Minggu, 11 November 2018

NDOBOS

NDOBOS

Siang yang terik. Jam 11-an siang, Sasa masih terus kerja mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau keluar ke jalan raya atau mau masuk ke parkiran. Kulitnya yang hitam tampak legam, rambutnya yang ikal tampak awut-awutan, baju dan bendera kecil di tangannya tampak lusuh. Penampilannya tampak sangar. Dia memberi aba-aba dengan suaranya yang keras, badan mbungkuk-bungkuk, sambil tangan kirinya memegang ganjal roda dan tangan kanannya megang bendera kecil merah-orange. Bila roda sudah benar-benar lurus pada posisinya, barulah sopir boleh mematikan mesin dan turun dari mobilnya.

"Mohon maaf lho, Pak. Ini supaya roda mobil Panjenengan tidak cepat rusak," begitu Sasa selalu  minta permakluman para sopir yang tampak kurang berkenan. "Monggo pinarak," Sasa pun mempersilakan masuk dengan jempol tangannya yang luwes.

Sambil memperhatikan aksi Sasa, aku teringat obrolan kami kemarin pagi ketika warung masih sepi. Dia mereview beberapa nama dan sifat teman sekolah kami dulu.

"Si-Anu dulu sukanya ndobos ya, Om. Pintar sekali bikin cerita, seakan nyata, padahal aslinya omong-kosong," kata Sasa menyebut satu nama. "Gak bisa dipercaya. Sukanya bikin janji, tapi mletho, tidak pernah nepati. Esuk dele sore tempe, pagi bilang begini sorenya bilang begitu. Tobat tenan," imbuhnya sambil tertawa.

"Sekarang dia di mana ya, Sa?" tanyaku.

"Di Jakarta, Om. Sukses dia. Sudah jadi bos."

"Jadi pejabat atau punya perusahaan?"

"Gak tahu persisnya, Om. Pernah sekali mampir ke sini, mobilnya bagus, pengawalnya dua orang."

"Wah hebat ya, Sa? Punya pengawal..."

"Jalma tan kena kinira, Om. Dulu suka ndobos, sekarang justru sukses. Mungkin justru karena pinter ndobos itu ya, Om? Banyak orang gampang terbuai omongannya."

"Ya jangan begitulah, Sa. Suka ndobos kan dulu."

"Loh, sudah sifatnya kok, Om. Memang wolak-waliking jaman. Jaman sekarang ini, orang yang pinter ndobos, suka bohong, pinter apus-apus justru beruntung. Orang yang lugu kayak saya ini, ya tetap saja begini."

"Walah Sa, hidup kan cuma wang-sinawang. Belum tentu teman kita itu lebih bahagia daripada kamu, lho."

"Ya memang, Om. Tapi kalau setiap hari istri ngomel karena duit hasil kerjaku semakin tidak cukup untuk belanja keperluan harian, jadinya terasa banget, Om. Berat jadi rakyat. Enak yang pinter ndobos, pinter ason-asonan. Duitnya bisa berlimpah-ruah."

"Wislah, Sa. Sing sabar, yho. Ingat katamu dulu, kudu nrimo ing pandum.”

"Njih, Om. Siap. Harus sabar. Nrimo ing pandum Tapi kenapa ya, Om, orang sekarang lebih gampang percaya pada orang yang banyak omong dan banyak janji?"

“Maksudmu?”

“Tapi nuwun sewu lho, Om, ini agak politik.”

“Gak papa, Sa. Tenang saja. Kita kan sama-sama rakyat, bukan orang politik, bukan pejabat, juga bukan intel. Jadi bebas ngomong. Slow wae, Sa.”

“Begini lho, Om, sudah kutiteni dari dulu dan sudah kucermati dengan seksama, para politisi dan Pemerintah kita terlalu banyak janji.”

“Lah kok bisa?”

“Coba Sampeyan ingat-ingat apa saja janji Pemerintah ketika kampanye dulu. Masih ingat, gak?”

“Wah, apa saja ya, Sa? Sudah lupa aku.”

“Lha inilah masalah utama bangsa kita, pelupa semua. Ibarat penyakit, sudah tahap kronis.”

Weh ngece....”

“Bukan ngece, Om. Nyatanya memang begitu, kok. Rakyat gampang terbuai dengan janji-janji politisi, alias seneng dikadhali.”

“Coba sebutkan satu atau dua saja janji politisi yang tidak ditepati, Sa.”

“Aku masih salah satu janjinya di bidang perdagangan, mau menurunkan harga sembako. Mana buktinya, coba? Mbel thut, Om.”

“Terus apa lagi?”

“Janjinya di bidang pertanian lebih parah, Om.”

“Apa saja janjinya?”

“Sampeyan kan aktif nemani petani, Om? Kusebutkan tiga saja yang Sampeyan pasti paham.”

“Apa saja, Sa?”

“Penguatan Bulog, mensejahterakan petani, dan mengelola persediaan pupuk agar harganya tetap murah. Nyatanya bagaimana, Om? Bulog semakin kuat atau semakin rusak digerogoti tikus-tikus? Petani semakin makmur sejahtera atau semakin miskin karena kalah bersaing dengan produk impor? Pupuk semakin mudah dan murah atau semakin langka dan mahal? Mikir, Om....”

Jinguk tenan, Sasa. Ternyata daya ingatnya luar biasa. Itu memang problem sektor pertanian yang hingga kini belum teratasi. Petani semakin miskin. Harga pupuk dan obat semakin mahal, tapi harga jual hasil panen tetap rendah di pasaran. Lahan pertanian semakin sempit karena banyak yang berubah menjadi perumahan, pabrik-pabrik, dan jalan tol. Bulog juga tidak kunjung berdaya sebagai penjaga pangan Nasional karena belum bersih dari wabah tikus. Walaah...ternyata itu semua termasuk yang dijanjikan waktu kampanye, to?

Sasa..Sasa....sayangnya kamu cuma tukang parkir. Omonganmu tidak punya pengaruh, tidak didengar orang, padahal daya ingatmu sungguh tidak kalah dari para sarjana, cendikiawan, aktivis, dan juru dakwah. 

Ah Sasa....maqom-mu memang harus nrimo ing pandum.....








Senin, 22 Oktober 2018

PASAR ILANG KUMANDHANGE

PASAR ILANG KUMANDHANGE

Pasar Legi Jatinom.  Dulu, pasar ini merupakan pasar terbesar di kawasan utara-barat Kabupaten Klaten.  Bukan hanya masyarakat Jatinom yang datang berbelanja, tetapi juga dari Karanganom, Polanharjo, Tulung, Kemalang, Karangnongko serta Ampel dan Musuk Boyolali. Yang berjualan juga bukan hanya pedagang-pedagang Jatinom yang memang kondang sebagai “bangsa pedagang”, tetapi juga dari Pedan, Ceper, dan Wedi. Segala macam keperluan ada di sini, dari mulai sembako, pakaian, sapi, kambing, burung, hingga semua peralatan pertanian. Bisa dikatakan, pasar inilah pusat ekonomi terbesar di kawasan timur lereng Gunung Merapi, habitatku sejak kecil.

Seperti anak-anak desa pada umumnya, hari pasaran Legi adalah hari yang kami tunggu-tunggu, apalagi kalau pas Minggu Legi. Aku biasa bersama teman-temanku jalan-jalan ke pasar melihat-lihat pasar burung, melihat “atraksi” perajin pandai besi sedang membuat sabit dan cangkul, atau melihat cara orang tawar-menawar kambing dan sapi serta para blantik yang memakai topi koboi duduk methingkrang di warung sate kambing Bu Dirjo. Kami juga suka duduk ndlesep di antara kerumunan orang menyaksikan penjual jamu-kuat, jamu-encok, dan jamu pegel-linu  yang bengok-bengok dengan megaphonenya di antara kios para pedagang pakaian. Setelah capek, kami pun singgah di kios ibuku untuk makan sego-pecel Yu Sipon atau soto ayam Bu Among. Sambil pulang, kami biasa singgah di pojok utara lapangan Bonyokan melihat pasar sepeda bekas dan cara para makelar menawarkan dagangannya.

Minggu Legi pagi ini aku sengaja datang untuk bernostalgia sambil sarapan Soto Mbah Gito Birun, soto sapi dengan kecapnya yang khas tak ada bandingnya di dunia. Dulu, warung ini tempat sarapan para blantik sapi, tetapi sekarang semua penggemar soto tak akan melewatkan kesempatan menikmatinya. Maklumlah, warung ini hanya buka 5 hari sekali, khusus hari pasaran Legi. Meski jaman sudah jauh berubah, Mbak Gito Birun tetep ora kengguh, tidak tergiur untuk menyesuaikan perubahan jaman dengan buka setiap hari atau bahkan membuka kesempatan waralaba di berbagai kota. Penampilan warungnya tetap bersahaja, apa adanya, bahkan terkesan lethek khas pasar sapi. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

“Pasar Legi sekarang jadi seperti kuburan ya, Om. Sepi tenan,” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan duduk di sampingku. Ternyata Sasa sahabatku.
“Loh, Sa, kok gak kerja?” tanyaku.
“Prei dulu, Om. Istri lagi butuh uang untuk nyumbang tetangga yang lagi hajatan. Tiga ekor jago terpaksa kujual,” jawab Sasa sambil nyeruput teh nasgithel yang sudah terhidang.
Kulihat pasar ayam jago di depan warung sudah ramai. Semua pengunjungnya laki-laki membawa kiso, tas khusus ayam jago. Ada 2 serumbung tempat uji-coba kabrukan yang selalu dikerumuni pengunjung. Mereka bukan berjudi, tetapi hanya sekedar menguji seberapa tangguh ayam jagonya. Semakin dahsyat kabrukannya akan semakin mahal harga jualnya.

”Aku ingat betul pasar ini mulai sepi sejak krismon dulu, Om,” Sasa ngomong lagi.
“Apa hubungannya, Sa?” tanyaku.
“Loh, ya jelas sekali to, Om,“ jawab Sasa sambil mulai makan soto di piringnya.
“Waktu itu, banyak orang yang kehilangan pekerjaannya lalu pengin berjualan di pasar ini. Karena tidak mendapatkan tempat di dalam, mereka menggelar dagangan di pinggir lapangan Bonyokan sana. Ada yang jualan pakaian bekas, segala paralatan rumah tangga bekas, dan onderdil kendaraan yang juga bekas. Jadilah lapangan Bonyokan pasar klithikan yang ramai setiap Legi.  Karena di sana semakin ramai, banyak pedagang yang dulu menempati kios di dalam pasar ini justru ikut pindah ke lapangan.”
“Terus, Sa,” aku hanya mendengarkan sambil merokok dan kipas-kipas menikmati suasana.

“Sejak krismon itu pedagang burung juga semakin banyak. Namanya juga orang pengin berusaha to, Om.”
“Lha iya, Sa. Terus….”
“Karena los di dalam pasar terlalu sempit, mereka menggelar dagangannya di oro-oro. Jadilah oro-oro itu pasar burung yang sangat ramai setiap Legi, sedangkan yang di dalam jadi sepi pengunjung,” kata Sasa bersemangat.

“Apalagi sejak pasar sapi dipindah, Om. Wah, pasar Legi hanya ini jadi pasar wedok, hanya kaum perempuan yang masuk. Sepi-nyenyet tidak banyak pengunjung seperti dulu. Kaum laki-laki tempatnya di luar, di pasar klithikan, di pasar burung, di pasar kambing, dan di pasar sapi.”
“Terus piye, Sa?”
“Yah, kasihan ibu-ibu pedagang yang masih bertahan di dalam pasar,” kata Sasa.

Aku jadi teringat ibuku almarhumah yang sudah berjualan sejak awal pendudukan Jepang hingga berganti-ganti Orde. Tentu beliau akan terkaget-kaget bila mengalami perkembangan pasar saat ini.
“Ngendikane Sunan Kalijaga sudah betul-betul kejadian ya, Om.”
“Wah…ngendikane Sunan Kalijaga yang mana, Sa?” kaget aku.
“Pasar ilang kumandhange.”
“Piye kuwi,?” tanyaku.
“Loh, Sampeyan mosok lupa. Kanjeng Sunan Kalijaga sudah ngendika bahwa tanda akhir jaman itu bila kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wedok ilang wirange…..hahaha, ” jawab Sasa dengan gayanya mengingatkanku pada diskusi-diskusi dengan teman-teman jaman kuliah di Jogja dulu.

Sasa ini edan tenan, pikirku sambil membayar soto dan makanan kami sambil ketawa dalam hati. Aku betul-betul salut dengan daya rekamnya atas setiap perubahan jaman. Tentu belum saatnya Sasa kuberitahu tentang fenomena pasar online jaman sekarang yang omsetnya bisa milyaran rupiah setiap hari, tentang kumadhange pasar yang bukan lagi hanya radius 1-2 kilometer tetapi ke seluruh dunia, tentang transaksi antara penjual dan pembeli yang hanya mengandalkan kepercayaan tanpa tatap muka dan melihat wujud barangnya, atau tentang pasar-pasar modern di kota besar yang gemerlapan, yang barang-barangnya serba bagus dan tidak ada proses tawar-menawar di sana.

Tapi Sasa kapan-kapan akan kuberitahu biar tidak ndesit melihat perubahan jaman. Mungkin juga dia tidak mudheng, tidak paham. Atau,  bisa jadi langsung nggeblak, semaput, pingsan…..

Kamis, 11 Oktober 2018

QARUN

QARUN

Alkisah, pemuda miskin bernama Qarun yang rajin ibadah itu diajari berwirausaha oleh Musa a.s. Diajarinya cara mengolah bijih2 kuning yang banyak berserakan di tanah, dibuat aneka aksesories dan perhiasan yang bisa bikin cantik penampilan perempuan, yang bisa bikin laki-laki tampak lebih berwibawa bila memakainya.   Perhiasan  dari bijih-bijih kuning yang kemudian kita sebut emas itu laris-manis di pasaran, menjadi barang yang sangat mahal, bahkan menjadi alat ukur kekayaan. Begitulah, Qarun menjadi pengusaha yang kaya-raya dengan ribuan karyawan, yang kunci gudangnya saja banyak sekali sehingga untuk membawanya harus dipikul oleh beberapa orang.

Singkat cerita, Qarun tidak sempat lagi beribadah, tidak mau lagi datang ke majelis taklim yang diasuh Musa a.s., bahkan dia sekarang lebih berpihak pada Fir'aun. Beberapa kali Musa a.s. mencoba mengingatkan agar Qarun menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang miskin dan kaum Bani Israil yang tertindas. Tapi Qarun yang kaya-raya tetap kekeh dengan pendiriannya, dan memilih terus bersekutu dengan Fir'aun.

Sebagaimana Fir'aun, Qarun pun merasa jengah dengan dakwah Musa a.s. yang semakin hari semakin banyak pengikutnya. Maka, rencana licik dan jahat pun disusun dengan rapihnya. Diundanglah Musa a.s. untuk memberikan tausiyah/tabligh akbar pada ribuan karyawannya di istana Qarun. Musa a.s. yang tetap positive thinking/husnudlon itu pun datang dikawal beberapa temannya.

Tabligh akbar dimulai. Musa a.s. mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur pada Allah SWT dengan rajin beribadah kepadaNya, berbakti pada orang tua, menginfakkan sebagian hartanya, saling tolong-menolong, yang kuat melindungi yang lemah, dst.

Tiba-tiba, seorang perempuan cantik semlohai berdiri mengacungkan tangannya ingin bertanya. Musa a.s. pun mempersilahkan si-cantik itu berbicara.

"Ustad Musa, mohon maaf sebelumnya, saya mau mengutarakan isi hati," kata perempuan cantik itu dengan suaranya yang agak genit.

"Iya silahkan, Mbak."

"Eh eh...begini....eehh... Dengan," kata perempuan itu sambil matanya lirak-lirik ke arah singgasana Qarun. Seluruh hadirin terdiam menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan.

"Tapi aku malu mau terus terang," katanya sambil bergaya tersipu malu.

"Ayo ngomong saja terus terang," teriak Qarun dari singgasananya.

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Suara sesenggukan mulai terdengar. Dia menangis untuk beberapa saat. Musa a.s. dan seluruh hadirin pun ikut terharu.

"Begini, Ustad Musa. Aku ini seorang pelacur...."

"Waaooww....asyeek....suit..suiitt. Piro regane?," terdengar riuh-rendah suara para lelaki.

"Sudah tidak terhitung berapa banyak lelaki yang kulayani demi memuaskan birahinya. "

"Suit..suit....terus terus...enak tuh....," terdengar sorak-sorai para lelaki.

"Tadi sore aku diundang kemari oleh Mr. Qarun," perempuan itu menunduk dan matanya sesekali melirik ke arah Qarun. "Aku dikasih beberapa perhiasan ini. Tapi...."

"Tapi apa, Mbak. Katakan saja," kata Musa a.s.

"Tapi aku disuruh ngomong di sini, di depan khalayak ini, bahwa Ustad Musa sudah pernah berzina denganku tapi tidak mau membayar."

Semua orang terdiam. Seluruh mata tertuju ke arah Musa a.s. yang wajahnya merah padam manahan amarah. Musa a.s. tidak menyangka Qarun tega memfitnah dengan cara sekeji itu. Sekuat tenaga Musa a.s. tetap berusaha menahan diri. Di sisi lain, Qarun di singgasananya tampak gusar dan kecewa. Mestinya bukan begitu yang disampaikan perempuan itu.

"Payah. Salah redaksi itu. Goblok. Dasar pelacur," kira-kira begitu pikir Qarun.

Dalam kemarahannya, Musa a.s. berdoa agar Allah SWT menurunkan azab pada Qarun dan seluruh hulu-balangnya. Seketika langit pun gelap-gulita, petir menyambar-nyambar. Tanah tempat acara berlangsung terbelah dan ambles. Tampak lumpur menyembul dari dalam tanah lalu menyerang dan menggulung orang-orang dan benda yang ada. Teriakan histeris terdengar dari orang-orang yang berupaya menyelamatkan diri. Namun sia-sia. Qarun berserta seluruh pengikut, hulu-balang, dan harta bendanya tertelan bumi yang ambles itu. Air hujan pun menggenang memenuhi tanah ambles itu menjadi sebuah danau, danau Qarun. Sementara Musa a.s. bersama para sahabatnya sudah meninggalkan tempat dari tadi dan selamat.

#kisah menjelang jumatan

Jumat, 05 Oktober 2018

SASA KENA TIPU

SASA KENA TIPU

"Wah, kapusan lagi, Om. Jinguk tenan og," tiba-tiba Sasa sudah duduk di sampingku sambil ngomel-ngomel.

"Kapusan bagaimana, Sa? Kamu kena tipu lagi?"

"Iya, Om. Kelihatannya cantik dan sopan, jebul kecu. Aku jadi malu banget sama Kang Panut."

"Coba cerita yang bener..."

"Seminggu lalu ada ibu-ibu memelas minta kerjaan di sini. Katanya kerja apapun mau. Dia janda, perlu kesibukan, biar tidak ngrepoti anak-anaknya."

"Ya bagus itu, Sa. Orang kalau sudah biasa kerja, biar sudah tua juga tetap pengin cari-cari kerjaan."

"Ya justru itu, Om. Aku salut sama ibu itu. Pembawaanya juga sopan. Terus kubilang ke Kang Panut supaya dikasih kerjaan. Kang Panut pun manut. Si ibu itu dikasih kerjaan dan boleh nginap di sini."

"Lha terus apa masalahnya, Sa?"

"Jebul kecu tenan, Om. Tadi pagi sebelum shubuh saat orang dapur mulai kerja, dia sudah tidak ada, sudah minggat. Hape Kang Panut dan uang beberapa lembar diembatnya. Jinguk tenan. Malu aku, Om."

"Ooh...jadi kamu kapusan to? Dibohongi ibu itu?"

"Ya iya, Om. Kecu tenan og...."

"Sa, kamu ini kok kayak gak pernah dibohongi orang. Coba diingat-ingat, sudah berapa puluh kali kamu kecelik, ketipu, kapusan  oleh janji-janji politisi yang kamu pilih dan sanjung-sanjung?"

"Wah lha ini. Kalau sudah sampai di situ, modyar aku."

"Modyar piye?

"Ya modyar. Jelas sekarang lebih parah kok, Om. Kapusan kabeh. Keblinger oleh janji-janji waktu kampanye. Gak ada yang netes. Semakin banyak orang korupsi. Harga-harga semakin mahal. Modyar kabeh...."

"Wis wis, Sa. Gak usah diteruske. Sudah sana kerja lagi. Aku mau nyoto dulu."

"Siap, Om. Pokoknya kerja kerja kerja, sak modyare....wkkkkk."

Sasa pun kembali ke tugasnya sebagai juru parkir teladan, dan aku menikmati semangkok soto juara nasional sejak 1950an, Soto Kartongali Jolotundo.

Senin, 24 September 2018

HARI TANI

HARI TANI

Baru tahu ada Hari Tani yang  konon jatuh pada hari ini, Senin 24 September. Kok ya kebetulan banget. Hari ini adalah hari/tanggal perdana pengiriman 5.000 kg Beras Sehat ROJOLELE produk petani-petani dampingan kami di Gempol, Karanganom, Klaten untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sesuai order UMY, beras itu harus kami vacum dulu dalam kemasan 1 kg biar tahan lama dan tidak diserang thether/kutu beras.

"Loh, Om, ini beras Rojolele yang dulu penanaman perdananya dilakukan Pak Hajriyanto Y. Thohari itu?," tanya Sasa melihat kami "gugur-gunung" mindahkan ratusan karung beras dari gudang ke bak truk.

"Iya benar, Sa," jawabku.

"Yang dua bulan lalu panen perdananya ngrawuhke Pak Kyai Marpuji Ali?," tanya Sasa lagi.

"Injih leres, Den..." jawabku.

"Wah hebat. Memang begini seharusnya Muhammadiyah."

"Maksudmu bagaimana, Sa?," tanyaku.

"Loh, selama ini Muhammadiyah kan sudah kondang ampuh di bidang pendidikan, kesehatan, dan tablig to, Om. Bikin ribuan sekolah, ratusan kampus dan rumah sakit sambil merem saja sudah beres semua," kata Sasa sambil jongkok di sampingku.

"Lha iya, Sa. Terus....?"

"Memang sudah saatnya Muhammadiyah serius membantu para petani agar bisa bebas dari belenggu dan penderitaannya. Dan Sampeyan sudah memulai dari sini. Lanjutkan, Om."

"Sik to, Sa. Maksudmu ki piye? Tolong dijelaskan."

"Walaah Sampeyan ki kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan sudah jelas to, Om, petani itu profesi yang paling berat kerjanya, hasilnya ditunggu-tunggu, tapi dihargai sangat rendah, bahkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya."

"Biasa aja kalee..."

"Biasa piye to, Om? Sampeyan ini kayak gak pernah lihat berita. Beras hasil keringat petani itu dihargai sangat rendah. Harga di pasaran dibatasi oleh Pemerintah dengan HET, Harga Eceran Tertinggi. Tidak boleh melebihi HET. Semakin murah harganya semakin baik."

"Sa, Pemerintah memang harus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, biar stabil, biar perut seluruh rakyat bisa terpenuhi."

"Iyaak...stabil apanya?  Nyatanya semua harga kebutuhan hidup naik terus kok. Harga bumbon naik, harga sabun dan odol naik, harga BBM dan listrik naik terus gak turun-turun, biaya sekolah pun naik terus. Tapi kenapa harga beras gak boleh naik, Om? Memangnya petani gak butuh nyekolahkan anaknya tinggi-tinggi? Kalau sakit harus cari surat miskin ke kelurahan?"

