Jumat, 20 Maret 2020

PAGEBLUK

PAGEBLUK

Sabtu pagi. Tidak biasanya Bu Bei mengadakan briefing karyawan. Sejak awal membuka usaha konveksi 16 tahun yang lalu, briefing selalu diadakan setiap Senin pagi untuk mengavaluasi pekerjaan seminggu lalu dan mengarahkan pekerjaan seminggu ke depan, sekaligus membina mental spiritual karyawan. Bila diperlukan, sesekali Pak Bei bergabung dan ikut bicara.

"Teman-temanku, sahabat-sahabatku, adik-adikku,"  Bu Bei mengawali breifing dengan sapaannya yang khas, "Pagi ini saya merasa perlu mengumpulkan kalian sehubungan dengan semakin hebohnya wabah corona yang sedang melanda dunia dan negeri kita," lanjutnya. Semua karyawan tampak antusias mendengarkan. Satu dua karyawan yang datang terlambat langsung ikut bergabung duduk melingkar.

"Tentu kalian sudah mendengar dari tivi dan medsos, betapa dahsyatnya dampak wabah pendemik ini. Di negeri kita saja sudah 300an korban meninggal serta ribuan orang dalam pantauan. Korban mungkin akan terus berjatuhan bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan rakyat. Sayang sekali yang kita saksikan dan baca tiap hari justru para pejabat dan tokoh politik yang seolah saling menyalahkan, saling mencaci, saling curiga, lalu dihubung-hubungkan dengan Pilpres 2024 yang masih jauh."

Pak Bei yang dari tadi hanya nguping, menyimak diam-diam sambil menikmati kopi di meja makan, tampak tergerak ikut bergabung di arena briefing. Sambil mmbawa dingklik, tempat duduk pendek, Pak Bei masuk dan langsung duduk di samping Bu Bei.

"Sahabatku semua, alhamdulillah kali ini Pak Bei mau bergabung dengan kita, tentu ada yang ingin beliau sampaikan. Mari kita dengarkan baik-baik. Silakan, Pak Bei," kata Bu Bei.

"Anak-anakku," kata Pak Bei setelah mengucapkan salam, "Dunia kita saat ini sedang mengalami pagebluk berupa wabah virus corona yang juga disebut covid-19. Sejarah telah mencatat dunia ini pernah beberapa kali mengalami pagabluk. Sejak jaman sebelum Masehi, manusia telah mengalami bermacam-macam pagebluk. Ada wabah malaria, lepra, pes, black dead, virus flu babi, flu burung, SARS, dan sebagainya. Jutaan nyawa melayang karena pagebluk. Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami serangan dahsyat virus corona yang berasal dari Wuhan China." Pak Bei menghela nafasnya. Semua karyawan yang semula menyimak sambil memandang Pak Bei pun menundukkan wajahnya. Entah apa yang dibayangkannya.

"Tapi kita tidak usah takut, Anak-anakku," Pak Bei melanjutkan wejangannya. "Kita harus yakin bahwa kematian itu soal batas usia. Kematian pasti akan datang kapan saja, di mana saja, dan entah sebab apa. Hanya Allah SWT yang tahu."

Suasana hening. Semua wajah menunduk. Pak Bei kembali meneruskan wejangan, "Lalu bagaimana cara kita menyikapi pagebluk ini, Anak-anakku? Pertama, jangan takut dan jangan panik. Kedua, ikuti himbauan, arahan, dan larangan yang disampaikan Pemerintah. Jangan sok pintar sendiri dan jangan sok berani alias kemendel. Jaga kebersihan. Jangan bepergian  bila tidak penting. Hindari kerumunan. Rajin cuci tangan."

"Pangapunten, Pak Bei," tampak karyawan yang biasa dipanggil Mbak Atun angkat bicara, "Pemerintah kan menghimbau supaya anak-anak sekolah belajar di rumah, alias libur sekolah. Rakyat juga disuruh kerja di rumah, Pak Bei. Lah kalau kami harus kerja di rumah, bagaimana caranya? Ini kan sama dengan kita libur gak kerja. Lalu kita mau makan apa, Pak Bei? Apa Pemerintah mau menanggung biaya hidup kami?"

"Iya betul. Iya betul. Iya betul itu," tampak beberapa karyawan lain menyetujui pertanyaan Mbak Atun.

"Begini, Anak-anakku. Memang betul Pemerintah menyampaikan himbauan itu. Kantor-kantor Pemerintah pun langsung mentaatinya. Semua pegawai bekerja dari rumah. Mungkin juga pabrik-pabrik besar dengan karyawan ribuan akan segera ikut meliburkan karyawan, tentu dengan konsekuensi karyawan tetap digaji, meski hanya gaji pokok saja. Itu wajar, karena pabrik-pabrik besar selama ini sudah mendapatkan fasilitas khusus dari Pemerintah, sejak membangun pabrik, perijinan, rekrutmen tenaga kerja, pajak, dan sebagainya."

"Kalau kita bagaimana, Pak Bei?," Mbak Atun bertanya lagi.

"Kita ini usaha kecil, modal kecil, usaha rumahan, UMKM, yang alhamdulillah tidak pernah ngrepoti Pemerintah, tapi justru membantu Pemerintah membuat lapangan kerja di desa. Karyawan kita juga cuma sedikit, tidak sebanyak di pabrik-pabrik yang ribuan karyawan berkumpul sehingga dikhawatirkan akan mudah menularkan virus. Jadi, Insya Allah kita tidak akan libur. Kita tetap bekerja seperti biasa."

"Maaf, Pak Bei," tampak Bu Bei menyela, "Tadi sudah saya sampaikan supaya untuk sementara ini semua karyawan menghindari salam-salaman apalagi cipika-cipiki. Hindari juga saling bersentuhan, apalagi duduk suk-sukan. Dan jangan lupa sering cuci tangan pakai cairan yang sudah kita siapkan."

"Baiklah, Anak-anakku. Demikian wejanganku pagi ini. Ingat, kita ikuti himbauan Pemerintah dan orang-orang pandai, berikhtiar maksimal demi menjaga kesehatan, dan selebihnya kita bertawakkal pada Allah SWT. Selamat bekerja, Anak-anakku."

Lingkaran beiefing pun bubar. Tak berapa lama kemudian suara dinamo mesin-mesin jahit mulai terdengar. Semua karyawan khusyuk bekerja, mengerjakan tugasnya masing-masing sesuai arahan tertulis yang dibuat Bu Bei sejak  tadi malam.

Senin, 16 Maret 2020

KDRT

KDRT

Pak Bei masih terbengong-bengong mendengar cerita dari salah satu karyawannya. Betul-betul tidak habis pikir bagaimana lelakon seperti itu bisa terjadi di jaman ini. Lidah Pak Bei seakan kaku, kelu, tak mampu berkata-kata untuk sekadar merespon. Kopi panas yang sudah dituangkannya di lepek dari tadi pun lupa tak kunjung diminumnya. Bu Bei yang duduk di dekat Sri Rejeki karyawannya itu pun tampak sembab matanya, berkaca-kaca. Bu Bei tampak sangat terharu. Sesekali disapunya air mata yang menetes di pipi dengan tisu di tangan kirinya.

Sri Rejeki termasuk karyawan senior pada konveksi Bu Bei. Tidak kurang dari 11 tahun dia bekerja sebagai operator mesin jahit, sejak kedua anaknya masih usia SD dan sekarang sudah besar-besar. Seperti karyawan senior lainnya, si Sri sudah sangat mbateh di nDalem Pak Bei, sudah seperti keluarga, sehingga tidak sungkan-sungkan minta curhat dan eguh-pertikel pada juragannya seusai jam kerja. Seperti sore itu, Sri Rejeki minta curhat tentang lakon adik perempuannya yang tinggal di Jakarta.

Diceritakannya, adiknya itu bernama Surani, biasa dipanggil Rani. Sejak lulus D3 keperawatan 10 tahun yang lalu, Rani diterima bekerja pada sebuah klinik kesehatan di Jakarta. Dua tahun bekerja, dia pun menikah dengan jejaka asal Lampung yang bekerja pada sebuah bank swasta di Jakarta. Saat ini, mereka telah dikarunia 3 anak yang lucu-lucu. Ekonomi rumah tangga adiknya juga tampak bagus, terbukti mereka sudah punya rumah sendiri dan sebuah mobil yang dipakai mudik lebaran tahun lalu.

Sungguh miris dan di luar dugaan. Tiga malam yang lalu, Rani kirim WA, curhat tentang peristiwa yang baru saja dialaminya pada mbakyunya. Dia kirim foto wajahnya yang berdarah-darah, bibirnya sobek, dan pelupuk matanya tampak biru.

"Ya Allah....kamu kenapa, Nduk?," tanya si Sri merespon foto adiknya.

"Memang sudah nasibku kok, Yu," jawab Rani disertai ikon menangis.

"Habis jatuh? Kecelakaan?"

"Enggak kok, Yu."

"Lha kenapa? Ya Allaah.....pasti sakit itu."

"Aku malu mau cerita, Yu."

"Nduk, aku ini mbakyumu, pengganti almarhumah Simbok. Kalau kamu sakit, aku juga merasa sakit. Kalau kamu sedih, aku juga jadi sedih. Ceritakan apa masalahmu, Nduk, mungkin aku bisa membantu," si Sri berusaha membujuk adiknya supaya mau cerita.

"Yu, aku mau cerita, tapi tolong disimpan rapat-rapat, jangan diceritakan pada siapapun, ya."

"Iya, Nduk. Percayalah pada mbakyumu ini."

"Yu, dulu aku tidak pernah mengira bahwa suamiku akan berubah seperti ini."

"Berubah piye, Nduk?"

"Sejak lima tahun yang lalu, dia sering menganiaya aku seperti ini, Yu," jawab Rani disertai 5 ikon menangis.

"Loh....jadi wajahmu jadi seperti itu karena dipukuli suamimu?"

"Iya, Yu. Selama ini aku tidak berani cerita pada siapapun."

"Masya Allah...kejam sekali. Kira-kira kenapa dia bisa berubah jadi kejam begitu, Nduk?"

"Dulu awalnya dia pulang kerja jam 1 malam, Yu. Dari sore HPnya gak bisa kuhubungi, padahal anakku yang kecil badannya lagi anget. Waktu kutanya dari mana saja kok baru pulang, dia langsung marah-marah sambil menampar wajahku beberapa kali, Yu."

"Terus, Nduk?"

"Dia tidak mau cerita kemana saja. Malah diulang lagi beberapa malam sesudahnya. Pulang malam, marah-marah, dan memukuli aku. Dan itu sering terjadi hingga saat ini."

"Owalah, Nduk, lelakon seperti itu selama ini cuma kamu simpan sendiri? Mertuamu tahu gak?"

"Ya gak tahu, Yu. Jangan sampai mereka tahu. Kasihan sudah sepuh. Dan lagi suamiku kan anak tunggal, menjadi kebanggaan bapak-ibunya. Kalau mereka tahu pasti kecewa."

"Tapi kelakuan suamimu harus dihentikan, Nduk. Pilihannya, kamu cerita ke mertuamu atau lapor ke polisi."

"Tidak mungkin itu, Yu."

"Kok tidak mungkin?"

"Kalau aku cerita ke bapak-ibu, jelas aku gak tega karena bisa merusak kebahagiaan mereka. Dan kalau suamiku tahu, pasti akan semakin marah padaku, bahkan bisa-bisa aku dicerai, Yu. Kalau aku lapor polisi, jelas kasihan suamiku karena dia bisa ditahan karena melanggar hukum. Mesakke anak-anakku, Yu."

"Lha terus piye, Nduk? Mau diam saja dengan keadaanmu ini?"

"Biarlah kujalani lelakonku ini, Yu. Sudah nasibku."

Pak Bei menghembuskan asap kreteknya kuat-kuat untuk melepaskan gejolak batin yang menggumpal di dadanya.

"Njur aku kudu piye, Sri? Adikmu yang jelas teraniaya lahir-batinnya saja tidak ingin berubah. Dia tampak sangat mencintai suaminya, sangat ngeman anak-anaknya."

"Lha injih, Pak Bei. Saya juga bingung harus bagaimana melihat penderitaan adik saya itu."

"Sabar ya, Mbak Sri. Doakan saja mudah-mudahan Gusti Allah melembutkan hati adik iparmu."

"Injih, Bu Bei. Aamiin..."

"Kalau adikmu disuruh ngamalkan wirid untuk melembutkan hati suaminya, kira-kira mau gak, Sri?"

"Saya yakin mau, Pak Bei. Mungkin hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukannya."

"Ya sudah pulanglah dulu. Sebentar lagi maghrib, anak-anakmu pasti sudah menunggu. Nanti malam kukirimi wirid via WA, teruskan ke adikmu supaya diamalkan."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget. Saya nyuwun  pamit dulu."

Si Sri pun pulang. Pak Bei dan Bu Bei beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap ke masjid untuk mengikuti sholat jamaah.

#serialpakbeibubei




Kamis, 12 Maret 2020

ANGSUL-ANGSUL

ANGSUL-ANGSUL

Menjelang jam 8 pagi. Pak Bei masih asyik menyapu halaman sambil sesekali badannya membungkuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di musim hujan. Beberapa ekor ayam milik tetangga tampak asyik notholi laron-laron yang sudah kehilangan sayap dan bertebaran di tanah. Burung puter dan perkutut kesayangan Pak Bei tak hentinya manggung di sangkarnya seakan sedang bersaing menunjukkan eksistensi di depan majikannya. Burung kenari, love bird, dan trotokan pun tak  mau ketinggalan saling memamerkan gaya ocehannya.

Satu dua karyawan Bundaco mulai berdatangan, memarkir sepeda motornya, menyalami Pak Bei dengan takzim, lalu duduk-duduk dan ngobrol sambil menunggu pintu workshop dibuka oleh teman yang sedang piket. Pak Bei sering memanfaatkan suasana pagi seperti ini untuk diam-diam nguping pembicaraan karyawan yang kadang terdengar seru diselingi tawa-ria . Mereka gupyuh saling menceritakan kejadian di rumah atau desanya, tentang anak-anaknya yang suka jajan bakso ojek, tentang tilikan tetangga yang sakit dan diopname di Rumah Sakit, tentang pengajian dan arisan ibu-ibu di desanya, atau tentang hajatan tetangga yang tak jarang menjadi kembang lambe alias rerasanan masyarakat desa hanya karena angsul-angsul yang kurang patut.

Pak Bei jadi penasaran dengan rasanan seputar angsul-angsul itu, satu bentuk budaya hajatan yang --tampaknya-- hanya ada di Jawa, khususnya di pedesaan. Orang punya hajat, entah itu syukuran kelahiran bayi seperti sepasaran dan selapanan,  selamatan kematian seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun atau medhak pisan, medhak pindho, dan nyewu alias seribu hari, apalagi hajatan yang lebih besar seperti sunatan atau pernikahan anak, pasti melibatkan kerabat dekat dan tetangga untuk rewangan beberapa hari menyiapkan tempat acara dan aneka makanan untuk suguhan tamu-tamu. Kerabat dan tetangga dekat bukan hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran atau eguh-pertikel, tetapi juga sumbangan dalam bentuk sembako dan uang alias amplopan untuk membantu kelancaran acara. Khusus acara mantu alias walimahan atau pesta pernikahan, shahibul-hajat pasti menyebarkan undangan untuk teman-teman, kerabat jauh, dan handai tolan untuk hadir. Penerima undangan pun hadir dan dengan senang hati sebagai tamu terhormat yang datang dengan pakaian dan dandanan istimewa. Biasanya mereka memberi amplop sumbangan atau kado berupa barang sebagai tanda turut berdoa dan bergembira. Di pedesaan Jawa, sebagai tanda terima kasihnya, biasanya shahibul-hajat menyiapkan angsul-angsul yang dibagikan kepada semua tamunya.

Dulu, angsul-angsul itu berupa satu paket makanan berisi nasi, sambe goreng, kering tempe atau mihun, sepotong ayam goreng dan sebutir telur godhok, kue-kue seperti wajik, jenang lot, carang gesing, dan sebagainya yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa alias kroso. Bagi para tamu, angsul-angsul itu sedemikian berartinya sebagai oleh-oleh untuk anak-anaknya di rumah. Isi angsul-angsul yang komplit dan enak seakan mampu menghapus segala kekurangan shahibul-hajat dalam menerima tamunya. Sebaliknya, bila angsul-angsul agak kurang bermutu, maka bisa dipastikan hajatan sebesar apapun hanya akan menjadi kembang lambe tamu-tamunya.

Tapi itu dulu. Budaya hajatan jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tamu yang mendapatkan angsul-angsul hanya yang datang menyumbang ke rumah di hari sebelumnya, bukan yang datang di acara resepsi. Itu pun hanya berupa sekotak roti bakery yang tidak istimewa kualitas dan rasanya. Tamu yang datang di acara resepsi paling banter hanya mendapatkan suvenir berupa gunting kuku, atau pisau kethul, sisir, kipas, dsb yang terukir nama sepasang mempelai.

"Wah jan ora memper tenan kok, Yu. Blas tidak bermutu. Berani mantu nyebar undangan 3.000 orang, lha kok gak kuat ngasih angsul-angsul yang agak patut untuk tamunya," kata Marmi.

"Ya mungkin dia gak mau rugi kok, Mi. Pedagang kan pasti punya perhitungan yang cermat untuk semua pengeluaran dan pemasukannya," Sanah mencoba memahamkan Marmi.

"Lha kalau niatnya cari untung mbok gak usah punya gawe. Mending duitnya dikasihkan anaknya biar dipakai untuk modal usaha," sanggah Marmi.

"Yah itu kan kalau orang bodoh seperti kita, Mi," Tutik yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut ngomong juga. "Kalau orang pinter, semuanya sudah dihitung dengan cermat. Jangan sampai rugi. Syukur kalau bisa untung sebanyak-banyaknya. Makanya nyebar undangan yang banyak sekalian, tidak tanggung-taggung," lanjutnya Tutik.

Pintu workshop sudah terbuka, bel tanda karyawan harus mulai kerja pun sudah dibunyikan.  Semua karyawan yang dari tadi duduk-duduk dan ngobrol pun langsung mak gruduk masuk menuju tempat kerjanya masing-masing. Pak Bei yang dari tadi nyabuti rumput sambil senyam-senyum menguping pembicaraan karyawan pun melangkahkan kakinya, ganti kesibukan ngurusi burung-burung peliharaannya.

#serialpakbeibubei

Minggu, 08 Maret 2020

KRISMON LAGI

KRISMON LAGI

Betapa enak hidup seperti Pak Bei. Tinggal di desa yang ayem-tentrem di kawasan lereng gunung Merapi, di sekitarnya sawah terbentang dengan aneka tanaman padi, sayur, palawija, dan jeruk. Selokan irigasi yang lewat pinggir pekarangan rumah itu tanpa henti mengalirkan air jernih menuju persawahan. Sebenarnya tidak terlalu jauh juga rumah Pak Bei dari keramaian jalan raya. Dari jalan provinsi yang menghubungkan kota Klaten menuju Boyolali-Semarang cukup masuk 200 meter. Cukup dekat, tetapi suasana desa ini benar-benar hening sepi tanpa hiruk-pikuk deru mesin kendaraan dan bau asap knalpot. Hanya di saat-saat masuk waktu sholat, terdengar lantunan azan dari corong-corong masjid sekitar,  atau suara pesawat terbang dari dan menuju bandara Adisucipto, Yogyakarta. Selebihnya, hanya suara hembusan angin dan nyanyian burung-burung di kurungan yang tergantung di serambi rumah Pak Bei. Bila malam hari tiba, terdengar suara belalang dan jangkrik di pepohonan sekitar rumah, atau suara kucing berteriak-teriak hendak kawin, tanda mereka sedang birahi.

Sebagai orang desa, kegiatan Pak Bei setiap pagi selepas shubuh diawali dengan nderes Al-Quran. Setengah jam kemudian, Pak Bei mulai buka-buka hp di meja makan, baca-baca FB, Twitter, dan pesan WA group yang biasa masuk tanpa permisi memberondong tausiyah, gugah-gugah tahajud, atau obrolan dan caci-maki politik serta berita-berita yang tidak jarang hanya Hoax. Kadang Pak Bei tampak senyum-senyum atau mengernyitkan wajah, kadang juga ikut nulis komentar, sekadar sebagai tanda menghargai pertemanan di medsos. Bu Bei yang usreg di dapur menyiapkan menu sarapan pun tak lupa  membuatkan segelas kopi kesukaan Pak Bei, kopi semendo dari Palembang Tak lama kemudian, asap putih tampak mulai mengepul di ruang makan, tanda Pak Bei sudah menyulut kretek kegemarannya.

Beberapa saat kemudian, Pak Bei mulai menggerak-gerakkan badannya di halaman, olah raga senam kecil-kecilan sekadar menghangatkan badan, dilanjut menyapu sampah dedaunan yang berserak sisa hujan angin tadi malam. Bila halaman sudah bersih, Pak Bei mulai ngopeni beberapa burung kesayangannya: membersihkan kurungan, mengisi makanan, dan mengganti air minum. Bila matahari sudah naik sepenggalah, burung-burung itu dijemur setelah dimandikan terlebih dulu. Kenari, Love Bird, dan Trotokan disemprot air hingga thili-thili basah kuyup, dan khusus perkutut bangkok dimandikannya dengan cara dipegang dan dielus-elus lembut dangan jari-jarinya yang basah.

Begitulah rutinitas Pak Bei di pagi hari sebelum karyawan usaha konveksinya berdatangan dan menyalaminya satu-persatu. Sebelum karyawan mulai kerja jam 08.00, biasanya ada seorang staf admin, Mbak Lia namanya, bengok-bengok membacakan arahan, tugas dan target pekerjaan hari ini yang sudah ditulis Bu Bei tadi malam. Khusus di Senin pagi sebelum mulai kerja, semua karyawan berkumpul melingkar mengikuti briefing dari Bu Bei. Seperti dosen sedang mangajar mahasiswanya, briefing Bu Bei bukan hanya soal pekerjaan, tapi meluas ke soal-soal hidup bermasyarakat, membina rumah tangga, mendidik anak, ngopeni orang tua atau mertua, diselingi guyonan-guyonan khas keputrian. Maklumlah, ke-30 karyawan Bu Bei semua perempuan. Beberapa masih gadis, tapi lebih banyak yang sudah berkeluarga dan sudah bekerja pada Bu Bei sejak 15an tahun lalu.

Di antara 30 karyawan itu, ada seorang karyawan yang bertugas sebagai kitchen staf alias juru masak yang menyiapkan makan siang karyawan. Muryani namanya, biasa dipanggil Mbak Mur. Di samping tugas utama sebagai juru masak, Mbak Mur merangkap sebagai asisten Bu Bei untuk tugas-tugas domestik seperti mencuci dan nyetrika pakaian, juga membersihkan rumah yang cukup luas itu. Etos kerja Mbak Mur sangat profesional. Tidak banyak cakap, tapi apapun menu masakannya dijamin lezat rasanya. Sesuai dengan tugasnya sebagai asisten urusan domestik, dia juga sangat menguasai seluk-beluk nDalem Pak Bei. Semua sudut rumah beserta isinya dikuasainya dengan baik. Tidak jarang Pak Bei dan Bu Bei harus tanya ke Mbak Mur bila mencari sesuatu.

Betapa heran Pak Bei pagi tadi tanpa sengaja mendengar obrolan Mbak Mur dengan Yu Marni penjual sayur keliling langganannya. Mereka seperti ngomel-ngomel, entah apa yang diomelkan. Rasa penasaran menggiring Pak Bei mendekatinya.

"Ada apa kok tampak serius obrolannya, Yu?" tanya Pak Bei.

"Ini lho, Pak, harga-harga sekarang naik semua. Cabe rawit satu ons saja kok 15 ribu. Brambang bawang naik semua. Sawi 10 unting 5 ribu. Tempe, tahu, dan ikan asin juga ikut naik," jawab Mbak Mur dengan nada kesal.

"Sekarang pasar Gabus juga sepi lho, Pak. Tidak seperti biasanya. Entah ini pertanda apa," kata Yu Marni yang setiap pagi kulakan di pasar Gabus.

"Ini kok seperti jaman mau krismon dulu ya, Pak?," Mbak Mur mencoba memancing jawaban Pak Bei yang cuma senyum-senyum dari tadi.

"Yang salah kita juga kok, Mur," kata Yu Marni.

"Salah piye, Yu?

"Salah milih presiden. Iya to, Pak Bei?"

Pak Bei agak kaget ditanya Yu Marni. "Lha kok tekan salah milih presiden to, Yu. Piye maksudmu?," Pak Bei minta penjelasan.

"Lha kalau situasai jadi seperti ini, Pak. Harga-harga semua naik, jadi larang sandhang-pangan, biaya sekolah mahal, orang sakit jadi semakin sulit urusan ke dokter, siapa lagi penyebabnya kalau bukan presiden yang tidak jegos bekerja. Iya to, Pak?," jawab Yu Marni.

"Iya ya, Yu. Salahe rakyat juga, waktu pemilu mau disogok duit nyeket ewu. Dho kapok saiki," tambah Mbak Mur.

Pak Bei cuma senyum-senyum mendengar jawaban Yu Marni dan Mbak Mur yang di luar dugaan. Rupanya sedang benar-benar terjadi situasi yang diomongkan pada pengamat ekonomi dan politik, situasi krusial yang konon bisa menyebabkan jatuhnya presiden dari singgasananya.

"Wallaahua'lambishawab....," gumam Pak Bei meninggalkan ibu-ibu yang masih bertransaksi di bawah pohon alpukat.

#serialpakbeibubei

Senin, 03 Februari 2020

VIRUS

VIRUS

"Orang sekarang kok gampang kagetan ya, Om," Sasa mengawali obrolan di tengah suasana gerimis sore. Dua gelas kopi telah kusajikan di meja. Aku pun sudah duduk manis siap nemani glenak-glenik sahabatku ini. Setelah nyeruput kopi satu dua teguk dan menyalakan rokok, Sasa meneruskan grenengannya, "Orang sekarang jadi gumunan, gampang kagum. Nerima kabar sedikit saja heboh berhari-hari. Semua orang ikut komentar, pinter-pinteran ngomong. Jadi njelehi ya, Om."

"Sebentar, Sa. Kamu ini mau ngomong soal apa, to? Ngalangnya kok jauh. Mbok to the point saja."

"Gumun tenan aku, Om."

"Loh, tadi katanya orang sekarang gumunan. Jebul kamu sendiri to yang gumunan?"

"Wah jindul ik. Maksudku, aku ini gak habis pikir dengan kecenderungan orang sekarang yang dikit-dikit heboh, Om. Bukan gumun karena kagum."

"Makanya kalau ngomong gak usah muter-muter, dadi mumet dhewe ndhasmu. Apa yang membuatmu heran, Sa?"

"Soal virus corona, Om. Beritanya kok nggegirisi, seolah-olah hal paling penting dan semua rakyat harus tahu."

"Ya memang itu virus berbahaya kok, Sa. Konon belum ada vaksin penangkalnya. Cepat sekali menular. Hingga saat ini sudah 300an orang meninggal dan puluhan ribu orang terinveksi."

"Tapi itu kan di China sana to, Om?"

"Iya memang asalnya dari Wuhan, China, tapi sudah menular ke kota-kota lain dan beberapa negara, Sa.  Kita pun pantas khawatir virus itu masuk ke Indonesia melalui para pelancong dari sana. Makanya Pemerintah kita memulangkan WNI yang selama ini tinggal di sana, juga menutup sementara semua penerbangan dari dan ke China."

"Ya ini lho maksudku, Om."

"Yang mana, Sa?"

"Aku setuju-setuju saja Pemerintah kita melakukan itu. Memang sudah menjadi kewajibannya melindungi semua warga negara dari mara bahaya."

"Iya, terus....?"

"Memangnya virus berbahaya dan mematikan hanya corona?"

"Maksudmu?"

"Menurutku ada virus lebih berbahaya dan menular yang bisa membunuh orang dan jelas akan meruntuhkan negara, Om."

"Apa itu?"

"Korupsi, Om. ."

Jindul tenan Sasa. Ternyata ngomong mutar dari tadi ujung-ujungnya ke sana. Cerdas tenan sahabatku ini.

"Virus ini jelas sangat berbahaya dan belum ada obatnya sampai sekarang."

"Benar itu, Sa. Sudah mewabah di mana-mana. Semua instansi dari tingkat Desa sampai tingkat Pusat rawan korupsi. Dari Menteri, wakil rakyat, Direktur BUMN, penegak hukum, tokoh agama, petugas pajak,  pemungut retribusi di pasar-pasar, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan Perangkatnya, sudah terpapar korupsi."

"Edyan tenan. Semua orang korupsi ya, Om."

"Ya tapi jangan gebyah-uyah, Sa. Masih banyak pejabat dan petugas yang lurus, lho."

"Aku jadi curiga jangan-jangan semua pejabat sudah korupsi, Om, cuma ndelalah masih tampak bersih dan belum ketangkap KPK saja."

"Wah ya jangan terus pesimis gitu to, Sa. Jangan negative thinking. Percayalah bahwa fitrah semua manusia cenderung baik dan lurus."

"Ya saya percaya itu, Om. Tapi masalahnya virus korupsi ini sudah terlanjur mewabah di seantero Nusantara. Penegak hukum saja sudah terpapar. KPK pun tampaknya sedang sakit keras dan nyaris mati suri."

"Kita doakan saja semoga wabah korupsi segera berlalu, Sa."

"Aku jadi khawatir juga, Om."

"Khawatir apa?"

"Jangan-jangan berlalunya wabah korupsi ini menunggu turunnya azab. Terjadi bencana alam yang luar biasa, misalnya."

"Wah ya jangan gitu, Sa. Tuhan kan sudah sering nurunkan bencana alam, tapi bangsa kita juga tak kunjung tobat. Iya, to?"

"Iya ya, Om. Pas ada bencana alam semua orang jadi baik budi. Begitu bencana berlalu, para pejabat kembali andrawina kembul bujana."

"Mudah-mudahan ancaman virus corona ini bisa menyadarkan bangsa kita ya, Sa."

"Iya, Om. Kayaknya perlu ada tobat nasional ini, Om. Biar selamat semua."

Sebentar lagi maghrib tiba. Tapi Sasa tidak pamitan karena bakda maghrib nanti mau langsung ke rumah pasien pijatnya. Maklumlah, di samping pagi hari dia kerja sebagai juru parkir Soto Kartongali Jolotundo, di sore dan malam hari dia biasa melayani pijat panggilan dari rumah- ke rumah. Pijat capek, bukan pijat pengobatan seperti tabib.

#serialsasa









Kamis, 23 Januari 2020

TA'AWUN

TA'AWUN

Sore itu, aku sedang ngobrol bersama istri dan sahabatku Sasa ketika tiba-tiba datang seorang pemuda menyampaikan uluk-salam seperti umumnya orang bertamu. Kami pun menjawab salamnya dan mempersilakan pemuda itu duduk. Menilik penampilannya, pemuda itu umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Wajahnya bersih tampak belum banyak dosa. Sorot matanya jernih tajam, bibirnya juga murah senyum. Dia kuliah semester 6 dan masih aktif sebagai anggota IMM di Klaten.

"Mohon maaf, Pak. Perkenalkan nama saya Sandi," pemuda itu memperkenalkan diri.

"Siapa, Mas? Sandi? Sandi Uno, ya?," tanya Sasa sok usil.

"Sandi saja, Pak, gak pakai Uno," jawabnya.

"Mungkin bapakmu dulu pengagum Sandi Uno ya, Mas? Atau jangan-jangan kemarin juga ikut relawan Prabowo-Sandi?" Sasa masih neruskan usilnya.

"Mas Sasa ini bagaimana, to?" istriku menyela, "Waktu Mas Sandi ini lahir, tentu Sandiaga Uno masih anak-anak dan  belum terkenal seperti sekarang," lanjutnya.

"Iya ya, Mbak. Lha kok ndelalah namanya sama-sama Sandi, ya?"

"Ada agenda apa ini, Mas Sandi?  Wonten dhawuh?" tanyaku ke Sandi.

"Begini, Pak. Saya marketing dari LDKWM Pimpinan  Daerah Muhammadiyah Klaten, sowan ke sini mau sosialisasi program. Mungkin nanti Bapak dan Ibu berkenan ikut program ini, syukur juga berkenan mengikutkan semua karyawan Bunda Collection," jawab Sandi.

"Program apa tadi, Mas?" tanya istriku.

"LDKWM, Bu, yaitu Lembaga Dana Kerukunan Warga Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten."

"Maksudnya bagaimana itu, Mas?," Sasa ganti bertanya.

Sandi pun berusaha menjelaskan tentang LDKWM. Berbeda dengan cara sales asuransi atau agen MLM dalam memprospek calon klien atau downline-nya, Sandi tampak santun memahamkan kami tentang pentingnya LDKWM. Dijelaskannya bahwa program ini dibuat sebagai upaya PDM Klaten membangun dan mengembangkan budaya ta'awun, budaya tolong-menolong antar warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya. Masyarakat perlu diajak untuk saling tolong-menolong terutama pada yang sedang teekena musibah atau kesusahan dengan menjadi anggota LDKWM. Caranya gampang sekali. Calon anggota cukup mendaftar dan membayar infaq atau iuran sebesar Rp 20.000 per tahun. Setelah itu, peserta akan mendapatkan Kartu Anggota yang akan berlaku satu tahun.

"Cuma Rp 20.000 per tahun, Mas? Kok murah banget ya, Om? Gak seperti iuran wajib BPJS yang semakin mahal, "  Sasa menyela.

"Iya, Pak. Memang murah. Bahkan untuk anak-anak pelajar TK, SD, SMP, SMA besarnya iuran cuma Rp 10.000 per tahun. Ini karena kita menyesuaikan dengan kekuatan warga yang ekonominya rendah," jawab Sandi.

"Terus peserta dapat manfaat apa, Mas Sandi?," tanya istriku.

"Ada beberapa manfaat yang akan didapatkan peserta, Bu. Pertama, bila peserta sakit lalu periksa dokter dan rawat jalan, dia bisa ngajukan klaim ke LDKWM untuk mendapatkan santunan sebesar Rp 30.000. Kedua, kalau peserta diopname, dia bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 350.000. Klaim santunan yang pertama dan kedua ini bisa dilakukan tiga kali dalam satu tahun."

"Lumayan juga ya, Mbak?" Sasa menyela.

"Masih ada manfaat ketiga dan keempat, Pak."

"Apa itu, Mas?"

"Yang ketiga, kalau peserta meninggal karena sakit, keluarganya bisa mendapatkan santunan, semacam bebungah, sebesar Rp 500.000. Dan yang keempat, bila peserta meninggal karena kecelakaan, keluarga bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 1.250.000."

"Wah hebat itu. Dengan membayar iuran Rp 20.000 dan Rp 10.000 per tahun bisa dapat manfaat lumayan lho, Mas Sasa," kata istriku, "Terus cara ngajukan santunan bagaimana, Mas Sandi?"

"Cukup nunjukkan bukti periksa dokter, kuitansi opname, atau surat keterangan meninggal, Bu," jawab Sandi.

"Dengan iuran cuma segitu dan manfaatnya yang lumayan bagi peserta, apa pengelola gak rugi ya, Om?," Sasa komentar lagi.

"Insya Allah tidak, Pak. Pertama, karena biaya operasional kami sangat kecil. Kedua, dengan mengelola ini kami para relawan cuma mengharap barokahnya."

"Gak digaji ratusan juta seperti direksi BPJS?"

"Wah ya tidak, Pak. Ini cuma lembaga sosial kok, bukan lembaga bisnis. Makanya syarat jadi peserta dan cara klaim santunan juga sangat mudah."

"Bagus itu, Mas. Orang pintar bilang, untuk urusan tolong-menolong, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit?," sahut istriku.

"Wah tapi kalau BPJS memang sangat zulit kok, Mbak. Sudah iurannya mahal, penggunaannya pun rumit," kata Sasa.

"Rumit piye, Sa? Semua kan harus ada aturan dan prosedurnya?"

"Rumit tenan kok, Om. Kalau kita sakit, biar sudah thelo-thelo dan kejang-kejang, kita tidak bisa langsung ke rumah sakit yang kita inginkan, tapi harus ke dokter keluarga dulu minta rujukan. Iya to, Mbak?"

"Iya benar, Mas? Kalau pun kita dapat rujukan hanya untuk periksa di rumah sakit type-D, tidak bisa langsung ke type-C atau B apalagi A."

"Repot lagi kalau pasien sehabis opname mau kontrol, Om. Harus nyiapkan waktu sehari penuh, sejak antri pendaftaran di loket BPJS, antari pendaftaran periksa, antri cek tensi, antri periksa dokter, hingga antri apotek. Butuh waktu berjam-jam, Om. Sungguh tidak enak jadi orang sakit jaman sekarang."

"Dari dulu juga tidak enak, Sa."

"Dulu lebih mudah urusannya, Om. Kita tinggal milih dokter atau rumah sakit dan membayar biaya periksa dan obatnya. Sekarang bertele-tele, Om."

Waktu maghrib tiba. Terdengar azan bersahut-sahutan dari masjid-masjid di seantero kampungku. Obrolan kami pun berakhir.

#serialsasa

Minggu, 05 Januari 2020

LENDHUT

LENDHUT

Sasa masih tampak sangat prihatin dengan kondisi Jakarta usai diterjang banjir bandang beberapa hari lalu. Dengan intonasi datar dan wajah sedih, dia ceritakan kembali kabar dari Marno, adiknya yang tinggal di kawasan Bekasi.

Diceritakannya, Marno telah merantau ke Jakarta sejak lulus SMK dan bekerja pada sebuah pabrik di kawasan Cakung. Marno juga sudah menikah dengan gadis Jawa yang juga teman kerjanya, dan saat ini telah dikarunia dua anak. Meski gajinya tergolong pas-pasan, tapi dengan tekad dan keyakinan yang kuat soal rejeki dari Tuhan, dia juga telah memiliki rumah sangat sederhana yang dibayarnya dengan cicilan tiap bulan selama sepuluh tahun. Di rumah itulah dia membina rumah tangga bersama istrinya dengan bahagia, merawat serta mendidik anak-anaknya yang masih balita dan lucu-lucu. Di waktu-waktu senggang, Marno juga menyempatkan srawung ajur-ajer dengan tetangga kiri-kanannya.

Namun, kebahagian itu seakan lenyap tiba-tiba, ketika di shubuh dini hari itu kompleks perumahan tempat tinggalnya diterjang banjir bandang menyusul hujan deras yang turun sejak tadi malam, satu kejadian yang konon di luar perkiraan para ahli di BMKG sekalipun. Suasana pagi pun gempar. Semua orang berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya. Dalam keadaan panik, Marno pun hanya sempat  menyelamatkan istri dan kedua anaknya, ikut mengungsi ke masjid berlantai dua di kampung sebelah hingga banjir surut. Hanya beberapa lembar pakaian anak-anak yang sempat dibawanya. Harta benda lainnya ditinggalkan begitu saja demi menghindari air bah yang tampak semakin meninggi. Beruntung selama dua hari satu malam tinggal di masjid, banyak dermawan dan relawan yang datang membawa makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan.

Singkat cerita, setelah banjir surut, semua pengungsi terutama yang laki-laki pun pulang duluan ke rumahnya untuk melihat keadaan. Betapa pilu hari Marno melihat seisi rumah berbalut lendhut alias lumpur endapan banjir. Dilihatnya ruang tamu dan perabotnya berwarna coklat. Sepeda roda tiga, apolo yang biasa untuk si kecil belajar jalan, dan satu sepeda motor alat transportasi kerjanya juga berbalut lendhut. Dilihatnya juga dua kamar tidur yang tak mungkin lagi bisa digunakan karena kasurnya berselimut lendhut cukup tebal. Lemari pakaian beserta isinya juga berbalut lendhut. Ditengok juga ruang dapurnya yang sempit, dilihatnya seluruh peralatan masak dan makan-minum terbungkus lendhut.

"Kasihan sekali, Om. Ingin sekali aku ke sana membantu adikku bersih-bersih rumah, tapi keadaanku saat ini lagi tidak memungkinkan," Sasa mengakhiri ceritanya dengan tatapan mata yang tampak kosong, sedih karena tidak bisa membantu adiknya.

"Dibantu doa saja, Sa, semoga adikmu sekeluarga tetap sehat dan segera bisa bangkit kembali."

"Iya, Om. Terima kasih," jawab Sasa sambil bersiap menyulut rokoknya. "Untung yang kebuntel lendhut hanya rumah dan perabotnya ya, Om," lanjutnya.

"Lha kok untung?"

"Ya masih untung, Om. Coba kalau yang kebuntel lendhut itu orangnya atau hatinya atau pikirannya."

"Hati dan pikiran kok kebuntel lendhut? Terus apa jadinya, Sa?"

"Ya jadinya gak punya otak, pikirannya kotor, dan hatinya penuh kedengkian, Om."

"Apa iya to, Sa?"

"Wah Sampeyan ini bagaimana. Coba perhatikan berita-berita dan dialog di tivi,  banyak orang berlagak pinter, tapi otaknya kebuntel lendhut."

"Yang mana?"

"Orang -orang yang sesungguhnya tidak peduli pada nasib orang lain, tidak mau membantu kesulitan orang lain, tapi kerjanya mencari-cari kesalahan lalu menimpakan semua kesalahan itu pada Gubernur DKI. Itu kan wong pekok namanya."

"Pekok piye to, Sa? Mereka kan berupaya kritis pada pemerintah yang dianggap melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan?"

"Sok kritis tapi tidak cerdas."

"Maksudmu?"

"Apa mereka gak tahu bahwa Bogor dan Bekasi itu wilayah Jawa Barat, bahwa Tangerang itu wilayah Banten? Apa mereka juga gak tahu bahwa Semarang itu ibukota Jawa Tengah, dan Surbaya itu ibukota Jawa Timur? Atau jangan-jangan mereka memang tidak paham Ilmu Bumi ya, Om?"

"Mereka orang pinter-pinter dan pengalaman kok, Sa. Ya pasti tahulah."

"Tahu tapi pekok."

Hujan sudah reda. Candhik ayu membuat cuaca sore jadi tampak jingga. Tidak lama lagi waktu maghrib akan tiba. Sasa pun pamit pulang setelah menghabiskan kopinya.