Minggu, 08 Desember 2019

AZIMAT

AZIMAT

"Om, pangapunten aku pagi-pagi sudah ke sini," kata Sasa mengawali obrolan. Memang, biasanya dia datang sore-sore atau bakda maghrib, tapi kali ini dia datang sebelum matahari terbit ketika aku sedang mulai bersih-bersih halaman. Entah ada apa. Kuajak sahabatku ini duduk di meja bawah pohon alpukat sambil menunggu istriku membuatkan kopi.

"Ada kabar pagi apa ini, Sa?"

"Soal keluargaku, Om."

"Ada masalah?"

"Begini, Om. Sudah beberapa bulan ini kangmasku yang nomor dua sakit komplikasi diabet, jantung, dan gagal ginjal?"

"Diopname?"

"Sekarang dirawat di rumah, Om. Kemarin sempat beberapa kali keluar-masuk opname di rumah sakit, dan sudah dua bulan ini rutin cuci darah dua kali semiggu."

"Wah kasihan ya, Sa. Pasti repot banget keluarganya." Aku pun jadi teringat betapa repotnya urusan kontrol di RS. Pagi-pagi harus antri ambil nomor pendaftaran untuk periksa nanti sore.  Sorenya antri lagi ambil nomor urut periksa. Lalu pasien menunggu panggilan sesuai omor urut untuk ukur tensi. Setelah itu duduk manis berjam-jam menunggu lagi panggilan untuk periksa dokter. Usai periksa dokter masih menunggu lagi panggilan di counter obat. Praktis waktu hampir seharian habis untuk urusan kontrol dokter di RS.

"Namanya juga setiyar, Om. Dinikmati saja proses yang bertele-tele itu."

Sudah lama aku tidak mendengar kata setiyar. Aku tahu itu maksudnya ikhtiar. Lidah orang Jawa memang tidak suka repot dalam pengucapan kata Arab. Seperti hari Ahad diucapkan Ngad, nama Bakhruddin dibaca Bakrodin, afwan jadi apem, dan sebagainya.

Dua gelas kopi disajikan istriku.

"Monggo diunjuk kopinya, Mas Sasa," kata istriku mempersilakan.

"Terus masalahnya apa, Sa? Gak punya BPJS?"

"Bukan, Om. Begini, lho. Adikku ragil yang tinggal di Jawa Timur kemarin ngirimi paket pengobatan untuk kangmasku."

"Ngirim obat?"

"Bukan obat, tapi paket pengobatan dari seorang Kyai pesantren, katanya metode penyembuhan dengan cara memindahkan penyakit ke kambing."

"Wah, bagus itu. Wujudnya apa?"

"Azimat, Om. Wujudnya kertas bertulisan Arab yang dilipat dan diberi tali.  Juga dua jerigen air putih untuk diminum pasien."

"Terus...."

"Azimat itu supaya dikalungkan di leher kambing. Di hari ketujuh, kambing itu disembelih dan dagingnya dimasak lalu bagikan ke tetangga. Jerohan atau organ kambing yang rusak harus dikubur bersama azimat yang sudah dibakar dulu."

"Wah apik kuwi, Sa."

"Tapi masalahnya kangmasku ragu, Om."

"Kenapa ragu?"

"Ada anaknya khawatir kok pakai azimat, jangan-jangan ayahnya jadi syirik. Lalu kangmasku jadi ragu juga. Makanya aku ke sini pengin ngobrol soal itu, Om. Apa iya setiyar semacam itu bisa syirik?"

"Ooh itu to masalahnya."

"Iya, Om.

"Sekarang aku tanya ya, Sa."

"Njih, Om."

"Yang menciptakan kita ini siapa"

"Gusti Allah, Om."

"Yang membuat penyakit?"

"Ya Gusti Allah."

"Yang menyembuhkan?"

"Ya Gusti Allah."

"Tapi kenapa orang sakit harus repot--repot ke dokter? Kok gak berdoa saja supaya disembuhkan?"

"Ya harus setiyar, Om. Minum obat dan berdoa agar Gusti Allah menyembuhkan."

"Betul, Sa. Kita wajib ikhtiar, berusaha supaya sembuh dari sakit lewat perantaraan dokter dan obat yang kita minum."

"Njih, Om."

"Allah memberi kesembuhan bisa lewat apa saja, Sa. Ada yang lewat dokter dan obat, ada yang lewat air yang dicelupi batu Ponari, ada yang lewat ruqyah, ada lewat jamu atau obat herbal, ada yang cukup lewat kerokan atau bekam, ada lewat air putih yangsudah didoakan kyai, dan sebagainya. Terserah Allah, Sa. Dia Yang Maha Kuasa. Manusia wajib ikhtiar."

"Njih leres, Om."

"Sa, kalau kita periksa ke dokter lalu diberi sesobek kertas yang ada tulisannya untuk nebus obat, itu namanya apa?"

"Resep, Om."

"Nah, kalau menurut ceritamu tadi, adikmu sudah ikhtiar untuk kangmasmu lewat perantara seorang kyai, lalu diberi secarik kertas bertulisan Arab. Namanya apa tadi?"

"Azimat, Om, untuk dikalungkan ke leher kambing."

"Menurutmu azimat itu sama gak fungsinya dengan resep dari dokter tadi?"

"Ya hampir sama, Om. Yang satu untuk dibelikan obat lalu diminum, yang satu untuk dikalungkan ke leher kambing lalu disembelih dan disedekahkan."

"Oke, Sa. Fungsinya hampir sama, ya. Sama-sama sebagai ikhtiar agar sembuh dari sakit. Tapi kenapa kalau ikhtiar dengan resep dokter, ponakan dan kangmas tidak ragu-ragu, sedangkan dengan azimat dari kyai jadi takut syirik?"

"Mungkin karena istilah azimat itu, Om."

"Kalau Sasa pakai azimat atau susuk untuk kesaktian, penglaris, atau pelet penakluk cewek, dsb, itu memang bisa jadi syirik. Mending dihindari. Tapi azimat untuk kangmasmu itu kan hanya media untuk memindahkan penyakit ke tubuh kambing. Iya, kan?"

"Leres, Om. Tapi itu termasuk penyiksaan terhadap kambing gak ya, Om?"

"Ya enggaklah, Sa. Kan kambingnya langsung disembelih dan disedekahkan dagingnya. Itulah kemuliaan kambing, bisa disembelih dan dimakan dagingnya. Kalau kambingnya dibiarkan sakit berkepanjangan, itu baru namanya penyiksaan."

"Wah saya jadi lega sekarang. Sudah plong. Matur nuwun ya, Om. Saya nyuwun pamit dulu, ya. Saatnya berangkat tugas...."

Matahari sudah hampir sapenggalah. Sahabatku langsung genjot supercup tuanya menuju warung Soto Karyongali Jolotundo, kembali ke rutinitas paginya.

#serialsasa


Selasa, 03 Desember 2019

GEBYAH UYAH

GEBYAH UYAH

"Om, kayaknya akan terjadi lagi situasi seperti jaman kita sekolah dulu, ya," kata Sasa sambil membantuku nyebrang jalan di depan Soto Kartongali yang padat.

"Situasi yang mana, Sa?"

"Pak Siroj guru kita dulu dan beberapa tema ngajinya ditangkap karena dituduh mau mendirikan Negara Islam. Masih ingat to, Om?"

"Ya masih ingatlah, Sa. Mereka kena pasal subversif, dituduh merongrong kewibawaan Pemerintah."

"Ya itu, Om. Guru kita divonis 7 tahun. Teman-tamannya ada yang 5 tahun dan 6 tahun," kenang Sasa sambil mengikutiku duduk di meja belakang. Sambil menunggu soto dan teh nasgithel terhidang, kulayani obrolan Sasa yang tampak gelisah pagi ini.

"Tapi itu kan dulu, Sa, waktu masih ada Undang-Undang Subversif. Sejak reformasi 1998, UU itu dicabut. Jadi sekarang beda situasinya, Sa. Jauh lebih kondusif."

"Awalnya memang kondusif, Om. Tapi belakangan mulai nyamari, mengkhawatirkan."

"Maksudmu?"

"Katanya masjid-masjid mau diawasi polisi, khotib dan ustad harus bersertifikat, majelis taklim harus legal dan terdaftar resmi, apa nanti gak jadi tegang situasinya?"

"Ya gak usah tegang, Sa. Slow wae," jawabku santai sambil mulai menyantap soto yang sudah tersaji.

"Jumatan dan pengajian di kampungku bisa bubar lho, Om."

"Kenapa bubar?"

"Ya bubar. Jadi sepi gak ada kegiatan."

"Kok bisa?"

"Ya bisa saja. Lha wong masyarakat kami dulu membangun mesjid secara swadaya kok, urunan sak mampune, tidak ada bantuan dari Pemerintah. Setelah masjid bisa digunakan, beberapa orang termasuk aku ditunjuk jadi khotib jumat dan giliran mengisi tausiyah setiap selapan sekali. Beberapa anak muda tiap sore juga ngajari anak-anak mengaji."

"Bagus itu, Sa. Di mana-mana juga begitu."

"Kalau kegiatan mesjid diaeasi, nanti para khotib, guru ngaji, dan anak-anak yang belajar mengaji jadi takut, Om. Bubar kabeh."

"Jangan apriori dulu, Sa. Maksud Pemerintah itu baik. Keutuhan dan keamanan negara ini harus dijaga dari segala bentuk gangguan radikalisme. Segala potensi gangguan harus dicegah sejak dini."

"Berarti semua kegiatan masjid dan majelis taklim dianggap bisa mengganggu kemanan negara, Om? Itu namanya gebyah uyah. Semua orang yang ke masjid dianggap radikal, lalu ditangkapi dan dijebloskan ke penjara seperti guru kita dulu? Terlalu."

"Ya tidak sejauh itu, Sa. Kalau itu terjadi namanya Pemerintah melakukan pelanggaran Hak Azasi Manusia. Bisa heboh seluruh dunia."

"Mudah-mudahan hanya isu dan tidak benar-benar terjadi ya, Om."

"Slow wae. Sasa tetap saja jadi khotib dan guru ngaji. Gak usah takut."

"Ya sudah, Om. Aku mau bertugas lagi. Matur nuwun obrolanipun, njih."

Sasa bergegas kembali ke parkiran. Aku pun langsang membayar makana di kasir dan langsung pulang.

#serialsasa

Selasa, 19 November 2019

OJO DUMEH

OJO DUMEH

Dasar Sasa, kalau lagi punya kegelisahan sering kurang empan papan. Seperti kemarin sore, kami kebetulan ketemu pas lagi takziyah meninggalnya kakak kelas kami jaman SMP dulu. Di antara ratusan pelayat, terdengar suara memanggilku dari arah teras rumah tetangga yang berduka cita. Ternyata sahabatku Sasa . Aku pun mendekat dan ikut duduk lesehan di sampingnya. Tanpa basa-basi, sahabatku ini langsung ngajukan pertanyaan yang sungguh membuatku jadi kikuk.

