Minggu, 30 Desember 2018

BELAJAR NGAJI

BELAJAR NGAJI

Langit masih gelap. Hujan rintik-rintik menyertai angin kencang yang datang - pergi sejak kemarin sore.  Biasanya sore-sore begini bisa kunikmati 'candhik ayu' bersama segelas kopi di taman sambil menunggu waktu maghrib. Tapi sore ini tidak. Kuisi waktu sambil iseng main game di laptop.

"Assalaamu'alaikum...."

Terdengar ada tamu mengucap salam di pintu depan. Kujawab salamnya sambil beranjak membuka pintu. Ya Allah....ternyata Sasa. Ada apa surup-surup dan hujan angin begini dia datang?

"Pangapunten, Om. Saya mau minta kopi...hehehe," kata Sasa sambil meringis dan menaruh jas hujan di ayunan.

Aku langsung ke dapur membuatkan kopi kental untuk sahabat yang satu ini. Mungkin dia mampir pulang dari mijat pelanggannya. Atau bisa juga undangan pijatnya baru nanti bakda maghrib, tapi Sasa sengaja berangkat sore karena pengin mampir ngopi dulu di rumahku. Apapun alasannya, kedatangan sahabatku ini selalu kusambut dengan  hati dan tangan terbuka.

Karena udara memang dingin, kopi yang baru kusuguhkan pun langsung diseruputnya. Rokok yang kusodorkan juga langsung diterimanya tanpa basa-basi, diambilnya sebatang, disulut dihisapnya dengan mantap.

"Ada janjian mijat bakda maghrib ya, Sa?"

"Tidak, Om. Aku memang sengaja ke sini mau minta tolong."

"Ada apa?"

"Tolong ajari aku baca Al-Quran, Om."

"Loh kan sudah bisa?"

"Tahu sendirilah, Om. Bacaanku jelek, tidak fasih. Kata istriku, laguku juga jelek banget seperti orang uro-uro...."

"Sa, kalau soal lagu dan soal cengkok, itu sudah gawan bayi. Lahir dan hidup kita kan  memang di pedesaan Jawa. Tentu saja sulit di usia yang sudah tidak muda ini kalau harus belajar ngaji dengan cengkok Arab."

"Bukan soal lagu itu yang penting, Om. Intinya, aku ingin bisa ngaji yang fasih seperti Sampeyan. Tolong aku diajari."

"Mimpi apa kamu tadi malam kok tiba-tiba ingin belajar ngaji fasih? Mau ikut lomba murotal manula?"

"Mbok jangan ngece to, Om. Aku ini serius. Aku perlu berjaga-jaga kalau nanti nemui 'rejaning jaman' dan bisa ikut bursa sebagai Calon Bupati."

"Halah Sa....apa hubungannya ikut bursa Calon Bupati dengan ngaji fasih?"

"Om Om...Sampeyan ini ketinggalan berita. Akhir-akhir ini kan para politisi sedang ribut soal perlunya tes baca Al-Quran bagi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Lha kalau tes itu nanti betul-betul diadakan, syarat Calon Presiden dan Wakilnya harus bisa ngaji fasih, tentunya syarat itu nanti juga akan berlaku bagi Calon Gubernur, Calon Bupati, Calon Ketua RW/RT? Makanya aku perlu siap-siap dari sekarang biar nantinya tidak dipermalukan oleh lawan politik."

"Itu kan cuma trik kampanye  Timses Capres-Cawapres to, Sa? Jangan dianggap seriuslah."

"Weeh...mereka itu para politisi ulung lho, Om. Mereka pasti serius mempersiapkan calon pemimpin bangsa yang besar ini. Tentu tidak asal 'njeplak', Om."

"Benar, Sa, kita memang mau memilih calon pemimpin negara, negara yang besar dengan penduduk multi-etnis, multi-budaya, multi-agama. Kita bukan mau memilih calon yuri MTQ, calon Menteri Agama atau calon Kepala Sekolah dan Rektor Universitas Muhammadiyah, misalnya. Bukan, Sa. Jadi, menurutku omongan para politisi itu hanya 'guyon', sekedar untuk menteror mental lawan politik. Membaca politik mbok jangan terlalu serius, Sa."

"Lha iya ya, Om. Benar kata Sampeyan. Mosok calon Presiden harus dites ngaji? Kan yang penting dites kemampuan dan tanggungjawabnya memimpin negara, kecerdasannya mengatasi masalah bangsa-negara, keberaniannya menghalau setiap gangguan keamanan dan kemerdekaan bangsa. Jindul tenan, kok. Tiwas aku serius mau belajar ngaji fasih."

"Loh kalau soal Sasa ingin bisa ngaji fasih, aku siap membantu kapan saja. Ayo kapan mau kita mulai? Kita buat jadwal dulu, Sa."

Azan maghrib mulai terdengar dari masjid tetangga desa. Dengan gaya 'klecam-klecem', Sasa bilang mau mikir-mikir dulu dan belum bisa membuat jadwal sekarang. Katanya, kalau jadi belajar ngaji fasih bukan lagi untuk politik-politikan, tapi untuk jaga-jaga biar tidak grogi bila sewaktu-waktu diminta jadi imam sholat maghrib,  isya' dan shubuh.

Ah Sasa ini benar-benar tukang parkir gemblung.....









Jumat, 28 Desember 2018

JUMAT PAHING

JUMAT PAHING

Ini hari Jumat Pahing. Sudah lama aku ingin sesekali mendengarkan khotbah Sasa, tapi belum pernah ada kesempatan. Mumpung hari ini pas jadwal Sasa dan kebetulan waktuku agak longgar, maka sejak pagi kuniatkan jumatan di mesjid kampung Sasa.

Azan sudah berkumandang ketika aku datang. Jamaah pun sudah penuh hingga meluber ke teras depan dan samping kiri-kanan. Sayang sekali, aku cuma dapat tempat di pojok teras depan dan tidak memungkinkan menyaksikan gaya khotbah sahabatku Sasa. Tapi malah kebetulan, pikirku, kalau Sasa melihatku bisa-bisa jadi grogi dia.

Kusimak khotbah Sasa dari awal hingga akhir. Lumayan. Semua rukun khotbah terpenuhi, tak ada yang ketinggalan. Meski tidak seberapa fasih ketika mengutip dan membacakan ayat Al-Quran, tapi aku salut dengan pilihan temanya. Dia mengangkat tema kontekstual yang jarang disampaikan khotib-khotib kampung, tema yang agak nyrempet-nyrempet politik terkini, tentang menghadapi Pemilu, tentang memilih pemimpin negara dan wakil rakyat. "Hebat Sasa. Aku saja gak berani nyampaikan tema ini," kataku dalam hati.

Kulihat jamaah cukup antausias mendengarkan khotbah. Tidak ada yang ngantuk, bahkan beberapa tampak mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan khotib.

"Jamaah yang dirahmati Allah, saya tidak ada tendensi mengajak jamaah memilih siapa pada Pemilu nanti," kata Sasa pada khotbah kedua, "Sebagai khotib, saya hanya mengingatkan terutama pada diri saya sendiri, bahwa mengikuti Pemilu adalah sebagian dari ibadah," lanjutnya. "Oleh karena itu, mari kita ikuti Pemilu dengan niat dan cara-cara yang diridhoi Allah SWT. Kita memilih pemimpin sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW, bukan berdasarkan 'nyang-nyangan', bukan berdasarkan 'sogokan' amplop seratus-dua ratus ribu, dan sebagainya. Semoga Allah SWT meridhoi segenap bangsa Indonesia. Aamiin," Sasa mengakhiri khotbahnya.

Usai khotbah, Sasa menjadi imam sholat. Meski yang dibaca  hanya surat-surat pendek dari juzz 'Amma, tapi itu tidak mengurangi syarat-rukun sholat Jumat. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hanya aku sendiri yang memang tidak khusyuk karena pikiranku justru melayang-layang seputar Sasa, masa lalu dan perubahan hidupnya.

Ah Sasa...bener-bener gile lu....

Jumat, 21 Desember 2018

UMUK

UMUK

Siang yang terik. Azan dhuhur terdengar bersahutan dari speaker masjid di seantero kampung. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, berganti baju, memakai sarung dan kopiah, bersiap ke masjid untuk shalat berjamaah. Ketika kulangkahkan kaki keluar pintu, tiba-tiba terdengar salam dari suara yang sudah akrab di telingaku. Suara Sasa. Dia sudah duduk di kursi ruang tamu di teras rumahku.

"Lho Sa, sudah lama di sini?,"

"Baru saja kok, Om. Lima menit," jawab Sasa. Rupanya dia datang ketika aku sedang di belakang.

"Ayo ke mesjid dulu. Ngobrolnya nanti saja."

"Siap, Om," Sasa pun langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu.

"Bawa hp gak, Om?" tanya Sasa sambil mengusap wajahnya yang basah.

"Ya enggaklah, Sa. Buat apa bawa hp ke mesjid?"

"Buat moto aku, Om...hehehe."

"Kita mau shalat, bukan mau foto-foto, Sa."

"Aku pengin punya foto pas lagi shalat bareng Njenengan, Om."

"Halah...buat apa? Mau buat nakut-nakuti malaikat Rakib-'Atid, po?"

"Bukan, Om. Sekedar untuk jaga-jaga."

"Jaga-jaga apa?" tanyaku.

Sasa pun bercerita masih banyak temannya belum percaya bahwa Sasa sekarang sudah beda dengan Sasa yang dulu. Dikiranya Sasa masih bisa diajak mendem dan ugal-ugalan bersama genk rewo-rewonya. Dikiranya Sasa masih cuek gak peduli pada tetangga dan kerabat. Dikiranya Sasa masih sering ndablek tidak peduli pada anak-istrinya. Dan sebagainya.

"Pengin kutunjukkan bukti bahwa Sasa yang sekarang sudah rajin sholat di.mesjid dan berteman dengan orang-orang shalih, Om."

Aku jadi teringat satu istilah dalam marketing: re-branding. Rupanya Sasa ingin mengubah citra dan imej yang sudah lama melekat pada dirinya sebagai 'wong ora enak dipangan". Dia ingin mengganti imej sebagai Sasa si juru parkir dan juru pijat yang shalih dan budiman.'

"Tapi shalat itu urusannya dengan Gusti Allah, Sa. Gak perlu dipamer-pamerkan, lho."

"Iya tahu. Tapi di jaman sekarang, kadang-kadang shalat juga perlu dipamerkan, Om."

"Apa perlunya?"

"Buat tauladan, Om. Inspirasi bagi teman-teman yang belum mau sholat. Dan yang lebih penting lagi,  biar orang tidak terus-teeusan salah paham dan shu'udhon pada kita."

Meski sebenarnya aku kurang sreg dengan jawaban itu, tapi permintaan Sasa kali ini sulit kutolak. Kalau itu bisa membahagiakannya, biarlah kuturuti saja.

"Om, kalau Njenengan setuju, saya nanti yang jadi imam dan Njenengan jadi makmum, ya."

"Beres, Sa. Ini kan sholat dhuhur, gak perlu bacaan keras."

"Ya itu juga maksudku, Om. Kalau imam sholat maghrib-isya' jelas aku gak berani....kkkkk."

Sebelum muazin mengumandangkan iqamah, aku minta tolong istriku untuk pegang hpku dan nanti memfoto kami dulu dari berbagai sisi. Istriku pun setuju.

Iqamah pun berkumandang. Kami bergegas berjajar rapi membentuk saff. Sebagai tamu, Sasa kuberi kehormatan menjadi imam. Terdengar mantap Sasa mengimami sekitar 15 orang bapak-bapak dan ibu-ibu. Aku pun mencoba khusyuk, tapi benar-benar sulit karena terganggu suara jeprat-jepret kamera dan pikiran bahwa foto ini nanti mau dipakai Sasa untuk umuk. 

Astaghfirullahal'dziim....
Sasa Sasa. Kali ini kamu benar-benar bikin aku amat sangat pekewuh sama Gusti Allah.





Sabtu, 15 Desember 2018

KARDUS

KARDUS

"Kalau mau lebih murah, mbokya pakai 'kroso' atau 'besek' saja ya, Om? Kenapa harus pakai kardus?"

Itu pertanyaan Sasa tadi malam usai kami menyimak obrolan di TV tentang pilihan KPU menggunakan kotak suara berbahan kardus.

"Maksudmu, Sa?"

"Katanya Pemilu dan Pilpres ini pesta demokrasi. Negara punya hajat, mengajak  rakyat bergembira-ria memilih wakil rakyat dan presiden yang akan memimpin negara, yang akan mengurusi semua kepentingan rakyat."

"Terus...."

"Mestinya Pemerintah ngajak rakyat gugur-gunung rewangan, gotong royong, kerja bakti  melaksanakan Pemilu dan Pilpres agar murah biayanya."

"Caranya, Sa'

"Sampeyan tentu masih ingat, Om. Dulu hingga tahun 1970an, kita biasa ikut orang tua dan rewang di rumah tetangga atau kerabat yang punya hajat. Ibu-ibu dan para pemudi memasak aneka masakan di dapur. Kaum laki-laki menata meja-kursi tamu, tarub atau menghias ruangan dan dekorasi panggung, membuat kembar-mayang jari janur, membangun kerun atau gapura dari bambu dihiasi dedaunan dan tandan pisang raja. Sebagian bapak-bapak ada yang sibuk menganyam daun kelapa menjadi 'kroso' yang akan dipakai sebagai wadah aneka makanan 'angsul-angsul' bagi para tamu. Ingat, kan?"

"Iya ingatlah, Sa. Itu kan masa kecil kita."

"Tahun 1980an hingga 1990an, bungkus angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'kroso', tetapi diganti dengan 'besek', kotak terbuat dari anyaman bambu buatan para perajin bambu dan bisa dibeli di pasar-pasar."

"Iya bener. Isinya macam-macam. Ada nasi, sayuran, lauk-pauk, dan panganan."

"Nah, sejak awal tahun 2000an, budaya hajatan berbeda jauh. Angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'besek' , tetapi diganti dengan kardus dan isinya hanya satu macam kue. Kardus buatan pabrik lebih murah dan tampilannya keren."

"Iya bener, Sa. Malah oang-orang kaya jaman sekarang tidak lagi melibatkan banyak orang untuk rewangan. Cukup panggil wadding-organizer yang  profesional, beres semua."

"Lha iya, Om. Mbok sudah, kalau memang mau irit, Pemilu nanti kembali ke jaman dulu saja, pakai "kroso" atau "besek" untuk bungkus kertas suara....kkkkk."

"Iyaak...mbok jangan ngoyo-woro to, Sa. Kertas suara kok dibungkus 'kroso'. Apa kata dunia?"

"Pengiritan, Om. Pengiritan...."

"Ya gak bisa begitu, Sa. KPU kan harus bisa menjamin penyelenggaraan Pemilu nanti berlangsung aman, jujur, dan adil bagi semua pihak. Jangan disamakan dengan urusan orang punya hajatan."

"Podho waelah, Om. Sama saja."

"Lha kok sama?"

"Walaah Sampeyan ini, lho. Ini kan sama-sama urusan perut. Urusan makan."

"Urusan negara kok urusan makan. Jangan sinislah, Sa...."

"Bukan sinis, Om. Ini kasunyatan."

"Kasunyatan piye?"

"Om, namanya juga pesta. Pestanya orang-orang yang berebut kekuasaan, yang ingin menguasai negara dengan segala kekayaannya. Ujung-ujungnya ya hanya nafsu memenuhi isi perut dan naluri syahwatnya sendiri."

Waktu menunjukkan tepat pukul 23.00 WIB, saatnya kami kembali nyetel TV nonton duel seru Liga Inggris. Ngobrol politik dengan Sasa cuma bikin kepala ngelu, pusing. Mending nonton bola....

Senin, 10 Desember 2018

NONTON FESYEN SHOW

NONTON FESYEN SHOW

Sasa belum pernah membayangkan bahwa suatu saat bisa menyaksikan pementasan gadis-gadis cantik berjalan lenggak-lenggok di atas panggung mengenakan baju bagus-bagus diiringi dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu. Puluhan juru potret dan tepuk tangan ratusan penonton serta penyerahan  untaian kembang (buket) kepada para desainer semakin mambuat Sasa berdecak kagum. Sepanjang acara cuma senyam-senyum, mungkin gumun melihat gadis-gadis cantik berpostur semampai itu. Maklum saja, selama ini dunia Sasa hanya sekitar area parkir warung soto Kartongali dan sore-malam harinya melayani panggilan pijat di desa-desa sekitar. Tadi ketika kujemput di rumahnya pun tidak kukasih tahu mau kemana, tahunya cuma kuajak jalan-jalan ke kota Klaten.

"Matur nuwun banget ya, Om," kata Sasa sambil mengikutiku berjalan keluar dari Joglo Monumen Juang 45 Klaten. Di tempat inilah IWAPI KLATEN menggelar rangkaian acara sehari IWAPI SHOW yang dipuncaki dengan Gelar Karya 15 Desainer Klaten 2018.

"Seneng to melu aku? Bisa lihat peragawati cantik-cantik....hehehe"

"Wah luar biasa, Om. Gak nyangka di Klaten ada acara sebagus ini. Seumur-umur belum pernah kulihat."

Aku paham maksud Sasa. Hidup di desa memang jarang ada tontonan. Paling nonton pergelaran wayang kulit di Umbul Gedaren tiap bulan Suro,  atau nonton tong setan di pasar malam Yaqawiyyu di Jatinom tiap bulan Sapar. Sesekali ada juga orang kaya punya hajatan dan nanggap Campursari dengan penyanyi-penyanyi yang kemayu dan --istilah Sasa-- 'cemiwel'. Tapi itu jarang banget.

"Kita duduk-duduk dulu di sini ya, Sa," kataku setelah melihat pintu keluar monumen masih penuh sesak orang mau pulang. Sasa mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari sakunya. Kami pun 'udut-udut' dulu sambil memperhatikan wajah orang-orang yang tampak puas usai nonton Fesyen Show yang belum pernah terjadi di kota Klaten.

"Klaten ternyata punya banyak desainer busana bagus-bagus ya, Om."

"Iya ya, Sa. Aku juga baru tahu malam ini. Koleksi karyanya juga variatif tentunya," kataku sambil menjelaskan ke Sasa sebagian desainer yang sudah kukenal. Mereka punya ciri khas masing-masing. Ada yang spesialis bahan tenun lurik, spesialis batik, spesialis baju pengantin, hingga spesialis busana muslim dan mukena travelling.

"Tapi kenapa ya, Om, sentra-sentra konveksi kita yang dulu merajai Pasar Klewer Solo bisa bubar? Padahal ada banyak desainer bagus, lho."

"Ya karena jamannya berkembang terus, Sa. Kalau pelaku usaha tidak mau mengikuti perkembangan, masih asyik dengan dirinya sendiri, bahkan tidak mau rukun dan justru bersaing secara tidak sehat dengan teman-temannya, tentu akan habis tergilas jaman."

"Nuwun sewu, Pak. Ini benar Pak Sasa dari Jolotundo?," tiba-tiba ada laki-laki seumuran kami minta ijin duduk di sebelah Sasa dan memperkenalkan diri namanya Pak Sarno.

"Iya benar. Monggo, Monggo...," jawab Sasa sambil bergesar duduknya.

"Mohon maaf, Pak Sasa, mumpung ketemu di sini, njih. Begini, dua minggu lagi saya mau mantu, menikahkan putri sulung kami. Semua persiapan sudah kami lakukan," lanjutnya.

"Ooh....Pak Sarno mau mantu,  to?" tanya Sasa.

"Iya, Pak Sasa. Benar. Urusan undangan sudah beres semua. Sewa gedung, rias manten, katering, dan hiburan campursari juga sudah kami booking. Tinggal satu lagi masalah yang belum  teratasi."

"Apa itu?"

"Ini kan sudah mulai musim penghujan. Kami jadi khawatir pas acara nanti sepi tidak ada tamu karena hujan turun seharian."

"Terus kersane Pak Sarno?" tanya Sasa.

"Saya minta tolong  Pak Sasa supaya pas hari acara kami nanti tidak turun hujan.'

Mendengar permintaan Pak Sarno itu, Sasa tampak mesam-mesem sambil senyum-senyum melirikku. Aku pun ngampet tertawa. "Modyar kowe, Sa. Dikira pawang hujan.....," batinku.

Tapi aku heran, ternyata Sasa tenang-tenang saja dan tetap cool menghadapi permintaan  yang menurutku lucu itu. Di jaman sekarang kok masih ada orang berpikir menolak hujan demi kelancaran acara hajatan. Padahal pas belum ada hujan kemarin, banyak ormas yang bikin program aksi sosial 'dropping air', mengirim air bersih ke desa-desa di lereng gunung Merapi yang kering dan tandus. Lha kok ini ada orang malah pengin nolak hujan, menolak rejeki yang ditunggu-tunggu banyak orang di daerah atas.

"Pak Sarno percaya sama saya?" tanya Sasa.

"Percaya, Pak Sasa."

"Mau ngikuti syaratnya?"

"Siap, Pak Sasa. Apa syaratnya?"

"Begini, mulai besok pagi sampai hari H nanti, sekitar jam 8, Pak Sarno sholat dhuha 4 rakaat. Sanggup apa tidak?"

"Njih, Pak Sasa. Siap...."

"Setelah itu berdoalah kepada Gusti Allah, mohon agar acara nanti dilancarkan."

"Terus, ada syarat yang lebih khusus gak, Pak Sasa?"

"Maksud Pan Sarno?"

"Misalnya harus nyembelih ayam jago hitam mulus, atau 'poso ngebleng' lima hari lalu mandi air kembang kamboja, kanthil, dan sebagainya?"

"Tidak usah, Pak Sarno. Tidak perlu pakai 'poso ngebleng'. Tidak perlu mandi air kembang  Tapi kalau nyembelih ayam jago, itu wajib sehari sebelumnya. Tidak harus yang hitam mulus lho, ya. Yang blorok atau putih pun boleh. Jangan lupa, ayam jago itu harus dimasak opor yang enak."

"Njih, Pak Sasa. Siap."

"Nah, besok pas hari H pagi sekitar jam 8, saya akan datang menemani Pak Sarno berdoa sambil sarapan opor ayam jago itu."

"Wah, injih, Pak Sasa. Siap. Matur nuwun sanget. Akan saya laksanakan semuanya," kata Pak Sarno sambil menjabat tangan Sasa erat-erat pamitan dan menyelipkan sebungkus rokok di saku Sasa.

"Edan Sasa ini. Pinter melihat peluang ekonomi," kataku dalam hati.

Area monumen sudah sepi, dan kami pun pulang. Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku sendiri jadi bertanya-tanya, jangan-jangan Sasa juga dikenal sebagai 'wong tua', semacam dukun, paranormal, dan pawang hujan. Ah Sasa ini cen jinguk tenan kok.....

Jumat, 07 Desember 2018

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

"Om, kenapa orang sekarang mudah tersinggung?" tanya Sasa sambil bergaya membantuku nyebrang jalan yang padat di depan warung soto Kartongali tadi pagi.

"Siapa, Sa? Mudah tersinggung bagaimana?," tanyaku sambil berjalan menuju amben depan warung. Tumben kali ini Sasa pun ikut duduk, bukan langsung kembali bekerja.

"Orang mendengar istilah Hizbullah dan Hizbusysyaithan saja kok jadi gempar, tersinggung, mau lapor ke polisi. Apa gak pernah baca buku sejarah ya, Om?"

Aku paham ke mana arah bicara Sasa. Ini agak sensiti, tapi sengaja kubiarkan dia menumpahkan kegelisahannya. Sasa butuh ember penampung limbah, pikirku.

"Sa, orang politik kan memang suka bikin sensasi, bila perlu bikin ontran-ontran biar terkenal sehingga meningkat elektabilitasnya. Rasah gumun, Sa. Rasah digagas."

"Jasmerah, Om. Jasmerah. Jangan melupakan sejarah..."

"Gayamu, Sa. Sejarah yang mana?" Kupancing Sasa supaya 'ndleming'.  Seorang pelayan  menyajikan semangkok soto dan segelas teh nasgithel, langsung kusantap.

"Lah...mosok lupa, Om? Sejak masa revolusi dan perang kemerdekaan dulu, ketika TNI masih ringkih dan belum kuat menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah kita, umat Islam membentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah. Ingat, kan?"

"Iya. Terus..."

"Dengan senjata seadanya, dengan wirid dan asma' dari para Kyai, dengan bekal logistik yang digalang oleh ibu-ibu desa, pasukan Hizbullah-Sabilillah dengan gagah berani terjun berperang membantu TNI mengusir penjajah yang hendak kembali mencengkeram negeri kita."

"Terus apa hubungannya dengan orang sekarang yang gampang tersinggung?"

"Lha iya. Istilah hizbullah itu kan sudah ada sejak dulu, diambil dari Al-Quran. Lawannya hizbusysyaithan, pasukan setan,  rombongan penjajah. Lha kok baru sekarang pada tersinggung, Om?"

"Jamannya kan sudah beda, Sa."

"Beda apanya?"

"Loh, dulu kan jelas yang kita lawan Londo dan sekutunya. Kita usir mereka karena kita ingin merdeka sebagai bangsa dan negara. Sekarang kita sudah 73 tahun merdeka. Tidak ada lagi penjajah, tidak ada lagi pasukan setan."

"Podho wae, Om. Sama saja."

"Kok podho?"

"Om, sejak jaman Nabi Adam hingga kiamat nanti, tantangan manusia masih sama, yaitu melawan godaan setan. Iblis mbahnya para setan menggoda manusia, mengajak manusia nuruti hawa nafsunya. Qabil anak Adam dulu tega membunuh adiknya, si Habil, karena manut bujukan setan. Dia ingin mendapatkan istri yang lebih cantik dan menguasai harta sebanyak-banyaknya.
Nah, mungkin karena keturunan Qabil jauh lebih banyak, mayoritas dan dominan, maka Tuhan perlu menurunkan para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi, agar selamat di akhirat nanti."

Edan. Ketempelan jin dari mana orang ini sehingga punya referensi sejarah awal kejahatan manusia? Kok mendadak bisa sepinter itu analisisnya? Ah, pasti bukan dari nonton TV yang penuh iklan dan informasi hoax. Tapi mosok ada malaikat yang langsung menginstal ilmu itu ke memori otaknya? Edan tenan Sasa.

"Sa, lha kok dadi adoh temen omonganmu? Kadohan itu. Terlalu jauh...."

"Tidak, Om. Ini kan tantangan abadi manusia. Sejarah peradaban yang tetap kontekstual, namun sering kita lupakan."

Jinguk tenan Sasa. Dari mana dia dapat istilah itu?

"Wolak-waliking jaman, Om. Di tahun politik ini apapun bisa jadi urusan politik, semua dibaca dengan kacamata politik."

"Makanya hati-hati kalau ngomong, Sa. Harus 'empan papan', lihat-lihat dulu tempat, waktu, dan lawan bicara."

"Iya, Om. Jaman.sekarang memang serba repot. Orang ngomong baik dan bener pun bisa dijadikan musuh bersama.

"Maksudmu?"

"Jaman serba politik, Om. Dunia saat ini seakan hanya milik para pilitisi, milik orang-orang yang sedang berebut kekuasaan dan kekayaan. Yang bener disalah-salahkan, yang salah dibela mati-matian."

"Wislah, Sa.  Pagi-pagi ngomong politik jadi mules perutku. Aku pulang dulu ya....."

Kutinggalkan Sasa setelah kuselipkan uang dengan paksa ke kantongnya. Kali ini Sasa hanya pringas-pringis tidak bisa menolak.

Dah Sasa......

#serialsasa

Senin, 03 Desember 2018

LINGSEM

LINGSEM

Sebenarnya belum seberapa kangen makan soto Kartongali, dan ndelalah juga di rumah masih ada lodeh terong dan rempeyek teri sisa menu karyawan kemarin, menu favoritku. Tapi karena sejak tadi malam sudah kepikiran Sasa yang kemarin ikut Reuni 212 di Monas, maka pagi ini aku tetap ke Kartongali untuk mangayugabyo kepulangannya, dan tentu saja sekalian sarapan soto yang sedapnya selalu terngiang di lidah.

"Wah luar biasa, Om. Mrinding aku. Tak henti-hentinya air mataku menetes begitu melihat jutaan manusia mengalir bagai air bah dari berbagai arah dengan wajah dan senyum ramah menuju satu titik, Silang Monas," kata Sasa mengisahkan kesannya.

"Terharu ya, Sa?"

"Terharu sekaligus bangga, Om."

"Kok bangga?"

"Bersyukur, Om. Ing atase Sasa lho, cuma wong ndeso yang dulu sempat hidup tidak karuan, 'ora enak dipangan' kata orang-orang, tidak dihargai, lha kok diparingi hidayah dan bisa ambil bagian lagi dalam peristiwa besar umat Islam Indonesia."

Sambil menyantap soto, kudengarkan Sasa berapi-api menceritakan kesan perjalannya sejak keberangkatan bersama rombongan 12 bus dari Klaten, tentang shubuhan di Monas bersama jutaan jamaah dengan doa qunut panjang sekali, tentang banyaknya orang membagikan makanan-minuman aneka rupa buat sarapan jamaah, tentang para tokoh yang bergantian menyampaikan orasi, dan  tentang jamaah yang seusai acara seperti berlomba memunguti sampah di Monas dan sepanjang jalan yang dilalui.

"Subhanallah, Om, nyenengke tenan. Jutaan orang berkumpul dengan tertib, khusyuk, ramah, dan sopan untuk menyatukan tekad menjaga kedaulatan bangsa dan negara...."

"Dibanding yang dulu lebih banyak yang mana, Sa?"

"Ya jelas lebih banyak yang kemarin, Om. Dulu kan banyak yang gagal berangkat karena perusahaan-perusahaan bus  tidak berani ngangkut jamaah karena takut dicabut ijinnya. Yang kemarin beda, Om. Sepanjang jalan sejak berangkat hingga pulang kita aman lancar tanpa gangguan."

"Sa, pas acara kemarin itu,  dua Capres kita hadir semua gak?

"Lha itu, Om. Sayang sekali yang hadir cuma satu. Misal dua-duanya hadir pasti lebih gayeng."

"Apa karena yang satunya memang tidak diundang ya, Sa?"

"Aku juga tidak tahu persis, Om. Kemarin aku juga mbatin kenapa yang satu tidak hadir? Jadi kasihan aku."

"Lha kok kasihan?"

"Begini lho, Om. Ibarat di satu desa ada orang lagi punya hajatan, semacam walimah. Yang punya hajat pun  mengedarkan banyak undangan sehingga banyak orang hadir ikut bergembira dan mendoakan. Tapi ada satu yang tidak hadir di sana, yaitu tetangga terdekatnya yang kaya raya dan rumahnya magrong-magrong."

Aku belum menangkap ke mana arah omongan Sasa. Katanya  Reuni 212  sebagai media konsolidasi umat Islam untuk menjaga kedaulatan bangsa, kok ibaratnya walimahan?

"Ada dua kemungkinan, Om. Pertama, mungkin memang tidak diundang entah sebab apa sehingga beliau 'nglungani', sengaja pergi dari rumahnya. Kedua, mungkin sebenarnya juga diundang, tapi gengsi untuk hadir karena yang ngundang cuma wong cilik dan miskin. Beliau merasa tidak penting untuk hadir."

"Terus, Sa...."

"Masih ada kemungkinan ketiga, Om. Lingsem."

"Apa itu lingsem?"

"Mau hadir malu, gengsi. Makanya mending gak usah hadir demi 'njaga praja', menjaga harga diri dan kewibawaan."

"Wah pikiranmu kadohan, Sa. Kejauhan. Mosok lingsem..."

" Namanya juga penonton, Om. Bebas berpendapat, bebas berkomentar, seperti komentator sepakbola....hahaaa."

"Ya sudah, Sa. Yang penting kamu sudah selamat sampai di rumah, sehat, dan bisa kerja lagi."

"Iya, Om. Alhamdulillah. Pangestunipun...."

Sasa pun langsung kembali asyik mengatur parkir pengunjung warung yang mulai ramai. Gayanya yang ramah tapi tampak sangar, liak-liuk tubuh dan bengok-bengok suaranya yang kadang terdengar nganyelke, tangan kanan pegang bendera kecil dan tangan kiri nenteng kayu ganjal roda, dan sapaannya yang ramah pada semua tamu.
Ah Sasa, orang tidak akan nyangka bahwa di balik penampilan dan pekerjaan yang dipandang remeh itu, dia punya ghirah yang bagus untuk kabaikan bangsa dan negaranya.
Dan, aku jelas kalah dalam hal itu.....