MUSIM CALEG
Baru saja kumatikan mesin dan kubuka pintu mobil, Sasa mendekatiku dan bertanya, “Om, Sampeyan ikut ndaftar Caleg, gak?”
Belum sempat kurespon, sambil matanya melihat kiri ke kanan mencarikan celah agar aku aman menyeberang jalan yang sangat ramai pagi itu, Sasa bertanya lagi, “Atau, siapa teman Sampeyan yang sudah daftar Caleg? Ada apa tidak, Om? Kalau tidak ada, Sampeyan harus daftar.”
“Sik to, Sa. Kamu ini ketempelan apa? Pagi-pagi kok ngomyang. Apa tadi malam sesirih ke makam Ki Ageng Gribik terus dapat wangsit?” tanyaku.
“Hahahaa....mbok jangan ngece to, Om. Aku ini masih waras, lho.”
“Lha pertanyaanmu nganeh-anehi kok, Sa.”
“Begini lho, Om...,” Sasa mengikutiku duduk di amben depan warung, ”Tadi malam di desaku ada sosialisasi tentang Pengisian Perangkat Desa oleh Pak Kades dan Panitia Pendaftaran. Mereka memberi penjelasan dan pengarahan agar warga kami ikut mendaftar Kaur yang lowong.”
“Lalu apa hubungannya dengan pertanyaanmu tadi?” kejarku.
“Pak Kades cerita bahwa tahun ini banyak agenda politik yang perlu mendapat perhatian dan partisipasi masyarakat. Tidak lama lagi kita akan Pilgub, dan saat ini sedang marak sosialisasi calon Gubernur. Pada saat yang sama, KPU juga ngumumkan Daftar Pemilih Sementara yang perlu kita cermati. Yang tidak kalah penting, Om, saat ini partai-partai politik sedang sibuk menjaring kader-kadernya untuk menjadi Caleg yang akan kita pilih pada Pileg 2019.”
“Ha mbok wis ben to, Sa. Itu kan kerjaannya orang-orang parpol. Memang maqom mereka. Gak usah digagas. Kita kan sudah punya kesibukan sendiri, Sa.”
“Wah lha ini. Ini.... Pikiran seperti Sampeyan ini yang bikin negara semakin rusak-rusakan.”
“Loh.....,” aku betul-betul kaget mendengar kata-kata Sasa yang terasa mak-jleb di ulu hati, “Lha njur kudu piye, Sa? Orang seperti kita ini mau apa, coba? Kita ini kan bukan pengurus Parpol, juga bukan anggota KPU. Mosok ikut ngurus pencalegan.”
“Om, aku ini pernah ikut aktif di parpol, lho. Meski derajadku waktu itu cuma Satgas, tapi aku jadi agak paham bagaimana orang-orang parpol, pikiran politiknya, trik-trik kampanye dan cara kerja politiknya. Bahkan aku jadi tahu niatannya terjun ke politik. Hanya ngurusi kepentingannya sendiri dan kelompoknya, Om. Bukan untuk kebaikan masyarakat, bukan resepkebaikan hidup berbangsa dan bernegara yang adil-makmur dan diridhoi Tuhan. Bukan.”
Kalau Sasa sudah berkhotbah macam ini, aku jadi tidak berkutik. Malu, sekaligus kagum. Ada juru parkir yang bukan hanya tulus hatinya, tapi juga peka dan kritis membaca setiap perubahan jaman.
“Kalau orang-orang baik, orang-orang pandai dan terpelajar lebih memilih kemuliaan dan kesucian hidup sebagai kaum Brahmana, maka dunia akan diurus oleh kaum Sudra, orang-orang lapar, orang-orang miskin dan bodoh yang tega melakukan apa saja demi mengejar kekayaan dan kejayaan diri dan kelompoknya. Maja hancurlah negeri ini. Tata titi tentrem kerta raharja hanya akan menjadi cita-cita tertinggi yang tak akan pernah kita rasakan.”
“Waaoow....Syech Sasa mulai berfatwa nih. Njur kita ini harus bagaimana, Syech? Dulu Kamu bilang, “ojo cedhak kebo gupak”, jangan mendekati kerbau yang sedang berkubang di lumpur. Piye jal?”
“Om, negara ini mau baik atau mau remuk-remukan, sangat tergantung siapa yang mengurusinya. Kalau Sampeyan atau siapa pun yang peduli pada kebaikan hidup berbangsa dan bernegara, tapi takut kena lumpur dan takut kena kotoran, maka jangan menyesal kalau di akhirat nanti kita dinilai oleh Tuhan sebagai orang egois dan tidak menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
“Njih, Syech Sasa. Matur nuwun wejanganipun. Nanging pangapunten, kula badhe sarapan rumiyin, njih. Nyoto dulu biar kemepyar....”
“Woo injih...monggo.”
Sasa meningggalkanku, kembali mengatur parkir. Kali ini soto Kartongali terasa agak beda. Hambar. Mungkin karena hati dan pikiranku terlanjur terganggu omongan Syech Sasa yang mak-jleb tadi. Edan tenan Sasa.....