Senin, 25 Februari 2019

RESI DORNA

RESI DORNA

Obrolan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa lalu, tahun 1970an, masa-masa ketika aku masih SD. Waktu itu, seperti umumya anak-anak, setiap pertengahan bulan Sura kami nonton wayang kulit di Umbul Gedaren, Jatinom, satu tradisi tahunan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas melimpahnya sumber air dan sumber penghidupan. Memang, Umbul Gedaren bukan hanya menjadi sumber irigasi sehingga sawah-sawah menjadi subur sepanjang tahun, tapi sekaligus  juga menjadi pusat kebudayaan. Di umbul yang airnya bening segar itu orang Gedaren dan sekitarnya biasa mandi, berenang, dan ciblon. Ibu-ibu dan remaja putri mencuci pakaian serta tikar dan selimut sambil ngobrol tentang berbagai hal atau bahkan ngrasani tetangganya. Sejak pagi hingga senja hari tak pernah sepi. Dulu sepulang sekolah, anak-anak usia SD biasa beramai-ramai mandi telanjang, belajar berenang, atau kuat-kuatan menyelam. Bapak-bapak sepulang dari sawah terus  leyeh-leyeh istirahat di bawah pohon asam dan beringin yang rimbun, menunggu kering keringatnya dulu baru kemudian mandi. Bila sore hari, seorang tukang  potong rambut pithingan  ngetem di bawah pohon beringin dan orang-orang pun antri menggunakan jasanya dengan upah Rp 10.

Entah sejak kapan tradisi wayangan di Umbul Gedaren yang digelar sejak pagi hingga shubuh dini hari itu dimulai. Dari tahun ke tahun dalangnya sama dan turun-temurun, dari Mbah Ki Kesdik hingga digantikan oleh anaknya, Ki Kasim, atau bahkan mungkin sekarang sudah ganti cucunya seperti Ki Jawahir. Lakonnya juga sama, yakni Bharatayuda, biasa kami ucapkan Brontoyuda. Sebagai anak-anak, tentu kami dulu tak begitu mamahami lakon Brontoyuda itu. Kami hanya senang ketika menyaksikan peperangan antara Pandawa Lima yang sakti mandraguna melawan Kurawa yang angkara murka, atau guyonan para Punakwan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bangong, Cangik, dan Limbuk. Perang antara Buto Cakil melawan Seta di sore hari yang sangat seru juga menjadi favorit kami. Selebihnya, kami suka menikmati jajanan seperti arum manis,  glali, dan sate setan, yakni sate dari kulit sapi jualan Mbah Soma. Kadang kami juga ikut berdesakan untuk melihat orang-otang main judi othok dan lotre di halaman rumah penduduk.

"Kahanan sekarang ini jadi persis menjelang perang Brontoyuda. Om," kata Sasa sambil menikmati kretek di tangannya.

"Kahanan yang mana? Adhem-ayem begini, kok."

"Adhem-ayem bagaimana to, Om? Sudah ngemar-mari begini, kok."

Sasa tidak mau menjelaskan lebih detil soal kahanan yang ngemar-mari. Dia hanya membahas khawatirannya melihat para pendita, ulama, dan kaum cerdik-pandai seakan sudah ikut bersiap angkat senjata. Mereka setiap hari berdebat soal remeh-temeh tapi seakan-akan soal prinsip. Mereka memamerkan ilmunya masing-masing, persis Resi Dorna yang suka memamerkan kesaktiannya. Rakyat pun jadi terbelah antar yang ikut Resi Dorna dan yang menolaknya. Setiap hari berdebat dan bertengkar,  saling menebar fitnah dan kabar Hoax.

"Persis watak Resi Dorna, Om."

"Persis piye, Sa? Yang mana?"

"Resi Dorna itu sesungguhnya seorang Pendita atau cendikiawan  yang adiluhung, sakti mandraguna, dan disegani di seluruh negeri Astinapura. Semua ksatria pun pernah berguru kepadanya, termasuk jagoan Pandawa seperti  Werkudara dan Jannaka."

"Terus...."

"Tapi ternyata Resi Dorna masih kadonyan, Om, masih punya pamrih duniawi. Dia punya milik, punya keinginan ikut jadi penguasa agar dirinya dan bala Kurawa bisa kaya-raya seperti Prabu Duryudana.”

“Terus, Sa,” kubiarkan Sasa meneruskan ceritanya sambil kuingat-ingat sejumlah nama tokoh pewayangan serta karakternya.

“Dibantu Patih Sengkuni yang pakarnya fitnah dan adu-domba, Resi Dorna berhasil menciptakan permusuhan antara bala Kurawa dan Pandawa.”

Sik, Sa, sebentar. Masalah utamanya apa to, kok Kurawa jadi bermusuhan dengan Pandawa? Mereka itu kan masih sedulur. Aku benar-bear sudah lupa, Sa.”

“Masalah warisan, Om. Rebutan lahan.”

Piye kuwi?”

“Orang-orang Kurawa tidak rela keluarga Pandu Dewanata mendapatkan bagian tanah dan wilayah yang sama luasnya. Tidak adil, katanya.”

Terus...”

Nah, di situlah Resi Dorna dan Patih Sengkuni bermain di air keruh. Mereka memainkan siasat liciknya agar bisa mendapatkan posisi bagus di jajaran Kurawa. Katanya, Pandawa harus dimusnahkan.”

“Caranya?”

“Resi Dorna berusaha dengan berbagai cara agar bisa meminjam senjata utama Pandawa, yakni Jamus Kalimasada, dan memboyong guru spriritualnya, Ki Semar Bodronoyo. Menurutnya, bila Jamus Kalimasada dan gurunya itu berhasil direbut, maka Pandawa pun akan lemah, gampang dikalahkan dan dimusnahkan dari muka bumi.”

“Wah...terus, Sa?”

“Maka Resi Dorna pun mendatangi Pandawa dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan tutur-bahasa yang memelas dan berbunga-bunga, katanya negeri Astinapura sedang dilanda wabah dan bala-bencana. Untuk menghentikannya, dia  mau meminjam Jamus Kalimasada  dan memboyong Ki Semar Bodronoyo barang sebentar saja. Saking percayanya para gurunya itu, para Pandawa pun hampir saja menyerahkan Jamus Kalimasada. Demikian juga Ki Semar Bodronoyo, dia hampir menuruti keinginan Resi Dorna koleganya itu untuk ikut ke Astinapura.”

“Terus, Sa?”

“Untung ada anak-anak Ki Semar yang waskito. Para Punakawan itu meski hanya rakyat biasa dan selalu diremehkan orang, tapi mereka punya kepekaan tinggi. Mereka melihat niat busuk Resi Dorna dan Patih Sengkuni. Gareng, Petruk, dan Bagong marah besar hingga Resi Dorna dan Sengkuni pun lari tunggang-langgang. ”

“Oooh iya ya....dari kejadian itu Ki Dorna sakit hati lalu memprovokasi bala Kurawa untuk menyerang Pandawa, ya. Begitu ya, Sa?”

“Betul, Om. Agak mirip-mirip dengan situasi sekatang, kan?”

Aku tidak berani merespon pertanyaan Sasa. Maklum, ini jaman wingit. Salah omong sedikit saja bisa jadi bencana, kriwikan dadi grojogan. Aku tidak mau terjebak menilai mana yang Kurawa dan mana yang Pandawa, apalagi menilai siapa yang mirip-mirip Resni Dorna dan Sengkuni serta mana yang mirip-mirip Ki Semar Bodronoyo dan Punakawan. Tapi aku suka kedatangan Sasa sore ini mengingatkanku pada masa-masa indah dulu ketika belum ada listrik, ketika televisi masih hitam putih pun masih langka, ketika nonton wayang menjadi hiburan utama anak-anak desa. Terima kasih ya, Sa. Kapan-kapan dilanjut ngobrol cerita pewayangan......









Jumat, 22 Februari 2019

AMPLOP

AMPLOP

Hujan masih cukup deras ketika aku sampai di rumah tadi sore. Perjalanan Jogja-Klaten kali ini terasa melelahkan. Jalanan padat merayap, ditambah air meluap di beberapa titik menyebabkan banyak kendaraan macet. Pada kondisi seperti ini hanya satu keinginanku: segera sampai di rumah dan langsung ngglethak tidur barang sebentar.

Tapi keinginanku untuk istirahat ternyata harus batal demi hukum. Kulihat Sasa sahabatku sudah duduk tercogok di kursi depan bersama gelas kopi yang tinggal ampasnya. Rupanya sudah lama dia di sana. Katanya karena hujan deras, dia jadi kepater harus nunggu reda meski aku gak ada.

Setelah menyapa istriku dan order kopi, aku pun kembali ke depan nemani Sasa. Rasa kantuk dan capek pun kutahan serapi-rapinya.

"Piye kabamu, Sa?"

"Ya begini ini, Om. Sehat, alhamdulillah."

"Keluarga juga sehat semua?"

"Pangestunipun, Om. Semua sehat."

"Monggo ngopi lagi, Mas Sasa.. Nemani ayah " kata istriku sambil menaruh nampan dengan dua gelas kopi di atasnya.

"Waduh aku jadi ngrepoti ya, Mbak," jawab Sasa terkesan basa-basi.

"Ya enggaklah, Mas. Cuma kopi kok. Monggo diunjuk mumpung masih panas." Istriku kembali masuk rumah. Kami pun langsung menuangkan kopi ke lepek masing-masing, menunggu beberapa saat, lalu meminumnya dengan sepenuh kenikmatan.

"Wah edan tenan kok, Om," kata Sasa sambil meletakkan lepeknya. "Pemilu kali ini tampaknya masih sama dengan yang dulu. Hasilnya nanti juga tidak akan lebih baik."

"Kok bisa punya kesimpulan begitu?"

Sasa pun bercerita bahwa kemarin didatangi temannya yang Timses caleg dan minta supaya Sasa bersedia jadi Korlap di desanya. Tugas Korlap mendata calon pemilih yang sudah positif mau memilih nama caleg itu. Data berisi nama dan fotocopy KTP harus diserahkan ke Timses paling lambat akhir bulan ini. Selanjutnya, Timses akan memverifikasi data untuk memastikan kejujuran Korlap. Bila data sudah dianggap valid, maka selanjutnya Sasa harus mengamankan potensi suara itu dan mengawal mereka ke TPS di hari-H Pemilu nanti. Sebelum hari-H, setiap calon pemilih akan diberi amlop berisi uang lima puluh ribuan.

"Duit untuk operasional Korlap lumayan lho, Om."

"Sasa nerima lamaran itu?"

"Ya enggaklah, Om. Gak mau aku. Sudah kapok."

"Kalau Sasa gak mau, mereka pasti akan mencari orang lain yang mau, lho."

"Ya gak apa-apa, Om. Tapi aku gak ikut-iku. Ora melu-melu wong pekok."

"Pekok piye to, Sa?"

"Kalau orang dibohongi terus, kapusan terus, tapi tidak kapok-kapok juga, itu namanya apa kalau bukan pekok?"

"Sa, rakyat kan perlu melihat bahwa caleg yang akan dipilihnya nanti memang sungguh-sungguh ingin menjadi wakilnya? Maka caleg pun berupaya menunjukkan kesungguhannya dengan cara nyediakan amplop sebanyak-banyaknya, paling tidak sejumlah calon pemilih yang sudah didata oleh Timses dan Korlapnya."

"Om Om....Sampeyan ini pripun, to? Cara itu kan sudah terjadi setiap Pemilu. Hasilnya bagaimana? Mereka gak mau mikir urusan dan nasib rakyat. Maunya cuma kembul-bujana, pesta setiap hari, kongkalingkong dengan Pemerintah yang mestinya diawasi caranya mengelola negara. Tapi tidak, kan? Kalau pun melihat ada penyimpangan, mereka malah minta bagian dan siap mengamankan proyek. Iya kan, Om?"

"Mbok jangan pesimis begitu, Sa?"

"Ini bukan pesimis, Om. Ini fakta."

"Kok fakta?"

"Lha nyatanya setiap hari ada saja pejabat dan wakil rakyat ditangkap KPK. Iya, to?"

"Ya makanya Pemilu nanti menjadi momentum rakyat memperbaiki keadaan. Optimis, Sa."

"Penginku juga optimis, Om. Sayangnya aku ini bukan tokoh, bukan siapa-siapa."

"Maksudmu?"

"Kalau aku ini tokoh masyarakat, Om, caleg-caleg itu akan kuundang kumpul bersama masyarakat. Para caleg kita persilakan menyampaikan gagasan dan rencana yang akan dilakukannya bila sudah duduk di kursi dewan."

"Wah apik gagasanmu, Sa. Terus?

"Mereka harus kita tanyai sikapnya terhadap hal-hal yang terkait nasib rakyat dan masa depan bangsa."

"Contohnya, Sa?"

"Misalnya tentang rencana jalan tol Jogja-Solo, Om. Akan kita lihat apakah mereka akan manthuk-manthuk setuju saja bila pembangunan tol nanti menggusur 300 hektar lahan sawah subur di Kab. Klaten? Atau mereka punya keberanian untuk meninjau ulang dan punya solusi yang lebih baik?"

"Terus, Sa?"

"Lha wong sudah jelas tol nanti hanya akan merugikan ekonomi warga Klaten. Kita akan kehilangan 300 hektar sawah, kita akan kerepotan karena wilayah jadi terbelah ada etan dalan - kulon dalan, juga tidak ada lagi mobil luar kota mampir jajan atau belanja ke warung dan toko warga kita. Toko dan warung-warung warga jadi sepi, lalu gulung tikar. Mestinya para caleg dari sekarang sudah paham soal itu. Kalau cuma mau mbebek ya gak usah jadi caleg saja."

"Terus, Sa?"

"Di forum itu para caleg akan kita taker wareg, Om, kita pastikan mana yang benar-benar layak jadi wakil rakyat dan mana yang tidak layak. Yang memang layak akan kita bantu mencari suara agar bisa benar-benar terpilih dan dilantik. Dengan begitu, mereka tidak perlu nyiapkan amplop-amplop sogokan dengan cara hutang atau menggadaikan tanah warisan, Om."

"Berat, Sa. Berat pikiranmu. Tangeh lamun."

"Memang berat, Om. Makanya  aku jadi pesimis dengan hasil pemilu nanti. Lha wong rakyatnya juga pekok, mau disogok amplop nyeket-ewu untuk lima tahun nasibnya."

Hujan sudah reda. Candhik ayu mulai menghiasi langit senja. Sasa pun pamitan sebelum adzan maghrib mulai terdengar.













Kamis, 14 Februari 2019

AVTUR

AVTUR

"Om, bensin untuk pesawat itu namanya apa?," begitu pertanyaan Sasa mengawali obrolan siang ini selepas Jumatan. Aku tidak kaget, cuma heran, ada urusan apa Sasa dengan bahan bakar pesawat? Mungkin tadi nyimak berita pagi di tivi.

"Apa namanya ya, Sa? Lupa aku," jawabku menggoda, "Jarang naik pesawat."

"Ur ur gitu kok, Om. Fatkur, bukan. Maskur, bukan. Kapur, juga bukan. Apa, ya?"

"Ooh...mungkin avtur, Sa"

"Ya betul, Om. Avtur."

"Memang ada cerita apa soal avtur?

"Tadi pagi ada rombongan naik mobil plat-B, katanya dari Jakarta mau ke Cawas, mampir sarapan soto dulu. Kayaknya orang-orang politik, Om."

"Terus?"

"Kutanya kok gak naik pesawat saja biar lebih cepat dan nyaman, tidak capek? Katanya tiket pesawat sekarang mahal, Om. Tarif bagasi juga mahal banget."

"Kabarnya memang begitu, Sa. Terus, Sa?"

"Katanya tiket pesawat jadi mahal gara-gara harga avturnya mahal, Om. Tapi kalau dugaanku, paling-paling  karena ada permainan dari pelaku bisnis minyak."

"Maksudmu piye kuwi?"

"Piye ya, Om? Aku ini ya cuma niteni kok."

"Niteni piye!"

"Sekedar menghafal hubungan kejadian satu dengan kejadian lainnya."

"Contone piye, Sa?"

"Begini, Om, Sampeyan tentu masih ingat beberap rahun lalu rakyat dipaksa oleh Pemerintah supaya memasak pakai gas elpiji? Tidak ada lagi minyak tanah di pasaran. Katanya itu untuk mengurangi anggaran subsidi. Semua orang memasak harus pakai elpiji. Kayu bakar pun akhirnya juga ditinggalkan. Dan sekarang semua orang pakai elpiji, Om."
"Ya masih ingat. Kan belum lama. Dan itu bagus, Sa. Dapur kita jadi lebih bersih, tidak ada lagi langes dan abu kayu bakar. Tidak ada lagi bokong kwali atau kendhil yang ireng-njanges."

"Memang iya, Om. Tapi bukan itu maksudku."

"Maksudmu piye?"

"Dulu katanya minyak tanah akan diproses menjadi avtur agar harga jualnya tinggi sehingga Pertamina dapat berjaya di pasar global. Rakyat pun senang dikasih kompor dan tabung gas melon gratis."

"Lha iya. Terus...."

"Kira2 siapa yang diuntungkan, Om?"

"Siapa, Sa?"

"Ya jelas yang punya pabrik tabung to, Om. Dalam tempo singkat produknya dibeli Pertamina, kok. Iya, to? Entah siapa yang punya pabrik tabung, tapi pintar betul dia bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah."

"Namanya orang bisnis memang harus pandai menciptakan peluang kok, Sa."

"Iya ya, Om. Tapi hebatnya dia bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah itu lho. Edan tenan kok. Gumun aku."

"Yho rasah gumun. Terus apa hubungannya dengan niteni tadi?"

"Om, selama ini penjualan avtur di semua bandara hanya ditangani Pertamina, kan?"

"Iya benar. Itu memang salah satu tugas Pertamina sebagai perusahaan milik negara."

"Setelah kejadian tiket pesawat mahal ini akan ada pemain baru, pihak swasta, yang  menangani penjualan avtur. Lihat saja, Om."

"Wah.. ngono yho, Sa? Tapi mungkin juga itu,"

"Lihat saja, Om, nanti akan ada kebijakan baru dan perubahan peratusan soal distribusi avtur dulu, sambil si-pemain baru menyiapkan diri. Pemain baru itulah yang akan mendapatkan keuntungan besar dan jangka panjang. Tapi sekali lagi, saya ini cuma niteni dan othak-athik gathuk lho."
Edan.... Ilmu titen Sasa memang nggegirisi. Harus kuakui, pikiran dan imajinasiku selama ini belum sejauh itu, gak sampai ke sana. Untung punya sahabat Sasa, wong gemblung dari Jolotundo. Aku bisa banyak belajar darinya. Kubayangkan seandainya Sasa dulu terjun ke dunia bisnis, mungkin bisa sekelas almarhum Bob Sadino yang nyentrik, cerdas, bersahaja, dan sukses.

#serialsasa







Senin, 11 Februari 2019

JAMAN KOPLAK

JAMAN KOPLAK

Selama jadi tukang parkir, baru kali ini Sasa merasa jadi seperti orang pekok, orang bodoh yang serba salah. Sudah berhari-hari dia mengalami kejadian yang sulit dimengerti. Seperti biasa setiap ada kendaraan yang mau masuk atau keluar parkiran, dengan sigap Sasa selalu memandu dan memberi aba-aba demi mejamin keselamatan pengendaranya. Bukan hanya pengendaranya, bahkan keawetan roda dan ban pun masuk dalam perhatiannya. Sopir mobil belum boleh mematikan mesin sebelum roda sudah benar-benar dalam posisi lurus. Sopir dan penumpang belum boleh membuka pintu sebelum keadaan lalu-lintas benar-benar memungkinkan.

Begitulah, Sasa selalu memberi aba-aba dengan totalitas bahasa tubuhnya hingga meliuk-liuk dan membungkuk-bungkuk, dengan teriakan suara keras 'kiri-kanan-lurus-terus', dengan tangannya menuding-nuding mengarahkan sopir ke mana harus memutar setir. Tak pernah ketinggalan pula, sempritan,  bendera kecil merah-orange yang sudah kusam serta balok kayu pengganjal ban sebagai property yang melengkapi tugasnya.

"Kahanan kok jadi terasa wingit begini ya, Om," Sasa mengawali.curhatnya.

"Wingit piye?"

"Akhir-akhir ini aku sering dipririki dan diploroki tamu warung, Om."

"Kenapa?"

"Semula aku juga gak paham hingga akhirnya kuberanikan diri tanya ke salah satu orang, apa ada yang salah dengan pelayananku."

"Terus...."

"Jawabnya di luar dugaan."

"Apa jawabnya?"

"Ternyata hanya soal sepele, Om. Hanya soal jari. Jildul tenan kok...."

"Maksudnya?"

"Lha kan aku biasa memberi aba-aba sopir pakai nuding-nudingkan jari telunjuk. Kadang jempol kulipat, kadang juga tidak, dan itu tanpa kusadari."

"Terus..."

"Ternyata jadi masalah, Om. Katanya kalau nuding memberi aba-aba ya harus pakai telunjuk saja, jempol harus ditekuk."

"Terus, Sa?"

"Semula aku juga gak mudheng apa maksudnya. Ternyata oh ternyata...."

"Ternyata apa?"

"Katanya aku harus jelas nuding pakai telunjuk saja atau pakai telunjuk dan jempol. Katanya itu soal keberpihakan. Harus jelas berpihak pada 01 atau 02."

"Soal Pilpres? Walaah Sa....lha kok mesakke temen nasibmu. Jari telunjuk tukang parkir saja ternyata bisa jadi masalah."

"Sudah nasibku kok, Om. Cen wis koplak kabeh. Coba kalau kita pas sholat, apa iya ketika duduk tahiyat kita harus mikir dulu mau nuding pakai telunjuk thok atau telunjuk dan jempol? Biar jelas keberpihakan kita? Kan enggak ya, Om?"

"Iya ya, Sa."

"Rasanya aku jadi seperti orang  pekok, Om. Belum kutemukan cara lain memberi aba-aba."

"Slow wae, Sa. Gak usah ikut-ikutan pekok. Kita ini harus tetap kerja seperti biasa. Sasa tetap memberi aba-aba seperti biasanya. Terserah orang mau bilang apa. Rasah digagas," kucoba menenangkan hatinya.

Memang repot. Masyarakat saat ini seakan sudah wajib menegaskan pilihan di antara dua pilihan yang hanya untuk urusan Pilpres. Seakan urusan hidup hanya soal Pilpres dan tidak boleh ada urusan lainnya. Seakan tidak ada lagi urusan ibadah, tidak ada lgi urusan bekerja mencari nafkah halalan-thayiban untuk keluarga, tidak ada lagi urusan membantu tetangga dan kerabat yang punya hajat, tidak ada lagi urusan membesuk orang sakit atau melayat kerabat yang kesripahan, tidak ada lagi tawa dan dendang menghibur teman, tidak ada lagi urusan memberi senyum pada setiap orang.

Inilah jaman koplak, dan Sasa telah menjadi korbannya....

#serialsasa




BERAS BUSUK

BERAS BUSUK

Sasa tergopoh-gopoh berlari menyambutku di parkiran seberang jalan. Karena aku sudah hafal selera parkirnya, maka begitu yakin posisi  parkirku sudah tepat, mesin langsung kumatikan sebelum Sasa memberi aba-aba. Lalu Sasa mendekatiku.

"Sugeng enjang, Om. Pripun kabaripun?," standar sapaan Sasa pada pelanggan dengan wajahnya yang open face sambil tangannya membukakan pintu.

"Alhamdulillah apik, Sa. Waras," jawabku. Sasa pun memanduku menyebrang jalan yang cukup padat.

Sebagai sesama wong ndeso apalagi sudah kenal baik, sebenarnya risih juga dilayani seperti itu. Kesannya agak berlebihan. Tapi ya bagaimana lagi, itu sudah menjadi gaya dan standar pelayanan Sasa. Dia akan cepat-cepat minta maaf kalau tidak sempat melakukannya karena kebetulan sedang memandu kendaraan lain, misalnya. Entah siapa yang mengajarinya, dia selalu berusaha memberikan service exelent bagi semua pelanggan, baik yang bermobil maupun yang bersepeda motor. Anehnya lagi, dia kadang menolak dikasih ongkos parkir, bukan hanya dari orang yang sudah dikenalnya, tapi juga terutama dari orang tua atau ibu-ibu bersepeda motor dengan anak-anaknya.

Ternyata kali Sasa bukan hanya memanduku nyebrang jalan, tapi juga memilihkanku tempat duduk yang nyaman di ruang belakang yang tidak terlalu ramai, bahkan ikut juga duduk di sampingku. "Pasti mau ngajak ngobrol orang ini," pikirku. Dan ternyata memang benar.

"Sungguh terlalu ya, Om. Beras ribuan ton muspra, mubadzir, busuk semua di gudang," Sasa mulai membuka obrolan.

"Di mana, Sa?"

"Di gudang Bulog, Om?

"Lah kok bisa? Sasa tahu dari mana?"

"Dari tivi, Om. Konon ada sekitar 6.000 ton beras busuk mau dilelang."

"Walaah....eman-eman yaBarang busuk apa laku dijual?" Kupancing Sasa melanjutkan cerita sambil kunikmati soto dan teh yang sudah tersaji.
"Ya laku tapi murah, Om. Paling cuma buat makanan ayam. Ini memang sudah kebangetan, Om. Kasihan para petani."

"Siapa yang kebangetan, Sa?"

