Senin, 19 September 2022

PERJUMPAAN

PERJUMPAAN
Oleh: Wahyudi Nasution

Tak pernah terlintas di kepala Pak Bei bahwa gadis cantik yang dulu tahun 1989 dikenalnya di Ujungpandang (Makassar) itu suatu saat bisa ketemu lagi ketika usianya sudah sama-sama tak lagi muda. Namanya 'Aisyah, mahasiswi Kedokteran Unhas yang ikut aktif sebagai panitia pengundang Sanggar Shalahuddin untuk mementaskan Teaterikalisasi Lautan Jilbab selama dua malam di Gedung Manunggal. Waktu itu bersama Cak Nun (penulis naskah), Agung Waskito alm. (sutradara), dan Sapto Raharjo alm. (penata musik), Pak Bei muda (baru umur 22 tahun) memimpin rombongan 30 pemain teater, naik kereta api dari stasiun Lempuyangan Jogja menuju Gubeng Surabaya, lalu naik angkot ke Tanjung Perak, dilanjut naik KM Tidar menyeberang Laut Jawa. 'Aisyah itulah panitia yang paling aktif dan baik pelayanannya. Tidak pernah terbayangkan juga bahwa salah satu panitia laki-laki yang agak senior usianya, namanya Priyanto, mahasiswa Kedokteran Unhas angkatan jauh lebih tua dari 'Aisyah, yang waktu itu aktif membantu Mas Sapto Raharjo mencari persewaan keyboard Roland S-50 hingga Surabaya, ternyata orang Jatinom, satu kecamatan dengan Pak Bei. 'Aisyah dan Priyanto kemudian berjodoh, jadi suami istri, dan tinggal di Jakarta. Dokter Priyanto mengelola beberapa Rumah Sakit milik keluarga, dan dokter 'Aisyah menekuni rehabilitasi korban narkoba dan mengisi seminar-seminar parenting di berbagai kota. Dokter 'Aisyah Dahlan, begitu nama bekennya, sangat populer terutama di kalangan ibu-ibu saat ini. Bu Bei salah satu penggemarnya. Ceramah-ceramah di Tv dan YouTube selalu diikutinya. Kabarnya, hampir setiap tahun di bulan Safar mereka pulang ke Jatinom, tapi sejak pandemi covid-19 tak pernah lagi, dan baru Safar tahun ini mereka kembali pulang ke kampung halaman Mas Pri manikmati hari raya Jatinom, Yaqawiyyu.

"Bu Bei, besok Safar Ibu Aisyah dan rombongannya akan pulang ke Jatinom. Rencananya akan buat acara seminar juga," begitu pesan WA dari Mbak Riwi yang karyawan di yayasan keluarga Mas Pri beberapa waktu lalu.

"Alhamdulillaah," jawab Bu Bei berbinar-binar. "Saya boleh datang gak, Mbak Riwi?" tanyanya.

"Boleh, Bu Bei. Besok kumintakan undangannya, ya. Peserta dibatasi dan harus bawa undangan."

Bulan Safar sudah masuk pertengahan. Kamis sore menjelang puncak upacara  tradisional Yaqawiyyu, yakni sebaran apem dalam rangka haul Ki Ageng Gribik, Bu Bei berangkat ke tempat acara bersama beberapa temannya berbekal undangan dari Mbak Riwi. Pak Bei berpesan, "Nda, bila memungkinkan, tolong nanti sampaikan salamku untuk Mbak 'Aisyah. Semoga dia masih ingat."

"Waduuh, apa bisa ya? Gak janji lho, Pak Bei. Nanti lihat sikon dulu."

Menjelang Maghrib, Bu Bei pun  tiba di rumah dengan wajah cerah-ceria usai ketemu langsung dengan salah satu idolanya. Pak Bei yang sedang ngopi di teras rumah sambil menunggu azan Maghrib menyambutnya dengan santai.

"Luar biasa. Benar-benar luar biasa," kata Bu Bei sambil tersenyum manisnya, persis seperti bunga mawar warna pink fanta yang sedang bermekaran di taman depan nDalem Pak Bei.

"Apanya yang luar biasa?"

"Ya ceramahnyalah. Sangat menarik. Tapi ada satu yang lebih menarik," kata Bu Bei sambil duduk di kursi dekat Pak Bei.

"Apa itu?"

Bu Bei bercerita bahwa tadi seusai acara, semua peserta antri bersalaman dengan Bu 'Aisyah. Ketika tiba gilirannya, Bu Bei pun menyalami Bu 'Aisyah dengan cipika-cipiki, lalu dibisikannya pesan dari Pak Bei, "Bu 'Aisyah dapat salam dari Pak Bei. Lautan Jilbab."

"Masya Allah. Lautan Jilbab. Allahu Akbar. Gimana kabar Pak Bei? Tinggal di mana dia sekarang?"

"Di Jatinom sini, Bu. Saya istrinya."

"Subhanallah...alhamdulillaah bisa tersambung lagi. Salam kembali untuk Pak Bei ya, Bu. Masya Allah."

"Ah yang bener beliau masih ingat aku?," Pak Bei seolah belum percaya.

"Masih gak percaya? Untuk urusan menyampaikan pesan, Bu Bei ini ahlinya. Selalu punya cara," kata Bu Bei dengan agak kemayu. "Beliau tadi sangat ekspresif ketika mendengar keyword Lautan Jilbab. Tampaknya itu pengalamannya yang tak terlupakan," sambung Bu Bei.

"Terus ada pesan apa?"

"Oya, kita diundang ngobrol-ngobrol di rumah Jatinom besok Sabtu pagi," kata Bu Bei meyakinkan Pak Bei.

Sabtu pagi, Pak Bei dan Bu Bei mau ke Ambarawa mengantar mukena-mukena pesanan pelanggan Bunsaco. Di jalan yang padat menjelang masuk kota Jatinom, Pak Bei yang teringat undangan itu langsung mengarahkan mobilnya ke rumah keluarga besar Mas Pri.

"Kita mampir dulu sebentar, Nda, nyambung silaturahmi," kata Pak Bei.

Setelah mobil terparkir di halaman, Bu Bei turun nemui ibu-ibu yang sedang nemani anak-anaknya bermain. Bu Bei menyampaikan maksud kedatangan kami sebagai teman lama. Ibu-ibu itu pun langsung beranjak ke rumah utama memanggilkan Bu 'Aisyah. Beberapa saat kemudian ibu-ibu itu mengajak kami ke rumah sebelah. Ya Allah, ternyata di sana kami diajak sarapan bareng rombongan dari Jakarta. Terlihat aneka makanan khas Jatinom telah tersaji di meja. Ada Sego megono, jenang lemu, sego gudhangan, sego trancam, dll. Aneka lauk juga tersedia di piring-piring saji. Ada tempe garit, tempe bacem, tahu bacem, tahu bakwan, dan telor asin. Dan satu lagi, karak. Ini krupuk berbahan beras atau nasi sisa dan favorit sebagai lauk Sego megono.
Pak Bei dan Bu Bei pun memilih sego megono, tempe bacem, dan karak. Nikmat tiada tara.

Sekitar setengah jam menunggu, seorang lelaki agak gendut berambut gondrong, berkaos dan celana pendek warna putih, datang bersama dokter 'Aisyah yang berbaju dan berjilbab hitam.

"Apa kabar, Pak Bei? Sudah lama sekali kita tidak ketemu, ya," kata laki-laki itu sambil menggenggam erat tangan Pak Bei. "Aku Prihanto yang dulu nemani Mas Sapto Raharjo cari keyboard sampai Surabaya," lanjutnya.

"Ya Allah, ini Mas Pri yang dulu sibuk bantu kami selama di Ujungpandang? Jebul asli sini, to.  Tonggo."  

"Mas Sapto Raharjo dan Agung Waskito sudah meninggal, ya?"

"Iya benar, Mas Pri. Sudah beberapa tahun yang lalu."

"Iya ,sudah lama kudengar kabar itu waktu ikut acara Kenduri Cinta Cak Nun di TIM Jakarta." Ternyata Mas Pri dan anak-buahnya sering datang ke acara rutin Cak Nun di halaman Taman Ismail Marzuki.

(bersambung)

#serialpakbei
#wahyudinasution
#saparanyaqawiyyujatinom











 yang  percaya, pasti Bu Bei akan menemukan cara 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar