Selasa, 09 Agustus 2022

UNTUNG ADA SASA

UNTUNG ADA SASA


"Assalaamu'alaikum. Piye kabare, Nda?" begitu bunyi pesan WhatsApp yang masuk tepat ketika Pak Bei selesai membuatkan kopi untuk sahabatnya, Sasa, si-juru parkir teladan nasional dari Soto Kartongali Jolotundo. Nomor pengirim WA belum dikenal, belum tersimpan di memori hp, tapi kata sapaannya 'Nda' menandakan cukup akrab. Dilihatnya foto profil pengirim pesan. Tak asing lagi, dari teman lama waktu masih aktif di kampus Bulaksumur dulu, yang sejak lulus berprofesi sebagai wartawan di media Nasional di Jakarta. Dab Wachid, begitu Pak Bei dulu memanggilnya.

"Apik, Dab. Aman terkendali, alhamdulillah," tulis Pak Bei.

Dimasukkannya HP ke saku baju, lalu  Pak Bei berjalan ke depan untuk nemui tamu sambil kedua tangannya menyangga lepek dan gelas kopi. Baru saja Pak Bei meletakkan dua gelas kopi di meja bundar dan duduk di bantal kesukannya, HP di sakunya berbunyi lagi, nada panggilan telepon WA.

"Nda, ini aku lagi di Semarang."

"Ada tugas di Semarang?'

"Iya ini, di tempat pelelangan mobil. Sampeyan butuh mobil apa? Ini mumpung ada lelangan bagus-bagus, harganya juga menarik. Mau Honda, Toyota, Mitsubhisi, Daihatsu, ada semua. Yang pick-up juga ada," sambung Wachid sembari menyebutkan beberapa contoh harga mobil lelangan.

Pak Bei bertanya-tanya, apa Wachid sekarang nyambi jadi makelar kendaraan? Apa sekarang tinggal di Semarang sehingga pakai kata sapaan 'Nda'? Atau mungkin saja dia kebetulan sedang liputan atau hunting berita di sekitar Semarang. Tapi kenapa di lelangan mobil? Apa sekarang jadi spesialis berita otomotif, bukan lagi berita sosial-budaya seperti dulu? Gak taulah, sudah hampir 5 tahun tidak ketemu Wachid, dan jarang bertukar kabar karena kesibukan masing-masing.

"Sebentar, Dab, ini aku lagi ada tamu. Sori, ya," jawab Pak Bei mengakhiri panggilan telepon Wachid. 

Baru saja Pak Bei mau mulai ngobrol dengan Sasa, panggilan masuk berdering, dari Wachid lagi. "Piye, Nda, ini mumpung ada barang bagus-bagus dan murah. Eman kalau terlewatkan," kata Wachid.

Memeng, sejak beberapa waktu lalu Pak Bei berpikir untuk nambah armada untuk operasional di Bundaco, minimal mobil pick-up untuk angkut barang kulakan dari Solo, juga untuk mengirim via ekspedisi di Kota Klaten.

"Ada pick-up apa saja, Dab?" tanya Pak Bei.

"Ini ada Grandmax dan Carry, juga ada L300."

"Berapa harga?"

"Grandmax 2021 harga 85. Carry 1.5 2020 harga 75. L300 2019 harga 90."

"Wah yang bener?"

"Sampeyan mau yang mana, tolong transfer 15 juta saja dulu untuk DP."

"Kapan?"

"Ya sekarang, masa besok. Biar bisa kuproses dulu. Ini cepet-cepetan, Nda. Siapa yang cepat dia dapat."

"Pelunasannya kapan?"

"Ya nanti kalau sudah fix kita  langsung dilunasi. Barang akan saya antar ke Klaten."

"Harus sekarang aku transfer  DP?"

"Iya, Nda. Ini cepet-cepetan."

"Oke, Dab. Nanti kukabari." Pak Bei mengakhiri pembicaraan.

"Kok nyolowadi to, Pak Bei?" kata Sasa mengomentari obrolan Pak Bei di telepon tadi. Rupanya dia sengaja nyuri dengar.

"Nyolowadi bagaimana, Sa?"

"Mencurigakan."

"Apanya?"

"Mendengar omongannya tadi, aku curiga orang itu hanya mau menipu Pak Bei."

"Kok bisa, Sa?"

"Feeling saya begitu."

"Gak mungkinlah, Sa. Itu tadi teman lamaku, lho."

"Pak Bei yakin orang tadi teman Pak Bei?" 

Pertanyaan Sasa menohok Pak Bei. Terlintas di ingatannya wajah Wachid yang dikenalnya sejak di kampus dulu. Orangnya lgugu, asli wong Bantul. Bahasanya medok Jawa Mataraman. Tapi kenapa tadi logatnya Suroboyoan, logat Ludrukan?

"Wah iya ya, Sa. Memang ada yang aneh. Mungkin benar feelingmu."

"Lah gimana, Pak Bei?"

"Pertama, kenapa Wachid ganti nomor? Kedua, Wachid itu asli orang Bantul, tapi kok omongannya tadi pakai logat Suroboyoan. Jelas ini tidak lazim, nyolowadi, aneh. Kedua, aku disuruh cepat-cepat transfer DP sekarang juga, seolah-olah aku ini lagi sangat butuh mobil."

"Terus, di ia minta transfer pelunasan kapan?"

"Nanti sebelum mobil diantar ke sini harus dilunasi dulu, katanya."

"Walah...itu cuma modus, Pak Bei. Jangan transfer DP, apalagi melunasi. Jelas itu penipuan. Kali ini Pak Bei harus percaya Sasa."

Pak Bei pun jadi penasaran dengan Wachid. Dicarinya nomor Wachid yang ada di phonebook, lalu dicoba menghubunginya via telepon. Masih aktif, nada panggilan pun masuk.

"Assalaamu'alaikum. Apa kabar, Dab Bei? Njanur gunung siang-telepon. Wonten dhawuh?" kata Wachid dengan logat Mataraman.

"Wa'alaikumsalam... Piye kabarmu, Dab? Lagi di mana ini?"

"Biasa di Jakarta, Dab. Di kantor."

"Kirain lagi di Semarang."

"Sudah lama aku gak tugas luar kota, Dab. Sejak sakit beberapa tahun lalu."

"Sakit apa?"

"Ya beginilah resiko kerja di bawah tekanan, dikejar-kejar deadline. Ginjalku kena, Dab. Gak boleh kecapekan lagi."

"Pantesan dah lama gak mampir ke rumah. Ya sudah, selamat bekerja. Jaga kesehatan, ya. Donga-dinonga."

"Siap, Dab Bei. Matur nuwun sudah telepon."

"Bener kamu, Sa. Joss tenan feelingmu. Orang tadi cuma penipu yang ngaku sebagai Wachid temanku dan pakai foto profilnya. Dia nyuri foto temanku."

"Gelagaknya sudah jelas kok,. Cetho welo-welo. Jelas cuma penipu."

"Wah untung ada kamu, Sa. Kalau tidak, pasti sudah kebobolan aku. Makasih ya, Sa."

"Jama sekarang kok, Pak Bei. Orang cari makan dan kesenangan semakin pintar dan banyak caranya. Orang berbuat jahat juga semakin canggih caranya."

"Tapi kita gak boleh shu'udhon pada orang lain lho, Sa."

"Bukan shu'udhon, Pak Bei, tapi  waspada. Harus waspada, hati-hati. Saat ini semakin banyak kejahatan mengincar kita. Nyatanya Pak Bei baru saja hampir saja kena tipu, kan?"

"Iya ya. Untung ada Sasa."

Terdengar azan dhuhur bersahutan. Sasa pun pamitan setelah menghabiskan kopinya, dan Pak Bei bersiap ikut jamaah di mesjid.

#seriakpakbei
#wahyudinasution



















Jumat, 05 Agustus 2022

KAJASHA

KAJASHA

Pak Bei baru saja selesai memberi makanan dan minuman untuk klangenannya, tiga ekor burung perkutut dan tiga ekor burung derkuku. Satu persatu kurungan telah dikembalikan pada cantelannya, tetiba terdengar dering HPnya berbunyi, notifikasi pesan WA pribadi masuk. Segera diraihnya HP di meja dan dibukanya. Dari Triyatmo, sahabatnya yang tinggal di Jogja dan sudah beberapa bulan tidak saling berkabar.

"Mampir nyoto," begitu pesan Triyatmo disertai foto suasana warung Soto Bening Boyolali di Rest Area Sartondho, warung yang digagas Pak Bei untuk menghidupkan Bumdes JEMAWAN di Jl. Klaten-Boyolali km 7. Tentu sahabatnya itu bermaksud ngabari bahwa dia sedang nglarisi soto Pak Bei.

"Oke, Nda. Sebentar lagi aku meluncur," jawab Pak Bei yang kebetulan sedang longgar tidak ada agenda keluar kota. Triyatmo memang sedang beruntung, berbeda dengan beberapa teman lain yang belum pernah bisa ketemu Pak Bei di Rest Area Sartondho.

"Nda, ayo kita ke warung nemui Om Triyatmo," Pak Bei mengajak Bu Bei yang sedang asyik dengan karyawan di workshop Bundaco.

"Om Triyatmo di warung?" tanya Bu Bei.

"Iya, dia barusan ngabari."

Tak sampai lima menit, Pak Bei dan Bu Bei sudah sampai di parkiran Rest Area Sartodho. Juru parkir menyambutnya dan  dengan sigap memandu di mana Pak Bei harus memarkir mobilnya. Segera ditemuinya Triyatmo yang sedang asyik menikmati soto non-micin bersama Mas Ifan Nuri rekan kerjanya. 

Pak Bei mengenal sahabatnya ini sejak masih sama-sama mahasiswa di UGM. Sebenarnya mereka beda fakultas dan angkatannya pun terpaut  beberapa tahun.  Triyatmo mahasiswa Teknik Mesin angkatan '89, sedangkan Pak Bei mahasiswa Sastra angkatan '85. Jadi usia Triyatmo  lebih muda beberapa tahun dari Pak Bei. Tapi karena  sama-sama aktivis di Gelanggang Mahasiswa, di Jamaah Shalahuddin khususnya, maka keduanya pun menjadi akrab dan bersahabat. Dulu, Triyatmo sempat jadi Ketua Jamaah Shalahuddin, dan Pak Bei Ketua Sanggar Shalahuddin, sayap kegiatan Jamaah Shalahuddin di bidang seni-budaya.

"Kok njanur gunung, pada mau ke mana ini?" tanya Pak Bei.

"Mau ke Semarang, Pak Bei. Ada meeting jam 13.00 nanti," jawab Triyatmo.

"Ikut nggarap jalan tol Joglosemar, to?"

"Wah enggaklah, Pak Bei. Berat."

"Berat piye?"

"Profitnya kecil, pembayarannya tempo dan rumit."

"Iya, Pak Bei. Sekarang kami pilih proyek-proyek kecil tapi pembayarannya bagus dan profitnya jelas," Mas Ifan ikut nembahi.

Pak Bei masih ingat betul, sahabatnya ini seorang enterpreuneur sejati. Sejak masih mahasiswa sudah merintis bisnis dengan teman-temannya, bergerak di bidang rekayasa mesin. Mereka punya mitra satu perusahaan cukup besar di Cilegon yang secara rutin memberi pekerjaan sebagai sub-kontraktor. Lalu, beberapa temannya setelah lulus kuliah ditarik ke perusahaan mitranya itu, ada yang jadi Dirut, manajer SDM, manajer produksi, dan sebagainya. Triyatmo memilih tetap khusyuk mengelola perusahaannya sendiri dengan segala dinamikanya. 

"Menjadi kepala ikan teri lebih nikmat daripada menjadi ekor ikan hiu," begitu prinsip Triyatmo.

Pada Reuni Akbar (lintas angkatan) Keluarga Alumni Jamaah Shalahuddin (Kajasha) di Bulaksumur sekitar empat tahun yang lalu, secara aklamasi Triyatmo terpilih sebagai Ketua Umum. Semua musyawirin mengakui kecakapan Triyatmo dalam mengelola organisasi dan diyakini akan mampu menjembatani generasi tua angkatan 70-80-an dengan generasi millenial, 90-2.000-an.

"Piye kabare Kajasha, Nda?" tanya Pak Bei.

"Belum ada progress, Pak Bei. Masih gini-gini saja," jawab Triyatmo. 

"Lha piye, to?"

"Sebenarnya sudah lama saya pengin Kajasha punya usaha, punya bisnis, atau semacam Bisnis Center, tempat semua anggota, terutama yang punya bisnis atau produk, bisa mengembangkan usahanya. Pusat bisnis itu sekaligus jadi tempat kongkow-kongkow bila teman-teman luar kota datang ke Jogja."

"Wah bagus itu. Kajasha Bisnis Center, KBC. Lebih bagus lagi kalau tempatnya bisa di kawasan Bulaksumur."

"Insya Allah bisa, Pak Bei. Aku pernah menjajaki kemungkinan Kajasha menggunakan satu-dua bagian di area Masjid Kampus. Respon dari pihak yayasan juga cukup bagus."

"Lah terus kenapa belum bisa jalan sampai sekarang?"

"Masalahnya belum ketemu ide usaha apa yang cocok untuk mengawali. Ide besar-besar banyak, tapi kesulitan dari mana mau memulainya. Maklum semua sudah punya kesibukan, dan tinggalnya banyak yang berjauhan di berbagai kota. Pak Bei ada ide?"

"Kalau ideku sih sederhana saja, Nda." 

"Apa itu, Pak Bei?"

"Mungkinkah kalau kita mulai dari buka warung soto seperti ini? Marketnya jelas potensial, lho."

"Wah cocok, Pak Bei. Kalau saya sih YES," Ifan menyahut. "Tempatnya jelas strategis. Marketnya sangat potensial. Komoditas soto non-micin ini jelas marketable. Enak tenan je. Pasti laris. Tapi ya terserah Pak Ketua," lanjut Ifan.

"Saya sih YES juga. Ide bagus Pak Bei bisa jadi alternatif. Coba kita share ke teman-teman dulu. Kalau responnya positif, kapan-kapan kita ketemu lagi untuk bikin bisnis-plannya," kata Triyatmo.

"Mas Tri," Bu Bei yang dari tadi hanya diam mendengarkan mulai ikut bicara, "Usaha soto ini kelihatannya memang sederhana, cuma warung soto. Tapi jangan salah, Mas Tri. Profitnya lumayan lho."

"Iya saya percaya, Bu Bei. Dan yang lebih penting bagi Kajasha sebenarnya soal perlunya tempat yang nyaman bagi anggota untuk bisa ketemu ngobrol-ngobrol kangen-kangenan."

"Mas Tri, kami sudah membuktikan bahwa warung soto seperti ini bisa menjadi pilihan tempat yang nyaman untuk ketemuan. Kami biasa ketemu teman-teman di sini sambil nyoto dan ngopi," kata Bu Bei. 

"Memang Bu Bei," Ifan menyahut," Sesuatu yang besar harus dimulai dari yang kecil dan sederhana. Tentu sulit bikin sesuatu yang langsung besar, apalagi bila harus melibatkan orang banyak. Usaha soto seperti ini mungkin justru bisa jadi solusi."

"Baiklah Pak Bei-Bu Bei, kapan-kapan kita sambung lagi, ya. Kita matangkan ide ini. Kami harus melanjutkan perjalanan dulu nih," kata Triyatmo sambil berdiri.

"Oke, Nda. Semoga lancar dan aman perjalanan kalian. Terima kasih sudah mau mampir menikmati soto kami."

Pak Bei dan Bu Bei pun mengantar sahabatnya itu hingga mobilnya keluar dari parkiran.

#serialpakbei
#wahyudinasution






 

















Senin, 01 Agustus 2022

JILBAB

JILBAB
(Wahyudi Nasution)

Seperti biasa ketika sedang tidak acara keluar kota, Pak Bei selalu menyempatkan nyambangi warung soto di Rest Area Sartondho JEMAWAN, Jatinom, Klaten. Rest Area milik Bumdes JEMAWAN ini digagas oleh Pak Bei bersama Pak Kades, dan pilihan usaha pertama berupa warung soto ini pun sepenuhnya digagas oleh Pak Bei dengan memanfaatkan jaringan pertemanannya yang luas. Maklum saja, Pak Bei memang  penggemar soto dari dulu. Hampir tiada hari tanpa makan soto, di mana saja dan kapan saja.

Setiap berkunjung ke warung, aktivitas Pak Bei yang utama adalah menyapa dan memperhatikan kinerja semua karyawan, dari tukang parkir, koki, pelayan, tukang cuci-cuci, hingga kasir. Untuk mengontrol kualitas masakan, tak lupa Pak Bei juga memesan semangkok soto, soto sapi atau soto ayam, dan segelas teh nasgithel. Sambil menikmati "soto tanpa micin" itu, Pak Bei bisa bertegur sapa dan beramah-tamah dengan pengunjung lain. Bila waktu dhuhur tiba, Pak Bei pun menyempatkan sholat di mushala, sekaligus untuk mengontrol kinerja tenaga kebersihan. Bila kamar mandi dan mushola kotor, tentu Pak Bei akan menegur karyawan yang giliran piket di hari itu.

Tapi betapa kaget Pak Bei ketika mau masuk kamar mandi, dari kamar sebelah makjegagik keluar seorang lalaki yang sudah sangat dikenalnya, Sasa, sahabatnya yang kerja sebagai juru parkir di warung soto Kartongali Jolotundo.

"Loh Sa, kok di sini,? tanya Pak Bei spontan.

"Hehehe....iya, Pak Bei. Mampir, mau numpang sholat," jawab Sasa yang juga tampak kaget.

"Ya sudah sana ambil wudhu dulu. Kita sholat bareng," kata Pak Bei dan langsung masuk kamar mandi.

"Sasa dari mana tadi?" tanya Pak Bei usai sholat dhuhur dan wiridan sebentar. 

"Tadi dari warung langsung ke sini, pengin ketemu dan ngobrol dengan Pak Bei?"

"Kok tumben siang-siang, Sa. Ada apa?" tanya Pak Bei sambil mengajak sahabatnya pindah duduk ke teras mushola. Pak Bei memberi aba-aba ke salah satu pelayan untuk mengantar 2 gelas teh. 

"Kita ngobrol di sini, Sa," kata Pak Bei sambil mengeluarkan rokok dan korek dari sakunya. Ada cerita apa, Sa?"

"Soal jilbab, Pak Bei."

"Weeh...ada apa soal jilbab?"

"Pengin tahu saja, tiba-tiba dalam dua hari ini kok ramai berita soal jilbab," kata Sasa sambil tangannya mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. "Orang-orang protes karena ada sekolah Negeri yang mewajibkan semua murid putrinya berjilbab. Yang satunya lagi tentang seorang tokoh politik yang menikahkan anak gadisnya pakai bahasa Arab, tetapi anak gadisnya itu tidak pakai jilbab. Orang-orang pun pada nyinyir," lanjutnya.

Pak Bei sudah menangkap yang maksud sahabatnya. Pasti itu kasus yang terjadi pada satu SMAN di Bantul dan satunya lagi peristiwa mantu Gubernur DKI yang dihadiri tokoh-tokoh politik Nasional itu.

"Berita gitu saja kok digagas, Sa. Mbokya biarin saja. Besok juga akan hilang dan ganti berita lain lagi."

"Bukan begitu, Pak Bei. Kali ini saya jadi pengin tahu pendapat Pak Bei soal jilbab. Pak Bei kan juragan jilbab, punya usaha konveksi aneka jilbab. Masa tidak terusik ada berita miring soal jilban begitu?"

"Aku biasa saja, Sa."

"Jujur sajalah. Bagaimana Pak Bei melihat peristiwa seorang siswi yang protes karena diwajibkan berjilbab itu? Banyak orang yang ikut mengecam aturan sekolah itu, lho?"

"Ya biarin saja, Sa. Lha wong pekerjaan orang yang protes itu memang mencari-cari masalah yang bisa dikecam di media agar jadi terkenal, lha kok digagas. Biasanya mereka hanya ingin kondang seolah-olah pembela hak kaum minoritas, Sa."

"Kok Pak Bei sinis begitu?"

"Bukan sinis, Sa. Tapi jaman memang sudah berubah."

"Maksudnya?"

"Dulu jaman aku masih sekolah di SMA Negeri, semua murid pakai seragam tapi modelnya tidak diatur. Semua pakai  lengan pendek. Siswa pakai celana panjang, dan siswi pakai rok pendek di atas lutut, bahkan ada yang lebih pendek lagi hampir setinggi sidratul-muntaha. Temanku yang cowok dan ndugal suka pura-pura ngambil pensilnya yang sengaja dijatuhkan agar bisa ngintip paha teman-teman cewek."

"Wah asyik ya. Dulu nasibku lulus SMP terus kerja jadi kernet angkot, gak neruskan sekolah."

"Bayangkan saja, Sa, betapa kasihan Pak Guru jaman dulu. Sering pas lagi asyik nerangkan pelajaran, tetiba pandangannya terantuk pada paha mulus muridnya yang lagi terbuka. Ngelu ndhase, Sa. Pusing kepala. Pak guru juga manusia. Manusia biasa."

"Kan malah seneng, Pak Bei."

"Sa, sekolah itu bukan hanya tempat belajar ilmu, tapi juga tempat belajar adab dan kesopanan. Sudah sewajarnya pihak sekolah membuat aturan guna melatih anak didiknya lebih beradab dalam  penampilan dan pergaulan."

"Ya tapi pihak sekolah kan harus menghormati juga hak-hak muridnya, Pak Bei. Tidak boleh melarang dan memaksakan aturan. Inilah yang bikin orang tua suka protes."

"Gampang itu, Sa. Kalau ada orang tua yang keberatan anaknya diatur dengan aturan-aturan di sekolah, suruh saja bikin sekolah sendiri atau diajari sendiri di rumah. Kan ada yang namanya home-schooling. Anaknya akan lebih bebas merdeka."

"Wah susah, Pak Bei."

"Sa, sekali lagi jaman sudah berubah. Jaman sekarang, anak gadis pakai rok pendek dan baju ketat itu sangat tidak sopan. Aurat itu harus ditutup, jangan dipamer-pamerkan, biar tidak hilang cahayanya. Bila sering diumbar, cahaya aurat akan pudar, jadi luntur keindahannya."

"Rambut di kepala perempuan itu termasuk aurat apa bukan to, Pak Bei? Kok sampai ada sekolah mewajibkan siswinya pakai jilbab? Di sisi lain, banyak juga gadis-gadis muslimah yang tidak pakai jilbab, seperti anak Gubernur yang nikah kemarin itu, misalnya."

"Sa, tolong dibedakan antara kasus sekolah yang berusaha mendidik murid-muridnya adab dan sopan-santun dengan pilihan seseorang dalam penampilannya sehari-hari."

"Maksudnya, Pak Bei?"

"Sa, ini kita ngobrol soal adab, lho, bukan soal hukum atau fikih. Soal sekolah tadi sudah jelas, kan? Itu soal aturan sekolah yang berusaha mendidik anak-muridnya agar bisa menjaga adab dan kesopanan. Namanya juga sekolah."

"Iya, Pak Bei. Sudah wijang."

"Soal penampilan keseharian, tentu kita akan melihatnya dari kacamata adab dan kesopanan juga. Ada perempuan yang pakai busana muslimah lengkap termasuk jilbab atau penutup kepala, tapi kurang beradab penampilan pergaulannya."

"Ada juga, to?"

"Banyak, Sa. Bahannya tipis, modelnya ketat lagi. Itu bikin ngelu yang melihatnya."

"Jadi tampak ting pecothot ya..."

"Banyak juga yang pakai baju longgar dan jilbab besar, syar'i katanya, tapi perilaku kesehariannya kurang baik dengan tetangga, dengan teman, dan dengan saudaranya, juga kurang santun pada anak-anak yatim dan fakir-miskin. Mereka tampak kaku dalam pergaulan, tidak ramah, karena lebih cenderung asyik memburu surganya sendiri."

"Terus yang mbuldhus kepalanya tidak berjilbab bagaimana, Pak Bei?"

"Sa, penampilan seseorang itu biasanya berdasarkan keyakinan dan keimanannya. Ada yang meyakini rambut di kepala itu bukan termasuk aurat sehingga memakai jilbab tidak wajib.  Sebagian lainnya meyakini bahwa memakai jilbab itu wajib bagi setiap perempuan. Tapi, Sa, inti hidup itu pada akhlaq. Akhlaq kita baik atau tidak dalam hubungan dengan Tuhan dan dalam hidup sehari-hari, dalam bermuamalah."

"Terus, kalau Pak Bei sendiri cenderung yang mana? Yang pakai jilbab atau tidak?"

"Saya, Sa?"

"Iya."

"Ya jelaslah, saya termasuk yang tidak mau pakai jilbab."

"Ya iyalah. Kalau pakai jilbab, panggilanmu jadi Bu Bei, bukan Pak Bei....wkwkwk"

Sasa tampak sudah lega dan bisa tertawa. Pak Bei pun harus pulang ganti ngurus pekerjaan di rumah. Kedua sahabat glenak-glenik itu pun berpisah.

#serialpakbei

































Rabu, 27 Juli 2022

MUKTAMAR KE-48

MUKTAMAR KE-48

"Pak Bei dari mana pagi-pagi kok sudah kelihatan capek?" tanya Sasa katika Pak Bei baru turun dari mobil.

"Dari Tawangmangu, Sa? Kurang tidur," jawab Pak Bei sambil masuk ke warung Soto Kartongali Jolotundo. Sasa pun mengantar sahabatnya dan menemani duduk di meja depan dapur. Pak Bei langsung pesan soto dan teh nasgithel. Satu porsi untuk Pek Bei sendiri dan satu porsi untuk Sasa sahabatnya.

"Piknik kok sendirian to, Pak Bei? Nginap lagi."

"Cuma nginap semalam, tapi bukan piknik, Sa."

"Loh, ke Tawangmangu kalau bukan piknik terus apa, Pak Bei?"

"Rapat, Sa."

"Rapat apa? Politik?"

"Ya bukanlah, Sa. Aku kan bukan orang politik."

"Ya siapa tahu Pak Bei ikut trend nyiapkan Calon Presiden untuk Pemilu 2024 nanti?"

"Walah, Sa. Politik kan sudah banyak yang ngurusi. Bahkan saling berebut peran. Rebutan investasi untuk masa depan."

Mbak-mbak pelayan datang mengantar soto dan teh pesanan Pak Bei. Dua sahabat itu pun langsung sibuk dengan botol kecap, sambel, dan sendok masing-masing. Sambil menikmati soto, Sasa membuka obrolan lagi.

"Lha terus Pak Bei rapat apa jauh-jauh ke Tawangmangu? Pas musim dingin lagi. Pasti dingin banget di sana."

"Rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo, Sa."

"Ooh iya, ya. Mau ada Muktamar di Solo. Jadinya kapan, Pak Bei? Harusnya sudah Juli 2020 lalu, ya?"

"Betul, Sa. Karena pandemi covid-19, Muktamar tertunda hingga 2,5 tahun, dan Insya Allah baru akan terlaksana tanggal 18-20 November 2022 nanti.

"Berarti tinggal 3 bulanan lagi, ya. Wah pasti panitia sudah sibuk sekali."

"Ya iyalah, Sa. Sebagai tuan rumah, wajar kalau panitia kerja keras menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal agar Muktamar nanti sukses."

"Iya, Pak Bei. Saya paham. Namanya juga Muktamar, musyawarah terbesar. Muhammadiyah duwe gawe besar."

"Bener, Sa. Diperkirakan akan hadir tamu  dari seluruh penjuru Tanah Air dan Luar Negeri sekitar 3 juta orang Muktamirin, Penggembira, dan Tamu Undangan. Jutaan orang akan tumplek-blek ke Solo, dan semua tamu harus kita layani dengan sebaik-baiknya."

"Wah pasti Solo nanti luar biasa ramai ya, Pak Bei."

"Ya pasti, Sa. Ini sudah ada beberapa daerah yang ngabari akan hadir ribuan orang. Sekedar contoh, dari Sulawesi Selatan saja akan hadir 15.000 orang Penggembira. Entah berapa kapal PELNI yang akan dicarter dari Makassar-Surabaya PP, lalu berapa puluh bus akan dicarter dari Surabaya-Solo PP. Salah satu Cabang di Gresik juga ngabari akan hadir 15 bus. Dari salah satu Ranting di Surabaya juga akan hadir 7 bus. Itu baru cantoh yang sudah ngabari panitia, Sa."

"Wah terus jutaan orang nanti mau nginap di mana, Pak Bei?"

"Hampir seluruh hotel di Solo sudah kita booking, Sa. Gedung-gedung sekolah Muhammadiyah juga siap difungsikan sebagai penginapan bagi para Penggembira. Rumah-rumah warga juga siap menampung tamu. Insya Allah amanlah, Sa."

"Saya percaya, Pak Bei. Untuk urusan seperti ini Muhammadiyah sudah cukup berpengalaman."

"Yang penting persiapan panitia semaksimal mungkin, Sa."

"Pak Bei sendiri ngurusi apa di kepanitiaan?"

"Aku kebagian ngurusi Seksi Syiar, Sa."

"Seksi Syiar? Apa itu?"

"Seksi yang bertugas mensyiarkan Muktamar, Sa. Ada 6 kegiatan menarik untuk diikuti masyarakat."

"Apa saja itu?"

"Pertama, Apel Kesiapan yang akan kita adakan pada 24 September 2022. Acara ini untuk menunjukkan kesiapan seluruh Panitia, warga Muhammadiyah, dan Pemerintah Surakarta menyelenggarakan Muktamar dan menyambut tamu."

"Terus apa lagi?"

"Tabligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat pada 8 Oktober 2022 di Edutorium UMS. Acara ini akan dihadiri ribuan jamaah dan dapat disaksikan secara daring dari seluruh penjuru dunia."

"Wah menarik ini. Saya boleh hadir gak, Pak Bei?"

"Boleh, Sa. Hadir saja ramai-ramai ke Solo. Ajak teman-teman dan jamaah mesjidmu untuk menimba ilmu."

"Siap, Pak Bei. Terus ada acara apalagi?"

"Gowes Virtual."

"Apa itu?"

"Lomba gowes secara daring, Sa. Lomba ini bisa diikuti oleh penggemar gowes dari manapun, seluruh dunia, dan akan menjadi lomba gowes dengan peserta terbanyak."

"Wah asyik itu. Semua peserta hadir ke Solo begitu?  

"Ye enggaklah, Sa. Namanya juga Gowe Virtual. Peserta cukup bersepeda di daerahnya masing-masing dengan jarak tempuh 48 km. Angka ini sesuai dengan Muktamar yang ke-48. Waktunya bulan September-Oktober 2022, terserah mau ambil tanggal berapa yang penting peserta sudah terdaftar dan mengaktifkan STRAVA agar jarak tempuhnya bisa dimonitor Panitia."

"STRAVA itu apa, Pak Bei?"

"Itu aplikasi agar Panitia bisa memonitor secara virtual jarak tempuh peserta. Aplikasi ini bisa didownload dari Playstore. Oya, Sa, pesertanya bukan perorangan, lho, tapi kelompok terdiri dari 5 orang anggota."

"Ooh jadi persertanya berkelompok 5 orang, ya. Baik, akan saya infokan ke para pegowes yang biasa mampir nyoto di sini. Terus kegiatan apalagi, Pak Bei?"

"Lomba Kreatif, Sa. Ada 4 jenis lomba: 1. Lomba Cover Lagu Themesong Muktamar, 2. Lomba bikin Desain Ucapan Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48, 3. Festival Baca Al-Quran, dan 4. Lomba Dai Cilik.

"Itu lomba untuk umum, Pak Bei?"

"Untuk pelajar dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan Umum."

"Apalagi, Pak Bei?"

"Muktamar Talk bersama Mata Najwa dan Narasi TV dengan narasumber Ketum PP Muhammadiyah, Ketum PBNU, dan lain-lain. Bertempat di Edutorium UMS tanggal 10 November 2022."

"Wah menarik. Itu nanti seperti yang sering kita lihat di TV dengan presenter Najwa Shihab yang pinter itu, ya?"

"Iya, Sa."

"Kalau saya pengin datang boleh gak, Pak Bei?"

"Boleh saja. Tapi tentu audiens yang masuk ke ruangan akan diatur sesuai dengan kebutuhan broadcasting, Sa."

"Terus kegiatan apalagi Pak Bei? Itu tadi baru 5."

"Nah ini kegiatan Syiar yang terakhir: Malam Mangayubagyo, tanggal 18 November malam di halaman parkir Edutorium UMS."

"Malam Mangayubagyo itu apa, Pak Bei?"

"Ini acara penyambutan 'Selamat Datang' yang diselenggarakan oleh Panitia untuk para Musyawirin dan Penggembira, Sa. Acara ini akan dimeriahkan oleh Metronome Band dari Semarang, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, LETTO dari Yogyakarta, dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah gayeng tenan ini. Masyarakat umum boleh datang gak?"

"Boleh banget, Sa. Silakan datang ikut menikmati acara ini. Oya, di acara itu nanti juga akan dilakukan Penyerahan Anugerah Kebudayaan dari PP Muhammadiyah untuk 3 Maestro Keroncong Solo, yakni Pak Gesang (alm.), Bu Waldjinah, dan Didi Kempot (alm.). Ketiganya dipandang sebagai seniman musik asli Solo yang sudah berjasa besar bagi perkembangan musik keroncong di Tanah Air."

"Alhamdulillaah, bagus banget itu, Pak Bei."

"Maksudmu?"

"Ya mumpung Muktamarnya di Solo, jadi sekalian aja Muhammadiyah memberikan penghargaan untuk seniman-seniman besar dari Solo. Nanti kalau Muktamarnya di kota lain juga bagus kalau bisa ada agenda yang sama, memberi penghargaan pada seniman setempat."

"Ada juga kegiatan menarik untuk dikunjungi, Sa."

"Apa, Pak Bei?"

"Selama Muktamar nanti akan diadakan Bazar UMKM dan Expo karya-karya inovatif dari Sekolah-Sekolah, Perguruan-Perguruan Tinggi, dan Lembaga-Lembaga Muhammadiyah. Bazar UMKM nanti akan diikuti 500an stand pelaku usaha yang menampilkan aneka produk."

"Jadi seperti Pasar Rakyat ya, Pak Bei. Bagus itu. Semua Muktamirin dan Penggembira tentu butuh oleh-oleh. Semoga semua peserta Bazar sukses menjual produknya." 

"Iya, Sa. Semoga sukses semua. Aku pulang dulu ya, Sa. Mau istirahat. Istriku tentu juga sudah nunggu-nunggu."

"Njih, Pak Bei. Terima kasih informasi dan traktirannya. Salam untuk Mbakyu di rumah."

Pak Bei menuju kasir, mambayar makanan, dan langsung pulang. 

#serialpakbei






















Rabu, 20 Juli 2022

SASA RINDU DEMO

SASA RINDU DEMO

"Kalau melihat kahanan negeri kita saat ini, bagaimana menurut Pak Bei? Apa yang mungkin akan terjadi?," tanya Sasa yang tiba-tiba duduk di samping Pak Bei yang baru asyik menikmati soto.

"Kahanan apa maksudmu, Sa?"

"Ya kahanan negara kita saat ini."

"Baik-baik saja, kok."

"Baik-baik saja bagaimana to, Pak Bei? Jelas semakin mengkhawatirkan, lho."

"Apanya yang mengkhawatirkan? Gak usah baper, Sa. Gak usah kagetan. Slow wae," kata Pak Bei sambil asyik menghabiskan soto di mangkuknya.

"Wah gimana, ya. Mau bilang apa kalau hidup seakan terus-menerus dibayang-bayangi hantu, Pak Bei?"

"Hantu? Apa maksudmu?"

"Sejak pandemi covid-19 kita dioyak-oyak dan ditakut-takuti harus ikut vaksin. Pas mau Idul Adha kemarin, sapi-sapi milik petani-peternak pada mati bergelimpangan tiap hari karena virus PMK. Ibu-ibu harus rela antri panjang hanya untuk beli minyak goreng murah karena harga di pasaran membumbung tinggi. Perajin tahu-tempe kesulitan cari bahan baku, kedelai. Harga BBM dan listrik PLN tiba-tiba naik. Anak-anak sekolah juga dipaksa beli bahan seragam di sekolah dengan harga sangat mahal." Tampak Sasa masih mengingat-ingat masalah yang dilihat dan dirasakannya.

"Terus apalagi, Sa?"

"Lha ini malah ada lagi drama seorang polisi ditembak mati oleh sesama polisi di rumah dinas seorang petinggi polisi, lalu keluarganya tidak terima dan lapor polisi. Ini lakon apa, Pak Bei?"

"Terus apalagi?"

"Para menteri dan politisi sibuk membangun koalisi menghadapi Pilpres 2024, majang foto di jalan-jalan seakan mereka orang penting dan telah berjasa besar bagi rakyat. Ngrai gedhek semua, gak punya malu. Tiap hari pidato dan ngomong ke wartawan dan media seolah mereka orang hebat, padahal sebenarnya tidak punya prestasi apa-apa selama menjadi pejabat. Tapi rakyat diyakin-yakinkan tiap hari bahwa dia hebat, dan di Pemilu nanti rakyat mau memilihnya."

"Terus....," Pak Bei sudah menghabiskan sotonya, lalu nyeruput teh nasgithel dan menyulut rokok kreteknya.

"Rakyat kok cuma dibohongi dan dianiaya terus-terusan. Saya jadi khawatir ini akan jadi peristiwa besar seperti tahun 97-98, Pak Bei."

"Maksudmu Pemerintah kita jatuh, begitu?"

"Ya itu yang saya khawatirkan."

"Ah kamu saja yang berlebihan, Sa. Kejauhan pikiranmu. Mustahil itu."

"Ya makanya saya tanya Sampeyan, Pak Bei. Bagaimana kita memahami kahanan ini?"

"Kalau menurutku, Sa, kecil kemungkinan Presiden kita jatuh sebelum habis masa jabatannya."

"Kok bisa, Pak Bei? Lha wong tidak punya wibawa gitu kok. Sering tindakannya hanya jadi bahan guyonan anak-anak kecil."

"Tentu Sasa masih ingat, dulu ketika Presiden kita jatuh, itu karena ada kekuatan rakyat dan mahasiswa yang sama-sama gelisah pengin ada perubahan, lalu ada seorang tokoh yang berani tampil dengan segala resikonya memimpin demo berjilid-jilid di berbagai daerah yang terus menyuarakan reformasi. Lha sekarang...mana ada, Sa? Yang ada saat ini hanya para politisi yang masing-masing punya agenda dan harapan bisa ganti jadi penguasa, ganti menguasai aset negeri ini, atau bahkan dia hanya boneka yang dimainkan oleh kekuatan kapital di belakangnya. Gak ada negarawan yang sungguh-sungguh berjuang untuk rakyatnya."

"Wah Pak Bei kok pesimis gitu sih.?"

"Bukan pesimis, Sa. Ini kenyataan."

"Kalau soal polisi ditembak polisi di rumah polisi tadi bagaimana, Pak Bei?"

"Wah gimana ya, Sa. Sekali lagi ini hanya soal adakah orang yang sungguh-sungguh mau dan berani ambil resiko memperbaiki negeri ini. Kalau ternyata tidak ada, toh nanti pelan-pelan rakyat juga akan lupa dengan sendirinya. Rakyat ini gampang dialihkan perhatiannya ke kasus-kasus lain yang juga gampang diadakan, Sa."

"Maksud, Pak Bei?"

"Rakyat ini gampang lali, gampang lupa, gampang emaafkan. Sudah jelas koruptor dan merampok harta negara bertrilyun-trilyun saja, kalau suatu saat dia datang pakai peci dan memberi bantuan ke pesantren, misalnya, rakyat akan memaafkan dan berebut mencium tangannya, kok. Iya, kan?"

"Iya juga ya, Pak Bei. Wah kalau begini, saya jadi kangen pengin ikut demo lagi seperti demo 411 dan 212 dulu."

"Untuk apa, Sa?"

"Setidaknya saya pengin ikut menyadarkan rakyat bahwa setuasi rusak-rusakan ini harus diperbaiki bersama-sama."

"Bagus itu. Kudoakan semoga keinginanmu terlaksana. Aku hanya bisa nyangoni slamet, Sa. Dah ya aku pulang dulu. Kerja, Sa. Kerja. Kerja."

"Siap, Bei. Matur nuwun obrolannya."

Pak Bei pulang untuk mengurus pekerjaannya. Sasa pun kembali ke depan warung, mengatur parkir kendaraan pengunjung Soto Kartongali dengan properti seperti biasanya: sempritan, bendera kecil-lusuh, dan balok pengganjal ban mobil.

#serialpakbei










Sabtu, 09 Juli 2022

JAGAL

JAGAL

"Pangapunten, Pak Bei, saya mau nggenahke," kata Sasa setelah dipersilakan duduk. Tumben Sasa datang pagi-pagi ketika Pak Bei sedang bersih-bersih halaman. 

"Nggenahke soal apa, Sa?" 

"Kemarin ada orang cerita katanya Pak Bei yang jadi jagal sapi kurban di kampung ini."

"Bukan hanya aku, Sa. Ada 3 Jagal di sini, aku salah satunya. Kemarin kami nyembelih 10 ekor sapi. Memangnya kenapa, Sa?"

"Penasaran saja, Pak Bei."

"Kenapa penasaran?"

"Lah setahuku dari dulu Pak Bei ini orangnya lembut, gak tegaan, bahkan gak suka melihat darah. Kok berani jadi jagal? Apa memang sekarang sudah berubah?"

"Hahaha....berubah bagaimana? Aku masih seperti yang dulu, Sa," kata Pak Bei sambil beranjak ke dapur membuatkan kopi sahabatnya. 

"Lha wong cuma soal nyembelih hewan kurban saja kok Sasa sampai keroyo-royo datang pagi-pagi untuk klarifikasi. Apa masalahnya? Apa ada yang salah?" Pak Bei bertanya-tanya dalam hati sambil membuat kopi di dapur.

"Begini lho, Pak Bei. Selama ini orang beranggapan bahwa jagal itu orang yang punya watak keras dan tegelan, tegaan, bukan hanya pada hewan, tapi juga pada sesama manusia," kata Sasa sambil menikmati kopi panas yang baru disuguhkan Pak Bei. Tampak tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok kretek dan menyulut satu batang. Asap putih bergumpal-gumpal mulai mengepul dari bibirnya yang hitam menghiasi  teras nDalem Pak Bei. Matahari merah tampak menyembul dari timur, tepat dari balik Gunung Lawu yang tampak biru di kejauhan. "Srengengene wis mlethek, begitu kata orang Jawa. Matahari sudah terbit.

"Lalu apa masalahnya kalau aku jadi jagal kurban, Sa?"

"Sebenarnya ya gak apa-apa, Pak Bei. Aku justru semakin yakin bahwa jagal kurban itu beda dengan jagal manusia."

"Maksudnya?"

"Pak Bei dipilih oleh masyarakat jadi jagal kurban pasti bukan karena Pak Bei ini orangnya sadis dan tegalan, tapi karena dipandang mampu nyembelih hewan kurban sesuai syariat. Ini bukan berarti Pak Bei tidak punya peri-kebinatangan, suka menyiksa binatang, tapi semata-mata karena dipandang mampu menyembelih hewan secara baik dan benar."

"Wah kok adoh temen analisismu, Sa."

"Ya terpaksa mikirku sampai ke sana, Pak Bei."

"Kok terpaksa. Memang ada apa?"

"Aku betul-betul gak habis pikir, bahkan tersinggung, kok ada orang yang berani terang-terangan menuduh umat Islam itu sadis, tidak punya peri-kebinatangan, suka menumpahkan darah, lalu berpesta pora memakan daging hewan yang dicincangnya ramai-ramai. Karena pemakan daging, makanya umat Islam gampang emosi, sumbu pendek, anaknya banyak, dan suka poligami. Jelas ini tuduhan yang tidak main-main, Pak Bei."

"Memang ada orang yang berpikiran seperti itu, Sa?"

"Walah Pak Bei pasti juga pernah bahkan sering baca di medsos. Jangan pura-pura gak tahulah. Banyak orang yang benci Islam, Pak Bei, bahkan berani terang-terangan menghina agama kita."

"Lha terus bagaimana, Sa? Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan soal ujaran kebencian dan menebar kebohongan kan itu soal hukum. Sudah ada yang kawogan, berkompeten. Aparat penegak hukum yang harus gerak cepat agar tidak semakin rusak persatuan dan kesatuan bangsa ini."

"Ya itulah, Pak Bei. Anehnya, para pembenci itu justru mingkem alias diam saja menyaksikan jutaan rakyat tercekik lehernya karena kebijakan politik yang salah. Banyak orang miskin dan  kelaparan, anak-anak kurang gizi dan stunting. Mereka diam saja. Bukankah pemerintah,  pejabat, dan politisi yang mengambil kebijakan salah itulah yang jauh lebih sadis dari jagal hewan kurban, Pak Bei? Lha kok malah dho mingkem?"

"Wah gak tahu aku, Sa. Yang kutahu hanya sederhana, bahwa kita berkurban itu melaksanakan perintah agama, sedangkan menganiaya dan membunuh sesama manusia itu warisan si-Qabil anak Adam yang rakus, tamak, dan bersahabat dengan iblis."

Tampak matahari di timur laut sudah tidak berwarna merah lagi, posisinya sudah agak naik. Udara pagi terasa lebih hangat. Itu pertanda Sasa harus segera pamit untuk menunaikan tugasnya sebagai juru parkir warung Soto Kartongali Jolotundo. Pak Bei pun harus kembali ke halaman menyelesaikan tugas paginya, menyapu dedaunan kering yang berceceran.

#serialpakbei










Jumat, 08 Juli 2022

SASA BINGUNG


SASA BINGUNG

Sasa memang jindul tenan kok. Gak empan papan. Seenaknya sendiri. Maksud Pak Bei cuma pulang sebentar, sekedar mandi, ganti baju, dan ngambilkan beberapa barang pesenan Bu Bei yang lagi bed-rest di Rumah Sakit. Tak lupa sebelum berangkat ngopi dulu segelas agar mata kemepyar tidak ngantuk. Meski badan terasa capek, tapi Pak Bei tetap harus tampil prima dan full-smile agar Bu Bei gembira hatinya dan semangat untuk sembuh.

Tapi apa boleh buat, sore ini Pak Bei gak bisa cepat-cepat kembali ke RS karena Sasa tiba-tiba datang. Untuk sahabatnya yang satu ini, kadang memang Pak Bei lebih sering tidak berdaya menolak kehadirannya.

"Pak Bei, jadinya jamaah mesjid kampung kami akan ikut Idul Adha besok pagi, Sabtu tanggal 9 Juli," kata Sasa setelah nyucup kopi panas yang baru kusuguhkan.

"Looh...katamu mau ikut keputusan Pemerintah tanggal 10 Juli?"

"Ya memang kemarin begitu, Pak Bei. Hari ini pun kami tidak puasa Arafah."

"Kenapa mau ikut sholat Ied besok?"

"Gara-gara ini lho, Pak Bei," Sasa menunjukkan dua foto di HP-nya.

"Dapat dari mana foto ini, Sa?"

"Tadi siang habis sholat dhuhur, beberapa pemuda ribut di serambi mushola. Waktu kudekati, ternyata mereka ngobrol soal foto ini. Lalu mereka tanya ke aku, kapan jadinya mau Idul Adha."

"Terus bagaimana jawabanmu?"

"Kubilang ke mereka, kalau jelas sudah ada bukti seperti ini, aku cenderung lebih percaya keputusan yang pertama."

"Maksudnya?," tanya para pemuda

"Kalender dan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri ini sudah dibuat lebih dulu, maka lebih jujur dan tanpa tendensi politik.
Maka saya lebih percaya itu," kataku pada mereka.

"Jadinya kita akan ikut Idul Adha besok ya, Lek Sas. Kalau begitu jamaah harus dikasih tahu."

"Silakan diumumkan."

"Sa, kalender dan SKB itu kan itu dibuat jauh sebelum ada sidang isbat. Jadi masih bisa dikoreksi," kata Pak Bei.

"Kalau masih bisa dikoreksi mbok gak usah diumumkan tanggalnya. Kasih aja keterangan "menunggu hasil sidang isbat". Tapi kan tidak, Pak Bei. Yang kalender ini juga tidak ada catatan seperti itu. Jelas sekali tanggal merahnya 9 Juli kok."

"Wis sak karepmu, Sa. Itu soal kemantapan hati. Kalau aku jelas, hari ini puasa Arafah dan besok pagi bertugas jadi Khotib Sholat Ied."

"Itu kan Pak Bei. Lha kalau kami, hanya orang-orang desa yang masih minim ilmu agama. Kami hanya bisa berharap Pemerintah membuat keputusan yang menenteramkan dan membahagiakan, bukan malah membingungkan rakyatnya."

"Ya bilang saja pada wakilmu di DPR, Sa. Dulu kalian milih siapa dan dari partai apa? Merekalah yang berkewajiban menangkap dan memperjuangkan aspirasi pemilihnya agar keputusan apapun yang dibuat bersama Pemerintah tidak membingungkan atau bahkan merugikan rakyatnya."

"Walah, Pak Bei ini kok kaya tidak tau saja."

"Tidak tau bagaimana?"

"Lah waktu Pilpres, Pileg, Pilgub, dan Pilkada, rakyat ini milih siapa kan tergantung amplop yang dibagikan para calo. Kami hanya manut hasil nyang-nyangan Pak Lurah, Pak RW, dan Pak RT dengan para calo."

"Ya sudah kalau begitu. Gak usah disesali. Gak usah bingung. Gak usah nanya ke aku. Aku ini juga sama dengan kalian, cuma rakyat biasa, gak bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."

"Aku ini cuma curhat kok, Pak Bei. Ke mana lagi Sasa mau curhat kalau tidak ke Pak Bei sahabat paling setia?"

"Halaah...wis kana ndang balio. Aku mau balek ke RS dulu. Istriku sudah menunggu dari tadi."

"Njih siap, Pak Bei. Salam untuk Bu Bei, semoga lekas sehat bugar kembali...aamiin."

Sasa pamit pulang setelah menghabiskan kopinya. Pak Bei pun langsung tancap gas ke RS untuk kembali ngancani Bu Bei.

#serialpakbei