"Ya pengelola gudang dan atasannya, Om, yang berwenang mengambil kebijakan soal beras."

"Kok bisa?"

"Ya jelas. Mereka sebenarnya sudah tahu kondisi beras di semua gudang penyimpanan. Kapan beras masuk gudang, sudah berapa lama tersimpan, dan kapan harus dikeluarkan atau dijual ke pasar, mereka pasti tahu, Om."

"Jangan-jangan gak ada catatan, Sa?"

"Tidak mungkin, Om. Pasti tercatat semua.  Setiap ada beras datang pasti dicatat oleh carik gudang."

Aku jadi teringat Sasa memang pernah cerita punya pengalaman membantu pamannya yang tebasan padi. Tiap hari Sasa ke sawah-sawah menaksir panenan lalu menawar harga ke pemilik sawah. Bila harga sudah deal, pamannya membayar DP. Besok pagi-pagi, Sasa mengerahkan puluhan tenaga untuk memanen dan mengerek. Gabah yang disebut Gabah Kering Panen (GKP) itu kemudian ditimbang dan dijemur di halaman rumah. Di musim kemarau, proses penjemuran cukup 1-2 hari dan siap digiling. Tapi bila musim penghujan, proses penjemuran bisa berhari-hari. Gabah yang sudah selesai dijemur disebut Gabah Kering Giling (GKG), ditimbang lagi, lalu dibawanya ke tempat penggilingan untuk diselep hingga Pecah Kulit (PK). Beras PK itu kemudian dijualnya ke gudang Bulog.

"Kok bisa sampai busuk ribuan ton ya, Sa?"

"Jelas ada yang salah, Om."

"Salahnya di mana?"

"Tikus-tikus."

"Maksudmu?"

"Dari dulu memang banyak tikus di gudang."
"Kalau cuma tikus kan gampang diatasi, Sa? Bisa dibasmi dengan obat tikus, misalnya?"

"Iyak Sampeyan ini kok lugulucu tur guoblok.....hahahaa..."

"Wooo...ngece..."

"Om, tikus yang ini beda. Tidak mempan dengan obat tikus. Diobati dengan KPK saja mereka gak takut kok."

"Maksudmu, banyak yang bermain di perberasan ini?," aku baru ngeh maksud Sasa.

"Ya jelas, Om. Ribuan atau bahkan jutaan karung beras dibiarkan menumpuk dan ngendon di gudang, tapi dibilang stok beras menipis. Maka impor beras pun dilakukan oleh para broker untuk memenuhi kebutuhan pasar. Begitulah kira-kira yang terjadi selama bertahun-tahun. Beras petani kita Cuma menumpuk dan membusuk di gudang, yang beredar di pasaran beras impor. Makanya petani kita tetap miskin dan mbrebes mili menangis tiap hari,  sementara  petani luar negeri jadi makmur sentosa.”

“Jadi siapa yang untung, Sa?

“Para broker, Om. Mereka untung besar. Sebagian kecil dipyur-pyurke ke tikus-tikus di gudang, sebagiannya dibagi-bagi ke orang yang layak mendapatkan bagian, dan sisanya yang lebih besar dinikmatinya sendiri sebagai pedagang."

"Mosok sampai segitunya? Sasa jangan ngarang lho. Jangan negative-thinking. Hati-hati, Sa. Bisa bahaya."

"Ya kalau Sampeyan tidak percaya silahkan dibuktikan saja. Silahkan cari informasi selengkap-lengkapnya, lalu bikin kesimpulan sebaik-baiknya. Paling hasilnya juga sama saja dengan ceritaku tadi."

Sasa langsung berlari menuju parkiran karena terlihat ada 2-3 mobil mau merapat. Dengan gayanya yang cekatan, dipandunya setiap kendaraan yang mau parkir. Aku pun segera menuju kasir, membayar, dan langsung pulang tanpa sempat basa-basi pamitan dengan Sasa.








Selasa, 05 Februari 2019

TOL LAUT

TOL LAUT

Sasa memang jinguk tenan. Sengaja kali ini aku nyoto Kertongali yang edisi sore biar gak ketemu, lha kok konganan juga. Ketika aku sedang asyik menikmati soto sambil lesehan  membelakangi pintu masuk, makjegagik dia memukul pundakku sambil pringas-pringis. Katanya kebetulan melihat ada mobilku parkir di depan warung. Dan sesuatu yang kukhawatirkan pun terjadi. Sasa bertanya tentang hal yang sungguh tidak kusukai, pertanyaan sensitif yang aku harus hati-hati menjawabnya. Salah sedikit saja bisa jadi masalah, paling tidak akan dibully oleh teman-teman medsos-ku. Ngeri...

Tapi mau bagaimana lagi, namanya dengan sahabat. Aku harus melayaninya dengan baik, tidak boleh mengecewakan sedikitpun, apalagi melukai hatinya. Itu jangan sampai terjadi. Tapi repotnya, aku harus bisa menjawab setiap pertanyaannya dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti, bahasa Sasa, bahasa orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena kahanan. Tapi juga jangan salah, justru sebenarnya aku lebih banyak belajar pada Sasa yang logika dan lontarannya sering di luar dugaan, yang kadang lebih kritis dari pertanyaan ktivis mahasiswa.

"Om, aku masih penasaran soal tol itu," Sasa mengawali terornya.

"Penasaran bagaimana?"

"Tapi ini bukan soal Jalan Tol Jogja-Solo yang kita bicarakan kemarin, lho."

"Lha terus, tol yang mana?"

"Soal Tol Laut, Om."

"Modyaar....," batinku, "Ini tema yang bukan saja aku tidak cukup memahaminya, tapi juga bisa sangat sensitif bila dibicarakan saat ini."

"Kok sudah lama tidak terdengar kabarnya, Om? Sudah sampai di mana tol laut itu?"

"Ya mungkin karena wartawan tidak tertarik meliputnya, Sa. Jadi gak ada yang bikin berita," jawabku datar menyembunyikan kegugupan.

""Tapi itu kan soal besar dan penting, Om."

"Maksudmu?"
"Lha itu kan soal janji kampanye yang harus ditunaikan. Soal jutaan rakyat sudah kadhung percaya dan semua menunggu-nunggu kabarnya. Jan-jane sudah dikerjakan apa belum, to?"

"Wah ya gak tahu, Sa. Mestinya ya sudah, cuma kita saja yang gak dengar kabarnya," aku berusaha tidak terpancing menjelaskannya.

"Lha kok yang diberitakan tiap hari malah proyek jalan tol Jakarta-Surabaya ya, Om? Padahal seingatku itu tidak termasuk janji kampanye, lho."

"Iyak...gayamu, Sa. Paling ingatanmu yang sudah agak soak karena kakehan mangan brutu, jadi pelupa....hahahaa...."

"Jangan ngece, Om. Ingatanku ini masih joss, lho. Aku masih ingat semua janji kampanye orang-orang yang kupilih dalam Pemilu, Pilpres, Pilgub, dan Pilkada."

"Ah tenane, Sa?"

"Bener, Om. Apalagi janji yang baru diucapkan empat tahun  lalu seperti Tol Laut itu,  rasanya baru kemarin sore. Orang seperti Sampeyan ini mungkin malah sudah lupa karena terlalu banyak pikiran, tidak titen, lalen, atau pura-pura lupa karena punya kepentingan."

"Lha kok?

"Lha iya. Orang seperti Sampeyan ini paling yang dipikir cuma bagaimana caranya bisa dapat proyek dan ikut pesta-pora kembul-bujana. Kalau misalnya jadi pegawai, pasti juga manut-manut saja sama atasan. Disuruh bialng A ya bilang A, disuruh bilang B ya bilang B. Karena punya kepentingan, Om. Makanya hal-hal penting yang seharusnya diingat baik-baik pun dilupakan. Iya to, Om?"

Jindul Sasa ini. Untung aku tadi cuma sendirian gak ngajak anakku. Kalau ada anakku, pasti Sasa sudah ditonyo ndhase karena berani ngece ayahnya. Memang terasa makjleb omongannya tadi. Seolah-olah aku ini orang oportunis, orang yang suka bermanis-manis dan ndlosor-ndlosor pada atasan atau pejabat demi mendapatkan proyek. Tidak, Sa. Kali ini Sasa salah sangka. Banyak orang yang masih waras, yang masih punya idealisme, yang tidak gampang goyah pendiriannya karena diiming-imingi sepotong roti atau segepok uang. Masih banyak orang yang jernih hati dan pikirannya, yang tidak buram panglihatannya karena rupiah atau dolar. Ah, nggagas Sasa bisa bikin bludreg. Biarkan saja dia tetap begitu, tetap galau dan gelisah melihat perubahan jaman yang makin susah dipahaminya.
"Aku pulang dulu ya, Sa. Wislah...gak usah nggagas soal Tol Laut. Kan gak ada juga hubungannya denganmu. Atau Sasa mau ganti profesi jadi tukang parkir kapal di PelabuhanTanjung Emas atau Tanjung Perak? Tidak, kan?”

“Ya tidak, Om.”

“Makanya, Sa. Gak usah neka-neka. Katanya harus setia dengan pekerjaan?”

“Iya, Om.”

“Kukasih tahu ya, Sa, markir kapal itu susah banget. Lebih gampang ngatur parkir mobil dan motor di warung Soto Kartongali. Tenan, Sa..."

"Oh injih, Om. Siaapp....."





























Minggu, 03 Februari 2019

JALAN TOL

JALAN TOL

Aku sebenarnya sudah pengin tidur sejak bakda isya' tadi. Badan terasa capek, mata pun ngantuk sekali. Tumben hari Minggu kali ini banyak tamu di rumah kami. Kebetulan memang kebetulan cuaca cerah seharian, tidak hujan. Ada tamu yang berombongan, ada beberapa yang hanya berdua dengan suaminya, ada juga beberapa yang  datang sendirian. Seperti bisanya, ibu-ibu itu mau beli jilbab, mukena travelling, atau busana rancangan istriku, tapi juga ada yang sekadar pengin lihat-lihat produk di showroom kami. Begitulah, karena hari Minggu semua karyawan libur, maka aku dan istriku sendiri yang harus melayani tamu.

Maksud hati mau tidur awal pun gagal total. Sahabatku Sasa datang, katanya mampir dari mijat pelanggan. Melihat kedatangan Pakdhe Sasa, begitu anakku Cahya biasa memanggil sahabat ayahnya, dia pun langsung ke dapur membuat dua gelas kopi kental.

"Ini lho yang namanya anak muda tanggap ing sasmita. Tahu selera Pakdhenya. Makasih ya, Le," kata Sasa memuji anakku yang menyuguhkan kopi.

"Njih, Pakdhe.   Monggo diunjuk,"   jawab Cahya.

"Duduk sini sebentar, Le, Pakdhe mau tanya."

"Tanya apa, Pakdhe?"

"Begini. Kamu kan mahasiswa?"

"Injih, Pakdhe. Pangestunipun."

"Menurutmu, jalan tol Jogja-Solo itu penting apa tidak, Le?"

"Maksud Pakdhe?" Cahya tampak kaget mendapat pertanyaan itu, tapi sengaja kubiarkan saja. Aku sudah hafal dengan kebiasaan Sasa yang suka usil dengan pertanyaan-pertanyaan kritis pada anak muda. Katanya untuk melatih anak-anak muda biar punya kepekaan terhadap lingkungannya, supaya tidak cuek dan asyik dengan urusannya sendiri. Sebenarnya Sasa tidak mesti butuh jawaban, tapi hanya memancing respon, lalu dia sendiri yang akan menjelaskan masalah yang sedang dipikirankannya. 

"Kemarin kan sudah ada berita resmi bahwa jalan tol Jogja-Solo akan segera dibangun, Le. Gambarnya juga sudah ada. Sudah pasti ada 38 Desa yang akan dilewati, dan 300 hektar sawah akan dibebaskan. Bagaimana menurutmu, Le?"

"Wah, bagaimana ya, Pakdhe? Susah menjelaskannya."

"Lha kok susah? Mahasiswa kok...."

"Itu sudah jadi keputusan politik Pemerintah kok, Pakdhe. Rakyat harus menerima, tidak bisa menolak, kecuali dia berani menerima resiko dituduh anti-Pemerintah."

"Ngono yho, Le? Terus soal ratusan lahan sawah yang harus dibebaskan, apa rakyat harus manut juga, Le?"

"Itulah susahnya, Pakdhe."

"Susah bagaimana?"

"Sejak dulu Klaten ini kan dikenal sebagai lumbung pangan karena tanahnya yang subur dan banyak sumber air. Tapi seiring perkembangan jaman, lahan persawahan sudah banyak berkurang karena dibangun perumahan dan pabrik-pabrik. Anak-anak muda seusia saya juga sudah tidak kenal bertani."

"Ya bener itu, Le. Anak jaman sekarang maunya hidup enak, tidak kenal menamam, memupuk, memanen. Tahunya tinggal makan."

"Pakdhe, mestinya jalan tol bisa dibangun di atas jalan negara Jogja-Solo, lho. Tidak perlu mengganggu tanah milik rakyat."

"Jalannya susun gitu, Le?"

"Lha iya, Pakdhe. Itu kan biasa. Insinyur kita juga pinter-pinter, kok. Tapi mereka kan tergantung bosnya. Tapi biasanya bos gak mau repot. Namanya pengusaha, yang penting untungnya banyak, Pakdhe. Kalau bikin jalan susun biayanya bisa lebih mahal."

"Njur pilih ngurug sawah ya, Le?"

"Ya iya, Pakdhe."

"Jinguk tenan ya, Om. Sawah 300 hektar mau diurug jadi jalan tol. Kita akan kehilangan 1.000 ton beras per musim panen. Terus kita mau disuruh beli beras impor. Edyan tenan."

"Le, Pakdhemu Sasa ini dulu biasa nebas padi di sawah-sawah. Jadi sambil merem saja bisa mengkalkulasi hasil panenan dan harga jualnya,"  kucoba memahamkan  anakku.

"Le, nanti kalau kita lewat jalan tol harus bayar, ya?"

"Ya bayar to, Pakdhe, masak gratisan. Dan yang boleh lewat hanya mobil lho, Pakdhe."

 "Jadi nanti aku ini gak boleh lewat ya, Le?"

"Ya boleh saja, kalau Pakdhe naik mobil dan mau bayar."

"Le, kita ini sebaiknya ikut senang atau susah, ya?"

"Mending ikut senang saja, Pakdhe. Bersyukur daerah kita kelihatan maju ada jalan tol."

"Iyak, ikut senang piye to, Cah Bagus? Lha wong jelas tidak bisa ikut menikmati kok, hanya bisa ndomblong menyaksikan kendaraan yang lewat dan tidak akan pernah mampir nyoto. Kubayangkan jalan provinsi kita nanti pasti jadi sepi. Warung-warung juga jadi sepi. Tidak ada lagi mobil-mobil luar kota mampir di Soto Kartongali."

"Ya begitulah, Pakdhe. Memang susah kalau nggagas jalan tol."

"Jadi rasah digagas wae yho, Le."

Waktu semakin larut. Aku yang lebih banyak diam selama ngobrol tadi jadi terasa makin berat di mata. Untunglah Sasa cukup tanggap melihatku beberapa kali nguap sehingga segera pamitan. Entah apa lagi yang dipikirkannya sambil pulang. Mudah-mudahan obrolan dengan anakku tadi bisa mengurangi kegelisahannya.

#serialsasa2019