Lagi-lagi Pak Bei seolah tak mampu merespon kegelisahan Sasa, juru parkir Soto Kartongali Jolotundo Jatinom yang menjadi sahabat glenak-gleniknya itu. Apalagi kalau kegelisahan Sasa sudah berubah manjadi kemarahan yang memuncak, tidak jarang kata-kata dan kalimat misuh keluar dari mulutnya.
Seperti malam ini, ketika Pak Bei baru saja pulang dari kampus UMS mengikuti rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Surakarta. Sejak jam 9 pagi hingga menjelang siang, Pak Bei sudah mengikuti rapat untuk menentukan siapa saja narasumber acara Muktamar Talk bersama Najwa Shihab tanggal 10 November nanti. Menunggu waktu rapat lagi bakda ashar, Pak Bei bertandang ke rumah sahabatnya sesama Panitia, Pak Uud, sekaligus ingin melihat usaha kuliner Gudeg Jogja yang dikelola isterinya dan laris-manis penjualannya melalui online. Tentu saja Pak Ben pun sempat menikmati suguhan Gudeg yang rasanya manis, legit, dengan suwiran daging serta telur ayam yang gempi dan berasa nyokot di lidah.
"Negara kok jadi semakin rusak kayak gini ya, Pak Bei. Bajigur tenan," kata Sasa begitu Pak Bei menyuguhkan kopi dan ikut duduk di teras.
"Apanya yang rusak, Sa?," tanya Pak Bei sambil menyulut sebatang kretek yang sudah terselip di pipanya.
"Iyak, masih nanya apa yang rusak? Lha sudah jelas rusak-rusakan semua sendi kehidupan bernegara ini, kok," Sasa maido, tidak percaya bahwa Pak Bei tidak paham maksudnya.
"Ada cerita apa to, Sa? Mbokya ceritakan saja. Sahabatmu ini siap menjadi ember penampung limbahmu."
"Jinguk tenan. Sebagai rakyat, kali ini aku betul-betul merasa diremehkan, Pak Bei. Pelecehan."
"Gimana ceritanya?"
"Tadi siang aku ngantar tetangga untuk kontrol ke RS Ortophedi di Solo pakai mobil ponakanku. Sambil pulang, kulihat kedip-kedip lampu kuning di Speedometer tanda agar kami segera mengisi Pertalite. Kami pun mampir di pom bensin Kartasura. Ehh ternyata di pom itu hanya ada Pertamax dan Solar-Dex, stok Pertalite kosong, katanya. Hal yang sama terjadi di pom bensin berikutnya, di Sawit. Waduh, gawat kalau di pom bensin Delanggu nanti juga kosong Pertalite. Masa harus beli Pertamax yang mahal? Edyan," Sasa bercerita dengan ekspresif.
"Di pom Delanggu ada Pertalite, kan?," tanya Pak Bei.
"Ada. Tapi asyuog," Sasa misuh lagi.
"Lah kenapa?"
"Di sana aku ditanya apa sudah daftar MyPertamina. Ya jelas belumlah. Lha wong mobil ini juga cuma pinjaman punya ponakan."
"Lha terus?"
"Petugas pom itu pinjam HPku mau bantu mendaftarkan. Ya jelas gak bisa."
"Kenapa gak bisa?"
"Waduh maaf, HP Bapak gak bisa buat daftar MyPertamina. Harus pakai HP Android, Pak. Begitu kata petugas pom itu."
"Terus?"
"Lalu kutanya, apak gak boleh beli Pertalite kalau gak punya HP Android?"
"Bisanya ngisi Pertamax, Pak," katanya.
"Ya sudah gak jadi saja. Tolong ditutup lagi tangkiku. Jinguuk..." kataku dengan mangkel.
Sepanjang jalan, sambil hatiku kebat-kebit khawatir mobil mogok kehabisan bensin, pikiranku melayang ke mana-mana. Baru dua Minggu lalu kita memperingati Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Seluruh rakyat dihimbau mengibarkan bendera merah putih, menghias gapura-gapura desa, bikin aneka lomba permainan anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak. Semua rakyat bergembira menikmati kemerdekaan. Malam 17an masyarakat di kampung-kampung ngadakan acara Tirakatan untuk merenungi perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Lalu paginya, murid-murid sekolah dan para pegawai ikut upacara bendera. Konyolnya, Pak Bei, siangnya rakyat disuguhi tontonan tidak bermutu."
"Tontonan apa?"
"Presiden, para Menteri, dan semua Pejabat Tinggi Negara jogetan bareng penyanyi cilik dengan irama dangdut koplo di acara resmi Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara. Jindul tenaan. Rusak...rusak. Dobol kabeh.."
Pak Bei hanya terdiam kami-tenggengen mendengar kemarahan Sasa. Ternyata Sasa juga prihatin bahkan marah melihat tayangan Peringatan Hari Kemerdekaan di tv yang justru dipuja-puji banyak orang itu. Dan tampaknya kemarahan sahabatnya kali ini cukup serius, meski hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata kasar, pisuhan.
"Makanya jadi rakyat jangan mau dibohongi terus. Agak cerdas dikitlah, Sa."
"Ya itulah, Pak Bei. Rakyat ini angel tenan kandhan-kandhanane. Semua sudah mata duitan. Ngiler semua melihat amplop dibagi-bagikan setiap musim Pemilu. Sudah jelas katuranggan orang itu kurang baik, kurang jujur, kurang amanah, lha kok disuruh jadi pemimpin, disuruh ngurusi negara. Sudah jelas orang bakatnya cuma jadi maling kok disuruh jadi pejabat, dipilih jadi wakil rakyat, dipercaya jadi penegak hukum, disuruh jadi Rektor perguruan tinggi. Ya ambyar semua jadinya."
"Hahaha....Merdeka!!," kata Pak Bei sambil mengepalkan tangan dan matanya mendelik sengaja ngece Sasa.
"Belum, Pak Bei. Belum merdeka. Hanya orang goblok yang percaya kita sudahnmerdeka. Saat ini kita justru dijajah oleh saudara-sudara kita sendiri yang berubah jadi gentho, Pak Bei. Masalahnya gentho-gentho itu semakin banyak, cepat sekali mereka beranak- pinak, seperti virus Corona yang cepat sekali berkembang-biak dan menular ke siapa saja. Semua pejabat pun ikut jadi gentho, Pak Bei. Berpesta-pora tanpa malu. Sungguh mengerikan."
"Sudahlah, Sa, gak usah terlalu serius mikir kahanan negara. Rakyat ini santai sajalah. Yang penting masih bisa merasakan nikmatnya makan meski hanya lauk sambal dan kerupuk, masih bisa menikmati kopi meski tanpa gula, masih bisa klapas-klapus ngrokok tiap hari. Kalau terpaksa tidak kuat beli rokok, masih bisa ngrokok tingwe, Sa. Slow waelah."
"Angel, Pak Bei."
"Angel bagaimana? Biarkan saja gentho-gentho itu ngutil, maling, dan ngrampok kekayaan negara. Kalau kita usik, kita teriak, bisa-bisa kita malah dituduh menebar ujaran kebencian, radikal, intoleran, anti-NKRI, anti-kebhinekaan. Repot, Sa. Sudah banyak korbannya. Lebih baik rakyat diam saja sambil berdoa segera turun azan dari Tuhan untuk para gentho itu."
"Ya gak bisa begitu, Pak Bei. Kita tetap harus merapatkan barisan dan berjuang memerangi gentho-gentho itu, apapun caranya. Melihat kemungkaran kok cuma diam dan berdoa. Itu selemah-lemah iman, Pak Bei."
Mak jleb.... Kata-kata terakhir Sasa sungguh terasa menohok ulu hati. Sebenarnya maksud Pak Bei tadi cuma menghibur sahabatnya, yang kesehariannya saja tampak hanya rakyat biasa, rakyat jelalatan yang tiap harus berpanas-panas berhujan-hujan mencari nafkah di lahan parkiran. Sebenarnya Pak Bei juga tahu banyak sekali orang seperti Sasa, rakyat bawah, miskin ekonominya, dan hidupnya dipandang sebelah mata. Tapi ternyata orang-orang seperti Sasa juga punya kegelisahan dan justru perlu diwaspadai karena sesungguhnya punya mental pejuang yang menyala-nyala. Bahkan, mungkin hanya soal waktu bisa digerakkan kapan saja untuk melawan kebatinan di negeri ini. Wallaahua'lambishawab.
#serialpakbei
#bbmnaiktinggi
#negaradalambahaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar