Siang terik di Ambarawa. Pak Bei baru selesai sholat dhuhur ketika terdengar nada pesan WA masuk di HPnya. "Biarkan saja dulu. Paling juga WA group yang lebih sering tidak urgen dibaca," begitu pikir Pak Bei yang memilih melanjutkan wiridan seperti biasa usai sholat. Setelah selesai baru dilihatnya pesan masuk di HPnya.
"Assalamualaikum wr. wb.
Maaf Pak Bei, edaran berita layu-layu belum di bikin, ya?," begitu pesan dari Margono, senior yang aktif di WAG Alumni SMP Muhammadiyah 2 Jatinom.
"Siapa yang meninggal, Mas?," tanya Pak Bei.
"Sasa, juru parkir Soto Kartongali."
"Ah yang bener? Tadi pagi kulihat dia bekerja dan tampak segar-bugar, Mas," Pak Bei tidak percaya. "Tolong dipastikan dulu, jangan-jangan cuma kabar Hoax?," lanjutnya.
Pak Bei kembali duduk di kursinya tadi, menyulut kretek yang terselip di pipanya, sambil menunggu balasan dari Margono.
"Infonya valid dan sudah beredar di beberapa WAG, Pak Bei."
"Sasa sakit apa to, Mas?"
"Gak sakit. Tadi pagi dia kerja sampai jam 10an. Katanya sempat pingsan di parkiran, terus pulang karena gak enak badan. Sampai di rumah dikeroki istrinya, tapi karena kondisi mengkhawatirkan, maka dilarikan ke RS PKU Jatinom. Ternyata sampai di PKU kondisi Sasa tidak tertolong. Innaalillaahiwainnailaihirooji'uun."
"Ya Allah Sasa, semoga husnul-khotimah. Matur nuwun infonya, Mas," jawab Pak Bei sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Terbayang wajah Sasa sahabat glenak-gleniknya beberapa tahun terakhir. Sasa ini teman sekolah Pak Bei di SMP Muhammadiyah Jatinom 1979-1982, teman di kegiatan drum band yang diasuh Pak Mas'ud (alm), teman belajar Pramuka yang diasuh Pak Adnan tiap Sabtu sore, teman belajar merokok pada jam-jam istirahat di kompleks makam Ki Ageng Gribik belakang Mesjid Besar Jatinom, teman yang sejak lulus SMP hingga beberapa puluh tahun tidak pernah ketemu dan baru ketemu lagi setelah sama-sama berumur.
Perjumpaan kembali Pak Bei dengan Sasa terjadi warung Soto Kartongali. Sasa menjadi juru parkir di sana, sedang Pak Bei punya kegemaran makan soto. Soto Kartongali ini soto yang paling legendaris di kawasan Jatinom, dan menjadi lebih istimewa karena ada Sasa, juru parkir yang layak mendapatkan predikat Juru Parkir Teladan Nasional. Dia bekerja tidak seperti umumnya juru parkir yang hanya mendekati sopir atau pengendara motor ketika mau minta uang parkir. Tidak. Sasa bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya melayani dan menjaga keselamatan pengendara. Memakai rompi hijau khas juru parkir, bendera kecil warna merah-orange, sempritan tercantel di leher, dan balok kayu pengganjal ban mobil. Tapi itu hanya properti. Sasa lebih banyak bekerja dengan mulutnya bengok-bengok memberi aba-aba, sambil badannya membungkuk-bungkuk dan tangannya menuding-nuding memandu ke mana sopir mesti mengarahkan rodanya. Banyak orang yang baru pertama ke Soto Kartongali kaget bahkan sebel dengan pelayanan Sasa. Sok banget, begitu kesannya. Tapi bagi yang sudah biasa, mereka akan percaya dan manut arahan Sasa. Hebat betul pelayanannya. Dan satu hal yang istimewa, Sasa tidak mesti mau menerima uang pemberian para pengguna parkir. Kalau pun dia menerima, tentu akan disertai kata-kata santun, "Matur nuwun, Pak. Monggo ngatos-atos. Mugi-mugi tansah pinaringan sehat."
Sepanjang perjalanan pulang dari Ambarawa, semua memori Pak Bei tentang Sasa seakan kembali diputar. Sahabat yang bersahaja, yang hidupnya hanya untuk melayani dan membantu orang lain. Pagi-pagi hingga siang menjadi juru parkir, sore hingga malam melayani panggilan pijat capek dari rumah ke rumah. Waktu masih muda, setelah lulus SMP hingga beberapa tahun, Sasa bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jatinom-Klaten. Tentu saja sebagai kernet dia juga harus belajar nyopir, mengganti ban, dan mengenali mesin bila ada yang perlu perbaikan. Dan yang pasti, Sasa juga harus beradaptasi dengan kehidupan jalanan yang keras dan kadang membuat orang lain kurang respect. Ternyata perkembangan jaman membuat para pengusaha angkutan bangkrut. Sasa pun kehilangan pekerjaan. Beruntung Kang Panut (alm.) memberi kesempatan agar Sasa mengelola lahan parkir di warung Soto Kartongali, menjadi juru parkir dengan pola bagi-hasil.
"Saya sudah marem, Pak Bei," kata Sasa suatu pagi.
"Marem apa, Sa?"
"Sudah cukuplah kenakalanku dengan teman-teman dulu. Sekarang saatnya mertobat."
"Bertobat maksudnya?"
"Iya, Pak Bei. Saya ingin hidup seperti manusia pada umumnya, hidup yang bukan hanya bersenang-senang, tapi bermanfaat bagi orang lain."
"Wah bagus itu, Sa. Apa yang bisa kubantu?"
"Tolong ajari saya, Pak Bei. Temani saya agar bisa jadi orang baik."
Sejak itulah Sasa sangat aktif ngobrol dengan Pak Bei. Bila tidak sempat ngobrol di warung, Sasa datang ke nDalem Pak Bei. Kadang pagi-pagi, kadang sore, kadang malam setelah dia melayani panggilan pijat. Tema obrolannya juga bermacam-macam, dari masalah pasar Jatinom yang ilang kumandhange, soal hujan amplop tiap musim Pemilu dan Pilkada yang justru membuat rakyat kecelik dan menderita, soal budaya nyadran dan Saparan di Jatinom, soal tokoh politik yang arogan terhadap rakyatnya, soal lahan pertanian yang terkena proyek jalan tol Jogja-Solo, dan sebagainya. Dan baru dua minggu lalu Sasa datang sambil mlepah-mlepah, marah, karena merasa didholimi ketika ditolak mau beli Pertalite di beberapa SPBU hanya gara-gara dia tidak punya HP Android dan tidak punya barcode.
"Ya Allah, Sasa....aku bersaksi Kamu orang baik dan selalu berbuat baik hingga akhir hayatmu. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosamu, meridhoimu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNya...aamiin," doa Pak Bei usai sholat jenazah.
#serialpakbei
#wahyudinasution
#dukacitamendalam
#doaterbaikuntuksasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar