Jumat, 21 April 2017

MBAN CINDE MBAN SILADAN

MBAN CINDE MBAN SILADAN

Rasanya sudah dua windu aku tidak ketemu Sasa, tiba-tiba pagi ini kami bertemu di depan warung soto “Gito Birun” Pasar Legi Jatinom.  Kulihat Sasa sedang duduk di bawah pohon waru sambil tangannya memegang kiso berisi ayam jago. Rupanya dia mau menjual ayam jago bangkoknya lagi. Tetapi pasar masih sepi, belum tampak satu pun pedagang dan pengunjung di sana. Maklum, hari memang masih terlalu pagi untuk pasaran Legi yang bukan pas hari Minggu. Hanya tampak beberapa pemuda setempat sudah yang bertugas sebagai juru parkir dan beberapa pengunjung warung soto.

“Mau jual jago lagi, Sa?” tanyaku sambil menjabat tangannya.
“Iya, Om. Istriku butuh duit buat nyumbang nanti sore. Lagi musim orang hajatan…hehehee..”
“Ayo kita ngobrol di dalam, Sa, sambil sarapan. Sudah lama kita gak ngobrol, kan?”
Sasa tidak menolak ajakaku.

Sengaja kupilih tempat duduk di pojok agar obrolan kami tidak terganggu pengunjung yang pasti akan semakin ramai. Tanpa menunggu lama, pesanan dua piring soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Kami  pun menikmatinya setelah kami lengkapi dengan sambel dan kecap tradisional asli produksi Mbah Gito Birun yang khas.  

“Sebenarnya tadi malam saya mau ke rumah Sampeyan, Om, tapi hujan tidak reda sejak maghrib hingga malam. Jadi kebetulan sekali kita ketemu di sini,” kata Sasa setelah menghabiskan sotonya. 
“Ada cerita apa, Sa?”
“Politik, Om.”
“Weehh….kukira soal sepakbola elclasico antara Real Madrid vs Barcelona, atau MU vs Chelsea.”
“Walah Om, namanya sepakola ya gitu-gitu saja. Kadang menang kadang kalah, biasa. Ada yang lebih menarik dari sepakbola.”
“Politik, maksudmu?”
“Hehehee….iya, Om," jawabnya dengan nyengir, "Pilgub DKI kemarin betul-betul menguras tenaga. Dulu aku ikut Aksi 212 di Monas bersama jutaan Umat Islam dari berbagai penjuru. Berbulan-bulan aku juga kebat-kebit  karena khawatir perjuangan Umat Islam kalah. Makanya sepulang dari kerja parkiran kemarin aku pun ikut memantau perhitungan di KPU via tv. Untung tetap jagoku yang menang, alhamdulillah. Coba kalau samapai terjadi manipulasi data lalu jagoku dikalahkan. Apa jadinya, Om? ”
“Bisa geger ya, Sa.”
“Ya jelas geger, Om. Namanya kecurangan kan harus kita lawan. Asal Sampeyan tahu, kemarin aku sudah siap berangkat ke Jakarta kalau terjadi gegeran. Tapi jangan bilang-bilang lho, Om.”
“Siap ikut perang, maksudmu?”
“Ya jelas to, Om. Jayakarta harus kita rebut. Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman Kumpeni,” jawab Sasa semangat.

Aku jadi teringat ketika dia pamit mau ke Jakarta ikut Aksi 212 dulu. Dengan fasih dia bercerita tentang sejarah perjuangan Fatahillah/Sunan Gunungjati yang menggalang kekuatan umat untuk mengusir Portugis dari Jayakarta. Dia juga fasih bercerita tentang Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang masa kanak-kanak hingga remajanya menjadi santri/anak murid Ki Ageng Gribik Jatinom itu menggalang kekuatan umat berperang melawan Belanda yang mengusai Batavia selama lima tahun. Dua peristiwa itulah rupanya yang telah menginspirasi Sasa hingga merasa terpanggil dan merasa terlibat dalam urusan Pilgub DKI. Dengan biaya sendiri, bahkan hanya dengan bekal seadanya dari hasil menjual 3 ekor ayam jagonya.

“Tapi kemarin aku betul-betul kecewa, Om,” kata Sasa sambil menghisap kretek di tangannya.
“Kecewa soal apa, Sa?”
“Tuntutan Jaksa di  pengadilan penista agama kemarin itu sangat tidak masuk akal dan tidak adil.”
“Loh kok bisa begitu, Sa?”
“Ini kesan saya. Proses pengadilan itu ternyata hanya main-main, bukan sungguh-sungguh menegakkan hukum dan menjaga keadilan. Sudah jelas penista agama dan meresahkan berjuta-juta umat, lha kok tidak dihukum. Tuntutan jaksa terlalu ringan, dan tampak sengaja ingin membebaskan terdakwa dari segala hukuman. Padahal kita tahu, orang-orang yang masih diduga makar saja langsung digerebek dan ditahan berbulan-bulan, bahkan banyak terduga teroris diculik dan yang langsung di-dor tanpa proses pengadilan.”

“Sa, bukankah sebaiknya kita husnudhon saja pada jaksa dan para hakim? Tentu mereka sudah dengan kajian mendalam dan pertimbangan matang berdasar fakta-fakta di pengadilan. Slow waelah, Sa. Apa Sasa tidak kasihan pada si-terdakwa? Sudah dia kalah di Pilgub, mosok masih mau dijebloskan ke penjara. Kasihanlah, Sa.”
“Om Om…Sampeyan ini bagaimana, to? Itu kan dua hal yang berbeda. Pilgub itu utusan politik. Peristiwa demokrasi. Sudah jelas pemenangnya. Selesai. Kita tinggal menunggu serah-terima jabatan lalu mengawal supaya gubernur baru itu nanti benar-benar amanah. Kalau soal pengadilan, ini kan soal hukum, Om. Kebetulan memang si-terdakwa masih menjabat gubernur dan kemarin masih mau maju Pilgub untuk jabatan berikutnya. Para penegak hukum tidak boleh “mban cinde mban siladan”, Om.”
“Artinya apa itu, Sa?”
“Penegak hukum harus adil, Om. Tidak boleh membeda-bedakan. Di negeri ini tidak boleh ada orang atau kelompok yang merasa paling hebat. Dumeh orang kaya boleh semena-mena, di pengadilan pun diistimewakan. Salah tidak dihukum, malah dipuja-puja, digendong dengan selendang. Sementara rakyat biasa yang miskin dan tidak punya jabatan diperlakukan semena-mena, digendong dengan siladan yang bisa membuat kulit dan tubuhnya terluka.”

Mban cinde mban siladan, alias tidak adil. Sudah lama aku tidak mendengar peribahasa Jawa itu. Sejak TVRI Yogyakarta berhenti menayangkan acara Kethoprak setiap malam Rabu tahun 70-80an, memang banyak ajaran, ungkapan, dan kearifan lokal yang hilang dari masyarakat. Untung masih ada Sasa.
“Jaman semakin rusak-rusakan,Om,” kata Sasa.
“Sudahlah, Sa. Kamu bikin mumet pagi-pagi. Itu pasar jago sudah ramai. Juallah ayammu, mudah-mudahan dapat harga bagus. Aku pulang dulu, ya…..”

Aku pun langsung pulang setelah membayar makanan ke Mbah Gito Putri yang bertindak sebagai kasir. Suwe ora jamu, jamu pisan godong duwet. Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe mumet. Sasa Sasa…….

21/4/2017

Sabtu, 01 April 2017

R E P U T A S I


R E P U T A S I

“Reputasi itu apa to, Mas?” tanya Huri tadi pagi ketika mampir ngopi di rumahku. Huri yang punya usaha toko pakan ternak itu bercerita bahwa kemarin dia menghadiri undangan makan siang dari distributor salah satu merk pakan ternak di sebuah rumah makan. Sekitar 50 agen yang diundang, Huri salah satunya. Acaranya sederhana, hanya makan siang dilanjut sambutan dari distributor. Dalam sambutannya, pihak distributor mengajak para agen agar lebih aktif terjun ke kandang-kandang peternak, mendengar dan mencatat setiap keluhan mereka, syukur bila kemudian bisa memberikan solusi. Bila agen mengalami kesulitan, distributor akan menerjukan tim ahlinya. Itulah salah satu cara menjaga reputasi agar para peternak tetap percaya dan setia menggunakan pakan merk mereka.
“Saya yang belum paham istilah reputasi itu, Mas. Mau tanya di forum juga malu.” Kata Huri sambil nyeruput kopinya.

Untuk menjawab pertanyaan Huri, tentu kurang bijak bila kusuruh dia membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau membaca Wikipedia via Mbah Google misalnya. Dia hanya butuh penjelasan sederhana yang mudah dicerna sambil ngobrol santai menikmati kopi Semendo. Maka kuceritakanlah pertemuanku dengan Sasa dan Kang Panut di warung opor ayam “Pak Dalimin” Kwaren tadi malam.

Aku sengaja datang ke warung Pak Dalimin untuk menghangatkan badan di tengah suasana dingin dan gerimis sisa hujan sesiangan. Rasa perut lapar sejak sore sengaja kutahan karena sudah kangen makan opor sambil mendengarkan wayang kulit yang setiap malam terpancar dari stasiun-stasiun radio di kota Klaten-Jogja-Solo dan sekitarnya. Maklumlah, sudah sekitar 2-3 bulan aku tidak ke sana gara-gara dibilangi dokter agar mengurangi makanan bersantan. Ketika aku datang, sudah ada dua orang yang sedang asyik makan. Aku pun langsung duduk di kursi depannya setelah memesan makanan pada Pak Dalimin.
“Kok sendirian, Mas?” tiba-tiba orang yang duduk di depanku manyapaku. Ya Allah, ternyata Kang Panut pemilik Soto Kartongali dan Sasa si-juru parkir teladan yang duduk di depanku itu.
“Weeh lha, juragane soto to ini,” kusalami Kang Panut dan Sasa sahabatku.
“Mas Panut ini memang sering ke sini kok, Mas,” kata Pak Dalimin sambil menyajikan menu pesananku.
“Hampir tiap malam, Mas,” Kang Panut menyahut.
“Sampeyan dari mana, Om, kok cuma sendirian?” Sasa ganti menanyaiku.
“Dari rumah, Sa. Sengaja ke sini sendiri. Anak-buah sudah pada tidur,” jawabku.

Aku pun mulai menyantap opor ayam yang sudah tersaji, juga Kang Panut dan Sasa meneruskan makannya. Pak Dalimin yang biasanya langsung kembali leyeh-leyeh di kusri panjang di depan warungnya sambil mendengarkan wayang kulit, kali ini ikut duduk di sebelahku. Mungkin maksudnya menghormati Kang Panut koleganya sesama pelaku bisnis kuliner tradisional. Mereka memang tampak akrab. Setelah makan, kami pun asyik ngobrol ngalor-ngidul, termasuk tentang lakon wayang yang sedang dibawakan oleh dalang Ki Tomo Pandoyo dari Randulanang, Jatinom.

“Sasa kok gak ikut Aksi 313 di Jakarta ?”
“Enggaklah, Om. Sudah cukup Aksi 212 dulu,” jawab Sasa.
“Kenapa, Sa?” tanyaku.
“Ya harus kerjalah, Om. Kan harus setia pada pekerjaan,” jawab Sasa.
“Bener Sasa itu, Mas,“ Pak Dalimin menyahut. “Kita memang harus setia pada pekerjaan. Biar pun warung cuma emplek-emplek begini, tapi soal tanggung jawab dan kesetiaan pada pelanggan tetap nomor satu.”
“Itulah kenapa warung Mas Dalimin ini buka 24 jam, Mas. Tidak pernah tutup,” Kang Panut nambahi.
“Warung Mas Panut juga harus buka jam 6 pagi setiap hari. Tidak boleh molor atau libur sesuka hati. Kasihan kalau orang kecele gara-gara kita malas-malasan,” Pak Dalimin balas memuji Kang Panut.
“Ya itulah, Om, makanya aku gak ikut ke Jakarta. Pengunjung Soto Kartongali pasti akan kerepotan parkir kalau Sasa tidak ada…..hahahaa…” Sasa menambahi dengan gayanya yang pede.

Memang, harus diakui warung opor ayam Pak Dalimin memang istimewa. Bukan hanya karena masakan opornya yang sangat enak dan stabil rasanya, tapi juga cara penyajiannya numani. Satu porsi berupa sepiring nasi panas dibubuhi daun singkong rebus, di atasnya satu tepong atau dada-menthok atau paha-atas ayam opor dengan kuahnya yang kental-manis, sambal bawang-lombok ijo tersaji bersama lemper batu ukuran besar, dan segelas teh manis gula batu nasgithel. Bagi orang yang suka mengukur kualitas sesuatu berdasarkan kondisi fisik dan kasat mata, tentu tidak akan pernah menoleh ke warung sempit di sebelah barat Pom Bensin Kwaren, Klaten itu. Tentu juga sulit percaya bahwa dari tangan laki-laki usia 70an tahun itu tersaji masakan opor ayam yang layak dikukuhkan sebagai Juara Dunia. Da, Pak Dalimin siap 24 jam melayani pembeli.

Harus juga diakui bahwa ketika pagi-pagi kita butuh sarapan yang seger, Soto Kartongali di dekat Pemandian Jolotundo yang cepat saji itu sudah siap melayani sejak jam 6 pagi dan tidak pernah molor. Rasa soto dan teh nasgithelnya juga tidak pernah berubah, stabil.

Juga tidak ada juru parkir sehebat Sasa dalam melayani pengendara. Dia bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya sejak jam 6 pagi hingga tutup warung jam 2 siang, dengan liak-liuk tubuh dan teriakannya member aba-aba, dengan bendera merah-orange di tangan kiri dan balok pangganjal roda di tangan kanan, dengan senyum lebar dan ungkapan “matur nuwun” dan “ngatos-atos” pada pemberi uang parkir, dan seterusnya. begitulah Sasa si juru parkir teladan bekerja.

“Itulah reputasi, Nda. Pak Dalimin menjaga reputasi sebagai pejual opor ayam. Kang Panut mejaga reputasi Soto Kartongali yang legendaries. Sasa menjaga reputasi sebagai juru parkir teladan,” kataku pada Huri. “Kesan dan catatan baik masyarakat harus kita jaga jangan sampai rusak. Ingat, karena nila setitik bisa rusak susu sebelanga.”
“Ooh, jadi kalo ada pejabat atau politisi melakukan korupsi, atau seorang artis ditangkap polisi karena nyabu, itu sama saja merusak reputasinya sendiri ya, Mas?”
“Iyalah, Nda. Orang berjuang membangun karir hingga berhasil menduduki jabatan tinggi di instansinya, orang terjun ke dunia politik dan membangun citra hingga berhasil menjadi tokoh politik yang disegani, seorang artis bekerja keras hingga terkenal dan banyak job, seorang penyair produktif menulis puisi dengan ketajaman mata hati dan kelembutan jiwanya sehingga melahirkan karya-karya berkualitas, dan sebagainya. Itu semua bisa hancur dalam sekejap karena tergiur godaan harta-tahta-wanita dan kenikmatan sesaat. Bahkan bukan hanya karirnya yang hancur, tetapi juga seluruh bangunan rumah-tangganya. Itulah reputasi, Nda. Makanya jangan main-main. Kita harus menjaga reputasi, apapun pekerjaaan dan posisi kita.”

“Sudah paham aku sekarang. Ya sudah, Mas. Aku mau nengok kandang dulu. Menjaga reputasi….hahaha….” Huri langsung pamitan setelah menghabiskan kopinya.

Minggu, 19 Maret 2017

SIASAH VS POLITIK

SIASAH VS POLITIK

Warung angkringan Gus Yusuf memang ngangeni. Bukan hanya karena menu masakan dan wedangnya yang nyamleng, tapi juga tempatnya memang cocok buat nglaras sambil ngobrol malam-malam bersama teman sesama penggemar angkringan. Lokasinya di sebelah barat Lapangan Bonyokan, di pinggir jalan provinsi Klaten – Jatinom, sekitar 50 m sebelah selatan pertigaan Koramil Jatinom. 

Jangan bayangkan warung itu seperti warung angkringan modern milik orang-orang kaya di kota yang berani investasi besar di bisnis kuliner bergaya kerakyatan, bergaya angkringan. Beda sama sekali. Ini asli warung rakyat, angkringan, yang sebagian orang menyebutnya warung kucing. Gus Yusuf membuat dan mengelola warung di emperan rumahnya dan hasilnya untuk menafkahi keluarganya.

Teh-jahe dan makan sego-gudangan ditambah sambel welut adalah menu kesukaanku. Tentu menu itu belumlah lengkap sebelum dilanjut ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman, dari seputar makelaran mobil yang lagi sepi, tentang  burung love-bird yang harganya terjun bebas , atau tentang gadis tetangga desa yang dilarikan teman facebooknya hingga berhari-hari belum ketemu entah di mana, dan sebagainya. Begitulah, kami biasa ngumpul dan baru bubar bila udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

Obrolan malam ini agak beda karena ada Sasa yang kebetulan mampir usai memijat pelanggan. Kami sedang asyik ngobrol tentang durian yang musim ini tampaknya tidak sebagus tahun lalu, tiba-tiba Sasa mak-jegagik datang dan uluk salam.

“Weeeh…Sasa. Dari mana, Sa? tanyaku setalah menjawab salamnya.

“Monggo, Mas Sasa. Duduk sini,” Ifan mempersilakan Sasa duduk di sampingnya. Memang sudah lama Ifan pengin bisa ikut ngobrol dengan Sasa. Penasaran, katanya.

“Biasa, Om, dari jihad.….hehehee,” jawab Sasa dengan senyumnya yang menawan.

“Wah elok tenan. Jihad apa, Mas?” tanya Huri yang juga tampak antusias. 

“Ya jihad membantu orang yang butuh dipijat badannya, Mas. Namanya juga tukang pijat.” 

“Dapat berapa pasien malam ini, Sa? tanya Ifan.

“Alhamdulillah ada satu, Om. Pak Khusnul masuk angin, perlu dipijat dan dikeroki.”

Begitulah Sasa. Hari-harinya disibukkan dengan mambantu orang lain. Pagi sampai siang memandu kendaraan di parkiran Soto Kartongali, sore dan malamnya membantu orang yang badannya pegal-pegal atau kecetit otot kaki, tangan, atau punggungnya.

Segelas susu-jahe disajikan Gus Yusuf dan langsung ditangkap Sasa lalu dituangkannya ke lepek agar segera bisa diminum sesruput dua sruput.

“Ada cerita apa dari Pak Khusnul, Sa?” tanyaku. 

“Tadi cerita lagi seputar kehebatan mendiang Pak Jayeng, salah satu komandan Batalion 426 yang dibunuh PKI dan hingga kini tak diketahui di mana makamnya.”

”Terus, Sa?”

“Tadi beliau juga cerita tentang Partai Masyumi yang dulu dibubarkan Bung Karno. Ceritanya mirip-mirip dengan yang kudengar waktu ikut Sampeyan diskusi di Jogja, Om.”

“Mirip-mirip bagaimana, Mas?” tanya Huri.

“Wah, panjang ceritanya….hehee.”

“Gak apa-apa panjang, Mas Sasa, ceritakan saja. Aku juga pengin dengar sejarah jadul itu,” Ifan pun tampak antusias.

“Ceritakan saja, Sa. Berbagi ilmu kan bagus,” sahutku.

“Tak makan dulu ya, Mas. Nanti tak ceritai singkatnya saja. Kalau panjang-panjang bisa sampai shubuh belum rampung,” kata Sasa sambil makan nasi-sambel welut denga lahapnya.

“Masyumi itu berdiri tahun 1945 sebagai wadah umat Islam urun-rembuk bagi pembentukan Negara RI," Sasa mulai bercerita. "Waktu itu, di samping Masyumi sudah ada PNI, PKI, dan lain-lain," lanjutnya. 

Kata Sasa, para pendiri Republik ini dulu melakukan sidang-sidang secara marathon untuk merumuskan Negara yang mau kita dirikan nanti seperti apa, mau ke mana, dan sebagainya. Mereka itu tokoh-tokoh Nasionalis yang mengenyam pendidikan Belanda dan tokoh-tokoh Islam  atau ulama.  Di antara kalangan Nasionalis ada tokoh besar seperti Bung Karno dan Bung Yamin, dari kalangan Islam ada ulama-ulama hebat seperti KH Wakhid Hasyim dan Ki Bagus Hadikusumo. Ada juga tokoh-tokoh Kristen-Katolik serta tokoh-tokoh revolusioner berhaluan Komunis. 

"Bisa dibayangkan betapa alot perdebatan mereka saat itu, Mas. Tentu tidak mudah merumuskan Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945.” 

Sasa kembali mengulut rokok. Ifan dan Huri yang dari tadi asyik menyimak sambil klepas-klepus, kali ini tampak ndomblong dan gumun, heran. Ing-atase Sasa kok bisa cerita sejarah berdirinya Republik dan hafal beberapa nama tokoh.

“Sama seperti Sampeyan, Om, tadi Pak Khusnul juga menyinggung tentang PSII dan NU yang keluar dari Masyumi sehingga kekuatan politik umat Islam terpecah dan lemah sejak Pemilu 1955,” lanjut Sasa.

“Pak Khusnul bilang apa tadi?” tanyaku.

“Yang beliau sesalkan, sejak itu umat Islam khususnya warga Muhammadiyah dan NU jadi gampang diadu-domba hanya karena masalah-masalah sepele dan soal khilafiyah seperti qunut, ziarah kubur, dan tahlilan.”

Aku jadi teringat kesaksian Buya Hamka di novel “Jalan Cinta Buya” yang ditulis oleh Haedar Musyafa, bahwa politik telah memecah-belah umat Islam. 

"Sesungguhnya Masyumi yang berasas Islam dulu berdiri untuk dan di atas semua golongan," Sasa melanjutkan ceritanya. "Namun sayang, cita-cita luhur Masyumi tidak berjalan sesuai harapan karena kemudian tokoh-tokoh intinya lebih mengutamakan kepentingan golongannya masing-masing. Spirit gerakan modernis dan pembaharu dari Persyarikatan Muhammadiyah telah gagal diterjemahkan oleh tokoh-tokoh tradisional dari NU. Tokoh-tokoh NU lebih pandai berpolitik sehingga berhasil menduduki jabatan-jabatan strategis dalam struktur pemerintahan, sedangkan naluri tokoh-tokoh Masyumi lebih cenderung membangun dan menumbuhkan semangat persatuan umat. Masyumi menghadapi masa-masa sulit terutama sejak Dewan Konstituante yang kemudian dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dewan Konstituante diganti dengan Nasakom, semangat gotong-royong antara kekuatan revolusioner dengan prinsip Nasionalisme, Agamis, Komunisme. Karena menolak Nasakom, maka Masyumi dibubarkan pada 1960 dan beberapa tokohnya dipenjara tanpa melaui proses pengadilan.

“Oooh, rupanya tokoh-tokoh Masyumi dulu memang tidak pandai berpolitik ya, Mas Sasa? Pantesan anak-cucunya juga lugu-lugu sampai sekarang, ya.” tanya Huri.

“Iya, bener itu. Di era reformasi mereka juga ikut bikin partai politik, tapi ya gak bisa besar…hahahaa,” Ifan menyahut sambil mentertawakan dirinya sendiri.
Sasa menyahut,“Begini lho, Mas. Kalau menurut penangkapanku waktu ikut diskusi minggu lalu, tokoh-tokoh Masyumi seperti Buya Hamka dulu memang tidak berpolitik, tetapi bersiasah.” Sasa menghisab rokoknya dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Mereka masuk gelanggang politik untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi Umat Islam, bukan untuk kepentingan diri sendiri dan golongannya. Kalau sudah menyangkut aqidah, mereka kukuh dan tidak mau kompromi. Itulah bedanya dengan politisi, apalagi politisi jaman sekarang yang lebih cenderung kompromis dan transaksional. Wani piro? Aku dapat apa? Begitulah. Bener kan, Om?” Sasa memandangku minta persetujuan pendapatnya.

Aku hanya tersenyum sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan waktu memasuki dini hari. Udara sudah terasa anyep berembun.
“Baiklah kalau begitu…..besok kita lanjut lagi obrolan kita,” kataku sambil berdiri menyalami Sasa, Ifan, dan Huri. Dan kami pun bubar setelah membayar makanan dan minuman ke Gus Yusuf.

Senin, 13 Maret 2017

S Y U K U R



S Y U K U R

Sengaja malam ini kuajak Sasa menemaniku ke Jogja ketemu teman-teman lama, semacam reuni kecil-kecilan di warung makan di kawasan Bulaksumur, wedangan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Semula Sasa keberatan. Katanya malu, atau minder lebih tepatnya, karena dipikirnya akan ketemu wong-wong pinter.  Tapi memang benar, teman-temanku itu sejak jaman kuliah dulu pinter, nilai ujiannya bagus-bagus dan IPKnya tinggi sehingga tidak aneh bila kemudian UGM merekrutnya sebagai dosen. Sasa tampak kikuk duduk nglumpruk di kursi pojok paling belakang, tidak mau kuajak duduk di sampingku agar bisa srawung dan ajur-ajer dengan teman-temanku. Sepanjang obrolan hingga pukul sebelas malam, kulihat Sasa juga ikut mendengarkan, sesekali senyum-senyum atau mengernyitkan kening seakan memahami obrolan kami. Entah apa yang dipikir dan dirasakannya.

“Om, teman Sampeyan tadi bilang bahwa hidup ini keyakinan, bukan pilihan. Maksudnya apa to, Om?” tiba-tiba Sasa bersuara ketika kami melewati jembatan layang Janti yang sepi. Tadinya dia diam saja, kupikir sedang menikmati suasana jalanan kota Jogja yang hingar-bingar di malam Minggu. Dia pasti gumun melihat sepanjang jalan banyak anak muda lalu-lalang berboncengan dengan pacarnya atau sedang nongkrong di trotoar hingga menjelang dini hari. Sengaja kubiarkan saja Sasa asyik dengan pikirannya sendiri menyaksikan tingkah anak-anak muda di Jogja.

“Sampeyan ini ditanyai kok diam saja to, Om?”

Sik, Sa. Nanti kita ngobrol sambil makan bakmi godhok di Pandansimping, ya,” jawabku sambil tancap gas mumpung jalan ke arah Solo sudah sepi.

“Wah cocok, Om. Mathuk. Dingin-dingin begini enaknya makan bakmi godhok.”

Kami pun berhenti di warung Bakmi Jowo langgananku. Kupesan dua piring bakmi godhok dan dua teh panas lalu memilih tempat duduk lesehan yang nyaman. Tak berapa lama, pesanan pun terhidang dan langsung kami santap dengan nikmatnya. Badan kami jadi gobyos. Saatnya kini menikmati teh nasgithel sambil ngobrol santai.

“Sa, kenapa Kamu jadi juru parkir dan juru pijat?” tanyaku membuka obrolan.

“Ya karena aku harus bekerja cari nafkah, Om,” jawab Sasa.

“Jadi juru parkir kan capek, Sa. Panas. Kadang juga kehujanan. Harus lari ke sana-kemari dan bengok-bengok memandu orang yang mau parkir atau mau jalan lagi.”

“Hahaha...ya biasalah, Om, namanya orang kerja ya kepanasan, kehujanan, kecapekan.”

“Kenapa gak milih kerja kantoran, Sa? Lebih nyaman, bergengsi, gak kepanasan dan gak kehujanan.”

 “Wah Sampeyan ini bagaimana to, Om? Kalo boleh memilih, tentu aku memilih tidur atau duduk-duduk saja di rumah, tapi setiap hari ada duit segepok jatuh dari langit,” kata Sasa sambil terkeh-kekeh.

“Sa, kamu sudah berumah-tangga berapa tahun?”

“25 tahun, Om.”

“Selama 25 tahun itu ganti istri berapa kali?”

“Iyaak...ngece. Dari dulu isteriku ya cuma satu, diajeng Lestari ibunya anak-anakku itu.”

“Lah kenapa gak nganyarke, Sa?”

Nganyarke bagaimana, Om? Mbok jangan ngece.

“Yah ganti yang lebih muda, masih cantik dan seger kinyis-kinyis seperti artis-artis di tv, misalnya.”

“Sampeyan ini kok ada-ada saja to, Om. Mosok orang bebojoan gonta-ganti semau-maunya seperti ayam. Lha kok le penuk. Namanya bojo ya sebisanya sehidup-semati, Om. Aku ini sudah sangat bersyukur, ing atase Sasa kok ya diparingi isteri yang setia dan diamanahi 4 anak yang sehat-sehat.”

“Sopo sing maringi, Sa?”

“Ya Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi to, Om.”

“Jadi gak bisa milih-milih ya, Sa? Harus nrimo dengan apa yang ada, begitu?

“Om, seandainya hidup ini boleh memilih, tentu dulu aku memilih lahir dari perut ibu Megawati sehingga nasibku jadi lebih baik, bisa jadi menteri, berlimpah harta, dan dihormati orang. Atau, aku memilih lahir sebagai anak orang Eropa,  Amerika, Jepang, atau Korea sehingga kulitku tidak hitam-legam seperti ini, tetapi putih, gagah, dan gantheng seperti bintang film. Atau, aku memilih lahir sebagai anak orang Arab Saudi sehingga aku pinter ngomong pakai bahasa Arab dan fasih membaca Al-Quran. Semua ini sudah takdir, Om. Sudah ginaris. Makanya harus kita syukuri apa yang ada ini. Tidak boleh nggresula, tidak bolah menyesali.”

“Oooh gitu ya, Sa. Sekarang soal pekerjaan. Kenapa Sasa tidak memilih jadi PNS, Anggota DPR, atau Bupati Klaten, misalnya? Gajinya besar dan bisa dapat uang tambahan dari sana-sini yang jauh lebih besar dari gaji. Kenapa kok milih jadi juru parkir yang cuma nerima uang recehan dan juru pijat dengan upah sak pawehe dari pasien?”

“Wah, seandainya hidup ini boleh memilih, Om, tentu waktu dan tenaga kita akan habis untuk memilih-milih. Manusia tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah didapatkannya. Tentu kita akan lupa dengan sangkan paraning dumadi.”

“Oke, Sa. Siipp....” kuberi Sasa dua jempol.

“Siip piye, Om?”

“Yho siip. Kamu ternyata sudah paham dengan apa yang dikatakan temanku tadi.”

“Loh, itu to maksudnya? Walaah….tiwas aku tadi mumetdhewe karena gak mudheng. Mau bertanya juga gak berani. Jindul tenan ikk….” kata Sasa sambil ketawa lebar.

Karyawan warung Bakmi Jowo sudah mulai kemas-kemas pertanda warung akan segera ditutup. Waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB dan udara sudah terasa anyep. Segera kubayar makanan di kasir dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang sambil mendengarkan wayang kulit di radio, entah siapa dalangnya dan apa lakonnya.






Jumat, 10 Maret 2017

B I D ' A H


B I D ‘ A H

“Loh, Sa, tumben Jumatan di sini?” tanyaku sambil membalas jabat tangannya di depan mesjid usai sholat Jumat tadi.

“Iya, Om. Sengaja ke sini sekalian mau mampir ngopi di rumah Sampeyan,” jawab Sasa.

Kami pun berjalan beriringan menuju rumahku sambil Sasa menuntun sepedanya. Cuaca kamarau yang terik membuat semua orang bergegas jalannya agar cepat sampai rumah menghindari sengatan matahari. Tak berapa lama, kami pun sudah duduk di kursi emper rumahku. Kolam ikan di bawah pohon belimbing yang lebat buahnya, pohon mangga arum manis yang rimbun, serta suara gemericik dan kecipak air di kolam ikan depan rumah terasa memberi kesejukan tersendiri di saat cuaca terik begini. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul seputar kabar Sasa dan keluarganya, situasi terkini warung Soto Kartongali, aktivitasnya sebagai juru pijat, dan sebagainya. Satu karyawanku menyajikan dua gelas kopi yang sudah kupesan. Beberapa toples klethikan sudah terjajar rapi di atas meja seperti hari-hari biasanya.

“Om, aku mau minta saran,” kata Sasa setelah nyeruput kopi dari lepeknya.

“Saran apa, Sa?”

“Nanti malam aku ada undangan tahlilan di rumah tetangga memperingati setahun meninggal suaminya. Aku jadi ewuh, Om.”

Lha kok ewuh? Kalau diundang ya datang saja.”

“Kata ustadzku, tahlilan peringatan kematian itu tidak ada tuntunannya dari Kanjeng Nabi. Bid’ah, katanya. Tapi kalau aku gak datang, apa alasanku nanti? Bisa-bisa aku dimusuhi saudara dan tetangga. Ewuh tenan aku, Om.”

Aku jadi teringat, kadang ada ustadz yang menyampaikan tausiyah tanpa memperhitungkan dampaknya bagi jamaah. Yang penting sudah menyampaikan kebenaran, kebenaran yang diyakininya. Tidak jarang jamaah menjadi bingung. Repotnya, tidak jarang pula jamaah menelan mentah-mentah ilmu yang diperolehnya, lalu dipakai untuk menghakimi sesuatu yang terjadi atau yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakatnya.  Maka terjadilah konflik di tengah masyarakat, baik yang terbuka maupun yang diam-diam. Seperti soal undangan tahlilan yang ditanyakan Sasa. Jamaah jadi takut jangan-jangan amalnya akan sia-sia karena dulu Kanjeng Nabi tidak pernah melakukannya. Kata bid’ah seakan telah menjadi hantu yang sangat menakutkan dan lebih berbahaya dari dosa syirik.

“Makanya aku ngelengke ke sini, Om, pengin tahu yang dimaksud bid’ah itu sebenarnya apa, to? Apa iya kita tidak boleh melakukan sesuatu kecuali yang sudah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi? Kalau begitu, kenapa kita setiap hari makan nasi, makan soto, naik sepeda, naik mobil, main HP, sekolah, dan sebagainya? Bukankah dulu Kanjeng Nabi babar blas tidak pernah melakukan itu semua, Om?”

“Loh, Sasa sudah tahu gitu, kok.”

“Tahu bagaimana to, Om? Aku ini tanya, kok.”

“Pertanyaanmu itu tadi benar.”

“Benar bagaimana?” 

“Sa, manusia ini dikaruniai akal sehingga beda dengan kerbau, ayam, ular, anjing, dsb. yang hanya dikarunia naluri. Dengan akal, manusia menjalani hidupnya sebagai hamba Allah SWT dan khalifah di bumi sekaligus. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan bermacam-macam budaya yang dihasilkan, supaya saling kenal-mengenal. Manusia yang ditakdirkan lahir dan hidup di benua Eropa tentu berbeda cara menjalani hidupnya dengan yang lahir dan hidup di Jazirah Arab, Afrika, dan Asia termasuk Indonesia. Orang Eropa dan Arab makan gandum, bukan nasi seperti kita. Orang Maluku dan Papua juga makan sagu, bukan nasi.” 

“Iya aku tahu itu, Om. Tapi apa hubungannya dengan pertanyaanku tadi?"

“Soal bid’ah?”

“Ya iya....”

“Begini, Sa. Dalam hal pertanian, misalnya, dulu Kanjeng Nabi bilang, Antum a’lamubi’umuriddunyaakum, Kalian lebih tahu urusan dunia Kalian. Itu artinya, Kanjeng Nabi menyuruh kita menjalani hidup ini secara kreatif-inovatif dengan modal ilmu. Beliau tidak mengajari kita cara budidaya kurma, cara membuat pedang dan senjata, atau cara membuat kapal dan kendaraan lainnya. Yang beliau wanti-wanti pada kita adalah Sholluukamaaroaitumuuni ushallii, sholatlah Kalian sebagaimana aku sholat.” 

“Maksudnya, Om?"

“Dalam hal sholat dan ibadah mahdhoh lainnya, kita wajib mencontoh Rasulullah SAW. Dalam hal teknis menjalani urusan dunia, kita boleh melakukan apa saja kecuali yang sudah jelas-jelas dilarang oleh Allah SWt dan Kanjeng Nabi SAW.”

“Ooh jadi gak masalah kita makan soto, sate, naik motor, dsb. itu ya, Om?”

“Ya gak masalah asalkan nasi, soto, sate, dan motor itu Kamu dapatkan dengan cara yang baik dan untuk menjalani kebaikan hidup. Akan menjadi masalah dan bisa haram kalau kita minum air sumur langsung satu ember, misalnya. Atau makan sate ayam kambing yang kambingnya Kamu curi dari tetangga.  Atau, kalau kita punya mobil bagus dan rumah mewah magrong-magrong yang kita beli dengan duit hasil maling, merampok, atau korupsi. Itu jelas-jelas dilarang, alias haram, Sa. Haram mugholadhoh...kkkkl.”

“Om, kata ustadzku, peringatan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 1 tahun, dst. itu bukan ajaran Islam, tapi peninggalan budaya Hindu. Jadi harus kita tinggalkan.”

“Lha kalau anak-anak sekolah dan pegawai kantor melakukan upacara bendera setiap hari Senin dan hari-hari besar Nasional itu menurutmu ajaran siapa?”

“Gak tahu, Om.”

“Terus, kenapa pengajian yang di kampungmu hanya setiap Malam Jumat dan Minggu Pahing, Sa? Kenapa tidak setiap hari?”

“Ya karena sudah jadi kesepakatan jamaah, Om.”

“Oke, Sa. Kesepakatan jamaah. Berarti peringatan kematian 3,7,40 hari dan seterusnya itu juga gak perlu jadi masalah kalau itu sudah menjadi kesepakatan masyarakat, atau sudah tradisi turun-temurun.”

“Tapi kan isinya tahlilan dan doa, Om. Mestinya kita melakukannya setiap saat, tidak harus hari ke-3,7,40, dan seterusnya itu.”

“Betul, Sa. Tahlilan tentu akan lebih afdhol kalau kita bisa melakukannya setiap saat di mana saja dan kapan saja. Setiap tarikan nafas dan gerak tubuh kita senantiasa mengagungkan Asma Allah. Tapi apa bisa orang  berkumpul setiap hari untuk melakukan doa bersama? Tidak, kan? Makanya perlu ada waktu-waktu tertentu yang disepakati. Dalam hal sholat pun Alllah SWT hanya menjadwal kita 5 waktu dalam sehari-semalam. Iya, kan?” 

“Sebentar, Om. Ini masih soal tahlilan tadi. Bukankah yang bermanfaat bagi almarhum/ah itu hanya doa dari anaknya yang sholeh? Lalu buat apa tetangga dan kerabat ikut mendoakan? Pakai makan-makan lagi. Gak ada manfaatnya, kan?”

“Lha kok gak ada manfaatnya? Kanjeng Nabi SAW saja mengajari kita selalu berkirim sholawat dan salam untuk beliau, untuk keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya. Kita diajari untuk selalu berdoa untuk kebaikan seluruh kaum beriman, mukminin walmukminat, muslimin walmuslimat, dan orang-orang tua kita. Iya, kan?”

“Iya juga ya, Om.”

“Jadi kenapa Kamu ragu untuk mendatangi undangan tahlilan tetanggamu nanti malam, Sa? Kamu gak mau mendoakan tetanggamu?”

“Wah ya bukan begitu, Om. Aku tadi benar-benar ragu. Takut dosa. Ya maklumlah, dosaku sudah terlalu banyak, dan sekarang baru belajar berbuat baik sebanyak-banyaknya, juga menghindari hal-hal yang bisa membuat dosaku bertambah lagi."

"Bagus itu. Sasa pasti bisa."

"Baiklah, Om. Aku sudah agak paham sekarang. Matur nuwun njih, Om."

Adzan ashar terdengar bersahut-sahutan dari corong mesjid-mesjid sekitar kampungku. Kami pun mengakhiri obrolan Jumat siang ini dengan ikut sholat ashar berjamaah di mesjid depan rumah. Sasa sahabatku yang selalu gelisah, dan akan terus gelisah melihat berbagai perkembangan di sekitarnya. 
Kegelisahanmu menjadi inspirasiku, Sa. Makasih, ya…..


Sabtu, 04 Maret 2017

PENISTA AGAMA

PENISTA AGAMA

Sasa masih belum paham apa yang didengarnya tadi malam. Sasa yang sejak beberapa bulan lalu sudah mulai temuwa, yang sudah memutuskan untuk tidak pethakilan lagi seperti anak-anak muda, yang sudah mulai rajin sholat dan ikut pengajian untuk mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu habis jatah usianya, kini mengalami kegelisahan luar biasa.  Kata-kata Ustadz tadi malam benar-benar membuatnya gelisah hingga semalaman susah tidur. Itulah kenapa pagi ini bakda shubuh Sasa sudah tiba di rumahku.

“Kok tumben pagi-pagi, Mas Sasa?” tanya istriku sambil menyuguhkan dua gelas kopi dan pisang kapok godhok di meja.

“Iya, Mbak. Pengin ngopi dan golek tomobo ati…hehehe,” Sasa menjawab dengan santai.

“Loh, golek tombo ati kok sini?,” tanya istriku.

“Ya iya to, Mbak. Katanya salah satu tombo ati itu kumpulono wong kang sholeh? Ya di sini tempat yang paling kusuka.”

“Iyaak…mbok prasojo wae, Sa. Bilang saja terus terang pengin ngopi,” sahutku.

“Iya, Mas Sasa. Tenang  saja, stok kopi semendo cap Iboe Mertoea masih banyak,” timpal istriku. “Monggo diunjuk dulu. Disekecakke, njih,”  lanjutnya.

Istriku kembali ke dalam meneruskan tugas paginya menyiapkan pekerjaan untuk karyawan. Kami pun menikmati sesruput dua sruput kopi kental-manis dan pisang kapok hangat. Asap rokok kretek mulai mengepul menemani kami ngobrol ngalor-ngidul dari yang ringan-hingga yang agak serius. Suara srek-srek-srek sapu lidi mulai terdengar, tetanggaku mulai menyapu halaman. Anak-anak ayam berlarian di halaman, berebut makan laron-laron yang sudah kehilangan sayap. Burung trothok ngoceh mbonang sambil sesekali membentangkan sayapnya, nggaruda. Dua ekor burung puter juga manggung di sangkarnya masing-masing, seakan bersaing memamerkan merdu suaranya.

“Jadi bagaimana, Sa? Apa masalahmu?” tanyaku kembali ke masalah utama kedatangan Sasa pagi ini.

“Aku ini betul-betul bingung, Om. Kan sudah jelas bahwa sholat itu tiang agama. Sholat itu tanda ketaatan kita pada Sang Pencipta. Sholat itu rukun Islam yang kedua. Rukun Islam pertama, Syahadat, tidak akan ada artinya alias bohong kalau kita tidak mengerjakan sholat. Iya to, Om? Tapi kenapa tadi malam ustadz bilang bahwa “sholat  pun bisa haram”. Itu apa maksudnya?”

Sahabatku ini memang selalu gelisah dengan hal-hal yang dijumpainya. Bukan hanya soal politik, bukan hanya soal bermacam-macam karakter pengendara di jalan, seputar pengunjung Soto Kartongali yang kadang aneh-aneh, atau seputar anak-anak muda yang masih suka teler minum wedang pekok. Kali ini Sasa datang dengan kegelisahan spiritual, kegelisahan seputar pemahaman terhadap tausiyah ustadz yang memang suka menyampaikan ungkapan-ungkapan yang kadang membuat jamaah kelihatan manthuk-manthuk tapi sesungguhnya bingung, ora mudheng,  tidak paham. Beliau memang tipe ustadz yang tidak suka mendoktrin jamaahnya, tetapi mengajak berfikir, menggunakan akal dan rasa , dalam memahami agama. Umat jangan mudah percaya semua yang dikatakan ustadz dan kyai. “Makanan jangan langsung ditelan, harus dikunyah dulu, jangan langsung di-leg,“ begitu beliau sering berpesan.

 “Sa, Kamu selalu ngerjakan sholat 5 waktu?”

“Iya, Om. Insya Allah.”

“Kapan waktumu sholat shubuh?”

“Waktu fajar hingga sebelum matahari terbit, Om.”

“Sholat dhuhur?

“Bila matahari sudah si atas kepala kita dan sedikit bergeser ke barat hingga datangnya waktu ashar.”

“Baik, Kamu tentu juga sudah tahu kapan harus sholat ashar, maghrib, dan isya’, kan?”

“Insya Allah, Om. Sudah tahu.”

“Nah, sekarang aku mau tanya lagi. Kalau pagi-pagi begini kita sholat dhuhur atau maghrib boleh apa tidak?”

“Ya jelas tidak boleh, Om?”

“Loh, kok tidak boleh? Katanya wajib sholat?

“Ya kan sudah jelas aturan waktunya, Om. Sholat maghrib ya nanti kalau matahari sudah terbenam.”

“Oke, jadi tidak boleh, ya. Apa istilahnya dalam agama kita?”

“Haram, Om.”

“Haram, Sa? Sholat kok haram?”

 “Hahahaa….iya, ya. Bener juga kata ustadz tadi malam. Urusan halal-haram pun ada waktunya. Ternyata begitu maksudnya. Jindul igg….edyaan.”

 “Sekarang aku tanya lagi, Sa. Masih seputar sholat.”

“Siap, Om.”

“Apa fungsi sholat bagimu?”

“Sebagai latihan mengendalikan diri dari perbuatan keji dan mungkar, Om. Bila kita sudah bisa mengendalikan diri, maka kita pun akan sanggup memberi contoh bagi keluarga dan lingkungan untuk selalu berbuat baik, tidak berbuat keji dan mungkar, di mana saja dan kapan saja.”

“Bagus, Sa. Kalau orang sudah rajin sholat, baik sholat fardhu maupun sholat sunnah, sudah rajin puasa, dan mungkin juga sudah pergi Haji dan Umroh ke Tanah Suci, tetapi ternyata di lingkungannya banyak fakir-miskin dan anak yatim yang tidak terurus, bagaimana menurutmu?”

“Wah lha ini, pertanyaan Sampeyan berat. Apa hubungannya sholat, puasa, dan Haji dengan kemiskinan dan anak yatim? Angel, Om.”

“Sa, Kamu mungkin masih ingat pelajaran Kemuhammadiyahan di SMP dulu?”

“Ingat, Om. Yang ngajar Pak Adnan.”

“Beliau bercerita tentang pengajian KHA Dahlan di Kauman  Yogyakarta yang diprotes jamaahnya karena berbulan-bulan hanya membahas surat Al-Ma’un. Masih ingat, Sa?”

“Ya ingat, Om. Itu cerita tentang Geger Surat Al-Ma’un. Kyai Dahlan mengajak jamaah mencari anak-anak yatim dan fakir-miskin di sekitar Yogyakarta untuk di santuni, dirawat, dan diajak belajar di sekolah yang didirikan di rumah beliau.”
“Wah ingatanmu masih bagus gitu, kok.”

“Lumayan, Om.”

 “Nah, lalu Kyai Dahlan mengajak jamaah membuat panti asuhan dan mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemeoem) yang berkembang hingga sekarang menjadi Sumah Sakit PKU Muhammadiyah.”

“Betul, Om. Aku masih ingat semua pelajaran itu.”

“Kenapa dulu Kyai Dahlan begitu, Sa?”

“Karena beliau ingin mengajak jamaahnya tidak menjadi pendusta agama, Om."

“Maksudmu?”

“Meskipun kita rajin sholat, tapi bila kita tidak gemati pada anak-anak yatim dan fakir-miskin, kita diancam neraka wail, kita termasuk pendusta agama.”

“Sholat kita jadi sia-sia ya, Sa?”

“Iya, Om.”

“Nah, berarti sekarang Sasa sudah paham maksud ustadz tadi malam, kan? Bahwa sholat yang sesungguhnya wajib pun bisa menjadi haram, kita bisa termasuk pendusta agama dan penista agama. Apalagi hal-hal yang sudah jelas diharamkan, ya jangan dilanggar, Sa.”

Injih, Om. Sudah plong sekarang. Matur nuwun, ya. Sekarang saatnya aku undur diri. Nyuwun pamit. Saatnya Sasa bertugas....hahahaa”

Sasa memang hebat. Dia tidak sembarangan menumpahkan kegelisahannya. Aku pun merasa tersanjung bisa menjadi teman curhatnya. Namanya juga sahabat.


Senin, 27 Februari 2017

SIKAP ADIL


SIKAP ADIL

“Jaman kok makin tidak adil ya, Om,” kata Sasa setelah mengganjal roda mobilku di parkiran Soto Kartongali tadi pagi.

“Ada apa, Sa?”

“Orang-orang itu, lho. Melihat dan mengomentari sesuatu kok sak karep-karepe dhewe,” jawabnya.

“Ayo sarapan sik, Sa. Dilanjut nanti ngobrolnya.”

“Monggo, Om. Saya harus bertugas,” jawab Sasa dengan senyumnya yang lebar.

Sambil menunggu pesanan soto, kucoba menduga-duga ke mana arah pembicaraan Sasa tadi. Dia bicara tentang jaman yg “makin tidak adil”. Mungkin dia sedang ada masalah di keluarganya atau lagi ribut dengan tetangganya. Mungkin juga sedang prihatin mendengar kabar ibu mantan Bupati yang kesepian hidup di tahanan KPK dan sedang berusaha meyakinkan para penyidik agar menjadikannya sebagai justice-collaborator, bahwa dia tidak sendirian melakukan korupsi, bahwa banyak temannya yang terlibat, bahkan sudah terjadi sejak sebelum beliau jadi bupati. Memang sudah  jarang terdengar di media, tapi cerita itu masih bisa di-update di warung-warung angkringan di malam hari. Bagi Sasa, untuk mengakses info itu tentu tidak terlalu sulit dengan profesinya sebagai juru pijat panggilan langganan para tokoh politik dan pejabat yang banyak tahu soal itu.

Atau, mungkin Sasa teringat telepon dari adiknya di Jakarta yang rumahnya kebanjiran beberapa hari lalu. Katanya, semua orang di kampung tempat tinggal adiknya tidak bisa keluar rumah karena terkepung banjir. Mereka tinggal di lantai atas menahan lapar sambil berharap ada relawan datang membawa bantuan makanan. Lucunya, ternyata yang datang membantu justru seorang tokoh beserta rombongannya yang selama ini orang-orang di kampung itu membencinya setengah mati karena konon tidak toleran, anti-kebhinekaan, dan mengancam keutuhan NKRI. Rombongan itu datang berbasah-basah dan berlepotan lumpur, menyapa dan menyalami warga, mengajak ngobrol dan menyerahkan bantuan makanan dan pakaian. Itu sesuatu yang sangat besar artinya bagi orang yang sedang merasa menderita. Sungguh berbeda dengan para tokoh yang pada setiap musibah justru tidak menampakkkan batang hidungnya, apalagi membantu kesulitan warga dengan sukarela.

Segelas teh nasgihel dan semangkok soto tanpa thokolan sudah tersaji di depanku di antara deretan piring-piring berisi tempe, tahu, perkedel, mangkuk sambel, botol kecap Gito Birun, dan kaleng karak. Secuil kenikmatan surga benar-benar terasa kutemukan pada semangkok Soto Kartongali di pagi hari. Ramuan teh panas-kental-sepet dan manisnya gula batu menjadi penutup menu yang membuat mata kemepyar dan tubuh gobyos bersimbah keringat.

“Sebentar, Sa. Jadi apa masalahmu tadi?” tanyaku pada Sasa yang sudah siap memandu mobilku keluar dari parkiran.

“Ya itu tadi, Om. Wong kok dho ora adil,” jawabnya sambil mendekatiku.

“Siapa?”

“Orang-orang di tivi. Mungkin juga teman-teman Sampeyan, Om."

"Ada apa to, Sa?"

"Om, dari dulu yang namanya Presiden kan biasa berkunjung ke negara lain atau menerima kunjungan Kepala Negara lain. Itu memang tugasnya, dan kita sebagai rakyat harus mendukung. 

"Maksudmu?" aku belum paham ke mana arah bicaranya.

"Kalau Pemerintah kelihatan nyubyo-nyobyu Tamu Negara, itu memang karena kita harus menghormati tamu. Biasanya tamu negara mengajak rombongan pengusaha, lalu terjadilah kerjasama ekonomi dengan Pemerintah kita. Iya to, Om?”

Aku mulai paham. Rupanya Sasa ingin membahas tentang kunjungan Raja Salman dari Saudi Arabia ke Indonesia.

“Terus apa masalahmu, Sa?”

“Sebenarnya bukan masalahku, Om, tapi masalah kita," jawab Sasa diplomatid. "Om, tamu negara naik pesawat kepresidenan dan bawa mobil sendiri kan wajar, to? Itu sama seperti presiden Amerika atau perdana menteri Inggris, Belanda, Jepang, dan sebagainya. Persis juga seperti Presiden kita naik pesawat kepresidenan yang dulu dibeli Pak SBY. Iya to, Om?”

“Bener, Sa. Terus….”

“Selama ini orang juga tidak pernah ngurus para presiden dan perdana menteri itu punya berapa istri dan berapa gendhakan. Bagi kita, yang penting mereka mau menanamkan modalnya di sini, membangun pabrik-pabrik di sini dan menyerap tenaga kerja kita sehingga ekonomi negara bisa bergerak dan kita dan terkesan agak maju. Iya to, Om?”

Wah Sasa kumat lagi. Kali ini ngomyang tentang politik luar negeri, bukan cuma soal ayam jagonya yang gering dan terpaksa dijual murah di pasar Gabus, atau istrinya lagi ngambek karena Sasa cuma ngasih uang sedikit. Jebul tentang hubungan bilateral antar-negara. Beraat. Edan tenan. Jindul ik...

“Lha terus tidak adilnya di mana, Sa?”

“Ya itu tadi, Om. Para pengamat gayeng membicarakan rencana kedatangan Raja Arab Saudi. Ketok pinter dan ampuh-ampuh omongannya, tapi juga ngemu-ngece. Mereka tampak curiga pada Raja Saudi, persis kecurigaannya pada ulama-ulama kita yang gigih melawan kebatilan. Padahal Raja Arab sangat menghormati kita lho, Om."

"Kok tahu, Sa?"

"Loh, Sampeyan ini  bagaimana? Dulu waktu Presiden Soeharto naik Haji diberi penghormatan luar biasa, bahkan diajak masuk ke dalam Ka’bah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Ka’bah lho, Om. Terus, waktu Presiden Jokowi melaksanakan umroh, bukan hanya Putra Mahkota atau menterinya yang menjemput, tetapi Raja Arab sendiri yang menyambutnya di bawah tangga pesawat. Apakah itu karena hebatnya Soeharto atau Jokowi sebagai pribadi, Om? Bukan. Tapi karena Raja Arab memandang Indonesia sebagai bangsa yang besar dan mayoritas penduduknya muslim sehingga dihormati sebagai saudara seiman.”

Edan Sasa ini. Rupanya dia juga berbakat menjadi pengamat politik luar negeri, bukan hanya berbakat jadi juru parkir dan tukang pijat.

“Sa, tapi kenapa Raja Salman seakan mau pamer kemewahan, ya? Mbokya datang dengan sederhana saja seperti Kanjeng Nabi dulu.”

“Om, jaman sudah berbeda. Tidak mungkin seorang Kapala Negara pergi jauh ke luar negeri hanya naik onta atau kapal layar dan memakai baju bertambal. Ya tidak akan dihormati orang, Om, bahkan diremehkan dan dianggap lemah."

"Oh, begitu ya, Sa."

"Jaman sekarang orang dihormati kalau tampak kaya, Om. Apalagi Raja Salman yang jelas kaya, Om, Pelayan Dua Tanah Haram. Beliau harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Arab Saudi bukan ecek-ecek, bukan megara miskin yang datang mengemis-ngemis minta sedekah. Tidak boleh itu, Om."

“Tapi itu bisa dibilang sombong lho, Sa.” 

“Loh, katanya menyombongi orang yang sombong itu sodaqoh, Om?"

"Kok bisa gitu, Sa?"

"Lha kita ini orang-orang sombong yang selalu bangga dengan kakayaan alam dan penduduk yang banyak. Padahal, siapa yang selama ini mengeruk kekayaan alam kita? Para kumpeni, Om. Dari dulu kumpeni memang benci pada orang Islam. Apalagi sekarang yang mau datang Raja Arab Saudi, negara tempat kiblat kaum muslimin berada.”

“Terus piye, Sa? Kan belum jelas juga kunjungan Raja Salman akan mendatangkan manfaat bagi bangsa Indonesia?”

“Ya memang belum tentu, Om. Tapi yang pasti, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bisa menghormati tamu.'

"Ngono yho, Sa?"

"Jangan curiga dan menebar kebencian pada tamu, Om. Lha wong kepada tamu-tamu yang sudah terbukti merusak saja kita masih menghormati sedemikian rupa dan kita subyo-subyo. Bahkan, permukiman kumuh digusur demi menyediakan lahan untuk investasi mereka, laut direklamasi agar mereka bisa investasi lebih murah. Iya to, Om?”

“Sudahlah, Sa. Ngobrol sama kamu gak ada habisnya. Wis, yho…”

Segera kutancap gas dengan kepala pening bercampur takjub pada kecerdasan Sasa. Analisis politik dan budayanya jauh meninggalkan profesinya sebagai juru parkir dan juru pijat. Andai dulu Sasa berkesempatan kuliah di Fisipol UGM, di jurusan HI misalnya, tentu pada usaianya saat ini sudah jadi pengamat politik yang handal, disegani, dan menjadi rujukan para pengambil kebijakan. Tapi Sasa tetaplah Sasa, sahabatku yang bersahaja sebagai danyange parkiran soto Kartongali…..