KI AGENG GRIBIK(Perjumpaan-2)
Oleh: Wahyudi Nasution
Obrolan pagi itu menjadi lebih gayeng sejak Mbak 'Aisyah melibatkan satu stafnya yang indigo. Riska, begitu nama panggilan staf yang asli dari Garut, Jawa Barat itu, diajak bergabung gara-gara obrolan kami masuk ke seputar sejarah Ki Ageng Gribik. Katanya, Riska biasa didatangi 'seseorang' yang sudah lama meninggal, lalu bisa berdialog panjang-lebar tentang sesuatu hal. Katanya, tadi malam Riska tidak bisa tidur karena sibuk mencatat di HPnya nama-nama yang disampaikan 'orang' itu terkait silsilah Ki Ageng Gribik.
Bermula dari obrolan Pak Bei dengan Mas Pri yang semakin seru, bahkan terkesan agak berdebat. Namanya juga obrolan lelaki. Beda dengan Mbak Aisyah dengan Bu Bei yang tampak asyik ngobrol seputar dunia wanita, tentang kegiatan Mbak 'Aisyah yang semakin padat dari kita ke kota, tentang anak-anak muda korban narkoba yang semakin hari semakin banyak, tentang yayasan yang dibangun Mbak 'Aisyah untuk pemulihan kembali para korban narkoba yang operasionalnya dibiayai sendiri dari hasil seminar dan ceramahnya. Bu Bei pun bercerita tentang kegiatannya sebagai Ketua DPC IWAPI Klaten dan sebagai Wakil Ketua Umum DPD IWAPI Jawa Tengah. Dalam satu meja bundar pagi itu, terjadi dua tema obrolan, namun masing-masing tampak sesekali mencuri-curi dengar obrolan tetangga.
"Mas, tadi Njenengan cerita bahwa sudah beberapa tahun terakhir ini tidak melibatkan diri di upacara Yaqawiyyu. Kenapa begitu? Bukankah ayah Mas Pri almarhum dulu sangat concern untuk berkontribusi mambangun masyarakat Jatinom, termasuk Saparan Yaqawiyyu?," tanya Pak Bei.
"Ya kan karena pandemi, Pak Bei," jawab Mas Pri sambil senyum-senyum.
"Loh tadi katanya susah sejak setahun sebelum pandemi? Dan Saparan kali ini pun Mas Pri juga sengaja tidak ambil peran?"
"Ya memang. Bahkan kali ini aku sama sekali tidak mau menginjakkan kaki ke makam Ki Ageng Gribik."
"Kenapa, Mas?"
"Yah kan sudah ada yang punya, Pak Bei. Sudah ada yang mengaku-aku sebagai dhuriyah atau keturunan Ki Ageng Gribik. Rupanya masyarakat sini pun percaya, lalu membiarkan makam leluhur Jatinom itu diobok-obok untuk kepentingan politik. Ya sudah, mau apa kita? Tapi saya yakin, mereka sesungguhnya tidak tahu siapa Ki Ageng Gribik dan dari mana asalnya."
"Menurut Mas Pri, siapa Ki Ageng Gribik itu?"
"Ki Ageng Gribik itu aslinya dari Jawa Timur, datang ke sini untuk berdakwah. Beliau juga membeli tanah-tanah di sekitar sini untuk dijadikan daerah perdikan yang merdeka dari intervensi keraton. Jadi kawasan Jatinom ini dulu semacam Pondok Pesantren."
"Mas Pri, saya punya teori yang mungkin agak berbeda tentang Ki Ageng Gribik."
"Beda bagaimana?"
"Ki Ageng Gribik itu paling tidak ada tiga, Mas," kata Pak Bei. "Ini berdasarkan angka tahun, beberapa kejadian, serta informasi sejarah yang pernah saya baca. Dengan logika dan imajinasi, saya mencoba otak-atik gathuk, Mas," sambungnya.
"Kok bisa ada tiga, Pak Bei?"
"Iya, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang pertama adalah Maulana Malik Maghribi, salah satu Walisanga angkatan pertama. Beliau berasal dari Maghribi atau Maroko. Sebagai da'i resmi Kasultanan Turki yang dikirim ke Tanah Jawa pada awal ke-14, beliau tentu sangat menguasai ilmu-ilmu agama. Di samping itu, beliau juga punya ketrampilan khusus untuk diajarkan ke masyarakat, yakni ketrampilan di bidang pertanian. Itulah sebabnya masyarakat Klaten punya kultur yang kuat di bidang pertanian, lebih kuat dibanding daerah-daerah sekitar. Itu jejak dakwah Ki Ageng Gribik, Mas. Itulah sebabnya kenapa dulu VOC memilih Klaten sebagai based-camp di antara Keraton Jogja-Solo untuk penguatan bisnis pertanian dan perkebunan."
"Iya juga sih. Infrastruktur pertanian di Klaten ini memang bagus. Tapi bukankah itu buatan Belanda, Pak Bei?"
"Yang membangun fisik irigasinya memang Belanda, Mas Pri. Tapi budaya dan etos kerja petaninya warisan Ki Ageng Gribik."
"Terus yang kedua siapa?"
"Yang kedua cucu Sunan Giri yang dikirim nyantri ke Jatinom, di padepokan sahabatnya di lereng Gunung Merapi, yakni Ki Ageng Gribik. Cucu sahabatnya itu digula-wenthah atau didik dengan sebaik-baiknya oleh Ki Ageng Gribik, lalu kelak setelah dewasa diambil jadi menantunya. Menantunya ini yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan sebagai Ki Ageng Gribik kedua. Ini jumbuh dengan silsilah resmi K.H. Ahmad Dahlan, bahwa pendiri Muhammadiyah itu keturunan ke-11 Ki Ageng Gribik Jatinom dan keturunan ke-13 Sunan Giri."
"Iya bener, Pak Bei. Saya juga pernah baca silsilah itu. Itu Ki Ageng Gribik kedua, ya?," Mbak 'Aisyah menyahut. Rupanya dia diam-diam ikut mendengarkan cerita Pak Bei.
"Iya, Mbak. Ki Ageng Gribik kedua, cucunya Sunan Giri."
"Lalu yang ketiga siapa?," tanya Mas Pri yang tampak jadi penasaran.
"Di akhir abad ke-14, ketika terjadi ontran-ontran atau gegeran di Kraton Majapahit yang kita kenal sebagai Perang Paregreg, ada seorang pemuda keturunan Brawijaya V, namanya Joko Dolog, melarikan diri ke arah barat, Lalu, Joko Dolog suwita di Padepokan Ki Ageng Gribik Jatinom. Sebagai santri, dia berganti nama menjadi Wasibagna Timur. Nah, mungkin karena keturunan raja Majapahit, Wasibagna Timur cepat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya. Bahkan, dia kemudian diambil jadi menantu gurunya itu. Nah, si Joko Dolog alias Wasibagna Timur inilah yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan dan menyandang nama besar Ki Ageng Gribik yang ketiga."
"Pak Bei, si Riska anak buahku yang indigo tadi pagi sempat cerita soal siapa Ki Ageng Gribik. Coba kuajak ke sini saja, ya. Kayaknya ada kesamaan," kata Mbak 'Aisyah sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Jadi benar kan, Ki Ageng Gribik itu orang Jawa Timur?," tanya Mas Pri seakan mencari pembenaran.
"Ya benar, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang ketiga keturunan Brawijaya V dari Majapahit Jawa Timur."
Mbak 'Aisyah kembali bersama Riska. Setelah bersalaman dengan Bu Bei, Riska mulai bercerita betapa tadi malam tidak bisa tidur karena sibuk mencatat nama-nama beserta urutan silsilah hingga sampai ke Ki Ageng Gribik. Dengan terbata-bata, Riska menyebut sejumlah nama anak-cucu Brawijaya V, di antaranya Wasibagna satu, Wasibagna dua, dan Joko Dolog yang dikenal sebagai Wasibagna Timur. Timur artinya muda. Wasibagna Timur inilah Ki Ageng Gribik yang makamnya ada di Jatinom."
"Nah, klop kan dengan othak-athik saya tadi, Mas? Itu Ki Ageng Gribik ketiga. Mungkin makam di belakang Mesjid Besar Jatinom itu makam Ki Ageng Gribik ketiga."
"Makam Ki Ageng Gribik pertama dan kedua yang mana ya, Pak Bei?," tanya Mbak 'Aisyah.
"Mungkin, cuma mungkin lho, makam Ki Ageng Gribik pertama yang ada di Demak itu. Seingat saya, di kompleks makam Demak ada makam Ki Ageng Gribik. Makam Ki Ageng Gribik kedua ada di Malang."
"Di Malang ada makam Ki Ageng Gribik?," tanya Bu Bei.
"Ada. Tapi orang tidak nggagas apa bedanya Ki Ageng Gribik yang makamnya di Malang dan di Jatinom."
"Pak Bei, Riska ini kan asli gadis Sunda, dan baru kali ini kuajak kemari. Jadi gak mungkin dia tahu Ki Ageng Gribik. Tapi ada 'orang' yang ngasih tahu, bahkan dengan sabar nunggui Riska mencatatnya. Ternyata infonya hampir sama dengan teori Pak Bei tadi, ya," kata Mbak 'Aisyah.
"Itu ada 'orang'nya," kata Riska sambil jarinya menuding ke plafon tepat di atas kepala Mas Pri.
"Iih Riska. Jangan gitulah," kata Mas Pri yang tampak merinding.
"Jadi, Mas Pri, kalau ada orang mengaku-aku sebagai keturunan Ki Ageng Gribik, itu maksudnya Ki Ageng Gribik yang mana? Selama ini orang Jatinom saja tidak ada yang berani mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng, kan?"
"Ya itulah, Pak Bei. Saya juga heran, kok bisa-bisanya orang luar mengklaim sebagai dhuriyahnya. Bapaknya saja yang dulu menjadi menjadi menteri Orba selama 3 periode, sama sekali belum pernah ke sini, apalagi mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik."
"Benar, Mas. Saya juga tahu. Ada dua menteri yang pernah datang ke sini tahun 1981 atau 1982, yakni Menko Kesra Surono dan Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara. Waktu itu mereka meresmikan program Listrik Masuk Desa, lalu menyempatkan sholat ashar di Mesjid Gedhe dan berziarah sebentar ke makam Ki Ageng Gribik."
"Kok Pak Bei masih ingat?," tanya Mbak 'Asiyah.
"Ya jelas ingat banget, Mbak. Lha waktuniru sekolah saya di SMP Muhammadiyah Jatinom, dan sebagai anggota drum band, saya ikut berjajar menyambut kehadiran tamu-tamu agung itu."
"Oya? Wah tentu asyik ya jadi pemain drum band SMP di desa bisa ikut menyambut kedatangan menteri," kata Mbak 'Aisyah sambil senyum-senyum.
"Mas Pri, saya lebih percaya seandainya Mas Pri atau ayah Mas Pri, juga keluarga besar Haji Sholeh, Haji Anwar, Haji Abdul Ghoni, dan sebagainya yang menurunkan tokoh-tokoh di Jatinom ini yang mengklaim sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik. Semua orang Jatinom pun akan maklum"
"Nyatanya tidak ada kan, Pak Bei? Itulah makanya makam Ki Ageng Gribik beserta tradisi haul Saparan Yaqawiyyu menjadi milik publik. Semua orang bisa ikut merayakannya, dan ikut merasakan manfaatnya. Semua orang Jatinom bisa terlibat dengan cara dan kemampuannya. Lha kalau tiba-tiba ada yang mengklaim sebagai dhuriyah, lalu memberi dana rehab kompleks makam dan menunjuk pengelolanya, lalu mengatur-ngatur keterlibatan masyarakat dengan semena-mena, ini kan menyedihkan, Pak Bei," kata Mas Pri.
"Benar, Mas Pri. Saya juga pernah dengar bahwa Cafe Klampeyan yang sahamnya milik masyarakat sekitar itu beberapa waktu yang lalu dibubarkan atas instruksi beliau. Padahal itu riil ekonomi rakyat. Saya lihat juga cukup ramai pengunjungnya. Ada panggung musik untuk para remaja menampilkan ketrampilannya bermusik. Sayang sekali malah dibubarkan."
"Yah itu pasti karena ada anteknya di sini yang merasa berkuasa, Pak Bei. Namanya saja antek, pasti dia dibiayai dan backup penuh oleh bosnya."
"Baiklah, Mas Pri dan Mbak 'Aisyah, saatnya kami mau neruskan perjalanan," kata Pak Bei.
"Mau kemana?," tanya Mbak 'Asiyah.
"Ke Ambarawa, Mbak, ngantar pesanan mukena ke pelanggan," jawab Bu Bei.
"Baik, Pak Bei. Obrolan menarik. Kapan-kaoan kita lanjutkan, ya," kata Mas Pri sambil berdiri mengantar Pak Bei-Bu Bei menuju mobilnya.
"Looh kita belum foto-foto," kata Mbak 'Aisyah mengingatkan.
"Nah iya bener. Ayo kita foto dulu," Bu Bei merespon dengan gembira.
Setelah sesi foto beberapa gambar, Pak Bei-Bu Bei pun meninggalkan Mas Pri dan Mbak 'Asiyah yang mengantar hingga di pintu gerbang.
#serialpakbei
#perjumpaandua
#saparanyaqawiyyu
#kiagenggribikjatinom