Selasa, 27 September 2022

TABLIGH AKBAR

TABLIGH AKBAR

Sejak pagi Pak Bei tampak sibuk dengan HPnya, menjawab berbagai pertanyaan seputar acara Tabligh Akbar menjelang Muktamar Muhammadiyah & 'Asiyiyah ke-48 di Surakarta, baik yang via WAG maupun WApri. Pak Bei sadar betul, itu resiko keterlibatannya sebagai Panitia Muktamar. Orang tahunya setiap panitia pasti memahami berbagai hal seputar Muktamar dan harus siap menjawab dengan baik setiap pertanyaan. Padahal tidaklah demikian. Setiap panitia mengurusi seksi atau sub-seksi yang menjadi tanggungjawabnya masing-masing. Hanya pimpinan dan seksi media atau humas yang tentu harus memahami seluruh urusan dan dapat mengkomunikasikan dengan baik kepada publik. Tapi itu hanya teori. Publik tahunya semua panitia paham segalanya. Maka, Pak Bei pun harus bisa menjawab setiap pertanyaan, meski tak jarang harus bertanya dulu pada teman yang ngurusi kegiatan terkait pertanyaan itu.

Masih mending kalau pertanyaan itu tertulis via WA, masih ada kesempatan bagi Pak Bei bertanya dulu pada teman yang mengurusi langsung. Kalau ndilalah pertanyaan via telepon, itu yang bisa bikin pusing pala dan pelo karena khawatir jawabannya tidak tepat dan mengecewakan.

Seperti tadi pagi, misalnya. Pak Bei baru saja selesai mengisi wadah makan dan minuman burung-burung kesukaannya, 2 ekor perkutut dan 3 ekor derkuku, dan mengembalikan kurungan-kurungan di cantelannya, tetiba ada dering telepon masuk di HPnya.

"Pak Bei, jadinya kapan acara Tabligh Akbar bersama Ustad Adi Hidayat? Ini jamaah mesjid kami sangat antusias untuk hadir bareng-bareng mengikuti langsung tausiyah UAH, ustad kesayangan kita. Kok belum ada publikasinya?," tanya seseorang yang mengaku bernama Taufiq dari Kebak Kramat, Karanganyar.

Bagi Pak Bei, itu kabar bagus, menunjukkan bahwa  animo masyarakat menghadiri acara Tabligh Akbar cukup tinggi. Tidak salah teman-teman panitia memilih UAH yang dihadirkan dengan keyakinan punya daya magnet kuat di masyarakat. Tapi sebenarnya Pak Bei juga agak ngeri mengingat kapasitas Edutorium UMS yang hanya sekitar 5.000 orang. Kalau nanti yang hadir sampai puluhan ribu orang bagaimana? Berarti Pantia harus mengantisipasi, paling tidak menyiapkan sound-system yang memadai, layar lebar LED di luar gedung, dan syukur bisa nyiapkan konsumsi snack atau sekadar air minum botol. Waoow....itu tentu akan menambah budget yang tidak sedikit.

"Mas Taufiq, Insya Allah acara Tabligh Akbar bersama UAH akan kita laksanakan pada Sabtu, 8 Oktober pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Itu bertepatan dengan hari libur Maulid Nabi, pas tanggal merah. Jadi Monggo kalau Mas Taufiq dan jamaah bisa hadir ngaji bareng, tentu panitia akan menyambut dengan gembira," jawab Pak Bei.

"Tidak ada perubahan tanggal ya, Pak Bei?"

"Tidak berubah, Mas. Tetap tanggal 8 Oktober 2022."

"Baiklah, Pak Bei, akan saya infokan ke jamaah dan teman-teman kami di kecamatan lain." kata Taufiq.

"Siap, Mas Taufiq. Silakan info ini diteruskan ke teman-teman. Kita sama-sama mensukseskan seluruh rangkaian acara Muktamar ke-48. Sampai jumpa di Edutorium tanggal 8 Oktober nggih, Mas."

"Matur nuwun sanget, Pak Bei. Assalaamu'alaikum...."

Pertanyaan Taufiq itu sama dengan pertanyaan Pak Baidi dari Weleri tadi malam yang siap hadir bersama rombongan 2 bus. Itu juga sama dengan cerita Didin bahwa PCM Pedan Klaten akan hadir paling tidak 3 bus belum termasuk yang pakai mobil pribadi. Sama juga dengan WA dari Ibu Sholihah dari Slogohimo Wonogiri yang akan hadir bersama jamaahnya dengan mencarter 1 bus besar.

"Luar Biasa. Semoga panitia bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi semua tamunya," kata Pak Bei dalam hati sambil beranjak menuju halaman untuk menyirami aneka bunga mawar yang bermekaran.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#seksisyiar
#muktamar50harilagi




Selasa, 20 September 2022

KI AGENG GRIBIK

KI AGENG GRIBIK
(Perjumpaan-2)
Oleh: Wahyudi Nasution

Obrolan pagi itu menjadi lebih gayeng sejak Mbak 'Aisyah melibatkan satu stafnya yang indigo. Riska, begitu nama panggilan staf yang asli dari Garut, Jawa Barat itu, diajak bergabung gara-gara obrolan kami masuk ke seputar sejarah Ki Ageng Gribik. Katanya, Riska biasa didatangi 'seseorang' yang sudah lama meninggal, lalu bisa berdialog panjang-lebar tentang sesuatu hal. Katanya, tadi malam Riska tidak bisa tidur karena sibuk mencatat di HPnya nama-nama yang disampaikan 'orang' itu terkait silsilah Ki Ageng Gribik.

Bermula dari obrolan Pak Bei dengan Mas Pri yang semakin seru, bahkan terkesan agak berdebat. Namanya juga obrolan lelaki. Beda dengan Mbak Aisyah dengan Bu Bei yang tampak asyik ngobrol seputar dunia wanita, tentang kegiatan Mbak 'Aisyah yang semakin padat dari kita ke kota, tentang anak-anak muda korban narkoba yang semakin hari semakin banyak, tentang yayasan yang dibangun Mbak 'Aisyah untuk pemulihan kembali para korban narkoba yang operasionalnya dibiayai sendiri dari hasil seminar dan ceramahnya. Bu Bei pun bercerita tentang kegiatannya sebagai Ketua DPC IWAPI Klaten dan sebagai Wakil Ketua Umum DPD IWAPI Jawa Tengah. Dalam satu meja bundar pagi itu, terjadi dua tema obrolan, namun masing-masing tampak sesekali mencuri-curi dengar obrolan tetangga.

"Mas, tadi Njenengan cerita bahwa sudah beberapa tahun terakhir ini tidak melibatkan diri di upacara Yaqawiyyu. Kenapa begitu? Bukankah ayah Mas Pri almarhum dulu sangat concern untuk berkontribusi mambangun masyarakat Jatinom, termasuk Saparan Yaqawiyyu?," tanya Pak Bei. 

"Ya kan karena pandemi, Pak Bei," jawab Mas Pri sambil senyum-senyum.

"Loh tadi katanya susah sejak setahun sebelum pandemi? Dan Saparan kali ini pun Mas Pri juga sengaja tidak ambil peran?"

"Ya memang. Bahkan kali ini aku sama sekali tidak mau menginjakkan kaki ke makam Ki Ageng Gribik."

"Kenapa, Mas?"

"Yah kan sudah ada yang punya, Pak Bei. Sudah ada yang mengaku-aku sebagai dhuriyah atau keturunan Ki Ageng Gribik. Rupanya masyarakat sini pun percaya, lalu membiarkan makam leluhur Jatinom itu diobok-obok untuk kepentingan politik. Ya sudah, mau apa kita? Tapi saya yakin, mereka sesungguhnya tidak tahu siapa Ki Ageng Gribik dan dari mana asalnya."

"Menurut Mas Pri, siapa Ki Ageng Gribik itu?"

"Ki Ageng Gribik itu aslinya dari Jawa Timur, datang ke sini untuk berdakwah. Beliau juga membeli tanah-tanah di sekitar sini untuk dijadikan daerah perdikan yang merdeka dari intervensi keraton. Jadi kawasan Jatinom ini dulu semacam Pondok Pesantren."

"Mas Pri, saya punya teori yang mungkin agak berbeda tentang Ki Ageng Gribik."

"Beda bagaimana?"

"Ki Ageng Gribik itu paling tidak ada tiga, Mas," kata Pak Bei. "Ini berdasarkan angka tahun, beberapa kejadian, serta informasi sejarah yang pernah saya baca. Dengan logika dan imajinasi, saya mencoba otak-atik gathuk, Mas," sambungnya.

"Kok bisa ada tiga, Pak Bei?"

"Iya, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang pertama adalah Maulana Malik Maghribi, salah satu Walisanga angkatan pertama. Beliau berasal dari Maghribi atau Maroko. Sebagai da'i resmi Kasultanan Turki yang dikirim ke Tanah Jawa pada awal ke-14, beliau tentu sangat menguasai ilmu-ilmu agama. Di samping itu,  beliau juga punya ketrampilan khusus untuk diajarkan ke masyarakat, yakni ketrampilan di bidang pertanian. Itulah sebabnya masyarakat Klaten punya kultur yang kuat di bidang pertanian, lebih kuat dibanding daerah-daerah sekitar. Itu jejak dakwah Ki Ageng Gribik, Mas. Itulah sebabnya kenapa dulu VOC memilih Klaten sebagai based-camp di antara Keraton Jogja-Solo untuk penguatan bisnis pertanian dan perkebunan."

"Iya juga sih. Infrastruktur pertanian di Klaten ini memang bagus. Tapi bukankah itu buatan Belanda, Pak Bei?"

"Yang membangun fisik irigasinya memang Belanda, Mas Pri. Tapi budaya dan etos kerja petaninya warisan Ki Ageng Gribik."

"Terus yang kedua siapa?"

"Yang kedua cucu Sunan Giri yang dikirim nyantri ke Jatinom, di padepokan sahabatnya di lereng Gunung Merapi, yakni Ki Ageng Gribik. Cucu sahabatnya itu digula-wenthah atau didik dengan sebaik-baiknya oleh Ki Ageng Gribik, lalu kelak setelah dewasa diambil jadi menantunya. Menantunya ini yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan sebagai Ki Ageng Gribik kedua. Ini jumbuh dengan silsilah resmi K.H. Ahmad Dahlan, bahwa pendiri Muhammadiyah itu keturunan ke-11 Ki Ageng Gribik Jatinom dan keturunan ke-13 Sunan Giri."

"Iya bener, Pak Bei. Saya juga pernah baca silsilah itu. Itu Ki Ageng Gribik kedua, ya?," Mbak 'Aisyah menyahut. Rupanya dia diam-diam ikut mendengarkan cerita Pak Bei.

"Iya, Mbak. Ki Ageng Gribik kedua, cucunya Sunan Giri."

"Lalu yang ketiga siapa?," tanya Mas Pri yang tampak jadi penasaran.

"Di akhir abad ke-14, ketika terjadi ontran-ontran atau gegeran di Kraton Majapahit yang kita kenal sebagai Perang Paregreg, ada seorang pemuda keturunan Brawijaya V, namanya Joko Dolog, melarikan diri ke arah barat, Lalu, Joko Dolog suwita di Padepokan Ki Ageng Gribik Jatinom. Sebagai santri, dia berganti nama menjadi Wasibagna Timur. Nah, mungkin karena keturunan raja Majapahit, Wasibagna Timur cepat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya. Bahkan, dia kemudian diambil jadi menantu gurunya itu. Nah, si Joko Dolog alias Wasibagna Timur inilah yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan dan menyandang nama besar Ki Ageng Gribik yang ketiga."

"Pak Bei, si Riska anak buahku yang indigo tadi pagi sempat cerita soal siapa Ki Ageng Gribik. Coba kuajak ke sini saja, ya. Kayaknya ada kesamaan," kata Mbak 'Aisyah sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Jadi benar kan, Ki Ageng Gribik itu orang Jawa Timur?," tanya Mas Pri seakan mencari pembenaran.

"Ya benar, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang ketiga keturunan Brawijaya V dari Majapahit Jawa Timur."

Mbak 'Aisyah kembali bersama Riska. Setelah bersalaman dengan Bu Bei, Riska mulai bercerita betapa tadi malam tidak bisa tidur karena sibuk mencatat nama-nama beserta urutan silsilah hingga sampai ke Ki Ageng Gribik. Dengan terbata-bata, Riska menyebut sejumlah nama anak-cucu Brawijaya V, di antaranya Wasibagna satu, Wasibagna dua, dan Joko Dolog yang dikenal sebagai Wasibagna Timur. Timur artinya muda. Wasibagna Timur inilah Ki Ageng Gribik yang makamnya ada di Jatinom."

"Nah, klop kan dengan othak-athik saya tadi, Mas? Itu Ki Ageng Gribik ketiga. Mungkin makam di  belakang Mesjid Besar Jatinom itu makam Ki Ageng Gribik ketiga."

"Makam Ki Ageng Gribik pertama dan kedua yang mana ya, Pak Bei?," tanya Mbak 'Aisyah.

"Mungkin, cuma mungkin lho, makam Ki Ageng Gribik pertama yang ada di Demak itu. Seingat saya, di kompleks makam Demak ada makam Ki Ageng Gribik. Makam Ki Ageng Gribik kedua ada di Malang."

"Di Malang ada makam Ki Ageng Gribik?," tanya Bu Bei.

"Ada. Tapi orang tidak nggagas apa bedanya Ki Ageng Gribik yang makamnya di Malang dan di Jatinom."

"Pak Bei, Riska ini kan asli gadis Sunda, dan baru kali ini kuajak kemari. Jadi gak mungkin dia tahu Ki Ageng Gribik. Tapi ada 'orang' yang ngasih tahu, bahkan dengan sabar nunggui Riska mencatatnya. Ternyata infonya hampir sama dengan teori Pak Bei tadi, ya," kata Mbak 'Aisyah.

"Itu ada 'orang'nya," kata Riska sambil jarinya menuding ke plafon tepat di atas kepala Mas Pri.

"Iih Riska. Jangan gitulah," kata Mas Pri yang tampak merinding.

"Jadi, Mas Pri, kalau ada orang mengaku-aku sebagai keturunan Ki Ageng Gribik, itu maksudnya Ki Ageng Gribik yang mana? Selama ini orang Jatinom saja tidak ada yang berani mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng, kan?"

"Ya itulah, Pak Bei. Saya juga heran, kok bisa-bisanya orang luar mengklaim sebagai dhuriyahnya. Bapaknya saja yang dulu menjadi menjadi menteri Orba selama 3 periode, sama sekali belum pernah ke sini, apalagi mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik."

"Benar, Mas. Saya juga tahu. Ada dua menteri yang pernah datang ke sini tahun 1981 atau 1982, yakni Menko Kesra Surono dan Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara. Waktu itu mereka meresmikan program Listrik Masuk Desa, lalu menyempatkan sholat ashar di Mesjid Gedhe dan berziarah sebentar ke makam Ki Ageng Gribik."

"Kok Pak Bei masih ingat?," tanya Mbak 'Asiyah.

"Ya jelas ingat banget, Mbak. Lha waktuniru sekolah saya di SMP Muhammadiyah Jatinom, dan sebagai anggota drum band, saya ikut berjajar menyambut kehadiran tamu-tamu agung itu."

"Oya? Wah tentu asyik ya jadi pemain drum band SMP di desa bisa ikut menyambut kedatangan menteri," kata Mbak 'Aisyah sambil senyum-senyum.

"Mas Pri, saya lebih percaya seandainya Mas Pri atau ayah Mas Pri, juga keluarga besar Haji Sholeh, Haji Anwar, Haji Abdul Ghoni, dan sebagainya yang menurunkan tokoh-tokoh di Jatinom ini yang mengklaim sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik. Semua orang Jatinom pun akan maklum"

"Nyatanya tidak ada kan, Pak Bei? Itulah makanya makam Ki Ageng Gribik beserta tradisi haul Saparan Yaqawiyyu menjadi milik publik. Semua orang bisa ikut merayakannya, dan ikut merasakan manfaatnya. Semua orang Jatinom bisa terlibat dengan cara dan kemampuannya. Lha kalau tiba-tiba ada yang mengklaim sebagai dhuriyah, lalu memberi dana rehab kompleks makam dan menunjuk pengelolanya, lalu mengatur-ngatur keterlibatan masyarakat dengan semena-mena, ini kan menyedihkan, Pak Bei," kata Mas Pri.

"Benar, Mas Pri. Saya juga pernah dengar bahwa Cafe Klampeyan yang sahamnya milik masyarakat sekitar itu beberapa waktu yang lalu dibubarkan atas instruksi beliau. Padahal itu riil ekonomi rakyat. Saya lihat juga cukup ramai pengunjungnya. Ada panggung musik untuk para remaja menampilkan ketrampilannya bermusik. Sayang sekali malah dibubarkan."

"Yah itu pasti karena ada anteknya di sini yang merasa berkuasa, Pak Bei. Namanya saja antek, pasti dia dibiayai dan backup penuh oleh bosnya."

"Baiklah, Mas Pri dan Mbak 'Aisyah, saatnya kami mau neruskan perjalanan," kata Pak Bei.

"Mau kemana?," tanya Mbak 'Asiyah.

"Ke Ambarawa, Mbak, ngantar pesanan mukena ke pelanggan," jawab Bu Bei.

"Baik, Pak Bei. Obrolan menarik. Kapan-kaoan kita lanjutkan, ya," kata Mas Pri sambil berdiri mengantar Pak Bei-Bu Bei menuju mobilnya.

"Looh kita belum foto-foto," kata Mbak 'Aisyah mengingatkan.

"Nah iya bener. Ayo kita foto dulu," Bu Bei merespon dengan gembira.

Setelah sesi foto beberapa gambar, Pak Bei-Bu Bei pun meninggalkan Mas Pri dan Mbak 'Asiyah yang mengantar hingga di pintu gerbang.

#serialpakbei
#perjumpaandua
#saparanyaqawiyyu
#kiagenggribikjatinom




















Senin, 19 September 2022

PERJUMPAAN

PERJUMPAAN
Oleh: Wahyudi Nasution

Tak pernah terlintas di kepala Pak Bei bahwa gadis cantik yang dulu tahun 1989 dikenalnya di Ujungpandang (Makassar) itu suatu saat bisa ketemu lagi ketika usianya sudah sama-sama tak lagi muda. Namanya 'Aisyah, mahasiswi Kedokteran Unhas yang ikut aktif sebagai panitia pengundang Sanggar Shalahuddin untuk mementaskan Teaterikalisasi Lautan Jilbab selama dua malam di Gedung Manunggal. Waktu itu bersama Cak Nun (penulis naskah), Agung Waskito alm. (sutradara), dan Sapto Raharjo alm. (penata musik), Pak Bei muda (baru umur 22 tahun) memimpin rombongan 30 pemain teater, naik kereta api dari stasiun Lempuyangan Jogja menuju Gubeng Surabaya, lalu naik angkot ke Tanjung Perak, dilanjut naik KM Tidar menyeberang Laut Jawa. 'Aisyah itulah panitia yang paling aktif dan baik pelayanannya. Tidak pernah terbayangkan juga bahwa salah satu panitia laki-laki yang agak senior usianya, namanya Priyanto, mahasiswa Kedokteran Unhas angkatan jauh lebih tua dari 'Aisyah, yang waktu itu aktif membantu Mas Sapto Raharjo mencari persewaan keyboard Roland S-50 hingga Surabaya, ternyata orang Jatinom, satu kecamatan dengan Pak Bei. 'Aisyah dan Priyanto kemudian berjodoh, jadi suami istri, dan tinggal di Jakarta. Dokter Priyanto mengelola beberapa Rumah Sakit milik keluarga, dan dokter 'Aisyah menekuni rehabilitasi korban narkoba dan mengisi seminar-seminar parenting di berbagai kota. Dokter 'Aisyah Dahlan, begitu nama bekennya, sangat populer terutama di kalangan ibu-ibu saat ini. Bu Bei salah satu penggemarnya. Ceramah-ceramah di Tv dan YouTube selalu diikutinya. Kabarnya, hampir setiap tahun di bulan Safar mereka pulang ke Jatinom, tapi sejak pandemi covid-19 tak pernah lagi, dan baru Safar tahun ini mereka kembali pulang ke kampung halaman Mas Pri manikmati hari raya Jatinom, Yaqawiyyu.

"Bu Bei, besok Safar Ibu Aisyah dan rombongannya akan pulang ke Jatinom. Rencananya akan buat acara seminar juga," begitu pesan WA dari Mbak Riwi yang karyawan di yayasan keluarga Mas Pri beberapa waktu lalu.

"Alhamdulillaah," jawab Bu Bei berbinar-binar. "Saya boleh datang gak, Mbak Riwi?" tanyanya.

"Boleh, Bu Bei. Besok kumintakan undangannya, ya. Peserta dibatasi dan harus bawa undangan."

Bulan Safar sudah masuk pertengahan. Kamis sore menjelang puncak upacara  tradisional Yaqawiyyu, yakni sebaran apem dalam rangka haul Ki Ageng Gribik, Bu Bei berangkat ke tempat acara bersama beberapa temannya berbekal undangan dari Mbak Riwi. Pak Bei berpesan, "Nda, bila memungkinkan, tolong nanti sampaikan salamku untuk Mbak 'Aisyah. Semoga dia masih ingat."

"Waduuh, apa bisa ya? Gak janji lho, Pak Bei. Nanti lihat sikon dulu."

Menjelang Maghrib, Bu Bei pun  tiba di rumah dengan wajah cerah-ceria usai ketemu langsung dengan salah satu idolanya. Pak Bei yang sedang ngopi di teras rumah sambil menunggu azan Maghrib menyambutnya dengan santai.

"Luar biasa. Benar-benar luar biasa," kata Bu Bei sambil tersenyum manisnya, persis seperti bunga mawar warna pink fanta yang sedang bermekaran di taman depan nDalem Pak Bei.

"Apanya yang luar biasa?"

"Ya ceramahnyalah. Sangat menarik. Tapi ada satu yang lebih menarik," kata Bu Bei sambil duduk di kursi dekat Pak Bei.

"Apa itu?"

Bu Bei bercerita bahwa tadi seusai acara, semua peserta antri bersalaman dengan Bu 'Aisyah. Ketika tiba gilirannya, Bu Bei pun menyalami Bu 'Aisyah dengan cipika-cipiki, lalu dibisikannya pesan dari Pak Bei, "Bu 'Aisyah dapat salam dari Pak Bei. Lautan Jilbab."

"Masya Allah. Lautan Jilbab. Allahu Akbar. Gimana kabar Pak Bei? Tinggal di mana dia sekarang?"

"Di Jatinom sini, Bu. Saya istrinya."

"Subhanallah...alhamdulillaah bisa tersambung lagi. Salam kembali untuk Pak Bei ya, Bu. Masya Allah."

"Ah yang bener beliau masih ingat aku?," Pak Bei seolah belum percaya.

"Masih gak percaya? Untuk urusan menyampaikan pesan, Bu Bei ini ahlinya. Selalu punya cara," kata Bu Bei dengan agak kemayu. "Beliau tadi sangat ekspresif ketika mendengar keyword Lautan Jilbab. Tampaknya itu pengalamannya yang tak terlupakan," sambung Bu Bei.

"Terus ada pesan apa?"

"Oya, kita diundang ngobrol-ngobrol di rumah Jatinom besok Sabtu pagi," kata Bu Bei meyakinkan Pak Bei.

Sabtu pagi, Pak Bei dan Bu Bei mau ke Ambarawa mengantar mukena-mukena pesanan pelanggan Bunsaco. Di jalan yang padat menjelang masuk kota Jatinom, Pak Bei yang teringat undangan itu langsung mengarahkan mobilnya ke rumah keluarga besar Mas Pri.

"Kita mampir dulu sebentar, Nda, nyambung silaturahmi," kata Pak Bei.

Setelah mobil terparkir di halaman, Bu Bei turun nemui ibu-ibu yang sedang nemani anak-anaknya bermain. Bu Bei menyampaikan maksud kedatangan kami sebagai teman lama. Ibu-ibu itu pun langsung beranjak ke rumah utama memanggilkan Bu 'Aisyah. Beberapa saat kemudian ibu-ibu itu mengajak kami ke rumah sebelah. Ya Allah, ternyata di sana kami diajak sarapan bareng rombongan dari Jakarta. Terlihat aneka makanan khas Jatinom telah tersaji di meja. Ada Sego megono, jenang lemu, sego gudhangan, sego trancam, dll. Aneka lauk juga tersedia di piring-piring saji. Ada tempe garit, tempe bacem, tahu bacem, tahu bakwan, dan telor asin. Dan satu lagi, karak. Ini krupuk berbahan beras atau nasi sisa dan favorit sebagai lauk Sego megono.
Pak Bei dan Bu Bei pun memilih sego megono, tempe bacem, dan karak. Nikmat tiada tara.

Sekitar setengah jam menunggu, seorang lelaki agak gendut berambut gondrong, berkaos dan celana pendek warna putih, datang bersama dokter 'Aisyah yang berbaju dan berjilbab hitam.

"Apa kabar, Pak Bei? Sudah lama sekali kita tidak ketemu, ya," kata laki-laki itu sambil menggenggam erat tangan Pak Bei. "Aku Prihanto yang dulu nemani Mas Sapto Raharjo cari keyboard sampai Surabaya," lanjutnya.

"Ya Allah, ini Mas Pri yang dulu sibuk bantu kami selama di Ujungpandang? Jebul asli sini, to.  Tonggo."  

"Mas Sapto Raharjo dan Agung Waskito sudah meninggal, ya?"

"Iya benar, Mas Pri. Sudah beberapa tahun yang lalu."

"Iya ,sudah lama kudengar kabar itu waktu ikut acara Kenduri Cinta Cak Nun di TIM Jakarta." Ternyata Mas Pri dan anak-buahnya sering datang ke acara rutin Cak Nun di halaman Taman Ismail Marzuki.

(bersambung)

#serialpakbei
#wahyudinasution
#saparanyaqawiyyujatinom











 yang  percaya, pasti Bu Bei akan menemukan cara 







Sabtu, 17 September 2022

RIP SASA

RIP SASA


Siang terik di Ambarawa. Pak Bei baru selesai sholat dhuhur ketika terdengar nada pesan WA masuk di HPnya. "Biarkan saja dulu. Paling juga WA group yang lebih sering tidak urgen dibaca," begitu pikir Pak Bei yang memilih melanjutkan wiridan  seperti biasa usai sholat. Setelah selesai baru dilihatnya pesan masuk di HPnya.

"Assalamualaikum wr. wb.
Maaf Pak Bei,  edaran  berita layu-layu belum di bikin, ya?," begitu pesan dari Margono, senior yang aktif di WAG Alumni SMP Muhammadiyah 2 Jatinom.

"Siapa yang meninggal, Mas?," tanya Pak Bei.

"Sasa, juru parkir Soto Kartongali."

"Ah yang bener? Tadi pagi kulihat dia bekerja dan tampak segar-bugar, Mas," Pak Bei tidak percaya. "Tolong dipastikan dulu, jangan-jangan cuma kabar Hoax?," lanjutnya.

Pak Bei kembali duduk di kursinya tadi, menyulut kretek yang terselip di pipanya, sambil menunggu balasan dari Margono. 

"Infonya valid dan sudah beredar di beberapa WAG, Pak Bei."

"Sasa sakit apa to, Mas?"

"Gak sakit. Tadi pagi dia kerja sampai jam 10an. Katanya sempat pingsan di parkiran, terus pulang karena gak enak badan. Sampai di rumah dikeroki istrinya, tapi karena kondisi mengkhawatirkan, maka dilarikan ke RS PKU Jatinom. Ternyata sampai di PKU kondisi Sasa tidak tertolong. Innaalillaahiwainnailaihirooji'uun."

"Ya Allah Sasa, semoga husnul-khotimah. Matur nuwun infonya, Mas," jawab Pak Bei sambil menyandarkan punggungnya di kursi. 

Terbayang wajah Sasa sahabat glenak-gleniknya beberapa tahun terakhir. Sasa ini teman sekolah Pak Bei di SMP Muhammadiyah Jatinom 1979-1982, teman di kegiatan drum band yang diasuh Pak Mas'ud (alm), teman belajar Pramuka yang diasuh Pak Adnan tiap Sabtu sore, teman belajar merokok pada jam-jam istirahat di kompleks makam Ki Ageng Gribik belakang Mesjid Besar Jatinom,  teman yang sejak lulus SMP hingga beberapa puluh tahun tidak pernah ketemu dan baru ketemu lagi setelah sama-sama berumur.

Perjumpaan kembali Pak Bei dengan Sasa terjadi warung Soto Kartongali. Sasa menjadi juru parkir di sana, sedang Pak Bei punya kegemaran makan soto. Soto Kartongali ini soto yang paling legendaris di kawasan Jatinom, dan menjadi lebih istimewa karena ada Sasa, juru parkir yang layak mendapatkan predikat Juru Parkir Teladan Nasional. Dia bekerja tidak seperti umumnya juru parkir yang hanya mendekati sopir atau pengendara motor ketika mau minta uang parkir. Tidak. Sasa bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya melayani dan menjaga keselamatan pengendara. Memakai rompi hijau khas juru parkir, bendera kecil warna merah-orange, sempritan tercantel di leher, dan balok kayu pengganjal ban mobil. Tapi itu hanya properti. Sasa lebih banyak bekerja dengan mulutnya bengok-bengok memberi aba-aba, sambil badannya membungkuk-bungkuk dan tangannya menuding-nuding memandu ke mana sopir mesti mengarahkan rodanya. Banyak orang yang baru pertama ke Soto Kartongali kaget bahkan sebel dengan pelayanan Sasa. Sok banget, begitu kesannya. Tapi bagi yang sudah biasa, mereka akan percaya dan manut arahan Sasa. Hebat betul pelayanannya. Dan satu hal yang istimewa, Sasa tidak mesti mau menerima uang pemberian para pengguna parkir. Kalau pun dia menerima, tentu akan disertai kata-kata santun, "Matur nuwun, Pak. Monggo ngatos-atos. Mugi-mugi tansah pinaringan sehat."

Sepanjang perjalanan pulang dari Ambarawa, semua memori Pak Bei tentang Sasa seakan kembali diputar. Sahabat yang bersahaja, yang hidupnya hanya  untuk melayani dan membantu orang lain. Pagi-pagi hingga siang menjadi juru parkir, sore hingga malam melayani panggilan pijat capek dari rumah ke rumah. Waktu masih muda, setelah lulus SMP hingga beberapa tahun, Sasa bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jatinom-Klaten. Tentu saja sebagai kernet dia juga harus belajar nyopir, mengganti ban, dan mengenali mesin bila ada yang perlu perbaikan. Dan yang pasti, Sasa juga harus beradaptasi dengan kehidupan jalanan yang keras dan kadang membuat orang lain kurang respect. Ternyata perkembangan jaman membuat para pengusaha angkutan bangkrut. Sasa pun kehilangan pekerjaan. Beruntung Kang Panut (alm.) memberi kesempatan agar Sasa mengelola lahan parkir di warung Soto Kartongali, menjadi juru parkir dengan pola bagi-hasil.

"Saya sudah marem, Pak Bei," kata Sasa suatu pagi.

"Marem apa, Sa?"

"Sudah cukuplah kenakalanku dengan teman-teman dulu. Sekarang saatnya mertobat."

"Bertobat maksudnya?"

"Iya, Pak Bei. Saya ingin hidup seperti manusia pada umumnya, hidup yang bukan hanya bersenang-senang, tapi bermanfaat bagi orang lain."

"Wah bagus itu, Sa. Apa yang bisa kubantu?"

"Tolong ajari saya, Pak Bei. Temani saya agar bisa jadi orang baik."

Sejak itulah Sasa sangat aktif ngobrol dengan Pak Bei. Bila tidak sempat ngobrol di warung, Sasa datang ke nDalem Pak Bei. Kadang pagi-pagi, kadang sore, kadang malam setelah dia melayani panggilan pijat. Tema obrolannya juga bermacam-macam, dari masalah pasar Jatinom yang ilang kumandhange, soal hujan amplop tiap musim Pemilu dan Pilkada yang justru membuat rakyat kecelik dan menderita, soal budaya nyadran dan Saparan di Jatinom, soal tokoh politik yang arogan terhadap rakyatnya, soal lahan pertanian yang terkena proyek jalan tol Jogja-Solo, dan sebagainya. Dan baru dua minggu lalu Sasa datang sambil mlepah-mlepah, marah, karena merasa didholimi ketika ditolak mau beli Pertalite di beberapa SPBU hanya gara-gara dia tidak punya HP Android dan tidak punya barcode.

"Ya Allah, Sasa....aku bersaksi Kamu orang baik dan selalu berbuat baik hingga akhir hayatmu. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosamu, meridhoimu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNya...aamiin," doa Pak Bei usai sholat jenazah.


#serialpakbei
#wahyudinasution
#dukacitamendalam
#doaterbaikuntuksasa











Kamis, 15 September 2022

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Salah satu kebahagiaan Pak Bei adalah ketika sore-sore bakda 'ashar atau malam-malam  bakda isya' dan kebetulan tidak ada agenda keluar, bisa duduk manis di teras rumah sambil menikmati kopi Semendo. Lalu, tiba-tiba berdatangan teman-temannya untuk sekadar ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali diselingi gojekan pari kena. Atau, tetiba datang mak-gruduk  anak-anak muda millenial ingin mengajak diskusi isu-isu yang sedang aktual di masyarakat dan media sosial. Bagi Pak Bei, kedatangan anak-anak millenial yang punya kepekaan dan semangat juang membuat jiwanya kembali terasa muda dan bergairah. Mereka bukan mau bertanya, tapi mengajak Pak Bei berdiskusi untuk mengkonfirmasikan berbagai hal yang mereka gelisahkan. Kadang pertanyaannya perlu jawaban sederhana, tidak mbulet, yang penting bisa melegakan jiwanya. Tapi kadang juga bikin pusing kepala barby karena jawaban atas pertanyaan mereka harus rasional dan tidak menggurui. Namanya juga generasi millenial. Kritis, tapi kadang juga nganyelke, seperti anak-anak muda yang datang tadi sore. 

"Soal acara sebaran apem di Jatinom itu bagaimana menurut, Pak Bei?," tanya Irfan membuka obrolan. "Kebetulan besok siang bakda Jumatan adalah puncak peringatan Yaqawiyyu berupa Sebaran Apem di Klampeyan bawah Mesjid Gedhe Jatinom," lanjutnya. 

"Masalahnya apa, Dek?," tanya Pak Bei.

"Acara mubazir seperti itu kok diuri-uri, dilestarikan jadi tradisi tahunan selama berabad-abad. Itu bagaimana, Pak Bei?," lanjut Irfan.

Sengaja Pak Bei tidak langsung merespon, tapi memberi kesempatan yang lain untuk menyampaikan pikirannya. Sambil menikmati kretek di pipanya, Pak Bei membiarkan anak-anak muda itu saling mengemukakan pendapat.

"Yah gimana, ya. Kita juga harus jujur dengan melihat sisi positifnya. Bagaimanapun  di acara tradisional Yaqawiyyu Jatinom setiap bulan Shafar ini telah terjadi perputaran ekonomi yang cukup besar dengan adanya Pasar Malam dan hadirnya puluhan ribu orang dari berbagai penjuru. Artinya, ada devisa masuk ke Jatinom yang luar biasa besar dan jelas berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Jatinom," Arkhan merespon Irfan dari sudut pandang ekonomi. 

"Tapi kita juga perlu waspada lho, Bro," Singgih ikut merespon, "Jangan-jangan kita ini melakukan dosa berjamaah."

"Maksudnya?," tanya Arkhan.

"Kita telah dengan sengaja mempertontonkan kebodohan dengan melempar-lemparkan berton-ton makanan berupa kue apem untuk diperebutkan ribuan orang pada puncak acara Saparan Yaqawiyyu," jawab Singgih. 

"Dan kita harus ingat juga, Bro, ada ustadz yang mengkhawatirkan acara Yaqawiyyu itu termasuk bid'ah dan syirik sehingga harus dijauhi," Irfan kembali bicara.

"Maksudnya?" tanya Arkhan.

"Dikatakan bid'ah karena tidak ada tuntunan syariatnya. Tapi memang sih, ini soal muammalah, bukan ibadah mahdhah, jd sebenarnya kita gak perlu khawatir bid'ah," jawab Irfan. "Dikatakan syirik karena biasanya apem-apem yang diperebutkan itu untuk dibawa pulang oleh orang yang mendapatkannya, lalu ditanam di sawah-sawah atau tegalan agar tanamannya subur dan tidak diserang hama. Ada juga yang ditanam di kios pasar atau toko agar laris dagangannya. Ada juga yang ditanam didepan rumah agar rejekinya lancar dan keluarganya tidak terserang penyakit. Jadi semacam tolak-bala. Maka, bila kita hadir atau bahkan terlibat di dalam upacara Sebaran Apem itu dikhawatirkan akan berdosa," Irfan menjelaskan seperti seorang Ustadz.

"Masih ada yang mau bicara?," tanya Pak Bei sambil menatap mata anak-anak muda itu satu-persatu.

"Sampun, Pak Bei. Sudah. Itu dulu saja. Kami pengin dengar pendapat Pak Bei," jawab Menot.

"Baiklah kalau begitu
Kalian tahu upacara Yaqawiyyu  Jatinom itu apa?," tanya Pak Bei.

"Tahu, Pak Bei. Itu acara haul Ki Ageng Gribik, salah satu ulama Walisanga yang mengawali dakwah Islam di Tanah Jawa abad ke-13, yang memilih basis dakwahnya di Jatinom dan makamnya berada di belakang Masjid Gedhe Jatinom," jawab Alfian.

"Benar. Kamu pinter, Cah Bagus. Ki Ageng Gribik adalah  salah satu Walisanga angkatan pertama yang dikirim oleh Sultan Hamid II dari Turki untuk merespon permintaan para pedagang yang sudah lebih dulu masuk ke Pulau Jawa."

"Tapi Pak Bei, kenapa tradisi haul Ki Ageng Gribik harus ada dan sebaran apem secara besar-besaran?," tanya Menot yang diam saja dari tadi.

"Memangnya kenapa?," Pak Bei memancing Menot meneruskan bicaranya.

"Menurut hemat saya, seorang ulama besar tidak mungkin mengajari umatnya bersedekah dengan cara yang buruk, dengan cara melempar-lemparkan makanan untuk diperebutkan seperti itu. Sebaran Apem. Saya yakin itu bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot.

"Iya, Pak Bei. Sedekah kan  artinya kebaikan, maka mestinya juga dilakukan dengan cara yang baik," Irfan menambahkan.

"Lha terus kira-kira ajaran siapa menurut kalian?" tanya Pak Bei.

"Namanya saja haul, Pak Bei, peringatan tahunan atas meninggalnya seorang tokoh. Tentu saja yang melakukannya bukan orang yang sudah meninggal, tapi yang masih hidup. Mungkin para sahabat atau santri-santrinya, Pak Bei. Jadi bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot. 

"Aku memahami kegelisahan kalian. Tampaknya memang perlu ada upaya sungguh-sungguh dari anak-muda Jatinom seperti kalian ini untuk mengembalikan ajaran Ki Ageng Gribik. Menemukan cara sedekah apem dengan cara yang baik. Bentuknya bagaimana, silakan dicari bersama-sama."

"Pak Bei, masalahnya tradisi Saparan ini sudah berlangsung berabad-abad," kata Irfan. "Bahkan," Irfan melanjutkan, "Upacara Yaqawiyyu sekarang ini sudah semakin besar dan ramai karena sudah ada sentuhan industri pariwisata. Seperti kata Arkhan tadi, motifnya ekonomi."

'Lebih parahnya lagi, Pak Bei, sudah beberapa tahun terakhir ini Upacara Yaqawiyyu dieksploitasi dan ditumpangi untuk kepentingan para politisi. Anehnya, tetiba ada seorang politisi yang mengaku keturunan Ki Ageng Gribik. Dan konyolnya masyarakat Jatinom pun percaya. Parah kan, Pak Bei?," nada bicara Menot seperti marah.

Pak Bei hanya senyum-senyum saja melihat anak-anak muda yang kritis itu. Terdengar azan Maghrib bersahutan dari Toa masjid-mushola sekitar.

"Baiklah, mari kita ke mesjid dulu. Obrolan bisa kita lanjutkan nanti bakda Maghrib," kata Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasutiom
#sebaranapem
#saparanyaqawiyyujatinom



Minggu, 11 September 2022

SEMAKIN DEKAT

SEMAKIN DEKAT

Untuk yang kesekian kalinya Pak Bei mendapat pertanyaan yang sama seputar agenda Muktamar Muhammadiyah & 'Aisyiyah ke-48 di Surakarta. Kali ini pertanyaaan bukan lagi via inbox dari teman FB atau WA dari teman di luar daerah atau provinsi, tapi dari teman-teman seputaran Klaten yang grudukan datang ke nDalem Pak Bei pagi-pagi. Semua pengin tahu agenda apa saja yang perlu dihadiri masyarakat sekitar Solo dan kapan waktunya. 

"Sebagai Penggembira, kita kan cuma dekat, Pak Bei. Bisa nglajo, alias bisa pulang-pergi tanpa perlu menginap," kata Mas Marwan yang datang bersama teman-teman dari Kalikotes.

"Makanya kami perlu tahu jadwal acara yang kira-kira penting untuk kami hadiri, Pak Bei," tambah Mas Rumini dari Pedan.

"Baiklah, Teman-Teman, ayo diminum dulu kopinya," kata Pak Bei sambil mempersilakan tamunya menikmati suguhan kopi andalannya.

"Ada beberapa agenda penting yang terutama masyarakat Solo Raya jangan sampai ketinggalan. Pertama, Tabligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat di Edutorium UMS pada Sabtu, 8 Oktober pukul 08.00-10.00 WIB. Ini pas tanggal merah Maulid Nabi. Jadi bagus kalau semua Ranting dan Cabang bisa hadir berombongan untuk ngaji bersama UAH ini."

"Pak Bei, kabarnya UAH itu asli kader Muhammadiyah, ya?" tanya Amir dari Tulung.

"Iya benar, ustadz muda yang asli dari Pendeglang Banten itu alumni Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Jawa Barat, memperoleh gelar LC dan MA (Sarjana S1 dan S2) dari satu Universitas terkenal Tripoli, Libya."

"Orangnya pintar banget, ya. Hafal Al Qur'an dan berbagai kitab, bahkan letak tulisan di halaman berapa baris ke berapa beliau hafal di luar kepala," kata Sanusi dari Ngawen.

"Iya, orang kok seperti Mbah Google, ya. Bisa menjawab setiap pertanyaan dengan baik berdasar bacaannya yang kuat," sahut Amir.

"Nah, makanya saya sarankan Teman-Teman ajaklah rombongan untuk hadir. Ingat, karena kapasitas gedung Edutorium terbatas, maka datangnya jangan sampai terlambat," kata Pak Bei.

"Pak Bei, nanti kalau sampai di sana gedung sudah penuh, bagaimana?," tanya Doni dari Delanggu.

"Tenang saja, Nda. Insya Allah di luar akan dipasang beberapa layar lebar LED atau Videotron agar semua jamaah bisa mengikuti ceramah UAH secara langsung," jawab Pak Bei. 

"Terus agenda penting yang kedua apa, Pak Bei?," tanya Rumini.

"Nah ini juga penting, terutama bagi para penggemar olah raga sepeda, pegowes. Segera daftar dan ikutilah Gowes Virtual. Ini pesertanya dari seluruh dunia. Pendaftaran sudah dibuka beberapa lalu secara online via http://muktamaride.id. Nah, untuk Pegowes di seputaran Solo Raya juga ada Gowes Luring pada 6 November 2022. Ini gowes seperti biasa. Para peserta dari SOBOSUKAWONOSRATEN (Solo, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten) berangkat dari PDM masing-masing menuju titik kumpul di Edutorium UMS. Di sana nanti akan diumumkan para pemenang Gowes Virtual dan Gowes Luring dengan aneka hadiah menarik. Nah, ini yang perlu dipersiapkan oleh PDM-PDM se-Solo Raya, segera berkoordinasi dengan Panitia Muktamar di Solo. Kami yakin akan banyak sekali peminatnya."

"Yang ketiga apa, Pak Bei?," tanya Udin dari Jatinom.

"Kalian pernah nonton acara Mata Najwa di TV?"

"Sering," jawab Sanusi. 

"Kalau gak sempat nonton di TV, saya biasanya nonton di YouTube, Pak Bei," imbuh Amir.

"Bagus. Berarti Teman-Teman perlu hadir di acara Muktamar-Talk bersama Najwa Shihab di Edutorium UMS tanggal 10 November 2022 pukul 08.00-10.00 WIB."

"Waow...jadi kita bisa ngikuti live Mata Najwa ya, Pak Bei? Josss. Siapa saja narasumbernya?" tanya Sanusi.

"Segmen pertama ada Pak Haedar Nashir Ketum PP Muhammadiyah dan Pak Yahya Staquf Ketum PBNU. Segmen selanjutnya ada Pak Abdul Mukti Sekum PP Muhammadiyah, Pak Mahfudz MD Menkopolhukham kita, dan Mbak Rahmawati Husein Tokoh Kebencanaan PBB yang juga Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Mas Yusril Fahriza yang lagi terkenal sebagai Komika dan Aktor, dan ada Mas Ismail Fahmi si founder Drone Emprit yang fenomenal."

"Wah menarik sekali. Harus datang kita, Lur," kata Udin.

"Siap. Kita berangkat bareng-bareng, ya," Rumini menyahut.

"Acara yang keempat apa, Pak Bei?," tanya Amir yang tampak sudah tidak sabar.

"Nah ini yang tentu menarik bagi kalangan muda seperti Kalian. Di tanggal 18 November pukul 19.00-23.00, ada Malam Mangayubgyo di halaman parkir Edutorium. Ini acara penyambutan untuk seluruh Muktamirin dan Penggembira, acara Pembagyoharjo istilah orang Solo. Seluruh tamu akan menikmati penampilan Metronome Band dari Semarang, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, dan dipuncaki oleh bintang tamu Band Letto dari Yogyakarta dan Tantri Kotak dari Jakarta. Dan ada yang lebih penting lagi acaranya, yaitu penyerahan Anugerah Kebudayaan untuk 3 Maestro Musik Keroncong, yaitu Bapak Gesang (alm.), ibu Hj..Waldjinah, dan Mas Didi Kempot (alm.). Ketiganya dioandang telah berjasa besar bagi perkembangan musik khususnya keroncong di Tanah Air hingga terkenal di manca negara. "

"Letto dan Tantri Kotak nanti pentas live, Pak Bei?

"Iya benar, Nda. Pasti meriah."

"Asyik...kita harus datang ramai-ramai, Lur," kata Amir.

"Pada prinsipnya," lanjut Pak Bei, "Di acara malam itu nanti akan terjadi Silaturahmi Akbar yang diikuti masyarakat umum dan seluruh Muktamirin, aktivis Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dari Cabang, Daerah, Wilayah se-Indonesia dan Cabang-Cabang Istimewa di Luar Negeri, serta seluruh Pimpinan Pusat. Kalian nanti bisa mendapatkan teman baru dari berbagai penjuru."

"Nah itu yang lebih penting untuk kita, Lur. Siapa tahu bisa ketemu jodoh aktivis NA dari Medan, Bugis, atau Papua di sana," kata Marwan disambut gelak-tawa teman-temannya.

"Acara kelima apa, Pak Bei?," tanya Udin.

"Nah ini yang tidak kalah penting, yaitu acara Pembukaan Muktamar oleh RI-1 di Stadion Manahan tanggal 19 November pukul 07.00-10.00 WIB."

"Dibuka oleh Pak Jokowi, Pak Bei?"

"Iya benar. Kita tahu, Muktamar adalah hajatan terbesar persyarikatan Muhammadiyah yang telah berkontribusi besar bagi berdirinya negara RI. Muhammadiyah juga aktif mengisi serta merawat kemerdekaan RI melalui ribuan Amal Usaha di bidang pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, majelis taklim, dan lain-lain. Maka wajar kalau Muktamar dibuka oleh Presiden RI."

"Berarti nanti juga hadir Pak Ganjar gubernur Jawa Tengah dan Mas Gibran Wali Kota Solo, Pak Bai?"

"Insya Allah mereka akan hadir. Juga akan hadir para Menteri, Bupati se-Solo Raya, para tamu undangan seperti Duta-Duta Besar dari negara sahabat, dan para Tokoh Persaudaraan dan Perdamaian Lintas Agama yang rencana akan diajak oleh Pak Dien Syamsuddin."

"Pak Bei, konon Muktamar nanti akan hadir jutaan orang dari seluruh penjuru. Kalau semua hadir ke stadion Manahan tentu tidak muat tempatnya. Gimana solusinya, Pak Bei?," tanya Sanusi.

"Betul sekali. Kapasitas Stadion Manahan Solo tentu terbatas sehingga tidak semua Penggembira bisa masuk ke sana. Maka, panitia akan memasang layar lebar LED di beberapa tempat seperti halaman Stadion Manahan, halaman Edutorium UMS, dan De'Colomadu. Insya Allah semua Penggembira akan bisa mengikuti acara Pembukaan secara langsung meski dari luar Stadion."

"Baik, Pak Bei. Terima kasih infonya. Sudah cukup jelas. Insya Allah info ini akan kami teruskan ke jemaah," kata Rumini.

"Sabar dulu, Lur. Mungkin masih ada lagi yang keenam," kata Marwan.

"Benar, Mas Marwan. Masih ada yang keenam dan tidak boleh terlewatkan."

"Apa itu, Pak Bei?"

"Muktamar Fair. Ini Bazar UMKM dan Expo Inovasi Teknologi dari Perguruan Tinggi dan Sekolah-Sekolah Muhammadiyah. Bertempat di De'Colomadu mulai tanggal 17 hingga 21 November. Di sana nanti semua Muktamirin dan Penggembira bisa belanja aneka oleh-oleh sambil melihat karya-karya inovasi teknologi kader Muhammadiyah, dan menikmati sajian kesenian di panggung yang tersedia."

"Pak Bei, kalau kita pengin ikut Bazar UMKM bagaimana caranya?," tanya Rumini.

"Kalau soal itu, buka saja http://bazar.muktamar48.id, daftarlah via online. Oke, Nda? Terima kasih atas kunjungan Teman-Teman pagi ini. Sering-seringlah mampir ke sini ngobrol-ngobrol sambil ngopi."

"Siap, Pak Bei. Kami pamit dulu, njih."

Para pemuda itu berpamitan dengan takzimnya. Pak Bei nguntapke, melapas kepergian mereka di halaman.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#seksisyiarmuktamar48
#muktamarsemakindekat















Selasa, 06 September 2022

BBM SUBSIDI

BBM SUBSIDI

Lagi-lagi Pak Bei seolah tak mampu merespon kegelisahan Sasa, juru parkir Soto Kartongali Jolotundo Jatinom yang menjadi sahabat glenak-gleniknya itu. Apalagi kalau kegelisahan Sasa sudah berubah manjadi kemarahan yang memuncak, tidak jarang kata-kata dan kalimat misuh keluar dari mulutnya.

Seperti malam ini, ketika Pak Bei baru saja pulang dari kampus UMS mengikuti rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Surakarta. Sejak jam 9 pagi hingga menjelang siang, Pak Bei sudah mengikuti rapat untuk menentukan siapa saja narasumber acara Muktamar Talk bersama Najwa Shihab tanggal 10 November nanti. Menunggu waktu rapat lagi bakda ashar, Pak Bei bertandang ke rumah sahabatnya sesama Panitia, Pak Uud, sekaligus ingin melihat usaha kuliner Gudeg Jogja yang dikelola isterinya dan laris-manis penjualannya melalui online. Tentu saja Pak Ben pun sempat menikmati suguhan Gudeg yang rasanya manis, legit, dengan suwiran daging serta telur ayam yang gempi dan berasa nyokot di lidah. 

"Negara kok jadi semakin rusak kayak gini ya, Pak Bei. Bajigur tenan," kata Sasa begitu Pak Bei menyuguhkan kopi dan ikut duduk di teras. 

"Apanya yang rusak, Sa?," tanya Pak Bei sambil menyulut sebatang kretek yang sudah terselip di pipanya.

"Iyak, masih nanya apa yang rusak? Lha sudah jelas rusak-rusakan semua sendi kehidupan bernegara ini, kok," Sasa maido, tidak percaya bahwa Pak Bei tidak paham maksudnya.

"Ada cerita apa to, Sa? Mbokya ceritakan saja. Sahabatmu ini siap menjadi ember penampung limbahmu."

"Jinguk tenan. Sebagai rakyat, kali ini aku betul-betul merasa diremehkan, Pak Bei. Pelecehan."

"Gimana ceritanya?"

"Tadi siang aku ngantar tetangga untuk kontrol ke RS Ortophedi di Solo pakai mobil ponakanku. Sambil pulang, kulihat kedip-kedip lampu kuning di Speedometer tanda agar kami segera mengisi Pertalite. Kami pun mampir di pom bensin Kartasura. Ehh ternyata di pom itu hanya ada Pertamax dan Solar-Dex, stok Pertalite kosong, katanya. Hal yang sama terjadi di pom bensin berikutnya, di Sawit. Waduh, gawat kalau di pom bensin Delanggu nanti juga kosong Pertalite. Masa harus beli Pertamax yang mahal? Edyan," Sasa bercerita dengan ekspresif.

"Di pom Delanggu ada Pertalite, kan?," tanya Pak Bei.

"Ada. Tapi asyuog," Sasa misuh lagi.

"Lah kenapa?"

"Di sana aku ditanya apa sudah daftar MyPertamina. Ya jelas belumlah. Lha wong mobil ini juga cuma pinjaman punya ponakan."

"Lha terus?"

"Petugas pom itu pinjam HPku mau bantu mendaftarkan. Ya jelas gak bisa."

"Kenapa gak bisa?"

"Waduh maaf, HP Bapak gak bisa buat daftar MyPertamina. Harus pakai HP Android, Pak. Begitu kata petugas pom itu."

"Terus?"

"Lalu kutanya, apak gak boleh beli Pertalite kalau gak punya HP Android?"

"Bisanya ngisi Pertamax, Pak," katanya. 

"Ya sudah gak jadi saja. Tolong ditutup lagi tangkiku. Jinguuk..." kataku dengan mangkel.

Sepanjang jalan, sambil hatiku kebat-kebit khawatir mobil mogok kehabisan bensin, pikiranku melayang ke mana-mana. Baru dua Minggu lalu kita memperingati Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Seluruh rakyat dihimbau mengibarkan bendera merah putih, menghias gapura-gapura desa, bikin aneka lomba permainan anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak. Semua rakyat bergembira menikmati kemerdekaan. Malam 17an masyarakat di kampung-kampung ngadakan acara Tirakatan untuk merenungi perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Lalu paginya, murid-murid sekolah dan para pegawai ikut upacara bendera. Konyolnya, Pak Bei, siangnya rakyat disuguhi tontonan tidak bermutu."

"Tontonan apa?"

"Presiden, para Menteri, dan semua Pejabat Tinggi Negara jogetan bareng penyanyi cilik dengan irama dangdut koplo di acara resmi Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara. Jindul tenaan. Rusak...rusak. Dobol kabeh.."

Pak Bei hanya terdiam kami-tenggengen mendengar kemarahan Sasa. Ternyata Sasa juga prihatin bahkan marah melihat tayangan Peringatan Hari Kemerdekaan  di tv yang justru dipuja-puji banyak orang itu. Dan tampaknya kemarahan sahabatnya kali ini cukup serius, meski hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata kasar, pisuhan.

"Makanya jadi rakyat jangan mau dibohongi terus. Agak cerdas dikitlah, Sa."

"Ya itulah, Pak Bei. Rakyat ini angel tenan kandhan-kandhanane. Semua sudah mata duitan. Ngiler semua melihat amplop dibagi-bagikan setiap musim Pemilu. Sudah jelas katuranggan orang itu kurang baik, kurang jujur, kurang amanah, lha kok disuruh jadi pemimpin, disuruh ngurusi negara. Sudah jelas orang bakatnya cuma jadi maling kok disuruh jadi pejabat, dipilih jadi wakil rakyat, dipercaya jadi penegak hukum, disuruh jadi Rektor perguruan tinggi. Ya ambyar semua jadinya."

"Hahaha....Merdeka!!," kata Pak Bei sambil mengepalkan tangan dan matanya mendelik sengaja ngece Sasa.

"Belum, Pak Bei. Belum merdeka. Hanya orang goblok yang percaya kita sudahnmerdeka. Saat ini kita justru dijajah oleh saudara-sudara kita sendiri yang berubah jadi gentho, Pak Bei. Masalahnya gentho-gentho itu semakin banyak, cepat sekali mereka beranak- pinak, seperti virus Corona yang cepat sekali berkembang-biak dan menular ke siapa saja. Semua pejabat pun ikut jadi gentho, Pak Bei. Berpesta-pora tanpa malu. Sungguh mengerikan."

"Sudahlah, Sa, gak usah terlalu serius mikir kahanan negara. Rakyat ini santai sajalah. Yang penting masih bisa merasakan nikmatnya makan meski hanya lauk sambal dan kerupuk, masih bisa menikmati kopi meski tanpa gula, masih bisa klapas-klapus ngrokok tiap hari. Kalau terpaksa tidak kuat beli rokok, masih bisa ngrokok tingwe, Sa. Slow waelah."

"Angel, Pak Bei."

"Angel bagaimana? Biarkan saja gentho-gentho itu ngutil, maling, dan ngrampok kekayaan negara. Kalau kita usik, kita teriak, bisa-bisa kita malah dituduh menebar ujaran kebencian, radikal, intoleran, anti-NKRI, anti-kebhinekaan. Repot, Sa. Sudah banyak korbannya. Lebih baik rakyat diam saja sambil berdoa segera turun azan dari Tuhan untuk para gentho itu."

"Ya gak bisa begitu, Pak Bei. Kita tetap harus merapatkan barisan dan berjuang memerangi gentho-gentho itu, apapun caranya. Melihat kemungkaran kok cuma diam dan berdoa. Itu selemah-lemah iman, Pak Bei."

Mak jleb.... Kata-kata terakhir Sasa sungguh terasa menohok ulu hati. Sebenarnya maksud Pak Bei tadi cuma menghibur sahabatnya, yang kesehariannya saja tampak hanya rakyat biasa, rakyat jelalatan yang tiap harus berpanas-panas berhujan-hujan mencari nafkah di lahan parkiran. Sebenarnya Pak Bei juga tahu banyak sekali orang seperti Sasa, rakyat bawah, miskin ekonominya, dan hidupnya dipandang sebelah mata. Tapi ternyata orang-orang seperti Sasa juga punya kegelisahan dan justru perlu diwaspadai karena sesungguhnya punya mental pejuang yang menyala-nyala. Bahkan, mungkin hanya soal waktu bisa digerakkan kapan saja untuk melawan kebatinan di negeri ini. Wallaahua'lambishawab.

#serialpakbei
#bbmnaiktinggi
#negaradalambahaya















Sabtu, 03 September 2022

WISATA MUKTAMAR

WISATA MUKTAMAR

Bakda maghrib, Pak Bei sedang khusyuk nderes Al-Quran ketika tetiba terdengar nada panggilan masuk di HPnya. Karena dari nomor tak dikenal, belum tersimpan di phonebook-nya, maka panggilan itu diabaikan saja. Pak Bei meneruskan bacaan hingga sampai di tanda ruku'. Ternyata panggilan dari nomor yang sama masuk lagi, dan Pak Bei segera mengangkatnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab dengan baik oleh Pak Bei, lelaki itu pun memperkenalkan diri. Namanya Pak Abduh, warga Muhammadiyah dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Dapat nomor Pak Bei dari teman anaknya yang kuliah di UIN Padang Sidempuan, katanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak Abduh?," tanya Pak Bei.

"Begini, Pak Bei. Mohon maaf sebelumnya, saya mau minta informasi seputar Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo bulan November nanti. Apakah Pak Bei berkenan?," tanya Pak Abduh dengan sopan.

"Boleh, Pak Abduh. Silakan. Info apa yang Bapak perlukan?"

"Kami warga Muhammadiyah Padang Sidempuan berencana mau ramai-ramai datang ke Solo sebagai Penggembira Muktamar."

"Alhamdulillaah, bagus itu, Pak Abduh. Apa yang bisa kami bantu?"

"Kami perlu beberapa informasi. Pertama, sebaiknya tanggal berapa kami sampai di Solo? Kedua, apa saja agenda Muktamar yang bisa kami ikuti?," itu dulu Pak Bei. Mohon informasinya."

"Baik, Pak Abduh. Soal kapan sebaiknya rombongan Penggembira sampai di Solo, saya sarankan Pak Abduh dan kawan-kawan sudah masuk di Solo tanggal 18 November pagi. Siangnya bisa istirahat, sore bisa jalan-jalan ke Bazar UMKM dan Expo Inovasi Teknologi di D'Colomadu. Lalu malamnya ikut acara Malam MANGAYUBAGYO di halaman Edutorium UMS."

"Ada Bazar UMKM? Berarti kami bisa cari cenderamata untuk oleh-oleh di sana, Pak Bei?"

"Bisa, Pak. Ada 500 stand UMKM aneka produk, dari fashion, cenderamata, sampai makanan. Dan jangan lupa, Pak Abduh dan kawan-kawan bisa lihat-lihat juga karya-karya inovasi teknologi dari Sekolah-Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bisa juga sambil menikmati suguhan pentas-pentas kesenian di sana."

"Baik, Pak Bei. Insya Allah kami akan kunjungi Bazar UMKM dan Expo itu. Terus yang acara malamnya tadi apa namanya, Pak Bei?"

"Malam MANGAYUBAGYO, Pak Abduh. Itu semacam Malam Ta'aruf, malam penyambutan dari Panitia Penerima untuk para Muktamirin dan Penggembira. Acara itu kami persiapkan sebagai tanda kebahagiaan kami menyambut kehadiran teman-teman seperjuangan dari berbagai penjuru di kota Solo."

"Apa saja acaranya?"

"Kami akan suguhkan beberapa sajian musik, antara lain Metronome Band dari Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, dipuncaki penampilan Band Letto dari Jogja dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah manarik sekali ini, Pak Bei. Band Letto itu yang vocalisnya Noe anaknya Cak Nun, kan?" 

"Benar sekali, Pak Abduh," jawab Pak Bei dengan agak kaget, ternyata Pak Abduh sudah mengenal Cak Nun.

"Tantri Kotak itu penyanyi yang pakai jilbab itu, ya?"

"Benar, Pak Abduh. Dia penyanyi berjilbab yang cantik dan energik di setiap pentasnya."

"Wah asyik itu."

"Dan satu lagi, Pak Abduh. Di acara itu kita juga akan menyaksikan penyerahan Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk 3 maestro musik keroncong dari Solo, yaitu Bapak Gesang almarhum, Ibu Hj. Waldjinah, dan Didi Kempot almarhum."

"Wah hebat itu, Pak Bei. Salut."

"Gimana maksud, Pak Abduh?"

"Ada Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk seniman, itu luar biasa, Pak Bei. Kita tunjukkan pada dunia bahwa Muhammadiyah punya apresiasi tinggi pada seniman-budayawan."

"Insya Allah, Pak Abduh."

"Tapi kenapa hanya untuk seniman musik keroncong dari Solo, Pak Bei? Padahal seniman-budayawan kita kan banyak yang hebat dan kelas dunia. Ada Buya Hamka, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, Pedro Sudjono, Amri Yahya, Taufiq Ismail, Chaerul Umam, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, dan masih banyak lagi lainnya."

"Iya memang banyak, Pak Abduh. Tapi Anugerah Kebudayaan pada Muktamar di Solo ini baru bisa untuk ketiga maetro keroncong itu. Mudah-mudahan pada setiap muktamar selanjutnya akan ada lagi untuk para seniman-budayawan yang lain, seperti nama-nama yang Pak Abduh sebutkan tadi."

"Lalu, acara apalagi yang bisa kami ikuti?"

"Acara Pembukaan Muktamar ke-48 bersama Presiden Jokowi di Stadion Manahan, Pak Abduh. Tapi tentu saja nanti ada prosedur yang harus ditaati oleh seluruh hadirin. Maklumlah, ini acara resmi yang melibatkan RI-1, tentu ada protokoler yang ketat."

"Iyalah, Pak Bei. Kami maklum itu, dan Insya Allah kami akan ikuti semua aturan yang ada."

"Iya, Pak Baduh."

"Pertanyaan selanjutnya, Pak Bei, selain menyaksikan acara-acara di Muktamar, tentu kami juga ingin berwisata sambil mencari inspirasi untuk pengembangan dakwah Muhammadiyah di daerah kami. Kira-kira, PDM atau PCM mana saja di sekitar Solo yang layak dan bisa kami kunjungi? Kami juga ingin studi banding, Pak Bei."

"Ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi, Pak Abduh. Tinggal pilih mau ke PDM Kota Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, atau ke Klaten. Setiap PDM punya kekhasan masing-masing."

"Apa saja itu, Pak Bei?"

"PDM Kota Solo punya produk MieMu berbahan mocav yang layak dikonsumsi. Karanganyar cukup progresif dan punya pabrik AirMu yang cukup pesat perkembangannya. Sragen punya pengelolaan LAZISMU yang bagus dan sekolah Trensain yang fenomenal. Sukoharjo punya Pondok Pesantren Imam Suhodo yang jadi salah satu rujukan pondok pesantren Muhammadiyah, juga punya SMK yang bisa bikin bed untuk  Rumah Sakit yang bagus kualitasnya. Klaten punya beberapa PCM yang cukup maju. PCM Jatinom, misalnya,  punya AUM BMT Yaqawiyyu dengan aset ratusan milyar dan 100% sahamnya milik Persyarikatan. Juga punya sekolah-sekolah bagus dan PKU yang berkembang pesat.  Delanggu punya PKU yang besar dan hebat. Cawas punya BMT Ahmad Dahlan yang assetnya ratusan milyar juga. Ada juga Ranting Gading yang kreatif di gerakan ekonomi melalui TokoMu yang layak dikunjungi."

"Kalau kami mau cari inspirasi seputar dakwah di sektor pertanian, sebaiknya ke mana, Pak Bei?"

"Ooh kalau itu Pak Abduh bisa ke Klaten atau ke Sragen. Di Klaten ada pilot project Tani Bangkit yang sudah berjalan 5 tahun di desa Gempol kecamatan Karanganom. Itu kerja kolaboratif yang sangat bagus antara LAZISMU PP, MPM PP, MEK PDM Klaten, dan UMY untuk pengembangan budidaya padi Rojolele Organik. Dalam kolaborasi ini, LAZISMU  PP berperan sebagai founding, MPM PP sebagai pendamping on-farm atau budidaya, MEK PDM Klaten yang mendampingi off-farm atau pascapanen, dan UM Yogyakarta sebagai buyer atau pembelinya."

"Wah menarik itu. Kalau yang di Sragen bagaimana, Pak Bei?"

"Pak Abduh bisa belajar pengorganisasian Jamaah Tani Muhammadiyah atau JATAM di Sragen. Ini pengorganisasian petani yang digagas oleh MPM PP untuk penguatan petani. JATAM ini sudah berdiri di beberapa daerah, dan JATAM  Sragen adalah salah satu yang cukup bagus perkembangannya dan layak dikunjungi."

"Terima kasih, Pak Bei. Mohon maaf obrolan kita jadi panjang kali lebar, ya, padahal kita baru kenal."

"Gak apa-apa, Pak Abduh. Gak masalah."

"Pertanyaan terakhir, Pak Bei. Di Solo nanti kami bisa nginap di mana, ya?"

"Kalau soal itu, silakan Pak Abduh kontak ke Panitia yang khusus ngurusi Penggembira. Insya Allah penginapan untuk Penggembira sudah disiapkan,"  Pak Bei menyebutkan nama dan nomor kontaknya agar dicatat Pak Abduh.

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas waktu dan informasinya  Semoga kita selalu sehat dan dapat berjumpa di Solo nanti."

"Aamiin....terima kasih juga, Pak Abduh. Salam untuk teman-teman di Padang Sidempuan."

Obrolan via telepon diakhiri pas azan isya'. Pak Bei pun bersiap ke masjid untuk ikut sholat jamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#panitiamuktamarke-48
#seksisyiar