Kamis, 15 September 2022

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Salah satu kebahagiaan Pak Bei adalah ketika sore-sore bakda 'ashar atau malam-malam  bakda isya' dan kebetulan tidak ada agenda keluar, bisa duduk manis di teras rumah sambil menikmati kopi Semendo. Lalu, tiba-tiba berdatangan teman-temannya untuk sekadar ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali diselingi gojekan pari kena. Atau, tetiba datang mak-gruduk  anak-anak muda millenial ingin mengajak diskusi isu-isu yang sedang aktual di masyarakat dan media sosial. Bagi Pak Bei, kedatangan anak-anak millenial yang punya kepekaan dan semangat juang membuat jiwanya kembali terasa muda dan bergairah. Mereka bukan mau bertanya, tapi mengajak Pak Bei berdiskusi untuk mengkonfirmasikan berbagai hal yang mereka gelisahkan. Kadang pertanyaannya perlu jawaban sederhana, tidak mbulet, yang penting bisa melegakan jiwanya. Tapi kadang juga bikin pusing kepala barby karena jawaban atas pertanyaan mereka harus rasional dan tidak menggurui. Namanya juga generasi millenial. Kritis, tapi kadang juga nganyelke, seperti anak-anak muda yang datang tadi sore. 

"Soal acara sebaran apem di Jatinom itu bagaimana menurut, Pak Bei?," tanya Irfan membuka obrolan. "Kebetulan besok siang bakda Jumatan adalah puncak peringatan Yaqawiyyu berupa Sebaran Apem di Klampeyan bawah Mesjid Gedhe Jatinom," lanjutnya. 

"Masalahnya apa, Dek?," tanya Pak Bei.

"Acara mubazir seperti itu kok diuri-uri, dilestarikan jadi tradisi tahunan selama berabad-abad. Itu bagaimana, Pak Bei?," lanjut Irfan.

Sengaja Pak Bei tidak langsung merespon, tapi memberi kesempatan yang lain untuk menyampaikan pikirannya. Sambil menikmati kretek di pipanya, Pak Bei membiarkan anak-anak muda itu saling mengemukakan pendapat.

"Yah gimana, ya. Kita juga harus jujur dengan melihat sisi positifnya. Bagaimanapun  di acara tradisional Yaqawiyyu Jatinom setiap bulan Shafar ini telah terjadi perputaran ekonomi yang cukup besar dengan adanya Pasar Malam dan hadirnya puluhan ribu orang dari berbagai penjuru. Artinya, ada devisa masuk ke Jatinom yang luar biasa besar dan jelas berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Jatinom," Arkhan merespon Irfan dari sudut pandang ekonomi. 

"Tapi kita juga perlu waspada lho, Bro," Singgih ikut merespon, "Jangan-jangan kita ini melakukan dosa berjamaah."

"Maksudnya?," tanya Arkhan.

"Kita telah dengan sengaja mempertontonkan kebodohan dengan melempar-lemparkan berton-ton makanan berupa kue apem untuk diperebutkan ribuan orang pada puncak acara Saparan Yaqawiyyu," jawab Singgih. 

"Dan kita harus ingat juga, Bro, ada ustadz yang mengkhawatirkan acara Yaqawiyyu itu termasuk bid'ah dan syirik sehingga harus dijauhi," Irfan kembali bicara.

"Maksudnya?" tanya Arkhan.

"Dikatakan bid'ah karena tidak ada tuntunan syariatnya. Tapi memang sih, ini soal muammalah, bukan ibadah mahdhah, jd sebenarnya kita gak perlu khawatir bid'ah," jawab Irfan. "Dikatakan syirik karena biasanya apem-apem yang diperebutkan itu untuk dibawa pulang oleh orang yang mendapatkannya, lalu ditanam di sawah-sawah atau tegalan agar tanamannya subur dan tidak diserang hama. Ada juga yang ditanam di kios pasar atau toko agar laris dagangannya. Ada juga yang ditanam didepan rumah agar rejekinya lancar dan keluarganya tidak terserang penyakit. Jadi semacam tolak-bala. Maka, bila kita hadir atau bahkan terlibat di dalam upacara Sebaran Apem itu dikhawatirkan akan berdosa," Irfan menjelaskan seperti seorang Ustadz.

"Masih ada yang mau bicara?," tanya Pak Bei sambil menatap mata anak-anak muda itu satu-persatu.

"Sampun, Pak Bei. Sudah. Itu dulu saja. Kami pengin dengar pendapat Pak Bei," jawab Menot.

"Baiklah kalau begitu
Kalian tahu upacara Yaqawiyyu  Jatinom itu apa?," tanya Pak Bei.

"Tahu, Pak Bei. Itu acara haul Ki Ageng Gribik, salah satu ulama Walisanga yang mengawali dakwah Islam di Tanah Jawa abad ke-13, yang memilih basis dakwahnya di Jatinom dan makamnya berada di belakang Masjid Gedhe Jatinom," jawab Alfian.

"Benar. Kamu pinter, Cah Bagus. Ki Ageng Gribik adalah  salah satu Walisanga angkatan pertama yang dikirim oleh Sultan Hamid II dari Turki untuk merespon permintaan para pedagang yang sudah lebih dulu masuk ke Pulau Jawa."

"Tapi Pak Bei, kenapa tradisi haul Ki Ageng Gribik harus ada dan sebaran apem secara besar-besaran?," tanya Menot yang diam saja dari tadi.

"Memangnya kenapa?," Pak Bei memancing Menot meneruskan bicaranya.

"Menurut hemat saya, seorang ulama besar tidak mungkin mengajari umatnya bersedekah dengan cara yang buruk, dengan cara melempar-lemparkan makanan untuk diperebutkan seperti itu. Sebaran Apem. Saya yakin itu bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot.

"Iya, Pak Bei. Sedekah kan  artinya kebaikan, maka mestinya juga dilakukan dengan cara yang baik," Irfan menambahkan.

"Lha terus kira-kira ajaran siapa menurut kalian?" tanya Pak Bei.

"Namanya saja haul, Pak Bei, peringatan tahunan atas meninggalnya seorang tokoh. Tentu saja yang melakukannya bukan orang yang sudah meninggal, tapi yang masih hidup. Mungkin para sahabat atau santri-santrinya, Pak Bei. Jadi bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot. 

"Aku memahami kegelisahan kalian. Tampaknya memang perlu ada upaya sungguh-sungguh dari anak-muda Jatinom seperti kalian ini untuk mengembalikan ajaran Ki Ageng Gribik. Menemukan cara sedekah apem dengan cara yang baik. Bentuknya bagaimana, silakan dicari bersama-sama."

"Pak Bei, masalahnya tradisi Saparan ini sudah berlangsung berabad-abad," kata Irfan. "Bahkan," Irfan melanjutkan, "Upacara Yaqawiyyu sekarang ini sudah semakin besar dan ramai karena sudah ada sentuhan industri pariwisata. Seperti kata Arkhan tadi, motifnya ekonomi."

'Lebih parahnya lagi, Pak Bei, sudah beberapa tahun terakhir ini Upacara Yaqawiyyu dieksploitasi dan ditumpangi untuk kepentingan para politisi. Anehnya, tetiba ada seorang politisi yang mengaku keturunan Ki Ageng Gribik. Dan konyolnya masyarakat Jatinom pun percaya. Parah kan, Pak Bei?," nada bicara Menot seperti marah.

Pak Bei hanya senyum-senyum saja melihat anak-anak muda yang kritis itu. Terdengar azan Maghrib bersahutan dari Toa masjid-mushola sekitar.

"Baiklah, mari kita ke mesjid dulu. Obrolan bisa kita lanjutkan nanti bakda Maghrib," kata Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasutiom
#sebaranapem
#saparanyaqawiyyujatinom



Tidak ada komentar:

Posting Komentar