para relawan cuma mengharap barokahnya."

"Gak digaji ratusan juta seperti direksi BPJS?"

"Wah ya tidak, Pak. Ini cuma lembaga sosial kok, bukan lembaga bisnis. Makanya syarat jadi peserta dan cara klaim santunan juga sangat mudah."

"Bagus itu, Mas. Orang pintar bilang, untuk urusan tolong-menolong, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit?," sahut istriku.

"Wah tapi kalau BPJS memang sangat zulit kok, Mbak. Sudah iurannya mahal, penggunaannya pun rumit," kata Sasa.

"Rumit piye, Sa? Semua kan harus ada aturan dan prosedurnya?"

"Rumit tenan kok, Om. Kalau kita sakit, biar sudah thelo-thelo dan kejang-kejang, kita tidak bisa langsung ke rumah sakit yang kita inginkan, tapi harus ke dokter keluarga dulu minta rujukan. Iya to, Mbak?"

"Iya benar, Mas? Kalau pun kita dapat rujukan hanya untuk periksa di rumah sakit type-D, tidak bisa langsung ke type-C atau B apalagi A."

"Repot lagi kalau pasien sehabis opname mau kontrol, Om. Harus nyiapkan waktu sehari penuh, sejak antri pendaftaran di loket BPJS, antari pendaftaran periksa, antri cek tensi, antri periksa dokter, hingga antri apotek. Butuh waktu berjam-jam, Om. Sungguh tidak enak jadi orang sakit jaman sekarang."

"Dari dulu juga tidak enak, Sa."

"Dulu lebih mudah urusannya, Om. Kita tinggal milih dokter atau rumah sakit dan membayar biaya periksa dan obatnya. Sekarang bertele-tele, Om."

Waktu maghrib tiba. Terdengar azan bersahut-sahutan dari masjid-masjid di seantero kampungku. Obrolan kami pun berakhir.

#serialsasa

Minggu, 05 Januari 2020

LENDHUT

LENDHUT

Sasa masih tampak sangat prihatin dengan kondisi Jakarta usai diterjang banjir bandang beberapa hari lalu. Dengan intonasi datar dan wajah sedih, dia ceritakan kembali kabar dari Marno, adiknya yang tinggal di kawasan Bekasi.

Diceritakannya, Marno telah merantau ke Jakarta sejak lulus SMK dan bekerja pada sebuah pabrik di kawasan Cakung. Marno juga sudah menikah dengan gadis Jawa yang juga teman kerjanya, dan saat ini telah dikarunia dua anak. Meski gajinya tergolong pas-pasan, tapi dengan tekad dan keyakinan yang kuat soal rejeki dari Tuhan, dia juga telah memiliki rumah sangat sederhana yang dibayarnya dengan cicilan tiap bulan selama sepuluh tahun. Di rumah itulah dia membina rumah tangga bersama istrinya dengan bahagia, merawat serta mendidik anak-anaknya yang masih balita dan lucu-lucu. Di waktu-waktu senggang, Marno juga menyempatkan srawung ajur-ajer dengan tetangga kiri-kanannya.

Namun, kebahagian itu seakan lenyap tiba-tiba, ketika di shubuh dini hari itu kompleks perumahan tempat tinggalnya diterjang banjir bandang menyusul hujan deras yang turun sejak tadi malam, satu kejadian yang konon di luar perkiraan para ahli di BMKG sekalipun. Suasana pagi pun gempar. Semua orang berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya. Dalam keadaan panik, Marno pun hanya sempat  menyelamatkan istri dan kedua anaknya, ikut mengungsi ke masjid berlantai dua di kampung sebelah hingga banjir surut. Hanya beberapa lembar pakaian anak-anak yang sempat dibawanya. Harta benda lainnya ditinggalkan begitu saja demi menghindari air bah yang tampak semakin meninggi. Beruntung selama dua hari satu malam tinggal di masjid, banyak dermawan dan relawan yang datang membawa makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan.

Singkat cerita, setelah banjir surut, semua pengungsi terutama yang laki-laki pun pulang duluan ke rumahnya untuk melihat keadaan. Betapa pilu hari Marno melihat seisi rumah berbalut lendhut alias lumpur endapan banjir. Dilihatnya ruang tamu dan perabotnya berwarna coklat. Sepeda roda tiga, apolo yang biasa untuk si kecil belajar jalan, dan satu sepeda motor alat transportasi kerjanya juga berbalut lendhut. Dilihatnya juga dua kamar tidur yang tak mungkin lagi bisa digunakan karena kasurnya berselimut lendhut cukup tebal. Lemari pakaian beserta isinya juga berbalut lendhut. Ditengok juga ruang dapurnya yang sempit, dilihatnya seluruh peralatan masak dan makan-minum terbungkus lendhut.

"Kasihan sekali, Om. Ingin sekali aku ke sana membantu adikku bersih-bersih rumah, tapi keadaanku saat ini lagi tidak memungkinkan," Sasa mengakhiri ceritanya dengan tatapan mata yang tampak kosong, sedih karena tidak bisa membantu adiknya.

"Dibantu doa saja, Sa, semoga adikmu sekeluarga tetap sehat dan segera bisa bangkit kembali."

"Iya, Om. Terima kasih," jawab Sasa sambil bersiap menyulut rokoknya. "Untung yang kebuntel lendhut hanya rumah dan perabotnya ya, Om," lanjutnya.

"Lha kok untung?"

"Ya masih untung, Om. Coba kalau yang kebuntel lendhut itu orangnya atau hatinya atau pikirannya."

"Hati dan pikiran kok kebuntel lendhut? Terus apa jadinya, Sa?"

"Ya jadinya gak punya otak, pikirannya kotor, dan hatinya penuh kedengkian, Om."

"Apa iya to, Sa?"

"Wah Sampeyan ini bagaimana. Coba perhatikan berita-berita dan dialog di tivi,  banyak orang berlagak pinter, tapi otaknya kebuntel lendhut."

"Yang mana?"

"Orang -orang yang sesungguhnya tidak peduli pada nasib orang lain, tidak mau membantu kesulitan orang lain, tapi kerjanya mencari-cari kesalahan lalu menimpakan semua kesalahan itu pada Gubernur DKI. Itu kan wong pekok namanya."

"Pekok piye to, Sa? Mereka kan berupaya kritis pada pemerintah yang dianggap melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan?"

"Sok kritis tapi tidak cerdas."

"Maksudmu?"

"Apa mereka gak tahu bahwa Bogor dan Bekasi itu wilayah Jawa Barat, bahwa Tangerang itu wilayah Banten? Apa mereka juga gak tahu bahwa Semarang itu ibukota Jawa Tengah, dan Surbaya itu ibukota Jawa Timur? Atau jangan-jangan mereka memang tidak paham Ilmu Bumi ya, Om?"

"Mereka orang pinter-pinter dan pengalaman kok, Sa. Ya pasti tahulah."

"Tahu tapi pekok."

Hujan sudah reda. Candhik ayu membuat cuaca sore jadi tampak jingga. Tidak lama lagi waktu maghrib akan tiba. Sasa pun pamit pulang setelah menghabiskan kopinya.

Minggu, 08 Desember 2019

AZIMAT

AZIMAT

"Om, pangapunten aku pagi-pagi sudah ke sini," kata Sasa mengawali obrolan. Memang, biasanya dia datang sore-sore atau bakda maghrib, tapi kali ini dia datang sebelum matahari terbit ketika aku sedang mulai bersih-bersih halaman. Entah ada apa. Kuajak sahabatku ini duduk di meja bawah pohon alpukat sambil menunggu istriku membuatkan kopi.

"Ada kabar pagi apa ini, Sa?"

"Soal keluargaku, Om."

"Ada masalah?"

"Begini, Om. Sudah beberapa bulan ini kangmasku yang nomor dua sakit komplikasi diabet, jantung, dan gagal ginjal?"

"Diopname?"

"Sekarang dirawat di rumah, Om. Kemarin sempat beberapa kali keluar-masuk opname di rumah sakit, dan sudah dua bulan ini rutin cuci darah dua kali semiggu."

"Wah kasihan ya, Sa. Pasti repot banget keluarganya." Aku pun jadi teringat betapa repotnya urusan kontrol di RS. Pagi-pagi harus antri ambil nomor pendaftaran untuk periksa nanti sore.  Sorenya antri lagi ambil nomor urut periksa. Lalu pasien menunggu panggilan sesuai omor urut untuk ukur tensi. Setelah itu duduk manis berjam-jam menunggu lagi panggilan untuk periksa dokter. Usai periksa dokter masih menunggu lagi panggilan di counter obat. Praktis waktu hampir seharian habis untuk urusan kontrol dokter di RS.

"Namanya juga setiyar, Om. Dinikmati saja proses yang bertele-tele itu."

Sudah lama aku tidak mendengar kata setiyar. Aku tahu itu maksudnya ikhtiar. Lidah orang Jawa memang tidak suka repot dalam pengucapan kata Arab. Seperti hari Ahad diucapkan Ngad, nama Bakhruddin dibaca Bakrodin, afwan jadi apem, dan sebagainya.

Dua gelas kopi disajikan istriku.

"Monggo diunjuk kopinya, Mas Sasa," kata istriku mempersilakan.

"Terus masalahnya apa, Sa? Gak punya BPJS?"

"Bukan, Om. Begini, lho. Adikku ragil yang tinggal di Jawa Timur kemarin ngirimi paket pengobatan untuk kangmasku."

"Ngirim obat?"

"Bukan obat, tapi paket pengobatan dari seorang Kyai pesantren, katanya metode penyembuhan dengan cara memindahkan penyakit ke kambing."

"Wah, bagus itu. Wujudnya apa?"

"Azimat, Om. Wujudnya kertas bertulisan Arab yang dilipat dan diberi tali.  Juga dua jerigen air putih untuk diminum pasien."

"Terus...."

"Azimat itu supaya dikalungkan di leher kambing. Di hari ketujuh, kambing itu disembelih dan dagingnya dimasak lalu bagikan ke tetangga. Jerohan atau organ kambing yang rusak harus dikubur bersama azimat yang sudah dibakar dulu."

"Wah apik kuwi, Sa."

"Tapi masalahnya kangmasku ragu, Om."

"Kenapa ragu?"

"Ada anaknya khawatir kok pakai azimat, jangan-jangan ayahnya jadi syirik. Lalu kangmasku jadi ragu juga. Makanya aku ke sini pengin ngobrol soal itu, Om. Apa iya setiyar semacam itu bisa syirik?"

"Ooh itu to masalahnya."

"Iya, Om.

"Sekarang aku tanya ya, Sa."

"Njih, Om."

"Yang menciptakan kita ini siapa"

"Gusti Allah, Om."

"Yang membuat penyakit?"

"Ya Gusti Allah."

"Yang menyembuhkan?"

"Ya Gusti Allah."

"Tapi kenapa orang sakit harus repot--repot ke dokter? Kok gak berdoa saja supaya disembuhkan?"

"Ya harus setiyar, Om. Minum obat dan berdoa agar Gusti Allah menyembuhkan."

"Betul, Sa. Kita wajib ikhtiar, berusaha supaya sembuh dari sakit lewat perantaraan dokter dan obat yang kita minum."

"Njih, Om."

"Allah memberi kesembuhan bisa lewat apa saja, Sa. Ada yang lewat dokter dan obat, ada yang lewat air yang dicelupi batu Ponari, ada yang lewat ruqyah, ada lewat jamu atau obat herbal, ada yang cukup lewat kerokan atau bekam, ada lewat air putih yangsudah didoakan kyai, dan sebagainya. Terserah Allah, Sa. Dia Yang Maha Kuasa. Manusia wajib ikhtiar."

"Njih leres, Om."

"Sa, kalau kita periksa ke dokter lalu diberi sesobek kertas yang ada tulisannya untuk nebus obat, itu namanya apa?"

"Resep, Om."

"Nah, kalau menurut ceritamu tadi, adikmu sudah ikhtiar untuk kangmasmu lewat perantara seorang kyai, lalu diberi secarik kertas bertulisan Arab. Namanya apa tadi?"

"Azimat, Om, untuk dikalungkan ke leher kambing."

"Menurutmu azimat itu sama gak fungsinya dengan resep dari dokter tadi?"

"Ya hampir sama, Om. Yang satu untuk dibelikan obat lalu diminum, yang satu untuk dikalungkan ke leher kambing lalu disembelih dan disedekahkan."

"Oke, Sa. Fungsinya hampir sama, ya. Sama-sama sebagai ikhtiar agar sembuh dari sakit. Tapi kenapa kalau ikhtiar dengan resep dokter, ponakan dan kangmas tidak ragu-ragu, sedangkan dengan azimat dari kyai jadi takut syirik?"

"Mungkin karena istilah azimat itu, Om."

"Kalau Sasa pakai azimat atau susuk untuk kesaktian, penglaris, atau pelet penakluk cewek, dsb, itu memang bisa jadi syirik. Mending dihindari. Tapi azimat untuk kangmasmu itu kan hanya media untuk memindahkan penyakit ke tubuh kambing. Iya, kan?"

"Leres, Om. Tapi itu termasuk penyiksaan terhadap kambing gak ya, Om?"

"Ya enggaklah, Sa. Kan kambingnya langsung disembelih dan disedekahkan dagingnya. Itulah kemuliaan kambing, bisa disembelih dan dimakan dagingnya. Kalau kambingnya dibiarkan sakit berkepanjangan, itu baru namanya penyiksaan."

"Wah saya jadi lega sekarang. Sudah plong. Matur nuwun ya, Om. Saya nyuwun pamit dulu, ya. Saatnya berangkat tugas...."

Matahari sudah hampir sapenggalah. Sahabatku langsung genjot supercup tuanya menuju warung Soto Karyongali Jolotundo, kembali ke rutinitas paginya.

#serialsasa


Selasa, 03 Desember 2019

GEBYAH UYAH

GEBYAH UYAH

"Om, kayaknya akan terjadi lagi situasi seperti jaman kita sekolah dulu, ya," kata Sasa sambil membantuku nyebrang jalan di depan Soto Kartongali yang padat.

"Situasi yang mana, Sa?"

"Pak Siroj guru kita dulu dan beberapa tema ngajinya ditangkap karena dituduh mau mendirikan Negara Islam. Masih ingat to, Om?"

"Ya masih ingatlah, Sa. Mereka kena pasal subversif, dituduh merongrong kewibawaan Pemerintah."

"Ya itu, Om. Guru kita divonis 7 tahun. Teman-tamannya ada yang 5 tahun dan 6 tahun," kenang Sasa sambil mengikutiku duduk di meja belakang. Sambil menunggu soto dan teh nasgithel terhidang, kulayani obrolan Sasa yang tampak gelisah pagi ini.

"Tapi itu kan dulu, Sa, waktu masih ada Undang-Undang Subversif. Sejak reformasi 1998, UU itu dicabut. Jadi sekarang beda situasinya, Sa. Jauh lebih kondusif."

"Awalnya memang kondusif, Om. Tapi belakangan mulai nyamari, mengkhawatirkan."

"Maksudmu?"

"Katanya masjid-masjid mau diawasi polisi, khotib dan ustad harus bersertifikat, majelis taklim harus legal dan terdaftar resmi, apa nanti gak jadi tegang situasinya?"

"Ya gak usah tegang, Sa. Slow wae," jawabku santai sambil mulai menyantap soto yang sudah tersaji.

"Jumatan dan pengajian di kampungku bisa bubar lho, Om."

"Kenapa bubar?"

"Ya bubar. Jadi sepi gak ada kegiatan."

"Kok bisa?"

"Ya bisa saja. Lha wong masyarakat kami dulu membangun mesjid secara swadaya kok, urunan sak mampune, tidak ada bantuan dari Pemerintah. Setelah masjid bisa digunakan, beberapa orang termasuk aku ditunjuk jadi khotib jumat dan giliran mengisi tausiyah setiap selapan sekali. Beberapa anak muda tiap sore juga ngajari anak-anak mengaji."

"Bagus itu, Sa. Di mana-mana juga begitu."

"Kalau kegiatan mesjid diaeasi, nanti para khotib, guru ngaji, dan anak-anak yang belajar mengaji jadi takut, Om. Bubar kabeh."

"Jangan apriori dulu, Sa. Maksud Pemerintah itu baik. Keutuhan dan keamanan negara ini harus dijaga dari segala bentuk gangguan radikalisme. Segala potensi gangguan harus dicegah sejak dini."

"Berarti semua kegiatan masjid dan majelis taklim dianggap bisa mengganggu kemanan negara, Om? Itu namanya gebyah uyah. Semua orang yang ke masjid dianggap radikal, lalu ditangkapi dan dijebloskan ke penjara seperti guru kita dulu? Terlalu."

"Ya tidak sejauh itu, Sa. Kalau itu terjadi namanya Pemerintah melakukan pelanggaran Hak Azasi Manusia. Bisa heboh seluruh dunia."

"Mudah-mudahan hanya isu dan tidak benar-benar terjadi ya, Om."

"Slow wae. Sasa tetap saja jadi khotib dan guru ngaji. Gak usah takut."

"Ya sudah, Om. Aku mau bertugas lagi. Matur nuwun obrolanipun, njih."

Sasa bergegas kembali ke parkiran. Aku pun langsang membayar makana di kasir dan langsung pulang.

#serialsasa

Selasa, 19 November 2019

OJO DUMEH

OJO DUMEH

Dasar Sasa, kalau lagi punya kegelisahan sering kurang empan papan. Seperti kemarin sore, kami kebetulan ketemu pas lagi takziyah meninggalnya kakak kelas kami jaman SMP dulu. Di antara ratusan pelayat, terdengar suara memanggilku dari arah teras rumah tetangga yang berduka cita. Ternyata sahabatku Sasa . Aku pun mendekat dan ikut duduk lesehan di sampingnya. Tanpa basa-basi, sahabatku ini langsung ngajukan pertanyaan yang sungguh membuatku jadi kikuk.

"Om, perintah bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Kanjeng Nabi itu kan memang hanya untuk orang beriman, ya?"

"Maksudmu?"

"Ya kalau orang tidak beriman kan gak wajib bershalawat."

"Ya memang," jawabku agak kurang antusias karena pekewuh dengan orang-orang sekitar.

"Gak papa tidak beriman, terserah saja. Tapi mbokya gak usah merendahka."

"Siapa yang merendahkan, Sa?"

"Ya adalah, Om. Tapi siapapun orangnya, kalau tidak beriman dan mencintai Kanjeng Nabi,  mbok sudah diam saja, gak usah ngomong yang bisa bikin orang tersinggung."

"Sik to, Sa, maksudmu ki piye, to?"

"Begini lho, Om. Ibarat istri. Istriku mungkin bagi Sampeyan babar blas tidak cantik dan tidak ada manfaatnya. Iya, kan? Tapi Sampeyan tetap harus menghormati istriku, tidak boleh ngelek-elek dan merendahkan. Kalau sampai Sampaian meremdahkan istriku, pasti aku akan marah. Bener gak, Om?"

"Ya jelas, Sa. Kita harus saling menghormati."

"Jaman sekarang memang harus hati-hati, Mas Sasa," Pak Modin yang duduk di sebelahku menyahut.  "Orang kalau asal ngomong bisa kena pasal ujaran kebencian, lho," lanjutnya.

"Apalagi terhadap Kanjeng Nabi, orang yang sangat dimuliakan oleh jutaan orang beriman," sahut Mas Temu. "Karena sudah menyangkut keyakinan dan keimanan, tentu banyak orang siap membela sampai mati."

"Makanya kalau memang tidak beriman, jangan asal ngomong ya, Mas Sasa. Atau mau kena pasal penistaan agama?" Pak Modin menyahut lagi.

"Simbah kita dulu berpesan ojo dumeh. Jangan mentang-mentang," kata Sasa. "Dulu kita ini lahir di mana dan jadi anaknya siapa, kita tidak bisa memilih. Tinggal menjalani," lanjut Sasa dengan tatapan serius seperti ustad sedang tausiyah. "Ada yang lahir dari keluarga pejabat yang terhormat dan kaya-raya, ada yang lahir di keluarga petani miskin, ada yang lahir dari keluarga pengusaha, keluarga kyai, keluarga tentara, dan sebagainya. Ada yang lahir di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan sebagainya. WeKita semua tinggal menjalani, tidak bisa memilih. Kita harus selalu bersyukur dan tidak boleh sombong. Juga tidak boleh minder dan rendah diri," lanjutnya.

"Betul itu, Ustad. Hehehe...," sahutku.

"Wah mbok jangan ngece to, Om. Aku tidak punya potongan ustad."

"Loh, potongan itu gak penting, Sa. Tapi tausiyahmu  tentang ojo dumeh tadi memang bener, kok. Bagus. Kayak ustad beneran. Dapat dari mana, Sa?

"Dari tivi, Om....hehehee."

"Suka nyimak pengajian di tivi, to?"

"Sasa ini rajin nonton tivi kok, Pak," kata Pak Modin.

"Apalagi kalau pas acara ILC, nontonnya sambil mentheleng tak berkedip," sahut Kang Sarno yang diam dari tadi.

"Ya maklumlah, Om, orang seperti aku ini mau belajar di mana lagi kalau bukan di tivi," Sasa minta permakluman.

Terdengar pembawa acara mulai memandu upacara pelepasan jenazah, membacakan urut-urutan acara, dari pembukaan, pembacaan ayat suci, sambutan-sambutan, hingga doa pemberangkatan jenazah menuju makam. Semua pelayat pun menghentikan obrolan untuk mengikuti rangkaian acara upacara. Obrolan kami pun terhenti. Sebenarnya aku masih penasaran dengan omongan Sasa tentang shalawat tadi. Apa maksudnya? Siapa orangnya yang berani merendahkan Kanjeng Nabi? Tapi ah sudahlah. Sasa memang terkadang sangat kritis bahkan terkesan over sensitif terhadap apapun yang didengar dan dilihatnya.







Senin, 28 Oktober 2019

RADIKALISME

RADIKALISME

Sedemikian populernya istilah 'radikalisme' akhir-akhir ini, sampai-sampai sahabatku Sasa, juru parkir Soto Kartongali itu, jadi ikut penasaran. Sedemikian penasarannya Sasa, bahkan undangan kerjaan sambilan sebagai tukang pijat panggilan pun terpaksa ditolaknya malam ini. Entah apa yang dipikirkannya hingga Sasa keroyo-royo datang ke rumahku sejak bakda maghrib tadi.

Sasa datang ndelalah pas di rumahku sedang ada beberapa pemuda kumpul sejak sore berdiskusi tentang program kerjasama dengan Bawaslu Klaten, kerjasama membuat Desa Jemawan sebagai percontohan Desa Anti Politik Uang. Kehadiran Sasa kali ini benar-benar nyolong fokus. Diskusi pun mendadak terhenti. Semua antusias mbagekke Sasa seakan menyambut kehadiran seorang artis atau tokoh politik. Anak-anak muda itu juga tidak sungkan-sungkan berebut foto-selfi, dan semua dilayani Sasa dengan gayanya yang cengar-cengir bahkan terkesan ndesit itu. Sementara kubiarkan Sasa ajur-ajer dengan para pemuda, aku ke dapur membuatkan kopi kesukaannya.

"Om, jan-jane radikalisme itu apa, to? Lha kok sejak pelantikan menteri  sampai hari ini beritanya soal itu terus," Sasa mulai ngudarasa setelah nyeruput kopi panas yang baru kusuguhkan. "Kok seperti tidak ada urusan lain yang lebih penting dilakukan para menteri, ya?," sambungnya.

"Ayo, siapa bisa menjawab? Ini Pak Sasa pengin tahu tentang radikalisme," tanyaku pada para pemuda.

"Namanya juga politik, Pak Sasa," Budi tampak berminat menjawab yang pertama.

"Maksudnya bagaimana, Dik?" tanya Sasa.

"Isu radikalisme itu dagangan politik. Perlu digoreng terus-menerus agar semua  orang percaya bahwa radikalisme itu sangat membahayakan negara sehingga harus diperangi dan dibasmi. Kalau tidak, bisa bubar negara kita gara-gara ulah kaum radikal."

"Wah, kok medeni ya, Dik," Sasa tampak belum paham.

"Mas Budi, Pak Sasa ini mungkin perlu dijelaskan dulu pengertian radikalisme. Jangan jauh-jauh dululah. Bener gak, Pak Sasa?" tanya Ikhsan.

"Njih leres, Mas," jawab Sasa.

"Bener, Dik Ihsan. Coba dipahami dulu arti kata radikal dengan contoh-contoh sederhana," kucoba mengarahkan pembicaraan.

"Radikal itu seperti cara Mas Sasa memandu parkir dengan total action dan sering menolak pemberian uang," kata Thoriq.

"Radikal itu seperti masyarakat Jemawan yang sepakat menolak politik uang dalam pelaksanaan Pilkades, padahal di Desa-Desa lain para calon Kades kuat-kuatan berlomba menyebar amplop serangan fajar," Budi menyahut.

"Radikal itu ketika orang nekad jadi politisi atau pejabat dengan menghabiskan modal sangat besar, padahal sesungguhnya mereka tidak punya kemampuan mengurusi nasib negara dan bangsa," kata yang lain.

"Radikal itu ketika  seorang politisi nekad menggadaikan SKnya ke Bank demi menjaga imej dan performance, lalu untuk mengangsur cicilannya mereka nyambi jadi makelar proyek," tambah yang lain.

"Radikal itu ketika seorang pemuda berani memutuskan menikahi seorang gadis, padahal banyak gadis yang menunggu-nunggu lamarannya," sahut yang lain.

"Radikal itu seperti Pak Sasa yang dulu kondang sebagai wong ndalan ora enak dipangan, tapi tiba-tiba memutuskan rajin ibadah, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian," sahut yang lain lagi.

Kulihat Sasa yang dari tadi bengong tampak senyum-senyum disebut namanya sebagai contoh. Tampak Sasa ingin merespon.

"Sik, Mas. Berarti yang dimaksud radikal itu sesuatu yang ora umum, yang tidak biasa dilakukan orang lain?" tanya Sasa kepadaku.

"Ya begitulah kira-kira, Sa. Lalu dianggap nyleneh dan bisa mengancam kepentingan umum," jawabku sekenanya.

"Tapi kenapa hanya orang Islam yang dianggap radikal, Om? Kok yang lainnya tidak?" tanya Sasa lagi. "Saya jadi takut, Om, jangan-jangan nanti aku juga dianggap radikal?"

"Memangnya Pak Sasa berbuat apa di parkiran?" tanya Teguh.

"Bukan di parkiran, Dik. Jelek-jelek begini aku dipercaya jamaah di mesjid kampungku jadi khotib setiap Jumat Pahing. Meski ilmuku masih sangat terbatas, tapi karena amanah jamaah, ya aku harus belajar setiap hari. Kulakan ilmu, Mas."

Azan isya' terdengar bersahutan dari corong-corong masjid sekitar. Kami pun mengakhiri obrolan dan bersama-sama menuju masjid.

#serialsasa