Selasa, 27 Maret 2018

TANI BANGKIT

TANI BANGKIT

Langit gelap, tanda hujan akan segera turun tadi sore selepas ashar. Aku sudah siap-siap mau tidur barang sebentar begitu karyawan Bundaco pulang pukul 16.00, tapi gagal. Sahabatku Sasa mak-jegagik datang uluk salam, katanya sengaja mampir dulu sebelum ke pasien pijatnya usai maghrib nanti. Memang, di samping Sasa jadi juru parkir dari pagi hingga siang hari, sorenya alih profesi jadi juru pijat panggilan.

"Saya ke sini mau nggenahke, Om," katanya sambil menuangkan kopi panas yang kusuguhkan ke lepeknya.

"Nggenahke opo, Sa?" tanyaku.

"Bagaimana ceritanya kok Sampeyan sekarang rajin nemani petani?"

"Kata siapa?," kaget aku dengan pertanyaannya.

"Ya kata para petani," jawab Sasa sambil nyulut rokok. "Kalau kabar itu benar, jempol papat saya kasihkan buatmu, Om."

"Iyaak...ngomong opo to, Sa? Biasa sajalah."

"Ini tidak biasa, Om. Tapi luar biasa. Pinjam istilah anak saya, di jaman NOW ini mana ada orang nggagas dan peduli pada nasib petani. Kalau yang ngakali petani, banyak.....hahahaa."

"Aku cuma belajar ngancani petani kok, Sa. Ikan tidak perlu kita ajari berenang, tapi justru kita yang harus belajar berenang pada ikan."

"Iya, Om. Saya paham. Sampeyan dari dulu tidak kenal kerja di sawah seperti saya."

"Memang Sasa pernah jadi petani?"

"Bukan jadi petani, Om, tapi ngancani paman yang jadi tebasan padi. Tiap hari sepulang sekolah dulu, saya nemani paman ke sawah-sawah yang padinya sudah menguning, naksir harga, lalu tawar-menawar. Kalau sudah sepakat, paman pun ngasih uang tanda jadi. Beberapa hari kemudian, kami ngerahkan pasukan tenaga panen, mengerek padi, menjemur gabah, membawa ke selepan, dan mengirim beras PK ke Bulog. Itu hampir tiap hari, Om. Jadi saya lumayan paham soal dol-tinuku padi."

"Wah berarti Sasa sudah tahu tata cara nebas padi dari petani dan memasarkannya?"

"Ya lumayan tahulah, Om. Makanya saya salut dengan Sampeyan."

"Kok salut?"

"Om, jadi petani itu berat. Mereka dalam posisi yang selalu kalah."

"Kalah piye?"

"Petani selalu kalah dalam tawar-menawar dengan penebas. Taksiran harga selalu rendah. Bayangkan, Om. Padi satu pathok, sekitar 2.000 m, hanya ditaksir berkisar 1.100 kg sampai 1.200 kg. Harga per-kg gabah kering panen antara Rp 3.000 - Rp 4.000. Jadi total taksiran harga satu pathok paling tinggi hanya Rp 4.800.000. Itu pun kalau pas bagus. Hasil segitu bila dikurangi biaya produksi seperti tenaga bajak, benih, tenaga tanam, pupuk, dan obat-obatan, tinggal tersisa sekitar Rp 2 juta. Itulah  hasil kerja petani selama 4 bulan, Om. Pasti gak cukup buat nyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Buat makan saja pas-pasan. Belum lagi kalo keluarganya ada yang sakit. Mesakke tenan, Om."

Edan. Jalmo tan kena kiniro. Ternyata Sasa paham betul hitung-hitungan hasil jerih-payah petani.

"Sa, berarti kamu juga paham kebijakan HET dari Pemerintah?"

"Hahahaa.....jangan ngomong soal HET, Om. Justru itulah biang kemiskinan petani."

"Loh kok bisa, Sa? Itu kan kebijakan bagus untuk menstabilkan harga?"

"Ya memang bagus bagi yang bikin kebijakan. Tapi itu memaksa petani tetap hidup dalam kemiskinannya, Om."

"Wah....jero iki. Edan tenan Sasa.....," kataku dalam hati.

"Jadi begini, Om. Sasa siap sewaktu-waktu nemani Sampeyan terjun dampingi petani. Sudah saatnya petani dibangkitkan kesadarnya, kesadaran untuk membebaskan diri dari kemiskinan yang menghimpitnya. Mereka sebagai produsen beras harus bisa menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produksinya. Jangan orang lain yang nentukan. Katanya era pasar bebas? Mosok harga-harga semua kebutuhan boleh naik terus, tapi harga jual produk petani gak boleh naik. Iya to, Om?"

“Wah gawat omongan Sasa. Nek diterus-teruske bisa mengarah ke sentiman kelas ini,” pikirku. Terdengar azan maghrib berkumandang dari corong mesjid-mesjid sekitarku.

"Oke, Sa. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya. Aku perlu belajar banyak padamu."

Kami pun bergegas ke mesjid depan rumah mengikuti sholat berjamaah. Obrolan dengan Sasa selalu menggelitik hatiku.


1 komentar:

  1. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Lady Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman agar sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu kepada Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran di muka, tetapi mereka adalah penipu , karena mereka kemudian akan meminta pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, jadi berhati-hatilah terhadap Perusahaan Pinjaman yang curang itu.

    Perusahaan pinjaman yang nyata dan sah, tidak akan menuntut pembayaran konstan dan mereka tidak akan menunda pemrosesan transfer pinjaman, jadi harap bijak.

    Beberapa bulan yang lalu saya tegang secara finansial dan putus asa, saya telah ditipu oleh beberapa pemberi pinjaman online, saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman yang sangat andal bernama Ms. Cynthia, yang meminjamkan saya pinjaman tanpa jaminan sebesar Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa konstan pembayaran atau tekanan dan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya terapkan dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

    Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik jika dia membantu saya dengan pinjaman, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah tanpa stres atau penipuan

    Jadi, jika Anda memerlukan pinjaman apa pun, silakan hubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan atas karunia Allah, ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan memberi tahu saya tentang Ibu Cynthia, ini emailnya: arissetymin@gmail.com

    Yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran cicilan pinjaman saya yang akan saya kirim langsung ke rekening perusahaan setiap bulan.

    Sepatah kata cukup untuk orang bijak.

    BalasHapus