Selasa, 27 Maret 2018

KAYA TAPI MISKIN

KAYA TAPI MISKIN

"Dasar kalau orang sudah rusak mentalnya. Hatinya kacau, pikirannya ruwet. Tidak punya kepekaan. Tidak punya empati pada nasib orang lain. Maunya dia sendiri yang makmur sejahtera, orang lain harus tetap miskin dan sengsara," Sasa tiba-tiba nerocos sambil tangannya ngelap meja yang basah dan kotor. Order sotoku belum tersaji. Baru segelas teh nasgithel siap menghangatkan leher yang kedinginan ini. Kubiarkan Sasa terus nerocos nggrenengi seseorang, entah siapa. Dan aku belum berminat menanggapinya. Masih males.

"Mana pernah orang protes harga barang-barang keluaran pabrik, Om? Odol, sampo, sabun, mie instan, dll, berapa pun harganya pasti dibelinya dengan bangga. Tetapi kalau barang itu buatan tetangganya, buatan saudaranya, dia akan sangat peka membanding-bandingkan harga."

"Sik to, Sa. Jan-jane kamu ini ngomong soal apa dan siapa? Kok tekan ngendi-ngendi. Aku jadi gak mudheng," terpaksa kupotong omongannya biar gak semakin ngelantur.

"Wah sori, Om. Aku masih mangkel gara-gara suami-istri yang makan di meja ini sebelum Sampeyan datang tadi. Penampilannya orang kaya, mobilnya bagus, tapi jebul miskin hatinya, rendah seleranya."

"Lha piye to, Sa? Gak usah mangkel.Tamu di sini kan memang pepak, macam-macam gaya penampilan dan sifatnya."

"Bukan soal itu, Om. Tapi omongannya yang nylekit dan merendahkan petani, bikin nasionalismeku tadi betul-betul terganggu."

Edan. Aku ke sini pagi-pagi mau sarapan soto dan minum teh nasgithel biar kemepyar je, lha kok malah disuguhi nasionalisme. Jinguk tenan Sasa. Senangnya memaksaan kehendak dan hasrat terpendam.

"Critane piye to, Sa?"

Sasa pun bercerita. Seperti biasa, begitu parkir sudah rapi lalu sopir dan penumpangnya turun dari mobil, dia pun berbasa-basi tanya dari mana mau ke mana. Si bapak menjawab katanya dari cari beras Rojolele ke Gapoktan desa sebelah.

"Tapi gak jadi beli, Mas," sahut istrinya.

"Kenapa gak jadi, Bu? Di sana kan pusatnya pemuliaan Rojolele," tanya Sasa.

"Muahalnya minta ampun, Mas. Beras saja kok dijual segitu."

"Rojolele kan memang vareitas istimewa, Bu. Kondhang kaloka sejak jaman nenek-moyang. Harganya memang mahal, tapi rasanya sesuai selera para priyagung dan orang kaya yang," Sasa mencoba menerangkan.

"Hallah...tapi mosok harganya sampai dua kali lipat beras biasa, Mas? Para petani mestinya memahami kompetisi harga beras di pasaran. Jadi jangan waton bikin harga."

"Iya betul itu, Mas," suaminya yang diam dari tadi tiba-tiba menyahut,"Para petani harusnya sadar bahwa harga beras sudah diatur oleh pemerintah. Ada harga eceran tertinggi (HET) yang harus ditaati bersama. Petani tidak boleh semena-mena nentukan harga."

"Betul itu," istrinya nyahut lagi, "Kalau pemerintah terpaksa impor beras untuk menstabilkan harga di pasaran, nanti petani pada bengok-bengok lagi. Payah banget petani kita ya, Pa. Pantas saja hidupnya susah."

Betapa mangkel hati Sasa mendengar omongan suami-istri yang kompak ceramah soal harga beras dan soal petani yang tak boleh nentukan harga produksinya sendiri. Petani tidak boleh berdaya, harus tetap miskin. Mereka kira Sasa tidak paham soal permainan harga beras. Sasa jadi teringat dulu pernah bertengkar hebat dengan pamannya yang tebasan padi dan sering menunda-nunda pembayaran. Sasa tidak tega melihat petani yang datang menagih uangnya seperti pengemis. Karena pamannya tidak juga mau berubah, Sasa pun memilih berhenti bekerja, lalu alih profesi sebagai juru parkir.

"Orang kaya kok mentalnya persis kumpeni jaman dulu ya, Om. Sedih aku. Pengin marah aku. Kasihan petani-petani kita. Mereka bekerja keras, tapi tidak berdaya. Posisinya paling lemah dan  dimiskinkan terus."

Sasa mengakhiri ceritanya tepat ketika semangkok soto disajikan pelayan di hadapanku. Segera kutuang sesendok sambal dan beberapa tetes kecap.

"Ayo sarapan sik, Sa. Biar anget." Mulai kusantap soto Kartongali yang nikmatnya tiada taranya di dunia.

"Monggo disekecakke, Om. Saya bertugas dulu, ya." Sasa kembali ke area parkir setelah mengucapkan terima kasih karena sudah kudengar curhat paginya. Kubayangkan seandainya Sasa jadi ketua HKTI atau tokoh LSM bidang pertanian, misalnya, pasti petani-petani akan jadi makmur sejahtera. Tapi sayang dia hanya tukang parkir...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar