Senin, 21 Desember 2020

NASIONALIS SEJATI

NASIONALIS SEJATI

"Pak Bei, kalau ada orang atau kelompok masyarakat sudah  jelas-jelas anti kebhinekaan dan mengancam keutuhan NKRI, itu kan sudah selayaknya dibasmi saja dari negeri kita tercinta ini, to? Tapi kenapa justru terkesan banyak yang membela dan melindungi?," kata tamu Pak Bei setelah memperkenalkan namanya Bayu dari Sukoharjo. Kedatangannya pagi ini bersama satu bus rombongan studi banding dari sebuah Lembaga Kursus dan Pelatihan. Dilihat dari fisiknya, usia Bayu sekitar 35 tahun. Mungkin karena profesinya sebagai tour leader, Bayu tampak ramah dan pandai bergaul. Gaya bicaranya juga atraktif dan menggebu-gebu. Pemilik LKP dan crew bus yang ikut duduk lesehan di teras omah Limasan Pak Bei hanya senyum-senyum melihat gaya si Bayu.

"Sebagai seorang Nasionalis Sejati, terus terang saya sangat sedih melihat dan membaca kejadian akhir-akhir ini. Lha wong sudah jelas mereka melawan aparat, mengancam keselamatan petugas, ya wajar kalau mereka didor saja. Iya, to?  Lha kok malah dibela-belain, dibilang aparat telah melakukan penggantian HAM berat. Atau bagaimana menurut, Pak Bei,? tanya Bayu.

Sebagai tuan rumah, tentu kurang bijak kalau Pak Bei langsung menjawab. Itu juga termasuk pertanyaan sensitif. Apalagi Pak Bei belum cukup mengenal siapa sebenarnya si Bayu. Pada situasi saat ini, ngomong harus sangat hati-hati. Menilik sekilas cara pandang Bayu, salah jawaban sedikit saja bisa dianggap menebarkan kebencian, anti kebhinekaan, anti NKRI, dan pro FPI. Lebih ngeri lagi kalau kemudian digoreng di medsos dengan sebutan kadrun, kadal gurun, sebutan yang sungguh sangat ngece bagi sesama anak bangsa.

"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Bayu. Monggo, Bapak-Bapak.  Kita ngobrol santai saja di sini. Masih banyak waktu. Biasanya anak-anak studi banding di workshop Bundaco ini sekitar dua-tiga jam. Monggo diunjuk," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.

"Lha wong imamnya saja masih punya kasus memalukan yang perlu dilanjutkan lagi proses hukumnya, kok," Bayu seakan mengungkapkan kekesalannya.

"Maksud, Mas Bayu?," tanya Pak Bei.

"Loh, masak Pak Bei lupa. Dia dulu kan melarikan diri karena kasus chat mesum itu. Ingat, kan?"

"Lah kan sudah di SP3 sama Polisi. Kasusnya tidak terbukti."

"Pak Bei keliru. Penyelidikannya dihentikan karena dia melarikan diri. Sewaktu-waktu bisa dibuka lagi. Syukurlah sekarang sudah pulang sendiri, seperti kutuk marani sunduk."

"Mas Bayu, aku jadi teringat satu kisah dalam Al Qur'an."

"Kisah yang mana, Pak Bei?"

"Tapi sebelumnya tolong Mas Bayu pahami dulu bahwa saya bukan anggota atau simpatisan FPI. Sama seperti Mas Bayu, saya ini Nasionalis Sejati. Kita sama-sama peduli pada nasib bangsa dan negara. Oke?"

"Siap, Pak Bei. Saya paham."

"Alkisah, setelah 10 tahun menghabiskan masa pelariannya ke negeri Madyan, Musa kembali ke Mesir kampung halamannya," Pak Bei memulai kisahnya. Setiba di  Mesir, Musa disambut dan dielu-elukan oleh ribuan kaum Bani Israil sebagai tokoh dan pahlawan yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Diceritakan, dulu sebelum pergi ke Madyan, Musa selalu mengajak mereka untuk saling tolong-menolong, saling menyayangi dan melindungi, dan selalu bertaqwa kepada Tuhan di mana pun berada. Hanya dengan cara itu, Bani Israil akan mampu menghadapi rejim Firaun yang kejam."

"Wah ini dongeng Nabi Musa, ya. Lanjut, Pak Bei," Bayu tampak antusias.

"Dengan cepat, kabar kedatangan Musa sampai ke istana Fir'aun. Dilihatnya kedatangan Musa berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban negeri Mesir. Maka harus dicari  strategi untuk menghalangi pergerakan Musa agar pengikutnya tidak semakin banyak. Para hulubalang dan mata-mata disebar ke seluruh negeri untuk menakuti rakyatnya. Mungkin ini semacam operasi intelijen. Para menteri dan birokrat juga ditugasi membuat aturan-aturan yang bila Musa dan pengikutnya melanggar akan dikenai tindakan tegas."

Pak Bei menyulut lagi kretek sebatang, menghembuskan asap putih bergulung-gulung yang dengan cepat tersaput angin semilir dari arah sawah depan rumah. Bayu dan teman-temannya tampak menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.

"Tapi rupanya gerakan Musa yang dibantu Harun saudaranya semakin tak terbendung. Pengikutnya semakin banyak, bukan hanya dari kaum Bani Israil, tapi juga hampir semua orang miskin di Mesir. Fir'aun semakin gusar, merasa terancam kewibawaannya. Atas usul para tukang sihir, maka diundanglah Musa ke istana untuk beradu kesaktian."

Tampak Yu Mur asisten Bu Bei datang menyuguhkan dua piring pisang goreng yang masih anget. Pak Bei mempersilakan tamu-tamu menikmatinya. 

"Kalian tahu, siapa yang dimaksud tukang sihir dalam kisah Musa ini?," tanya Pak Bei. 

"Dukun, Pak Bei.," jawab Hendra si sopir bus pariwisata.

"Ahli nujum," jawab Kusno kernet bus.

"Bukan. Mereka itu kaum intelektual dan rohaniawan yang mengabdikan hidupnya pada kekuasaan Raja Firaun. Mungkin seperti Profesor, Doktor, atau Kyai di jaman sekarang. Atau setidaknya para sarjana yang menjadi buzzer dan tugasnya mengelabui mata dan pikiran rakyat Mesir.dengan narasi-narasi penuh tipu-daya."

"Orang-orang hebat ya, Pak Bei?," tanya Kusno

"Hebat, tapi tukang ngapusi," sahut Hendra.

"Diceritakan bahwa tukang-tukang sihir itu ternyata semua takluk menghadapi kecerdasan Musa. Semua teori dan argumentasinya dapat dipatahkan. Ular-ular ganas dan menjijikkan bikinan para tukang sihir dilahap semua oleh tongkat Musa yang berubah jadi ular besar. Maka, saat itu juga para tukang sihir berubah hati dan pikiran. Mereka beriman pada Musa, mengakui bahwa yang disampaikan Musa selama ini benar."

Bayu masih diam dan tampak berpikir keras. Merokoknya sangat cepat, tampak tidak sempat menikmati tiap sedotan dan hembusannya.

"Fir'aun marah gak, Pak Bei?," tanya Kusno.

"Tentu saja Fir'aun marah besar melihat semua itu. Maka diusirlah Musa dan tukang-tukang sihir itu agar keluar dari istana."

"Kok gak langsung ditangkap dan dipenjara atau dibunuh ya, Pak Bei?," tanya Hendra.

"Entahlah. Sebenarnya gampang saja kalau Fir'aun mau melakukannya, tapi mungkin dia masih ngemong rasa Asiyah istrinya yang merawat Musa sejak bayi," jawab Pak Bei.

"Begitulah, Mas Bayu. Sepertiga Al Qur'an itu isinya kisah tentang Nabi/Rasul dan umat jaman dulu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang jaman sekarang. Selalu ada perulangan sejarah dan kejadian. Tentu saja tidak persis sama, bisa hanya mirip-mirip."

"Pangapunten, Pak Bei, Njenengan suka merokok pakai pipa, gak?," tanya Bayu. Pak Bei belum tahu ke mana arah pertanyaan Bayu yang tiba-tiba di luar konteks.

"Maksud Mas Bayu bagaimana?"

"Saya senang sekali mendengar cerita Pak Bei tadi. Saya jadi sadar masih harus banyak belajar lagi. Dan dengan segala hormat, mohon Pak Bei mau nerima hadiah dari saya ini sebagai tanda paseduluran," kata Bayu sambil tangannya menyerahkan pipa rokok yang diambil dari saku bajunya.

"Ya Allah....matur nuwun, Mas Bayu. Pipa ini bagus sekali."

"Itu pipa dari tulang sapi purba, Pak Bei. Jangan tanya harganya. Tapi lihatlah niat dan kebahagiaan saya bisa ngobrol dengan Pak Bei. Kalau boleh kapan-kapan saya mau sowan ke sini lagi."

"Wah saya yang matur nuwun, Mas Bayu. Njenengan ke sini membawa rejeki untuk kami. Alhamdulillah. Akan saya pakai pipa ini tiap hari. Monggo kapan saja kami siap nerima kerawuhan Mas Bayu. Yang penting ngabari dulu, ya, biar gak kecelik."

Tampak anak-anak rombongan studi banding keluar dari workshop Bundaco. Rupanya mereka sudah selesai agendanya. Obrolan pun kami akhiri. Setelah foto-foto di depan nDalem Pak Bei, rombongan pun pamitan untuk meruskan perjalanan ke Jogja. 

#serialsotopakbei4










 








Jumat, 20 November 2020

PANDEMI BELUM BERLALU

PANDEMI BELUM BERLALU

Nama lengkapnya Sugiat, biasa dipanggil Giat atau Yat. Tinggalnya sekampung dengan Pak Bei, tapi beda RT. Dia anak mbarep Yu Semi, teman main dan mengaji Pak Bei di madrasah sejak anak-anak hingga remaja dulu. Karena selepas SMA melanjutkan kuliah dan ngekos di Jogja, Pak Bei jadi tidak tahu persis kapan Yu Semi nikah dan melahirkan anak pertamanya si Giat itu. Kalau dilihat dari fisiknya yang gothot itu, usia Giat masih sekitar 25-27 tahun.

Sesuai dengan namanya, Giat sangat rajin bekerja. Cekatan. Pak Bei memang diam-diam suka memperhatikan etos kerja para pekerja bangunan yang sejak tiga bulan lalu terlibat dalam pembangunan nDalem  Pak Bei. Giat, salah satu pekerja yang bertugas sebagai asisten alias laden tukang itu, juga tak luput dari pantauan Pak Bei. Anak itu sangat rajin dan disiplin. Bila teman-temannya baru datang menjelang pukul 08.00, Giat sudah datang sejak setengah jam sebelumnya. Dia langsung cari-cari kesibukan, seperti menyiapkan adonan pasir-semen, mendekatkan material ke tempat yang mau digarap tukang, atau bahkan sekadar menyapu halaman rumah Pak Bei yang cukup luas itu. Bila halaman sudah bersih, dia lalu mengambil air dari blumbang untuk menyirami tanaman di polibek milik Bu Bei.

Tumben pagi ini Giat tidak seperti biasanya, tapi justru mendekati Pak Bei dan ikut duduk di meja batu di bawah pohon alpukat. Melihat gelagatnya, tampak ada hal yang ingin disampaikannya.

"Kok gak nyapu, Yat," tanya Pak Bei sambil meletakkan HPnya.

" Mboten, Pak Bei. Ini kok tumben halaman tidak banyak sampah seperti biasanya. Masih bersih. Apa kemarin sore sudah ada yang menyapu, ya?"

"Iya, kemarin sore aku sendiri yang nyapu, Yat. Idhep-idhep ngobahke awak," jawab Pak Bei sambil mengepulkan asap kretek dari mulutnya.

"Mohon maaf, Pak Bei. Saya mau tanya sedikit," kata Giat dengan wajahnya menunduk, entah malu entah takut.

"Tanya apa, Yat?"

"Begini. Usaha Pak Bei dan Bu Bei ini kan di tengah kampung, bukan di pinggir jalan raya,"

"Iya memang. Kenapa, Yat?"

"Tapi kok bisa ramai, ya? Tiap hari banyak tamu datang ke sini. Ada yang motoran, banyak juga yang mobilan. Kalau kulihat plat nomornya, banyak juga yang plat luar kota. Kok bisa, Pak Bei? Mereka beli atau cari apa, to?" tanya Giat. 

"Ya macam-macam, Yat. Ada yang beli jilbab, mukena, gamis, atau daster. Ada juga yang pesan seragam sekolah, madrasah, majelis taklim, seragam kantor, dan sebagainya."

"Lha kalau yang pakai mobil-mobil plat merah dan ada tulisan Rumah Sakit atau ada yang pakai ambulan itu cari apa, Pak Bei?"

"Ooh, itu biasanya rombongan dari Rumah Sakit atau Dinas Kesehatan mencari baju APD, Yat."

"Baju APD itu apa to, Pak Bei?"

"Baju APD itu baju Alat Pelindung Diri, biasa dipakai petugas kesehatan ketika menangani pasien yang kena Corona. Biasa juga dipakai oleh relawan atau tenaga pemulasaraan jenazah covid-19 di Rumah Sakit hingga prosesi pemakamannya."

"Ooh maksudnya baju yang brukut nutupi kepala hingga kaki itu, ya? Sering saya lihat di tivi."

"Iya, Yat. Biasanya masih dilengkapi sepatu boot, sarung tangan, masker, penutup wajah, dan kaca mata. Jadi rapat gak gampang kemasukan virus covid-19."

"Lha kok nyarinya ke sini, Pak Bei? Kan sudah ada dun-dunan APD dari Pemerintah, to?"

"Ya memang sudah ada paket APD dari Pemerintah untuk Rumah-Rumah Sakit, Yat. Tapi kan jumlahnya juga terbatas. Kalau APD dipakai setiap hari sejak awal pandemi beberapa bulan lalu, pasti sekarang juga sudah pada rusak. Perlu ganti. Kalau minta dun-dunan paket lagi dari Kementerian Kesehatan juga harus pakai prosedur dan butuh waktu, sedangkan APD harus siap saat ini juga demi menjaga keselamatan. Lha wong korban covid-19 di mana-mana malah semakin banyak kok, Yat."

"Jadi begitu ya, Pak Bei. Untung Njenengan dan Bu Bei buat APD. Jadi bisa bantu kahanan yang nggegirisi ini."

"Ya alhamdulillah, Yat. Waktu kami mulai buat APD di awal pandemi dulu memang niatnya bantu kahanan. Waktu itu kami trenyuh melihat berita viral para petugas medis terpaksa pakai jas hujan karena tidak punya APD. Aku juga gak nyangka APD kami jadi laris-manis, banyak yang pesan dari Sabang sampai Merauke. Itu di awal-awal pandemi dulu."

"Saya heran lho, Pak Bei, lha kok sekarang malah semakin banyak orang yang kena covid-19, ya. Kalau dulu kan cuma dengar kabar kejadian di tempat-tempat jauh dari sini. Lah sekarang kejadian malah di sekitar kita, tetangga kampung, dan bajkan orang-orang yang kita kenal sudah jadi korban."

"Makanya kita harus waspada, Yat. Tidak boleh lengah atau bahkan menganggap remeh, nyepelekke. Gak boleh, Yat. Makanya hindari kerumunan atau kumpul-kumpul banyak orang. Usahakan terus pakai masker, dan rajin cuci tangan."

"Wah lha kalau kerja bangunan seperti saya harus terus pakai masker ya sumpek, Pak Bei. Kalau sebentar-sebentar harus cuci tangan, ya malah gak jadi kerja, dimarahi Mas Mandor, gak ada bayaran...."

"Yho wis sing penting ati-ati lan waspada, Yat. Kerja yang baik. Sepulang kerja istirahat di rumah, gak usah begadang atau keluyuran yang tidak perlu."

Teman-teman kerja Giat sudah berdatangan. Mereka tampak langsung menuju tempat kerjanya masing-masing, tidak ada yang berani mendekat ke Pak Bei seperti Giat. 

"Ya sudah sana kerja dulu, Yat. Temanmu sudah datang semua itu."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sampun maringi wekdal lan ilmu." Giat langsung berlari dan bergabung denga teman-temannya, mengaduk pasir-semen dan mendekatkannya ke tukang untuk memasang granit lantai. 

Seperti pagi biasanya, Pak Bei memperhatikan proses pembangunan rumah Limasan berbahan lawasan itu sejak awal hingga hampir rampung. Alhamdulillah sekarang bentuknya sudah kelihatan, tinggal finishing, dan tak lama lagi sudah bisa ditempati sebagai nDalem Pak Bei.

#serialpakbeibubei
#semogapandemisegeraberlalu




Senin, 06 Juli 2020

CUCI TANGAN

CUCI TANGAN

Anak-anak millenial menyebutnya 'makanan favorit'. Orang Jawa yang hidupnya sudah berorde-orde,  sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi alias sudah bisa  disebut sepuh, menyebutnya kareman. Kalau lama tidak ketemu makan karemannya itu, rasanya ada yang kurang dalam hidupnya.

Semua orang punya kareman yang bisa berbeda satu-sama lain. Bahkan suami-istri yang sudah kaken-kaken ninen-ninen pun bisa berbeda karemannya. Seperti Pak Bei dan Bu Bei, misalnya. Pak Bei karemannya soto Kartongali. Meski hampir setiap pagi sarapan soto Kartongali, seolah tak ada bosannya bagi Pak Bei.

Berbeda dengan Pak Bei, Bu Bei punya kareman sarapan jenang lemu, bubur beras yang diberi sambel lethok, sayur sambel berbahan baku tempe besem atau setengah bosok. Aroma dan rasanya yang sedhep itu konon bagus untuk orang yang sering gangguan pencernakan yang perutnya sering kembung atau terasa senep atau sebah. Pada umumnya orang Jawa meyakini bahwa jenang lemu itu menu sarapan yang terbaik untuk pencernakan, terutama untuk bayi, anak-anak, dan manula.

Meski berbeda kareman, tapi Bu Bei lebih sering mengalah pada Pak Bei. Agaknya Bu Bei yang asli Pelambang itu sudah benar-benar Njawani, menjadi penganut prinsip 'wong ngalah dhuwur wekasane'. Lebih suka mengalah demi menjaga keharmonisan bebojoan. Seperti tadi pagi, misalnya, Bu Bei rela menemani Pak Bei sarapan soto Kartongali, dan sengaja tidak membeli jenang lemu pagi-pagi seperti biasanya. 

Seusai membereskan pembagian pekerjaan untuk karyawannya, berangkatlah Pak Bei-Bu Bei menuju warung kareman Pak Bai di kawasan Jolotundo. Karena kebetulan pas hari pasaran Legi, jalanan menuju arah Jatinom sangatlah padatnya. Dengan sabar Pak Bei menyetir mobilnya pelan-pelan di belakang konvoi truk-truk pengangkut pasir Merapi yang akan menuju daerah Solo, Purwodadi, dan sekitarnya.

Setiba di depan Soto Kartongali, seperti biasa setiap mobil atau motor yang memberi sign mau parkir langsung disambut Sasa, si juru parkir teladan nasional. Dengan sigapnya, Sasa berlari dan  memberi aba-aba agar mobil Pak Bei merapat parkir di sebelah kiri jalan yang kebetulan masih longgar. Badannya membungkuk-bungkuk, kedua tangannya seperti menari sambil menuding-nuding, dan mulutnya teriak-teriak kiri-kiri, terus-terus, hoop. Setelah roda depannya lurus, Sasa lari ke kanan mobil untuk membukakan pintu sopir.

"Walaah....jebul Pak Bei-Bu Bei to ini. Alhamdulillah. Sebentar-sebentar....," kata Sasa sambil cepat pasang badan menghentikan laju kendaraan dari arah kiri-kanan dengan bendera dan sempritannya. "Monggo-monggo....," Sasa mempersilakan Pak Bei-Bu Bei menyebrang jalan dengan aman.

Sampai di depan warung, ternyata Sasa masih mendampingi sahabatnya itu. "Nyuwun pangapunten, monggo wijik dulu sebelum masuk, "katanya mempersilakan Pak Bei-Bu Bei cuci tangan di washtafel.

"Wah anyar ini, Sa?" tanya Pak Bei mengomentari washtafel yang tampak masih baru dipasang.

"Injih, Pak Bei. Nyu normal katanya ..."

"Maksude piye kuwi?"

"Jaman sekarang kita diajak kembali seperti jaman kita kecil dulu, Pak Bei. Kalau mau makan harus wijik dulu. Cuci tangan pakai sabun. Jadi Kang Panut ya harus memasang kran air dan sabun ini di depan warung."

"Ini namanya protokol kesehatan, Sa."

"Iya ya, Pak Bei. Kalau jaman kita sekolah dulu setiap upacara bendera Senin pagi ada yang bertugas jadi protokol upacara. Sekarang kok ada protokol kesehatan...hahahaa....ada-ada saja ya."

Pak Bei-Bu Bei langsung masuk dan memilih tempat duduk yang masih longgar di dekat dapur, sedangkan Sasa kembali bertugas di parkiran. Dari tempat itu Pak Bei-Bu Bei bisa memperhatikan cara kerja Yu Siti, si koki warung, yang sedang menggoreng tempe dan pisang raja. Dapur warung itu tentu saja jauh dari kesan bersih karena masaknya masih menggunakan keren dan kayu bakar yang asapnya memenuhi ruangan. Beberapa pelayan tampak wira-wiri membuat teh nasgithel di meja dapur. Penggemar teh nasgithel tentu paham bahwa teh yang benar-benar terasa nyamleng itu bila airnya dimasak pakai arang atau kayu bakar, bukan pakai kompor gas apalagi kompor minyak.

Dua mangkok soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Sambal dan kecap kental manis yang khas telah terjajar di meja bersama piring-piring berisi tempe, tahu, dan pisang goreng. Kaleng karak, alias krupuk berbahan beras, tampak masib penuh. Pagi itu, Pak Bei benar-benar ketemu karemannya. Bu Bei pun tampak bahagia menemani.

Tak berapa lama, Pak Bei-Bu Bei tampak sudah selesai menyantap sotonya. Sasa pun segera mendekat dan  bergabung duduk di depan Pak Bei.

"Sekarang semua orang harus rajin cuci tangan ya, Pak Bei," kata Sasa.

"Iya, Sa. Demi menjaga kebersihan dan kesehatan, agar terhindar dari pendemi virus corona," jawab Pak Bei sambil tangannya meraih gelas teh nasgithel.

"Saya kok agak khawatir akan salah kedaden, Pak Bei."

"Salah kedaden bagaimana?"

"Seperti kata Pak Bei tadi, maksud rajin wijik itu kan supaya orang terjaga kebersihan dan kesehatannya, to?"

"Ya betul itu."

"Saya khawatir nanti akan terjadi orang suka cuci tangan dari masalah yang dibuatnya. Tidak mau bertanggung jawab. Sok bersih. Kemresik."

"Walah Sa, maksudmu itu, to? Ya mudah-mudah tidak terjadi. Mbokya berpikir positif saja."

"Orang sekarang juga disuruh tutup mulut ya, Bu Bei?"

"Pakai masker, Mas Sa."

"Iya. Benar-benar wolak-waliking jaman."

"Maksudnya?"

"Lha kemarin-kemarin kita suka sinis pada wanita yang pakai jubah dan cadar yang kelihatan cuma matanya. Dibilang kayak ninja, radikal, dan sebagainya. Iya to, Bu Bei? Sekarang semua orang gak perempuan gak laki-laki, gak orang-tua gak anak-anak, semua harus pakai masker hingga yang  kelihatan  cuma matanya."

"Iya juga ya, Mas Sa."

"Makanya, kalau tidak menyukai sesuatu itu mbok jangan kebangetan ya, Bu Bei. Bisa keweleh, kata simbah. Sekarang kita jadi tahu bahwa ternyata pakai cadar itu baik juga,. Iya to, Bu Bei?"

"Iya ya, Sa. Benar juga katamu, kata Pak Bei. "Gething nyadhing, kata orang tua dulu. Yang kita benci setengah mati, ternyata sekarang harus kita lakukan juga. Yang kita sangka buruk, ternyata baik," lanjutnya.

Bu Bei beranjak ke kasir untuk membayar makanannya. Pak Bei berjalan ke depan bersama Sasa sambil terus ngobrol, entah apa lagi yang diobrolkannya. Tidak langsung nyebrang jalan, tapi Pak Bei menunggu Bu Bei sambil berdiri bersama Sasa di depan warung. Baru setelah Bu Bei datang, Sasa langsung pasang badan mengamankan sahabatnya itu menyebrang jalan, lalu memberi aba-aba mobilnya keluar dari parkiran dengan aman.

#serialpakbei-bubei
#6/7/20







Kamis, 02 Juli 2020

BLANTIK

BLANTIK

Hari masih pagi. Matahari merah mulai menyapa dunia dari arah timur. Beberapa ibu-ibu tetangga tampak wira-wiri di jalan depan rumah untuk urusan membeli jenang lemu di warung Budhe Wur untuk sarapan anak-anaknya. Beberapa petani tampak sudah asyik mencangkul dan mengolah sawahnya. Seperti biasa, Pak Bei menggerakkan badannya dengan menyapu halaman, membersihkan daun-daun kering dari pohon alpukat yang rimbun. Sampah daun kering itu lalu dibakar di jogangan di sudut halaman.  Bu Bei asyik menyirami pot-pot bunga dan tanaman sayur di polibek hitam yang terjajar rapi di sudut halaman.

"Assalaamu'alaikum....," terdengar uluk salam perempuan yang suaranya tidak asing bagi Bu Bei. Itu suara Yu Mur, kitcen staf alias asisten dapur Bu Bei.

"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Bei. "Kok tumben mruput, Yu? Masih jam segini sudah datang."

"Injih, Bu Bei. Ada perlu sedikit dengan Pak Bei. Mau matur."

"Dengan Pak Bei?"

"Injih."

"Wah tampaknya kok penting baget to, Yu. Pak Bei, ini lho Yu Mur mau matur," Bu Bei memanggil Pak Bei.

Pak Bei yang sedang asyik membakar sampah pun beranjak untuk bergabung dengan Bu Bei dan Yu Mur.

"Ada apa, Yu? Mau pamit gak kerja?"

"Bukan, Pak Bei. Saya disuruh Pakne supaya matur Pak Bei."

"Loh kok bukan bojomu sendiri yang ke sini?" tanya Pak Bei.

"Tadi saya ajak gak mau, malu katanya."

"Walah kok ndadak isin. Mau ngomong apa, to?"

"Begini....katanya sekarang Pak Bei jadi blantik sapi, ya?"

"Haah....kata siapa, Yu?,"

"Kemarin Bu Bei cerita katanya setiap menjelang Idul Adha Pak Bei jualan sapi kurban."

Tidak pernah terpikir di benak Pak Bei bahwa kegiatannya membantu ponakan menjual sapi kurban ternyata disebut blantik oleh asisten dapurnya.

"Hiyo, Yu. Sekarang aku jadi blantik. Terus piye, Yu?," tanya Pak Bei.

"Kami mau nyuwun tulung Pak Bei."

"Minta tolong apa?"

"Minta tolong Pak Bei jualkan sapi-sapi kami."

"Loh...Yu Mur punya sapi, to? Elok tenan. Ada berapa ekor?"

"Celengan kok, Pak Bei. Cuma dua ekor," jawab Yu Mur dengan malu-malu.

"Wah hebat ...alhamdulillah Yu Mur bisa punya tabungan dua ekor sapi," Bu Bei tampak senang.

"Jebul nyait Kowe, Yu. Kaya.  Punya celengan dua sapi."

"Alhamdulillah, Pak Bei. Untuk kerja sambilan Pakne setiap pagi dan sore."

"Mau dijual berapa sapimu, Yu?"

"Pak Bei mirsani ke kandang dulu saja. Kalau sudah pirsa, pasti Pak Bei bisa naksir harganya, pantasnya dijual berapa."

"Yho wis. Bilang sama bojomu, Insya Allah tak bantu. Nanti aku ke kandang jam 9nan, ya."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget."

Yu Mur pamit pulang. Dia nanti akan kembali lagi sebelum jam 8 untuk bekerja seperti biasanya, memasak makanan untuk 30an karyawan Bundaco, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian keluarga Bu Bei. Suami Yu Mur, Kang Suhar namanya, biasa bekerja sebagai buruh bangunan. Sebagaimana orang desa pada umumnya, Kang Suhar juga menggarap sepetak sawah warisan untuk ditanami padi atau sayuran. Ternyata hasil kerja mereka bisa ditabung dalam wujud 2 ekor pedet, anakan sapi, lalu dipelihara selama beberapa bulan untuk dijual pas menjelang Idul Adha. Begitulah umumnya wong ndesa, menjalani hidup dengan bersahaja, prasojo, apa adanya, ayem-tentrem dan tidak ngoyo.

#serialpakbeibubei
#3/7/20

Rabu, 27 Mei 2020

KUPAT DIGITAL

KUPAT DIGITAL

Tentu bukan hanya Pak Bei yang merasakan betapa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terasa sangat luar biasa. Bukan hanya umat Islam yang merasakan bedanya, bahkan yang non-muslim pun __terutama palaku bisnis__ pasti merasakan betapa tahun ini roda ekonomi betul-betul kempes dan loyo, bahkan mandhek. Tidak ada prepegan, kata orang Jawa. Pendemi Covid-19 telah memaksa semua lini kehidupan lockdown. Ribuan atau bahkan jutaan pekerja pabrik terkena PHK. Juga pekerja bangunan, tukang ojek online, pelaku UMKM, pedagang pasar tradisional, warung-warung makan, terpaksa tutup usaha dan  nganggur. Semua orang harus menjalani social and phisical distancing, menjaga jarak sosial dan fisik, sehingga tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya, semua tempat berkumpul banyak orang termasuk sekolah dan kampus, harus ditutup. Sungguh, ini lelakon yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, tapi nyata-nyata terjadi dan dirasakan semua orang.

Pagi itu, sepulang dari sholat Ied bersama warga sekampung di jalan desa dekat rumah, seperti lebaran biasanya, Bu Bei dan anak-anak bergiliran ujung kepada Pak Bei, bersimpuh  memohon maaf atas segala kesalahan. Pak Bei pun membalasnya dengan permintaan maaf yang sama, mencium keningnya, dan khusus kepada anak-anak selalu disertai doa dan nasihat untuk kebaikannya. Setelah ujung kepada Pak Bei, anak-anak pun ujung satu-persatu kepada Bu Bei. Adegan sakral ini tidak jarang disertai sesenggukan dan  tetesan air mata Bu Bei dan anak-anak. Setelah itu, ketiga anak Pak Bei-Bu Bei pun saling bermaafan satu sama lain.

Biasanya tak lama setelah itu, ponakan-ponakan dan tetangga mulai berdatangan untuk ujung kepada Pak Bei-Bu Bei. Setelah ujung, mereka menyerbu aneka kue kering dan basah yang terjajar rapi di meja dan gelaran karpet. Ada yang betah berlama-lama ngobrol dengan Pak Bei-Bu Bei, banyak juga yang tergesa-gesa karena ingin segera pindah ujung ke rumah lainnya.

Tapi itu semua tidak terjadi pada lebaran kali ini. Sejak beberapa hari lalu, takmir masjid telah mengumumkan akan menyelenggarakan sholat Ied dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah. Setelah sholat Ied, tidak ada halal-bihalal dengan bersalam-salaman dan ujung dari rumah ke rumah. Itu semua diganti dengan pembacaan ikrar halal-bihalal seusai sholat Ied yang dipimpin oleh petugas dan diikuti seluruh jamaah. Usai sholat Ied, semua dihimbau pulang dan menutup pintu rumahnya masing-masing.
Begitulah lebaran kali ini semua orang menikmatinya bersama keluarga masing-masing. Tanpa tamu, tanpa persediaan kue dan aneka makanan seperti biasanya. Sungguh terasa sangat istimewa.

Pak Bei-Bu Bei dan anak-anak asyik dengan gadgetnya masing-masing, berlebaran dan bermaafan dengan keluarga dan kolega secara virtual. Ada yang cukup dengan pesan WA, tapi beberapa harus melalui video call. Semua orang bergembira dan saling memaklumi keadaan.

Pak Bei-Bu Bei duduk di meja makan dan sedang asyik berbalas ucapan Idul Fitri dengan teman-temannya, tiba-tiba terdengar ada orang mengucapkan salam dan mengetuk pintu depan. Cahya anak sulung Pak Bei pun segera beranjak membukakan pintu dan mempersilakan tamunya duduk di kursi depan.

"Yah, ada tamu teman Ayah," kata Cahya.

Pak Bei beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ruang tamu di depan.

"Assalaamu'alaikum.....," seru tamunya begitu tampak Pak Bei di pintu.

"Wa'alaikumsalam.....alhamdulillaah ada tamu agung ini," jawab Pak Bei dengan gembira.

"Namaku masih Sasa, Pak Bei, bukan Agung," jawab tamunya disertai suara tawa terkekeh-kekeh.

Ternyata Sasa tamu agung Pak Bei hari ini, teman sekolah di SMP Muhammadiyah Jatinom dulu dan sahabat di usianya yang sama-sama tak lagi muda.

"Piye kabarmu, Sa?," tanya Pak Bei pada sahabatnya. "Sudah lama kita gak ketemu, ya," sambungnya.

"Alhamdulillaah waras-wiris, Pak Bei," jawab Sasa sambil menggeser duduknya mendekat ke Pak Bei dan menyodorkan tangan untuk salaman. Rupanya Sasa mau ujung pada Pak Bei.

"Ngaturaken sungkem pangabekti kula dateng Pak Bei, Sugeng Riyadi, sedaya kalepatan nyuwun agunging pangaksami," Sasa menyampaikan ucapan lebarannya dengan takdzim.

"Hiyo podho-podho, Sa, semono uga aku akeh klera-kleruku marang sliramu, aku njaluk lumunturing sih kawelasan lan pangapuramu. Mugo-mugo dosaku lan dosamu dingapura dening Gusti Allah ing dina riyaya iki....aamiin," Pak Bek pun menjawab dengan panjang dan tak kalah takdzimnya.

Bu Bei keluar dengan membawa nampan dan dua gelas kopi.

"Alhamdulillaah ada tamu agung yang lama tidak kelihatan, " kata Bu Bei sambil meletakkan nampan di meja." Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih, Pak Sasa. Sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," lanjutnya.

"Njih, Bu Bei, semanten ugi kula tiyang sepuh kathah klenta-klentu kula, nyuwun agunging pangaksami," jawab Sasa.

"Kok sendirian to, Pak Sasa? Mumpung lebaran mbokya Mbakyu diajak ke sini," kata Bu Bei.

"Walah Bu Bei ini, lho. Saya sowan ke sini ini kan nekad."

"Nekad bagaimana, Pak Sasa?"

"Di mana-mana tidak ada orang badan, berlebaran dari rumah ke rumah. Semua orang nutup pintu, asyik dengan keluarganya masing-masing. Tidak ada silaturahmi, bertatap muka, dan bermaafan, lalu makan kupat bersama sebagai tanda ngaku lepat, mengakui kesalahan dan meminta maaf," Sasa seakan mendapatkan ember untuk menumpahkan kegelisahannya.

"Ya memang, Pak Sasa."

"Katanya sekarang ini jamannya kupat digital, Bu Bei, ngaku lepat dan bermaafan tapi cuma lewat hp."

"Ya karena kahanan kok, Pak Sasa. Semua orang harus menjaga diri agar tidak terkena virus corona."

Sasa nyeruput kopi, menyulut rokok, lalu melanjutkan bicaranya, "Lha kalau saya ya gak bisa to, Bu Bei. Saya ini pegang hp saja cuma kadang-kadang, hanya kalau pas ada perlu, saya pinjam hp anak. Dan menurut saya, yang namanya badan itu ya harus sowan, bersalaman sambil ngucapkan Sugeng Riyadi dan minta maaf."

"Sebenarnya saya juga  merasa tidak lega, Sa, kurang marem. Lebaran kok jadi sepi nyenyet begini. Tapi mau gimana lagi, lha wong kahanan mengharuskan seperti ini.  Kita berdoa saja semoga kahanan segera membaik dan kita bisa hidup normal lagi."

"Leres, Pak Bei. Saya juga sudah kangen pengin kerja lagi seperti biasa di parkiran Soto Kartongali dan malamnya melayani pijet sedulur-sedulur yang ngersakke."

"Sudah lockdown berapa lama, Pak Sasa?"

"Wah lumayan lama, Bu Bei. Sejak sebelum puasa warung sudah sepi. Bulan puasa tutup total. Jadi saya nganggur ngethekur di rumah sudah sebulan lebih. Untung kemarin masih ada beberapa ekor jago bangkok bisa saya jual ke pasar buat makan. Tapi sekarang sudah habis. Belum tahu besok mau jual apa lagi."

Trenyuh hati Pak Bei mendengar cerita sahabatnya.Tapi Sasa bukanlah satu-satunya. Pak Bei jadi teringat sejak sebelum Ramadhan banyak tamu datang dan minta pekerjaan. Mereka para penjahit borongan yang selama ini bekerja pada beberapa juragan konveksi. Karena pasar Klewer, Beringharjo, dan Tanah Abang ditutup, maka para pelaku usaha konveksi pun ikut tutup sehingga ribuan tenaga jahit kehilangan pekerjaan.

Miris Pak Bei membayangkan kalau pendemi ini tidak segera berakhir, entah berapa banyak orang yang akan mati kelaparan karena kehilangan pekerjaan dan sumber penghidupan.
Wallahua'lambishawab....

#serialpakbeibubei

Jumat, 01 Mei 2020

KARANTINA MANDIRI

KARANTINA MANDIRI

Ini hari ke delapan keluarga Pak Bei menjalani karantina mandiri, tidak srawung dengan tetangga kiri-kanan dan tidak ikut sholat jamaah di masjid. Keputusan itu diambil setelah minggu lalu Bu Bei mendapat teguran keras dari tetangga gara-gara Pak Bei dan Cahya anak lakinya ikut sholat Jumat di masjid.

"Pak Bei sekeluarga kan baru pulang dari Palembang. Mbok isolasi dulu di rumah, gak usah ke masjid. Sebagai tokoh, mestinya Pak Bei bisa memberi contoh bagi masyarakat," begitu kalimat yang dikirim via WA.

Mak-jleb. Tusukan pisau itu terasa sangat tajam mengoyak ulu hati Bu Bei dan Pak Bei. Perih rasanya. Kepergian Pak Bei sekeluarga ke Palembang tempo hari seolah dalam rangka dolan atau kulakan virus corona di zona merah. Sungguh sadis. Boro-boro orang itu berbasa-basi dulu, tanya-tanya soal perjalanan, atau syukur mengucapkan bela-sungkawa atas meninggalnya ibu tercinta.
Tidak. Tidak penting mengetahui ke mana perginya keluarga Pak Bei. Tidak perlu tahu untuk apa orang bepergian. Tidak perlu juga tahu satus kota yang dituju itu termasuk zona hijau, kuning, atau merah. Orang-orang sudah gebyah uyah dengan kesimpulannya sendiri bahwa keluarga Pak Bei yang baru pulang dari bepergian pasti membawa virus corona sehingga haram ikut sholat jamaah di masjid.

"Gak apa-apa, Yah. Inilah resiko hujan informasi via medsos. Orang tidak lagi bisa berpikir rasional dan adil. Yang ada hanya ketakutan berlebihan terhadap covid-19. Kita maklumi saja. Gak usah dilawan," kata Cahya mencoba menenangkan Pak Bei dan Bu Bei. "Ini justru kesempatan kita menikmati ibadah Ramadhan di rumah saja, gak usah repot-repot ke masjid," sambungnya.

"Tapi orang itu sudah kebangetan, Le. Terlalu," kata Bu Bei.

"Namanya juga orang awam kok, Bun. Tahunya setiap orang yang pulang dari bepergian ya harus isolasi diri selama 14 hari," jawab Cahya.

"Le, kita ke Palembang bukan untuk piknik, lho. Nenekmu sakit keras di Rumah Sakit, kita gak bisa ke sana. Hingga nenekmu meninggal pun kita tak bisa langsung ke sana. Bunda ini anak mbarep, Le. Sedih sekali. Tapi ya sudahlah.....," Bu Bei menyeka air matanya.

"Baiklah, ayah setuju jalan pikiran Cahya," Pak Bei siap mengambil keputusan. "Kita sementara ini tidak akan ikut arus masyarakat yang tetap ingin mengadakan jamaah sholat Jumat dan sholat Tarawih di masjid. Biarkan saja mereka. Kita doakan semoga itu menjadi pilihan yang terbaik," lanjut Pak Bei.

"Mulai saat ini hingga setidaknya 14 hari ke depan, kita mengisolasi diri di rumah. Karantina mandiri. Kita nikmati Ramadhan tahun ini di rumah kita sendiri. Kita sholat jamaah rawatib, tarawih, dan tadarus di rumah."

Begitulah keputusan Pak Bei di awal Ramadhan yang disambut gembira oleh Bu Bei dan ketiga anaknya. Ruang gandhok yang biasa menjadi tempat berkumpul dan ngobrol telah disulap manjadi tempat sholat jamaah yang nyaman, dengan gelaran dua karpet tebal. Di salah satu tiang juga dipasang kipas angin tornado agar ketika sholat berjamaah tidak ada yang merasa gerah. Seusai berbuka dan sholat maghrib, Cahya biasa memimpin kedua adiknya, Zika dan Alya, membaca Al Quran. Tentu Zika dan Alya pun tidak keberatan karena tadarus itu sudah menjadi kebiasaan mereka di Pondok Gontor Putri.

Urusan menu buka puasa dan sahur, itu sepenuhnya menjadi kewenangan Bu Bei. Di samping masak sendiri, Bu Bei juga suka pesan kue atau lauk-pauk ke teman-temannya yang punya bisnis makanan. Nglarisi jualan teman, begitu komitmen Bu Bei yang selalu ditanamkan ke anak-anaknya.

Ramadhan yang indah, semua dilakoni dengan gembira.

#serialpakbeibubei

Kamis, 23 April 2020

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Akhirnya Bu Bei bisa tersenyum lega setelah Pak Bei menunjukkan bookingan 3 tiket pesawat Solo-Palembang atas nama Bu Bei dan kedua anak gadisnya, Zika dan Alya, untuk hari Rabu, serta 2 tiket atas nama Pak Bei dan Cahya untuk hari Minggu. Ya, keluarga Pak Bei-Bu Bei harus mudik ke Palembang, pulang kampung selama beberapa hari.

Sudah semingguan Bu Bei tampak murung dan sesekali air matanya berhamburan sejak mendengar kabar dari adiknya, si Heni, bahwa Ibunya yang sudah uzur itu diopname di rumah sakit dan kondisinya semakin menurun. Banjir air mata semakin tak terbendung ketika Jumat pagi bakda shubuh tanggal 10 April adiknya mengabarkan bahwa Ibu yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Allah SWT dengan tenang.

Seharian Bu Bei tampak murung dengan matanya yang sembab. Sesekali Pak Bei memeluk dan berusaha menenangkannya, mengajaknya untuk ikhlas dannridho menerima takdirNya. Sholat ghaib, sholat jenazah dari jauh, alias tanpa menghadap jenazah di depannya, telah dilakukan tadi pagi bersama seluruh karyawannya.

"Anak-anakku, sahabat-sahabatku, bakda shubuh tadi ibu kami di Palembang telah kembali ke hadirat Allah SWT setelah sakit selama seminggu," kata Pak Bei memberi pengantar sebelum sholat ghaib dimulai. "Sebagai anak sulung, seharusnya kami sudah pulang ke Palembang sejak kemarin-kemarin agar bisa menemani dan merawat beliau di Rumah Sakit. Tapi tidak bisa. Situasinya tidak memungkinkan kami pulang kampung, mudik. Tidak mungkin," suara Pak Bei terdengar parau dan matanya tampak berkaca-kaca.

Bu Bei mengusap air matanya. Semua karyawan menundukkan kepala. Terharu. Semua orang paham kalau pun kemarin Pak Bei dan Bu Bei ke Palembang, kemungkinan juga tak akan bisa masuk ke Rumah Sakit untuk menunggui Ibu. Bisa jadi, mereka justru harus ikut karantina selama 14 hari di ruang isolasi milik Pemprov Sumsel di Jakabaring, atau setidaknya harus melakukan isolasi mandiri di rumah dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP). Maka tidak ada pilihan lain, keluarga Pak Bei harus ikhlas mendoakan Ibu dan nenek tercinta dari jauh, bahkan hingga beliau meninggal dunia pagi itu.

"Anak-anakku dan sahabat-sahabatku, kami minta kalian membantu berdoa dengan bersama-sama melakukan sholat ghaib, semoga Ibu kami mendapatkan husnul-khotimah, diampuni semua dosanya, dilapangkan kuburnya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Marilah kita mulai sholat ghaib, semoga Allah SWT meridhoi...aamiin."

Lima hari kemudian, Bu Bei bersama Zika dan Alya pun terbang ke Palembang dengan keyakinan akan dimudahkan segala urusan selama perjalanan. Pak Bei dan Cahya anak lelakinya akan menyusul lima hari kemudian setelah menuntaskan dulu ratusan order baju APD dari dokter dan Rumah Sakit di berbagai daerah. Maklumlah, semua dokter dan tenaga medis menunggu-nunggu datangnya APD yang sudah dipesannya sejak beberapa hari lalu. Tentu Pak Bei pun harus menjaga komitmennya meski dalam situasi yang serba sulit itu.

Agenda terpenting kepulangan keluarga Pak Bei-Bu Bei tentu menziarahi makam almarhumah Ibu Hodimah binti Ahmad Rifa'i di kompels pemakaman umum Puncak Sekuning. Misi berikutnya adalah memimpin adik-adiknya untuk berembuk tentang berbagai hal sepeninggal Ibu. Maklumlah, ayahnya, yakni Bapak Ali Kusmen, sudah meninggal 15 tahun yang lalu ketika menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Ma'la di luar kota Mekah. Sepeninggal Ibu, maka Bu Bei sebagai anak sulung harus tampil memimpin ketiga adiknya agar selalu rukun dan tetap akrab satu sama lain.

Bu Bei menyadari bahwa ketiga adiknya punya kesibukan dengan keluarganya masing-masing. Ketiganya tinggal di kota Palembang, dan hanya Bu Bei yang tinggal di Jawa sejak lulus SMA dan kuliah di Bulak Sumur Jogjakarta lalu mendapat suami Pak Bei yang orang Jawa. Selama ini, si-Heni anak nomor dualah yang total menemani dan merawat Ibu, hingga rela melepaskan pekerjaannya sebagai insinyur sipil. Si-Deni anak ketiga punya kesibukan menemani dan merawat ibu mertuanya yang juga sudah uzur. Si bungsu Aisyah masih rempong dengan kedua anaknya yang masih balita. Begitulah, kepulangan Bu Bei sungguh sangat berarti bagi keutuhan keluarga alm. Pak Ali Kusmen.

"Selamat datang, Pak Bei sekeluarga. Semoga selama perjalanan ke Palembang hingga pulang ini tidak mengalami hambatan apapun," kata Pak Kades yang langsung datang bersama Pak RT begitu keluarga Pak Bei tiba di rumah.

"Njih, Pak Kades. Matur nuwun kerawuhanipun. Alhamdulillah perjalanan kami sangat lancar, tidak semenakutkan kabar atau berita yang setiap hari kita baca di medsos," jawab Pak Bei.

"Apa gak ada pemeriksaan ketat ketika sampai di sana, Pak Bei?," tanya Pak RT."

"Blas gak ada, Pak RT. Sama sekali tidak ada, selain di bandara semua penumpang yang datang wajib mengisi Formulir Kewaspadaan," jawab Pak Bei.

"Apa Palembang belum termasuk zona merah ya, Pak Bei?," tanya Pak Kades.

"Entahlah. Dengar-dengar mulai tanggal 25 akan berlaku PSBB. Tapi gak apa-apa, toh kami sudah keluar dari sana."

"Untung Pak Bei sudah kembali. Kalau belum bisa repot," kata Pak RT.

"Repot bagaimana, Pak RT?"

"Looh...Pak Bei belum dengar, ya? Kemarin Pak Presiden melarang seluruh rakyat mudik lebaran. Besok tidak boleh ada orang mudik, Pak Bei."

"Yang dilarang kan mudik, Pak RT? Kalau pulang kampung kan boleh. Iya to, Pak Kades?"

Pak Kades hanya senyum-senyum tidak menjawab sepatah kata pun. Hari sudah menjelang maghrib. Pak Kades dan Pak RT pun berpamitan. Pak Bei masuk rumah dengan senyum-senyum mengingat kabar Pak RT tentang larangan mudik.

"Yang dilarang kan mudik, bukan pulang kampung," kata Pak Bei dalam hati dengan geli.

#serialpakbeibubei