Sabtu, 03 September 2022

WISATA MUKTAMAR

WISATA MUKTAMAR

Bakda maghrib, Pak Bei sedang khusyuk nderes Al-Quran ketika tetiba terdengar nada panggilan masuk di HPnya. Karena dari nomor tak dikenal, belum tersimpan di phonebook-nya, maka panggilan itu diabaikan saja. Pak Bei meneruskan bacaan hingga sampai di tanda ruku'. Ternyata panggilan dari nomor yang sama masuk lagi, dan Pak Bei segera mengangkatnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab dengan baik oleh Pak Bei, lelaki itu pun memperkenalkan diri. Namanya Pak Abduh, warga Muhammadiyah dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Dapat nomor Pak Bei dari teman anaknya yang kuliah di UIN Padang Sidempuan, katanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak Abduh?," tanya Pak Bei.

"Begini, Pak Bei. Mohon maaf sebelumnya, saya mau minta informasi seputar Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo bulan November nanti. Apakah Pak Bei berkenan?," tanya Pak Abduh dengan sopan.

"Boleh, Pak Abduh. Silakan. Info apa yang Bapak perlukan?"

"Kami warga Muhammadiyah Padang Sidempuan berencana mau ramai-ramai datang ke Solo sebagai Penggembira Muktamar."

"Alhamdulillaah, bagus itu, Pak Abduh. Apa yang bisa kami bantu?"

"Kami perlu beberapa informasi. Pertama, sebaiknya tanggal berapa kami sampai di Solo? Kedua, apa saja agenda Muktamar yang bisa kami ikuti?," itu dulu Pak Bei. Mohon informasinya."

"Baik, Pak Abduh. Soal kapan sebaiknya rombongan Penggembira sampai di Solo, saya sarankan Pak Abduh dan kawan-kawan sudah masuk di Solo tanggal 18 November pagi. Siangnya bisa istirahat, sore bisa jalan-jalan ke Bazar UMKM dan Expo Inovasi Teknologi di D'Colomadu. Lalu malamnya ikut acara Malam MANGAYUBAGYO di halaman Edutorium UMS."

"Ada Bazar UMKM? Berarti kami bisa cari cenderamata untuk oleh-oleh di sana, Pak Bei?"

"Bisa, Pak. Ada 500 stand UMKM aneka produk, dari fashion, cenderamata, sampai makanan. Dan jangan lupa, Pak Abduh dan kawan-kawan bisa lihat-lihat juga karya-karya inovasi teknologi dari Sekolah-Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bisa juga sambil menikmati suguhan pentas-pentas kesenian di sana."

"Baik, Pak Bei. Insya Allah kami akan kunjungi Bazar UMKM dan Expo itu. Terus yang acara malamnya tadi apa namanya, Pak Bei?"

"Malam MANGAYUBAGYO, Pak Abduh. Itu semacam Malam Ta'aruf, malam penyambutan dari Panitia Penerima untuk para Muktamirin dan Penggembira. Acara itu kami persiapkan sebagai tanda kebahagiaan kami menyambut kehadiran teman-teman seperjuangan dari berbagai penjuru di kota Solo."

"Apa saja acaranya?"

"Kami akan suguhkan beberapa sajian musik, antara lain Metronome Band dari Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, dipuncaki penampilan Band Letto dari Jogja dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah manarik sekali ini, Pak Bei. Band Letto itu yang vocalisnya Noe anaknya Cak Nun, kan?" 

"Benar sekali, Pak Abduh," jawab Pak Bei dengan agak kaget, ternyata Pak Abduh sudah mengenal Cak Nun.

"Tantri Kotak itu penyanyi yang pakai jilbab itu, ya?"

"Benar, Pak Abduh. Dia penyanyi berjilbab yang cantik dan energik di setiap pentasnya."

"Wah asyik itu."

"Dan satu lagi, Pak Abduh. Di acara itu kita juga akan menyaksikan penyerahan Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk 3 maestro musik keroncong dari Solo, yaitu Bapak Gesang almarhum, Ibu Hj. Waldjinah, dan Didi Kempot almarhum."

"Wah hebat itu, Pak Bei. Salut."

"Gimana maksud, Pak Abduh?"

"Ada Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk seniman, itu luar biasa, Pak Bei. Kita tunjukkan pada dunia bahwa Muhammadiyah punya apresiasi tinggi pada seniman-budayawan."

"Insya Allah, Pak Abduh."

"Tapi kenapa hanya untuk seniman musik keroncong dari Solo, Pak Bei? Padahal seniman-budayawan kita kan banyak yang hebat dan kelas dunia. Ada Buya Hamka, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, Pedro Sudjono, Amri Yahya, Taufiq Ismail, Chaerul Umam, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, dan masih banyak lagi lainnya."

"Iya memang banyak, Pak Abduh. Tapi Anugerah Kebudayaan pada Muktamar di Solo ini baru bisa untuk ketiga maetro keroncong itu. Mudah-mudahan pada setiap muktamar selanjutnya akan ada lagi untuk para seniman-budayawan yang lain, seperti nama-nama yang Pak Abduh sebutkan tadi."

"Lalu, acara apalagi yang bisa kami ikuti?"

"Acara Pembukaan Muktamar ke-48 bersama Presiden Jokowi di Stadion Manahan, Pak Abduh. Tapi tentu saja nanti ada prosedur yang harus ditaati oleh seluruh hadirin. Maklumlah, ini acara resmi yang melibatkan RI-1, tentu ada protokoler yang ketat."

"Iyalah, Pak Bei. Kami maklum itu, dan Insya Allah kami akan ikuti semua aturan yang ada."

"Iya, Pak Baduh."

"Pertanyaan selanjutnya, Pak Bei, selain menyaksikan acara-acara di Muktamar, tentu kami juga ingin berwisata sambil mencari inspirasi untuk pengembangan dakwah Muhammadiyah di daerah kami. Kira-kira, PDM atau PCM mana saja di sekitar Solo yang layak dan bisa kami kunjungi? Kami juga ingin studi banding, Pak Bei."

"Ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi, Pak Abduh. Tinggal pilih mau ke PDM Kota Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, atau ke Klaten. Setiap PDM punya kekhasan masing-masing."

"Apa saja itu, Pak Bei?"

"PDM Kota Solo punya produk MieMu berbahan mocav yang layak dikonsumsi. Karanganyar cukup progresif dan punya pabrik AirMu yang cukup pesat perkembangannya. Sragen punya pengelolaan LAZISMU yang bagus dan sekolah Trensain yang fenomenal. Sukoharjo punya Pondok Pesantren Imam Suhodo yang jadi salah satu rujukan pondok pesantren Muhammadiyah, juga punya SMK yang bisa bikin bed untuk  Rumah Sakit yang bagus kualitasnya. Klaten punya beberapa PCM yang cukup maju. PCM Jatinom, misalnya,  punya AUM BMT Yaqawiyyu dengan aset ratusan milyar dan 100% sahamnya milik Persyarikatan. Juga punya sekolah-sekolah bagus dan PKU yang berkembang pesat.  Delanggu punya PKU yang besar dan hebat. Cawas punya BMT Ahmad Dahlan yang assetnya ratusan milyar juga. Ada juga Ranting Gading yang kreatif di gerakan ekonomi melalui TokoMu yang layak dikunjungi."

"Kalau kami mau cari inspirasi seputar dakwah di sektor pertanian, sebaiknya ke mana, Pak Bei?"

"Ooh kalau itu Pak Abduh bisa ke Klaten atau ke Sragen. Di Klaten ada pilot project Tani Bangkit yang sudah berjalan 5 tahun di desa Gempol kecamatan Karanganom. Itu kerja kolaboratif yang sangat bagus antara LAZISMU PP, MPM PP, MEK PDM Klaten, dan UMY untuk pengembangan budidaya padi Rojolele Organik. Dalam kolaborasi ini, LAZISMU  PP berperan sebagai founding, MPM PP sebagai pendamping on-farm atau budidaya, MEK PDM Klaten yang mendampingi off-farm atau pascapanen, dan UM Yogyakarta sebagai buyer atau pembelinya."

"Wah menarik itu. Kalau yang di Sragen bagaimana, Pak Bei?"

"Pak Abduh bisa belajar pengorganisasian Jamaah Tani Muhammadiyah atau JATAM di Sragen. Ini pengorganisasian petani yang digagas oleh MPM PP untuk penguatan petani. JATAM ini sudah berdiri di beberapa daerah, dan JATAM  Sragen adalah salah satu yang cukup bagus perkembangannya dan layak dikunjungi."

"Terima kasih, Pak Bei. Mohon maaf obrolan kita jadi panjang kali lebar, ya, padahal kita baru kenal."

"Gak apa-apa, Pak Abduh. Gak masalah."

"Pertanyaan terakhir, Pak Bei. Di Solo nanti kami bisa nginap di mana, ya?"

"Kalau soal itu, silakan Pak Abduh kontak ke Panitia yang khusus ngurusi Penggembira. Insya Allah penginapan untuk Penggembira sudah disiapkan,"  Pak Bei menyebutkan nama dan nomor kontaknya agar dicatat Pak Abduh.

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas waktu dan informasinya  Semoga kita selalu sehat dan dapat berjumpa di Solo nanti."

"Aamiin....terima kasih juga, Pak Abduh. Salam untuk teman-teman di Padang Sidempuan."

Obrolan via telepon diakhiri pas azan isya'. Pak Bei pun bersiap ke masjid untuk ikut sholat jamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#panitiamuktamarke-48
#seksisyiar






Tidak ada komentar:

Posting Komentar