"Wah rupanya pikiranmu sudah terkontaimasi pikiran para politisi, Sa. Males aku jadinya."

"Keliru itu, Om. Bukan begitu maksudku. Aku cuma ingin mengatakan bahwa nasib petani perlu mendapatkan perhatian serius dari lembaga dakwah sebesar Muhammadiyah. Tidak bisa kita mengandalkan perhatian Pemerintah dan pejabat yang dat-nyeng, yang cuma sibuk memperdebatkan angka-angka, yang sibuk mengamankan posisi, dan sibuk membangun citra agar bisa terpilih lagi."

Kubiarkan saja Sasa "ngoceh" terus, sambil aku terus mencatat karung yang sudah dipindahkan ke bak truk. Kalau sudah nyrempet-nyrempet politik gitu, aku jadi males nanggapinya. Sambil klepas-klepus menghisap rokok, Sasa meneruskan kuliah paginya.

"Mereka seakan peduli pada petani, tapi sebenarnya cuma "mlekotho" petani, Om. Diam-diam mengimpor beras, gula, kedelai, garam, dan bawang dari luar negeri. Alasannya untuk menjaga stok dan mencukupi kebutuhan dalam negeri. Akhirnya petani kita semakin menderita dan terpuruk nasibnya. Kalau ada pejabat yang coba-coba berani membela petani, maka cepat atau lambat dia akan disingkirkan dari posisinya.'

"Memang ruwet kok, Sa. Makanya aku males ngobrol soal ini. Jaman sekarang, Sa, kita salah ngomong sedikit saja bisa dhedel-duel dikeroyok bala-kurawa."

"Tenang saja, Om. Langkahmu ini sudah benar. Petani butuh dikancani, dan Sampeyan sudah memulai. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang peduli pada petani. Lanjutkan, Om. Sasa siap membantu kapan saja Sampeyan butuhkan."

Kalimat terakhir Sasa membuatku agak terharu. Ing atase Sasa, orang yang hidupnya besahaja, yang sehari-harinya menjadi juru parkir di pagi-siang hari dan sore-malamnya menjadi juru pijat panggilan. Dia punya  apresiasi dan komitmen yang bagus pada gerakan pembebasan mustadh'afin, meski dengan gaya dan bahasanya yang sederhana.
Aah Sasa...makanya kehadiranmu selalu kurindu.

#serialsasa

#SELAMAT HARI TANI 2018

Selasa, 22 Mei 2018

KHOTBAH JUMAT

KHOTBAH JUMAT

Akhirnya pagi itu aku berhasil berbuka “puasa nyoto Kartongali” setelah kurang-lebih satu tahun tidak ke sana. Warung soto paling legendaris di kawasan Jolotundo Jatinom itu memang jarang sepi terutama di pagi hari. Sedemikian larisnya hingga setiap kali aku lewat dan ingin mampir selalu gagal karena parkiran penuh. Tapi pagi itu sepulang dari ngantar sekolah anak, parkiran tampak longgar, maka aku pun langsung merapat tepat di depan pintu masuk dipandu Sasa si-juru parkir teladan tingkat Nasional.

Semangkok soto ayam dengan lauk perkedel, tempe, karak, dan difinishing dengan segelas teh nasgithel alangkah nikmat terasa. Luar biasa. Kemepyar. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?,” begitu pertanyaan berulang-ulang dari Tuhan. Tapi karena itu pertanyaan retoris, maka hanya bisa kujawab dengan menirukan para mubaligh mengawali tausiyahnya, “Alhamdulillah wasyukrulillah, segala puja-puji dan syukur hanya untuk Allah SWT”.

Sebenarnya aku mau langsung pulang seusai sarapan, tapi Sasa tidak memberiku jalan untuk keluar dengan aba-abanya yang atraktif seperti waktu aku masih sering ke sana.

“Sebentar, Om. Jangan pergi dulu. Aku ingin curhat,” katanya.

“Mbok ke rumah saja nanti sore, Sa,” kataku sambil menghidupkan mesin.

“Tidak, Om. Sekarang saja. Darurat ini. Mumpung ketemu,” Sasa mendekat.

“Begini, Om. Sudah sejak beberapa bulan ini aku diminta khotbah Jumat di mesjid kampungku sendiri. Kebetulan besok Jumat Pahing pas jadwalku,” Sasa mulai bercerita.

“Waoow….elok temen kamu, Sa. Hebat itu. Lanjutkan…..”

Salut. Tampaknya Sasa yang sekarang memang sudah jauh berbeda dengan Sasa beberapa tahun lalu. Ternyata dia sungguh-sungguh ketika dulu menyatakan sudah insyaf dan kapok ikut kelompok rewo-rewo, lalu aktif ikut pengajian-pengajian, bahkan kemudian juga ikut aksi umat Islam di Jakarta 411 dan 212. Kukira waktu itu Sasa hanya ikut-ikutan berangkat ke Istiqlal dan Monas karena pengin melihat Ibu Kota. Ternyata tidak. "Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman kumpeni," katanya.

“Sejak kemarin saya jadi ngeri, Om. Harus bagaimana ini? Apa harus kubatalkan jadwal khotbahku?”

“Loh ada apa, Sa? Kalau sudah terjadwal sebagai khotib, berarti Sasa memang sudah dipercaya dan dijagakke oleh jamaah, lho,” kataku.

“Om, Njenengan pasti tahu bahwa sejak beberapa waktu lalu kabarnya pencaramah agama dan khotib Jumat akan ditata oleh Pemerintah. Bahkan, beberapa hari terakhir ini konon Pengawas Pemilu yang akan membuatkan teks khotbah Jumat.”
 
“Kabarnya memang begitu, Sa. Terus apa masalahnya?”

"Njenengan kan tahu, Om, sebenarnya saya ini sama sekali tidak punya cukup ilmu dan keahlian pidato, tapi terpaksa mau jadi khotib Jumat karena dipaksa masyarakat.”

“Ya dilakoni dengan ikhlas wae to, Sa.”

“Bukan itu masalahnya, Om. Masyarakat kampung saya saat ini sedang semangat-semangatnya beribadah. Tua, muda, remaja, anak-anak, semua rajin ke mesjid yang baru selesai kami bangun. Lalu masyarakat pengin ngadakan Jumatan sendiri, tidak lagi ikut Jumatan di kampung sebelah.”

“Wah apik kuwi, Sa. Alhamdulillah….”

“Yang namanya Jumatan kan harus ada khotibnya, Om.”

“Ya iyalah, Sa.”

“Saya termasuk yang ketiban sampur harus khotbah setiap Jumat Pahing dan Jumat Kliwon. Tidak bisa menolak, Om. Maka saya pun terus belajar, kulakan ilmu untuk dibagikan ke jamaah.”

“Bagus itu, Sa. Memang harus begitu.”

“Tapi sekarang saya jadi takut. Jangan-jangan khotbah saya nanti dianggap membodohi jamaah? Jangan-jangan saya nanti dianggap menebarkan kebencian, mengancam persatuan-kesatuan bangsa, tidak pro-kebhinekaan, anti-Pancasila, dan anti-NKRI.  Lalu tahu-tahu saya diciduk. Ngeri to, Om?”

“Lha kok mikirmu sampai segitu to, Sa?” tanyaku dengan nahan ekspresi gumun pada sahabatku yang semakin kritis ini.  Tidak kuduga Sasa akan sejauh itu.

“Apa Pemerintah, Kemenag, dan Bawaslu bisa nyediakan khotib untuk seluruh mesjid, baik di kota maupun di desa dan kampung-kampung? Apa Pemerintah akan merekrut khotib secara besar-besaran lalu diadakan penataran paket 100 jam seperti jaman Penataran P4 dulu, lalu hanya khotib yang sudah bersertifikat yang boleh khotbah dan digaji oleh Pemerintah? Memangnya Pemerintah cukup punya duit untuk itu? Lha hutangnya saja semakin menggunung to, Om. Aku sih gak masalah. Malah beneran bisa terbebas dari kewajiban khotbah. Monggo, silahkan Pemerintah nerjunkan khotib. Tapi jangan sampai yang terjadi justru kesengajaan mematikan inisiatif dan swadaya masyarakat. Bisa gawat. Om.”

Sasa masih neruske ngomyang dan aku hanya terdiam tak berani merespon. Beruntung ada mobil datang mau merapat parkir dan Sasa langsung bergerak menyambutnya. Pelan-pelan kupancal pedal gasku meninggalkannya.

“Bali sik yho, Sa,” kulambaikan tanganku kepadanya.

#serialsasa

Minggu, 06 Mei 2018

NYADRAN

NYADRAN

Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan tiba. Orang beramai-ramai mengunjungi pesarean tempat keluarganya dimakamkan dengan membawa sapu, cangkul, sabit, cengkrong, dan alat-alat yang diperlukan untuk membersihkan makam. Setelah makam bersih lalu ditaburi bunga mawar atau melati untuk pewangi. Biasanya setelah itu orang-orang duduk khusyuk mendoakan arwah almarhum/almarhumah agar diampuni dosanya dan mendapat tempat terbaik di aisiNya.

Rangkaian kegiatan itu juga disebut besik. Dulu di beberapa tempat biasa dijumpai orang-orang membakar kemenyan sebelum berdoa. Suasanapun jadi magis.

Seusai besik, orang-orang pulang ke rumah masing-masing untuk berganti pakaian dan mengambil ambeng atau tumpeng serta aneka kue pelengkap seperti tape ketan, jadah, apem, wajik, lemet, kacang godhok, dan buah-buahan. Mereka berkumpul di bangsal dekat makam, duduk bersila menghadap ambengnya masing-masing. Setelah semua warga berkumpul, termasuk para perantau yang sempat mudik nyadran, tahlilan dan doa dipimpin seorang kaum pun dimulai. Usai tahlilan dan doa  dilanjutkan makan bersama. Orang bebas memilih semua makanan yang ada atau cukup makan dari ambeng yang dibawanya dari rumah. Inilah saat anak-anak bersuka-cita berebut makanan yang diinginkan dan sudah dilirak-liriknya sambil ikut tahlilan tadi.

“Wah nyadran kali ini lebih ramai dari tahun lalu, Om. Ndelalah pas hari Minggu, anak-anak sekolah pada libur,” Sasa mengawali ceritanya.

“Anak-anak ikut besik di sarean, Sa?, tanyaku.

“Hiya, Om. Tapi namanya anak-anak, mereka bukannya ikut bersih-bersih makam.”

“Dho dolanan?”

“Mencari ketonggeng, Om. Tumpukan-tumpukan batu bata di sekitar makam dibongkarinya. Kulihat mereka dapat beberapa ekor lalu diwadahi pakai toples Aku juga gak mudheng mau buat apa ketonggeng. Kukira untuk tugas sekolah. Aku cuma khawatir kalau mereka dientup pasti sakit luar biasa.”

“Kamu gak tanya, Sa?”

“Tanya, Om. Katanya mau diternak. Anak jaman sekarang makin aneh-aneh ya, Om. Ketonggeng mau diternak. Tenanan ato cengengesan to, Om?”

Tampaknya kali ini Sasa kurang update berita. Tumben. Jadinya gak mudheng melihat fenomena anak-anak berburu kalajengking. Berita mutakhir yang bikin heboh jagad maya dan jagad politik kok sampai gak paham. “Ah Sasa...kok tumben ketinggalan isu penting,” batinku.

“Kamu ngapain aja seminggu ini, Sa? Apa gak lihat berita di tivi, atau diceritai ponakanmu yang rajin baca berita di internet?

“Tiviku rusak, Om. Belum kuserviske. Ndelalah semingguan ini ponakan juga gak nongol. Lha ada isu apa to, Om?”

“Ngene lho, Sa. Anak-anak yang berburu ketonggeng itu mesti gara-gara dengar saran Presiden kepada para Bupati dan Wali Kota.”

“Saran apa, Om?”

“Para Bupati dan Walikota supaya mengembangkan komoditas yang bernilai jual sangat tinggi, yaitu racun kalajengking alias ketonggeng.”

“Ah mosok Pak Presiden ngasih saran gitu, Om?”

"Kandyani kok. Konon, harga racun itu per ons bisa sampai 135 Milyar.”

“Paling itu cuma guyon, Om.”

“Guyon piye? Di farum resmi lho, Sa.”

“Ya meskipun di forum resmi, tapi piye-piye Presiden kita itu wong Jowo, Om. Kadang kalau ngendikan pakai sanepan, perumpamaan, istilah ponakanku pakai metamor.”

“Metafor?"

“Ya pokoknya pakai for for gitulah."

"Terus, Sa...."

"Mari coba kita pahami kata kalajengking itu. Kala, berarti waktu, saat. Jengking, berarti jatuh. Kata kalajengking bisa diartikan waktu/saat jatuh, waktu ketika kita terpaksa turun dari posisi saat ini, saat kita hanya bisa diam saja dan tidak bergerak.”

“Artinya, Sa?”

“Mungkin Pak Presiden bermaksud mengingatkan para Bupati dan Walikota supaya tansah eling lan waspada bahwa masa jabatannya cuma sebentar sehingga harus rajin-rajin kerja  keras untuk mensejahterakan rakyatnya. Jangan leha-leha nyantai menunggu saat jatuh terjerembab. Jangan enak-enak nglumpukke  duit dengan cara korupsi. Sebab kalau jatuh bisa terasa menyakitkan seperti racun ketonggeng.”

Wah ini....tafsir yang bagus dan cerdas. Kalau benar kata Sasa bahwa itu sanepan, alangkah dungunya orang-orang yang nyinyir dan mencibir soal kalajengking. Tapi kalau bukan sanepan, alias sungguhan, betapa habat anak-anak jaman NOW. Sangat peka dan cepat tanggap terhadap peluang bisnis dan komoditas yang bernilai WAOW.

Ahh, Sasa. Tak mungkin kujelaskan bahwa secara ilmiah racun ketonggeng memang punya khasiat yang dahsyat untuk ngobati kanker. Tak mungkin juga kujelaskan karena sedemikian sulitnya beternak kalajengking dan teknis pengambilan racunnya sehingga harga racun jadi sangat muahal, jauh lebih mahal dari harga emas.

Ahh, Sasa. Janjane aku yho ora mudheng je....