Jumat, 27 Januari 2017

OJO CEDHAK KEBO GUPAK

OJO CEDHAK KEBO GUPAK

Selepas ashar. Hujan deras sesiangan masih menyisakan gerimis tak seberapa tebal dan sampah berserakan di halaman. Sungguh, ini waktu yang tepat untuk menikmati Kopi Semendo asli kiriman Ibu mertua. Jangan coba-coba bandingkan nikmatnya ngopi di rumahku dengan di kafe hotel atau di kafe waralaba (impor). Gulung kabeh, begitu istilah teman-temanku dari Jogja yang tuman datang ke rumahku untuk ngopi dan ngobrol.

Segelas kopi baru selesai kubuat dan belum sempat kuminum, tiba-tiba terdengar suara uluk-salam dari halaman, "Assalaamu'alaikum." 

Ya Allah, suara itu tidak asing bagiku. Sasa, sahabatku sejak SMP yang belakangan jadi idola para pengunjung Soto Kartongali karena kepiawaiannya memandu parkir kendaraan, yang setiap sore hingga malam melayani pangilan sebagai juru pijat bagi orang yang kecapekan. Ada apakah gerangan dia datang tanpa kuundang naik sepeda onthel dan pakai jas hujan?

Setelah salaman dan kupersilakan duduk, aku pun langsung ke dapur membuatkan kopi. Lumayan sore ini ada teman ngopi, pikirku.

"Kok njanur gunung, Sa? Tumben," tanyaku sambil meletakkan segelas kopi di depannya.

"Wah cocok ini, Om. Hujan-hujan minum kopi," kata Sasa sambil senyum-senyum dan menuangkan kopi di lepek. Dia tahu betul cara minum kopi selagi masih panas namun bibir tidah mlocot kepanasan. Diminumnya sesruput dua sruput dari lepek diikuti suara desah kenikmatan,"aaakhhhhh."

"Nagara kok semakin kisruh ya, Om, " kata Sasa sambil menyalakan sebatang kretek.

"Kisruh bagaimana, Sa?" tanyaku.

"Ya kisruh, Om. Setiap hari orang bertengkar, saling fitnah, saling jegal, saling gebuk. Rakyat sebagai supporter menikmati sambil bersorak-sorai saling cemooh, bahkan rela berantem demi membela jago kesayangannya," Sasa mulai berceloteh soal politik dengan logikanya sendiri seperti sedang ngomyang,  kambuh ketidaksadarannya. Tapi jujur, aku sungguh menikmati kecerdasannya yang sering tak terduga-duga.

Belum juga kurespon, Sasa melanjutkan ngomyangnya, "Om, ada kesan kasus penistaan agama gubernur itu sengaja ditutup-tutupi, ya. Kita digiring untuk percaya bahwa dia orang baik dan tidak bersalah."

"Ditutup-tutupi piye, Sa? Kan sudah masuk tahap sidang-sidang di pengadilan. Kita tunggu saja hasilnya, Sa," kucoba menenangkan Sasa yang selalu gelisah.

"Iya, tapi sampai hari ini belum jelas juntrungnya, Om. Malah tokoh pelapornya ganti dilaporkan, mau dipenjarakan, organisasinya mau dibubarkan sebagai ormas terlarang. Aku jadi khawatir ini bakal jadi dledah, jadi ontran-ontran, bakal ajur-ajuran karena perang saudara."

Kucoba mengajak Sasa memahami peta masalah. Yang namanya proses hukum memang membutuhkan waktu yang panjang. Tidak bisa sekali dua kali sidang langsung vonis. Tidak mungkin. Apalagi ini menyangkut seorang tokoh, pejabat, gubernur, seorang yang oleh banyak kalangan sudah didomo-domo sebagai tokoh yang akan mampu menyesaikan semua masalah bangsa-negara ini. Seperti Ratu Adil, kehadirannya sudah lama ditunggu-tunggu. Orang rela melakukan apa saja dengan segala daya-upaya demi menyambut kehadiran Ratu Adil. Kalau ada yang coba-coba menghalangi, tentu akan disikat habis.

Sasa nyeruput kopi lagi. Dua batang kretek sudah hampir habis, kopi segelas juga hampir tuntas.
"Kalau menurut Sampeyan, Om, kasus OTT seorang Hakim Konstitusi kemarin itu bagaimana? Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah juga bagian dari upaya mengaburkan kasus penistaan agama itu?"

Mak-jleb rasanya mendengar pertanyaan Sasa. Imajinasinya sudah sampai ke sana. Aku sama sekali tidak nggagas karena kasus korupsi pejabat sudah jadi menu sehari-hari.

"Begitulah politik, Sa. Yang sedang berkuasa akan terus berupaya melanggengkan kekuasaannya, apapun caranya. Berkuasa itu enak to, Sa? Bisa mendadak kaya-raya. Sementara yang tidak berkuasa juga berjuang keras agar bisa berkuasa. Iya to, Sa? Makanya, daripada  ndasmu ngelu jadi penonton, mending ikut terjun sekalian di gelanggang politk. Ikut bertanding, ikut rebutan."

"Wah, mboten mawon, Om. Gak usah ikut-ikutan ngedan. Saya juga gak mau cedhak-cedhak kebo gupak, mendekati kerbau yang sedang mandi di kubangan. Saya gak mau kena lumpur, kena blethok. Hanya kerbau yang suka berkubang di lumpur, Om," kata-katanya mengingatkanku pada pelajaran Bahasa Jawa di sekolah dulu, Ojo cedhak-cedhak kebo gupak.

"Loh, Sa, daripada cuma ngelu-ndasmu njur ngomyang terus, hayo?" kejarku.

"Nuwun sewu lho, Om. Saya masih percaya bahwa banyak orang berjuang semata-mata demi membela kebenaran, setidaknya membela nilai-nilai yang diyakininya sebagai kebenaran. Mereka berjuang bukan karena pengin berkuasa, tapi merasa wajib melawan ketidakbenaran dan ketidakadilan. Melawan penguasa yang semena-mena kan tidak berarti merebut kekuasaan, Om," katanya sambil matanya melirik halaman dan langit yang menampakkan candhik-ayu.

Hari menjelang maghrib, dan Sasa pun bermitan. Gara-gara Sasa, aku jadi ikut ngelu ndhasku.....

Senin, 23 Januari 2017

KEPYOH

KEPYOH

Kali ini Sasa betul-betul tidak habis pikir, tidak paham, kepyoh pikirannya menyaksikan berita-berita di TV dan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Panjang-lebar Sasa nguda-rasa seakan me-review semua hal yang didengar dan dilihatnya.

Bagaimana mungkin seorang polisi yang seharusnya bertugas memberantas narkoba justru meninggal karena overdosis mengkonsumsi narkoba di kamar hotel bersama seorang wanita. Bagaimana mungkin korban miras oplosan yang sudah terus berjatuhan di berbagai daerah, tetapi penjualnya masih bisa leluasa berjualan karena konon dibekingi aparat keamanan. Bagaimana mungkin,orang yang sudah jelas salah, meresahkan masyarakat, bahkan dikhawatirkan bisa mengancam persatuan-kesatuan bangsa justru dibela dan disubyo-subyo, sementara orang yang baru diduga bersalah justru ditangkap dan di-dor tanpa proses hukum. Bagaimana mungkin orang yang sepanjang hidupnya sangat getol mengajak masyarakat membasmi kemaksiatan justru terkesan sedang dicari-cari kesalahannya untuk dijebloskan ke penjara. Bagaimana mungkin pejabat-pajabat Negara dan Daerah yang seharusnya bertugas menjaga harta Negara dan memakmurkan rakyat justru terkesan berlomba-lomba mencuri uang rakyat sambil mengundang para Kumpeni untuk bancakan merampok kekayaan negara.

“Wah jan kepyoh tenan ini, Om. Wolak-waliking jaman. Yang benar disalah-salahkan, yang salah dibenar-benarkan. Kahanan seperti ini mau sampai kapan ya, Om?” Sasa mencoba memancingku untuk merespon celotehnya yang sejak tadi sengaja kudengarkan saja. Aku masih tetap diam menikmati pijatan demi pijatan Sasa sejak ujung kaki hingga ujung kepala, dari bagian belakang hingga depan. Sesekali aku pura-pura meringis kesakitan agar pijatannya tetap stabil dan bersemangat. Baru ketika memasuki sessi finishing pijatan, jari-jari tanganku ditarik satu-persatu hingga berbunyi alias dijethuti, aku merasa tidak tega untuk tidak meresponnya.

“Sasa kan sudah tahu ini memang jaman kepyoh?” tanyaku.
“Lha ya bener to, Om. Ini memang jaman serba membingungkan,” jawabnya. “Salah dibener-benerke, bener disalah-salahke,” lanjutnya.
“Iya, Sa. Makanya kita harus hati-hati. "Rasah kakehan ngomong, ndak malah disalahke,” kataku.
“Maksudnya bagaimana, Om? Apa mulut ini harus "mingkem", diam saja, padahal kita menyaksikan banyak hal yang tidak benar dijentrek-jentrekkan di depan kita setiap hari? Memang benar kita ini cuma rakyat, tapi kita kan juga punya pikiran dan hati, Om?”

Edan..! Jindul tenan. Sanggahan Sasa kali ini benar-benar mak-jleb menusuk ruang terdalam lubuk hatiku. Pengin menjelaskan segamblang-gamblangnya pada sahabatku satu ini, tapi kupikir apa gunanya. Bagiku, selama Sasa masih setia dengan pekerjaan mulianya sebagai juru parkir dan juru pijat, itu sudah sesuai keinginannya menolong semua orang. Itu sudah hebat. Rasa aeng-aeng, Sa.....

Kamis, 19 Januari 2017

HOAX


HOAX

Kembali aku dibuat ngelu oleh pertanyaan Sasa. Ndelalah sarapan soto Kartongali kali ini pun agak mengecewakan. Rasanya agak hambar, kurang joss. Mungkin karena sambelnya terlalu cair, terlalu banyak dicampur kuah soto  sehingga terasa kurang pedas. Ulah Sasa yang tak membiarkanku pergi semakin bikin mangkel.

“Sebentar, Om. Jan-jane HOAX itu apa, to?,  tanya Sasa. "Tadi malam aku nonton di tv kok banyak orang ngomong soal itu. Blas aku gak mudheng, tidak paham yang mereka omongkan,” lanjutnya. 

“Gak mudheng kok nonton."

“Gak sengaja kok, Om. Ndelalah tadi malam pas mijat Pak Joko yang pensiunan polisi itu, beliau sambil nyimak acara tv,” jawabnya. 

“Lha kok gak langsung tanya Pak Joko?” kejarku.

“Walaah, ya gak berani, Om. Aku ditimbali mijat beliau saja sudah seneng banget," jawab Sasa. "Tapi ya itu, Om," lanjutnya, "Mijat wong gedhe itu jan-jane aku agak takut." 

"Kenapa?"

"Ya khawatir saja kalau beliau tidak berkenan karena pijatanku gak enak. Makanya sengaja aku mijatnya pelan-pelan saja agar beliau merasa nyaman sampai tertidur.....kkkkkk."

Oh, jadi begitu cara Sasa memberi kepuasan pelanggan pijatnya. Pasien dibuat sampai tertidur sehingga ketika terbangun sudah merasa seger badannya. "Pinter kowe, Sa. Urik." batinku.

Sasa kembali bertanya, "Jan-jane  HOAX itu apa to, Om?" 

Beruntung ada pengunjung bersepeda motor, suami-istri dan dua anaknya, mau keluar parkiran. Sasa bergegas membantu dengan sigapnya, dan aku pun punya sedikit waktu untuk mencari jawaban yang kira-kira gampang dipahami Sasa.

“Kamu pernah batuk, Sa?” 

“Ya pernah, Om. Sering.” 

“Berdahak?” 

“Kadang-kadang.” 

“Bagaimana cara ngeluarkan dahak?” 

“Kalau cuma sedikit ya cukup 'kheek cuh...', tapi kalau pas banyak ya 'hoaak cuh...'. Begitu, Om.” 

“Nah, jadi HOAX itu apa, Sa?”

"Wooo….jindul ik. Jadi HOAX itu maksudnya sesuatu yang njijiki, menjijikkan seperti dahak, to? Semprul tenan. Jadi berita bisa dianggap HOAX bila bikin orang jijik dan merasa tidak enak. Gitu to, Om?” 

“Ya begitulah kira-kira, Sa. Makanya hati-hati kalau buang dahak, jangan sembarangan,” pesanku sambil menghidupkan mobil. 

“Sebentar, Om, sedikit lagi. Kalau orang menyebarkan berita yang tidak benar, berita HOAX, kan bisa dilaporkan ke polisi, dituntut di pengadilan, dan bisa dipenjara. Lha kalau pemerintah yang bikin cerita bohong, tidak benar, bikin rakyat jadi was-was dan ketakutan, bahkan bikin rakyat sengsara, apa itu juga bisa disebut HOAX, Om? Lalu, bisakah rakyat menuntut pemerintah di pengadilan?”

"Modyar iki...," batinku. Aku cuma senyum-senyum tidak berani menjawabnya. Pelan-pelan kuinjak gas dan kutinggalkan Sasa yang masih cengar-cengir

Sambil jalan, aku jadi teringat warung-warung makan yang tidak lagi menyediakan sambal pedas karena harga cabe rawit yang teramat mahal. Jadi teringat pajak listrik dan harga BBM yang terus naik diikuti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Jadi teringat jalan tol yang disebut infrastruktur, tapi untuk melewatinya rakyat harus membayar mahal. Jadi teringat berita tentang banyaknya WNA China yang konon masuk secara illegal sebagai tenaga kerja di tambang-tambang dan pabrik-pabrik yang dibangun di daerah terpencil pulau terluar. Jadi teringat sesama politisi yang saling melaporkan ke polisi. Jadi teringat rakyat Indonesia yang seakan saling mengasah pedang dan bersiap saling-bunuh satu sama lain. Ya Allah ....bermacam-macam cerita ngeri itu semoga tidak serius, semoga cuma Hoax.

Sasa Sasa….lagi-lagi pertanyaanmu membuatku ngelu…..




KEROKAN

KEROKAN

"Kok kemarin gak kerja, Sa?" tanyaku begitu Sasa membukakan pintu dan menyilahkan turun dari mobil sebagaimana dia biasa menyambut setiap pengunjung Soto Kartongali hingga kadang aku merasa sungkan sendiri. 

"Wah kemarin njeglek, Om. Masuk angin. Tapi alhamdulillah cukup dikeroki, gak usah ke dokter," jawab Sasa dengan senyum lebarnya.

"Loh, Kamu bisa masuk angin juga to, Sa?" tanyaku menggoda kawan lama.

"Walah, saya ini jalmo-limrah kok, Om. Manusia biasa. Tiap malam mijeti dan ngeroki orang, kadang badan ini butuh pijet dan kerokan juga," jawabnya.

Entah tadi sudah sarapan atau belum, tapi Sasa kulihat tetap gesit menyambut setiap kendaraan yang masuk parkir dan melepas pengunjung warung yang mau keluar parkiran dengan liyak-liyuk tubuhnya, dengan senyum lebarnya, dengan tangan dan bendera kecilnya, dan dengan kata-katanya yang simpatik setelah nerima uang parkir,"Matur nuwun, ngatos-atos." Begitulah Sasa, ia tetap bekerja melayani dengan sepenuh hati dan raganya.

Minggu pagi ini warung Soto Kartongali sangat ramai. Banyak rombongan pesepeda pagi, gowes, dengan keringatnya yg msh mengucur seperti berebut menyantap soto. Sedemikian ramainya sehingga usai makan soto dengan kecapnya yang khas, dengan tempe dan sepotong paha ayam goreng serta beberapa karak (semacam krupuk dari beras), lalu minum segelas teh nasgithel yang nikmat, aku pun segera membayar dan meninggalkan warung. Tidak sempat mat-matan karena harus gantian tempat duduk dengan lain.

"Om, penemu kerokan itu siapa, ya?" tanya Sasa mendekatiku sebelum masuk mobil.

"Memangnya kenapa, Sa? tanyaku balik.

"Kupikir-pikir penemu kerokan itu mesti masuk sorga nanti. Jariyahnya mengalir. Sudah berapa juta orang dari dulu sampai sekarang yang masuk angin lalu sehat bugar dengan kerokan. Hiya to, Om?"

Wah benar juga Sasa ini, pikirku. Selama ini orang tidak pernah terpikir soal itu. Tahunya cuma cara pengobatan warisan nenek-moyang, tidak sampai berpikir siapa penemunya, tidak pernah membayangkan bahwa kerokan itu menjadi amal jariyah penemunya.

Hebat bener Sasa. Ternyata dia bukan hanya juru parkir yang punya kepekaan politik, tapi juga kaya imajinasi dan religiusitas sekaligus.

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

ING-ATASE

ING-ATASE

Setiap kali mendengar kata/ungkapan bahasa Jawa ing-atase, aku selalu kesulitan menterjemahkannya ke Bahasa Indonesia untuk istriku yang bukan asli orang Jawa. Kata “ing” sama dengan “di”, tetapi kata “atase” bukan berasal dari kata dasar “atas” yang mendapat akhiran “e” lalu berarti “atasnya”. Sama sekali bukan. Begitulah, memang banyak sekali kata/ungkapan Bahasa Jawa yang tidak bisa dibahasa-Indonesiakan. Kalau pun bisa, tentu nilai rasa dan makna yang sesungguhnya belum terwakili.

Bahasa Indonesia hanya mengenal kata “jatuh” misalnya, untuk menyebut orang atau sesuatu yang semula dalam posisi di atas atau berdiri tiba-tiba karena suatu sebab memaksanya berposisi di bawah, di tanah atau lantai. Orang Jawa akan memilih diksi yang tepat untuk mengungkapkan peristiwa “jatuh” berdasarkan sebab-musabab dan posisi jatuhnya. Maka ada diksi nggeblak, njlungup, keplengkang, keblondrok, ngglundhung, jiglok atau rigol. 

Kata “duduk” dalam Bahasa Indonesia akan diungkapkan dengan diksi sesuai gaya atau posisi duduknya. Posisi duduk lesehan dengan dua kaki ditekuk di depan, telapak kaki kanan di bawah dengkul kiri dan sebaliknya, itu disebut sila (silo) Kalau kedua kaki ditekuk kebelakang di bawah pantat atau diduduki, itu namanya timpoh. Adalagi kata jegrang, ongkang-ongkang, mekongkong, methingkrang, methothok, ndlosor, dan ndheprok yang digunakan untuk gaya duduk yang berbeda lagi, Begitulah, diksi Bahasa Jawa sangat detil, bahkan mungkin paling detil di antara ribuan atau jutaan bahasa yang ada di dunia, terutama dalam penyebutan nama-nama benda, sifat, dan rasa,

Di antara ribuan kata/ungkapan/frasa Bahasa Jawa yang paling kusuka adalah istilah ing-atase. Frasa ini sudah jarang digunakan orang, tetapi temanku Sasa, si-juru parkir “idola dan maskot” warung Soto Kartongali Jolotundo itu, masih sering menggunakannya. Asal tahu saja, pekerjaan utama Sasa dari pagi sampai siang menjadi juru parkir. Di bidang ini dia mungkin bisa disebut Juara 1 Juru Parkir Nasional. Pekerjaan sampingannya adalah melayani panggilan sebagai juru pijat di sore hingga malam. Jangan tanya betapa enaknya pijatan Sasa dengan tangannya yang kekar itu. Yang jelas, banyak orang menjadi tuman dan memanggilnya lagi ketika badan terasa capek dan pegal-pegal. 

Kembali ke ing-atase, entah berapa puluh kali frasa ini diucapkan Sasa sambil memijatku selama 2 jam tadi malam. Sebagaimana juru pijat pada umumnya, Sasa pinter ngobrol dan bercerita sambil tangan dan jemarinya terus beraksi sejak telapak kaki hingga ubun-ubun, dari posisiku tengkurap hingga terlentang. Ketika kutanya kabar tentang keluarganya dengan satu-dua kalimat, dia menjawab dengan nggacor panjang-lebar tentang isterinya yang rajin beribadah, merawat rumah, pinter masak, dan ringan tangan membantu tetangga. Anak-anaknya juga rajin sekolah, bahkan yang sulung sudah bekerja di Jakarta setelah tamat dari SMK.

“Alhamdulillah, Om, ing-atase tukang parkir dan tukang pijet, tapi rumah tangga saya bisa seperti orang-orang pada umumnya. Bisa mbangun rumah, bisa nyekolahkan anak-anak, bisa ikut urun pembangunan kampung, jalan-jalan dan masjid, bisa ikut rewangan dan nyumbang bila ada kerabat punya hajat.” 

Ketika kutanya tentang pekerjaannya menjadi juru parkir, Sasa langsung nggacor tentang Soto Kartongali yang semakin ramai dikunjungi orang-orang kaya bermobil mewah dari luar kota sejak jam 7 pagi hingga jam 3 sore, tentang para pelayan yang sering kewalahan hingga tidak cepat membersihkan meja dan lantai kotor, tentang pemberian uang parkir yang sering berlebih dari para pengunjung, atau tentang pengunjung bersepeda motor yang lebih sering digratiskan parkirnya.

“Ing-atase Sasa tukang parkir lho, Om, tiap hari ada saja orang ngajak foto dengan hp-nya. Kalo cuma bapak-bapak nggak apa-apa, ora gumun. Lha akhir-akhir ini sering mbak-mbak dan ibu-ibu cantik yang ngajak foto. Nempel-nempel lagi. Malu banget aku,” ceritanya sambil tertawa.

“Malu apa bangga, Sa?” tanyaku.

“Malu tenan, Om. Rasanya semua orang yang lewat pada melihatku. Coba kalo istriku melihat, apa jadinya. Bisa geger to, Om.”

Yang paling menarik sekaligus mengharukan ketika Sasa kupancing tentang pilihan politiknya pas pilkada dulu, "Sasa sudah nengok beliau di tahanan apa belum?"

"Belum, Om. Wah kalo ingat itu jadi miris, kasihan sekaligus malu."

"Lha kok bisa?"

"Mungkin aku termasuk yang mblondrokke karena dulu ikut memilihnya ya, Om? Tapi ya dasar orang tamak, ing-atase Bupati kok mau-maunya nerima sogokan dari anak-buahnya yang pengin naik jabatan."

"Beliau kan butuh ngumpulkan amunisi sebanyak-banyaknya untuk biaya politik, Sa. Jaman sekarang ini biaya politik untuk jadi pejabat memang mahal harganya. Butuh modal bermilyar-milyar untuk bisa jadi anggota Dewan, Bupati, Gubernur, apalagi Presiden. Jadinya mereka suka disogok dan menikmati sogokan."

"Ya mungkin, Om. Lha ing-atase teman-teman dekat yang dulu kelihatan nyubyo-nyubyo, lha kok ya tega-teganya mempermalukan dan menghabisi karir politik beliau. Sebagai pemilih, jelas aku sangat malu, Om. Gela. Kecewa.”

Aku terdiam tidak berani merespon. Kunikmati saja pijatan finishing di kepalaku, sambil mencoba membayangkan entah ada berapa orang seperti Sasa ini. Pasti sangat langka. Hanya sedikit orang yang punya kesadaran hingga menyesali pilihan politiknya yang ternyata salah dan mengecewakan. 

Ah, Sasa, pijatanmu memang luarrr biasa. Makasih ya.....

GEBYAH UYAH

GEBYAH UYAH

Tumben pagi ini Sasa tidak tampak di pinggir japan menyambut kedatangan pengunjung Soto Kartongali, mengatur dan mengamankan setiap mobil dan motor yang mau masuk atau keluar parkiran di wilayah kerjanya. Biasanya setiap ada mobil atau motor yang ngasih tanda mau berhenti langsung disambutnya dengan sempritan dan bendera kecil merah-orange memberi arah ke mana mobil harus diparkir. Bila kebetulan parkirnya di seberang jalan, Sasa pasti membantu penumpangnya untuk nyeberang jalan dengan tetap menghormati kendaraan yang melaju lewat. Dia berani pasang badan untuk memberi rasa aman penyeberang yang dipandunya dan pemakai jalan sekaligus. Begitulah Sasa, dia bekerja dengan sepenuh hati, jiwa, dan raganya. 

Tapi entah ke mana Sasa pagi ini.L, aku nyeberang sendiri mencari celah di antara mobil dan motor yang melaju kencang di jalan provinsi Jatinom - Klaten. Aku pun langsung masuk warung mencari kursi kosong. Ternyata Sasa sedang menyapu lantai dan ngelap meja, pekerjaan yang biasanya dilakukan para pelayan. 

"Lha kok gak ngatur parkir, Sa?" 

"Maaf ya, Om. Ya gini ini, biasa. Barusan ada rombongan makan, meninggalkan kotoran di meja dan lantai. Mesakke kalo mbak-mbak yg harus nyapu juga," Sasa minta permaklumanku karena harus parkir dan nyeberang sendiri.

"Slow wae, Sa. Gak masalah," aku berusaha menghiburnya.

"Wah Om, aku sudah kapok tenan ikut-ikutan partai," kata Sasa sambil ngelap meja.

"Ada apa lagi, Sa?" tanyaku.

"Aku benar-benar tersinggung mendengar pidato politik kemarin. Nggebyah-uyah." 

"Nggebyah-uyah piye to, Sa?"

"Om, sebagai alumni SMP Muhammadiyah, aku betul-betul gak rela agamaku dianggap anti-demokrasi, tidak pro NKRI, tidak menghargai perbedaan. Kita sholat, puasa, zakat, naik haji, mbangun mesjid, dsb, dibilang seperti orang Arab. Edan, to?" Sasa masih terus nerocos numpahkan uneg-uneg seputar kekecewaannya pada tokoh parpol diikutinya selama ini. "Kalau tidak paham mbokya belajar dulu, ngaji pada ahlinya," sambungnya.

Aku sebenarnya paham siapa yang dimaksud Sasa, tapi gak mungkin hati sahabat yang sudah panas ini kusiram dengan bensin. Beruntung semangkok soto dan segelas teh nasgithel disajikan mbak-mbak pelayan di depanku. Masih panas kemutug siap disantap. Aku jadi punya alasan tidak nanggapi grenengan Sasa.

"Sik yho, Sa, aku sarapan dulu. Bicara politik gak ada habisnya."

"Monggo disekecake, Om. Saya mau bertugas lagi."

Sasa pun langsung beraksi kembali di pinggir jalan, dengan sempritan dan bendera kecilnya, dengan senyumnya yang lebar dan dengan liyak-liyuk tubuhnya yang lincah.
Hebatnya lagi, Sasa hanya mau nerima uang parkir dari pengunjung yang naik mobil, yang naik motor ditolaknya. Gratis. Ini hebat atau diskriminatif, ya? 

Begitulah Sasa teman sekolahku dulu, temanku bermain drumband di bawah asuhan Pak Mas'ud yang bersahaja di SMP Muhammadiyah 2 Jatinom, Klaten.

Rabu, 18 Januari 2017

JADI RAKYAT HARUS SABAR

JADI RAKYAT HARUS SABAR

Sasa, begitulah panggilan temanku yang sehari-harinya berprofesi sebagai juru parkir di warung soto "Kartongali" Jolotundo Jatinom. Nama aslinya Lasono. Entah kenapa dari dulu, sejak kami masih sama-sama sekolah di SMP Muhammadiyah Jatinom, dia sudah dipanggil Sasa. Mungkin ada hubungan historis dengan bumbu masak "Sasa" yang cukup terkenal tahun 70an-80an. Dulu, di masyarakat kami ada budaya memanggil anak-anak dengan nama 'paraban', panggilan yang bukan nama aslinya. Nama 'paraban' biasanya disesuaikan dengan karakter, kesukaan dan kebiasaan, atau bahkan bentuk badan si-anak yang unik. Mungkin dulu Lasono kecil sangat suka makanan yang diberi bumbu masak 'Sasa' sehingga dia dipanggil Sasa hingga hari ini. Mungkin.

Sejak belasan tahun yang lalu, aku sudah biasa bepergian nyetir mobil sendiri ke hampir semua kota di Jawa, bahkan hingga ke Palembang dan Bali. Jangan tanyakan sudah berapa ribu juru parkir kujumpai di setiap tempat aku berhenti. Mereka biasanya hanya mendekat saat kita mau keluar dari parkiran untuk narik ongkos parkir Rp 2.000 - Rp.3.000 dan kadang agak kurang sopan. Tak perlu juga kuceritakan tentang tarif parkir di kapal ferry, atau di bandara Jogja dan Cengkareng, atau di Senayan dan Kemayoran tempat kami biasa ikut pameran produk UKM. Aku hanya ingin bercerita tentang sahabatku Sasa si juru parkir fenomenal di warung soto Kartongali Jolotundo.

Sahabatku Sasa bekerja sejak pukul 6 pagi hingga tutup warung sekitar pukul 14 siang. Sangat profesional kerjanya. Dengan sepenuh hati dan totalitas raganya, dia mengatur setiap mobil dan motor yang hendak parkir dan keluar lagi ke jalan provinsi antara Klaten-Jatinom-Boyolali yang padat. Tak peduli gerimis, hujan, atau panas terik, dia selalu memandu pengendara memarkir kendaraannya hingga rapi dengan bengok-bengok, membungkuk-bungkuk dan menuding-nudingkan jarinya memberi arah ke mana setiran mesti kita arahkan hingga posisi ban mobil sudah benar-benar lurus. Beberapa balok kayu disediakannya untuk  mengganjal ban mobil yang parkir. Sempritan hitam selalu terkalung di lehernya, bendera kecil merah-kuning tergenggam di tangan kirinya. Ketika kendaraan mau keluar, dia sengaja menghalangi agar tidak bergerak dulu sebelum lalu-lintas benar-benar aman. Benar-benar prima pelayanannya. Service-exelent, begitu istilah kerennya. Maka banyak pengunjung warung yang senyum-senyum senang, kagum, salut, dan puas dengan pelayanan Sasa. Mereka pun tidak "eman-eman" memberi uang parkir lebih dari tarif biasa.

Ada yang membuat hatiku trenyuh setelah "gobyos" sarapan soto tadi pagi. Sasa tidak kunjung memberi aba2 agar aku segera meninggalkan parkiran. Dia justru mendekat lalu berkeluh-kesah. Curhat.

"Waduh, Om, salah lagi aku," katanya.

"Salah apa, Sa?" tanyaku.

"Salah pilih lagi," jawabnya.

"Maksudmu?"

"Salah pilih Pemilu, salah pilih Presiden, Gubernur, dan Bupati. 'Jangkep' sudah kesalahanku. Jinguuk...."

Tidak kusangka ternyata Sasa curhat soal politik, bukan sekadar basa-basi tanya hal-hal ringan sambil terus bekerja seperti biasa. 

"'Critane piye', Sa?"

"Om, jelek-jelek begini aku ini satgas parpol besar, lho."

"Iya tahu. Sasa tampak 'sangar banget' kalau lagi bertugas."

"Sudah 'kapok' aku, Om."

"'Kapok piye'?"

"Ya kapok. Gak mau lagi ikut-ikutan jadi satgas dan kumpul 'rhewo-rhewo."

"Paling juga cuma 'kapok lombok'. Sekarang bilang kapok, tapi besok diulang lagi, ikut lagi...."

"Tidak, Om. 'Wis wayahe' menyiapkan diri untuk 'husnul-khotimah'."

"Tenane, Sa? Bagus itu."

"Bener, Om. Aku merasa tidak ada manfaatnya 'nyurung' orang-orang jadi Dewan, jadi Presiden, jadi Gubernur, jadi Bupati."

"Kenapa, Sa?"

"Om, setelah partaiku menang Pemilu, Pilgub, dan Pilkada, kukira hidup kita akan jadi lebih baik. Kukira negara kita jadi lebih tertata. Kikira harga-harga kebutuhan jadi lebih murah. Kukira biaya sekolah jadi lebih murah. Kukira anakku yang  sudah lulus SMK jadi lebih gampang cari pekerjaan. Ternyata tidak. 'Mbelgedhes'. 'Taek kabeh'...."

Sasa tampak benar-benar kecewa. Matanya memerah, kosong pandangannya. Beberapa mobil dan motor yang merapat ke parkiran pun dibiarkannya. 

"Korupsi dan pungli semakin meraja-lela di mana-mana. Pejabat yang seharusnya menjaga dan melindungi kekayaan rakyat, ternyata banyak yang ketangkap KPK, termasuk Bupati kita yang baru 10 bulan menjabat dan sekarang mendekam di penjara. Parah, Om. Maling semua."

"Sabar, Sa, sabar....," kucoba menenangkan hatinya. "Semua orang juga prihatin. Bukan hanya Sasa. 'Akeh kancane'."

"'Nyesel tenan' aku, Om.”

Aku tidak berani ngomong apa-apa lagi. Takut kejebak. Sebenarnya ingin kunasehati Sasa supaya hati-hati kalau ngomong soal politik. Jangan sembarangan. Salah omong sedikit saja bisa jadi bulan-bulanan, dan bisa dianggap  menyebarkan ujaran kebencian.

“Jadi rakyat memang harus sabar ya, Om." 

"Iyalah, Sa. Kalau pun terpaksa 'misuh' ya gak apa-apa."

"Boleh 'misuh', Om?"

"Ya boleh, kalau memang merasa teraniaya. Slow wae, Sa..."

Kuinjak gas pelan-pelan dan kutinggalkan Sasa yang tampak lemas badannya. Entah ada berapa banyak rakyat yang gelisah seperti Sasa sahabatku ini. Sabar ya, Sa.....