Sabtu, 31 Maret 2018

MUSIM CALEG

MUSIM CALEG

Baru saja kumatikan mesin dan kubuka pintu mobil, Sasa mendekatiku dan bertanya, “Om, Sampeyan ikut ndaftar Caleg, gak?”

Belum sempat kurespon, sambil matanya melihat kiri ke kanan mencarikan celah agar aku aman menyeberang jalan yang sangat ramai pagi itu, Sasa bertanya lagi, “Atau, siapa teman Sampeyan yang sudah daftar Caleg? Ada apa tidak, Om? Kalau tidak ada, Sampeyan harus daftar.”

“Sik to, Sa. Kamu ini ketempelan apa? Pagi-pagi kok ngomyang. Apa tadi malam sesirih ke makam Ki Ageng Gribik terus dapat wangsit?” tanyaku.

“Hahahaa....mbok jangan ngece to, Om. Aku ini masih waras, lho.”

“Lha pertanyaanmu nganeh-anehi kok, Sa.”

“Begini lho, Om...,” Sasa mengikutiku duduk di amben depan warung, ”Tadi malam di desaku ada sosialisasi tentang Pengisian Perangkat Desa oleh Pak Kades dan Panitia Pendaftaran. Mereka memberi penjelasan dan pengarahan agar warga kami ikut mendaftar Kaur yang lowong.”

“Lalu apa hubungannya dengan pertanyaanmu tadi?” kejarku.

“Pak Kades cerita bahwa tahun ini banyak agenda politik yang perlu mendapat perhatian dan partisipasi masyarakat. Tidak lama lagi kita akan Pilgub, dan saat ini sedang marak sosialisasi calon Gubernur. Pada saat yang sama, KPU juga ngumumkan Daftar Pemilih Sementara yang perlu kita cermati. Yang tidak kalah penting, Om, saat ini partai-partai politik sedang sibuk menjaring kader-kadernya untuk menjadi Caleg yang akan kita pilih pada Pileg 2019.”

“Ha mbok wis ben to, Sa. Itu kan kerjaannya orang-orang parpol. Memang maqom mereka. Gak usah digagas. Kita kan sudah punya kesibukan sendiri, Sa.”

“Wah lha ini. Ini.... Pikiran seperti Sampeyan ini yang bikin negara semakin rusak-rusakan.”

“Loh.....,” aku betul-betul kaget mendengar kata-kata Sasa yang terasa mak-jleb di ulu hati, “Lha njur kudu piye, Sa? Orang seperti kita ini mau apa, coba? Kita ini kan bukan pengurus Parpol, juga bukan anggota KPU. Mosok ikut ngurus pencalegan.”

“Om, aku ini pernah ikut aktif di parpol, lho. Meski derajadku waktu itu cuma Satgas, tapi aku jadi agak paham bagaimana orang-orang parpol, pikiran politiknya, trik-trik kampanye dan cara kerja politiknya. Bahkan aku jadi tahu niatannya terjun ke politik. Hanya ngurusi kepentingannya sendiri dan kelompoknya, Om. Bukan untuk kebaikan masyarakat, bukan resepkebaikan hidup berbangsa dan bernegara yang adil-makmur dan diridhoi Tuhan. Bukan.”

Kalau Sasa sudah berkhotbah macam ini, aku jadi tidak berkutik. Malu, sekaligus kagum. Ada juru parkir yang bukan hanya tulus hatinya, tapi juga peka dan kritis membaca setiap perubahan jaman.

“Kalau orang-orang baik, orang-orang pandai dan terpelajar lebih memilih kemuliaan dan kesucian hidup sebagai kaum Brahmana, maka dunia akan diurus oleh kaum Sudra, orang-orang lapar, orang-orang miskin dan bodoh yang tega melakukan apa saja demi mengejar kekayaan dan kejayaan diri dan kelompoknya. Maja hancurlah negeri ini. Tata titi tentrem kerta raharja hanya akan menjadi cita-cita tertinggi yang tak akan pernah kita rasakan.”

“Waaoow....Syech Sasa mulai berfatwa nih. Njur kita ini harus bagaimana, Syech? Dulu Kamu  bilang, “ojo cedhak kebo gupak”,  jangan mendekati kerbau yang sedang berkubang di lumpur. Piye jal?”

“Om, negara ini mau baik atau mau remuk-remukan, sangat tergantung siapa yang mengurusinya. Kalau Sampeyan atau siapa pun yang peduli pada kebaikan hidup berbangsa dan bernegara, tapi takut kena lumpur dan takut kena kotoran, maka jangan menyesal kalau di akhirat nanti kita dinilai oleh Tuhan sebagai orang egois dan tidak menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

“Njih, Syech Sasa. Matur nuwun wejanganipun. Nanging pangapunten, kula badhe sarapan rumiyin, njih. Nyoto dulu biar kemepyar....”

“Woo injih...monggo.”

Sasa meningggalkanku, kembali mengatur parkir. Kali ini soto Kartongali terasa agak beda. Hambar. Mungkin karena hati dan pikiranku terlanjur terganggu omongan Syech Sasa yang mak-jleb tadi. Edan tenan Sasa.....

Selasa, 27 Maret 2018

KAYA TAPI MISKIN

KAYA TAPI MISKIN

"Dasar kalau orang sudah rusak mentalnya. Hatinya kacau, pikirannya ruwet. Tidak punya kepekaan. Tidak punya empati pada nasib orang lain. Maunya dia sendiri yang makmur sejahtera, orang lain harus tetap miskin dan sengsara," Sasa tiba-tiba nerocos sambil tangannya ngelap meja yang basah dan kotor. Order sotoku belum tersaji. Baru segelas teh nasgithel siap menghangatkan leher yang kedinginan ini. Kubiarkan Sasa terus nerocos nggrenengi seseorang, entah siapa. Dan aku belum berminat menanggapinya. Masih males.

"Mana pernah orang protes harga barang-barang keluaran pabrik, Om? Odol, sampo, sabun, mie instan, dll, berapa pun harganya pasti dibelinya dengan bangga. Tetapi kalau barang itu buatan tetangganya, buatan saudaranya, dia akan sangat peka membanding-bandingkan harga."

"Sik to, Sa. Jan-jane kamu ini ngomong soal apa dan siapa? Kok tekan ngendi-ngendi. Aku jadi gak mudheng," terpaksa kupotong omongannya biar gak semakin ngelantur.

"Wah sori, Om. Aku masih mangkel gara-gara suami-istri yang makan di meja ini sebelum Sampeyan datang tadi. Penampilannya orang kaya, mobilnya bagus, tapi jebul miskin hatinya, rendah seleranya."

"Lha piye to, Sa? Gak usah mangkel.Tamu di sini kan memang pepak, macam-macam gaya penampilan dan sifatnya."

"Bukan soal itu, Om. Tapi omongannya yang nylekit dan merendahkan petani, bikin nasionalismeku tadi betul-betul terganggu."

Edan. Aku ke sini pagi-pagi mau sarapan soto dan minum teh nasgithel biar kemepyar je, lha kok malah disuguhi nasionalisme. Jinguk tenan Sasa. Senangnya memaksaan kehendak dan hasrat terpendam.

"Critane piye to, Sa?"

Sasa pun bercerita. Seperti biasa, begitu parkir sudah rapi lalu sopir dan penumpangnya turun dari mobil, dia pun berbasa-basi tanya dari mana mau ke mana. Si bapak menjawab katanya dari cari beras Rojolele ke Gapoktan desa sebelah.

"Tapi gak jadi beli, Mas," sahut istrinya.

"Kenapa gak jadi, Bu? Di sana kan pusatnya pemuliaan Rojolele," tanya Sasa.

"Muahalnya minta ampun, Mas. Beras saja kok dijual segitu."

"Rojolele kan memang vareitas istimewa, Bu. Kondhang kaloka sejak jaman nenek-moyang. Harganya memang mahal, tapi rasanya sesuai selera para priyagung dan orang kaya yang," Sasa mencoba menerangkan.

"Hallah...tapi mosok harganya sampai dua kali lipat beras biasa, Mas? Para petani mestinya memahami kompetisi harga beras di pasaran. Jadi jangan waton bikin harga."

"Iya betul itu, Mas," suaminya yang diam dari tadi tiba-tiba menyahut,"Para petani harusnya sadar bahwa harga beras sudah diatur oleh pemerintah. Ada harga eceran tertinggi (HET) yang harus ditaati bersama. Petani tidak boleh semena-mena nentukan harga."

"Betul itu," istrinya nyahut lagi, "Kalau pemerintah terpaksa impor beras untuk menstabilkan harga di pasaran, nanti petani pada bengok-bengok lagi. Payah banget petani kita ya, Pa. Pantas saja hidupnya susah."

Betapa mangkel hati Sasa mendengar omongan suami-istri yang kompak ceramah soal harga beras dan soal petani yang tak boleh nentukan harga produksinya sendiri. Petani tidak boleh berdaya, harus tetap miskin. Mereka kira Sasa tidak paham soal permainan harga beras. Sasa jadi teringat dulu pernah bertengkar hebat dengan pamannya yang tebasan padi dan sering menunda-nunda pembayaran. Sasa tidak tega melihat petani yang datang menagih uangnya seperti pengemis. Karena pamannya tidak juga mau berubah, Sasa pun memilih berhenti bekerja, lalu alih profesi sebagai juru parkir.

"Orang kaya kok mentalnya persis kumpeni jaman dulu ya, Om. Sedih aku. Pengin marah aku. Kasihan petani-petani kita. Mereka bekerja keras, tapi tidak berdaya. Posisinya paling lemah dan  dimiskinkan terus."

Sasa mengakhiri ceritanya tepat ketika semangkok soto disajikan pelayan di hadapanku. Segera kutuang sesendok sambal dan beberapa tetes kecap.

"Ayo sarapan sik, Sa. Biar anget." Mulai kusantap soto Kartongali yang nikmatnya tiada taranya di dunia.

"Monggo disekecakke, Om. Saya bertugas dulu, ya." Sasa kembali ke area parkir setelah mengucapkan terima kasih karena sudah kudengar curhat paginya. Kubayangkan seandainya Sasa jadi ketua HKTI atau tokoh LSM bidang pertanian, misalnya, pasti petani-petani akan jadi makmur sejahtera. Tapi sayang dia hanya tukang parkir...

ROJOLELE

ROJOLELE

"Tepat sekali pilihan Sampeyan, Om," kata Sasa sambil mendekat ke jendela mobilku.

"Tepat apanya, Sa?" tanyaku.

"Sampeyan ngancani petani-petani kembali nanam padi Rojolele, itu bagus. Tepat sekali."

"Maksudmu, Sa?"

"Loh, Om, aku ini lumayan punya pengalaman di dunia perberasan, lho. Ingat, kan?"

"Iya ingat. Belum seminggu kamu cerita."

"Kalau mau meningkatkan kesejahteraan petani, Om, tidak ada pilihan lain kecuali petani diajak nanam padi yang harga jualnya tinggi."

"Lha iya, terus..."

"Petani jangan lagi nanam padi klas medium yang harganya sudah dipatok rendah dengan HET."

Aku mulai paham ke mana arah pembicaraan Sasa. "Terus, Sa...."

"Petani harus diajak beralih ke beras khusus agar hasil keringatnya cukup untuk hidup lumrah, untuk nyekolahkan anak, untuk biaya berobat kalau sakit, dsb. Kalau tidak begitu, petani akan semakin miskin karena kalah bersaing melawan beras impor yang lebih murah."

"Tapi tidak gampang lho, Sa."

"Ya pasti tidak gampang, Om. Selama ini petani sudah terbiasa dan nyaman nanam padi medium, biasa ngolah sawah dengan ngandalkan pupuk dan obat-obatan kimia. Sangat santai kerjanya. Kalau padi sudah tampak menguning, cepat-cepat ngundang tebasan agar membelinya. Karena petani pengin cepat dapat uang, maka tebasan bisa semena-mena memainkan harga dan cara pembayarannya."

"Gitu ya, Sa."

"Kalau sekarang ada gerakan kembali tanam padi Rojolele, itu joss tenan, Om. Lanjutkan..."

"Injih, Den Sasa...hahahaaa."

"Rojolele itu beras khas Klaten yang kondang sejak nenek-moyang. Rasanya enak, wangi, dan pulen sesuai selera para raja dan priyayi kraton. Harganya mahal, Om."

"Ya tapi kebutuhan beras di pasaran kita hanya kelas medium dan raskin, Sa."

"Biarkan saja beras medium dan raskin itu diurus pemerintah yang memang hobinya impor beras dari Vietnam dan Myanmar. Produk petani kita yang klas super premium saja, Om. Beras khusus, syukur yang organik, lebih baik dan menyehatkan. Harganya tidak dibatasi dengan HET."

Tak kusangka penguasaan sahabatku Sasa seputar pertanian dan perberasan sedemikian jangkep. Ilmunya tidak kalah dengan teman-temanku yang aktivis dan pembela petani. Dia tahu betul jenis beras, rasa, harga, dan klas konsumennya. Dia juga luwes dan wasis bergaul dengan petani.

Sayang, Sasa sudah memilih dunia sebagai juru parkir di Soto Kartongali dan juru pijat panggilan sebagai caranya menolong sesama. Bukan menjadi aktivis....

TANI BANGKIT

TANI BANGKIT

Langit gelap, tanda hujan akan segera turun tadi sore selepas ashar. Aku sudah siap-siap mau tidur barang sebentar begitu karyawan Bundaco pulang pukul 16.00, tapi gagal. Sahabatku Sasa mak-jegagik datang uluk salam, katanya sengaja mampir dulu sebelum ke pasien pijatnya usai maghrib nanti. Memang, di samping Sasa jadi juru parkir dari pagi hingga siang hari, sorenya alih profesi jadi juru pijat panggilan.

"Saya ke sini mau nggenahke, Om," katanya sambil menuangkan kopi panas yang kusuguhkan ke lepeknya.

"Nggenahke opo, Sa?" tanyaku.

"Bagaimana ceritanya kok Sampeyan sekarang rajin nemani petani?"

"Kata siapa?," kaget aku dengan pertanyaannya.

"Ya kata para petani," jawab Sasa sambil nyulut rokok. "Kalau kabar itu benar, jempol papat saya kasihkan buatmu, Om."

"Iyaak...ngomong opo to, Sa? Biasa sajalah."

"Ini tidak biasa, Om. Tapi luar biasa. Pinjam istilah anak saya, di jaman NOW ini mana ada orang nggagas dan peduli pada nasib petani. Kalau yang ngakali petani, banyak.....hahahaa."

"Aku cuma belajar ngancani petani kok, Sa. Ikan tidak perlu kita ajari berenang, tapi justru kita yang harus belajar berenang pada ikan."

"Iya, Om. Saya paham. Sampeyan dari dulu tidak kenal kerja di sawah seperti saya."

"Memang Sasa pernah jadi petani?"

"Bukan jadi petani, Om, tapi ngancani paman yang jadi tebasan padi. Tiap hari sepulang sekolah dulu, saya nemani paman ke sawah-sawah yang padinya sudah menguning, naksir harga, lalu tawar-menawar. Kalau sudah sepakat, paman pun ngasih uang tanda jadi. Beberapa hari kemudian, kami ngerahkan pasukan tenaga panen, mengerek padi, menjemur gabah, membawa ke selepan, dan mengirim beras PK ke Bulog. Itu hampir tiap hari, Om. Jadi saya lumayan paham soal dol-tinuku padi."

"Wah berarti Sasa sudah tahu tata cara nebas padi dari petani dan memasarkannya?"

"Ya lumayan tahulah, Om. Makanya saya salut dengan Sampeyan."

"Kok salut?"

"Om, jadi petani itu berat. Mereka dalam posisi yang selalu kalah."

"Kalah piye?"

"Petani selalu kalah dalam tawar-menawar dengan penebas. Taksiran harga selalu rendah. Bayangkan, Om. Padi satu pathok, sekitar 2.000 m, hanya ditaksir berkisar 1.100 kg sampai 1.200 kg. Harga per-kg gabah kering panen antara Rp 3.000 - Rp 4.000. Jadi total taksiran harga satu pathok paling tinggi hanya Rp 4.800.000. Itu pun kalau pas bagus. Hasil segitu bila dikurangi biaya produksi seperti tenaga bajak, benih, tenaga tanam, pupuk, dan obat-obatan, tinggal tersisa sekitar Rp 2 juta. Itulah  hasil kerja petani selama 4 bulan, Om. Pasti gak cukup buat nyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Buat makan saja pas-pasan. Belum lagi kalo keluarganya ada yang sakit. Mesakke tenan, Om."

Edan. Jalmo tan kena kiniro. Ternyata Sasa paham betul hitung-hitungan hasil jerih-payah petani.

"Sa, berarti kamu juga paham kebijakan HET dari Pemerintah?"

"Hahahaa.....jangan ngomong soal HET, Om. Justru itulah biang kemiskinan petani."

"Loh kok bisa, Sa? Itu kan kebijakan bagus untuk menstabilkan harga?"

"Ya memang bagus bagi yang bikin kebijakan. Tapi itu memaksa petani tetap hidup dalam kemiskinannya, Om."

"Wah....jero iki. Edan tenan Sasa.....," kataku dalam hati.

"Jadi begini, Om. Sasa siap sewaktu-waktu nemani Sampeyan terjun dampingi petani. Sudah saatnya petani dibangkitkan kesadarnya, kesadaran untuk membebaskan diri dari kemiskinan yang menghimpitnya. Mereka sebagai produsen beras harus bisa menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produksinya. Jangan orang lain yang nentukan. Katanya era pasar bebas? Mosok harga-harga semua kebutuhan boleh naik terus, tapi harga jual produk petani gak boleh naik. Iya to, Om?"

“Wah gawat omongan Sasa. Nek diterus-teruske bisa mengarah ke sentiman kelas ini,” pikirku. Terdengar azan maghrib berkumandang dari corong mesjid-mesjid sekitarku.

"Oke, Sa. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya. Aku perlu belajar banyak padamu."

Kami pun bergegas ke mesjid depan rumah mengikuti sholat berjamaah. Obrolan dengan Sasa selalu menggelitik hatiku.


KENA BATUNYA

KENA BATUNYA

"Walah Om, kemarin aku dilabrak orang," kata Sasa.

"Kenapa, Sa? Siapa yang nglabrak" tanyaku.

"Aku juga gak kenal siapa orang itu, Om. Tapi sepertinya orang penting. Begitu turun dari mobil, anak-buahnya rebutan bawakan tas. Anehnya,  si boss itu langsung matanya melotot dan damprat aku."

"Jangan-jangan karena caramu mandu parkir kurang sopan?"

"Aku juga gak paham, Om. Tapi sopirnya gak marah kok. Kenal juga enggak kok tiba-tiba si boss itu bilang agar aku jangan macam-macam soal Pilpres, sambil matanya mendelik. Aku disuruh jaga mulut. Gak usah 'nggambleh', katanya. Takut aku, Om."

" Loh, memangnya kamu terlibat apa di kampanye Pilpres?"

"Walah, Om, tukang parkir seperti aku ini mau terlibat apa? Tapi memang, sering ada rombongan tamu ngobrol politik. Kalau pas ada yang kukenal seperti Njenengan ini, kadang aku ikut gabung, sekedarnya 'ngombyongi' ngobrol,  hitung-hitung sambil 'kulakan' informasi."

"Itu kan biasa, Sa. Lumrah."

"Menurutku juga biasa saja, Om. Makanya aku kaget juga diomongi si boss begitu."

"Kira-kira salahmu apa ya, Sa?"

"Ini cuma mungkin lho, Om. Ketika ada yang tanya aku nanti mau milih pasangan yang mana, 01 atau 02, mungkin waktu itu jawabanku tidak pas."

"Kamu jawab 'piye'?"

"Kujawab bahwa aku akan pilih makan soto daripada 'sengsu'. Soto ayam jelas halal, sedangkan 'sengsu' masih 'syubhat' bahkan haram bagi kebanyakan orang."

"Woo lha jawabanmu memang 'nganyelke' kok, Sa."

"Nganyelke pripun to, Om?"

"Lha kamu ngibaratkan pilihan Capres-Cawapres kok ya dengan soto dan 'sengsu'. Mbokya soto dan sate, sop dan rawon, gudeg dan tahu-kupat, nasi rames dan nasi-urap, misalnya."

"Hahaha....salah ya, Om?"

"Bagiku itu jawaban biasa, Sa. Gak salah. Tapi bagi orang lain, apalagi yang sedang berjuang keras mencari suara, jawabanmu itu terasa menusuk jiwa."

"Iya ya, Om. Mungkin waktu itu ada yang tersinggung lalu cerita ke bossnya. Mungkin juga boosnya  pengemar 'sengsu'."

"Sebentar, Sa. Apa alasanmu bikin ibarat soto dan 'sengsu'? Apa hubungannya dengan Pilpres?"

"Ya gak ada hubungannya, Om. Aku juga cuma asal ngomong, kok. 'Sengsu' itu nama makanan, tongseng asu/anjing. Pilpres soal politik, soal milih calon pemimpin negara yang sedemikian besarnya," jawab Sasa sambil buru-buru berlari menjemput mobil yang mau parkir.

Sebenarnya Sasa mau kunasehati agar lebih hati-hati dan hemat bicara. Gak usah 'keminter'. Dia harus sadar dengan posisinya sebagai pelayan publik yang harus netral, tidak  boleh partisan, tidak boleh berpihak. Tapi karena Sasa sibuk dengan pekerjaannya, aku pun pergi diam-diam, tanpa pamitan....

PILGUB

PILGUB

"Sa, menurutmu untuk Pilgub nanti kita milih siapa?" tanyaku tadi pagi seusai makan soto.
"Hallaah Om, Pilgub kok digagas. Wong gak akan ngaruh apa-apa bagi kita kok," jawabnya sinis.
"Gak ngaruh piye to, Sa?" tanyaku.
"Yah kalaupun ngaruh, Om, paling juga soal pajak kendaraan yang naik terus, jalan propinsi yang sering rusak dan tidak terurus, galian-C di lereng Merapi yang makin tidak terkendali, atau kita jadi sibuk ngikuti berita korupsi pejabat. Hiya, to?"
"Wah mbokya jangan sinis-apatis gitu to, Sa. Ini kan momentum kita memperbaiki keadaan," kucoba nyadarkan Sasa.
"Iyaaak...memperbaiki keadaan bagaimana? Aku sudah kenyang pengalaman pilih-memilih."
"Begini lho, Sa....hanya ada dua pasangan cagub dan kita harus milih salah satunya. Menurut panggraitamu, lebih bagus yang mana, Sa?"
"Begini ya, Om. Kalo aku disuruh milih mau makan soto ayam atau sengsu, jelas aku milih soto ayam. Kalau ada makanan enak, tapi masaknya pakai minyak babi, jelas aku gak mau makan. Mending aku makan sega-gudhangan. Jelas wareg dan bergizi."

"Tapi ini soal Pilgub, Sa, bukan makanan."
"Apa bedanya, Om? Kan sama-sama harus memilih. Jelas aku milih yang pasti halal. Yang masih syubhat, masih diragukan kehalannya, pasti tidak akan kupilih," ngono lho, Om.

Dengan cueknya Sasa meninggalkanku, nyeberang jalan, lalu nyapu teras ruko depan yang masih kotor. Sasa memang cerdas, tapi nganyelke....

NOMOR PARPOL

NOMOR PARPOL

Erlangga Hartarto bersyukur bahwa PG dapat nomor urut 4, itu sesuai dengan konsepsi 4 pilar kabangsaan dan catur sukses PG.

Menurut Sasa al-Kartongali, PAN dapat nomor 12 itu tanda atawa "amr" atawa "perintah" agar PAN berbakti pada "ibu" yang sudah susah-payah melahirkannya: Muhammadiyah dengan lambang matahari bersinar 12.

Wis sak karepmu, Sa.
Emang gue pikirin....

KHOTBAH JUMAT

KHOTBAH JUMAT

Akhirnya pagi ini aku berhasil berbuka “puasa nyoto Kartongali” setelah kurang-lebih satu tahun tidak ke sana. Warung soto paling llegendaris di kawasan Jolotundo Jatinom itu memang jarang sepi terutama di pagi hari. Sedemikian larisnya sehingga setiap kali aku lewat dan ingin mampir, parkiran selalu penuh, dan aku gagal sarapan soto. Tapi pagi ini sepulang dari ngantar sekolah anak, parkiran tampak longgar. Aku pun langsung merapat tepat di depan pintu masuk dipandu Sasa si-juru parkir teladan tingkat Nasional yang juga sudah lama tidak ngobrol denganku.

Semangkok soto ayam dengan lauk perkedel, tempe, karak, dan difinishing dengan segelas teh nasgithel alangkah nikmat terasa. Luar biasa. Kemepyar. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?,” begitu pertanyaan berulang-ulang dari Tuhan. Tapi karena itu pertanyaan retoris, maka hanya bisa kujawab dengan menirukan para mubaligh mengawali tausiyahnya, “Alhamdulillah wasyukrulillah, segala puja-puji dan syukur hanya untuk Allah SWT”.

Sebenarnya aku mau langsung pulang seusai sarapan. Tapi dasar Sasa, lagi-lagi dia sengaja tidak memberiku jalan untuk keluar dengan aba-abanya yang atraktif, persis seperti waktu aku masih sering ke sana.

“Sebentar, Om. Jangan pergi dulu. Aku ingin curhat,” katanya.

“Curhat apa, Sa? Mbok ke rumah saja nanti sore,” kataku sambil menghidupkan mesin.

“Tidak, Om. Sekarang saja. Darurat ini. Mumpung ketemu,” Sasa mendekat.

“Begini, Om. Sudah sejak beberapa bulan ini aku diminta khotbah Jumat di mesjid kampungku sendiri dan kampung sebelah. Kebetulan besok Jumat Pahing pas jadwalku,” Sasa mulai bercerita.

“Waoow….elok temen kamu, Sa. Hebat itu. Lanjutkan….,”
Salut. Tampaknya Sasa yang sekarang memang sudah jauh berbeda dengan Sasa beberapa tahun lalu. Ternyata dia sungguh-sungguh ketika dulu menyatakan sudah insyaf dan kapok ikut kelompok rewo-rewo, lalu aktif ikut pengajian-pengajian, bahkan kemudian ikut aksi umat Islam di Jakarta 411 dan 212. “Ikut merebut Batavia dari Kumpeni,” katanya. Kukira waktu itu Sasa hanya ikut-ikutan berangkat ke Istiqlal dan Monas karena pengin melihat Ibu Kota. Ternyata tidak.

“Sejak kemarin saya jadi gelisah, Om. Harus bagaimana ini? Apa harus kubatalkan jadwal khotbahku?”

“Lha ada apa to, Sa? Kalau sudah terjadwal sebagai khotib, berarti Sasa memang sudah dipercaya dan dijagakke oleh jamaah, lho,” kataku.

“Om, Njenengan pasti tahu bahwa sejak beberapa waktu lalu kabarnya khotib Jumat akan ditata oleh Pemerintah. Bahkan, beberapa hari terakhir ini konon Pengawas Pemilu yang akan membuatkan teks khotbah Jumat.”
 
“Kabarnya memang begitu, Sa. Terus apa masalahnya?”
“Om, Njenengan kan tahu, sebenarnya saya ini sama sekali tidak punya cukup ilmu dan keahlian pidato, tapi terpaksa mau jadi khotib Jumat karena dipaksa masyarakat.”

“Ya dilakoni dengan ikhlas wae to, Sa.”

“Bukan itu masalahnya, Om. Masyarakat kampung saya saat ini sedang semangat-semangatnya beribadah. Tua, muda, remaja, anak-anak, semua rajin ke mesjid yang baru selesai kami bangun. Lalu masyarakat pengin ngadakan Jumatan sendiri, tidak lagi ikut Jumatan di kampung sebelah.”

“Wah apik kuwi, Sa. Alhamdulillah….”

“Yang namanya Jumatan kan harus ada khotibnya, Om.”

“Ya iyalah, Sa.”

“Saya termasuk yang ketiban sampur harus khotbah setiap Jumat Pahing dan Jumat Kliwon. Tidak bisa menolak, Om. Maka saya pun terus belajar, kulakan ilmu untuk dibagikan ke jamaah.”

“Bagus itu, Sa. Memang harus begitu.”

“Tapi sekarang saya jadi takut. Jangan-jangan khotbah saya nanti dianggap membodohi jamaah? Jangan-jangan saya nanti dianggap mengancam persatuan-kesatuan bangsa, tidak pro-kebhinekaan,anti-Pancasila, dan anti-NKRI? Gawat to, Om?”

“Lha kok mikirmu sampai segitu to, Sa?” tanyaku dengan nahan ekspresi gumun pada sahabatku yang semakin kritis ini.  Tidak kuduga Sasa akan sejauh itu.

“Apa Pemerintah dan Bawaslu bisa nyediakan khotib untuk seluruh mesjid, baik di kota maupun di desa dan kampung-kampung? Apa Pemerintah akan merekrut khotib secara besar-besaran lalu diadakan penataran paket 100 jam seperti jaman Penataran P4 dulu, lalu hanya khotib yang sudah bersertifikat yang boleh khotbah dan digaji oleh Pemerintah? Memangnya Pemerintah cukup punya duit untuk itu? Lha hutangnya saja semakin menggunung, kan? Aku sih gak masalah. Malah beneran bisa terbebas dari kewajiban khotbah. Monggo, silahkan Pemerintah nerjunkan khotib. Tapi jangan sampai yang terjadi justru kesengajaan mematikan inisiatif dan swadaya masyarakat, Om. Itu bisa gawat.”

Sasa masih neruske ngomyang dan aku hanya terdiam tak berani merespon. Beruntung ada mobil datang dan mau merapat parkir. Sasa langsung bergerak menyambutnya. Pelan-pelan kupancal pedal gasku meninggalkan Sasa.

“Sik yho, Sa,” kulambaikan tanganku kepadanya.