PILGUB
"Sa, menurutmu untuk Pilgub nanti kita milih siapa?" tanyaku tadi pagi seusai makan soto.
"Hallaah Om, Pilgub kok digagas. Wong gak akan ngaruh apa-apa bagi kita kok," jawabnya sinis.
"Gak ngaruh piye to, Sa?" tanyaku.
"Yah kalaupun ngaruh, Om, paling juga soal pajak kendaraan yang naik terus, jalan propinsi yang sering rusak dan tidak terurus, galian-C di lereng Merapi yang makin tidak terkendali, atau kita jadi sibuk ngikuti berita korupsi pejabat. Hiya, to?"
"Wah mbokya jangan sinis-apatis gitu to, Sa. Ini kan momentum kita memperbaiki keadaan," kucoba nyadarkan Sasa.
"Iyaaak...memperbaiki keadaan bagaimana? Aku sudah kenyang pengalaman pilih-memilih."
"Begini lho, Sa....hanya ada dua pasangan cagub dan kita harus milih salah satunya. Menurut panggraitamu, lebih bagus yang mana, Sa?"
"Begini ya, Om. Kalo aku disuruh milih mau makan soto ayam atau sengsu, jelas aku milih soto ayam. Kalau ada makanan enak, tapi masaknya pakai minyak babi, jelas aku gak mau makan. Mending aku makan sega-gudhangan. Jelas wareg dan bergizi."
"Tapi ini soal Pilgub, Sa, bukan makanan."
"Apa bedanya, Om? Kan sama-sama harus memilih. Jelas aku milih yang pasti halal. Yang masih syubhat, masih diragukan kehalannya, pasti tidak akan kupilih," ngono lho, Om.
Dengan cueknya Sasa meninggalkanku, nyeberang jalan, lalu nyapu teras ruko depan yang masih kotor. Sasa memang cerdas, tapi nganyelke....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar