Jumat, 13 Juni 2025

MUHAMMADIYAH & REFORMASI HAJI


Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Reformasi Haji

Oleh: Wahyudi Nasution

Anggota MPM PP Muhammadiyah, Karom KBIHU Arafah PDM Klaten 2025, tinggal di Klaten, Jawa Tengah


Penyelenggaraan haji tahun 2025 kembali memperlihatkan tantangan kronis yang terus berulang dari tahun ke tahun: persoalan katering, pemondokan, transportasi, minimnya fasilitas Armuzna, serta lemahnya pembinaan dan pendampingan jamaah. Meskipun Pemerintah telah berupaya memperbaiki sistem, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa problem haji tidak cukup diatasi dengan pendekatan birokratis semata.

Dalam konteks inilah, Muhammadiyah dipanggil kembali untuk memainkan peran lebih besar. Tidak hanya sebagai penyelenggara bimbingan manasik atau KBIHU, tetapi sebagai pelopor reformasi tata kelola haji yang lebih manusiawi, transparan, dan berbasis nilai keumatan.


Dari Yogyakarta ke Hijaz: Sejarah Kepeloporan Muhammadiyah


Peran Muhammadiyah dalam urusan haji bukan hal baru. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah menunjukkan visi tajdid dalam pelayanan ibadah ini. Pada tahun 1921, KH Ahmad Dahlan membentuk Bagian Penolong Haji. Unit ini tidak hanya membina jamaah di tanah air, tetapi juga mengutus delegasi resmi ke Tanah Suci.

Delegasi tersebut dipimpin oleh HM Sudja, tokoh Muhammadiyah dari Yogyakarta, dengan misi melakukan negosiasi kepada otoritas Hijaz (sekarang Arab Saudi) untuk memperjuangkan pelayanan dan perlindungan jamaah haji asal Hindia Belanda. Ini menjadi tonggak awal diplomasi sipil dalam dunia perhajian yang lahir dari rahim gerakan Islam modern.

Langkah tersebut dilanjutkan oleh tokoh-tokoh setelahnya, seperti KH Mas Mansyur, KH Fahruddin, dan lainnya, yang aktif membangun sistem bimbingan dan advokasi jamaah. Pada masa pendudukan Jepang, bahkan Muhammadiyah sempat berinisiatif membeli kapal Jepang untuk mengangkut jamaah haji secara mandiri. Gagasan itu gagal karena meletusnya Perang Dunia II, tetapi menunjukkan keberanian strategis Muhammadiyah sejak dini.


Syarikah Saudi dan Ketidaksiapan Indonesia


Transformasi besar sedang terjadi di Arab Saudi. Pemerintah Kerajaan kini mengimplementasikan sistem Syarikah, yaitu privatisasi layanan haji kepada perusahaan-perusahaan swasta lokal. Mereka mengelola hampir seluruh aspek operasional haji: hotel, katering, transportasi, bahkan manasik.

Tentu sistem ini menuntut adaptasi cepat dari negara-negara pengirim, termasuk Indonesia. Namun sayangnya, pemerintah Indonesia tampak belum sepenuhnya siap berhadapan dengan sistem yang berbasis korporasi itu. Mulai dari kurangnya pengawasan terhadap kontrak layanan, minimnya komunikasi langsung dengan pihak Syarikah, hingga rendahnya transparansi informasi yang diterima oleh jamaah.

Dampaknya adalah kebingungan, kekecewaan, dan bahkan ketidaknyamanan jamaah—yang seharusnya mendapat pelayanan optimal sebagai tamu Allah. Di titik inilah, kekuatan masyarakat sipil perlu masuk sebagai kekuatan korektif dan solutif.


Muhammadiyah: Mitra Strategis dan Solusi Keumatan


Muhammadiyah memiliki tiga keunggulan strategis yang menjadikannya aktor kunci dalam perbaikan tata kelola haji:

  1. Infrastruktur organisasi dan KBIHU yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah teruji dalam mendampingi jamaah secara profesional.
  2. Tradisi reformis dan inovatif, yang mampu merespons tantangan baru secara adaptif, modern, dan berorientasi solusi.
  3. Modal sejarah dan kepercayaan umat, yang membuatnya diterima luas sebagai pelayan umat, bukan pencari keuntungan.

Sudah saatnya Muhammadiyah naik kelas menjadi mitra strategis pemerintah, bukan sekadar pelengkap. Muhammadiyah bisa membentuk lembaga advokasi dan diplomasi haji, membangun komunikasi langsung dengan otoritas Arab Saudi dan pihak Syarikah, serta mendorong pembentukan model pelayanan haji berbasis komunitas—yang adil, transparan, dan akuntabel.


Seruan dari Tanah Suci


Kamis, 12 Juni 2025, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi menyelenggarakan acara Silaturahmi dan Temu Haji Muhammadiyah di Hotel Safwat Al Sharooq (502), Raudhah, Mekah. Hampir seribuan jamaah haji Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia hadir dengan antusias. Mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk memperkuat jejaring pembinaan haji berbasis nilai dan ukhuwah.

Acara itu menyuarakan bahwa Muhammadiyah tidak hanya hadir di tanah air, tetapi juga di jantung dunia Islam. Sudah waktunya Muhammadiyah mengonsolidasikan seluruh kekuatan dan jaringannya, tidak hanya untuk membina jamaahnya, tetapi untuk membantu negara ini memperbaiki manajemen ibadah terbesar umat Islam sepanjang sejarah.


Penutup: Peradaban Haji, Tanggung Jawab Bersama


Ibadah haji bukan hanya urusan ritual, tetapi panggung peradaban. Ia menunjukkan wajah bangsa, akhlak umat, dan kualitas kepemimpinan. Jika negara terus kewalahan menghadapi kompleksitas manajemen haji modern, maka masyarakat sipil yang kuat seperti Muhammadiyah harus mengambil peran.

“Haji adalah panggilan Allah, tetapi pelayanan haji adalah tanggung jawab manusia.”

Sudah waktunya Muhammadiyah tidak lagi hanya mengawal, tetapi juga memimpin perbaikan sistemik. Dan sejarah telah menegaskan bahwa Muhammadiyah selalu hadir saat umat membutuhkan. Kini saatnya kembali hadir, lebih strategis, lebih profesional, dan lebih berkeadaban.


Hotel Safwat Al Sharooq (502) Raudhah, Makkah, 14 Juni 2025

Kamis, 12 Juni 2025

OPINI HAJI & PELAYANAN


Haji dan Pelayanan: Antara Keikhlasan Jamaah dan Kewajiban Perbaikan Manajerial

Oleh: Wahyudi Nasution, Karom Jamaah Haji 2025, KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Klaten


Puncak ibadah haji 2025 telah usai. Sebagian besar jamaah telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, termasuk thawaf ifadhah, kecuali beberapa yang masih tertunda karena kondisi kesehatan atau masih dalam masa haid. Seperti tahun-tahun sebelumnya, haji menyisakan begitu banyak kisah spiritual dan pelajaran kemanusiaan. Setiap jamaah membawa pulang kesan dan pengalaman yang unik, mulai dari yang penuh kenikmatan ruhani hingga yang getir dan penuh tantangan fisik. Semuanya diterima dengan lapang dada dan keikhlasan sebagai bagian dari takdir ilahi.

Namun, keikhlasan jamaah seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menafikan realitas buruk yang masih terjadi dalam aspek penyelenggaraan haji. Ada wilayah yang harus dilihat secara jernih dan kritis, terutama dalam aspek hablumminannas – hubungan antarmanusia – serta tanggung jawab manajerial yang melekat dalam penyelenggaraan pelayanan terhadap tamu-tamu Allah.

Sebagai karom (ketua rombongan), saya mencatat beberapa hal krusial yang patut dievaluasi secara serius agar perbaikan tidak hanya menjadi jargon tahunan.

Transportasi Armuzna yang Kacau-Balau

Salah satu masalah paling menonjol adalah kekacauan sistem transportasi saat prosesi Arafah – Muzdalifah – Mina (Armuzna). Bus yang semestinya mengantar jamaah sering datang terlambat, tak sesuai jadwal, bahkan tidak sesuai kloter. Banyak jamaah, termasuk lansia dan yang sakit, terpaksa berjalan jauh dengan kondisi fisik yang sudah sangat lelah setelah wukuf di Arafah. Beberapa di antaranya jatuh sakit, syok, bahkan nyaris terpisah dari rombongan.

Prosesi Jamarat: Berat dan Minim Fasilitas

Setelah mabit di Muzdalifah, jamaah kembali diuji dengan prosesi melontar jumrah di Jamarat. Ini adalah fase paling berat secara fisik. Jamaah harus berjalan berdesakan berkilo-kilometer dari tenda-tenda Mina menuju lokasi jamarat. Ironisnya, tidak ada satu pun rest area atau tempat istirahat yang layak di sepanjang jalur tersebut. Lebih miris lagi, tidak tersedia pos kesehatan atau ambulans yang siaga untuk menangani potensi darurat.

Kendala Bahasa: Jamaah Terlantar dalam Kebingungan

Satu catatan penting yang tidak boleh diabaikan adalah kendala bahasa. Mayoritas petugas lapangan dari Syarikah hanya menggunakan bahasa Arab. Ini menyulitkan komunikasi dengan jamaah dari luar negeri, termasuk dari Indonesia. Banyak jamaah bingung, tersesat, dan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Dalam kondisi seperti itu, jamaah benar-benar merasa sendirian di tengah lautan manusia. Sementara petugas dari Indonesia pun kewalahan dan kehilangan daya intervensi.

Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia semestinya menawarkan solusi konkret. Salah satunya adalah dengan memberdayakan ribuan mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh studi di Arab Saudi, Mesir, Yaman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Mereka memiliki modal bahasa Arab dan pemahaman konteks sosial lokal yang memadai. Pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan Syarikah agar para mahasiswa ini direkrut sebagai pemandu haji atau interpreter temporer, terutama di titik-titik rawan seperti Armuzna dan Jamarat. Ini solusi yang murah, realistis, dan cepat diimplementasikan.

Evaluasi dan Harapan

Semua masalah di atas tentu tidak boleh dianggap sebagai “risiko ibadah”. Ini adalah kelalaian manajerial yang bisa dan harus diperbaiki. Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Saudi harus duduk bersama dan menyusun langkah konkret:

  1. Perbaikan sistem transportasi yang terjadwal rapi dan sesuai kloter.
  2. Penyediaan rest area dan pos kesehatan di rute Mina–Jamarat.
  3. Perekrutan petugas multibahasa, termasuk Bahasa Indonesia.
  4. Pelibatan mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai interpreter dan pendamping lapangan.
  5. Pemanfaatan teknologi navigasi dan pelaporan insiden berbasis digital.

Akhirnya, haji memang adalah panggilan spiritual, tetapi penyelenggaraannya adalah tanggung jawab duniawi yang tak boleh sembrono. Keikhlasan jamaah jangan menjadi tameng untuk menutupi kegagalan pelayanan. Justru atas nama keikhlasan itulah, kita wajib melakukan perbaikan agar mereka benar-benar menjadi tamu Allah yang dimuliakan, bukan yang dibiarkan berjuang sendiri di tanah suci.


Safwat Al-Sharouq Hotel 502 Ruadhah, Mekah, 12 Juni 2025

Senin, 09 Juni 2025

Swasta Mengatur, Negara Menghilang: Catatan dari Armuzna

Swasta Mengatur, Negara Menghilang: Catatan dari Armuzna

Oleh: Wahyudi Nasution
Karom KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Klaten, Kloter SOC-76

Perjalanan ibadah haji dari Arafah ke Muzdalifah hingga Mina—yang sering disebut Armuzna—kembali menjadi titik paling genting dari seluruh rangkaian manasik. Setiap tahun, jutaan jamaah dari seluruh dunia bergerak dalam waktu hampir bersamaan, dengan moda transportasi yang terbatas, dalam kondisi fisik dan emosional yang tidak ringan. Sayangnya, di tahun 2025 ini, kekacauan Armuzna terulang lagi, bahkan dengan wajah baru yang lebih membingungkan.

Pemerintah Arab Saudi telah mengadopsi sistem layanan berbasis perusahaan swasta, Syarikah, menggantikan sistem muassasah lama. Secara prinsip, pendekatan ini bertujuan lebih profesional dan efisien. Namun transisi besar ini tidak dibarengi kesiapan para pihak. Jamaah haji Indonesia, yang jumlahnya terbesar, terlihat belum sepenuhnya siap—baik dari segi informasi, adaptasi teknis, maupun kesiapan petugas lapangan.

Akibat keterlambatan adaptasi, pola pelayanan Syarikah malah menjadi sumber kebingungan. Mekanisme baru, titik kumpul yang berubah, hingga jalur evakuasi yang tidak familiar membuat banyak kloter mengalami keterlambatan serius. Banyak jamaah tertahan di Muzdalifah hingga dini hari, bahkan baru tiba di Mina saat mentari meninggi. Padahal mereka butuh istirahat sebelum melanjutkan prosesi lontar jumrah di Jamarat.

Salah satu kebijakan yang sebenarnya progresif adalah program murur, yaitu mabit di Muzdalifah dengan cara melintas (tanpa turun dari bus), khusus bagi jamaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi. Namun, tidak tersedia infrastruktur khusus maupun armada yang memadai untuk mendukung program ini. Akibatnya, peserta murur justru terjebak lebih lama karena kalah berebut bus yang kedatangannya sangat jarang.

Keterlambatan armada membuat ribuan jamaah—termasuk kelompok rentan—terpaksa berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, menempuh jarak panjang di tengah malam hingga pagi hari. Banyak di antara mereka yang baru sampai tenda Mina ketika matahari sudah tinggi dan suhu mulai panas menyengat. Mereka kelelahan, kehausan, dan kehilangan waktu istirahat yang amat penting sebelum melontar jumrah.

Di tengah krisis ini, satu hal yang paling mencolok adalah ketiadaan polisi lalu lintas. Event sebesar haji yang melibatkan jutaan penumpang dan ribuan armada semestinya tidak bisa diserahkan begitu saja kepada vendor transportasi atau sopir-sopir dari pihak ketiga. Ketertiban lalu lintas adalah domain negara, dan dalam hal ini, seharusnya menjadi tanggung jawab Polisi Lalu Lintas Arab Saudi untuk mengatur, mengawal, dan mengarahkan pergerakan secara sistemik. Tanpa komando tegas di lapangan, semua menjadi chaos.

Ketika negara menyerahkan seluruhnya pada swasta dan menghilang dari tanggung jawab dasar seperti lalu lintas, maka bukan hanya pelayanan yang hilang, ta tidak heran jika di tengah kekacauan, muncul kembali keyakinan spiritual bahwa semua ini adalah ujian kesabaran. Namun, tidak adil jika kekacauan yang bisa dicegah oleh manajemen justru dibebankan sepenuhnya pada takdir dan kesabaran jamaah.

Sebagai negara dengan kuota jamaah terbesar di dunia, Indonesia semestinya menjadi pelopor adaptasi sistem ini, serta bersuara lantang di forum internasional jika pelayanan tidak sesuai janji. Pemerintah harus aktif menuntut jaminan sistemik dari negara penyelenggara haji. Sebab haji bukan hanya ibadah personal, melainkan juga ujian kolektif negara dalam melayani warganya sebagai tamu Allah.

Safwat Al-Shorouq Hotel 502 Raodhoh, Mekah, 9 Juni 2025


Selasa, 03 Juni 2025

Karom, KBIHU, dan Masa Depan Layanan Haji Indonesia


Karom, KBIHU, dan Masa Depan Layanan Haji Indonesia

Oleh: Wahyudi Nasution

Pegiat pemberdayaan masyarakat dan perubahan sosial-budaya, Karom KBIHU Arafah PD Muhammadiyah Kab. Klaten


Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) selama ini memegang peranan penting dalam mendampingi jamaah haji Indonesia. Sebagai mitra strategis Pemerintah, KBIHU bukan hanya memberikan pembinaan manasik di tanah air, tetapi juga mendampingi jamaah saat menjalankan ibadah haji di tanah suci. Peran ini menjadi krusial dalam menjaga kualitas dan kelancaran pelaksanaan rukun-rukun haji.

Salah satu kunci keberhasilan layanan KBIHU di lapangan adalah kehadiran Karom (Ketua Rombongan) yang  mendampingi setiap 40 jamaah. Karom menjadi ujung tombak dalam membimbing, mengatur pergerakan, serta memastikan kebutuhan ibadah dan logistik jamaah terpenuhi. Tanpa Karom yang mumpuni, jamaah berisiko mengalami kebingungan, kelelahan, hingga kesalahan dalam menjalankan ibadah.

Namun, belakangan ini muncul ancaman serius yang dapat melumpuhkan sistem pendampingan haji: krisis Karom. Sistem pendaftaran dan antrean haji yang semakin panjang menyebabkan berkurangnya jumlah SDM yang memenuhi syarat untuk menjadi Karom. Jika tidak ada regulasi khusus yang menjamin keberadaan dan rekrutmen Karom dari unsur KBIHU, maka mulai tahun depan, krisis Karom akan melanda hampir seluruh KBIHU di Indonesia. Ini bukan sekadar kekosongan peran teknis, melainkan potensi kegagalan sistemik dalam pelayanan jamaah.

Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi sebagai Khādim al-Ḥaramayn asy-Syarīfayn (Pelayan Dua Tanah Suci) terus melakukan transformasi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Salah satu langkah penting adalah penerapan sistem Syarikah, yakni pengelolaan layanan haji berbasis korporasi yang lebih profesional dan akuntabel. Model ini menempatkan jamaah sebagai pusat layanan dan mendorong peningkatan standar kualitas secara menyeluruh.

Maka, sudah sewajarnya Pemerintah Indonesia juga terus berinovasi dalam manajemen haji. Salah satunya dengan menata ulang relasi antara Pemerintah, KBIHU, dan Karom, agar lebih terintegrasi, profesional, dan berorientasi pada kualitas layanan. Dibutuhkan regulasi khusus yang menjamin kuota Karom bagi setiap KBIHU, serta mekanisme rekrutmen dan pelatihan yang sistematis. Negara harus hadir, tidak hanya sebagai regulator administratif, tetapi juga sebagai penjamin mutu layanan ibadah haji.

Perlu diingat, keberhasilan ibadah haji jamaah Indonesia tidak cukup hanya dengan fasilitas fisik dan sistem transportasi. Pendampingan spiritual dan teknis di lapangan adalah faktor kunci, dan inilah peran vital yang dimainkan oleh KBIHU dan Karom. Tanpa keduanya, pelayanan haji akan kehilangan ruh dan arah.

Kini, tantangan ada di depan mata. Bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah, krisis Karom akan menjadi bom waktu yang merugikan tidak hanya jamaah, tetapi juga reputasi negara dalam penyelenggaraan haji. Saatnya Pemerintah meneguhkan posisi KBIHU dan Karom sebagai mitra strategis, bukan sekadar pelengkap.

Karom, KBIHU, dan masa depan layanan haji Indonesia harus dilihat sebagai satu kesatuan. Menjamin keberlangsungan dan keberdayaan mereka, berarti menjamin kemabruran jamaah dan kehormatan bangsa.


Safwat Al-Shorouk Hotel Raudhah Mekah, 31 Mei 2025

Minggu, 01 Juni 2025

TARWIYAH

TARWIYAH

Suasana lobi hotel Safwat Al Shorouk Roudhoh Mekah malam ini tampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena ini jadwal kedatangan calon jamaah haji kloter terakhir dari Jawa Tengah, SOC-94 dari Kabupaten Kebumen. Mereka datang menggenapi isi hotel berkapasitas 6.000an jamaah haji ini. 

Pada beberapa malam sebelumnya, Pak Bei dan teman-teman masih bisa agak leluasa memilih tempat duduk untuk ngobrol, diskusi, dan berkoordinasi sesama Karom. Tapi malam ini, jangankan untuk duduk, untuk bisa sekedar jalan mau keluar-masuk hotel saja harus bersabar mencari celah. Ratusan jamaah yang baru datang dalam keadaan lelah tumplek blek memenuhi ruang lobi. Mereka antri mengambil kartu nusuk, sambil menunggu kedatangan kopernya masing-masing yang baru loading dari truk boks pengangkut dari bandara Jedah.

"Assalaamu'alaikum, Pak Karom," seseorang mengucapkan salam sambil menepuk pundak Pak Bei dari belakang. 

Pak Bei langsung menoleh ke belakang dan meresponnya, "Wa'alaikumsalam. Eeh Mas Parjo. Mau ke mana, Mas?"

"Biasa, Pak Bei. Cari angin di luar sambil sak udutan," jawab Mas Parjo. "Kalau Pak Bei longgar dan berkenan, kita ngobrol di luar yook," sambungnya.

"Oke siap, Mas Parjo," jawab Pak Bei.

Suasana di luar hotel ternyata tak kalah hiruk-pikuknya. Puluhan tenaga bongkar tampak sangat sibuk menurunkan koper-koper besar milik jamaah, lalu mendorongnya satu per satu ke ruang lobi. Di kiri kanan teras hotel, puluhan jamaah asal Indonesia tampak duduk-duduk sambil asyik ngobrol, dan tentu juga sambil klepas-klepus memikmati rokok kretek yang dibawanya dari rumah. Praktis tidak ada lagi tempat untuk Pak Bei dan Mas Parjo ikut duduk-duduk di sana.

"Ayo kita ke seberang saja, Pak Bei.  Ada bangku-bangku yang nyaman buat ngobrol santai di sana," Mas Parjo mengajak Pak Bei menyeberang jalan.

"Pak Bei, tadi kami ngobrol tentang Tarwiyah, dan saya diminta konfirmasi ke Pak Bei," Mas Parjo mengawali obrolan setelah menyulut kreteknya.

"Soal Tarwiyah?"

"Benar, Pak Bei. Dari berbagai informasi yang kami baca, Pemerintah kita maupun pihak Pemerintah Arab Saudi konon tidak memprogramkan Tarwiyah. Tapi kenapa kita mau melakukan Tarwiyah? Kenapa kita tidak ikut saja program resmi dari Pemerintah?"

"Terus apa lagi, Mas?"

"Sementara itu dulu, Pak Bei."

"Mas Parjo sejak beberapa bulan lalu sudah aktif ikut manasik, kan?"

"Lumayan, Pak Bei. Tapi ada satu-dua pertemuan yang saya tidak bisa hadir."

"Berarti ada materi yang Mas Parjo tidak sempat mengikuti, ya?"

"Benar, Pak Bei."

"Tapi sempat baca buku-buku yang kami bagikan, kan?"

"Ya cuma sebagian, Pak Bei, terutama yang hafalan doa-doa."

"Mestinya dibaca semua, Mas. Biar paham ilmunya." 

"Maklumlah, Pak Bei, kami ini tidak biasa membaca dan belajar sendiri. Sudah terbiasa mendengarkan ceramah, tausiyah, atau pengajian."

"Jadi gak paham kan kenapa kita ada Tarwiyah."

"Teman-teman yang rajin ikut manasik saja juga bingung kok, Pak Bei."

"Begini lho, Mas Parjo. Sebagai KBIHU, kami telah berusaha maksimal membantu jamaah agar dapat melakukan ibadah haji dengan baik melalui manasik yang kami selenggarakan selama hampir 6 bulan. Ini agar semua jamaah dapat melakukan ibadah secara mandiri."

"Iya, Pak Bei. Saya tahu itu. Pematerinya juga bagus-bagus, sangat menguasai ilmu manasik dan berpengalaman sebagai karom dan pembimbing."

"Semua kami ajarkan, bahkan dari yang paling elementer seperti cara berwudhu, tayamum, bacaan dan gerakan shalat, shalat di atas kendaraan, doa-doa harian, dan bacaan-bacaan manasik, hingga praktik simulasi haji dan umrah."

"Iya benar, Pak Bei."

"Termasuk soal Tarwiyah, itu juga sudah kami sampaikan.  Jamaah tentu sudah paham bila dari dulu pun Tarwiyah  tidak termasuk paket resmi dari Pemerintah kita dan Pemerintah Arab Saudi. Tapi mereka juga tidak melarang bila ada jamaah yang ingin melakukan Tarwiyah."

"Kenapa begitu, Pak Bei?"

"Karena Pemerintah juga tahu, bahwa Tarwiyah itu termasuk sunnah muakkadah, sangat dianjurkan, bahwa dulu Rasulullah SAW juga melakukan Tarwiyah."

"Kenapa tidak dijadikan saja satu paket resmi dengan Armuzna ya, Pak Bei?"

"Mungkin pertimbangannya lebih ke teknis saja, Mas Parjo. Jadi yang diformalkan hanya yang termasuk rukun dan wajib haji. Yang sunnah diserahkan kepada jamaah mau melakukannya atau tidak."

"Jadi besok kita akan tetap melakukan Tarwiyah, Pak Bei.?"

"Insya Allah, Mas Parjo. Itulah makanya kemarin jamaah sudah kita himbau untuk mengumpulkan uang Real ke Karomnya masing-masing untuk biaya Dam, Tarwiyah, dan lain-lain. Untuk Dam sudah kita bayarkan melalui mitra terpercaya di sini. Untuk Tarwiyah juga sudah kita bayarkan melalui Syarikah, mitra resmi Pemerintah Arab Saudi. Jadi Insya Allah semua akan berjalan dengan baik."

"Ini iformasi penting untuk saya sampaikan ke teman-teman agar tidak ragu lagi dan tidak salah paham."

"Tolong Mas Parjo juga bantu greteh mengingatkan jamaah agar menjaga kesehatan dan menyimpan tenaga untuk puncak haji yang tinggal tiga hari lagi."

"Pak Bei, apa saja agenda kita di puncak haji nanti? Lupa saya."

"Tanggal 7 Dzulhijjah sore atau malam, kita sudah memakai ihram, lalu berangkat ke Mina untuk Tarwiyah. Kita menginap di Mina hingga tanggal 9 pagi. Tanggal 9 pagi kita berangkat ke Arafah untuk Wukuf. Di Arafah, jamaah akan mengikuti Khotbah Wukuf, Shalat jamak-qashar dhuhur dan ashar serta maghrib dan isya'. Lalu, kita bergeser ke Muzdalifah untuk Mabid hingga shubuh. Paginya, kita kembali ke tenda Mina untuk bersiap-melakukan Jamarat, melempar Jumrah Aqabah. Setelah itu kita Tahalul Awal, memotong rambut dan berganti pakaian biasa."

"Sudah selesai ya, Pak Bei?"

"Ya belum, Mas. Kita masih akan tinggal di Mina hingga tanggal 13. Nafar Tsani. Setiap hari di tanggal 11, 12, dan 13 kita akan melempar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Setelah itu, kita kembali ke Mekah untuk Thawaf Ifadah dan Sa'i. Nah, selesai sudah seluruh rangkaian ibadah haji kita.

"Jadinya Tarwiyah kita nanti dari tanggal 7 sampai 9 ya, Pak Bei?"

"Sebenarnya dulu Rasulullah SAW melakukan Tarwiyah mulai dhuhur tanggal 8 hingga shubuh tanggal 9, Mas. Tapi mengingat teknis, Insya Allah kita akan berangkat tanggal 7 malam, Mas."

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas penjelasannya. Sudah plong saya."

Aktivitas di depan Hotel Raudhah 502 sudah agak sepi. Tampaknya jamaah sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Aktivitas bongkar koper pun sudah selesai. Pak Bei dan Mas Parjo mengakhiri obrolan dan kembali masuk ke kamarnya di lantai 10.

#serialpakbeinaikhaji
#wahyudinasution
























Jumat, 30 Mei 2025

PAK BEI NAIK HAJI

PAK BEI NAIK HAJI

Pak Bei sedang menikmati suasana 'pasar krempyeng' alias 'pasar tiban' di depan Hotel Shafwat Al-Sharouq kawasan Raudhah, Mekah. Pasar Krempyeng alias pasar tiban ini buka setiap pagi bakda shubuh hingga sekitar pukul 07.00 Waktu Saudi. Namanya pasar tiban, tentu hanya buka di musim-musim tertentu, seperti di musim haji tahun ini. Pembelinya pun hanya jamaah haji, bukan penduduk Arab pada umumnya. Dan, mayoritas pembelinya hanya jamaah haji Indonesia. Mereka, terutama ibu-ibu, seolah histeris melihat barang-barang bagus seperti abaya, kerudung, kopiah, aneka kacang Arab, dan buah-buahan. Konon harganya pun cukup murah. 

Di antara para penjual yang orang-orang Arab dan Afrika itu, ada beberapa penjual masakan Indonesia seperti pecel, gudhangan atawa urap, sayur lodeh, sayur asem, sate lontong, kue lupis, ketan, dan lain-lain. Mereka perempuan-perempuan Indonesia, para TKW yang sudah habis kontrak kerja dan izin tinggalnya di Arab Saudi, namun tidak bisa pulang karena tidak punya paspor dan visa. Demi bertahan hidup, mereka tinggal secara komunal di rumah kontrakan, lalu membuka usaha jualan makanan di musim haji.
Itulah makanya sering terlihat mereka berlarian menyelamatkan diri bila terdengar sirine mobil askar lewat. Secepat kilat mereka menghilang di gang-gang sempit menuju belakang hotel.

Para TKW ilegal itu jeli melihat peluang usaha. Mereka tahu semua jamaah haji perlu variasi makanan. Siapapun akan merasa bosan bila setiap hari makan makanan catering garingan yang disediakan pihak Syarikah. Jamaah haji butuh variasi makan yang seger-seger, berkuah, makanan khas Indonesia. 

HP di saku celana Pak Bei bergetar. Ada panggilan masuk. Segera dilihatnya nomor panggilan. Ternyata sama dengan 5 nomor yang misscall tadi pagi.

"Assalaamu'alaikum, Pak Bei, apa kabar?," suara dari seberang terdengar sok akrab.

"Wa'alaikumsalam. Ini siapa, ya?," tanya Pak Bei.

"Ini Narjo."

"Looh Kang Narjo?"

"Iya betul. Aku pinjam hp anakku ini."

"Apa kabar, Kang?"

"Baik, alhamdulillaah. Pak Bei bagaimana di sana?"

"Aku juga sehat, Kang."

"Ternyata Pak Bei tindak haji lagi, to? Saya baru tahu kemarin."

"Wah aku minta maaf gak pernah cerita ke Kang Narjo, juga gak sempat pamitan sebelum berangkat."

"Kalau tahu sebelumnya kan aku bisa titip doa."

"Titip sekarang juga boleh kok, Kang. Punya hajat apa untuk kubantu doa pas wukuf di Arafah?"

"Wah malu mau ngomong."

"Ngomong aja gak papa, Kang. Slow wae. Nanti kucatat biar gak lupa."

"Bukan hajat pribadi kok, Pak Bei."

"Lha terus? Pengin kudoakan apa?"

"Tolong Pak Bei ajak jamaah, minimal di rombongan Pak Bei, mendoakan negara kita ini."

"Mendoakan negara kita? Memang ada masalah apa di negara kita?"

"Remuk-remukan."

"Remuk-remukan bagaimana? Adem-ayem gitu kok, Kang."

"Tampaknya saja adem-ayem, Pak Bei. Tapi panggraitaku beda. Ini sebenarnya menyimpan bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak hingga hancur-hancuran."

"Wah panggraita Kang Narjo saja yang berlebihan. Gak perlu berpikir sejauh itu, Kang. Mbokya tetap husnudhon to."

"Ya justru karena aku husnudhon, maka aku minta tolong Pak Bei dan jamaah haji mendoakan agar bangsa dan negara ini tetap dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Jangan sampai Dia menghukum bangsa kita ini hanya karena kesalahan para petinggi, sementara rakyat tetap berupaya taat pada perintahNya dan patuh menjauhi laranganNya."

Kang Narjo memang kalau lagi ngomyang sulit dihentikan. Entah salah makan apa dia tadi malam. Kukira minta didoakan agar keluarganya selalu sehat dan dilancarkan rejeki. Atau permintaan lain yang terkait langsung dengan kondisinya sendiri. 

"Baiklah, Kang. Aku pamit dulu, ya, mau nemani jamaah ke masjid. Insya Allah permintaanmu akan kulaksanakan."

"Njih, Pak Bei. Sehat selalu, ya. Wassalam..."

Telepon ditutup. Pak Bei langsung bergabung dengan jamaah yang bersiap naik bus shalawat menuju terminal Shib Amir. Dari terminal bus ini, jamaah akan berjalan sekitar 1,5 km untuk sampai di area Masjidil-Haram mengikuti sholat Jumat.

#serialpakbei
#mpmppmuhammadiyah
#jatampusat
#kbihuarafahpdmklaten

Kamis, 29 Mei 2025

TAMU ALLAH DAN SISTEM PELAYANAN BERBASIS SYARIKAH


Tamu Allah dan Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah: Jangan Hanya Pegang Buntut Gajah


Oleh: Wahyudi Nasution
Karom KBIHU Arafah PDM Klaten Kloter SOC-76

Ketika seseorang diundang menjadi tamu, apalagi oleh pemilik rumah yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih berpengalaman, maka ia sejatinya sedang berada dalam wilayah pelayanan yang tidak bisa serta-merta ia pahami. Ia harus bertanya, melihat, dan belajar terlebih dahulu sebelum menilai.

Hal inilah yang juga berlaku bagi jamaah haji di Tanah Suci. Sebagai tamu Allah, setiap jamaah sejatinya datang dalam posisi istimewa sekaligus sensitif. Mereka diposisikan sebagai orang yang dilayani — bukan oleh sembarang orang — tetapi oleh sistem yang sudah disiapkan negara penerima tamu, yakni Kerajaan Arab Saudi.

Sayangnya, sebagian jamaah belum benar-benar memahami bagaimana pola pelayanan itu bekerja. Akibatnya, banyak salah paham, keluhan, hingga tuduhan miring yang bersumber dari ketidaktahuan dan informasi tidak utuh. Maka dari itu, penting bagi jamaah — dan siapa pun yang terlibat dalam penyelenggaraan haji — untuk mengenali sistem pelayanan haji berbasis syarikah secara menyeluruh.


Adh-DhoifukalMayyit: Menjadi Tamu yang Tunduk dan Tawadhu'

Dalam Islam, ada sebuah filosofi yang kuat tentang tamu:

"Adh-dhoifukalmayyit"tamu itu seperti mayit.

Ungkapan ini bukan dalam arti merendahkan, tapi menggambarkan posisi penuh tawadhu’ dan pasrah dari seorang tamu kepada tuan rumahnya. Tamu tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi di rumah orang lain. Apalagi ketika menjadi Tamu Allah di dua tanah haram, Makkah dan Madinah — tunduk dan pasrah adalah sikap terbaik yang bisa ditunjukkan.


Syarikah, Maktab, dan Kafilah: Sistem Tuan Rumah di Dua Tanah Suci

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi mengubah pola pelayanan haji menjadi lebih terstruktur dan profesional melalui sistem yang dikenal sebagai Pelayanan Berbasis Syarikah. Tujuannya adalah efisiensi, akuntabilitas, dan standarisasi layanan kepada jutaan jamaah dari seluruh dunia.

Agar jamaah tidak bingung, berikut tiga entitas penting dalam sistem ini:

1. Syarikah

Perusahaan resmi yang mendapat izin dari pemerintah Saudi untuk menyediakan layanan-layanan haji utama:

  • Makanan (katering)
  • Transportasi
  • Tenda dan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
  • Toilet dan sarana umum lainnya

2. Maktab

Adalah unit kerja atau kantor yang bernaung di bawah Syarikah. Maktab bertugas menangani jamaah dari negara tertentu secara administratif dan teknis, termasuk Indonesia.

3. Kafilah

Tim teknis di lapangan. Merekalah yang menangani makanan, pengaturan tenda, transportasi, dan keperluan harian jamaah secara langsung.

Sederhananya, Syarikah merancang sistem, Maktab mengatur wilayah kerja, dan Kafilah melaksanakan teknisnya di lapangan.

Dengan sistem ini, jamaah tidak lagi direpotkan oleh urusan logistik, rute perjalanan, atau keperluan domestik lainnya. Semua sudah diatur oleh tuan rumah.


Mengapa Banyak Keluhan di Media Sosial?

Berbagai keluhan yang muncul — makanan basi, AC mati, bus datang terlambat — adalah kasus-kasus parsial yang sebetulnya wajar dalam skala pelayanan jutaan orang dari berbagai negara. Tapi jika tidak dipahami dengan utuh, maka akan timbul generalisasi negatif yang tidak adil: seolah-olah sistem ini buruk seluruhnya.

Untuk menjelaskan hal ini, Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Muhammadiyah Klaten, menggunakan analogi bijak:

“Orang yang hanya memegang buntut gajah, akan bilang gajah itu seperti tali. Yang memegang telinga akan bilang seperti kipas. Yang pegang kaki bilang seperti tiang. Semua tidak salah, tapi semua tidak utuh. Maka jangan nilai sistem syarikah hanya dari satu sisi saja.”


Peran Petugas Haji Indonesia: Mitra Strategis, Bukan Tukang Komplain

Pemerintah Indonesia mengirim ribuan petugas untuk mendampingi jamaah selama haji. Mulai dari Ketua Kloter, pembimbing ibadah, tenaga medis, hingga petugas non-kloter yang tergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Mereka bukan pelayan utama, karena itu adalah peran Syarikah. Tapi mereka menjadi mitra strategis, penghubung, sekaligus pelindung psikologis dan spiritual bagi jamaah. Ketika terjadi masalah, mereka-lah yang membantu menjembatani antara jamaah dan tuan rumah.


Kesimpulan: Jangan Pegang Buntut Gajah, Lihat Keseluruhannya

Ibadah haji bukan sekadar ritual. Ini perjalanan spiritual sekaligus sosial. Jamaah perlu mempersiapkan kesabaran dan keikhlasan sebanyak mungkin. Sistem pelayanan haji bukan sistem sempurna, tapi dibangun untuk melayani jutaan tamu Allah dengan cara yang tertib, bermartabat, dan manusiawi.

Alih-alih menyalahkan sistem karena satu kekeliruan, mari belajar memahami, bersyukur, dan menjaga prasangka baik — bahwa tuan rumah sedang berusaha sebaik mungkin untuk memuliakan tamu-tamu Allah.




ADHDHOIFUKALMAYYIT

“Adh-Dhoifukalmayyit”: Tamu Itu Ibarat Mayit

Reportase Rapat Koordinasi Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah Klaten


Mekah, 29 Mei 2025 – Bertempat di lobi Hotel Shafwat Al-Shorouq (592) Raudhah, Mekah, telah berlangsung rapat koordinasi yang dipimpin oleh Dr. dr. M. Husen Prabowo, Ketua Lembaga Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (LBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten. Rapat ini dihadiri oleh para Ketua Rombongan Kloter 74, 75, dan 76 KBIHU Arafah.

Tema yang dibahas dalam rakor kali ini adalah:
“Memahami Pola Pelayanan Jamaah Haji Berbasis Syarikah Secara Sederhana.”


Jamaah Perlu Memahami Pola Kerja Tuan Rumah

Dalam arahannya, Dr. Husen menekankan bahwa jamaah haji Indonesia adalah tamu Allah sekaligus tamu Kerajaan Arab Saudi. Karena itu, penting bagi jamaah untuk memahami pola pelayanan yang digunakan tuan rumah.

"Siapa pun tamunya, pasti akan bingung bila belum paham pola pelayanan dari tuan rumah. Jika bingung, bisa jadi muncul kekecewaan. Apalagi jika mendengar berita-berita kasuistik, lalu digeneralisasi seakan-akan semua pelayanan buruk," ujarnya.


Filosofi Adh-Dhoifukalmayyit: Tamu Ibarat Mayit

Dr. Husen mengingatkan kembali filosofi penting yang berlaku dalam bimbingan haji:

“Adh-dhoifukalmayyit – tamu itu ibarat mayit.”

Filosofi ini mengajarkan bahwa jamaah sebaiknya bersikap pasrah dan percaya pada para pelayan yang membimbing dan melayani mereka, seperti halnya mayit yang mengikuti kehendak orang yang memandikannya.


Analogi Gajah: Jangan Hanya Lihat Sebagian

Untuk menjelaskan pentingnya memahami sistem secara utuh, Dr. Husen menggunakan analogi gajah:

"Ada orang buta pegang gajah. Satu pegang buntut, bilang gajah seperti tali. Satu pegang telinga, bilang seperti kipas. Satu lagi pegang kaki, bilang seperti tiang. Semua benar, tapi itu hanya bagian, bukan keseluruhan."

"Demikian pula dengan sistem pelayanan haji berbasis Syarikah. Jangan hanya menilai dari satu kejadian atau satu berita. Harus dipotret secara utuh," tambahnya.


Mengenal Sistem Pelayanan Berbasis Syarikah

Dalam sistem ini, Kerajaan Arab Saudi menyerahkan layanan teknis kepada perusahaan-perusahaan resmi yang disebut Syarikah. Sistem ini memiliki tiga entitas utama:

1. SYARIKAH

Adalah Perusahaan resmi yang memiliki izin dari Pemerintah Arab Saudi. Mereka menyediakan berbagai layanan teknis haji: katering, transportasi, tenda, toilet, pengelolaan logistik, dll.

2. MAKTAB

Adalah Kantor atau unit kerja di bawah naungan Syarikah. Maktab bertanggung jawab terhadap jamaah dari negara tertentu. Mereka berkoordinasi langsung dengan petugas kloter dan pemerintah Indonesia.

3. KAFILAH

Adalah Tim Teknis Lapangan yang bekerja langsung di lokasi. Mereka menangani kebutuhan harian jamaah seperti menyajikan makanan, mengatur bus, mengurus tenda dan toilet, serta mendampingi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Dengan sistem ini, jamaah tidak perlu lagi mengurus sendiri urusan tenda, logistik, rute perjalanan, atau fasilitas. Semua sudah disiapkan oleh tuan rumah.


Berita Kasuistik Bukan Cerminan Utuh

Rakor juga membahas fenomena di media sosial. Banyak jamaah atau netizen yang menyebarkan keluhan tanpa memahami konteks atau struktur sistem secara menyeluruh.

“Kalau ada toilet macet, makanan telat, atau bus terlambat, jangan langsung simpulkan sistemnya gagal. Itu kejadian kasuistik, bukan gambaran utuh,” ungkap salah satu ketua rombongan.


Peran Penting Petugas Haji Indonesia

Rapat menegaskan bahwa para petugas haji dari Indonesia tetap berperan penting, antara lain:

  • Ketua Kloter: Menjadi jembatan antara jamaah dan Maktab/Syarikah. Dia memastikan seluruh jamaahnya mendapatkan pelayanan dan haknya sebagai tamu.
  • Petugas Pembimbing Ibadah: Menenangkan jamaah dan membimbing ibadah.
  • Petugas Kesehatan: Menangani kesehatan jamaah di semua fase perjalanan.
  • PPIH Arab Saudi (Non-Kloter): Menangani kebutuhan darurat, advokasi, dan layanan luar kloter.  “Petugas kita adalah penyambung komunikasi dan penguat psikologis jamaah. Keberadaan mereka tetap krusial walau pelayanan teknis ditangani Syarikah,” jelas Dr. Husen.


Penutup: Tetap Sabar dan Fokus 

Rapat ditutup dengan ajakan agar seluruh ketua rombongan menjadi peneduh dan pelurus informasi di antara jamaah. Jangan ikut menyebarkan kabar negatif, tapi justru membantu jamaah memahami tujuan utama haji: beribadah dengan khusyuk, sabar, dan ridha.

“Kita di sini bukan sedang berwisata. Kita sedang melayani tamu-tamu Allah. Maka kita pun harus menjaga adab, kesabaran, dan keikhlasan,” pungkas Dr. Husen.


#wahyudinasution

Kamis, 15 Mei 2025

PAMITAN HAJI

PAMITAN HAJI

Namanya Rarmi. Orang-orang biasa memanggilnya Mbah Ratmi. Nama yang cukup pendek. Nama Ratmi biasanya ada 'Su' di depannya, jadi Suratmi. Tapi tidak, namanya memang hanya Ratmi. Umurnya mendekati 70 tahun. Rumahnya satu kampung dengan Pak Bei.  Mbah Ratmi dulu sempat bersuami, tapi tidak punya anak. Suaminya meninggal waktu Pak Bei masih tinggal di Jogja. Sejak itu, Mbah Ratmi hidup ditemani dua cucu keponakan yang dirawatnya sejak kecil. Konon, keponakan Mbah Ratmi meninggal ketika anak-anaknya masih kecil. Lalu suaminya kawin lagi dan tinggal dengan istri sambungnya. Lalu, anak-anaknya diasuh oleh Mbah Tarmi. Sekarang keduanya sudah gadis. Yang sulung sudah kuliah di UIN semester 4, sedang adiknya baru lulus MAN tahun ini.

Beberapa kali ketika Pak Bei sedang jalan pagi bersama Bu Bei, dilihatnya Mbah Ratmi sedang asyik kerja di sawah merawat tananam sayuran sawi, kangkung darat, atau bayam cabut. Tanaman itu diberinya pupuk, disiangi rumputnya, dan disemprot obat bila tampak ada hama. Bila tiba saatnya dipanen, para penebas pun datang membeli dan memanennya sesuai harga pasaran. Memang begitulah ekosistem pertanian di desa. Petani suntuk berbudidaya, proses pasca-panennya sudah ada penebas yang ngurusi.

Pernah suatu ketika Pak Bei mendekati dan mengajaknya ngobrol.

"Ya begini ini pekerjaan saya setiap pagi dan sore, Pak Bei. Bisanya ya cuma begini," kata Mbah Ratmi merendah sambil tangannya terus menyiangi rumput dengan cengkrong.

Lalu Mbah Ratmi cerita bahwa beberapa puluh tahun lalu sepeninggal suaminya, masih agak muda dan kuat tenaganya, pernah ikut jadi TKW di Arab Saudi. Beberapa tahun tinggal di sana sebagai pembantu rumah tangga. Ketika kontraknya habis, dia memilih pulang dan tidak melanjutnya kontraknya. Uang tabungannya dipakai untuk modal jualan daging ayam di pasar Totogan. 

"Lumayan dulu sudah punya beberapa pelanggan, Pak Bei. Tapi karena pasar dibangun oleh Pemerintah, saya jadi tidak punya tempat jualan lagi. Terus saya ikut ponakan kerja di Jakarta, ikut kerja di catering bantu jadi tukang masak."

"Kenapa gak dilanjut, Mbah? Kan enak kerja di Jakarta?"

"Sudah tua, Pak Bei, badan saya sudah tidak kuat mengikuti cara kerja usaha catering di Jakarta. Ya sudah, saya pilih jadi petani begini."

Betapa suprize kemarin bakda ashar, Mbah Ratmi datang ke nDalem Pak Bei. 

"Badhe matur sekedhik, Pak Bei," kata Mbah Ratmi setelah dipersilakan duduk. 

"Wonten dhawuh menapa, Mbah Ratmi?," tanya Pak Bei.

"Sepindah silaturahmi saha tuwe kasugengan lan kesarasan Pak Bei." 

"Ooh njih, Mbah, matur nuwun. Alhamdulillah kula sekeluarga pinaringan sehat."

"Yang kedua, saya mau minta tolong Pak Bei."

"Apa yang bisa saya bantu, Mbah Ratmi?"

"Begini, Pak Bei. Insya Allah saya akan berangkat haji besok Jumat minggu depan."

"Alhamdulillaah....Mbah Ratmi mau berangkat haji?"

"Iya, Pak Bei. Makanya saya sowan kesini mau minta tolong."

"Pripun, Mbah?"

 "Besok bakda sholat Jumat, tolong Pak Bei aturke ke jamaah bahwa saya minta pamit dan doa restu seluruh jamaah agar perjalanan haji saya lancar, aman, dan mendapat haji mabrur."

"Ooh njih, Mbah."

"Juga mohon maaf kepada seluruh jamaah kalau selama ini saya ada kesalahan baik yang saya sengaja maupun tidak."

"Masya Allah....njih, Mbah Ratmi. Insya Allah besok saya sampaikan ke jamaah Jumat."

"Sekalian saya titip diawat-awati rumah dan dua cucu saya, Pak Bei."

"Ooh njih, Mbah. Insya Allah semua masyarakat akan mendoakan Mbah Ratmi dan bantu mengawasi anak-anak."

"Matur nuwun sanget, Pak Bei."

Mbah Ratmi pun berpamitan, pulang jalan kaki ke rumahnya. Pak Bei mengantar Mbah Ratmi sampai ke pintu gerbang. Orang tua yang bersahaja. Ternyata diam-diam Mbah Ratmi sudah ikut antri 13 tahun untuk bisa haji ke Baitullah. Mbah Ratmi juga paham, bila mau bepergian jauh apalagi lama, sebaiknya berwasiat pada keluarga, kerabat, dan tetangga. 

Pamitan haji cara Mbah Ratmi ini cukup menarik. Mungkin karena keterbatasannya, dia tidak mengadakan acara pamitan haji di rumah, pakai masak-masak atau ngundang catering untuk menyuguh tamu. Tidak. Mbah Ratmi cukup hadir sholat Jumat di mesjid, lalu berpamitan kepada jamaah.
Selamat jalan, semoga Allah SWT meridhoi perjalanan haji Mbah Ratmi....aamiin.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah











Minggu, 11 Mei 2025

PEMAKZULAN

PEMAKZULAN

Sebenarnya Pak Bei senang-senang saja setiap kali Kang Narjo mampir minta kopi di sela-sela tugasnya mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggan. Pak Bei pun maklum, sahabatnya itu berangkat dari rumah sejak pagi dalam kondisi perut masih kosong, belum sempat ngopi apalagi sarapan. Dan, mampir di nDalem Pak Bei adalah solusi. Bukan hanya solusi bagi perutnya yang terasa anyep, dingin, tapi juga bisa ngobrol sambil mengkonfirmasi berita-berita aktual yang sering mengganggu pikirannya. 

Tapi ada kalanya Pak Bei kurang suka dengan topik obrolan Kang Narjo yang kadang terkesan sok tahu, agak keminter, seolah tahu semua isu aktual. Seperti pagi ini, tiba Kang Narjo ngangkat topik yang agak sensitif yang sebenarnya Pak Bei males melayani.

"Jenderal-Jenderal purnawiraan mulai bergerak, Pak Bei," Kang Narjo memulai obrolan setelah nyeruput kopi semendo yang disuguhkan Pak Bei.

"Rupanya mereka khawatir melihat kondisi negara saat ini sehingga merasa perlu cawe-cawe." Pak Bei masih diam saja, belum merespon.

"Beberapa tuntutan sudah mereka sampaikan ke Presiden dan MPR agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memperbaiki keadaan."

Pak Bei belum juga merespon. Tangannya membuka bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dan dimasukkannya ke pipa, disulut, dihisap, lalu bulll...
gumpalan asap putih tampak menghiasi udara pagi.

"Ada satu tuntutan yang cukup menarik, Pak Bei: pemakzulan Gibran sebagai Wakil Presiden."

"Ah gak gampang itu, Kang," Pak Bei terpaksa merespon.

"Sulit, maksudnya?"

"Iyalah. Jelas sulit."

"Ya pasti sulit. Bagaimana pun Gibran itu satu paket dengan Prabowo pada Pilpres kemarin. Mereka telah terpilih sebagai pasangan Presiden-Wakil Presiden secara sah menurut UU."

"Lha gene wis ngerti."

"Semua orang juga sudah tahu, Pak Bei."

"Lha terus apa masalahnya?"

"Kita ini bangsa yang besar, Pak Bei. Jumlah penduduk kita saat ini ada 285 juta orang. Kita punya ribuan Profesor dan Doktor, ada Jenderal aktif dan Purnawirawan, banyak Kyai dan Ustadz, juga banyak negarawan hebat, banyak juga politisi idealis."

"Memangnya kenapa?"

"Ya mosok Wapres-nya seperti itu."

"Seperti itu, bagaimana?"

"Blas gak perform. Malah kesannya agak lholak-lholok."

"Huss...jangan begitu, Kang. Gak baik."

"Tapi bener, kan?"

"Ngono yho ngono, ning ojo ngono, Kang."

"Aku tidak punya istilah yang lebih halus dari itu, Pak Bei. Tidak ada lagi sanepan yang lebih pas."

"Tapi mbokya jangan terus dibilang lholah-lholok gitu to, Kang. Mbokya agak menghormati sedikit kenapa sih?"

"Kupikir ide para Jenderal purnawirawan itu bagus juga. Sebagai rakyat, sebenarnya kita ini malu juga punya Wapres seperti itu. Kok kayak gak ada orang lain."

"Itu namanya orang bangun kesiangan, Kang. Kenapa baru sekarang mereka menyadari? Kenapa sewaktu proses pencalonan yang kontroversial, yang bermasalah secara etika dan hukum itu, mereka diam saja tidak bersuara? Nasi sudah menjadi bubur, Kang."

"Entahlah, Pak Bei."

"Dan asal tahu saja, pemakzulan Wapres itu secara konstitusional akan sulit, Kang. Mustahil bisa terjadi."

"Yess....setuju. Saya sangat setuju, Pak Bei. Dulu, waktu kita  menurunkan Pak Harto, secara konstitusional juga tidak mungkin bisa terjadi. Seluruh Anggota DPR-MPR, seluruh ABRI, seluruh Ormas, seluruh Konglomerat, ada di barisan pendukung Pak Harto. Iya, kan? Mustahil Pak Harto bisa dilengserkan. Tapi nyatanya kekuatan demonstrasi rakyat dan mahasiswa bisa memaksa Pak Harto meletakkan jabatan, kan? Itu tidak konstitusional, lho."

Edan. Kang Narjo seperti orang ngomyang, meracau di luas kesadarannya. Sok tahu, keminter. Tapi memang benar, sih. Presiden Soekarno dulu meletakkan jabatan juga tanpa melalui proses konstitusional. Demikian juga lengsernya Presiden Gus Dur digantikan Megawati. 

"Pak Bei, meski inkonstitusional, asal didukung penuh oleh rakyat, maka kun fayakun, jadilah....maka jadilah. Tidak ada yang mustiahil. Tidak ada yang bisa melawan kehendak rakyat," kata Kang Narjo sambil berdiri pamitan, lalu ngacir meninggalkan Pak Bei. 

Pak Bei seakan masih deleg-deleg, tak habis pikir dengan kalimat terakhir yang diucapkan sahabatnya sambil ngacir pergi. Kethus tenaan Kang Narjo. Edyan.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#jamaahtanimuhammadiyah











"Baru tahu?"

"Gak perform gimana to, Kang? Dia kan sudah terpilih melalui Pelpres yang sah dan konstitusional. Apa yang salah?"

"






Selasa, 06 Mei 2025

KOPDES MERAH PUTIH

KOPDES MERAH PUTIH

Sore yang cerah. Pak Bei dan Bu Bei semula hanya ingin ngajak jalan-jalan si Eza, cucunya semata wayang yang baru genap usia dua tahun dua minggu lalu. Bukan jalan-jalan ke Mall seperti orang kota. Bukan. Hanya sekadar keluar memikmati suasana sore hari, lalu pulang sebelum azan maghrib. Dibayangkannya tingkah Eza yang lucu girap-girap gembira setiap kali ketemu konvoi truk pasir galian-C yang baru turun dari lereng Gunung Merapi. 

"Dada, Koo'...Dada, Koo'...," begitu ucapan Eza sambil melambai-lambaikan tangan. Maksudnya, "Dada, Truk...Dada, Truk..." Eza memang paling senang melihat truk, apalagi truk yang besar-besar.

Tapi mana bisa hanya ngajak Eza. Ayah dan mamanya, Mas Cahya dan Mbak Vika, tak mau ketinggalan. Onti Zika pun tak mau ditinggal sendirian di rumah. Maka jadilah sore itu pasukan lengkap keluarga Pak Bei jalan-jalan dengan innova tuanya di seputar kawasan Jatinom dan Ngawen.

"Bagaimana kalau kita bablas makan mie ayam?" tiba-tiba Bu Bei usul. Tawaran makan mie ayam di warung langganan dekat stasiun Klaten pun disambut gegap-gempita.

"Waoow...cocok," sahut Mas Cahya.

"Mauuu. Mauuu...," sahut Zika.

Kedua anak Pak Bei itu memang sejak kecil sukanya  makan mie ayam. Hingga dewasa pun kesukaan itu masih terjaga dengan baik. Hampir semua warung bakso dan mie ayam di Klaten pernah dicobanya. Studi banding, katanya.

Tiba di warung langganan tepat saat terdengar suara azan maghrib dari corong masjid-masjid sekitar. Sambil menunggu pesanan datang, Pak Bei dan Mas Cahya langsung menuju mushola di belakang. Antri wudhu. Ada dua orang sedang ambil wudhu di keran.

"Looh Pak Bei, ketemu di sini." 

"Looh Kang Narjo. Dari mana, Kang?" Ternyata yang wudhu tadi sahabatnya, si loper koran senior, dengan temannya.

"Dari besuk tetangga yang opname di RS Bagas Waras. Mampir ke sini pengin makan bakso."

Selesai sholat maghrib berjamaah, Mas Cahya giliran menjaga Eza. Mamanya Eza sholat bersama Oma dan Onti Zika. Pak Bei memikih duduk bergabung dengan Kang Narjo. Dua sahabat itu kalau ketemu pasti ada saja yang diobrolkan.

"Semua Kepala Desa lagi mumet ndase ini, Pak Bei," Kang Narjo membuka obrolannya.

"Kenapa, Kang?"

"Mereka harus mendirikan Koperasi Desa Merah Putih di Desanya masing-masing paling lambat tanggal 9 Mei."

"Loh pakai deadline?"

"Namanya juga program prioritas Pemerintah Pusat, kalau gak di-deadline pelaksanaan di lapangan pasti santai, sak tekane."

"Semua ngejar target ya, Kang. Kejar setoran."

"Kasihan melihat Kepala-Kepala Desa itu. Mereka tampak bingung harus memulai dari mana. Minggu lalu seluruh Kades se-Jawa Tengah dikumpulkan di Semarang untuk mengikuti Bimtek. Hari berikutnya dikumpulkan lagi di Kabupaten, diceramahi agar segera gumregah mendirikan Kopdes Merah Putih."

"Oh makanya satu-dua hari terakhir ini kudengar beberapa Desa menyelenggarakan Musdesus. Itu to masalahnya?"

"Karena itu harus menjadi program prioritas di luar rencana program kerja yang sudah dibuat, maka harus diputuskan melalui Musyawarah Desa Khusus, Pak Bei."

"Ya betul itu, Kang. Setahuku, program-program yang sudah mereka putuskan melalui Musdes RKPDes dan APBDes akhir tahun lalu saja belum terlaksana karena dananya belum cair, katanya."

"Dana Desa maksudnya?"

"Ya Dana Desa, Alokasi Dana Desa, Bantuan Provinsi, Bagi Hasil Pajak, dan sebagainya. Itu belum ada yang cair. Makanya program-program Desa belum tereksekusi."

"Jamannya efisiensi kok, Pak Bei. Semua program Kementerian konon juga mandek. Anggaran dialihkan ke sektor pangan, terutama Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih."

Seorang pelayan menyajikan dua mangkok bakso pesanan Kang Narjo dan temannya. Pesanan Pak Bei dan keluarganya belum datang.

"Sambil makan duluan, Kang. Silakan." 

"Lha Pak Bei?"

"Kami datang belakangan, harus antri."

Kan Narjo dan temannya mulai menyantap bakso. Pak Bei memandangi sahabatnya dengan rasa heran. Ternyata Kang Narjo mengikuti soal Kopdes Merah Putih, program prioritas Pemerintah Prabowo dengan anggaran yang sangat besar itu. 

"Menurutmu bagaimana program Kopdes Merah Putih itu, Kang?"

"Bagus."

"Bagusnya di mana?"

"Terlepas dari urusan politik, apakah pas Pilpres kemarin kita milih Pak Prabowo atau tidak, kita harus mengakui bahwa beliau tampak punya komitmen kuat membangun ekonomi rakyat dan swasembada pangan."

"Begitu ya, Kang?"

"Dulu Orde Baru sangat serius membangun sektor pangan melalui Repelita, Bimas, membangun KUD di setiap Kecamatan, bikin Klompencapir, dan sebagainya. Dan berhasil., lho."

"Iya, Kang. Tahun 1984-1985 kita surplus beras dan bisa ekspor, ya."

"Itu karena Pemerintah pada waktu itu serius, Pak Bei. Ekonomi petani digarap sungguh-sungguh. Diproteksi. Bukan dibiarkan digempur  beras impor seperti jaman repotnasi ini."

"Jaman Reformasi, maksudmu?"

"Dulu kita berharap reformasi akan mensejahterakan rakyat dan menghidupkan demokrasi, eh ternyata kita salah sangka. Yang terjadi justru repotnasi dan rusaknya demokrasi."

"Yah, pesanan sudah datang. Ayo makan dulu," terdengar Zika memanggil Pak Bei.

"Kapan-kapan kita lanjut omon-omon ya, Kang."

"Siap, Pak Bei. Monggo disekecakke," Kang Narjo mempersilakan Pak Bei bergabung ke meja keluarga.
"Kami pulang dulu, ya. Sudah kenyang," sambungnya sambil berdiri menuju kasir.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#jamaahtanimuhammadiyah

















Minggu, 04 Mei 2025

BUKU PUTIH

BUKU PUTIH

Surprize. Begitulah perasaan Pak Bei menyambut kedatangan Kang Narjo pagi ini. Bakda shubuh, matahari pun belum terbit. Tumben Kang Narjo datang sepagi ini di saat Pak Bei sedang menikmati kopi di teras sambil membuka-buka dan membalas pesan WA di hpnya. Biasanya setelah ngopi dilanjut menyapu halaman. Tapi tidak kali ini. Kang Narjo sahabatnya yang mak-bedunduk datang itu harus dilayani dengan baik. Katanya memang sengaja berangkat lebih pagi karena ingin mampir dulu sebelum ke agen koran di kota Klaten tempatnya biasa mengambil koran dan majalah untuk para pelangganannya.

"Pengin ngopi mumpung masih pagi, Pak Bei. Pasti nikmat," katanya sambil pringas-pingis khas Kang Narjo.

Setelah mempersilakan sahabatnya duduk, Pak Bei pun langsung ke dapur menyalakan kompor. Pak Bei maklum, sejak lebaran kemarin, baru kali ini Kang Narjo mampir. Biasanya sahabat satu ini hanya mampir kalau ada hal penting untuk diobrolkan. 

"Ada berita penting apa, Kang?," tanya Pak Bei sambil menyuguhkan segelas kopi semendo untuk sahabatnya.

"Dengar-dengar Pak Bei mau berangkat haji lagi, ya? Saya ikut senang dan ikut mendoakan semoga perjalanan Pak Bei sekalian lancar, aman, dan mabrur...aamiin. "

"Insya Allah, Kang. Aamiin. Matur nuwun doanya. Tapi saya cuma sendiri, Kok Kang, bertugas nemani jamaah."

"Nemani jamaah, bagaimana maksudnya?"

"Kali ini saya menjalankan amanahi dari KBIHU Arafah PDM Klaten menjadi ketua rombongan dan membimbing jamaah haji, Kang."

"Ooh kukira naik haji sekalian lagi."

"Ibadah haji sudah cukup sekali, Kang. Alhamdulillah kami sudah tahun 2011."

"Rencana berangkat kapan, Pak Bei?"

"Kalau tidak ada perubahan, kami ikut kloter 76-SOC, berangkat dari Klaten besok tanggal 23 Mei, Kang."

"Tumben pagi-pagi, Pak Narjo?" Bu Bei yang tiba-tiba datang menyuguhkan sepiring pisang kepok rebus yang masih panas kemebul.

"Iya, Bunda. Sengaja mangayubagyo, ikut berbahagia Pak Bei mau berangkat haji lagi."

"Alhamdulillah. Matur nuwun, Pak Narjo," jawab Bu Bei. "Tolong dibantu doa semoga Pak Bei dapat menjalankan amanah sebagai karom dengan sebaik-baiknya, nggih," sambung Bu Bei sambil beranjak kembali ke dapur.

"Injih, Bunda. Aamiin."

Matahari tampak mulai memancarkan sinarnya.  Jalan di depan nDalem Pak Bei pun tampak mulai ramai. Beberapa petani menuju sawahnya, anak-anak muda berseragam pabrik bersepeda motor menuju tempat kerjanya di Boyolali, beberapa ibu-ibu menuju pasar Kebonan untuk belanja sayur, dan sebagainya. Tapi Kang Narjo tampak masih nyaman ngobrol dengan Pak Bei.

"Saya mau tanya, Pak Bei."

"Tanya apa, Kang"

"Kemarin saya bacara press realease Buku Putih dari tokoh-tokoh UGM. Sebenarnya apa yang terjadi di almamater Pak Bei?"

Edan, ternyata Kang Narjo baca juga berita itu. Tapi memang loper koran satu ini istimewa. Semua headline dan berita penting koran pagi dibacanya dulu sebelum diantar ke rumah-rumah pelanggan. Jadi dia selalu update berita. Tak jarang Pak Bei dibuat gelagapan ketika disodori tema obrolan yang luput dari perhatiannya.

"Pesan apa yang Kang Narjo tangkap dari press release Buku Butih itu?"

"Kesan saya, ada hal serius sedang terjadi di kampus UGM kebanggaan Pak Bei."

"Hal serius bagaimana, Kang?"

"Itu kan terkait dengan serangkaian berita sejak sebelum lebaran kemarin, tentang kasus dugaan kekerasan seksual oleh seorang Guru Besar. Sebagai orang awam, bukan alumni, saya bertanya-tanya, Pak Bei. Apa iya ada Guru Besar UGM tak senonoh pada belasan mahasiswinya? Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena tidak ada info yang berimbang. Tapi kok segitu cepatnya UGM menjatuhkan vonis pemecatan? Ada apa? Jangan-jangan ada permainan atau persaingan politik di internal kampus? Ada upaya pembunuhan karakter pada lawan politiknya?"

"Kang Narjo yang orang awam dan bukan alumni UGM saja punya pikiran begitu, apalagi saya dan ribuan anggota Kagama yang hebat-hebat itu. Semua juga bertanya-tanya begitu, Kang. Ada kekhawatiran almamater kami sudah kehilangan etika akademik, independensi, dan integritas sehingga tidak mampu menjaga rasa keadilan bagi semua pihak."

"Tampaknya si terlapor tidak diberi raung untuk membela diri dan menjelaskan duduk perkaranya ya, Pak Bei. Tapi Rektor langsung menjatuhi sangsi terberat, pemecatan."

"Ya begitulah, Kang. Ada kesan media massa sudah terlalu jauh membangun opini publik sehingga memaksa rektor menjatuhkan sangsi terberat, tanpa melalui prosesur dan mekanisme yang benar. Itu bahaya kalau tidak dihentikan."

"Kampus pun bisa berlaku dzalim ya, Pak Bei."

"Itulah yang memprihatinkan, Kang. Seharusnya tidak terjadi kalau pihak rektorat sungguh-sungguh menjaga etik dan marwah universitas."

"Meski saya baru membaca press realease-nya, belum membaca Buku Putih yang disusun oleh tokoh-tokoh lintas kampus itu, saya percaya Rektor UGM dan kampus-kampus lainnya akan berpikir ulang,  setidaknya ke depan akan lebih hati-hati bila menghadapi kasus seperti itu. Tidak boleh gegabah lagi."

"Begitu juga harapanku, Kang."

"Syukur bila vonis terberat yang sudah dijatuhkan pada Guru Besar itu bisa ditinjau ulang ya, Pak Bei. Biar adil, tidak dzalim," kata Kang Narjo sambil berdiri pamitan.

Pak Bei mengantar sahabatnya hingga ke pintu gerbang. Kang Narjo, loper koran senior yang istimewa dan masih setia melayani pelanggan. Sehat selalu ya, Kang.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#alumnifaksastraugm
#mantanaktivisgelanggang
















Minggu, 27 April 2025

REPORTASE PRAKTIK HAJI-UMRAH

Reportase;

Praktik Simulasi Haji dan Umrah KBIHU Arafah PDM Klaten: 581 Calon Jamaah Antusias Menjalani Rangkaian Ibadah

Ahad, 27 April 2025 menjadi hari yang istimewa bagi 581 calon jamaah haji Kabupaten Klaten. Sejak pukul 06.30 WIB, mereka berkumpul di SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara untuk mengikuti Praktik Simulasi Haji dan Umrah yang diselenggarakan oleh KBIHU Arafah PDM Klaten. Acara ini dihadiri oleh jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten, pengurus KBIHU Arafah, Kementerian Agama Kabupaten Klaten, petugas haji dari Kemenag dan Kemenkes, serta Pimpinan Lembaga Bimbingan Haji dan Umrah PWM Jawa Tengah.

Acara diawali dengan Upacara Pembukaan yang berlangsung khidmat. Ketua KBIHU Arafah, Dr. dr. M. Husen Prabowo, MKM, memberikan sambutan pembuka, disusul sambutan dari Drs. H. Mochtar Anshori, MPd. mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten, dan sambutan dari Kementerian Agama Klaten yang diwakili oleh Kasi Haji dan Umrah, Ibu Faizah. Pada saat upacara ini, seluruh jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari rumah masing-masing.

Usai upacara, jamaah menaiki 15 unit bus yang telah disiapkan, menggambarkan suasana perjalanan menggunakan pesawat dan bus di Tanah Suci. Dalam setiap bus, satu rombongan berisi 39-40 orang dipandu oleh seorang Karom. Sepanjang perjalanan, jamaah dipandu membaca doa safar, melaksanakan praktik tayamum, serta shalat Subuh berjamaah di kursi masing-masing.

Perjalanan berlanjut menuju Lapangan Kurung, Ceper, yang difungsikan sebagai Mekkah dan Masjidil Haram. Sebelumnya, bus melewati Perempatan Karangwuni yang diibaratkan sebagai Yalamlam, salah satu miqat makani. Di sana, seluruh jamaah mengambil miqat, menyatakan niat umrah, dan bersama-sama mengumandangkan talbiyah.

Setiba di Lapangan Kurung, para jamaah beristirahat sejenak di dalam bus yang difungsikan sebagai hotel. Kemudian, mereka memulai praktik pelaksanaan umrah. Panitia telah menyiapkan replika Ka'bah dan jalur Sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah. Dipandu oleh Karom, jamaah melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dilanjutkan dengan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, meminum air zamzam, lalu berjalan menuju Bukit Shafa untuk memulai Sa’i.

Di Bukit Shafa, jamaah memanjatkan doa bersama, kemudian berjalan menuju Bukit Marwah bolak-balik sebanyak tujuh kali, hingga akhirnya berdoa di Bukit Marwah. Setelah itu, dilaksanakan tahalul dengan memotong beberapa helai rambut sebagai tanda selesainya ibadah umrah. Usai rangkaian ini, jamaah beristirahat sambil menikmati makanan ringan di Warung Pethuk yang disediakan oleh Ibu-Ibu Aisyiyah Ceper.

Praktik haji berlanjut dengan perjalanan menuju Lapangan Jelobo, Wonosari, yang difungsikan sebagai Mina. Setibanya di Mina, jamaah melakukan praktik Tarwiyah, yaitu aktivitas pada tanggal 7-8 Dzulhijjah yang dijelaskan secara pre-memory oleh Karom.

Esok harinya, tanggal 9 Dzulhijah, perjalanan berlanjut ke Lapangan Bulurejo, Juwiring yang difungsikan sebagai Arafah. Panitia telah menyiapkan tenda besar tempat jamaah melaksanakan praktik Wukuf di Arafah. Setelah mengambil wudhu, jamaah duduk di atas tikar di bawah tenda mendengarkan khutbah Wukuf yang disampaikan oleh Iskandar Fanani.

Karena waktu simulasi bertepatan dengan shalat Dhuhur, jamaah melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah (4 rakaat) dengan imam Wahyudi Nasution, menggantikan shalat jamak-qashar seperti pada kondisi di Tanah Suci. Setelah itu, jamaah berdzikir bersama dipimpin oleh Fanani Nurhuda, lalu berdoa sendiri-sendiri, dan bermaaf-maafan dengan pasangan masing-masing maupun antar-jamaah. Praktik Wukuf ini diakhiri dengan makan siang bersama, menikmati Soto Ayam "Slamet Junior".

Perjalanan berlanjut menuju Mina melalui Muzdalifah. Di Muzdalifah, mabit/bermalam dilakukan secara pre-memory di atas bus (jamaah tidak turun dan diberi penjelasan oleh Karom). Sesampainya di Mina, jamaah melaksanakan praktik melempar jumrah. Pada tanggal 10 Dzulhijah, jamaah melempar Jumrah Aqabah. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, jamaah melempar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Untuk lempar jumrah tanggal 12 dan 13 Dzulhijjah, praktik dilakukan secara pre-memory melalui penjelasan dari Karom.

Usai praktik melontar jumrah, jamaah beristirahat sejenak sambil menikmati hidangan ringan di Warung Pethuk, kemudian melaksanakan shalat Ashar berjamaah.

Selanjutnya, perjalanan berlanjut menuju Mekah untuk melaksanakan Thawaf Ifadhah. Jamaah kembali mengelilingi replika Ka'bah, shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, meminum air zamzam, dan melakukan Sa'i. Usai seluruh rangkaian Thawaf Ifadhah, jamaah beristirahat seolah berada di hotel.

Sebelum "kepulangan ke Tanah Air", jamaah diberi penjelasan tentang pelaksanaan Thawaf Wada' secara pre-memory. Kemudian, seluruh peserta bertolak kembali ke SMK Muhammadiyah 3 Klaten Utara, mengakhiri seluruh rangkaian praktik simulasi haji dan umrah dengan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan kegembiraan. Cuaca yang cerah sepanjang hari menambah semarak dan kelancaran acara. Alhamdulillah, seluruh kegiatan berjalan sukses dan memberikan pengalaman berharga bagi seluruh calon tamu Allah.

#wahyudinasution

#karom2025

Kamis, 17 April 2025

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PENGESAHAN

Dulu, setelah berlarut-larut menikmati status sebagai mahasiswa UGM, aktivis Gelanggang, dan pegiat Sanggar Shalahuddin, akhirnya saya bisa lulus dari jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UGM. Menulis skripsi (bukan tesis) itu berat, tidak gampang, karena butuh energi khusus dan konsentrasi penuh. Uangel tenaan. Konon itu memang resiko jadi aktivis.

Saya meneliti naskah drama Perahu Retak karya Emha Ainun Nadjib, Tinjauan Strukturalisme Genetik. Sebelumnya, saya selama 2 tahun berusaha meneliti naskah Lautan Jilbab, tapi gagal dan buntu sampai di bab 2. Mungkin karena emosi saya terlalu terlibat dengan naskah itu gara-gara mementaskan teater Lautan Jilbab yang kami jalani bersama Sanggar Shalahuddin. Menyadari 'selak tuwa', keburu tua, akhirnya saya putuskan ganti objek penelitian, yakni naskah drama Perahu Retak, karya Cak Nun juga.

Singkat cerita, saya berhasil mempertahankan skripsi yang saya tulis dengan mesin ketik selama 3 bulan itu di depan tiga dosen penguji, yakni Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, Dr. Imran T. Abdullah, dan Drs. Supriyadi. Alhamdulillaah dapat nilai A. Lumayan....

Proses selanjutnya, saya harus merevisi beberapa halaman yang ada salah ketik. Atas kebaikan sahabat, Erwin namanya, saya dipinjami komputer XT dan printer Epson LX....(lupa tipenya) untuk menulis ulang dengan program WS. Jadi ngirit gak perlu tip-ex dan hemat kertas hvs.

Proses berikutnya memfotokopi dan menjilid skripsi itu 4 eksemplar di foto copy Prima depan Mirota Kampus Bulaksumur. Kenapa harus 4 eks? Karena harus diserahkan ke jurusan 1, ke perpus Fakultas 1, ke Perpus Cak Nun 1, dan dokumen saya sendiri 1 eks.

Tapi jangan lupa, skripsi itu belum sah alias belum legal bila belum ada tanda tangan para penguji di lembar pengesahan. Maka, finishing proses selanjutnya adalah berburu tanda tangan para dosen penguji. Beruntung 3 dosenku waktu itu selalu stay di kampus, jarang tugas keluar. Jadinya mudah kuminta tanda tangan mereka.

Clear sudah. Aku pun bisa ikut wisuda sarjana S1 setelah jumlah Kartu Mahasiswa genap 18 buah.

#serialpakbei

Selasa, 01 April 2025

RISING STAR ITU

RISING STAR ITU 

Sebenarnya sejak awal Ramadhan kemarin Pak Bei sudah berhasil menghindari omon-omon atawa ngobrol tentang politik. Bukan karena Pak Bei berpandangan 'politik itu kotor'. Bukan. Tapi karena di samping dunia politik memang bukan habitatnya, Pak Bei menyadari bahwa di bulan Ramadhan sebaiknya menghindari pikiran dan obrolan yang tidak perlu. Kalau tidak bisa berpikir dan omong yang bermanfaat, lebih baik diam. Begitu Pak Bei memahami dhawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pak Bei bersyukur, di hari pertama Lebaran pun masih bisa terjaga dari pikiran dan omongan politik.
Meskipun sejak pagi hingga sore banyak tamu berlebaran ke nDalem Pak Bei, tapi semua obrolannya masih terkendali, sebatas kabar keluarga, sekolah anak, cucu-cucu yang lucu, seputar kesehatan, atau seputar harga panenan ppadi dan sayuran para petani serta telor ayam para peternak yang sedang bagus di pasaran. Tidak ada yang nyinggung politik. Hati dan pikiran pun terasa nyaman.

Tapi suasana ayem-tentrem itu bubrah seketika gara-gara bakda isya' kedatangan tamu spesial: Kang Narjo. Dikira sabahatnya yang loper koran senior itu datang untuk sekedar berlebaran seperti tamu-tamu lainnya. Ternyata ada maksud lain. Seperti biasanya, dia datang membawa pikiran dan kegelisahan yang sudah dipendamnya berhari-hari. Soal politik. Aah Kang Narjo, sukanya bikin kepyoh pikiran orang.

"Situasi politik kita ngemar-emari lagi ya, Pak Bei," kata Kang Narjo membuka obrolan setelah saling bermaaf-maafan dan nyeruput kopi semendo yang disuguhkan Mas Cahya.

"Ngemar-emari bagaimana, Kang?," tanya Pak Bei.

"Revisi UU TNI yang seperti dipaksakan itu lho. Kesannya cepet-cepetan demi ngejar setoran."

"Wah aku tidak mengikuti soal itu, Kang."

"Berita sepenting ini masa Pak Bei gak ngikuti?"

"Enggak, Kang."

"Tapi minimal lihat di medsos video demonstrasi mahasiswa di berbagai kampus dan daerah yang menolak revisi itu, kan?."

"Baca judulnya saja, Kang. Tapi ora tak gagas. Juga gak  ikut komentar. Lha wong sama sekali tidak paham isi draft revisi itu kok. Tidak paham masalahnya."

"Tapi saya percaya, dari baca judul beritanya saja pasti Pak Bei sudah paham apa yang tengah terjadi."

"Ya enggaklah. Memangnya aku ini dukun?" 

"Waskita gitu, lho."

"Enggaklah, Kang. Sebenarnya apa to yang terjadi?"

"Intinya, Pemerintah perlu landasan hukum untuk memberi ruang yang lebih luas bagi TNI bisa berperan di pengelolaan negara. Maka UU TNI perlu direvisi, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Begitu kira-kira, Pak Bei."

"Ooh jadi maksudnya akan semakin banyak ruang bagi TNI menduduki pos-pos pengelolaan negara yang seharusnya untuk sipil, begitu?"

"Ya begitulah kira-kira. Sayangnya, revisi itu tanpa melalui proses yang transparan, tanpa melalui uji publik. Kesannya tertutup, sembunyi-sembunyi. Bahkan, dalam tempo relatif singkat sudah disahkan menjadi Undang-Undang melalui Sidang Paripurna DPR."

"Tergantung tarifnya kali, Kang."

"Maksudnya?"

"Seperti kalau kita kirim paket, kan ada tarif biasa, ada tarif kilat, ada tarif kilat khusus, dan ada tarif express. Ana rega ana rupa, tariflah yang menentukan jenis pelayanan."

"Mestinya gak boleh seperti itu, Pak Bei. Urusan negara kok kesusu, grusah-grusuh. Mau jadi apa negara ini..."

"Kan tadi Kang Narjo bilang terjadi demo di mana-mana. Banyak yang keberatan, ya?"

"Ya jelas. Makanya orang jadi curiga, jangan-jangan UU TNI hasil revisi itu hanya akal-akalan untuk mengembalikan Dwi Fungsi ABRI seperti jaman Orde Baru dulu."

"Itu tidak mungkin, Kang. Jarum jam tidak mungkin diputar kembali ke belakang. Jamannya juga sudah beda."

"Panggraita-ku juga bukan soal Dwi Fungsi itu, Pak Bei." 

"Soal apa, Kang?"

"Revisi itu diperlukan untuk meredam gejolak di internal TNI. Makanya harus cepat diselesaikan, apapun yang terjadi.

"Gejolak di internal TNI? Memangnya ada apa, Kang?"

"Wah Pak Bei ini, lho. Mbokya agak cerdas sedikit kalau membaca kahanan. Ibarat permainan puzle, ada hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya."

"TNI kita solid kok, Kang. Tidak ada gejolak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Presidennya juga Jenderal, lho."

"Semua rakyat penginnya juga begitu, Pak Bei. Sebagai rakyat, aku melihat situasinya agak mengkhawatirkan. Jadi revisi UU TNI yang terkesan cepet-cepetan itu bisa dipahami. "

"Ada gelagat kurang solid, maksudmu? Memangnya ada apa, to?"

"Ini terkait dengan munculnya Rising Star di kalangan TNI, Pak Bei. Anak muda yang 
karirnya melejit secepat kilat dan dalam tempo yang sangat singkat itu potensial menimbulkan gejolak."
 
Pak Bei sudah paham ke mana arah obrolan Kang Narjo dan siapa yang dimaksud dengan Rising Star itu. Tapi sengaja dibiarkannya sahabatnya itu menumpahkan uneg-uneg.
"Rising Star gimana maksudmu, Kang?," Pak Bei memancing.

"Sedemikian hebatnya anak muda ini, hanya butuh waktu 14 tahun berkarir di militer, dia sudah berhasil dipercaya Presiden untuk menduduki jabatan dan posisi strategis di ring-1."

"Ampuh tenan ya, Kang. Mungkin memang istimewa orangnya."

'Usianya baru 36 tahun, lho. Masih sangat muda. Padahal, tradisi kepangkatan di militer kan sangat ketat dan profesional. Seorang alumni Akmil perlu proses 30-an tahun untuk bisa mencapai level perwira tinggi. Untuk bisa mendapatkan jabatan penting, apalagi di ring-1, mereka harus sudah teruji kemampuannya, dari bertugas sebagai komandan pleton, kompi, batalion, dan penugasan-penugasan strategis seperti operasi-operasi militer, misalnya."

"Itu kan standar, Kang. Ingat lho, dalam sejarah selalu ada orang-orang istimewa."

"Contohnya?"

"Ingat Sultan Mehmed II dari Dinasti Ustmaniyah di Turki. Ketika memimpin pasukan kaum Muslimin merebut dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1463, usia Sultan Mehmed II baru 21 tahun. Anak muda itu yang sangat cerdas dan ahli strategi perang itu berhasil memimpin pasukan Islam menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur yang sudah berkuasa di Konstantinopel selama 11 abad."

"Itu perbandingan yang tidak aple to aple, Pak Bei. Terlalu jomplang. Kejauhan. Anak ini kesannya kan dumadakan, sekonyong-konyong, langsung menyalip puluhan seniornya yang sudah berdarah-darah menjalankan tugas-tugas kemiliteran, Pak Bei."

"Aku cuma ingin menunjukkan bahwa di setiap masa ada orang-orang hebat dan istimewa, Kang."

"Iya paham. Tapi anak ini belum teruji, Pak Bei. Pengalamannya masih sebatas jadi Asisten Ajudan Presiden dan Ajudan Menteri Pertahanan. Menurutku belum cukup teruji kemampuannya. Pangkatnya juga baru Mayor. Potensial menimbulkan kecemburuan dan perasaan tidak adil."

"Ingat, Kang, wong pinter kuwi isih kalah karo wong bejo, orang pandai itu masih kalah sama orang beruntung. Mungkin anak itu memang termasuk wong bejo, Kang. Orang beruntung tidak harus pandai. Kebetulan dia berada pada lingkungan dan momentum yang tepat."

"Menurut Pak Bei, bejo atau keberuntungan itu murni hadiah dari Tuhan atau ada peran bahkan rekayasa manusia?"

"Bisa dua-duanya, Kang."

"Kalau dalam kasus yang obrolkan ini, itu hadiah alias takdir Tuhan atau rekayasa manusia?"

"Kang, yang kita bicarakan ini soal politik. Jadi jelas ada faktor rekayasa manusia. Orang bisa jadi Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Anggota DPR, Ketua MK, Ketua MA, Ketua KPK, Kapolri, Panglima TNI, Direktur BUMN, Komisaris dan Direksi BUMN, itu semua ada rekayasa manusia, tentu ada proses politik yang dilalui dengan berdarah-darah."

"Tepat sekali, Pak Bei."

"Iya, kan?"

"Rising Star yang kita bahas tadi juga hasil dari proses politik. Hak prerogratif Presiden."

"Nah jelas sekali, kan? Jadi rasah dho serik, jangan pada iri. Kita doakan saja semoga anak muda itu dapat mengemban amanah sebaik-baiknya, bisa menunjukkan kinerja yang luar biasa sebagai pembantu Presiden."

"Kembali ke laptop."

"Siap, Kang."

"Itulah makanya UU TNI perlu direvisi untuk memberi peluang senior-seniornya agar bisa berperan aktif di pos-pos pemerintahan. Dengan cara itu, gejolak dan kegelisahan di internal TNI bisa diminimalisir."

"Mudah-mudahan panggraita dan analisismu itu bener, Kang," kata Pak Bei sambil melihat jam di HP-nya. "Sudah jam 23.00, Kang. Saatnya istirahat. Kapan-kapan kita sambung lagi obrolan ini, ya."

"Baiklah, Pak Bei. Saya pamit dulu. Wassalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam...," jawab Pak Bei sambil salaman dan berdiri melepas Kang Narjo menuju motornya di halaman.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#selamatberlebaran























Rabu, 26 Maret 2025

RENUNGAN MENJELANG AKHIR RAMADHAN

RENUNGAN MENJELANG AKHIR RAMADHAN

Dari Kearifan Lokal ke Budaya Pencitraan: Distorsi Nilai-Nilai Budaya Nusantara

Oleh: Wahyudi Nasution
Pegiat Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerhati Seni-Budaya, tinggal di Klaten, Jawa Tengah

Budaya Nusantara memiliki banyak filosofi luhur yang mengajarkan keseimbangan antara ucapan, tindakan, dan kehormatan diri. Salah satu yang paling terkenal adalah filosofi Jawa "Ajining diri saka lati, ajining raga saka busana", yang berarti harga diri seseorang tergantung pada tutur kata, sedangkan kehormatan fisik bergantung pada penampilan. Filosofi ini sebenarnya mengajarkan bahwa kata-kata harus mencerminkan kejujuran, dan penampilan harus mencerminkan martabat.

Namun, dalam dunia modern yang didominasi oleh kapitalisme, materialisme, dan hedonisme, nilai-nilai ini mengalami distorsi serius. Kata-kata kini lebih sering digunakan sebagai alat pencitraan, bukan sebagai ekspresi kejujuran. Penampilan luar menjadi standar utama penghormatan sosial, bukan lagi karakter dan integritas. Akibatnya, budaya lips service, konsumtivisme, dan korupsi semakin merajalela, menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Kapitalisme dan Budaya Lips Service

Kapitalisme modern sangat menekankan branding dan citra, baik dalam bisnis maupun politik. Dalam sistem ini, siapa yang bisa berbicara paling meyakinkan dan membangun citra terbaik, dialah yang memenangkan kompetisi. Konsep ini menyusup ke dalam budaya politik dan birokrasi kita, di mana banyak pejabat dan pemimpin lebih sibuk membangun narasi dan retorika daripada benar-benar bekerja untuk rakyat.

Filosofi "Ajining diri saka lati" yang seharusnya mengajarkan bahwa harga diri seseorang bergantung pada kejujuran dalam berucap, kini berubah menjadi sekadar seni manipulasi kata-kata. Kita melihat bagaimana politisi dengan mudah memberikan janji-janji manis, berbicara tentang keadilan dan kesejahteraan, tetapi tindakannya berbanding terbalik. Budaya pencitraan lebih diutamakan daripada substansi, dan masyarakat pun terbiasa dengan permainan ini.

Akibatnya, masyarakat juga mulai mengadopsi pola yang sama. Banyak orang lebih fokus pada bagaimana mereka terlihat dan terdengar di mata orang lain daripada bagaimana mereka benar-benar bertindak. Media sosial semakin memperparah fenomena ini, di mana citra menjadi segalanya, dan kejujuran menjadi sesuatu yang sekunder.

Materialisme dan Hilangnya Makna Kehormatan

Dalam budaya kapitalisme dan materialisme, seseorang dihargai berdasarkan apa yang mereka miliki, bukan siapa mereka sebenarnya. Filosofi "Ajining raga saka busana" yang awalnya mengajarkan bahwa penampilan harus mencerminkan kehormatan diri, kini justru mendorong budaya konsumtivisme.

Orang lebih dihormati jika memiliki mobil mewah, rumah megah, pakaian branded, atau gaya hidup glamor, meskipun semua itu diperoleh dengan cara yang tidak jujur. Ini menjadi salah satu pemicu budaya korupsi di semua lini, karena banyak orang yang merasa harus tampil "berkelas" agar dihormati oleh lingkungan sekitarnya. Orang berlomba-lomba untuk memiliki, menguasai, dan melipatgandakan asset. Dengan menguasai asset, segalanya bisa dibeli, termasuk hukum dan kepercayaan publik.  Orang justru akan dianggap bodoh bila tidak kaya dan tidak mau ajur-ajer dalam perlombaan ini.

Di berbagai budaya Nusantara, kita sebenarnya memiliki nilai-nilai yang menekankan keseimbangan antara kehormatan dan kesederhanaan. Misalnya:

"Siri’ na pacce" (Makassar/Bugis) mengajarkan bahwa harga diri seseorang harus dijaga dengan integritas, bukan dengan harta benda.
"Peu ucap peu ilée" (Aceh) mengajarkan bahwa ucapan dan tindakan harus selalu selaras, bukan sekadar lips service.
"Tutur kato membangun dusun" (Palembang) menekankan bahwa kata-kata harus digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi.
Namun, nilai-nilai ini semakin terkikis oleh budaya materialisme, di mana orang hanya dihormati jika memiliki simbol-simbol kekayaan.

Hedonisme dan Dekadensi Moral

Dalam masyarakat modern yang semakin hedonis, kepuasan instan menjadi tujuan utama hidup. Orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekayaan, pengakuan sosial, dan kenikmatan duniawi, tanpa peduli dengan cara mencapainya. Apapun akan dilakukan demi mendapatkan kehormatan semu.

Nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan kesederhanaan, kerja keras, dan kehormatan diri semakin terpinggirkan. Kini, banyak orang lebih mengutamakan kemewahan, hiburan, dan kenikmatan instan. Kita melihat bagaimana selebriti, influencer, dan figur publik lainnya lebih dihormati daripada para guru, ilmuwan, ulama, atau tokoh masyarakat yang benar-benar berkontribusi bagi bangsa.

Budaya ini akhirnya menciptakan generasi yang lebih mementingkan tampilan luar daripada substansi, lebih sibuk dengan pencitraan daripada membangun karakter.

Kembali ke Nilai-Nilai Luhur

Jika kita ingin keluar dari jebakan kapitalisme, materialisme, dan hedonisme yang merusak sendi-sendi kehidupan, kita harus mengembalikan filosofi budaya Nusantara ke makna aslinya:

1. Kata-kata harus selaras dengan tindakan. Jangan hanya berbicara baik, tetapi juga berbuat baik.
2. Penampilan bukan segalanya. Kehormatan sejati bukan dari pakaian mahal, tetapi dari integritas dan moralitas.
3. Hentikan budaya pencitraan. Hormatilah orang bukan karena kata-kata manis atau kekayaan mereka, tetapi karena nilai-nilai yang mereka pegang teguh.
4. Jangan terjebak dalam budaya konsumtif. Harta bukan tujuan hidup, tetapi alat untuk kebaikan bersama.
5. Kembangkan kembali nilai-nilai gotong royong. Budaya individualisme yang lahir dari kapitalisme harus diimbangi dengan semangat kebersamaan dan keadilan sosial.

Jika kita bisa menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari, maka kita bisa membangun kembali masyarakat yang lebih jujur, berintegritas, dan tidak terjebak dalam budaya kepalsuan dan korupsi.

Saatnya kembali pada fitrah, pada esensi, bukan sekadar simbol. 

Klaten, 26 Maret 2025

Minggu, 23 Maret 2025

TOPENG KAYU

"Topeng Kayu" Kuntowijoyo: Kepalsuan yang Kini Kita Rayakan

Oleh: Wahyudi Nasution

Pegiat pemberdayaan masyarakat dan seni-budaya, tinggal di Klaten, Jawa Tengah


Topeng Kayu adalah naskah drama yang ditulis oleh Kuntowijoyo pada tahun 1968, di era awal Orde Baru, ketika sistem politik dan ekonomi mulai dibangun dengan narasi stabilitas, pembangunan, dan kesejahteraan. Drama ini pernah dipentaskan oleh Sanggar Shalahuddin UGM dengan apik pada 5-6 September 1990 di Gedung Purna Budaya Yogyakarta. Bertindak sebagai sutradara Goetheng MS Fauzi, ilustrasi musik oleh Sapto Raharjo (alm.), dan penulis naskah Kuntowijoyo (alm.) bertindak sebagai supervisor.

Saat ini, setelah 57 tahun ditulis oleh Kuntowijoyo, drama ini tetap relevan untuk memotret esensi kepalsuan dalam politik, ekonomi, dan sosial budaya Indonesia yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan semakin mengakar. 

Hari ini, rakyat bukan hanya tertipu oleh topeng para pejabat dan politisi, tetapi juga telah menerima dan menikmati kepalsuan itu sebagai kebenaran. Rakyat tidak lagi bisa membedakan mana wajah asli dan mana topeng karena propaganda, pencitraan, dan manipulasi realitas sudah begitu sempurna.

Rakyat Tidak Bisa Lagi Membedakan Wajah Asli dan Topeng

Salah satu tragedi terbesar dalam politik hari ini adalah rakyat semakin sulit membedakan mana pemimpin yang benar-benar tulus dan mana yang hanya berpura-pura. Politisi yang tampil lugu, tampak ndesit, sederhana, merakyat, dan seolah peduli pada wong cilik, ternyata memiliki kepentingan bisnis besar di balik kebijakan-kebijakannya. Orang tiba-tiba tersadar betapa pemimpin yang dulu dipuja-pujinya setinggi langit bak ratu adil itu ternyata kini dihujat sebagai perusak demokrasi, pengkhianat reformasi, penjual kedaulatan negara, dan seorang nepotis sejati.

Pejabat yang berbicara tentang nasionalisme dan keberpihakan pada ekonomi rakyat, ternyata hanyalah bagian dari jejaring oligarki yang menguasai sumber daya negara. Demikian juga lembaga negara yang seharusnya melindungi kepentingan publik, ternyata malah menjadi alat untuk mengamankan kepentingan elite dan oligarki.

Akibatnya, rakyat bukan hanya menjadi korban penipuan sistematis, tetapi juga mulai menikmati ilusi yang diciptakan oleh penguasa. Mereka percaya bahwa selama ekonomi tampak stabil, harga kebutuhan pokok terlihat terkendali, dan ada janji-janji besar tentang masa depan, maka semuanya baik-baik saja, padahal di baliknya, oligarki yang mengendalikan segalanya.

Politik Pencitraan: Membentuk Realitas Palsu Tapi Menyenangkan

Media sosial dan propaganda digital semakin membuat rakyat terjebak dalam kepalsuan. Jika dulu politik pencitraan hanya dilakukan lewat media cetak dan televisi, sekarang rakyat bisa disuguhi narasi yang dikemas secara digital, interaktif, dan penuh emosi. 

Kebijakan yang gagal dikemas dengan foto-foto dan video yang memperlihatkan seolah-olah semua baik-baik saja. Ketika ada krisis ekonomi, pejabat lebih sibuk membuat konten yang menarik daripada memberikan solusi nyata. Buzzer dan influencer dipakai untuk membangun opini publik sehingga kritik terhadap pemerintah selalu dikerdilkan atau dibelokkan.

Hasilnya, politik pencitraan bukan hanya sekadar strategi komunikasi, tetapi telah menjadi mekanisme kontrol sosial yang efektif. Rakyat semakin sulit membedakan mana realitas dan mana propaganda.

Realitas Palsu, Kebijakan Yang Hanya Menguntungkan Oligarki

Kebijakan ekonomi yang dijalankan selama ini sering kali hanya menjadi alat untuk memperkaya segelintir elite. Kasus impor beras, misalnya, menunjukkan bagaimana kebijakan pangan tidak didasarkan pada kebutuhan rakyat, tetapi lebih pada kepentingan kartel dan importir besar. Demikian pada program-program yang bertopeng 'subsidi' seperti BBM Subsidi, Pupuk Subsidi, atau Rumah Subsidi, atau Bansos dan BLT, itu bukan benar-benar untuk membantu rakyat miskin dan petani, tetapi hanyalah cara oligarki melipatgandakan omset dan laba penjualan.

Kasus beberapa industri garment yang pailit hingga mengakibatkan puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan, membuktikan bahwa negara tidak berpihak pada industri dalam negeri, melainkan lebih memilih membuka pasar bagi produk luar/impor.

Krisis energi dan BBM selalu dikemas sebagai persoalan global, padahal ada peran elite yang mengambil keuntungan dari naik-turunnya harga energi. Terbongkarnya kasus Pertamax oplosan baru-baru ini menunjukkan betapa jahat dan rakusnya para direksi perusahaan BUMN terbesar itu. Selama 5 tahun mereka leluasa mencuri keuangan negara dan menipu rakyat sebagai pengguna Pertamax.

Terbongkarnya kasus pagar laut di Tangerang, Serang, Bekasi, Sidoarjo, dan di banyak tempat lainnya semakin menunjukkan betapa lemahnya negara ketika berhadapan dengan oligarki ekonomi. Anehnya, para penyelenggara negara justru menjadi subordinasi dari ulah rakus para konglomerat itu.

Di balik semua ini, yang dikorbankan tetap rakyat kecil. Buruh di-PHK, laut dipagari dan dikapling-kapling, petani dipaksa bersaing dengan produk impor, rakyat dipaksa membeli Pertamax oplosan, dan UMKM dibiarkan berguguran karena tak mampu bersaing dengan produk impor, tetapi para pejabat tetap berbicara tentang "pertumbuhan ekonomi yang stabil" dan "fundamental ekonomi yang kuat."

Rakyat Tidak Lagi Kritis: Antara Apatis dan Pasrah

Dulu, di masa Kuntowijoyo menulis Topeng Kayu, rakyat masih aktif dalam pergerakan dan diskusi kritis. Namun sekarang, kebanyakan rakyat justru memilih untuk pasrah atau apatis.

Ada dua hal yang terjadi:

  1. Sebagian rakyat merasa tidak ada gunanya melawan, karena sistem sudah dikendalikan oleh segelintir elite. Pasrah dengan keadaan.
  2. Sebagian lagi justru menikmati kepalsuan yang ada, karena ilusi kesejahteraan masih bisa dirasakan meski hanya sementara. Maka, pilihannya adalah "ikut bermain" dalam 'pertunjukan topeng kolosal' meskipun hanya berperan sebagai figuran atau tim hore-hore untuk mendapatkan sekadar remah-remah.

Keduanya berbahaya. Jika rakyat tidak lagi kritis, maka oligarki bisa semakin bebas menguasai ekonomi dan politik tanpa perlawanan. Jika rakyat menikmati kepalsuan, maka mereka akan semakin jauh dari kesadaran bahwa mereka sebenarnya sedang dieksploitasi.

Apakah Rakyat Masih Bisa Melepaskan Topeng?

Kuntowijoyo dalam Topeng Kayu sebenarnya sudah memperingatkan bahwa ketika kepalsuan dibiarkan terus-menerus, maka rakyat akan kehilangan kesadaran tentang kebenaran.

Hari ini, kita melihat bagaimana skenario itu benar-benar terjadi. Rakyat tidak hanya tertipu, tetapi juga sudah tidak lagi ingin mencari tahu siapa yang sebenarnya jujur dan siapa yang hanya bertopeng.

Pertanyaannya sekarang: Apakah rakyat masih bisa melepaskan topeng itu, atau mereka akan terus hidup dalam kepalsuan yang nyaman?


Klaten, 24 Maret 2025


Jumat, 21 Februari 2025

OPINI


'Mbalela': Antara Loyalitas dan Pembangkangan Dalam Kepemimpinan

Oleh: Wahyudi Nasution/Pak Bei, pegiat pemberdayaan masyarakat, tinggal di Klaten


Dalam tradisi budaya Jawa, istilah mbalela memiliki makna yang cukup berat. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang membangkang, tidak patuh terhadap aturan, atau menentang perintah atasan. Namun, dalam konteks politik modern, makna mbalela tidak selalu sesederhana itu. Ada kalanya tindakan yang dianggap pembangkangan justru merupakan bentuk keberanian, strategi politik, atau bahkan sikap loyalitas yang lebih besar kepada kepentingan tertentu.

Salah satu contoh menarik adalah ketika seorang kepala daerah terpilih tidak mau mengikuti retret kepemimpinan di Akmil Magelang karena instruksi dari ketua partainya. Secara normatif, ketidakhadiran itu bisa dianggap sebagai bentuk mbalela terhadap kebijakan pemerintah pusat, yang ingin memberikan pembekalan kepada para pemimpin daerah. Namun, di sisi lain, kepala daerah tersebut bisa saja menganggap dirinya sedang menjalankan kewajiban kepada partai yang telah membawanya ke tampuk kekuasaan.

Fenomena ini menunjukkan adanya tarik menarik kepentingan antara pemerintah pusat dan partai politik. Seorang kepala daerah berada di persimpangan jalan: apakah ia harus mengikuti instruksi negara sebagai penyelenggara pemerintahan, ataukah ia lebih mengutamakan perintah partai sebagai kendaraan politiknya? Dilema ini semakin kompleks ketika partai politik memiliki kepentingan berbeda dengan pemerintah pusat, sehingga keputusan untuk mbalela atau tidak menjadi lebih dari sekadar urusan pribadi, melainkan strategi politik.

Dalam sistem demokrasi, loyalitas adalah mata uang utama yang menentukan stabilitas politik. Namun, loyalitas yang berlebihan kepada satu pihak sering kali mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Jika seorang pemimpin hanya patuh kepada partai tanpa mempertimbangkan aspek kenegaraan, ia bisa kehilangan legitimasi di mata publik. Sebaliknya, jika terlalu tunduk pada pemerintah pusat, ia bisa kehilangan dukungan politik dari jaringan yang membantunya meraih kekuasaan.

Jadi, apakah seorang kepala daerah yang mbalela terhadap pemerintah pusat tetapi loyal kepada partainya bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang salah arah? Jawabannya bergantung pada sudut pandang mana yang digunakan. Dalam politik, tidak ada yang hitam atau putih—semuanya adalah perpaduan kepentingan, strategi, dan kalkulasi kekuasaan.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang baik adalah yang mampu menyeimbangkan kedua kutub ini: tetap menghormati kebijakan pemerintah pusat tanpa mengabaikan aspirasi partai dan rakyat yang memilihnya. Jika tidak, ia bisa kehilangan keduanya—dan sejarah menunjukkan bahwa mereka yang kehilangan pijakan dalam politik sering kali tidak bertahan lama.

Sikap Kita sebagai Rakyat

Sebagai rakyat, kita harus bersikap kritis terhadap fenomena ini. Jangan hanya menerima atau menolak keputusan pemimpin secara membabi buta, tetapi perlu memahami motif dan dampaknya. Kita harus aktif dalam mengawasi kebijakan yang diambil oleh kepala daerah dan menilai apakah keputusan tersebut benar-benar untuk kepentingan masyarakat atau hanya untuk kepentingan politik tertentu. Selain itu, rakyat harus berani menyuarakan pendapat melalui jalur demokratis, baik melalui media sosial, diskusi publik, atau mekanisme pemilu, agar pemimpin tetap bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Ketidakkompakan penyelenggara pemerintahan tentu hanya akan merugikan rakyat, terutama di saat negara dalam kondisi kurang baik saat ini. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan politik dan memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Seharusnya semua pejabat berhidmat pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, bukan pada kepentingan partai politik dan golongannya sendiri.

Klaten, 21 Februari 2025