Selasa, 27 Maret 2018

KENA BATUNYA

KENA BATUNYA

"Walah Om, kemarin aku dilabrak orang," kata Sasa.

"Kenapa, Sa? Siapa yang nglabrak" tanyaku.

"Aku juga gak kenal siapa orang itu, Om. Tapi sepertinya orang penting. Begitu turun dari mobil, anak-buahnya rebutan bawakan tas. Anehnya,  si boss itu langsung matanya melotot dan damprat aku."

"Jangan-jangan karena caramu mandu parkir kurang sopan?"

"Aku juga gak paham, Om. Tapi sopirnya gak marah kok. Kenal juga enggak kok tiba-tiba si boss itu bilang agar aku jangan macam-macam soal Pilpres, sambil matanya mendelik. Aku disuruh jaga mulut. Gak usah 'nggambleh', katanya. Takut aku, Om."

" Loh, memangnya kamu terlibat apa di kampanye Pilpres?"

"Walah, Om, tukang parkir seperti aku ini mau terlibat apa? Tapi memang, sering ada rombongan tamu ngobrol politik. Kalau pas ada yang kukenal seperti Njenengan ini, kadang aku ikut gabung, sekedarnya 'ngombyongi' ngobrol,  hitung-hitung sambil 'kulakan' informasi."

"Itu kan biasa, Sa. Lumrah."

"Menurutku juga biasa saja, Om. Makanya aku kaget juga diomongi si boss begitu."

"Kira-kira salahmu apa ya, Sa?"

"Ini cuma mungkin lho, Om. Ketika ada yang tanya aku nanti mau milih pasangan yang mana, 01 atau 02, mungkin waktu itu jawabanku tidak pas."

"Kamu jawab 'piye'?"

"Kujawab bahwa aku akan pilih makan soto daripada 'sengsu'. Soto ayam jelas halal, sedangkan 'sengsu' masih 'syubhat' bahkan haram bagi kebanyakan orang."

"Woo lha jawabanmu memang 'nganyelke' kok, Sa."

"Nganyelke pripun to, Om?"

"Lha kamu ngibaratkan pilihan Capres-Cawapres kok ya dengan soto dan 'sengsu'. Mbokya soto dan sate, sop dan rawon, gudeg dan tahu-kupat, nasi rames dan nasi-urap, misalnya."

"Hahaha....salah ya, Om?"

"Bagiku itu jawaban biasa, Sa. Gak salah. Tapi bagi orang lain, apalagi yang sedang berjuang keras mencari suara, jawabanmu itu terasa menusuk jiwa."

"Iya ya, Om. Mungkin waktu itu ada yang tersinggung lalu cerita ke bossnya. Mungkin juga boosnya  pengemar 'sengsu'."

"Sebentar, Sa. Apa alasanmu bikin ibarat soto dan 'sengsu'? Apa hubungannya dengan Pilpres?"

"Ya gak ada hubungannya, Om. Aku juga cuma asal ngomong, kok. 'Sengsu' itu nama makanan, tongseng asu/anjing. Pilpres soal politik, soal milih calon pemimpin negara yang sedemikian besarnya," jawab Sasa sambil buru-buru berlari menjemput mobil yang mau parkir.

Sebenarnya Sasa mau kunasehati agar lebih hati-hati dan hemat bicara. Gak usah 'keminter'. Dia harus sadar dengan posisinya sebagai pelayan publik yang harus netral, tidak  boleh partisan, tidak boleh berpihak. Tapi karena Sasa sibuk dengan pekerjaannya, aku pun pergi diam-diam, tanpa pamitan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar