Rabu, 28 November 2018

SEDUMUK BATHUK SENYARI BUMI

SEDUMUK BATHUK SENYARI BUMI

Hujan baru saja reda ketika dua pemuda desaku datang ke rumah. Tumben. Setahuku mereka masih kuliah di Jogja dan hanya pulang pas Sabtu-Minggu atau libur kuliah.

"Ada apa, Le?," tanyaku setelah obrolan basa-basi sejenak tentang kuliah mereka dan suasana Jogja yang ngangeni meski sekarang jalanan macet di mana-mana. Tiga gelas kopi disajikan istriku.

"Begini, Pakdhe," kata salah satu pemuda itu, "kemarin kami baca di satu media online tentang pembangunan gapura batas Kecamatan Jatinom-Ngawen di depan Balai Desa kita. Itu ceritanya bagaimana  to, Pakdhe? Katanya masyarakat sama sekali tidak diajak rembukan sebelumnya, tiba-tiba sudah ada tukang-tukang bekerja mengali fondasi persis di depan wajah desa kita?"

"Ooh soal itu. Masuk di berita online to, Le?"

"Iya, Pakdhe," kata pemuda satunya, "Kami berdua sengaja pulang untuk itu. Pas kami  lewat sana tadi, tukang-tukang tampak sudah mulai ngecor."

"Itu tidak masuk akal, Pakdhe.  Bagaimana mungkin Balai Desa kita separohnya ikut wilayah kecamatan tetangga? Kesannya nanti begitu, Pakdhe."

"Ada kesan kampung Sumberejo dicaplok Desa dan Kecamatan sebelah. Kok tidak ada yang protes? Kepala Desa kita ngapain aja, Pakdhe?"

Kaget juga aku diberondong pertanyaan-pertanyaan kritis dua pemuda itu, tapi tetap kucoba menutupi. Mungkin mereka pikir aku punya kekuatan menggagalkan proyek pemerintah. Padahal aku juga cuma rakyat biasa sama seperti mereka, bukan tokoh apalagi pejabat atau politisi yang punya power. Tapi sungguh aku bangga masih ada pemuda dan mahasiswa yang kritis, peduli, dan berani bertanya.

"Kemarin Pakdhe sudah tanya soal itu ke Kepala Desa, Le. Katanya itu proyek Kabupaten dan Desa tidak bisa menolak. Pakdhe ingatkan bahwa pembangunan gapura batas kecamatan yang salah letak itu pasti akan jadi masalah."

"Ya jelas, Pakdhe. Ada kesan sebagian teritorial kita dicaplok Desa tetangga, tetapi masyarakat dan Kepala Desa kita diam saja."

"Pakdhe pikir, kalau benar itu proyek Kabupaten, pasti karena ketidaktahuan Bupati, Camat, dan para pejabat terkait tentang batas teritori desa dan kecamatan. Memang harus ada yang memberitahu, Le."

"Betul, Pakdhe. Mestinya pemerintah jangan hanya asal bikin proyek dan ngejar fee tanpa mempertimbangkan perasaan rakyatnya."

"Padhe, perlukah kami galang teman-teman pemuda untuk bikin aksi protes agar pembangunan itu dihentikan?"

"Ya kalau kalian para pemuda melihat ada sesuatu yang bengkok lalu merasa perlu meluruskan, itu baik-baik saja menurutku. Memang begitu seharusnya pemuda."

Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor tua masuk halaman dan berhenti. Loh Sasa. Ada apa sore-sore begini sahabatku datang kemari? Kedua pemuda pun bergeser tempat duduk dan menyalami Sasa dengan sopan. 

"Dari mana saja, Pak Sasa?" tanya salah satu pemuda.

"Dari rumah, Mas. Sengaja ke sini mau minta kopi," jawab Sasa sambil melirikku memberi kode.

"Kok kenal Pak Sasa, Le?"

"Pakdhe ini lho. Yang tidak kenal Pak Sasa si juru parkir teladan nasional dari Jolotundo ini berarti kurang piknik....hahahaa."

"Pasti gak pernah nyoto Kartongali.....," sahut Sasa.

"Piye, Sa, ada kabar apa ini?," tanyaku ke Sasa.

"Cuma mau ngasih tahu kok, Om, sakilan minta pamit."

"Pamit mau kemana?"

"Besok Minggu-Senin saya tidak kerja. Sabtu siang saya akan berangkat ke Jakarta ikut Reuni 212 di Monas."

"Waow....elok tenan Pak Sasa ini."

"Kami yang muda saja malah  gak kepikir ikut aksi itu lho, Pak," kata pemuda satunya.

"Ini soal prinsip, Mas. Sedumuk bathuk senyari bumi," kata Sasa.

"Maksudnya apa itu, Pak Sasa?"

"Ini soal panggilan hati ikut menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara, Mas. Sejengkal tanahpun tak boleh lepas dari  pangkuan negari ini. Kalian harus tahu, negara ini sedang dalam bahaya. Kekayaan alam kita satu-persatu sudah berpindah tangan ke para kumpeni. Berjuta-juta hektar tanah telah dikuasai hanya segelintir orang, dan sebentar lagi negara kita akan dikendalikan asing. Beratnya, Mas, mereka kongkalingkong dengan para pejabat dan politisi kita. Ini harus dihentikan, Mas. Ini soal harga diri bangsa."

"Wah menarik ini. Terus, Pak Sasa...."

"Kita seharusnya malu dengan Eyang Fatahillah, Mbah Sultan Agung, Mbah Diponegoro, Datuk Imam Bonjol, Ibu Kartini, Tjut Nya Dien, Mbah Cokroaminoto, Mbah Ahmad Dahlan, Eyang Soekarno, Datuk Hatta, Mister Yamin, Buya Natsir, Buya Hamka, dan sebagainya."

"Harus malu bagaimana, Pak Sasa. Jamannya kan sudah berbeda."

"Memang jaman sudah berbeda. Dunia terus berubah. Itu sudah sunatullah. Tapi yang namanya negara yang didirikan dengan susah payah dengan toh nyawa wutahing ludira, harus tetap kita pertahankan sebagai warisan berharga dari para pendahulu. Hanya orang gendheng yang mau percaya bahwa batas teritorial negara tidak penting dan membiarkan kekayaan negaranya dikuasai asing," pidato Bung Sasa panjang lebar  dan berapi-api.

Kubiarkan Sasa memberi kuliah kewarganegaraan pada kedua pemuda yang tampak antusias itu. Memang sesekali pemuda dan mahasiwa perlu diajak kuliah lapangan seperti ini agar tidak hanya mendapatkan referensi dari dosen, buku-buku, dan media online yang kadang hanya Hoax.

"Berangkat ke Jakarta dengan siapa, Sa? Naik apa?", tanyaku ke Sasa.

"Banyak teman, Om. Belum tahu besok naik apa, yang penting Minggu pagi kami sudah sampai Monas," jawab Sasa.

Azan maghrib terdengar bersahutan. Dan kami pun bubar. Selamat berjuang, Sa. Semoga perjalanan jihadmu lancar dan aman. Biarlah kedua pemuda ini belajar dulu dari kasus yang kecil dan lokal, kasus pembangunan gapura di Desa kami.

#serialsasa







Sabtu, 24 November 2018

AWAS ADA GENDRUWO

AWAS ADA GENDRUWO

"Untung kemarin Sampeyan gak ikut saran saya, Om," kata Sasa tiba-tiba duduk di sampingku.

Hari masih pagi, warung pun masih sepi. Piring-piring masih penuh berisi gorengan tempe, tahu, perkedel, dan pisang raja  terjajar rapi di meja. Segelas teh nasgithel yang diantar pelayan langsung kusruput sambil menunggu soto terhidang.

"Saran yang mana, Sa?"

"Supaya Sampeyan ikut nyaleg."

"Oh, soal politik, to? Aku gak bakat politik kok, Sa."

"Ini bukan soal bakat kok, Om. Hanya soal berani nekad atau tidak. Teteg atau tidak. Tegel atau tidak."

"Sudah jelas aku tidak punya itu semua."

"Ya malah untung, Om."

"Lah kok malah untung?"

"Om, ini sudah masuk musim kampanye.  Gendruwo-gendruwo mulai mubal, keluar semua dari persembunyiannya. Satu persatu mulai menampakkan wajah aslinya. Ngeri, Om."

"Iyaak ngomong opo to, Sa? Mbok jangan tahayul."

"Ini bukan tahayul, Om. Nyata. Kasat mata. Cetha wela-wela."

"Gendruwo kok kasat mata. Dagadu..."

"Poya hoho.....wkkkk"

Semangkok soto sudah tersaji dan langsung kuberi kecap, sambal, serta remetan karak seperti biasanya. Karena masih panas, kutunggu beberapa saat sambil ngobrol dengan sahabatku Sasa. Sebenarnya malas pagi-pagi ngobrol politik. Tapi demi menghormati sahabat, aku harus berusaha melayani obrolan Sasa sebaik-baiknya, apapun temanya. Dan lagi-lagi tema pagi ini soal politik. Jinguk tenan Sasa ini, batinku.

"Sa, gendruwo itu hantu sebangsa wedhon, glundhung pringis, wewe gombel, kuntilanak, blorong, banaspati dan sebagainya itu, kan?"

"Iya, Om."

"Gak usah ngeri, gak usah takut. Masih hafal ayat kursi, kan? Gendruwo dan sebangsanya itu takutnya sama ayat kursi."

"Hahahaa....Om Om, yang takut sama ayat kursi itu cuma gendruwo jaman dulu, jaman OLD. Gendruwo jaman NOW justru rebutan ayat kursi."

Kucoba mencerna omongan Sasa. Ini sanepan apa asal njeplak. Guru ngajiku sejak kecil mengajari menghafal ayat kursi yang salah satu kegunaannya untuk mengusir hantu. Menjelang tidur pun kita disuruh baca ayat kursi tiga kali agar terhindar dari mimpi buruk, gangguan setan dan gendruwo.

"Sa, tolong kalau ngomong yang jelas. Maksudmu bagaimana? Jangan main-main dengan ayat suci, lho."

"Om, Sampeyan tahu nggak, ada berapa ribu kursi parlemen di pusat, provinsi, dan kabupaten se Indonesia? Sampeyan tahu nggak, ada berapa puluh ribu caleg yang sekarang ini mulai berjuang keras berebut mendapatkan kursi itu? Ngeri tenan, Om."

"Itu kursi, bukan ayat kursi, Dul."

"Yang disebut kursi itu kalau sudah dipegang dan diduduki, Om. Kalau masih di angan-angan, masih menjadi rangsangan ambisi, belum nyata, itu ayat kursi namanya."

"Tapi ya jangan samakan mereka dengan gendruwo to, Sa. Kasihan. Mereka orang-orang baik yang siap mewakafkan ilmu dan tenaganya bagi kebaikan bangsa dan negara."

"Iya ya, Om. Mereka seperti Malaikat pengantar rejeki dan Dewi Sri pembawa kemakmuran."

"Lha kok sinis to, Sa?"

"Bukan sinis, Om. Kita ini sudah berkali-kali ikut pilkades, pemilu, pilkada, pilgub, dan pilpres. Pas musim kampanye, para calon berlomba tampil dengan janji-janji manis. Dan kita pun percaya, lalu memilihnya, tapi kemudian kecewa. Yang kita sangka malaikat jebul gendruwo. Yang kita sangka Dewi Sri jebul banaspati. Hasil kerja mereka justru membuat kehidupan tidak semakin baik. Mereka justru kongkalingkong dengan para kumpeni agar cepat balik modal dan aman posisi. Makanya kita gak jadi merdeka sebagai bangsa dan negara, Om."

Untung semangkok soto sudah tandas kumakan dan perutku sudah hangat. Mendengar omongan Sasa panjang-lebar tadi rasanya sungguh mak-jleb. Kok sampai segitunya Sasa nggagas negara ini. Cukup teliti juga dia mengamati perilaku para politisi. Ah Sasa, ngobrol denganmu bisa bikin hidup jadi pesimis.

Untung di luar tampak ada dua tiga mobil berhenti mau parkir. Dari plat nomornya tampak rombongan dari luar kota mau sarapan. Sasa pun bergegas memandu parkirnya, tanpa sempat ba-bi-bu pamitan denganku. Dasar wong edyaan.....




















Rabu, 21 November 2018

SONTOLOYO

SONTOLOYO

Sasa benar-benar tidak habis pikir kenapa di jalan raya yang cukup padat itu harus dipasang polisi tidur. Jalan provinsi penghubung  antara Semarang - Jogja via Boyolali-Jatinom-Klaten itu sudah bagus, tapi  kenapa malah dirusak? Siapa yang memasang? Apa maksudnya? Tidak adakah cara lain untuk mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati dan tidak ngebut?

"Kenapa tidak dipasang rambu-rambu lalu-lintas, misalnya,  atau polisi Polsek diterjunkan menjaga tempat-tempat rawan lakalantas?," Sasa mulai ngomyang.

"Mungkin karena kekurangan personil, Sa."

"Mbokya meniru kota Solo, Om. Di Solo itu, hampir di setiap persilangan jalan ada supeltas alias "polantas swasta" alias polisi-cepek yang luwes dan cekatan mengatur lalu-lintas."

"Bener itu, Sa."

"Kenapa justru polisi tidur yang disuruh menjaga jalan? Owalah....wolak-waliking uteg...," Sasa tampak benar-benar tak habis pikir. "Jian sontoloyo tenan. Jinguk....."

"Jangan misuh, Sa."

"Terpaksa, Om. Bayangkan, kemarin malam gara-gara melewati rangkaian polisi tidur itu rantai motorku lepas. Padahal pas aku lagi mboncengkan mbokne bocah-bocah. Terpaksa kutuntun motorku sampai rumah. Sontoloyo tenan....."

"Sasa juga sih, mboncengke istri kok ngebut.. "

"Ngebut piye to, Om? Motor supercup tua ini mana bisa ngebut."

Isyriku datang  menyajikan dua gelas kopi dan sepiring pisang godhok yang masih hangat. Memang, di taman alpukat yang teduh di samping  rumah ini, kami biasa menikmati sore sambil menunggu datangnya maghrib.

"Monggo diunjuk, Mas Sasa. Mumpung masih panas," kata istriku.

"Injih, Bunda" Sasa pun langsung menyambar gelas kopi dan menyeruputnya lalu makan pisang kepok hangat.

"Mas Sasa tadi kudengar beberapa kali ngomong Sontoloyo. Artinya apa itu, Mas? Kemarin sempat heboh juga lho di medsos," tanya istriku. Maklum, istriku ini asli dari Palembang. Dia tidak kenal kosa kata sontoloyo.

"Nuwun sewu lho, Bunda. Ceritanya begini...," Sasa berhenti sejenak menyalakan rokok, "Suatu ketika di jaman dahulu kala, ada seorang penggembala bebek sedang menggiring pulang ratusan bebeknya dari sawah," lanjutnya.

"Wah asyik....Mas Sasa mulai mendongeng nih. Lanjut, Mas," kata istriku.

"Barisan ratusan bebek yang larinya ethek-ethek itu menyusuri pematang, lalu melewati pal (jalan di tengah sawah) yang kebetulan sedang ada gerobak penuh muatan gabah lewat dan jalan pelan-pelan."

"Terus, Mas....?", istriku tampak antusias.

"Kedua sapi penarik gerobak itu rupanya  kaget melihat ratusan bebek yang tiba-tiba lewat di sampingnya. Sepontan sapi-sapi itu berhenti, tidak mau jalan, seperti ketakutan. Si sopir gerobak pun mencambuknya berkali-kali, tapi sapi-sapi tetap tidak mau jalan. Lalu si kusir gerobak teriak pada penggembala bebek, "Wooo dasar sontoloyo....."

"Penggembala bebek marah dong, Mas?," tanya istriku.

"Hahahaa....ya tidak to, Bunda. Sontoloyo kan memang sebutan bagi penggembala bebek. Malah si sontoloyo pun membalas teriak pada kusir gerobak, "Wooo....dasar bajingan...."

Aku pun terbahak-bahak melihat cara Sasa bercerita, sedangkan istriku hanya senyum-senyum, mungkin dia sedang berusaha mencerna cerita dan memahami istilah yang dianggapnya kasar itu. Kata "bajingan" itu asalnya memang sebutan bagi kusir gerobak. Maka, si penggembala bebek dan kusir gerobak itu tentu tidak tersinggung apalagi marah mendengar namanya disebut.

"Tapi mohon maaf lho, Bunda, aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya kok kata "sontoloyo' dan "bajingan" itu kemudian bisa jadi bahasa umpatan yang sangat kasar."

"Ternyata awalnya hanya cerita tentang wong cilik, orang-orang pinggiran, di jaman dahulu kala ya, Mas?"

"Betul, Bunda. Sampai sekarang pun kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh wong cilik. Para priyagung, priyayi, pejabat apalagi tinggi, pantang mengucapkannya karena bisa menurunkan wibawanya sendiri."

Azan maghrib mulai terdengar bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri obrolan dan bergegas ke masjid....

Rabu, 14 November 2018

MINTA FATWA

MINTA FATWA

"Om, saya mau minta fatwa," kata Sasa begitu segelas kopi kuletakkan di depannya. Sasa tiba-tiba datang sore tadi pas hujan mulai turun. Dan seperti biasa kulakukan pada semua tamu, sebelum ngobrol kubuatkan dulu kopi semendo "tjap iboe mertoea" yang nikmatnya tiada bandingannya.

"Kali ini saya bener-bener ngelu, Om. Mumet. Ewuh tenan."

"Ada apa to, Sa? Mbokya slow wae seperti biasanya."

"Mau slow bagaimana, Om? Situasi kayak gini kok slow."

"Apa masalahnya?"

"Bayangkan seandainya Sampeyan yang jadi saya, Om," kata Sasa sambil tangannya meraih gelas kopi lalu nyeruputnya. "Kira-kira apa yang akan Sampeyan lakukan kalau hampir setiap hari Caleg-Caleg atau timsesnya datang bergantian minta dukungan? Dari berbagai partai lho, Om."

"Wah, hebat itu, Sa."

"Hebat apanya? Memangnya Sasa ini apa? Cuma tukang parkir dan tukang pijat."

"Ya jangan merendah gitulah, Sa..."

"Lha saya kok dianggap punya pengaruh.  Mau dijadikan vote-getter lagi. Cen dho gendheng kabeh...."

"Ya jangan begitu, Sa. Namanya Caleg memang harus enthengan silaturahmi dan minta dukungan. Siapa pun yang sekiranya punya pengaruh di masyarakat pasti disowani. Itu lumrah."

""Memangnya aku ini siapa to, Om?"

"Looh....Sasa kan juru parkir yang kondyang-kaloka di seantero perdikan Jolotundo....khkhkh."

"Jindul ik malah ngece."

"Tenanan ini, Sa. Bukan ngece."

Lalu Sasa menyebutkan sejumlah nama Caleg yang hanya kukenal beberapa. Dianalisisnya satu-persatu sesuai yang dia ketahui. Si ini dari partai ini begini begini begini. Si itu dari partai itu begitu begitu begitu. Kalau yang ini sejak dulu hobinya molimo. Yang itu pernah ndhemeni tetangga. Yang sana sebenarnya orang baik, tapi tidak enthengan dan agak pelit. Yang satunya lagi ustad, tapi Sasa justru kasihan dan eman-eman kalau dia masuk politik. Ada juga yang kondhang sebagai preman tapi ramah.. Dan sebagainya.

"Terus kamu mau mendukung yang mana, Sa? Pasti kembali ke habitatmu yang dulu, kan?"

"Jelas tidak, Om. Saya tidak ada urusan lagi dengan partai-partaian.'

"Ah tenane, Sa?"

"Tenin, Om. Jan-jane saya dulu cuma ikut-ikutan, kok. Tapi kemudian disuruh jadi satgas. Eeh...jebul cuma diapusi thok....wkkkkk."

"Jadi satgas kan keren, Sa. Kamu pasti kelihatan gagah dan sangar dengan seragam doreng."

"Walah, Om....itu masa lalu yang bikin malu. Nyesel tenan aku," kata Sasa sambil beringsut duduk mendekatiku. "Om, tolong aku dikasih fatwa. Aku harus bagaimana dan sebaiknya ngewangi yang mana?"

"Pilihlah yang menurutmu terbaik."

"Gak ada, Om."

"Yang terbaik di antara yang buruk-buruk."

"Gak ada tenan, Om."

"Atau mungkin begini saja, Sa. Coba tentukan dulu pilihan Capres-Cawapresmu. Ke depan kamu pengin dipimpin Presiden yang  mana? Terserah mau yang  01 atau 02. Dari situ sudah kelihatan partai-partai pendukungnya. Pendukung 01 partai ini ini ini, pendukung 02 partai itu itu itu. Nah, pilihlah Caleg dari partai yang sesuai dengan pilihan Capresmu. Caleg-caleg yang  pilihan Capresnya berbeda denganmu rasah digagas. Buang kalen wae. Gampang to, Sa?"

"Wah ini...masuk ini, Om. Aku jadi punya bayangan sekarang. Bener-bener gak rugi aku hujan-hujan ke sini minta fatwa...khkhkhkh. Matur nuwun ya, Om."

Hujan sudah reda. Sebentar lagi waktu azan maghrib. Sasa pamit pulang sambil senyam-senyum tampak lega hatinya.

Senin, 12 November 2018

AJINING DIRI SAKA LATHI

AJINING DIRI SAKA LATHI

"Kahanane semakin ngemar-emari ya, Om," kata Sasa sambil ngelap meja depanku. Dia memang suka bantu pekerjaan di dalam  warung bila para pelayan tampak keteteran melayani pembeli. Sangat cekatan dia nyingkirkan mangkok-mangkok dan gelas kosong, lalu ngelap meja hingga bersih dan nyaman bagi pengunjung warung.

"Kahanan yang mana, Sa?"

"Ya kahanan politik to, Om. Kalau kahanan warung ini Insya Allah tetap aman terkendali selama masih ada Sasa," jawab Sasa sambil mringis menampakkan gigi-giginya yang tidak seberapa putih.

"Ngemar-emari piye, Sa? Menurutku ya gitu-gitu aja. Biasalah politik..."

"Ya memang. Tapi ini sudah keterlaluan, Om."

"Kok keterlaluan?"

"Ya iyalah. Mosok tiap hari, pagi-siang-malam rakyat hanya disuguhi pertengkaran, saling caci, saling fitnah, saling ancam, saling lapor. Bahkan ada yang lebih parah lagi, Om. Mereka sudah tidak malu-malu lagi misuh, mengumpat lawan politiknya dengan kata-kata yang sangat kasar dan tidak pantas diucapkan seorang tokoh apalagi pejabat."

"Sa, wong Jowo itu hanya misuh kalau terpaksa, lho. Mungkin hatinya memang benar-benar kecewa."

"Ya itu kalau wong cilik seperti Sasa ini. Mau misuh tiap hari juga gak masalah karena nasibku memang teraniaya. Lha kalau pejabat seperti Bupati atau Menteri yho ora ilok, Om. Tidak pantas. Mestinya "ing ngarsa sung tulada", berada di depan dan sanggup menjadi teladan bagi rakyatnya. Kalau menjaga lisannya saja sudah tidak mampu, wis trocoh kabeh, bagaimana dia menjaga perilakunya? Wis mesti rusak-rusakan, Om."

"Iyyaak kamu ini koyo ngerti-ngertio wae, Sa-Sa. Mbok jangan shu'udhon. Belum tentu mereka seperti prasangka kita. Ada lho orang yang lisannya baik, sopan, lembah-manah, tapi jebul korupsi, jebul mengkhianati istri, jebul suka nelikung atasannya. Iya to, Sa?"

"Wis embuh lah, Om. Maksudku cuma sederhana, kok. Kalau orang pengin jadi politisi, pengin jadi pejabat, apalagi sudah jadi pejabat, mbok ya belajar ngomong yang baik, berperilaku yang baik,  prasojo, jujur, gak usah neko-neko. Gak usah ngumbar janji. Gak usah mencaci lawan politiknya. Kalau tidak sanggup ngomong yang baik, lebih baik diam. Atau, sekalian turun saja menjadi rakyat seperti Sasa ini."

"Ngono yho, Sa? Baiklah, sesuk nek ketemu dho tak kandhanane....wkkkk."

Sasa meninggalkanku, berlari menuju jalan raya. Dia kembali ke tugas utamanya mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau masuk atau mau keluar dengan gayanya yang tampak sangar dan teriakan aba-abanya yang kadang terdengar menggelegar.
Dia hanya ingin memastikan semua pengunjung Soto Kartongali merasa aman dan nyaman, juga tidak mengganggu lalu-lintas jalan propinsi yang cukup padat.

Selamat bertugas, Sa.
Biarlah para politisi itu menampilkan dirinya apa adanya. Jangan diganggu, ya. Bisa bahaya.....

Minggu, 11 November 2018

NDOBOS

NDOBOS

Siang yang terik. Jam 11-an siang, Sasa masih terus kerja mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau keluar ke jalan raya atau mau masuk ke parkiran. Kulitnya yang hitam tampak legam, rambutnya yang ikal tampak awut-awutan, baju dan bendera kecil di tangannya tampak lusuh. Penampilannya tampak sangar. Dia memberi aba-aba dengan suaranya yang keras, badan mbungkuk-bungkuk, sambil tangan kirinya memegang ganjal roda dan tangan kanannya megang bendera kecil merah-orange. Bila roda sudah benar-benar lurus pada posisinya, barulah sopir boleh mematikan mesin dan turun dari mobilnya.

"Mohon maaf lho, Pak. Ini supaya roda mobil Panjenengan tidak cepat rusak," begitu Sasa selalu  minta permakluman para sopir yang tampak kurang berkenan. "Monggo pinarak," Sasa pun mempersilakan masuk dengan jempol tangannya yang luwes.

Sambil memperhatikan aksi Sasa, aku teringat obrolan kami kemarin pagi ketika warung masih sepi. Dia mereview beberapa nama dan sifat teman sekolah kami dulu.

"Si-Anu dulu sukanya ndobos ya, Om. Pintar sekali bikin cerita, seakan nyata, padahal aslinya omong-kosong," kata Sasa menyebut satu nama. "Gak bisa dipercaya. Sukanya bikin janji, tapi mletho, tidak pernah nepati. Esuk dele sore tempe, pagi bilang begini sorenya bilang begitu. Tobat tenan," imbuhnya sambil tertawa.

"Sekarang dia di mana ya, Sa?" tanyaku.

"Di Jakarta, Om. Sukses dia. Sudah jadi bos."

"Jadi pejabat atau punya perusahaan?"

"Gak tahu persisnya, Om. Pernah sekali mampir ke sini, mobilnya bagus, pengawalnya dua orang."

"Wah hebat ya, Sa? Punya pengawal..."

"Jalma tan kena kinira, Om. Dulu suka ndobos, sekarang justru sukses. Mungkin justru karena pinter ndobos itu ya, Om? Banyak orang gampang terbuai omongannya."

"Ya jangan begitulah, Sa. Suka ndobos kan dulu."

"Loh, sudah sifatnya kok, Om. Memang wolak-waliking jaman. Jaman sekarang ini, orang yang pinter ndobos, suka bohong, pinter apus-apus justru beruntung. Orang yang lugu kayak saya ini, ya tetap saja begini."

"Walah Sa, hidup kan cuma wang-sinawang. Belum tentu teman kita itu lebih bahagia daripada kamu, lho."

"Ya memang, Om. Tapi kalau setiap hari istri ngomel karena duit hasil kerjaku semakin tidak cukup untuk belanja keperluan harian, jadinya terasa banget, Om. Berat jadi rakyat. Enak yang pinter ndobos, pinter ason-asonan. Duitnya bisa berlimpah-ruah."

"Wislah, Sa. Sing sabar, yho. Ingat katamu dulu, kudu nrimo ing pandum.”

"Njih, Om. Siap. Harus sabar. Nrimo ing pandum Tapi kenapa ya, Om, orang sekarang lebih gampang percaya pada orang yang banyak omong dan banyak janji?"

“Maksudmu?”

“Tapi nuwun sewu lho, Om, ini agak politik.”

“Gak papa, Sa. Tenang saja. Kita kan sama-sama rakyat, bukan orang politik, bukan pejabat, juga bukan intel. Jadi bebas ngomong. Slow wae, Sa.”

“Begini lho, Om, sudah kutiteni dari dulu dan sudah kucermati dengan seksama, para politisi dan Pemerintah kita terlalu banyak janji.”

“Lah kok bisa?”

“Coba Sampeyan ingat-ingat apa saja janji Pemerintah ketika kampanye dulu. Masih ingat, gak?”

“Wah, apa saja ya, Sa? Sudah lupa aku.”

“Lha inilah masalah utama bangsa kita, pelupa semua. Ibarat penyakit, sudah tahap kronis.”

Weh ngece....”

“Bukan ngece, Om. Nyatanya memang begitu, kok. Rakyat gampang terbuai dengan janji-janji politisi, alias seneng dikadhali.”

“Coba sebutkan satu atau dua saja janji politisi yang tidak ditepati, Sa.”

“Aku masih salah satu janjinya di bidang perdagangan, mau menurunkan harga sembako. Mana buktinya, coba? Mbel thut, Om.”

“Terus apa lagi?”

“Janjinya di bidang pertanian lebih parah, Om.”

“Apa saja janjinya?”

“Sampeyan kan aktif nemani petani, Om? Kusebutkan tiga saja yang Sampeyan pasti paham.”

“Apa saja, Sa?”

“Penguatan Bulog, mensejahterakan petani, dan mengelola persediaan pupuk agar harganya tetap murah. Nyatanya bagaimana, Om? Bulog semakin kuat atau semakin rusak digerogoti tikus-tikus? Petani semakin makmur sejahtera atau semakin miskin karena kalah bersaing dengan produk impor? Pupuk semakin mudah dan murah atau semakin langka dan mahal? Mikir, Om....”

Jinguk tenan, Sasa. Ternyata daya ingatnya luar biasa. Itu memang problem sektor pertanian yang hingga kini belum teratasi. Petani semakin miskin. Harga pupuk dan obat semakin mahal, tapi harga jual hasil panen tetap rendah di pasaran. Lahan pertanian semakin sempit karena banyak yang berubah menjadi perumahan, pabrik-pabrik, dan jalan tol. Bulog juga tidak kunjung berdaya sebagai penjaga pangan Nasional karena belum bersih dari wabah tikus. Walaah...ternyata itu semua termasuk yang dijanjikan waktu kampanye, to?

Sasa..Sasa....sayangnya kamu cuma tukang parkir. Omonganmu tidak punya pengaruh, tidak didengar orang, padahal daya ingatmu sungguh tidak kalah dari para sarjana, cendikiawan, aktivis, dan juru dakwah. 

Ah Sasa....maqom-mu memang harus nrimo ing pandum.....