Rabu, 27 Juli 2022

MUKTAMAR KE-48

MUKTAMAR KE-48

"Pak Bei dari mana pagi-pagi kok sudah kelihatan capek?" tanya Sasa katika Pak Bei baru turun dari mobil.

"Dari Tawangmangu, Sa? Kurang tidur," jawab Pak Bei sambil masuk ke warung Soto Kartongali Jolotundo. Sasa pun mengantar sahabatnya dan menemani duduk di meja depan dapur. Pak Bei langsung pesan soto dan teh nasgithel. Satu porsi untuk Pek Bei sendiri dan satu porsi untuk Sasa sahabatnya.

"Piknik kok sendirian to, Pak Bei? Nginap lagi."

"Cuma nginap semalam, tapi bukan piknik, Sa."

"Loh, ke Tawangmangu kalau bukan piknik terus apa, Pak Bei?"

"Rapat, Sa."

"Rapat apa? Politik?"

"Ya bukanlah, Sa. Aku kan bukan orang politik."

"Ya siapa tahu Pak Bei ikut trend nyiapkan Calon Presiden untuk Pemilu 2024 nanti?"

"Walah, Sa. Politik kan sudah banyak yang ngurusi. Bahkan saling berebut peran. Rebutan investasi untuk masa depan."

Mbak-mbak pelayan datang mengantar soto dan teh pesanan Pak Bei. Dua sahabat itu pun langsung sibuk dengan botol kecap, sambel, dan sendok masing-masing. Sambil menikmati soto, Sasa membuka obrolan lagi.

"Lha terus Pak Bei rapat apa jauh-jauh ke Tawangmangu? Pas musim dingin lagi. Pasti dingin banget di sana."

"Rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo, Sa."

"Ooh iya, ya. Mau ada Muktamar di Solo. Jadinya kapan, Pak Bei? Harusnya sudah Juli 2020 lalu, ya?"

"Betul, Sa. Karena pandemi covid-19, Muktamar tertunda hingga 2,5 tahun, dan Insya Allah baru akan terlaksana tanggal 18-20 November 2022 nanti.

"Berarti tinggal 3 bulanan lagi, ya. Wah pasti panitia sudah sibuk sekali."

"Ya iyalah, Sa. Sebagai tuan rumah, wajar kalau panitia kerja keras menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal agar Muktamar nanti sukses."

"Iya, Pak Bei. Saya paham. Namanya juga Muktamar, musyawarah terbesar. Muhammadiyah duwe gawe besar."

"Bener, Sa. Diperkirakan akan hadir tamu  dari seluruh penjuru Tanah Air dan Luar Negeri sekitar 3 juta orang Muktamirin, Penggembira, dan Tamu Undangan. Jutaan orang akan tumplek-blek ke Solo, dan semua tamu harus kita layani dengan sebaik-baiknya."

"Wah pasti Solo nanti luar biasa ramai ya, Pak Bei."

"Ya pasti, Sa. Ini sudah ada beberapa daerah yang ngabari akan hadir ribuan orang. Sekedar contoh, dari Sulawesi Selatan saja akan hadir 15.000 orang Penggembira. Entah berapa kapal PELNI yang akan dicarter dari Makassar-Surabaya PP, lalu berapa puluh bus akan dicarter dari Surabaya-Solo PP. Salah satu Cabang di Gresik juga ngabari akan hadir 15 bus. Dari salah satu Ranting di Surabaya juga akan hadir 7 bus. Itu baru cantoh yang sudah ngabari panitia, Sa."

"Wah terus jutaan orang nanti mau nginap di mana, Pak Bei?"

"Hampir seluruh hotel di Solo sudah kita booking, Sa. Gedung-gedung sekolah Muhammadiyah juga siap difungsikan sebagai penginapan bagi para Penggembira. Rumah-rumah warga juga siap menampung tamu. Insya Allah amanlah, Sa."

"Saya percaya, Pak Bei. Untuk urusan seperti ini Muhammadiyah sudah cukup berpengalaman."

"Yang penting persiapan panitia semaksimal mungkin, Sa."

"Pak Bei sendiri ngurusi apa di kepanitiaan?"

"Aku kebagian ngurusi Seksi Syiar, Sa."

"Seksi Syiar? Apa itu?"

"Seksi yang bertugas mensyiarkan Muktamar, Sa. Ada 6 kegiatan menarik untuk diikuti masyarakat."

"Apa saja itu?"

"Pertama, Apel Kesiapan yang akan kita adakan pada 24 September 2022. Acara ini untuk menunjukkan kesiapan seluruh Panitia, warga Muhammadiyah, dan Pemerintah Surakarta menyelenggarakan Muktamar dan menyambut tamu."

"Terus apa lagi?"

"Tabligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat pada 8 Oktober 2022 di Edutorium UMS. Acara ini akan dihadiri ribuan jamaah dan dapat disaksikan secara daring dari seluruh penjuru dunia."

"Wah menarik ini. Saya boleh hadir gak, Pak Bei?"

"Boleh, Sa. Hadir saja ramai-ramai ke Solo. Ajak teman-teman dan jamaah mesjidmu untuk menimba ilmu."

"Siap, Pak Bei. Terus ada acara apalagi?"

"Gowes Virtual."

"Apa itu?"

"Lomba gowes secara daring, Sa. Lomba ini bisa diikuti oleh penggemar gowes dari manapun, seluruh dunia, dan akan menjadi lomba gowes dengan peserta terbanyak."

"Wah asyik itu. Semua peserta hadir ke Solo begitu?  

"Ye enggaklah, Sa. Namanya juga Gowe Virtual. Peserta cukup bersepeda di daerahnya masing-masing dengan jarak tempuh 48 km. Angka ini sesuai dengan Muktamar yang ke-48. Waktunya bulan September-Oktober 2022, terserah mau ambil tanggal berapa yang penting peserta sudah terdaftar dan mengaktifkan STRAVA agar jarak tempuhnya bisa dimonitor Panitia."

"STRAVA itu apa, Pak Bei?"

"Itu aplikasi agar Panitia bisa memonitor secara virtual jarak tempuh peserta. Aplikasi ini bisa didownload dari Playstore. Oya, Sa, pesertanya bukan perorangan, lho, tapi kelompok terdiri dari 5 orang anggota."

"Ooh jadi persertanya berkelompok 5 orang, ya. Baik, akan saya infokan ke para pegowes yang biasa mampir nyoto di sini. Terus kegiatan apalagi, Pak Bei?"

"Lomba Kreatif, Sa. Ada 4 jenis lomba: 1. Lomba Cover Lagu Themesong Muktamar, 2. Lomba bikin Desain Ucapan Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48, 3. Festival Baca Al-Quran, dan 4. Lomba Dai Cilik.

"Itu lomba untuk umum, Pak Bei?"

"Untuk pelajar dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan Umum."

"Apalagi, Pak Bei?"

"Muktamar Talk bersama Mata Najwa dan Narasi TV dengan narasumber Ketum PP Muhammadiyah, Ketum PBNU, dan lain-lain. Bertempat di Edutorium UMS tanggal 10 November 2022."

"Wah menarik. Itu nanti seperti yang sering kita lihat di TV dengan presenter Najwa Shihab yang pinter itu, ya?"

"Iya, Sa."

"Kalau saya pengin datang boleh gak, Pak Bei?"

"Boleh saja. Tapi tentu audiens yang masuk ke ruangan akan diatur sesuai dengan kebutuhan broadcasting, Sa."

"Terus kegiatan apalagi Pak Bei? Itu tadi baru 5."

"Nah ini kegiatan Syiar yang terakhir: Malam Mangayubagyo, tanggal 18 November malam di halaman parkir Edutorium UMS."

"Malam Mangayubagyo itu apa, Pak Bei?"

"Ini acara penyambutan 'Selamat Datang' yang diselenggarakan oleh Panitia untuk para Musyawirin dan Penggembira, Sa. Acara ini akan dimeriahkan oleh Metronome Band dari Semarang, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, LETTO dari Yogyakarta, dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah gayeng tenan ini. Masyarakat umum boleh datang gak?"

"Boleh banget, Sa. Silakan datang ikut menikmati acara ini. Oya, di acara itu nanti juga akan dilakukan Penyerahan Anugerah Kebudayaan dari PP Muhammadiyah untuk 3 Maestro Keroncong Solo, yakni Pak Gesang (alm.), Bu Waldjinah, dan Didi Kempot (alm.). Ketiganya dipandang sebagai seniman musik asli Solo yang sudah berjasa besar bagi perkembangan musik keroncong di Tanah Air."

"Alhamdulillaah, bagus banget itu, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Ya mumpung Muktamarnya di Solo, jadi sekalian aja Muhammadiyah memberikan penghargaan untuk seniman-seniman besar dari Solo. Nanti kalau Muktamarnya di kota lain juga bagus kalau bisa ada agenda yang sama, memberi penghargaan pada seniman setempat."

"Ada juga kegiatan menarik untuk dikunjungi, Sa."

"Apa, Pak Bei?"

"Selama Muktamar nanti akan diadakan Bazar UMKM dan Expo karya-karya inovatif dari Sekolah-Sekolah, Perguruan-Perguruan Tinggi, dan Lembaga-Lembaga Muhammadiyah. Bazar UMKM nanti akan diikuti 500an stand pelaku usaha yang menampilkan aneka produk."

"Jadi seperti Pasar Rakyat ya, Pak Bei. Bagus itu. Semua Muktamirin dan Penggembira tentu butuh oleh-oleh. Semoga semua peserta Bazar sukses menjual produknya." 

"Iya, Sa. Semoga sukses semua. Aku pulang dulu ya, Sa. Mau istirahat. Istriku tentu juga sudah nunggu-nunggu."

"Njih, Pak Bei. Terima kasih informasi dan traktirannya. Salam untuk Mbakyu di rumah."

Pak Bei menuju kasir, mambayar makanan, dan langsung pulang. 

#serialpakbei






















Rabu, 20 Juli 2022

SASA RINDU DEMO

SASA RINDU DEMO

"Kalau melihat kahanan negeri kita saat ini, bagaimana menurut Pak Bei? Apa yang mungkin akan terjadi?," tanya Sasa yang tiba-tiba duduk di samping Pak Bei yang baru asyik menikmati soto.

"Kahanan apa maksudmu, Sa?"

"Ya kahanan negara kita saat ini."

"Baik-baik saja, kok."

"Baik-baik saja bagaimana to, Pak Bei? Jelas semakin mengkhawatirkan, lho."

"Apanya yang mengkhawatirkan? Gak usah baper, Sa. Gak usah kagetan. Slow wae," kata Pak Bei sambil asyik menghabiskan soto di mangkuknya.

"Wah gimana, ya. Mau bilang apa kalau hidup seakan terus-menerus dibayang-bayangi hantu, Pak Bei?"

"Hantu? Apa maksudmu?"

"Sejak pandemi covid-19 kita dioyak-oyak dan ditakut-takuti harus ikut vaksin. Pas mau Idul Adha kemarin, sapi-sapi milik petani-peternak pada mati bergelimpangan tiap hari karena virus PMK. Ibu-ibu harus rela antri panjang hanya untuk beli minyak goreng murah karena harga di pasaran membumbung tinggi. Perajin tahu-tempe kesulitan cari bahan baku, kedelai. Harga BBM dan listrik PLN tiba-tiba naik. Anak-anak sekolah juga dipaksa beli bahan seragam di sekolah dengan harga sangat mahal." Tampak Sasa masih mengingat-ingat masalah yang dilihat dan dirasakannya.

"Terus apalagi, Sa?"

"Lha ini malah ada lagi drama seorang polisi ditembak mati oleh sesama polisi di rumah dinas seorang petinggi polisi, lalu keluarganya tidak terima dan lapor polisi. Ini lakon apa, Pak Bei?"

"Terus apalagi?"

"Para menteri dan politisi sibuk membangun koalisi menghadapi Pilpres 2024, majang foto di jalan-jalan seakan mereka orang penting dan telah berjasa besar bagi rakyat. Ngrai gedhek semua, gak punya malu. Tiap hari pidato dan ngomong ke wartawan dan media seolah mereka orang hebat, padahal sebenarnya tidak punya prestasi apa-apa selama menjadi pejabat. Tapi rakyat diyakin-yakinkan tiap hari bahwa dia hebat, dan di Pemilu nanti rakyat mau memilihnya."

"Terus....," Pak Bei sudah menghabiskan sotonya, lalu nyeruput teh nasgithel dan menyulut rokok kreteknya.

"Rakyat kok cuma dibohongi dan dianiaya terus-terusan. Saya jadi khawatir ini akan jadi peristiwa besar seperti tahun 97-98, Pak Bei."

"Maksudmu Pemerintah kita jatuh, begitu?"

"Ya itu yang saya khawatirkan."

"Ah kamu saja yang berlebihan, Sa. Kejauhan pikiranmu. Mustahil itu."

"Ya makanya saya tanya Sampeyan, Pak Bei. Bagaimana kita memahami kahanan ini?"

"Kalau menurutku, Sa, kecil kemungkinan Presiden kita jatuh sebelum habis masa jabatannya."

"Kok bisa, Pak Bei? Lha wong tidak punya wibawa gitu kok. Sering tindakannya hanya jadi bahan guyonan anak-anak kecil."

"Tentu Sasa masih ingat, dulu ketika Presiden kita jatuh, itu karena ada kekuatan rakyat dan mahasiswa yang sama-sama gelisah pengin ada perubahan, lalu ada seorang tokoh yang berani tampil dengan segala resikonya memimpin demo berjilid-jilid di berbagai daerah yang terus menyuarakan reformasi. Lha sekarang...mana ada, Sa? Yang ada saat ini hanya para politisi yang masing-masing punya agenda dan harapan bisa ganti jadi penguasa, ganti menguasai aset negeri ini, atau bahkan dia hanya boneka yang dimainkan oleh kekuatan kapital di belakangnya. Gak ada negarawan yang sungguh-sungguh berjuang untuk rakyatnya."

"Wah Pak Bei kok pesimis gitu sih.?"

"Bukan pesimis, Sa. Ini kenyataan."

"Kalau soal polisi ditembak polisi di rumah polisi tadi bagaimana, Pak Bei?"

"Wah gimana ya, Sa. Sekali lagi ini hanya soal adakah orang yang sungguh-sungguh mau dan berani ambil resiko memperbaiki negeri ini. Kalau ternyata tidak ada, toh nanti pelan-pelan rakyat juga akan lupa dengan sendirinya. Rakyat ini gampang dialihkan perhatiannya ke kasus-kasus lain yang juga gampang diadakan, Sa."

"Maksud, Pak Bei?"

"Rakyat ini gampang lali, gampang lupa, gampang emaafkan. Sudah jelas koruptor dan merampok harta negara bertrilyun-trilyun saja, kalau suatu saat dia datang pakai peci dan memberi bantuan ke pesantren, misalnya, rakyat akan memaafkan dan berebut mencium tangannya, kok. Iya, kan?"

"Iya juga ya, Pak Bei. Wah kalau begini, saya jadi kangen pengin ikut demo lagi seperti demo 411 dan 212 dulu."

"Untuk apa, Sa?"

"Setidaknya saya pengin ikut menyadarkan rakyat bahwa setuasi rusak-rusakan ini harus diperbaiki bersama-sama."

"Bagus itu. Kudoakan semoga keinginanmu terlaksana. Aku hanya bisa nyangoni slamet, Sa. Dah ya aku pulang dulu. Kerja, Sa. Kerja. Kerja."

"Siap, Bei. Matur nuwun obrolannya."

Pak Bei pulang untuk mengurus pekerjaannya. Sasa pun kembali ke depan warung, mengatur parkir kendaraan pengunjung Soto Kartongali dengan properti seperti biasanya: sempritan, bendera kecil-lusuh, dan balok pengganjal ban mobil.

#serialpakbei










Sabtu, 09 Juli 2022

JAGAL

JAGAL

"Pangapunten, Pak Bei, saya mau nggenahke," kata Sasa setelah dipersilakan duduk. Tumben Sasa datang pagi-pagi ketika Pak Bei sedang bersih-bersih halaman. 

"Nggenahke soal apa, Sa?" 

"Kemarin ada orang cerita katanya Pak Bei yang jadi jagal sapi kurban di kampung ini."

"Bukan hanya aku, Sa. Ada 3 Jagal di sini, aku salah satunya. Kemarin kami nyembelih 10 ekor sapi. Memangnya kenapa, Sa?"

"Penasaran saja, Pak Bei."

"Kenapa penasaran?"

"Lah setahuku dari dulu Pak Bei ini orangnya lembut, gak tegaan, bahkan gak suka melihat darah. Kok berani jadi jagal? Apa memang sekarang sudah berubah?"

"Hahaha....berubah bagaimana? Aku masih seperti yang dulu, Sa," kata Pak Bei sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi sahabatnya. 

"Lha wong cuma soal nyembelih hewan kurban saja kok Sasa sampai keroyo-royo datang pagi-pagi untuk klarifikasi. Apa masalahnya? Apa ada yang salah?" Pak Bei bertanya-tanya dalam hati sambil membuat kopi di dapur.

"Begini lho, Pak Bei. Selama ini orang beranggapan bahwa jagal itu orang yang punya watak keras dan tegelan, tegaan, bukan hanya pada hewan, tapi juga pada sesama manusia," kata Sasa sambil menikmati kopi panas yang baru disuguhkan Pak Bei. Tampak tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan menyulut satu batang. Asap putih bergumpal-gumpal mulai mengepul dari bibirnya yang hitam menghiasi  teras nDalem Pak Bei. Matahari merah tampak menyembul dari timur, tepat dari balik Gunung Lawu yang tampak biru di kejauhan. "Srengengene wis mlethek, begitu kata orang Jawa. Matahari sudah terbit.

"Lalu apa masalahnya kalau aku jadi jagal kurban, Sa?"

"Sebenarnya ya gak apa-apa, Pak Bei. Aku justru semakin yakin bahwa jagal kurban itu beda dengan jagal manusia."

"Maksudnya?"

"Pak Bei dipilih oleh masyarakat jadi jagal kurban pasti bukan karena Pak Bei ini orangnya sadis dan tegalan, tapi karena dipandang mampu nyembelih hewan kurban sesuai syariat. Ini bukan berarti Pak Bei tidak punya peri-kebinatangan, suka menyiksa binatang, tapi semata-mata karena dipandang mampu menyembelih hewan secara baik dan benar."

"Wah kok adoh temen analisismu, Sa."

"Ya terpaksa mikirku sampai ke sana, Pak Bei."

"Kok terpaksa. Memang ada apa?"

"Aku betul-betul gak habis pikir, bahkan tersinggung, kok ada orang yang berani terang-terangan menuduh umat Islam itu sadis, tidak punya peri-kebinatangan, suka menumpahkan darah, lalu berpesta pora memakan daging hewan yang dicincangnya ramai-ramai. Karena pemakan daging, makanya umat Islam gampang emosi, sumbu pendek, anaknya banyak, dan suka poligami. Jelas ini tuduhan yang tidak main-main, Pak Bei."

"Memang ada orang yang berpikiran seperti itu, Sa?"

"Walah Pak Bei pasti juga pernah bahkan sering baca di medsos. Jangan pura-pura gak tahulah. Banyak orang yang benci Islam, Pak Bei, bahkan berani terang-terangan menghina agama kita."

"Lha terus bagaimana, Sa? Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan soal ujaran kebencian dan menebar kebohongan kan itu soal hukum. Sudah ada yang kawogan, berkompeten. Aparat penegak hukum yang harus gerak cepat agar tidak semakin rusak persatuan dan kesatuan bangsa ini."

"Ya itulah, Pak Bei. Anehnya, para pembenci itu justru mingkem alias diam saja menyaksikan jutaan rakyat tercekik lehernya karena kebijakan politik yang salah. Banyak orang miskin dan  kelaparan, anak-anak kurang gizi dan stunting. Mereka diam saja. Bukankah pemerintah,  pejabat, dan politisi yang mengambil kebijakan salah itulah yang jauh lebih sadis dari jagal hewan kurban, Pak Bei? Lha kok malah dho mingkem?"

"Wah gak tahu aku, Sa. Yang kutahu hanya sederhana, bahwa kita berkurban itu melaksanakan perintah agama, sedangkan menganiaya dan membunuh sesama manusia itu warisan si-Qabil anak Adam yang rakus, tamak, dan bersahabat dengan iblis."

Tampak matahari di timur laut sudah tidak berwarna merah lagi, posisinya sudah agak naik. Udara pagi terasa lebih hangat. Itu pertanda Sasa harus segera pamit untuk menunaikan tugasnya sebagai juru parkir warung Soto Kartongali Jolotundo. Pak Bei pun harus kembali ke halaman menyelesaikan tugas paginya, menyapu dedaunan kering yang berceceran.

#serialpakbei










Jumat, 08 Juli 2022

SASA BINGUNG


SASA BINGUNG

Sasa memang jindul tenan kok. Gak empan papan. Seenaknya sendiri. Maksud Pak Bei cuma pulang sebentar, sekedar mandi, ganti baju, dan ngambilkan beberapa barang pesenan Bu Bei yang lagi bed-rest di Rumah Sakit. Tak lupa sebelum berangkat ngopi dulu segelas agar mata kemepyar tidak ngantuk. Meski badan terasa capek, tapi Pak Bei tetap harus tampil prima dan full-smile agar Bu Bei gembira hatinya dan semangat untuk sembuh.

Tapi apa boleh buat, sore ini Pak Bei gak bisa cepat-cepat kembali ke RS karena Sasa tiba-tiba datang. Untuk sahabatnya yang satu ini, kadang memang Pak Bei lebih sering tidak berdaya menolak kehadirannya.

"Pak Bei, jadinya jamaah mesjid kampung kami akan ikut Idul Adha besok pagi, Sabtu tanggal 9 Juli," kata Sasa setelah nyucup kopi panas yang baru kusuguhkan.

"Looh...katamu mau ikut keputusan Pemerintah tanggal 10 Juli?"

"Ya memang kemarin begitu, Pak Bei. Hari ini pun kami tidak puasa Arafah."

"Kenapa mau ikut sholat Ied besok?"

"Gara-gara ini lho, Pak Bei," Sasa menunjukkan dua foto di HP-nya.

"Dapat dari mana foto ini, Sa?"

"Tadi siang habis sholat dhuhur, beberapa pemuda ribut di serambi mushola. Waktu kudekati, ternyata mereka ngobrol soal foto ini. Lalu mereka tanya ke aku, kapan jadinya mau Idul Adha."

"Terus bagaimana jawabanmu?"

"Kubilang ke mereka, kalau jelas sudah ada bukti seperti ini, aku cenderung lebih percaya keputusan yang pertama."

"Maksudnya?," tanya para pemuda

"Kalender dan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri ini sudah dibuat lebih dulu, maka lebih jujur dan tanpa tendensi politik.
Maka saya lebih percaya itu," kataku pada mereka.

"Jadinya kita akan ikut Idul Adha besok ya, Lek Sas. Kalau begitu jamaah harus dikasih tahu."

"Silakan diumumkan."

"Sa, kalender dan SKB itu kan itu dibuat jauh sebelum ada sidang isbat. Jadi masih bisa dikoreksi," kata Pak Bei.

"Kalau masih bisa dikoreksi mbok gak usah diumumkan tanggalnya. Kasih aja keterangan "menunggu hasil sidang isbat". Tapi kan tidak, Pak Bei. Yang kalender ini juga tidak ada catatan seperti itu. Jelas sekali tanggal merahnya 9 Juli kok."

"Wis sak karepmu, Sa. Itu soal kemantapan hati. Kalau aku jelas, hari ini puasa Arafah dan besok pagi bertugas jadi Khotib Sholat Ied."

"Itu kan Pak Bei. Lha kalau kami, hanya orang-orang desa yang masih minim ilmu agama. Kami hanya bisa berharap Pemerintah membuat keputusan yang menenteramkan dan membahagiakan, bukan malah membingungkan rakyatnya."

"Ya bilang saja pada wakilmu di DPR, Sa. Dulu kalian milih siapa dan dari partai apa? Merekalah yang berkewajiban menangkap dan memperjuangkan aspirasi pemilihnya agar keputusan apapun yang dibuat bersama Pemerintah tidak membingungkan atau bahkan merugikan rakyatnya."

"Walah, Pak Bei ini kok kaya tidak tau saja."

"Tidak tau bagaimana?"

"Lah waktu Pilpres, Pileg, Pilgub, dan Pilkada, rakyat ini milih siapa kan tergantung amplop yang dibagikan para calo. Kami hanya manut hasil nyang-nyangan Pak Lurah, Pak RW, dan Pak RT dengan para calo."

"Ya sudah kalau begitu. Gak usah disesali. Gak usah bingung. Gak usah nanya ke aku. Aku ini juga sama dengan kalian, cuma rakyat biasa, gak bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."

"Aku ini cuma curhat kok, Pak Bei. Ke mana lagi Sasa mau curhat kalau tidak ke Pak Bei sahabat paling setia?"

"Halaah...wis kana ndang balio. Aku mau balek ke RS dulu. Istriku sudah menunggu dari tadi."

"Njih siap, Pak Bei. Salam untuk Bu Bei, semoga lekas sehat bugar kembali...aamiin."

Sasa pamit pulang setelah menghabiskan kopinya. Pak Bei pun langsung tancap gas ke RS untuk kembali ngancani Bu Bei.

#serialpakbei




Jumat, 17 Juni 2022

AKU SAKIT, ENGKAU TAK MENJENGUKKU

AKU SAKIT, ENGKAU TAK MENJENGUKKU

Entahlah, boleh jadi syetan-syetan yang bertugas menggoda manusia itu memang ada penjadwalan yang rapi, teratur, dan terukur. Semua syetan bertugas sesuai jadwal yang sudah ditentukan dengan SOP dan sasaran/target yang jelas. Boleh jadi sistem kepangkatan juga berlaku di dunia syetan. Yang masih junior, misalnya, bertugas pada hari-hari biasa dengan target sasaran manusia-manusia biasa saja atau bahkan anak-anak dan remaja yang imannya relatif masih pas-pasan, atau bahkan orang-orang yang masih ingkar alias kafir. Yang agak senior bertugas di hari tertentu dan menyasar ke orang-orang yang sudah lumayan keimanan dan amaliyahnya sehingga untuk menggodanya butuh cara-cara kreatif dan trik sendiri. Yang lebih senior lagi bertugas di mesjid-mesjid menggoda orang yang sedang melaksanakan sholat Jumat dengan jurusnya yang canggih dan bikin orang ngantuk thekluk-thekluk hingga tidak mendengarkan khotbah. Yang lebih senior lagi bertugas menggoda para alim, cendikiawan, pejabat, dan politisi agar pintar menyiasati kahanan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sedangkan yang paling senior, paling tinggi maqamnya, bertugas khusus di Padang Arafah dan Mina (Armina), tempat orang-orang yang imannya relatif kuat dan punya kemampuan melaksanakan Ibadah Haji dan sedang melaksanakan prosesi puncak Ibadah Haji. Konon, di tempat ketika jutaan orang sedang melaksanakan wukuf dan berkemah di Mina untuk antri melakukan prosesi Jamarat inilah banyak terjadi hal-hal yang seolah aneh, tetapi sebenarnya hanya buah atau imbas dari kebiasaan amaliyahnya sebelum berangkat haji. Orang Jawa bilang diwelehke, keweleh, aibnya seolah terbuka dan dilihat teman-temannya.

Seperti biasanya, Jumat kali ini pun terasa berat bagi Pak Bei. Sejak jam 11-an ketika harus siap-siap berangkat ke masjid, mata Pak Bei seakan kena lem castol. Ngantuk banget. Tapi mana mungkin tidur dulu. A'uudzubillaahiminasysyaitoonirrojiim," begitu doa Pak Bei dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi keramas, lalu pakai sarung, baju koko, parfum, dan kopiah. Tak berapa lama, Pak Bei pun tampak berjalan ke mesjid dengan sajadah tercantel di pundaknya.

Baru usai shalat tahiyatul-masjid, terlihat Khotib naik mimbar lalu mengucapkan salam, dan muazin pun berdiri mengumandangkan azan dengan suara merdunya. Azan selesai.nMata Pak Bei mulai terasa berat, ngantuk, tapi coba ditahannya. Pak Bei hafal betul Khotib yang bertugas kali ini biasanya menyampaikan tema-tema aktual dan kontekstual, dibumbui cerita-cerita menarik sehingga jamaah tidak mengantuk. Sayang kalau khotbahnya terlewatkan. Maka Pak Bei pun berjuang supaya tidak ngantuk dan tertidur dalam buaian syetan yang terkutuk.

Dan benar saja. Setelah menyampaikan prolog khotbah memenuhi syarat dan rukun khotbah Jumat, Khotib pun  langsung menyampaikan sebuah hadits qudsi yang cukup menarik.

"Wahai Bani Adam, aku sakit, tapi kenapa engkau tidak menjengukku?," suara Khotib menggelegar dengan tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh jamaah, gayanya mirip seorang aktor teater Jogja yang sedang pentas monolog di Taman Budaya. Jamaah yang semula menunduk pun jadi mengangkat wajahnya, melihat dengan seksama Khotib yang sedang mengawali khotbahnya.

Khotib melanjutkan, "Bani Adam menjawab dengan malu-malu, "Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau sakit dan mengharap kami menjengukmu, sedangkan Engkaulah Sang Pencipta dan Penguasa Alam?" 

"Wahai Bani Adam," Allah menjawab, "Apakah engkau tidak tahu bahwa ada hambaKu, si Fulan tetanggamu, sedang berjuang menahan sakit yang dideritanya, namun engkau justru hanya enak-enak makan, tidur nyenyak, dan sibuk dengan urusan pekerjaan? Kenapa engkau tidak menjenguknya? Padahal kalau engkau menjenguk dan mendoakannya, sungguh Aku berada di sisinya."

Mak-jleb rasa di ulu hati Pak Bei mendengar cerita dari hadits qudsi itu. Rasa kantuk pun hilang sama sekali, diganti rasa gundah dan pikiran melayang ke tetangganya yang sedang sakit tak kunjung sembuh, beberapa teman yang kena diabetes, yang kena stroke, dan dan ada yang gagal ginjal, juga saudaranya di luar kota yang belum lama ini terkena serangan jantung dan harus dipasang ring. Ya Allah, aku belum pernah menjenguknya, kata batin Pak Bei dengan rasa ngilu.

"Wahai Bani Adam," Khotib melanjutkan ceritanya, "Aku lapar, kenapa engkau tidak memberiku makan?" Bani Adam menjawab, "Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau kelaparan, sedang Engkau pemilik seluruh alam?"
Allah berfirman, "Apakah engkau tidak melihat ada hambaKu si Fulan dan anak-anaknya sedang kelaparan lalu meminta makan kepadamu, namun engkau mengabaikannya? Sungguh, andai saja engkau memberinya makan, maka akan engkau dapatkan ridhoKu."

Seluruh jamaah Jumat khusyuk memperhatikan Khotib mau meneruskan ceritanya. Mungkin saja masing-masing sedang berkecamuk perasaan dan pikirannya, mengingat betapa belum seberapa yang telah dilakukannya untuk membantu orang yang sedang kelaparan.

"Allah berfirman lagi," Khotib melanjutkan, "Wahai Bani Adam, Aku kehausan, tapi engkau tidak memberiku minum." 
"Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau kehausan, sedangkan seluruh alam raya dan segala isinya ini milikMu?," jawab Bani Adam dengan takut-takut.

"Apakah engkau tidak tahu betapa hambaKu si Fulan sedang kehausan, sangat kehausan. Dan ketika dia datang kepamu meminta minuman, engkau justru memalingkan wajahmu. Padahal kalau engkau memberinya minum, sungguh aku pasti meridhoimu."

Seperti biasa, Khotib yang satu ini tidak memberi kesimpulan khotbahnya. Tampaknya dia sengaja membiarkan jamaah membuat kesimpulan sendiri-sendiri sesuai daya tangkap masing-masing. Dia tidak menggurui jamaahnya.
Usai sholat, jamaah pun bubar.

Masing terngiang di kepala Pak Bei dialog antara Allah dengan Bani Adam di hari kiamat nanti.
Betapa malunya kalau kita diprotes Allah seperti itu, dileh-lehke kata orang Jawa, justru di saat kita sudah tidak mungkin lagi memperbaiki kesalahan dengan memperbanyak amal shaleh, di saat  kita mengharap ampunan dan ridho-Nya. Betapa malunya kalau selama hidup ini kita bukan hanya tidak mau menengok tetangga atau saudara yang sakit, tetapi justru yang menjadi penyebab tetangga, saudara, dan rakyat menjadi sakit massal, entah karena wabah atau pandemi, dan itu karena kita salah dalam pengambilan kebijakan terkait kesehatan masyarakat.

Betapa malunya nanti kalau diprotes Allah karena tidak memberi makan dan minum orang kelaparan dan kehausan karena ternyata justru kitalah yang telah salah mengambil kebijakan soal ketersediaan pangan dan air minum bagi rakyat.

Astaghfirullaahal'dziim....

#serialpakbei

Senin, 30 Mei 2022

PII Dan KBPII

PII Dan KBPII

"Dua hari yang lalu saya ke sini, tapi nDalem Pak Bei ini suwung (kosong). Pak Bei ke mana? Saya sampai dua kali lho ke sini," kata Sasa sambil menghisap kreteknya.

"Kami ke Semarang, Sa. Rombongan dengan teman-teman," jawab Pak Bei.

"Rombongan apa? Piknik, lihat banjir rob yang tak kunjung surut?"

"Wah ya bukanlah, Sa. Masa piknik di tengah bencana. Banyak orang lagi kesusahan masa mau ditonton."

"Lah terus rombongan apa? Pas tanggal merah lho, Pak Bei. Hari libur."

"Kami menghadiri acara Pelantikan Pengurus Wilayah KBPII Jawa Tengah, sekaligus juga dilantik sebagai Pengurus Daerah KBPII Kab. Klaten."

"KBPII itu apa to, Pak Bei?"

"Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia, ini organisasi atau wadah alumni Pelajar Islam Indonesia, disingkat PII."

"Setahu saya PII itu wadahnya para insinyur."

"Sama tapi tak sama, Sa. Ndelalah saja singkatannya memang sama-sama PII. PII kami wadah pelajar Islam yang berdiri sejak awal-awal kemerdekaan. Sudah melahirkan banyak pemimpin bangsa."

"Tapi kenapa PII-nya Pak Bei tidak pernah terdengar kiprahnya? Atau karena saya yang kuper, ya..."

"Memang PII di Klaten sudah lama tidak ada aktivitas, Sa. Dulu, karena imbas pemberlakuan Azas Tunggal Pancasila dan situasi kurang kondusif, kami para pengurus PII Klaten sepakat membubarkan diri. Beberapa teman lalu memilih ikut aktif di Pemuda Muhammadiyah, sedangkan saya memilih aktif di Jamaah Shalahuddin UGM. Jadi sudah lama sekali PII di Klaten ini mati, Sa."

"Ooh jadi Pak Bei ini alumni PII, to?"

"Iya, Sa. Alhamdulillah dari klas 1 SMA hingga awal kuliah saya aktif di PII."

"Sekarang Pak Bei aktif di KBPII itu?"

"Iya, Sa. Insya Allah. Kami akan menghidupkan kembali PII sebagai wadah pelajar Islam, sebagai media kaderisasi pemimpin umat, masyarakat, dan bangsa."

"Apa itu penting, Pak Bei? Bukankah Pak Bei ini sudah cukup sibuk dengan kegiatan bisnis dan berbagai organisasi? Melihat Pak Bei dari kejauhan saja saya sudah mumet. Kok bisa nglakoni."

"Namanya juga panggilan jiwa, Sa. Gak bisa tinggal diam."

"Tapi anak-anak jaman sekarang sudah beda dengan jaman kita dulu lho, Pak Bei."

"Ya memang, Sa. Tapi selama negara kita ini masih ada dan umat Islam ini masih tinggal di negeri ini, maka harus terus ada upaya kaderisasi, upaya memproses lahirnya kader-kader pemimpin yang punya aqidah serta kepribadian kuat, memiliki jiwa nasionalisme tinggi serta rasa tanggung jawab bagi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia."

"Wah kok serius banget, Pak Bei?"

"Looh piye to, Sa? Ini sangat serius. Seperti tafsir simbolik Sasa kemarin, bangsa kita saat ini kan terjebak pada kotak-kotak, dan antar-kotak itu saling bemusuhan, saling fitnah, bahkan saling menghancurkan. Karena kita menjadi lemah, maka negara kita pun dikangkangi oleh tikus-tikus dan ular berbisa. Begitu kan katamu kemarin?"

"Hehehe....iya, Pak Bei. Memang sangat memprihatinkan kondisi bangsa-negara kita saat ini. Tapi herannya, banyak orang malah asyik menikmati kue-kue dan tulang atau tengkleng sisa makanan para tikus. Kalau ada yang berani mengingatkan, berani mbengok, akan diserang ramai-ramai sebagai radikal, teroris, pro-khilafah, dsb."

"Sudah azan isya', Sa. Ayo kita ke mesjid dulu."

"Monggo, pak Bei."

Kami pun menuju mushola di depan rumah.

Minggu, 30 Januari 2022

BISNIS YANG MEMBAHAGIAKAN

BISNIS YANG MEMBAHAGIAKAN

"Kenapa Pak Bei memilih diversifikasi usaha  jualan soto setelah berpuluh tahun berdarah-darah di usaha konveksi? Bukankah itu terlalu kecil, lagi-lagi cuma ngumpulin duit recehan?," tanya Ridwan yang tampak penasaran dengan pilihan Pak Bei. "Kenapa tidak masuk ke bisnis property, misalnya, atau main valas, atau terjun di politik.  Jelas peluang profitnya jauh lebih besar dan pasti lebih bergengsi?," lanjutnya. 

Pak Bei masih diam dan senyum-senyum mendengarkan omongan sahabatnya sambil sesekali menghisap pipa kretek di tangannya. Seorang pramusaji datang menghidangkan semangkok soto sapi dan segelas teh panas. Segera Pak Bei mempersilakan sahabatnya itu menikmati.

"Kalau memang Pak Bei suka di bisnis kuliner, kenapa tidak bikin restoran yang besar atau cafe untuk nongkrong anak-anak muda? Ah saya jadi heran, kenapa sekelas Pak Bei tidak berusaha menjaga imej sebagai pengusaha top? Orang sekarang kan harus pandai-pandai jaga imej, Pak Bei?"

"Silakan dimakan dulu, Lur. Ciciplah semua yang ada di meja ini. Nanti kita lanjut ngobrol. Aku ke dapur dulu, ya." Pak  Bei meninggalkan sahabatnya sendirian menikmati soto daging sapi yang sedap tapi tanpa penyedap rasa buatannya. Pak Bei paham betul, sahabatnya itu dari dulu suka omong besar, impiannya besar tapi kurang realistis, sok kritis, gengsian, berlagak kaya-raya padahal hidupnya susah. Banyak teman yang enggan meladeni obrolannya yang mengawang-awang, tidak membumi.

Ketika dilihatnya Ridwan sudah menuntaskan semangkok soto dan nyeruput teh, Pak Bei segera kembali nemani duduk dan meladeni obrolannya.

"Gimana sotoku, Lur, enak gak?"

"Wah luar biasa ini, Pak Bei. Belum pernah aku nemu warung soto yang seenak ini."

"Tehnya bagaimana?"

"Waduuh...ini baru teh nasgithel (panas-legi-kenthel) namanya. Benar-benar minuman finishing yang bikin terngiang di lidah."

"Terima kasih, Lur. Sekarang Kamu sudah nemukan jawaban pertanyaanmu tadi, kan?"

"Belum."

"Loh bagaimana Kamu ini. Jualanku ini gak sembarangan, kan? Rasanya gak ecek-ecek?"

"Wooh iya memang luar biasa. Rasanya bikin orang tuman, ketagihan. Tempatnya bersih, pelayanan juga bagus. Cepat saji."

"Alhamdulillaah. Sekarang coba Kamu hitung ada berapa karyawanku?"

Ridwan berdiri dan melihat ruang dapur. 
"Ada 10 orang semuanya," kata Ridwan sambil kembali duduk.

"10 orang itu baru yang di dalam. Kamu belum menghitung yang di parkiran dan penjaga malam. Semuanya ada 15 orang, Lur."

"Banyak juga, ya."

"Kebahagiaanku dalam berbisnis bukan sekadar berapa banyak aku dapat profit, tapi seberapa banyak orang memperoleh kebahagiaan dengan bergabung dalam bisnis ini. 15 orang itu baru yang terlibat langsung sebagai karyawan. Masih banyak orang yang terlibat sebagai suplayer daging sapi, daging ayam, jerohan, telor ayam, telur puyuh, bumbu-bumbu, tempe, tahu, kerupuk, kripik, dsb. Mereka semua mendapatkan rejeki melalui bisnis warung soto ini. Dengan rejeki yang mungkin tidak seberapa bagimu, mereka bisa menafkahi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya, dan bersedekah semampunya. Inilah realitas hidup, Lur. Gak usah bermimpi yang besar-besar, yang penting usaha bisa jalan terus agar jadi jalan rejeki bersama-sama. Semakin banyak orang terlibat, semakin bikin kita bahagia. Ngono lho, Lur."

Tampak 3 mobil masuk ke parkiran dipandu juru parkir. Ada belasan orang turun dan langsung masuk mengisi meja-meja lesehan di ruang sebelah.

"Lur, sori ya, aku harus menyambut tamu. Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi. Kamu gak usah ke kasir. Masih free untuk sahabat."

Pak  Bei menyalami sahabatnya dan langsung menuju ruang sebelah untuk menyapa tamu-tamunya.

#serialsotosartondho