Sabtu, 28 April 2018

KUNGKUM

KUNGKUM

“Jaman sekarang kok masih ada orang kumkum ya, Om,” Sasa tiba-tiba mendekatiku sambil bergaya ngemasi piring dan gelas kotor di meja.

“Kumkum piye, Sa?,” tanyaku sambil terus menyantap soto yang tinggal beberapa sendok lagi.

“Kungkum itu ya berendam, Om. Berendam di umbul, belik, atau di kedung dari tengah malam hingga menjelang shubuh, atau sekuatnya. Katanya supaya hajatnya terkabul.”

“Mosok to, Sa? Kamu lihat sendiri?”

Sasa pun bercerita bahwa tadi malam dia sengaja ke umbul di dekat rumahnya karena penasaran mendengar beberapa sepeda motor lewat sebelah rumahnya menuju umbul. Sasa khawatir, kebiasaan remaja-remaja nakal yang dulu diusirnya itu kini kambuh lagi, kembali berpesta wedang pekok alias ciu hingga teler di tempat tersembunyi dekat umbul. Sasa sudah bersiap mengusirnya lagi dengan gaman seadanya. Tapi ternyata bukan. Kali ini beda. Ada sekitar 5 orang pemuda usia 30-an tahun, tanpa suara percakapan sedikitpun, mereka langsung melepas baju dan celana panjangnya lalu masuk ke dalam kolam dan duduk bersila. Hanya leher dan kepalanya saja yang tampak di atas air. Sepi dan hening.

“Nglakoni, Om. Tirakat. Supaya hajatnya terkabul.”

“Kamu sempat tanya gak, apa hajat orang-orang itu?,” tanyaku sambil nyruput teh nasgithel.

“Jelas kutanyai to, Om. Katanya, besok pagi mereka akan mengikuti ujian calon Perangkat Desa. Mereka juga minta kubantu doa supaya hajatya terkabul.”

Aku jadi teringat, saat ini memang sedang ada rekrutmen besar-besaran calon Perangkat Desa se-Kabupaten Klaten. Ceritanya, ada banyak Desa yang mengalami kekosongan jabatan Sekdes, Kadus, Kaur, dan Kasi. Total ada sekitar 960an kursi kosong. Untuk mengisi kekosongan itu, maka dilakukanlah rekrutmen secara serentak, melibatkan tim penguji dari beberapa perguruan tinggi. Lowongan kerja ini rupanya sangat menarik bagi masyarakat, terbukti dari animo pendaftar yang di luar dugaan, sekitar 7.300-an orang.

“Tapi kok aneh ya, Om. Katanya sekarang ini orang-orang dari luar daerah seperti Jogja, Solo, Boyolali, dan Sukoharjo juga bisa ikut daftar Perangkat Desa di Klaten. Orang Desa lain juga bisa daftar menjadi Perangkat Desa sini. Orang bebas mendaftar untuk Desa mana saja.”

“Ya gak aneh. Aturannya memang membolehkan, kok. Ini jaman NOW, Sa. Beda jauh dengan jaman OLD. Ingat ya….”

“Oooh ya ya, aku jadi paham sekarang. Karena ini jaman NOW, maka ribuan Tenaga Kerja Asing pun boleh bekerja di sini, baik sebagai tenaga kasar maupun tenaga ahli. Bebas. Bahkan mungkin nanti bisa terjadi tenaga kerja asing daftar jadi Perangkat Desa, Bupati, Anggota Dewan, Menteri, bahkan Presiden. Wah kacau-kacau....”

“Nah….sudah paham kan, Sa?”

“Paham banget, Om. Katanya tenaga kerja kita sendiri memang suka malas-malasan kerjanya. Lambat dan bodoh. Wajar saja orang-orang asing yang bikin pabrik di sini boleh sekalian bawa ribuan tenaga kerjanya.”

“Wah kalau soal itu aku gak ikut-ikutan, Sa.”

“Maksudmu, Om?”

“Aku gak percaya kalau tenaga kerja kita lambat dan bodoh. Ora trimo aku, Sa.”

“Hahahaaa…..Om Om…jangankan tenaga kerja di pabrik-pabrik. Lha di Perguruan-perguruan Tinggi kita saja sekarang boleh  merekrut dosen-dosen dari luar negeri sebagai dosen tetap, kok. Katanya biar Perguruan Tinggi bisa lebih berkualitas. Itu kata tivi lho, Om….khkhkh.”

“Jirut tenan Sasa ini,” kataku dalam hati. Dikira kampus-kampus kita tidak berkualitas. Ngece banget. Juru parkir kemaki. Rasanya aku lebih paham kalau soal perkampusan. Ada banyak temanku yang jadi dosen di almamaterku, hebat-hebat dan sangat kualified. Mereka pinter-pinter dan tekun sejak masih kuliah semester 1, dan lulus cepat dengan IPK tinggi. Tidak seperti aku yang baru bisa lulus setelah genap 18 semester, pun dengan IPK pas-pasan. Kali ini aku betul-betul tersinggung.

Ahh…tapi mana mungkin kuajak Sasa berdebat soal itu. Paling juga gak paham. Mending sing waras ngalah. Dan aku pun beranjak dari tempat duduk lalu membayar makananku ke Kang Panut si-boss Soto Kartongali. Sasa Sasa…. gemblung tenan Kowe, yho….

Kamis, 19 April 2018

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITAN

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

"Om, kenapa ya orang sekarang mudah tersinggung?" tanya Sasa sambil bergaya membantuku nyebrang jalan yang padat di depan warung soto Kartongali tadi pagi.

"Mudah tersinggung piye?"

"Mendengar istilah Hizbullah dan Hizbusysyaithan saja orang jadi gempar, tersinggung, lapor ke polisi. Apa gak pernah baca buku sejarah ya, Om?"

Aku paham ke mana arah bicara Sasa, tapi sengaja kubiarkan. Pikirku, dia juga butuh tempat menyalurkan kegelisahannya. Butuh ember penampung limbah.

"Maksudmu piye to, Sa? Orang-orang politik kan memang suka bikin ontran-ontran. Mbok rasah gumun."

"Jasmerah, Om. Ingat. Jangan melupakan sejarah..."

"Sejarah yang mana?"

"Lah...mosok lupa, Om? Sejak masa revolusi dan perang kemerdekaan dulu, ketika TNI kita masih ringkih dan belum kuat menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah kita, umat Islam membentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah. Ingat, kan?"

"Iya. Terus..."

"Dengan senjata seadanya, dengan wirid dan asma' dari para Kyai, dengan bekal logistik yang digalang oleh ibu-ibu desa, pasukan Hizbullah-Sabilillah dengan gagah berani terjun berperang membantu TNI mengusir penjajah, menghalau pasukan syaithan, Hizbusysyaithan, yang hendak kembali mencengkeram negeri ini."

"Terus apa hubungannya dengan orang sekarang yang gampang tersinggung?"

"Lha iya. Istilah itu kan sudah ada sejak dulu, diambil dari Al-Quran. Lha kok baru sekarang pada tersinggung, jadi over-sensitive...."

"Jamannya sudah beda, Sa."

"Beda apanya, Om?"

"Dulu kan jelas yang kita lawan Londo dan anthek-antheknya. Kita usir mereka karena kita ingin merdeka sebagai bangsa dan negara."

"Aah podho waelah, Om."

"Kok podho?"

"Sejak jaman Nabi Adam pun tantangan manusia masih sama, Om, melawan godaan setan. Atas ijin Allah SWT, iblis menggoda manusia, mengajak manusia nuruti hawa nafsunya. Qabil anak Adam tega membunuh adiknya, Habil, karena dia manut bujukan setan demi mendapatkan istri yang lebih cantik dan menguasai hartanya. Mungkin karena keturunan Qabil jadi lebih banyak, mayoritas dan dominan, maka Allah SWT perlu menurunkan para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi serta selamat di akhirat nanti."

"Wah lha kok dadi adoh temen omonganmu, Sa? Kadohan itu. Terlalu jauh...."

"Tidak, Om. Ini tantangan abadi manusia kok. Sejarah yang tetap kontekstual, tapi sering kita lupakan. Memang sih, masalahnya sekarang tidak ada lagi Nabi dan Rasul, yang ada tinggal para cerdik-pandai pengikut ajaran Nabi dan Rasul yang sadar kewajibannya mengingatkan sesama agar saling menyelamatkan, agar pandai bersykur, tidak membuat kerusakan, yang kuat tidak menindas yang lemah, yang sedang berkuasa tidak dholim pada rakyatnya, agar hidup ini dijalani dengan penuh kasih-sayang hingga selamat dunia-akhirat."

"Bagus itu, Sa. Tapi mbok pemahamannya jangan terus disederhanakan menjadi hanya urusan partai politik, lalu seakan-akan ada partai Allah versus partai setan? Gak enaklah, Sa. Mosok partaiku njur dikatutke partai setan?"

"Itulah repotnya, Om. Di tahun politik ini apapun jadi urusan politik, dibaca dengan kacamata politik. Konyolnya lagi, politik pun disederhanakan pengertiannya jadi partai politik, jadi urusan  orang-orang yang berebut kekuasaan."

"Wislah, Sa.  Ngomong soal politik jadi mual perutku. Pulang dulu ya....."

Kutinggalkan Sasa setelah kuselipkan uang dengan paksa ke kantongnya. Sasa pun pringas-pringis tidak bisa menolak. Dah Sasa......

Senin, 16 April 2018

LAUTAN JILBAB (1)

LAUTAN JILBAB
           (1)

Puisi panjang "Lautan Jilbab" ditulis dan dibacakan pertama kali oleh Cak Nun pada Pentas Seni Ramadhan Di Kampus (RDK) Jamaah Shalahuddin UGM 1987 di hadapan ribuan jamaah Tarawih yang memadati kawasan Gelanggang Mahasiswa dan Boulevard Bulaksumur, Yogyakarta. Pembacaan puisi malam itu menjadi sangat dahsyat bukan hanya karena dibacakan sendiri oleh Cak Nun, tetapi terutama karena konteks sosial-politik saat itu, yakni tahun-tahun ketika pemerintah Orde Baru sedang sangat represif pada umat Islam dan tokoh-tokoh kritis di kampus-kampus. Stigma "subversif", "anti-Pancasila", dan "merongrong kewibawaan Pemerintah" menjadi momok yang sangat menakutkan.

Masih sangat sedikit perempuan memakai jilbab. Jangankan di kampus negeri seperti UGM. Sedangkan di kampus IAIN dan UII saja mahasiswinya rata2 masih memakai "sekedar awer2" selendang yang dikerudungkan di kepala menutupi sebagian rambutnya melengkapi baju kurung yang dikenakannya. Itupun hanya pas mereka pergi ke kampus saja. Begitu juga di Jamaah Shalahuddin UGM, Pelopor Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di Indonesia (bersama Jamaah Salman ITB), waktu itu baru ada beberapa mahasiswi yang berani memakai jilbab.

Tiba2 muncul fenomena baru. Pemakai jilbab dari hari ke hari semakin bertambah banyak, seiring dengan semakin maraknya kajian-kajian Keislaman di kampus-kampus. Bahkan, mulai ada juga beberapa pegawai dan karyawati kantor/perusahaan memakai jilbab. Ujung-ujungnya, setiap hari koran-koran memberitakan adanya mahasiswi atau siswi SMA diintimidasi lalu dikeluarkan dari kampus atau sekolahnya, pegawai/karyawati dikeluarkan dari tempat kerjanya.

Puisi "Lautan Jilbab" malam itu meneguhkan betapa tengah terjadi gerakan baru yang tak bisa dihentikan oleh siapapun, kesadaran spiritual yang tak bisa dibatasi oleh aturan-aturan semu, bangkitnya keyakinan yang tak takut diancam-ancam dengan moncong senapan. Jilbab adalah simbol kesadaran dan keyakinan, pernyataan sikap serta keberanian melawan ketidakadilan dan penindasan.

"Aku menyaksikan beribu-ribu jilbab, berjuta-juta jilbab.
Tidak!
Aku menyaksikan bermilyar-milyar jilbab," begitu kata-kata Cak Nun mensugesti para mahasiswi sehingga semakin banyak yang berani memakai jilbab.

Semoga Allah SWT mencatat puisi "Lautan Jilbab" itu sebagai salah satu amal jariyah Cak Nun. Aamiin.

(bersambung)

Rabu, 11 April 2018

SASIRANGAN

SASIRANGAN

“Om, pripun kabare? Sampeyan lagi di mana ini?,” itulah sms Sasa tadi pagi yang kubuka sambil ngopi di kamar hotel.

Surprise banget pagi-pagi dapat sms dari Sasa, sahabatku yang juru parkir idola banyak orang. Mungkin karena sudah semingguan ini aku tidak mampir nyoto, sementara Sasa selalu punya unek-unek dan kegelisahan yang ingin dicurhatkan setiap kali ketemu. Memang seminggu ini kegiatanku agak full, dari ngurusi usaha konveksi di rumah, nengok anak di pondok Gontor Putri 5 di Kediri, kondangan manten ponakan di Mojokerto, dan saat ini sedang berada di Banjarmasin bersama istriku. Kami diundang oleh Dinas Prindustrian Kalsel untuk berbagi pengalaman dan melatih 20 IKM konveksi dalam program Bimtek Busana Muslim, 10-13 April 2018. Dinas Perindustrian Kalsel ingin meningkatkan kapasitas usaha IKM bidang konveksi agar kerajinan rakyat berupa kain Sasirangan dapat berkembang dengan aneka produk turunan sehingga menjadi ikon Kalsel. Hebat, kan? Sejak dua tahun lalu para IKM diajak ke Jawa, magang di Bunda Collection Klaten selama beberapa hari. Dan tahun ini, kami yang diundang ke Banjarmasin dengan membawa pernak-pernik peralatan pelatihan.

Belum sempat kubalas smsnya, tiba-tiba hpku berdering. Sasa memanggil dan langsung kuangkat. Tapi dasar Sasa, ternyata dia cuma misscall. Mungkin maksudnya supaya segera kubalas smsnya, atau memang kangen mendengar suaraku yang tak seberapa merdu, tapi tidak punya pulsa. Karena husnudhon pada sahabat, maka kuputuskan menelpon balik saja.

“Piye, Sa, ada apa?,” tanyaku setelah salam dijawabnya dengan lengkap.

“Wah, Sampeyan ini ke mana saja kok lama gak nongol? Ada yang penting ini, Om. Perlu konsultasi,” jawab Sasa.

“Ada apa? Soto Kartongali masih aman terkandali, kan?”

“Siap, Ndan. Aman terkendali...khkhkh,” jawab Sasa sambil terkekeh.

“Apa yang darurat pagi ini?”

“Begini, Om. Tadi malam aku kedatangan tamu teman-lama.”

“Alhamdulillah.... Banyak tamu banyak rejeki. Terus bagaimana?”

“Ya gitulah, Om. Malu mau cerita.”
“Cerita saja, Sa. Slow wae. Ada apa?”

“Begini, Om, aku diminta aktif lagi di partai, padahal aku kan sudah kapok.”

Memang, sekitar setahun yang lalu Sasa pernah cerita bahwa dia sudah berhenti dari satgas parpol. Sudah capek ikut mogleng-mogleng dengan penampilan sangar hanya dan untuk mendukung orang-orang yang kemudian terbukti tidak amanah dan mengkhianati rakyat. Lebih baik kerja sungguh-sungguh sebagai juru parkir dan juru pijat. Meski hasilnya tidak seberapa, tapi cukup buat ngopeni anak-bojo. “Biar tidak katut dosanya para koruptor, Om,” kata Sasa waktu itu.

“Lha terus piye, Sa. Kamu diajak aktif jadi satgas lagi?” tanyaku.

“Bukan, Om. Kali ini malah aku diminta daftar jadi Caleg.”

“Waooww...joss itu, Sa. Mangkat!!! Aku percaya kamu nanti bisa jadi wakil rakyat yang amanah dan artikulatif di lembaga yang terhormat itu.”

“Wallaah, Om. Mangkat ke mana? Lha wong cuma mau diplekotho teman-temanku lagi kok. Belum juga nggagas dari mana biayanya. Mosok harus menggadaikan rumah warisan yang kutempati? Enggaklah, Om. Mending kerja gini saja, tidak punya musuh, bisa menolong orang tiap hari, hidup jadi lebih tenteram.”

“Oke, Sa. Kalau memang sudah mantap dengan pilihanmu, sudah , ya sudah jangan bingung. Anggap saja itu godaan kecil yang gampang diatasi.”

“Iya, Om. Aku sudah nyaman dengan pilihanku ini. Matur nuwun njih, Om. Aku mau kerja lagi. Wassalaamu’alaikum wr.wb,” Sasa mengakhiri curhatnya.

Aku bergegas turun ke ruang makan untuk sarapan lalu masuk ruangan pelatihan. Agenda peserta hari ini full praktek membuat desain dan pola baju berbahan sasirangan. Semoga dilancarkan. Aamiin.


Senin, 02 April 2018

OJO DUMEH

*OJO DUMEH*

Entah kenapa, akhir-akhir ini Sasa sangat sensitif soal politik. Kadang terkesan sok kritis, kemaki, gemblung, dsb. Sebenarnya aku males melayaninya. Penginku dia cerita-cerita saja seputar pekerjaannya, misalnya tentang tamu-tamu warung Soto Kartongali yang datang dari berbagai kota dan beda-beda karakter. Atau tentang pasien pijatnya yang tuman dengan sentuhan tangan dan jemarinya yang kokoh. Tapi tidak. Omongan Sasa akhir-akhir ini lebih sering nyerempet tema politik, dari soal korupsi pejabat negara, soal kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada petani melalui beras impor dan Harga Eceran Tertinggi, soal rencana “penertiban” khotib Jumat, soal negara yang dikuasai kuam Sudra yang rakus dan koruptif, hingga soal cadar dan sebagainya. Apa boleh buat, tetap saja kulayani omongan Sasa sebisaku. Terlalu sulit membayangkan wajah Sasa yang selalu open-face itu tiba-tiba berubah murung mbesengut gara-gara omongannya kucuekin. “Jangan sekali-kali gawe gelo wong cilik. Wong cilik iku malati, Le,” begitu pesan ibuku dulu.

“Jadi orang itu mbok ojo dumeh yho, Om. Mentang-mentang kuasa, mentang-mentang bolone akeh, mentang-mentang duitnya banyak, mentang-mentang  anak Presiden....,” Sasa mulai ngomel sambil mendekati tempat dudukku, “Mbok kalau ngomong dipikir dulu, nganggo roso, pakai imajinasi, pilih kata-kata yang tepat, lalu disusun kalimat yang nyamleng supaya tidak nyinggung perasaan dan harga diri orang lain. Lha kok kesannya waton njeplak, waton nggambleh, bangga lagi. ”

“Sopo to, Sa?” tanyaku sambil menikmati teh nasgithel.

“Adalah, Om,” jawabnya.

“Sopo hayo...?”

“Walah Sampeyan kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan ada di tivi tiap hari, Om.”

“Dah lama aku gak nonton tivi kok, Sa. Males. Cuma sesekali nonton sepakbola, itupun cuma pas Real Madrid atau MU yang main. Jujur saja, Sa, jan-jane siapa yang bikin kamu pagi-pagi misuh-misuh ini?”

“Om, tadi malam ponakanku ke rumah. Pas kami lagi ngobrol, tiba-tiba dia nyetel video di hpnya. Ada seorang perempuan terkenal, tokoh politik yang tidak seberapa cantik, sedang baca puisi ciptaannya di panggung gemerlapan dan disaksikan banyak orang.”

“Wah bagus itu, Sa. Sudah lama tradisi berpuisi hilang di tengah perubahan jaman,” timpalku.

“Iyaak...bagus apanya, Om? Puisi sangat tendensius dan melecehkan agama Islam kok dibilang bagus. Aku tersinggung berat, Om.”

“Loh...sik, Sa. Melecehkan agama piye, to?” tanyaku penasaran.

“Om, sekalipun istri dan anak perempuanku tidak pakai cadar, tidak pakai busana muslimah yang rapat menutup aurat, tapi kami menghormati pilihan keyakinan tetangga dan teman kami yang memakai cadar. Sama dengan kita harus menghormati perempuan yang pakai baju atau kaos ketat, pakai ledging tipis, atau pakai rok mini. Iya, kan?”

“Lha hiyo, terus...”

“Jaman dulu memang semua perempuan pakai jarik batik, pakai stagen, bajunya model kuthu-baru hingga tampak belahan dadanya, rambutnya disanggul tinggi dan pakai oonde mentul-mentul. Iya to, Om?”

“Lha iya, terus...”

“Namanya juga perkembangan jaman. Orang Islam sekarang semakin sadar melaksanakan ajaran agama yang diyakini kebenarannya, termasuk dalam hal berpakaian. Pakaian perempuan kan harus menutupi aurat, Om. Eeh..lha kok dibilang tidak sesuai dengan budaya kita, Ibu Indonesia.”

“Terus...”

“Lebih parah lagi, Om, dia membandingkan suara azan dengan kidung, atau uro-uro jaman simbah kita dulu. Katanya lantunan kidung lebih merdu dari suara azan....khkhkh.”

“Weh...mosok to, Sa?”

“Sampeyan ini payah kok, Om. Gak ngikuti berita. Makanya sering-sering nonton tivi, baca koran, buka internet. Mosok kalah sama Sasa....khkhkh.”

“Yho, Sa. Nanti coba tak mbuka eternit....wkwkwk.”

“Bikin puisi kok ngawur gak dipikir dulu ya, Om. Tentu bukan karena bodoh, kan? Tapi sungguh memalukan, ngisin-isini. Aku khawatir orang akan melihat bapaknya dianggap tidak ngajari anaknya sopan-santun dan kearifan. Anake sopo to kuwi?”

“Wis wis, Sa. Rasah dowo-dowo omonganmu. Bisa bahaya...,” terpaksa kustop omongan Sasa yang akan mulai nggladrah.

“Ya sudah, Om. Saatnya kerja kerja kerja....khkhkh.”

Sasa meninggalkanku, kembali berjaga di pinggir jalan depan warung. Semangkok soto dan sepiring kecil cacahan kepala ayam telah tersaji di mejaku. Saatnya ritual pagi dimulai.....

Sabtu, 31 Maret 2018

MUSIM CALEG

MUSIM CALEG

Baru saja kumatikan mesin dan kubuka pintu mobil, Sasa mendekatiku dan bertanya, “Om, Sampeyan ikut ndaftar Caleg, gak?”

Belum sempat kurespon, sambil matanya melihat kiri ke kanan mencarikan celah agar aku aman menyeberang jalan yang sangat ramai pagi itu, Sasa bertanya lagi, “Atau, siapa teman Sampeyan yang sudah daftar Caleg? Ada apa tidak, Om? Kalau tidak ada, Sampeyan harus daftar.”

“Sik to, Sa. Kamu ini ketempelan apa? Pagi-pagi kok ngomyang. Apa tadi malam sesirih ke makam Ki Ageng Gribik terus dapat wangsit?” tanyaku.

“Hahahaa....mbok jangan ngece to, Om. Aku ini masih waras, lho.”

“Lha pertanyaanmu nganeh-anehi kok, Sa.”

“Begini lho, Om...,” Sasa mengikutiku duduk di amben depan warung, ”Tadi malam di desaku ada sosialisasi tentang Pengisian Perangkat Desa oleh Pak Kades dan Panitia Pendaftaran. Mereka memberi penjelasan dan pengarahan agar warga kami ikut mendaftar Kaur yang lowong.”

“Lalu apa hubungannya dengan pertanyaanmu tadi?” kejarku.

“Pak Kades cerita bahwa tahun ini banyak agenda politik yang perlu mendapat perhatian dan partisipasi masyarakat. Tidak lama lagi kita akan Pilgub, dan saat ini sedang marak sosialisasi calon Gubernur. Pada saat yang sama, KPU juga ngumumkan Daftar Pemilih Sementara yang perlu kita cermati. Yang tidak kalah penting, Om, saat ini partai-partai politik sedang sibuk menjaring kader-kadernya untuk menjadi Caleg yang akan kita pilih pada Pileg 2019.”

“Ha mbok wis ben to, Sa. Itu kan kerjaannya orang-orang parpol. Memang maqom mereka. Gak usah digagas. Kita kan sudah punya kesibukan sendiri, Sa.”

“Wah lha ini. Ini.... Pikiran seperti Sampeyan ini yang bikin negara semakin rusak-rusakan.”

“Loh.....,” aku betul-betul kaget mendengar kata-kata Sasa yang terasa mak-jleb di ulu hati, “Lha njur kudu piye, Sa? Orang seperti kita ini mau apa, coba? Kita ini kan bukan pengurus Parpol, juga bukan anggota KPU. Mosok ikut ngurus pencalegan.”

“Om, aku ini pernah ikut aktif di parpol, lho. Meski derajadku waktu itu cuma Satgas, tapi aku jadi agak paham bagaimana orang-orang parpol, pikiran politiknya, trik-trik kampanye dan cara kerja politiknya. Bahkan aku jadi tahu niatannya terjun ke politik. Hanya ngurusi kepentingannya sendiri dan kelompoknya, Om. Bukan untuk kebaikan masyarakat, bukan resepkebaikan hidup berbangsa dan bernegara yang adil-makmur dan diridhoi Tuhan. Bukan.”

Kalau Sasa sudah berkhotbah macam ini, aku jadi tidak berkutik. Malu, sekaligus kagum. Ada juru parkir yang bukan hanya tulus hatinya, tapi juga peka dan kritis membaca setiap perubahan jaman.

“Kalau orang-orang baik, orang-orang pandai dan terpelajar lebih memilih kemuliaan dan kesucian hidup sebagai kaum Brahmana, maka dunia akan diurus oleh kaum Sudra, orang-orang lapar, orang-orang miskin dan bodoh yang tega melakukan apa saja demi mengejar kekayaan dan kejayaan diri dan kelompoknya. Maja hancurlah negeri ini. Tata titi tentrem kerta raharja hanya akan menjadi cita-cita tertinggi yang tak akan pernah kita rasakan.”

“Waaoow....Syech Sasa mulai berfatwa nih. Njur kita ini harus bagaimana, Syech? Dulu Kamu  bilang, “ojo cedhak kebo gupak”,  jangan mendekati kerbau yang sedang berkubang di lumpur. Piye jal?”

“Om, negara ini mau baik atau mau remuk-remukan, sangat tergantung siapa yang mengurusinya. Kalau Sampeyan atau siapa pun yang peduli pada kebaikan hidup berbangsa dan bernegara, tapi takut kena lumpur dan takut kena kotoran, maka jangan menyesal kalau di akhirat nanti kita dinilai oleh Tuhan sebagai orang egois dan tidak menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

“Njih, Syech Sasa. Matur nuwun wejanganipun. Nanging pangapunten, kula badhe sarapan rumiyin, njih. Nyoto dulu biar kemepyar....”

“Woo injih...monggo.”

Sasa meningggalkanku, kembali mengatur parkir. Kali ini soto Kartongali terasa agak beda. Hambar. Mungkin karena hati dan pikiranku terlanjur terganggu omongan Syech Sasa yang mak-jleb tadi. Edan tenan Sasa.....

Selasa, 27 Maret 2018

KAYA TAPI MISKIN

KAYA TAPI MISKIN

"Dasar kalau orang sudah rusak mentalnya. Hatinya kacau, pikirannya ruwet. Tidak punya kepekaan. Tidak punya empati pada nasib orang lain. Maunya dia sendiri yang makmur sejahtera, orang lain harus tetap miskin dan sengsara," Sasa tiba-tiba nerocos sambil tangannya ngelap meja yang basah dan kotor. Order sotoku belum tersaji. Baru segelas teh nasgithel siap menghangatkan leher yang kedinginan ini. Kubiarkan Sasa terus nerocos nggrenengi seseorang, entah siapa. Dan aku belum berminat menanggapinya. Masih males.

"Mana pernah orang protes harga barang-barang keluaran pabrik, Om? Odol, sampo, sabun, mie instan, dll, berapa pun harganya pasti dibelinya dengan bangga. Tetapi kalau barang itu buatan tetangganya, buatan saudaranya, dia akan sangat peka membanding-bandingkan harga."

"Sik to, Sa. Jan-jane kamu ini ngomong soal apa dan siapa? Kok tekan ngendi-ngendi. Aku jadi gak mudheng," terpaksa kupotong omongannya biar gak semakin ngelantur.

"Wah sori, Om. Aku masih mangkel gara-gara suami-istri yang makan di meja ini sebelum Sampeyan datang tadi. Penampilannya orang kaya, mobilnya bagus, tapi jebul miskin hatinya, rendah seleranya."

"Lha piye to, Sa? Gak usah mangkel.Tamu di sini kan memang pepak, macam-macam gaya penampilan dan sifatnya."

"Bukan soal itu, Om. Tapi omongannya yang nylekit dan merendahkan petani, bikin nasionalismeku tadi betul-betul terganggu."

Edan. Aku ke sini pagi-pagi mau sarapan soto dan minum teh nasgithel biar kemepyar je, lha kok malah disuguhi nasionalisme. Jinguk tenan Sasa. Senangnya memaksaan kehendak dan hasrat terpendam.

"Critane piye to, Sa?"

Sasa pun bercerita. Seperti biasa, begitu parkir sudah rapi lalu sopir dan penumpangnya turun dari mobil, dia pun berbasa-basi tanya dari mana mau ke mana. Si bapak menjawab katanya dari cari beras Rojolele ke Gapoktan desa sebelah.

"Tapi gak jadi beli, Mas," sahut istrinya.

"Kenapa gak jadi, Bu? Di sana kan pusatnya pemuliaan Rojolele," tanya Sasa.

"Muahalnya minta ampun, Mas. Beras saja kok dijual segitu."

"Rojolele kan memang vareitas istimewa, Bu. Kondhang kaloka sejak jaman nenek-moyang. Harganya memang mahal, tapi rasanya sesuai selera para priyagung dan orang kaya yang," Sasa mencoba menerangkan.

"Hallah...tapi mosok harganya sampai dua kali lipat beras biasa, Mas? Para petani mestinya memahami kompetisi harga beras di pasaran. Jadi jangan waton bikin harga."

"Iya betul itu, Mas," suaminya yang diam dari tadi tiba-tiba menyahut,"Para petani harusnya sadar bahwa harga beras sudah diatur oleh pemerintah. Ada harga eceran tertinggi (HET) yang harus ditaati bersama. Petani tidak boleh semena-mena nentukan harga."

"Betul itu," istrinya nyahut lagi, "Kalau pemerintah terpaksa impor beras untuk menstabilkan harga di pasaran, nanti petani pada bengok-bengok lagi. Payah banget petani kita ya, Pa. Pantas saja hidupnya susah."

Betapa mangkel hati Sasa mendengar omongan suami-istri yang kompak ceramah soal harga beras dan soal petani yang tak boleh nentukan harga produksinya sendiri. Petani tidak boleh berdaya, harus tetap miskin. Mereka kira Sasa tidak paham soal permainan harga beras. Sasa jadi teringat dulu pernah bertengkar hebat dengan pamannya yang tebasan padi dan sering menunda-nunda pembayaran. Sasa tidak tega melihat petani yang datang menagih uangnya seperti pengemis. Karena pamannya tidak juga mau berubah, Sasa pun memilih berhenti bekerja, lalu alih profesi sebagai juru parkir.

"Orang kaya kok mentalnya persis kumpeni jaman dulu ya, Om. Sedih aku. Pengin marah aku. Kasihan petani-petani kita. Mereka bekerja keras, tapi tidak berdaya. Posisinya paling lemah dan  dimiskinkan terus."

Sasa mengakhiri ceritanya tepat ketika semangkok soto disajikan pelayan di hadapanku. Segera kutuang sesendok sambal dan beberapa tetes kecap.

"Ayo sarapan sik, Sa. Biar anget." Mulai kusantap soto Kartongali yang nikmatnya tiada taranya di dunia.

"Monggo disekecakke, Om. Saya bertugas dulu, ya." Sasa kembali ke area parkir setelah mengucapkan terima kasih karena sudah kudengar curhat paginya. Kubayangkan seandainya Sasa jadi ketua HKTI atau tokoh LSM bidang pertanian, misalnya, pasti petani-petani akan jadi makmur sejahtera. Tapi sayang dia hanya tukang parkir...