"Kahanan yang mana? Adhem-ayem begini, kok."
Cerita tentang Sasa, juru parkir warung soto Kartongali Jolotundo, Jatinom, Klaten, yang bekerja secara profesional, yang kritis mencermati setiap fenomena sosial-budaya-ekonomi-politik dengan caranya yang khas wong cilik, dengan kaca matanya yang tajam dan menggelitik
Senin, 25 Februari 2019
RESI DORNA
"Kahanan yang mana? Adhem-ayem begini, kok."
Jumat, 22 Februari 2019
AMPLOP
AMPLOP
Hujan masih cukup deras ketika aku sampai di rumah tadi sore. Perjalanan Jogja-Klaten kali ini terasa melelahkan. Jalanan padat merayap, ditambah air meluap di beberapa titik menyebabkan banyak kendaraan macet. Pada kondisi seperti ini hanya satu keinginanku: segera sampai di rumah dan langsung ngglethak tidur barang sebentar.
Tapi keinginanku untuk istirahat ternyata harus batal demi hukum. Kulihat Sasa sahabatku sudah duduk tercogok di kursi depan bersama gelas kopi yang tinggal ampasnya. Rupanya sudah lama dia di sana. Katanya karena hujan deras, dia jadi kepater harus nunggu reda meski aku gak ada.
Setelah menyapa istriku dan order kopi, aku pun kembali ke depan nemani Sasa. Rasa kantuk dan capek pun kutahan serapi-rapinya.
"Piye kabamu, Sa?"
"Ya begini ini, Om. Sehat, alhamdulillah."
"Keluarga juga sehat semua?"
"Pangestunipun, Om. Semua sehat."
"Monggo ngopi lagi, Mas Sasa.. Nemani ayah " kata istriku sambil menaruh nampan dengan dua gelas kopi di atasnya.
"Waduh aku jadi ngrepoti ya, Mbak," jawab Sasa terkesan basa-basi.
"Ya enggaklah, Mas. Cuma kopi kok. Monggo diunjuk mumpung masih panas." Istriku kembali masuk rumah. Kami pun langsung menuangkan kopi ke lepek masing-masing, menunggu beberapa saat, lalu meminumnya dengan sepenuh kenikmatan.
"Wah edan tenan kok, Om," kata Sasa sambil meletakkan lepeknya. "Pemilu kali ini tampaknya masih sama dengan yang dulu. Hasilnya nanti juga tidak akan lebih baik."
"Kok bisa punya kesimpulan begitu?"
Sasa pun bercerita bahwa kemarin didatangi temannya yang Timses caleg dan minta supaya Sasa bersedia jadi Korlap di desanya. Tugas Korlap mendata calon pemilih yang sudah positif mau memilih nama caleg itu. Data berisi nama dan fotocopy KTP harus diserahkan ke Timses paling lambat akhir bulan ini. Selanjutnya, Timses akan memverifikasi data untuk memastikan kejujuran Korlap. Bila data sudah dianggap valid, maka selanjutnya Sasa harus mengamankan potensi suara itu dan mengawal mereka ke TPS di hari-H Pemilu nanti. Sebelum hari-H, setiap calon pemilih akan diberi amlop berisi uang lima puluh ribuan.
"Duit untuk operasional Korlap lumayan lho, Om."
"Sasa nerima lamaran itu?"
"Ya enggaklah, Om. Gak mau aku. Sudah kapok."
"Kalau Sasa gak mau, mereka pasti akan mencari orang lain yang mau, lho."
"Ya gak apa-apa, Om. Tapi aku gak ikut-iku. Ora melu-melu wong pekok."
"Pekok piye to, Sa?"
"Kalau orang dibohongi terus, kapusan terus, tapi tidak kapok-kapok juga, itu namanya apa kalau bukan pekok?"
"Sa, rakyat kan perlu melihat bahwa caleg yang akan dipilihnya nanti memang sungguh-sungguh ingin menjadi wakilnya? Maka caleg pun berupaya menunjukkan kesungguhannya dengan cara nyediakan amplop sebanyak-banyaknya, paling tidak sejumlah calon pemilih yang sudah didata oleh Timses dan Korlapnya."
"Om Om....Sampeyan ini pripun, to? Cara itu kan sudah terjadi setiap Pemilu. Hasilnya bagaimana? Mereka gak mau mikir urusan dan nasib rakyat. Maunya cuma kembul-bujana, pesta setiap hari, kongkalingkong dengan Pemerintah yang mestinya diawasi caranya mengelola negara. Tapi tidak, kan? Kalau pun melihat ada penyimpangan, mereka malah minta bagian dan siap mengamankan proyek. Iya kan, Om?"
"Mbok jangan pesimis begitu, Sa?"
"Ini bukan pesimis, Om. Ini fakta."
"Kok fakta?"
"Lha nyatanya setiap hari ada saja pejabat dan wakil rakyat ditangkap KPK. Iya, to?"
"Ya makanya Pemilu nanti menjadi momentum rakyat memperbaiki keadaan. Optimis, Sa."
"Penginku juga optimis, Om. Sayangnya aku ini bukan tokoh, bukan siapa-siapa."
"Maksudmu?"
"Kalau aku ini tokoh masyarakat, Om, caleg-caleg itu akan kuundang kumpul bersama masyarakat. Para caleg kita persilakan menyampaikan gagasan dan rencana yang akan dilakukannya bila sudah duduk di kursi dewan."
"Wah apik gagasanmu, Sa. Terus?
"Mereka harus kita tanyai sikapnya terhadap hal-hal yang terkait nasib rakyat dan masa depan bangsa."
"Contohnya, Sa?"
"Misalnya tentang rencana jalan tol Jogja-Solo, Om. Akan kita lihat apakah mereka akan manthuk-manthuk setuju saja bila pembangunan tol nanti menggusur 300 hektar lahan sawah subur di Kab. Klaten? Atau mereka punya keberanian untuk meninjau ulang dan punya solusi yang lebih baik?"
"Terus, Sa?"
"Lha wong sudah jelas tol nanti hanya akan merugikan ekonomi warga Klaten. Kita akan kehilangan 300 hektar sawah, kita akan kerepotan karena wilayah jadi terbelah ada etan dalan - kulon dalan, juga tidak ada lagi mobil luar kota mampir jajan atau belanja ke warung dan toko warga kita. Toko dan warung-warung warga jadi sepi, lalu gulung tikar. Mestinya para caleg dari sekarang sudah paham soal itu. Kalau cuma mau mbebek ya gak usah jadi caleg saja."
"Terus, Sa?"
"Di forum itu para caleg akan kita taker wareg, Om, kita pastikan mana yang benar-benar layak jadi wakil rakyat dan mana yang tidak layak. Yang memang layak akan kita bantu mencari suara agar bisa benar-benar terpilih dan dilantik. Dengan begitu, mereka tidak perlu nyiapkan amplop-amplop sogokan dengan cara hutang atau menggadaikan tanah warisan, Om."
"Berat, Sa. Berat pikiranmu. Tangeh lamun."
"Memang berat, Om. Makanya aku jadi pesimis dengan hasil pemilu nanti. Lha wong rakyatnya juga pekok, mau disogok amplop nyeket-ewu untuk lima tahun nasibnya."
Hujan sudah reda. Candhik ayu mulai menghiasi langit senja. Sasa pun pamitan sebelum adzan maghrib mulai terdengar.
Kamis, 14 Februari 2019
AVTUR
Senin, 11 Februari 2019
JAMAN KOPLAK
JAMAN KOPLAK
Selama jadi tukang parkir, baru kali ini Sasa merasa jadi seperti orang pekok, orang bodoh yang serba salah. Sudah berhari-hari dia mengalami kejadian yang sulit dimengerti. Seperti biasa setiap ada kendaraan yang mau masuk atau keluar parkiran, dengan sigap Sasa selalu memandu dan memberi aba-aba demi mejamin keselamatan pengendaranya. Bukan hanya pengendaranya, bahkan keawetan roda dan ban pun masuk dalam perhatiannya. Sopir mobil belum boleh mematikan mesin sebelum roda sudah benar-benar dalam posisi lurus. Sopir dan penumpang belum boleh membuka pintu sebelum keadaan lalu-lintas benar-benar memungkinkan.
Begitulah, Sasa selalu memberi aba-aba dengan totalitas bahasa tubuhnya hingga meliuk-liuk dan membungkuk-bungkuk, dengan teriakan suara keras 'kiri-kanan-lurus-terus', dengan tangannya menuding-nuding mengarahkan sopir ke mana harus memutar setir. Tak pernah ketinggalan pula, sempritan, bendera kecil merah-orange yang sudah kusam serta balok kayu pengganjal ban sebagai property yang melengkapi tugasnya.
"Kahanan kok jadi terasa wingit begini ya, Om," Sasa mengawali.curhatnya.
"Wingit piye?"
"Akhir-akhir ini aku sering dipririki dan diploroki tamu warung, Om."
"Kenapa?"
"Semula aku juga gak paham hingga akhirnya kuberanikan diri tanya ke salah satu orang, apa ada yang salah dengan pelayananku."
"Terus...."
"Jawabnya di luar dugaan."
"Apa jawabnya?"
"Ternyata hanya soal sepele, Om. Hanya soal jari. Jildul tenan kok...."
"Maksudnya?"
"Lha kan aku biasa memberi aba-aba sopir pakai nuding-nudingkan jari telunjuk. Kadang jempol kulipat, kadang juga tidak, dan itu tanpa kusadari."
"Terus..."
"Ternyata jadi masalah, Om. Katanya kalau nuding memberi aba-aba ya harus pakai telunjuk saja, jempol harus ditekuk."
"Terus, Sa?"
"Semula aku juga gak mudheng apa maksudnya. Ternyata oh ternyata...."
"Ternyata apa?"
"Katanya aku harus jelas nuding pakai telunjuk saja atau pakai telunjuk dan jempol. Katanya itu soal keberpihakan. Harus jelas berpihak pada 01 atau 02."
"Soal Pilpres? Walaah Sa....lha kok mesakke temen nasibmu. Jari telunjuk tukang parkir saja ternyata bisa jadi masalah."
"Sudah nasibku kok, Om. Cen wis koplak kabeh. Coba kalau kita pas sholat, apa iya ketika duduk tahiyat kita harus mikir dulu mau nuding pakai telunjuk thok atau telunjuk dan jempol? Biar jelas keberpihakan kita? Kan enggak ya, Om?"
"Iya ya, Sa."
"Rasanya aku jadi seperti orang pekok, Om. Belum kutemukan cara lain memberi aba-aba."
"Slow wae, Sa. Gak usah ikut-ikutan pekok. Kita ini harus tetap kerja seperti biasa. Sasa tetap memberi aba-aba seperti biasanya. Terserah orang mau bilang apa. Rasah digagas," kucoba menenangkan hatinya.
Memang repot. Masyarakat saat ini seakan sudah wajib menegaskan pilihan di antara dua pilihan yang hanya untuk urusan Pilpres. Seakan urusan hidup hanya soal Pilpres dan tidak boleh ada urusan lainnya. Seakan tidak ada lagi urusan ibadah, tidak ada lgi urusan bekerja mencari nafkah halalan-thayiban untuk keluarga, tidak ada lagi urusan membantu tetangga dan kerabat yang punya hajat, tidak ada lagi urusan membesuk orang sakit atau melayat kerabat yang kesripahan, tidak ada lagi tawa dan dendang menghibur teman, tidak ada lagi urusan memberi senyum pada setiap orang.
Inilah jaman koplak, dan Sasa telah menjadi korbannya....
#serialsasa
BERAS BUSUK
Selasa, 05 Februari 2019
TOL LAUT
Minggu, 03 Februari 2019
JALAN TOL
#serialsasa2019