Selasa, 27 Maret 2018

ROJOLELE

ROJOLELE

"Tepat sekali pilihan Sampeyan, Om," kata Sasa sambil mendekat ke jendela mobilku.

"Tepat apanya, Sa?" tanyaku.

"Sampeyan ngancani petani-petani kembali nanam padi Rojolele, itu bagus. Tepat sekali."

"Maksudmu, Sa?"

"Loh, Om, aku ini lumayan punya pengalaman di dunia perberasan, lho. Ingat, kan?"

"Iya ingat. Belum seminggu kamu cerita."

"Kalau mau meningkatkan kesejahteraan petani, Om, tidak ada pilihan lain kecuali petani diajak nanam padi yang harga jualnya tinggi."

"Lha iya, terus..."

"Petani jangan lagi nanam padi klas medium yang harganya sudah dipatok rendah dengan HET."

Aku mulai paham ke mana arah pembicaraan Sasa. "Terus, Sa...."

"Petani harus diajak beralih ke beras khusus agar hasil keringatnya cukup untuk hidup lumrah, untuk nyekolahkan anak, untuk biaya berobat kalau sakit, dsb. Kalau tidak begitu, petani akan semakin miskin karena kalah bersaing melawan beras impor yang lebih murah."

"Tapi tidak gampang lho, Sa."

"Ya pasti tidak gampang, Om. Selama ini petani sudah terbiasa dan nyaman nanam padi medium, biasa ngolah sawah dengan ngandalkan pupuk dan obat-obatan kimia. Sangat santai kerjanya. Kalau padi sudah tampak menguning, cepat-cepat ngundang tebasan agar membelinya. Karena petani pengin cepat dapat uang, maka tebasan bisa semena-mena memainkan harga dan cara pembayarannya."

"Gitu ya, Sa."

"Kalau sekarang ada gerakan kembali tanam padi Rojolele, itu joss tenan, Om. Lanjutkan..."

"Injih, Den Sasa...hahahaaa."

"Rojolele itu beras khas Klaten yang kondang sejak nenek-moyang. Rasanya enak, wangi, dan pulen sesuai selera para raja dan priyayi kraton. Harganya mahal, Om."

"Ya tapi kebutuhan beras di pasaran kita hanya kelas medium dan raskin, Sa."

"Biarkan saja beras medium dan raskin itu diurus pemerintah yang memang hobinya impor beras dari Vietnam dan Myanmar. Produk petani kita yang klas super premium saja, Om. Beras khusus, syukur yang organik, lebih baik dan menyehatkan. Harganya tidak dibatasi dengan HET."

Tak kusangka penguasaan sahabatku Sasa seputar pertanian dan perberasan sedemikian jangkep. Ilmunya tidak kalah dengan teman-temanku yang aktivis dan pembela petani. Dia tahu betul jenis beras, rasa, harga, dan klas konsumennya. Dia juga luwes dan wasis bergaul dengan petani.

Sayang, Sasa sudah memilih dunia sebagai juru parkir di Soto Kartongali dan juru pijat panggilan sebagai caranya menolong sesama. Bukan menjadi aktivis....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar