Rabu, 14 November 2018

MINTA FATWA

MINTA FATWA

"Om, saya mau minta fatwa," kata Sasa begitu segelas kopi kuletakkan di depannya. Sasa tiba-tiba datang sore tadi pas hujan mulai turun. Dan seperti biasa kulakukan pada semua tamu, sebelum ngobrol kubuatkan dulu kopi semendo "tjap iboe mertoea" yang nikmatnya tiada bandingannya.

"Kali ini saya bener-bener ngelu, Om. Mumet. Ewuh tenan."

"Ada apa to, Sa? Mbokya slow wae seperti biasanya."

"Mau slow bagaimana, Om? Situasi kayak gini kok slow."

"Apa masalahnya?"

"Bayangkan seandainya Sampeyan yang jadi saya, Om," kata Sasa sambil tangannya meraih gelas kopi lalu nyeruputnya. "Kira-kira apa yang akan Sampeyan lakukan kalau hampir setiap hari Caleg-Caleg atau timsesnya datang bergantian minta dukungan? Dari berbagai partai lho, Om."

"Wah, hebat itu, Sa."

"Hebat apanya? Memangnya Sasa ini apa? Cuma tukang parkir dan tukang pijat."

"Ya jangan merendah gitulah, Sa..."

"Lha saya kok dianggap punya pengaruh.  Mau dijadikan vote-getter lagi. Cen dho gendheng kabeh...."

"Ya jangan begitu, Sa. Namanya Caleg memang harus enthengan silaturahmi dan minta dukungan. Siapa pun yang sekiranya punya pengaruh di masyarakat pasti disowani. Itu lumrah."

""Memangnya aku ini siapa to, Om?"

"Looh....Sasa kan juru parkir yang kondyang-kaloka di seantero perdikan Jolotundo....khkhkh."

"Jindul ik malah ngece."

"Tenanan ini, Sa. Bukan ngece."

Lalu Sasa menyebutkan sejumlah nama Caleg yang hanya kukenal beberapa. Dianalisisnya satu-persatu sesuai yang dia ketahui. Si ini dari partai ini begini begini begini. Si itu dari partai itu begitu begitu begitu. Kalau yang ini sejak dulu hobinya molimo. Yang itu pernah ndhemeni tetangga. Yang sana sebenarnya orang baik, tapi tidak enthengan dan agak pelit. Yang satunya lagi ustad, tapi Sasa justru kasihan dan eman-eman kalau dia masuk politik. Ada juga yang kondhang sebagai preman tapi ramah.. Dan sebagainya.

"Terus kamu mau mendukung yang mana, Sa? Pasti kembali ke habitatmu yang dulu, kan?"

"Jelas tidak, Om. Saya tidak ada urusan lagi dengan partai-partaian.'

"Ah tenane, Sa?"

"Tenin, Om. Jan-jane saya dulu cuma ikut-ikutan, kok. Tapi kemudian disuruh jadi satgas. Eeh...jebul cuma diapusi thok....wkkkkk."

"Jadi satgas kan keren, Sa. Kamu pasti kelihatan gagah dan sangar dengan seragam doreng."

"Walah, Om....itu masa lalu yang bikin malu. Nyesel tenan aku," kata Sasa sambil beringsut duduk mendekatiku. "Om, tolong aku dikasih fatwa. Aku harus bagaimana dan sebaiknya ngewangi yang mana?"

"Pilihlah yang menurutmu terbaik."

"Gak ada, Om."

"Yang terbaik di antara yang buruk-buruk."

"Gak ada tenan, Om."

"Atau mungkin begini saja, Sa. Coba tentukan dulu pilihan Capres-Cawapresmu. Ke depan kamu pengin dipimpin Presiden yang  mana? Terserah mau yang  01 atau 02. Dari situ sudah kelihatan partai-partai pendukungnya. Pendukung 01 partai ini ini ini, pendukung 02 partai itu itu itu. Nah, pilihlah Caleg dari partai yang sesuai dengan pilihan Capresmu. Caleg-caleg yang  pilihan Capresnya berbeda denganmu rasah digagas. Buang kalen wae. Gampang to, Sa?"

"Wah ini...masuk ini, Om. Aku jadi punya bayangan sekarang. Bener-bener gak rugi aku hujan-hujan ke sini minta fatwa...khkhkhkh. Matur nuwun ya, Om."

Hujan sudah reda. Sebentar lagi waktu azan maghrib. Sasa pamit pulang sambil senyam-senyum tampak lega hatinya.

Senin, 12 November 2018

AJINING DIRI SAKA LATHI

AJINING DIRI SAKA LATHI

"Kahanane semakin ngemar-emari ya, Om," kata Sasa sambil ngelap meja depanku. Dia memang suka bantu pekerjaan di dalam  warung bila para pelayan tampak keteteran melayani pembeli. Sangat cekatan dia nyingkirkan mangkok-mangkok dan gelas kosong, lalu ngelap meja hingga bersih dan nyaman bagi pengunjung warung.

"Kahanan yang mana, Sa?"

"Ya kahanan politik to, Om. Kalau kahanan warung ini Insya Allah tetap aman terkendali selama masih ada Sasa," jawab Sasa sambil mringis menampakkan gigi-giginya yang tidak seberapa putih.

"Ngemar-emari piye, Sa? Menurutku ya gitu-gitu aja. Biasalah politik..."

"Ya memang. Tapi ini sudah keterlaluan, Om."

"Kok keterlaluan?"

"Ya iyalah. Mosok tiap hari, pagi-siang-malam rakyat hanya disuguhi pertengkaran, saling caci, saling fitnah, saling ancam, saling lapor. Bahkan ada yang lebih parah lagi, Om. Mereka sudah tidak malu-malu lagi misuh, mengumpat lawan politiknya dengan kata-kata yang sangat kasar dan tidak pantas diucapkan seorang tokoh apalagi pejabat."

"Sa, wong Jowo itu hanya misuh kalau terpaksa, lho. Mungkin hatinya memang benar-benar kecewa."

"Ya itu kalau wong cilik seperti Sasa ini. Mau misuh tiap hari juga gak masalah karena nasibku memang teraniaya. Lha kalau pejabat seperti Bupati atau Menteri yho ora ilok, Om. Tidak pantas. Mestinya "ing ngarsa sung tulada", berada di depan dan sanggup menjadi teladan bagi rakyatnya. Kalau menjaga lisannya saja sudah tidak mampu, wis trocoh kabeh, bagaimana dia menjaga perilakunya? Wis mesti rusak-rusakan, Om."

"Iyyaak kamu ini koyo ngerti-ngertio wae, Sa-Sa. Mbok jangan shu'udhon. Belum tentu mereka seperti prasangka kita. Ada lho orang yang lisannya baik, sopan, lembah-manah, tapi jebul korupsi, jebul mengkhianati istri, jebul suka nelikung atasannya. Iya to, Sa?"

"Wis embuh lah, Om. Maksudku cuma sederhana, kok. Kalau orang pengin jadi politisi, pengin jadi pejabat, apalagi sudah jadi pejabat, mbok ya belajar ngomong yang baik, berperilaku yang baik,  prasojo, jujur, gak usah neko-neko. Gak usah ngumbar janji. Gak usah mencaci lawan politiknya. Kalau tidak sanggup ngomong yang baik, lebih baik diam. Atau, sekalian turun saja menjadi rakyat seperti Sasa ini."

"Ngono yho, Sa? Baiklah, sesuk nek ketemu dho tak kandhanane....wkkkk."

Sasa meninggalkanku, berlari menuju jalan raya. Dia kembali ke tugas utamanya mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau masuk atau mau keluar dengan gayanya yang tampak sangar dan teriakan aba-abanya yang kadang terdengar menggelegar.
Dia hanya ingin memastikan semua pengunjung Soto Kartongali merasa aman dan nyaman, juga tidak mengganggu lalu-lintas jalan propinsi yang cukup padat.

Selamat bertugas, Sa.
Biarlah para politisi itu menampilkan dirinya apa adanya. Jangan diganggu, ya. Bisa bahaya.....

Minggu, 11 November 2018

NDOBOS

NDOBOS

Siang yang terik. Jam 11-an siang, Sasa masih terus kerja mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau keluar ke jalan raya atau mau masuk ke parkiran. Kulitnya yang hitam tampak legam, rambutnya yang ikal tampak awut-awutan, baju dan bendera kecil di tangannya tampak lusuh. Penampilannya tampak sangar. Dia memberi aba-aba dengan suaranya yang keras, badan mbungkuk-bungkuk, sambil tangan kirinya memegang ganjal roda dan tangan kanannya megang bendera kecil merah-orange. Bila roda sudah benar-benar lurus pada posisinya, barulah sopir boleh mematikan mesin dan turun dari mobilnya.

"Mohon maaf lho, Pak. Ini supaya roda mobil Panjenengan tidak cepat rusak," begitu Sasa selalu  minta permakluman para sopir yang tampak kurang berkenan. "Monggo pinarak," Sasa pun mempersilakan masuk dengan jempol tangannya yang luwes.

Sambil memperhatikan aksi Sasa, aku teringat obrolan kami kemarin pagi ketika warung masih sepi. Dia mereview beberapa nama dan sifat teman sekolah kami dulu.

"Si-Anu dulu sukanya ndobos ya, Om. Pintar sekali bikin cerita, seakan nyata, padahal aslinya omong-kosong," kata Sasa menyebut satu nama. "Gak bisa dipercaya. Sukanya bikin janji, tapi mletho, tidak pernah nepati. Esuk dele sore tempe, pagi bilang begini sorenya bilang begitu. Tobat tenan," imbuhnya sambil tertawa.

"Sekarang dia di mana ya, Sa?" tanyaku.

"Di Jakarta, Om. Sukses dia. Sudah jadi bos."

"Jadi pejabat atau punya perusahaan?"

"Gak tahu persisnya, Om. Pernah sekali mampir ke sini, mobilnya bagus, pengawalnya dua orang."

"Wah hebat ya, Sa? Punya pengawal..."

"Jalma tan kena kinira, Om. Dulu suka ndobos, sekarang justru sukses. Mungkin justru karena pinter ndobos itu ya, Om? Banyak orang gampang terbuai omongannya."

"Ya jangan begitulah, Sa. Suka ndobos kan dulu."

"Loh, sudah sifatnya kok, Om. Memang wolak-waliking jaman. Jaman sekarang ini, orang yang pinter ndobos, suka bohong, pinter apus-apus justru beruntung. Orang yang lugu kayak saya ini, ya tetap saja begini."

"Walah Sa, hidup kan cuma wang-sinawang. Belum tentu teman kita itu lebih bahagia daripada kamu, lho."

"Ya memang, Om. Tapi kalau setiap hari istri ngomel karena duit hasil kerjaku semakin tidak cukup untuk belanja keperluan harian, jadinya terasa banget, Om. Berat jadi rakyat. Enak yang pinter ndobos, pinter ason-asonan. Duitnya bisa berlimpah-ruah."

"Wislah, Sa. Sing sabar, yho. Ingat katamu dulu, kudu nrimo ing pandum.”

"Njih, Om. Siap. Harus sabar. Nrimo ing pandum Tapi kenapa ya, Om, orang sekarang lebih gampang percaya pada orang yang banyak omong dan banyak janji?"

“Maksudmu?”

“Tapi nuwun sewu lho, Om, ini agak politik.”

“Gak papa, Sa. Tenang saja. Kita kan sama-sama rakyat, bukan orang politik, bukan pejabat, juga bukan intel. Jadi bebas ngomong. Slow wae, Sa.”

“Begini lho, Om, sudah kutiteni dari dulu dan sudah kucermati dengan seksama, para politisi dan Pemerintah kita terlalu banyak janji.”

“Lah kok bisa?”

“Coba Sampeyan ingat-ingat apa saja janji Pemerintah ketika kampanye dulu. Masih ingat, gak?”

“Wah, apa saja ya, Sa? Sudah lupa aku.”

“Lha inilah masalah utama bangsa kita, pelupa semua. Ibarat penyakit, sudah tahap kronis.”

“Weh ngece....”

“Bukan ngece, Om. Nyatanya memang begitu, kok. Rakyat gampang terbuai dengan janji-janji politisi, alias seneng dikadhali.”

“Coba sebutkan satu atau dua saja janji politisi yang tidak ditepati, Sa.”

“Aku masih salah satu janjinya di bidang perdagangan, mau menurunkan harga sembako. Mana buktinya, coba? Mbel thut, Om.”

“Terus apa lagi?”

“Janjinya di bidang pertanian lebih parah, Om.”

“Apa saja janjinya?”

“Sampeyan kan aktif nemani petani, Om? Kusebutkan tiga saja yang Sampeyan pasti paham.”

“Apa saja, Sa?”

“Penguatan Bulog, mensejahterakan petani, dan mengelola persediaan pupuk agar harganya tetap murah. Nyatanya bagaimana, Om? Bulog semakin kuat atau semakin rusak digerogoti tikus-tikus? Petani semakin makmur sejahtera atau semakin miskin karena kalah bersaing dengan produk impor? Pupuk semakin mudah dan murah atau semakin langka dan mahal? Mikir, Om....”

Jinguk tenan, Sasa. Ternyata daya ingatnya luar biasa. Itu memang problem sektor pertanian yang hingga kini belum teratasi. Petani semakin miskin. Harga pupuk dan obat semakin mahal, tapi harga jual hasil panen tetap rendah di pasaran. Lahan pertanian semakin sempit karena banyak yang berubah menjadi perumahan, pabrik-pabrik, dan jalan tol. Bulog juga tidak kunjung berdaya sebagai penjaga pangan Nasional karena belum bersih dari wabah tikus. Walaah...ternyata itu semua termasuk yang dijanjikan waktu kampanye, to?

Sasa..Sasa....sayangnya kamu cuma tukang parkir. Omonganmu tidak punya pengaruh, tidak didengar orang, padahal daya ingatmu sungguh tidak kalah dari para sarjana, cendikiawan, aktivis, dan juru dakwah. 

Ah Sasa....maqom-mu memang harus nrimo ing pandum.....








Senin, 22 Oktober 2018

PASAR ILANG KUMANDHANGE

PASAR ILANG KUMANDHANGE

Pasar Legi Jatinom.  Dulu, pasar ini merupakan pasar terbesar di kawasan utara-barat Kabupaten Klaten.  Bukan hanya masyarakat Jatinom yang datang berbelanja, tetapi juga dari Karanganom, Polanharjo, Tulung, Kemalang, Karangnongko serta Ampel dan Musuk Boyolali. Yang berjualan juga bukan hanya pedagang-pedagang Jatinom yang memang kondang sebagai “bangsa pedagang”, tetapi juga dari Pedan, Ceper, dan Wedi. Segala macam keperluan ada di sini, dari mulai sembako, pakaian, sapi, kambing, burung, hingga semua peralatan pertanian. Bisa dikatakan, pasar inilah pusat ekonomi terbesar di kawasan timur lereng Gunung Merapi, habitatku sejak kecil.

Seperti anak-anak desa pada umumnya, hari pasaran Legi adalah hari yang kami tunggu-tunggu, apalagi kalau pas Minggu Legi. Aku biasa bersama teman-temanku jalan-jalan ke pasar melihat-lihat pasar burung, melihat “atraksi” perajin pandai besi sedang membuat sabit dan cangkul, atau melihat cara orang tawar-menawar kambing dan sapi serta para blantik yang memakai topi koboi duduk methingkrang di warung sate kambing Bu Dirjo. Kami juga suka duduk ndlesep di antara kerumunan orang menyaksikan penjual jamu-kuat, jamu-encok, dan jamu pegel-linu  yang bengok-bengok dengan megaphonenya di antara kios para pedagang pakaian. Setelah capek, kami pun singgah di kios ibuku untuk makan sego-pecel Yu Sipon atau soto ayam Bu Among. Sambil pulang, kami biasa singgah di pojok utara lapangan Bonyokan melihat pasar sepeda bekas dan cara para makelar menawarkan dagangannya.

Minggu Legi pagi ini aku sengaja datang untuk bernostalgia sambil sarapan Soto Mbah Gito Birun, soto sapi dengan kecapnya yang khas tak ada bandingnya di dunia. Dulu, warung ini tempat sarapan para blantik sapi, tetapi sekarang semua penggemar soto tak akan melewatkan kesempatan menikmatinya. Maklumlah, warung ini hanya buka 5 hari sekali, khusus hari pasaran Legi. Meski jaman sudah jauh berubah, Mbak Gito Birun tetep ora kengguh, tidak tergiur untuk menyesuaikan perubahan jaman dengan buka setiap hari atau bahkan membuka kesempatan waralaba di berbagai kota. Penampilan warungnya tetap bersahaja, apa adanya, bahkan terkesan lethek khas pasar sapi. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

“Pasar Legi sekarang jadi seperti kuburan ya, Om. Sepi tenan,” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan duduk di sampingku. Ternyata Sasa sahabatku.
“Loh, Sa, kok gak kerja?” tanyaku.
“Prei dulu, Om. Istri lagi butuh uang untuk nyumbang tetangga yang lagi hajatan. Tiga ekor jago terpaksa kujual,” jawab Sasa sambil nyeruput teh nasgithel yang sudah terhidang.
Kulihat pasar ayam jago di depan warung sudah ramai. Semua pengunjungnya laki-laki membawa kiso, tas khusus ayam jago. Ada 2 serumbung tempat uji-coba kabrukan yang selalu dikerumuni pengunjung. Mereka bukan berjudi, tetapi hanya sekedar menguji seberapa tangguh ayam jagonya. Semakin dahsyat kabrukannya akan semakin mahal harga jualnya.

”Aku ingat betul pasar ini mulai sepi sejak krismon dulu, Om,” Sasa ngomong lagi.
“Apa hubungannya, Sa?” tanyaku.
“Loh, ya jelas sekali to, Om,“ jawab Sasa sambil mulai makan soto di piringnya.
“Waktu itu, banyak orang yang kehilangan pekerjaannya lalu pengin berjualan di pasar ini. Karena tidak mendapatkan tempat di dalam, mereka menggelar dagangan di pinggir lapangan Bonyokan sana. Ada yang jualan pakaian bekas, segala paralatan rumah tangga bekas, dan onderdil kendaraan yang juga bekas. Jadilah lapangan Bonyokan pasar klithikan yang ramai setiap Legi.  Karena di sana semakin ramai, banyak pedagang yang dulu menempati kios di dalam pasar ini justru ikut pindah ke lapangan.”
“Terus, Sa,” aku hanya mendengarkan sambil merokok dan kipas-kipas menikmati suasana.

“Sejak krismon itu pedagang burung juga semakin banyak. Namanya juga orang pengin berusaha to, Om.”
“Lha iya, Sa. Terus….”
“Karena los di dalam pasar terlalu sempit, mereka menggelar dagangannya di oro-oro. Jadilah oro-oro itu pasar burung yang sangat ramai setiap Legi, sedangkan yang di dalam jadi sepi pengunjung,” kata Sasa bersemangat.

“Apalagi sejak pasar sapi dipindah, Om. Wah, pasar Legi hanya ini jadi pasar wedok, hanya kaum perempuan yang masuk. Sepi-nyenyet tidak banyak pengunjung seperti dulu. Kaum laki-laki tempatnya di luar, di pasar klithikan, di pasar burung, di pasar kambing, dan di pasar sapi.”
“Terus piye, Sa?”
“Yah, kasihan ibu-ibu pedagang yang masih bertahan di dalam pasar,” kata Sasa.

Aku jadi teringat ibuku almarhumah yang sudah berjualan sejak awal pendudukan Jepang hingga berganti-ganti Orde. Tentu beliau akan terkaget-kaget bila mengalami perkembangan pasar saat ini.
“Ngendikane Sunan Kalijaga sudah betul-betul kejadian ya, Om.”
“Wah…ngendikane Sunan Kalijaga yang mana, Sa?” kaget aku.
“Pasar ilang kumandhange.”
“Piye kuwi,?” tanyaku.
“Loh, Sampeyan mosok lupa. Kanjeng Sunan Kalijaga sudah ngendika bahwa tanda akhir jaman itu bila kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wedok ilang wirange…..hahaha, ” jawab Sasa dengan gayanya mengingatkanku pada diskusi-diskusi dengan teman-teman jaman kuliah di Jogja dulu.

Sasa ini edan tenan, pikirku sambil membayar soto dan makanan kami sambil ketawa dalam hati. Aku betul-betul salut dengan daya rekamnya atas setiap perubahan jaman. Tentu belum saatnya Sasa kuberitahu tentang fenomena pasar online jaman sekarang yang omsetnya bisa milyaran rupiah setiap hari, tentang kumadhange pasar yang bukan lagi hanya radius 1-2 kilometer tetapi ke seluruh dunia, tentang transaksi antara penjual dan pembeli yang hanya mengandalkan kepercayaan tanpa tatap muka dan melihat wujud barangnya, atau tentang pasar-pasar modern di kota besar yang gemerlapan, yang barang-barangnya serba bagus dan tidak ada proses tawar-menawar di sana.

Tapi Sasa kapan-kapan akan kuberitahu biar tidak ndesit melihat perubahan jaman. Mungkin juga dia tidak mudheng, tidak paham. Atau,  bisa jadi langsung nggeblak, semaput, pingsan…..

Kamis, 11 Oktober 2018

QARUN

QARUN

Alkisah, pemuda miskin bernama Qarun yang rajin ibadah itu diajari berwirausaha oleh Musa a.s. Diajarinya cara mengolah bijih2 kuning yang banyak berserakan di tanah, dibuat aneka aksesories dan perhiasan yang bisa bikin cantik penampilan perempuan, yang bisa bikin laki-laki tampak lebih berwibawa bila memakainya.   Perhiasan  dari bijih-bijih kuning yang kemudian kita sebut emas itu laris-manis di pasaran, menjadi barang yang sangat mahal, bahkan menjadi alat ukur kekayaan. Begitulah, Qarun menjadi pengusaha yang kaya-raya dengan ribuan karyawan, yang kunci gudangnya saja banyak sekali sehingga untuk membawanya harus dipikul oleh beberapa orang.

Singkat cerita, Qarun tidak sempat lagi beribadah, tidak mau lagi datang ke majelis taklim yang diasuh Musa a.s., bahkan dia sekarang lebih berpihak pada Fir'aun. Beberapa kali Musa a.s. mencoba mengingatkan agar Qarun menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang miskin dan kaum Bani Israil yang tertindas. Tapi Qarun yang kaya-raya tetap kekeh dengan pendiriannya, dan memilih terus bersekutu dengan Fir'aun.

Sebagaimana Fir'aun, Qarun pun merasa jengah dengan dakwah Musa a.s. yang semakin hari semakin banyak pengikutnya. Maka, rencana licik dan jahat pun disusun dengan rapihnya. Diundanglah Musa a.s. untuk memberikan tausiyah/tabligh akbar pada ribuan karyawannya di istana Qarun. Musa a.s. yang tetap positive thinking/husnudlon itu pun datang dikawal beberapa temannya.

Tabligh akbar dimulai. Musa a.s. mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur pada Allah SWT dengan rajin beribadah kepadaNya, berbakti pada orang tua, menginfakkan sebagian hartanya, saling tolong-menolong, yang kuat melindungi yang lemah, dst.

Tiba-tiba, seorang perempuan cantik semlohai berdiri mengacungkan tangannya ingin bertanya. Musa a.s. pun mempersilahkan si-cantik itu berbicara.

"Ustad Musa, mohon maaf sebelumnya, saya mau mengutarakan isi hati," kata perempuan cantik itu dengan suaranya yang agak genit.

"Iya silahkan, Mbak."

"Eh eh...begini....eehh... Dengan," kata perempuan itu sambil matanya lirak-lirik ke arah singgasana Qarun. Seluruh hadirin terdiam menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan.

"Tapi aku malu mau terus terang," katanya sambil bergaya tersipu malu.

"Ayo ngomong saja terus terang," teriak Qarun dari singgasananya.

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Suara sesenggukan mulai terdengar. Dia menangis untuk beberapa saat. Musa a.s. dan seluruh hadirin pun ikut terharu.

"Begini, Ustad Musa. Aku ini seorang pelacur...."

"Waaooww....asyeek....suit..suiitt. Piro regane?," terdengar riuh-rendah suara para lelaki.

"Sudah tidak terhitung berapa banyak lelaki yang kulayani demi memuaskan birahinya. "

"Suit..suit....terus terus...enak tuh....," terdengar sorak-sorai para lelaki.

"Tadi sore aku diundang kemari oleh Mr. Qarun," perempuan itu menunduk dan matanya sesekali melirik ke arah Qarun. "Aku dikasih beberapa perhiasan ini. Tapi...."

"Tapi apa, Mbak. Katakan saja," kata Musa a.s.

"Tapi aku disuruh ngomong di sini, di depan khalayak ini, bahwa Ustad Musa sudah pernah berzina denganku tapi tidak mau membayar."

Semua orang terdiam. Seluruh mata tertuju ke arah Musa a.s. yang wajahnya merah padam manahan amarah. Musa a.s. tidak menyangka Qarun tega memfitnah dengan cara sekeji itu. Sekuat tenaga Musa a.s. tetap berusaha menahan diri. Di sisi lain, Qarun di singgasananya tampak gusar dan kecewa. Mestinya bukan begitu yang disampaikan perempuan itu.

"Payah. Salah redaksi itu. Goblok. Dasar pelacur," kira-kira begitu pikir Qarun.

Dalam kemarahannya, Musa a.s. berdoa agar Allah SWT menurunkan azab pada Qarun dan seluruh hulu-balangnya. Seketika langit pun gelap-gulita, petir menyambar-nyambar. Tanah tempat acara berlangsung terbelah dan ambles. Tampak lumpur menyembul dari dalam tanah lalu menyerang dan menggulung orang-orang dan benda yang ada. Teriakan histeris terdengar dari orang-orang yang berupaya menyelamatkan diri. Namun sia-sia. Qarun berserta seluruh pengikut, hulu-balang, dan harta bendanya tertelan bumi yang ambles itu. Air hujan pun menggenang memenuhi tanah ambles itu menjadi sebuah danau, danau Qarun. Sementara Musa a.s. bersama para sahabatnya sudah meninggalkan tempat dari tadi dan selamat.

#kisah menjelang jumatan

Jumat, 05 Oktober 2018

SASA KENA TIPU

SASA KENA TIPU

"Wah, kapusan lagi, Om. Jinguk tenan og," tiba-tiba Sasa sudah duduk di sampingku sambil ngomel-ngomel.

"Kapusan bagaimana, Sa? Kamu kena tipu lagi?"

"Iya, Om. Kelihatannya cantik dan sopan, jebul kecu. Aku jadi malu banget sama Kang Panut."

"Coba cerita yang bener..."

"Seminggu lalu ada ibu-ibu memelas minta kerjaan di sini. Katanya kerja apapun mau. Dia janda, perlu kesibukan, biar tidak ngrepoti anak-anaknya."

"Ya bagus itu, Sa. Orang kalau sudah biasa kerja, biar sudah tua juga tetap pengin cari-cari kerjaan."

"Ya justru itu, Om. Aku salut sama ibu itu. Pembawaanya juga sopan. Terus kubilang ke Kang Panut supaya dikasih kerjaan. Kang Panut pun manut. Si ibu itu dikasih kerjaan dan boleh nginap di sini."

"Lha terus apa masalahnya, Sa?"

"Jebul kecu tenan, Om. Tadi pagi sebelum shubuh saat orang dapur mulai kerja, dia sudah tidak ada, sudah minggat. Hape Kang Panut dan uang beberapa lembar diembatnya. Jinguk tenan. Malu aku, Om."

"Ooh...jadi kamu kapusan to? Dibohongi ibu itu?"

"Ya iya, Om. Kecu tenan og...."

"Sa, kamu ini kok kayak gak pernah dibohongi orang. Coba diingat-ingat, sudah berapa puluh kali kamu kecelik, ketipu, kapusan  oleh janji-janji politisi yang kamu pilih dan sanjung-sanjung?"

"Wah lha ini. Kalau sudah sampai di situ, modyar aku."

"Modyar piye?

"Ya modyar. Jelas sekarang lebih parah kok, Om. Kapusan kabeh. Keblinger oleh janji-janji waktu kampanye. Gak ada yang netes. Semakin banyak orang korupsi. Harga-harga semakin mahal. Modyar kabeh...."

"Wis wis, Sa. Gak usah diteruske. Sudah sana kerja lagi. Aku mau nyoto dulu."

"Siap, Om. Pokoknya kerja kerja kerja, sak modyare....wkkkkk."

Sasa pun kembali ke tugasnya sebagai juru parkir teladan, dan aku menikmati semangkok soto juara nasional sejak 1950an, Soto Kartongali Jolotundo.

Senin, 24 September 2018

HARI TANI

HARI TANI

Baru tahu ada Hari Tani yang  konon jatuh pada hari ini, Senin 24 September. Kok ya kebetulan banget. Hari ini adalah hari/tanggal perdana pengiriman 5.000 kg Beras Sehat ROJOLELE produk petani-petani dampingan kami di Gempol, Karanganom, Klaten untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sesuai order UMY, beras itu harus kami vacum dulu dalam kemasan 1 kg biar tahan lama dan tidak diserang thether/kutu beras.

"Loh, Om, ini beras Rojolele yang dulu penanaman perdananya dilakukan Pak Hajriyanto Y. Thohari itu?," tanya Sasa melihat kami "gugur-gunung" mindahkan ratusan karung beras dari gudang ke bak truk.

"Iya benar, Sa," jawabku.

"Yang dua bulan lalu panen perdananya ngrawuhke Pak Kyai Marpuji Ali?," tanya Sasa lagi.

"Injih leres, Den..." jawabku.

"Wah hebat. Memang begini seharusnya Muhammadiyah."

"Maksudmu bagaimana, Sa?," tanyaku.

"Loh, selama ini Muhammadiyah kan sudah kondang ampuh di bidang pendidikan, kesehatan, dan tablig to, Om. Bikin ribuan sekolah, ratusan kampus dan rumah sakit sambil merem saja sudah beres semua," kata Sasa sambil jongkok di sampingku.

"Lha iya, Sa. Terus....?"

"Memang sudah saatnya Muhammadiyah serius membantu para petani agar bisa bebas dari belenggu dan penderitaannya. Dan Sampeyan sudah memulai dari sini. Lanjutkan, Om."

"Sik to, Sa. Maksudmu ki piye? Tolong dijelaskan."

"Walaah Sampeyan ki kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan sudah jelas to, Om, petani itu profesi yang paling berat kerjanya, hasilnya ditunggu-tunggu, tapi dihargai sangat rendah, bahkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya."

"Biasa aja kalee..."

"Biasa piye to, Om? Sampeyan ini kayak gak pernah lihat berita. Beras hasil keringat petani itu dihargai sangat rendah. Harga di pasaran dibatasi oleh Pemerintah dengan HET, Harga Eceran Tertinggi. Tidak boleh melebihi HET. Semakin murah harganya semakin baik."

"Sa, Pemerintah memang harus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, biar stabil, biar perut seluruh rakyat bisa terpenuhi."

"Iyaak...stabil apanya?  Nyatanya semua harga kebutuhan hidup naik terus kok. Harga bumbon naik, harga sabun dan odol naik, harga BBM dan listrik naik terus gak turun-turun, biaya sekolah pun naik terus. Tapi kenapa harga beras gak boleh naik, Om? Memangnya petani gak butuh nyekolahkan anaknya tinggi-tinggi? Kalau sakit harus cari surat miskin ke kelurahan?"

"Wah rupanya pikiranmu sudah terkontaimasi pikiran para politisi, Sa. Males aku jadinya."

"Keliru itu, Om. Bukan begitu maksudku. Aku cuma ingin mengatakan bahwa nasib petani perlu mendapatkan perhatian serius dari lembaga dakwah sebesar Muhammadiyah. Tidak bisa kita mengandalkan perhatian Pemerintah dan pejabat yang dat-nyeng, yang cuma sibuk memperdebatkan angka-angka, yang sibuk mengamankan posisi, dan sibuk membangun citra agar bisa terpilih lagi."

Kubiarkan saja Sasa "ngoceh" terus, sambil aku terus mencatat karung yang sudah dipindahkan ke bak truk. Kalau sudah nyrempet-nyrempet politik gitu, aku jadi males nanggapinya. Sambil klepas-klepus menghisap rokok, Sasa meneruskan kuliah paginya.

"Mereka seakan peduli pada petani, tapi sebenarnya cuma "mlekotho" petani, Om. Diam-diam mengimpor beras, gula, kedelai, garam, dan bawang dari luar negeri. Alasannya untuk menjaga stok dan mencukupi kebutuhan dalam negeri. Akhirnya petani kita semakin menderita dan terpuruk nasibnya. Kalau ada pejabat yang coba-coba berani membela petani, maka cepat atau lambat dia akan disingkirkan dari posisinya.'

"Memang ruwet kok, Sa. Makanya aku males ngobrol soal ini. Jaman sekarang, Sa, kita salah ngomong sedikit saja bisa dhedel-duel dikeroyok bala-kurawa."

"Tenang saja, Om. Langkahmu ini sudah benar. Petani butuh dikancani, dan Sampeyan sudah memulai. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang peduli pada petani. Lanjutkan, Om. Sasa siap membantu kapan saja Sampeyan butuhkan."

Kalimat terakhir Sasa membuatku agak terharu. Ing atase Sasa, orang yang hidupnya besahaja, yang sehari-harinya menjadi juru parkir di pagi-siang hari dan sore-malamnya menjadi juru pijat panggilan. Dia punya  apresiasi dan komitmen yang bagus pada gerakan pembebasan mustadh'afin, meski dengan gaya dan bahasanya yang sederhana.
Aah Sasa...makanya kehadiranmu selalu kurindu.

#serialsasa

#SELAMAT HARI TANI 2018