"Om, perintah bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Kanjeng Nabi itu kan memang hanya untuk orang beriman, ya?"

"Maksudmu?"

"Ya kalau orang tidak beriman kan gak wajib bershalawat."

"Ya memang," jawabku agak kurang antusias karena pekewuh dengan orang-orang sekitar.

"Gak papa tidak beriman, terserah saja. Tapi mbokya gak usah merendahka."

"Siapa yang merendahkan, Sa?"

"Ya adalah, Om. Tapi siapapun orangnya, kalau tidak beriman dan mencintai Kanjeng Nabi,  mbok sudah diam saja, gak usah ngomong yang bisa bikin orang tersinggung."

"Sik to, Sa, maksudmu ki piye, to?"

"Begini lho, Om. Ibarat istri. Istriku mungkin bagi Sampeyan babar blas tidak cantik dan tidak ada manfaatnya. Iya, kan? Tapi Sampeyan tetap harus menghormati istriku, tidak boleh ngelek-elek dan merendahkan. Kalau sampai Sampaian meremdahkan istriku, pasti aku akan marah. Bener gak, Om?"

"Ya jelas, Sa. Kita harus saling menghormati."

"Jaman sekarang memang harus hati-hati, Mas Sasa," Pak Modin yang duduk di sebelahku menyahut.  "Orang kalau asal ngomong bisa kena pasal ujaran kebencian, lho," lanjutnya.

"Apalagi terhadap Kanjeng Nabi, orang yang sangat dimuliakan oleh jutaan orang beriman," sahut Mas Temu. "Karena sudah menyangkut keyakinan dan keimanan, tentu banyak orang siap membela sampai mati."

"Makanya kalau memang tidak beriman, jangan asal ngomong ya, Mas Sasa. Atau mau kena pasal penistaan agama?" Pak Modin menyahut lagi.

"Simbah kita dulu berpesan ojo dumeh. Jangan mentang-mentang," kata Sasa. "Dulu kita ini lahir di mana dan jadi anaknya siapa, kita tidak bisa memilih. Tinggal menjalani," lanjut Sasa dengan tatapan serius seperti ustad sedang tausiyah. "Ada yang lahir dari keluarga pejabat yang terhormat dan kaya-raya, ada yang lahir di keluarga petani miskin, ada yang lahir dari keluarga pengusaha, keluarga kyai, keluarga tentara, dan sebagainya. Ada yang lahir di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan sebagainya. WeKita semua tinggal menjalani, tidak bisa memilih. Kita harus selalu bersyukur dan tidak boleh sombong. Juga tidak boleh minder dan rendah diri," lanjutnya.

"Betul itu, Ustad. Hehehe...," sahutku.

"Wah mbok jangan ngece to, Om. Aku tidak punya potongan ustad."

"Loh, potongan itu gak penting, Sa. Tapi tausiyahmu  tentang ojo dumeh tadi memang bener, kok. Bagus. Kayak ustad beneran. Dapat dari mana, Sa?

"Dari tivi, Om....hehehee."

"Suka nyimak pengajian di tivi, to?"

"Sasa ini rajin nonton tivi kok, Pak," kata Pak Modin.

"Apalagi kalau pas acara ILC, nontonnya sambil mentheleng tak berkedip," sahut Kang Sarno yang diam dari tadi.

"Ya maklumlah, Om, orang seperti aku ini mau belajar di mana lagi kalau bukan di tivi," Sasa minta permakluman.

Terdengar pembawa acara mulai memandu upacara pelepasan jenazah, membacakan urut-urutan acara, dari pembukaan, pembacaan ayat suci, sambutan-sambutan, hingga doa pemberangkatan jenazah menuju makam. Semua pelayat pun menghentikan obrolan untuk mengikuti rangkaian acara upacara. Obrolan kami pun terhenti. Sebenarnya aku masih penasaran dengan omongan Sasa tentang shalawat tadi. Apa maksudnya? Siapa orangnya yang berani merendahkan Kanjeng Nabi? Tapi ah sudahlah. Sasa memang terkadang sangat kritis bahkan terkesan over sensitif terhadap apapun yang didengar dan dilihatnya.







Senin, 28 Oktober 2019

RADIKALISME

RADIKALISME

Sedemikian populernya istilah 'radikalisme' akhir-akhir ini, sampai-sampai sahabatku Sasa, juru parkir Soto Kartongali itu, jadi ikut penasaran. Sedemikian penasarannya Sasa, bahkan undangan kerjaan sambilan sebagai tukang pijat panggilan pun terpaksa ditolaknya malam ini. Entah apa yang dipikirkannya hingga Sasa keroyo-royo datang ke rumahku sejak bakda maghrib tadi.

Sasa datang ndelalah pas di rumahku sedang ada beberapa pemuda kumpul sejak sore berdiskusi tentang program kerjasama dengan Bawaslu Klaten, kerjasama membuat Desa Jemawan sebagai percontohan Desa Anti Politik Uang. Kehadiran Sasa kali ini benar-benar nyolong fokus. Diskusi pun mendadak terhenti. Semua antusias mbagekke Sasa seakan menyambut kehadiran seorang artis atau tokoh politik. Anak-anak muda itu juga tidak sungkan-sungkan berebut foto-selfi, dan semua dilayani Sasa dengan gayanya yang cengar-cengir bahkan terkesan ndesit itu. Sementara kubiarkan Sasa ajur-ajer dengan para pemuda, aku ke dapur membuatkan kopi kesukaannya.

"Om, jan-jane radikalisme itu apa, to? Lha kok sejak pelantikan menteri  sampai hari ini beritanya soal itu terus," Sasa mulai ngudarasa setelah nyeruput kopi panas yang baru kusuguhkan. "Kok seperti tidak ada urusan lain yang lebih penting dilakukan para menteri, ya?," sambungnya.

"Ayo, siapa bisa menjawab? Ini Pak Sasa pengin tahu tentang radikalisme," tanyaku pada para pemuda.

"Namanya juga politik, Pak Sasa," Budi tampak berminat menjawab yang pertama.

"Maksudnya bagaimana, Dik?" tanya Sasa.

"Isu radikalisme itu dagangan politik. Perlu digoreng terus-menerus agar semua  orang percaya bahwa radikalisme itu sangat membahayakan negara sehingga harus diperangi dan dibasmi. Kalau tidak, bisa bubar negara kita gara-gara ulah kaum radikal."

"Wah, kok medeni ya, Dik," Sasa tampak belum paham.

"Mas Budi, Pak Sasa ini mungkin perlu dijelaskan dulu pengertian radikalisme. Jangan jauh-jauh dululah. Bener gak, Pak Sasa?" tanya Ikhsan.

"Njih leres, Mas," jawab Sasa.

"Bener, Dik Ihsan. Coba dipahami dulu arti kata radikal dengan contoh-contoh sederhana," kucoba mengarahkan pembicaraan.

"Radikal itu seperti cara Mas Sasa memandu parkir dengan total action dan sering menolak pemberian uang," kata Thoriq.

"Radikal itu seperti masyarakat Jemawan yang sepakat menolak politik uang dalam pelaksanaan Pilkades, padahal di Desa-Desa lain para calon Kades kuat-kuatan berlomba menyebar amplop serangan fajar," Budi menyahut.

"Radikal itu ketika orang nekad jadi politisi atau pejabat dengan menghabiskan modal sangat besar, padahal sesungguhnya mereka tidak punya kemampuan mengurusi nasib negara dan bangsa," kata yang lain.

"Radikal itu ketika  seorang politisi nekad menggadaikan SKnya ke Bank demi menjaga imej dan performance, lalu untuk mengangsur cicilannya mereka nyambi jadi makelar proyek," tambah yang lain.

"Radikal itu ketika seorang pemuda berani memutuskan menikahi seorang gadis, padahal banyak gadis yang menunggu-nunggu lamarannya," sahut yang lain.

"Radikal itu seperti Pak Sasa yang dulu kondang sebagai wong ndalan ora enak dipangan, tapi tiba-tiba memutuskan rajin ibadah, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian," sahut yang lain lagi.

Kulihat Sasa yang dari tadi bengong tampak senyum-senyum disebut namanya sebagai contoh. Tampak Sasa ingin merespon.

"Sik, Mas. Berarti yang dimaksud radikal itu sesuatu yang ora umum, yang tidak biasa dilakukan orang lain?" tanya Sasa kepadaku.

"Ya begitulah kira-kira, Sa. Lalu dianggap nyleneh dan bisa mengancam kepentingan umum," jawabku sekenanya.

"Tapi kenapa hanya orang Islam yang dianggap radikal, Om? Kok yang lainnya tidak?" tanya Sasa lagi. "Saya jadi takut, Om, jangan-jangan nanti aku juga dianggap radikal?"

"Memangnya Pak Sasa berbuat apa di parkiran?" tanya Teguh.

"Bukan di parkiran, Dik. Jelek-jelek begini aku dipercaya jamaah di mesjid kampungku jadi khotib setiap Jumat Pahing. Meski ilmuku masih sangat terbatas, tapi karena amanah jamaah, ya aku harus belajar setiap hari. Kulakan ilmu, Mas."

Azan isya' terdengar bersahutan dari corong-corong masjid sekitar. Kami pun mengakhiri obrolan dan bersama-sama menuju masjid.

#serialsasa


Rabu, 23 Oktober 2019

POLITIK UANG

POLITIK UANG

Lagi-lagi pagi aku dibuat kagum oleh Sasa, sahabatku yang jadi juru parkir Soto Kartongali Jolotundo. Dari mana dia tahu berbagai informasi seputaran Jatinom yang terkini dan seolah A-1? Sedemikian jangkep penguasannya atas berbagai kejadian terkini. Mungkinkah dia dapat info dari intel Polsek yang kebetulan suka mampir nyoto? Tidak mungkin. Seorang intel pasti pintar menjaga rahasia. Hanya atasannya yang boleh tahu semua info yang didapatkan dan tidak mungkin membuka infonya di warung soto atau angkringan. Atau, jangan-jangan Sasa punya prewangan dari bangsa jin yang secara khusus ditugasi mensuplay informasi? Kayaknya juga tidak mungkin. Memangnya Sasa sekelas sama Nabi Sulaiman yang punya asisten hebat bernama Jin Ifrid? Pasti tidak. Tapi entahah. Jalma tan kena kinira, begitu orang Jawa bilang. Tidak gampang menilai orang hanya dari penampilannya.

"Wah, Desa Sampeyan hebat, Om. Selamat, ya. Ikut bangga," kata Sasa menyambutku di parkiran.

"Hebat apanya?"

"Pilkades kemarin berlangsung bersih, paling bersih, dan sukses tanpa ekses."

"Sasa kok tahu?"

"Ya tahulah, Om. Kabar Pilkades se Jatinom aku tahu semua."

"Wah elok...."

"Umumnya Pilkades diwarnai maraknya Politik Uang, Om. Para timses calon Kepala Desa seperti berlomba membagi amplop. Kuat-kuatan membeli suara rakyat.  Bahkan biasanya dukun-dukun pun dilibatkan untuk memuluskan usahanya."

"Mosok to, Sa?"

"Bener, Om." Lalu Sasa nggacor cerita tentang beberapa kejadian Pilkades di desa-desa tetangga. Ada Desa yang pemenangnya bahkan sampai menghabiskan dana 1 M, ada yang habis 700 juta, 500 juta, dan sebagainya. Konon ada calon yang kalah dan stres karena sudah menghabiskan dana hingga 800 juta. Ada juga Desa yang sampai terjadi pertumpahan darah antar warganya dan hingga kini kasusnya masih ditangani kepolisian.

"Yang paling sulit itu memulihkan paseduluran antar-warga yang kadhung retak, Om. Orang-orang yang beda pilihan masih plirik-plirikan kalau ketemu. Tidak sedikit yang jadi jothakan, tidak bertegur-sapa, putus hubungan."

"Kasihan ya, Sa. Butuh waktu lama memulihkannya."

"Sebenarnya calon yang menang maupun kalah sama-sama mumet mencari cara mengembalikan modal. Tapi masih mending yang menang, masih bisa cari-cari seseran atau nyunat Dana Desa. Lha yang kalah, Om? Mesakke...."

Semangkok soto sudah habis kusantap dengan nikmat sambil mendengarkan update info dari Sasa. Dalam hati, aku sangat bersyukur berbagai kejadian itu tidak terjadi di Desaku.

"Kudengar Desa Sampeyan akan dijadikan percontohan Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu Klaten, Om. Hebat itu. Memang sangat layak."

"Sangat layak piye, Sa?"

"Om, selama ini rakyat dibodohi oleh para politisi, orang-orang yang berebut kekuasaan. Seolah-olah rakyat ini kere kabeh, tidak mau memilih kalau tidak disogok amplop nyeket ewu. Seolah rakyat tidak tahu mana orang baik mana orang jahat. Padahal sesungguhnya justru karena para politisi sendiri yang kurang percaya diri, punya kelemahan dalam bermasyarakat, tidak yakin dirinya akan dipilih rakyat, tidak berani bersaing secara sehat, lalu nekad mengumpulkan modal besar untuk nyogok rakyat agar dipilih. Kelakuan seperti ini yang bikin rusak, Om."

"Terus, Sa...."

"Ternyata itu semua tidak berlaku di Desa Sampeyan, Om. Kudengar para calon Kades kemarin tidak keluar uang sedikitpun selain sekadar biaya nyuguh tamu-tamu yang datang sejak seminggu sebelum dan sesudah pemilihan. Pengeluaran yang wajar sebagai tuan rumah."

"Ya memang, Sa. Bahkan pemenangnya sampai sekarang masih pekewuh karena belum ketemu cara berterima kasih pada timses dan para relawannya. Mau ngasih sekadar uang bensin saja ditolak lho, Sa. Timses dan masyarakat hanya minta Kades terpilih nanti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, adil, dan jujur."

"Ya itulah yang kumaksud layak dijadikan percontohan, Om. Rakyat harus baik dulu kalau ingin melahirkan pemimpin yang baik. Kalau semua masih suka aji mumpung, tidak jujur, tidak prasojo, tentu hanya akan melahirkan pempimpin yang suka maling, suka korupsi, menumpuk-numpuk harta untuk tujuh turunan."

Pagi mulai beranjak siang, saatnya aku pulang ngurusi pekerjaan. Pasti di rumah sudah terdengar karyawan hiruk-pikuk menggenjot mesin-mesin jahit.

"Tak bali sik yho, Sa."

"Njih, Om. Nderekke....."

#serialsasa




Kamis, 17 Oktober 2019

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Nanti siang bakda Jumat,  tanggal 18 Safar / 18 Oktober 2019, adalah puncak acara haul Ki Ageng Gribik di Jatinom, Klaten, ditandai dengan acara sebaran apem. Berton-ton kue apem disebarkan dari dua panggung/menara yang dibangun di lapangan Klampeyan (Plempeyan) di pinggir kali bawah Masjid Gedhe Jatinom. Berjuta orang dari berbagai penjuru datang dengan suka-cita ke acara itu. Ada yang sekadar nonton dari kejauhan, banyak juga yang turun ke lapangan ikut rebutan, konon ada juga yang sengaja datang dari jauh untuk 'ngalap berkah' ikut berebut kue yang terbuat dari tepung beras itu lalu dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Konon banyak orang meyakini kue apem Yaqawiyyu bisa untuk jimat penglarisan, untuk menjaga sawah agak tidak diserang hama, atau bahkan untuk obat keluarganya agar sembuh dari sakit.

"Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu," begitu kata Sasa mengutip satu pepatah. "Kita ini jangan mengambil hak Gusti Allah menilai niat seseorang," lanjut Sasa.

"Iya memang benar, Mas Sasa, tapi kita kan harus hati-hati supaya tidak terjebak syirik, dosa yang tidak terampuni," sanggah Amat.

"Loh, soal hati-hati dan mewaspadai hati kita sendiri memang harus, Dik. Kita harus selalu waspada jangan-jangan niat kita salah. Tapi jangan pernah menilai niat dan hati orang lain. Jadi biarlah acara tahunan Yaqawiyyu itu tetap berlangsung sebagai hiburan rakyat yang murah-meriah."

"Kalau saya melihat sebaran apem itu satu kegiatan yang mubadzir, Mas Sasa. Makanan segitu banyaknya kok dilempar-lemparkan. Apa gak ada cara yang lebih baik, yang lebih santun, yang lebih berbudaya?," kata si Hendrik.

"Bagus pertanyaanmu itu, Dik. Saya juga pernah berpikir alangkah bagusnya kalau masyarakat Jatinom sebagai tuan rumah berupaya menghormati tamu-tamunya yang ingin mendapatkan kue apem itu. Misalnya, setiap keluarga menyediakan kue apem dibungkus pakai dos berisi 3-5 buah, lalu dibagikan pada orang yang lewat di depan rumahnya."

"Ya itu maksud saya, Mas. Jadi orang gak usah rebutan, tapi bisa makan apem dengan nyaman di setiap rumah orang Jatinom," kata Hendrik.

"Ya tapi terus gak ada lagi acara Sebaran Apem, Om?," tanya Ifan.

"Diganti acara Pesta Apem, Mas. Malah bagus itu. Semua orang Jatinom bisa sedekah apem," sahut Sasa.

"Ada istilah selain pesta gak, Mas? Kesannya kok kurang sakral, ya."

"Tapi gak apa-apa itu, Om, rakyat kan sudah biasa dengan pesta-pesta. Ada pesta pernikahan, ada pesta ulang tahun anak, dan sebagainya," kata Hendrik.

"Iya betul, Dik. Rakyat juga sudah biasa ikut pesta demokrasi, kok. Tapi isinya ya cuma janji-janji politik dan sebaran amplop. Nasib rakyat selama lima tahun cuma dihargai seket-ewu. Para politisi seperti berlomba ngadakan sebaran amplop. Tragisnya, begitu usai pemilu, rakyat menangis karena harga-harga kebutuhan hidup naik semua, dan orang-orang yang dipilihnya ternyata ketangkap KPK karena korupsi. Rakyat kapusan terus," Sasa mulai berpikir politik.

"Jadi masih mending sebaran apem Yaqawiyyu ya, Mas Sasa?"

"Ya jelas, Dik. Sebaran apem mengandung maksud agar orang yang makan apem mendapat kekuatan menjalani hidup. Kalau sebaran amplop justru bikin rakyat semakin lemah, sementara sebagian lainnya semakin ngawu-awu berkuasa dan korupsi setiap saat."

Obrolan di warung Kang Torong pun bubar karena udara sudah terasa anyep tanda waktu sudah dini hari.

#serialsasa

Kamis, 15 Agustus 2019

DI GONTOR SEMUA SAMA

DI GONTOR SEMUA SAMA

Untuk yang ke sekian kalinya, malam ini lagi-lagi kami harus rela tidur di hotel bintang sejuta alias nggelar tikar beratapkan langit di pelataran Pondok Gontor Putri 1 Mantingan, Ngawi. Malam ini kami datang pukul 20.00, 30-an gazebo yang berdiri di pelataran dan 30-an kamar Wisma Darussalam sudah terisi semua. Beberapa tenda tampak sudah berdiri di bawah-bawah pohon, menandakan para wali santri itu juga tidak kebagian gazebo atau kamar. Beruntung mereka sudah menyiapkan tenda dari rumah. Lha kami? Ndelalah tenda yang sudah kami beli di Mina tahun 2011 ketlingsut entah di mana kami menyimpannya.

Jumat, 26 Juli 2019

NASI GORENG

NASI GORENG

Sudah lama aku tidak ngajak dolan sahabatku Sasa. Dulu sering kuajak dia keluar malam meski sekadar cari wedangan di warung hik dan ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman sesama penggemar sego kucing. Beberapa bulan terakhir ini, pertemuan kami paling hanya di tempat kerja Sasa, warung Soto Kartongali, atau di rumahku bila kebetulan Sasa mampir setelah mijat pelanggan. Malam ini tetiba aku ingin ngajak Sasa menikmati kuliner malam di kota Klaten. Ada warung bakmi jowo favoritku yang pasti Sasa belum pernah merasakannya.

Sasa lagi ngesis di halaman rumahnya ketika aku datang, lalu tergopoh-gopoh mengajakku duduk di amben di teras.

"Ngunjuk teh ya, Om?, Sasa menawariku minum teh.

"Gak usah, Sa. Ayo kita keluar saja jalan-jalan."

"Siap, Om."

Rabu, 10 Juli 2019

MUKENA TRAVELING

MUKENA TRAVELING

Sering teman-temanku bertanya tentang Bunda Collection, usaha konveksi kami di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka antara lain: Sejak kapan kami punya usaha konveksi? Produksi apa saja? Ada berapa karyawan saat ini? Tokonya di mana? Dikirim ke mana saja? Dan sebagainya.

Baiklah, Nda, akan kuceritakan sepintas-kilas. Kami merintis usaha konveksi yang kemudian kami beri nama Bunda Collection ini sejak akhir 2004. Waktu itu kami baru pindahan dari Jogja, pulang kampung alias hijrah atau boyongan pindah rumah ke Jatinom, Klaten untuk nemani ibuku yang sedang sakit. Sambil ngancani ibuku, tentu kami pun harus krekel-krekel berusaha mencari kesibukan dan rejeki. Malumlah, semua pekerjaan di Jogja kami tinggalkan dan kami sudah mantap jiwa untuk memulai hidup dari nol di Klaten. Modal kami hanya sedikit kemampuan menjahit istriku, Erwina Ali, yang sempat ikut kursus dasar di BLK Kotagede.  Diawali dari istriku menjahit baju seragam sekolah anakku, lalu menjahit baju lebaran. Ternyata beberapa tetangga dan kerabat ikut menjahitkan baju lebaran. Nah, dalam proses inilah ada ide dan peluang usaha memproduksi jilbab, khususnya jilbab pesta, model jilbab yang dibutuhkan ibu-ibu bila ada kondangan dan acara-acara resmi. Makumlah, setiap habis lebaran memang musim kondangan, dan umumnya ibu-ibu suka tampil matching dan tampak cantik. Kebetulan ada teman yang punya toko busana dan komitmen akan membantu memasarkan jilbab buatan kami. Maka dari sinilah usaha konveksi kami bermula dan masih tanpa nama. Dengan sebuah mesin jahit, dengan modal pas-pasan, dan selebihnya hanya nekad karena hidup harus terus bergerak, kami pun membuat beberapa buah jilbab yang modelnya kami dapatkan secara ATM (amati, tiru, modifikasi) dari gambar di sebuah majalah wanita. Alhamdulillah, jilbab-jilbab kami laku keras di toko temanku.

Usaha konveksi ini betul-betul hal baru bagi kami waktu itu, Nda, bahkan bisa dikatakan ahistoris. Maklumlah, selama di Jogja kegiatanku lebih banyak di dunia kesenian dakwah, sejak di Sanggar Shalahuddin UGM hingga di komunitas Maiyah Cak Nun - Kiai Kanjeng. Ijazahku dan istriku juga sama-sama dari Sastra UGM, tidak ada hubungannya dengan ilmu manajemen bisnis apalagi desain dan jahit-menjahit. Tapi mungkin historisitas atau benang merahnya justru dengan masa awal kegiatanku di Sanggar Shalahuddin UGM yang getol mengkampanyekan pemakaian jilbab melalui pementasan Teaterikalisasi Puisi Lautan Jilbab karya Cak Nun di Jogja dan beberapa kota lain yang sempat menggemparkan jagad perteateran Indonesia pada 1988-1990. Waktu itu masih sangat sedikit wanita memakai jilbab, dan para pemakai jilbab sering diintimidasi bahkan dipecat dari sekolah, kampus, dan tempat kerjanya. Diakui sejarah atau tidak, sejak pementasan Lautan Jilbab yang ditonton ribuan orang di setiap event itu, semakin banyak kaum muslimah berani terang-terangan mengganti penampilannya dengan berbusana muslimah dan berjilbab tanpa rasa takut. Jilbab seakan menjadi simbol keberanian dan pernyataan, "Aku ini seorang muslimah."

Nama Bunda Collection baru kami temukan menjelang pameran Otonomi Daerah di JEC Jogja pada Mei 2005 atas sponsor dari Dinperindakop Pemkab Klaten. Alhamdulillaah, pada pameran pertama itu produk kami laku keras, semua barang terjual habis. Maka kami pun semakin percaya diri dan tuman mengikuti pameran-pameran di berbagai kota.  Tanpa ragu-ragu, kami usung aneka jilbab cantik dengan bendera Bunda Collection ke berbagai event pameran di Semarang, Jakarta, Bandung, Solo, Batam, hingga ke Jordania dan kota-kota besar di Rusia. Di sinilah pengalamanku dulu sebagai Pimpro pentas-pentas Sanggar Shalahuddin dan kemudian sebagai manajer kegiatan Cak Nun-Kiai Kanjeng sangat terasa manfaatnya.

Lalu apa saja produk Bunda Collection? Pada lima tahun pertama, produk kami masih berupa aneka jilbab  dan bandana cantik. Memasuki tahun keenam, kami mulai membuat busana secara limited edition  alias tergantung pesanan atawa by order. Memasuki tahun ketujuh, kami mulai memproduksi aneka mukena. Dan memasuki tahun ke sepuluh, 2015, kami mulai konsentrasi memproduksi aneka mukena traveling, yaitu jenis mukena yang simpel dan cocok dibawa bepergian ke mana saja, baik ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, atau ke mana pun tujuan bepergian. Betapa wagunya seorang muslimah bepergian tanpa membawa peralatan sholat di tasnya, bukan? Apa tidak malu setiap kali mau sholat harus cari pinjaman mukena atau pakai mukena di lemari mesjid dan mushola pom bensin? Sudah tidak jamannya lagi, Sis. Makanya siapkan mukena traveling di tas Anda.

Ada berapa karyawan Bunda Collection saat ini?
Dulu, kami mengawali usaha ini hanya berdua. Istriku yang merancang produk, memilih kain, warna, dan menjahitnya, sedangkan aku sebatas nemani belanja, bantu motong kain, melipat/mengemas produk jadi dan memasarkannya. Di samping itu, aku kabagian tugas melayani ngobrol tamu-tamu serta lobi-lobi untuk membuka peluang pasar dan pengembangan usaha. Mulai bulan keempat, ketika kami sudah merasa keteteran, kami mulai merekrut karyawan. Alhamdulillah, sejak itu hampir setiap hari banyak gadis dan ibu-ibu muda datang melamar kerja. Karena kami memang berniat membuka lapangan kerja di desa, maka hampir setiap pelamar kami terima, bahkan yang belum punya ketrampilan apa pun. Yang sudah bisa menjahit kami beri tugas menjahit, sedangkan yang belum bisa apa-apa kami ajari memotong kain, packing, atau ketrampilan memberi aksen produk dengan handmade sulam pita dan payet.

Pada 2009 hingga awal 2011, karyawan kami ada 150 orang. Seiring perkembangan jaman, pada awal 2012 ketika  produk-produk impor dari China mulai masuk di pasaran secara masif ditambah lesunya daya beli masyarakat, kami pun harus merasionalisasi karyawan dari 150 orang menjadi 70 orang. Berat, tapi harus kami lakukan. Waktu pun terus berjalan dan kami harus terus produksi dengan manajemen yang lebih ketat. 

Tetapi apa boleh buat. Sejak 2012 itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil menggaet banyak investor untuk merelokasi pabrik-pabrik TPT (Tekstil dan produk Tekstil) dari Jabodetabek dan Jabar ke Jateng khususnya di wilayah Semarang dan eks-Karesidenan Surakarta. Konsekuensinya, Pemprov Jateng harus memfasilitasi rekrutmen ribuan tenaga kerja lulusan SMA/SMK se-Jateng. Imbas dari itu, UMKM/IMKM di Klaten mulai kesulitan mencari tenaga kerja, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menutup usahanya. Demikian juga Bunda Collection, hingga saat ini kami juga kesulitan mencari tenaga kerja baru, sementara beberapa naker lama secara alamiah harus resign setelah menikah karena harus mengurus bayinya. Alhamdulillah  saat ini karyawan kami masih ada 30 orang. Mereka sangat loyal dan produktif bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tokonya di mana? Produk Bundaco dikirim ke mana saja?
Begini, Nda, sejak awal kami memang sudah memilih dunia produksi, bukan trading. Makanya kami tidak harus punya toko sendiri. Cukuplah bagi kami menjual produk ke toko-toko di Jatinom, Klaten, Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta, dan sebagainya. Dulu ketika peradaban kita masih off-line, maka kami harus aktif ikut pameran atau menawarkan produk ke toko-toko busana. Sekarang jamannya sudah berubah, kita masuk ke peradaban digital dan on-line. Pola pemasaran kami pun harus berubah, tidak lagi mengandalkan toko-toko pelanggan, tapi bermitra dengan anak-anak muda yang menekuni marketing on-line. Mereka pandai menjual, tapi tidak pintar memproduksi karena membangun tim produksi sungguh tidak mudah. Makanya, sejak tiga tahun terakhir produk kami lebih banyak terjual melalui mitra-mitra kami para pemain on-line dan mereka bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. 

Anda pemain on-line dan berminat untuk bergabung memasarkan produk Bunda Collection sebagai reseller? Boleh. Boleh banget.

Selakan intip dulu IG bundaco.klaten atau langsung buka Web www.bundaco.com//reseller. Anda akan dipandu oleh admin reseller, dan bisa bertanya-tanya atau diskusi seputar fasilitas yang kami berikan untuk reseller beserta profitabilitas ya.

Selamat Bergabung. Semoga berlimpah keberkahan...aamiin.


#mukenatraveling
#produsenbusanamuslim

#produsenmukenatravelling

#jilbabcantik

#jilbabpesta

#jilbabsyar'i

Selasa, 02 Juli 2019

SAPI KURBAN

SAPI KURBAN

Seperti tahun-tahun yang lalu, seusai lebaran di antara kesibukan ngurusi sekolah anak-anak, aku menemani Ghofur keponakanku mengurus sapi-sapi di kandang ternaknya, peternakan sapi Al-Kautsar Klaten. Namanya juga menemani, sesungguhnya aku tidak pernah terlibat dalam hal perawatan sapi seperti meracik dan memberi pakan, memvaksin, memandikan, apalagi ngguyang atau memandikan dan nimpal lethong atau kotorannya sapi. Tidak sama sekali. Aku hanya nemani ngobrol sambil ngopi di gerobak yang terparkir di depan kandang di sore hari. Jangan bayangkan aroma bau lethong. sapi, tapi nikmati saja asyiknya suasana di antara suara ceriricit burung-burung sriti yang beterbangan di atas kandang, begitu pesan Ghofur.

Ghofur ini anak mbakyu sepupuku. Usianya hanya 2 tahun di bawahku, dan sejak masih anak-anak dulu, dia sudah sangat akrab denganku hingga seperti adikku sendiri.  Setamat kuliah ekonomi di Malang, dia memilih pulang menekuni dunia peternakan sapi yang sudah dirintis bapaknya. Mungkin karena ilmu manajemen yang diperolehnya dari kampus dia terapkan sungguh-sungguh, peternakan Al-Kautsar dapat berkembang pesat. Saat ini ada 3 kandang permanen kapasitas 200an ekor sapi dan siap melayani kebutuhan kurban.

Bila menjelang musim kurban tiba seperti saat ini, Ghofur luar biasa sibuknya. Setiap saat terutama di sore hari banyak tamu berdatangan dari berbagai desa dan kota. Ada yang masih sekadar survey atau melihat-lihat sapi, dan banyak juga yang langsung menawar harga. Bila sudah deal,  mereka membayar uang muka 1/7 dari harga. Sapi-sapi akan kami rawat dengan baik, dan pada hari H-1 kami antar ke alamat pemesan. Begitu aturan mainnya. Di sinilah peranku, membantu Ghofur menemani tamu-tamu yang pada umumnya panitia kurban atau takmir masjid mewakili jamaahnya.

Sore ini sungguh surprize. Ada serombongan tamu datang naik sepeda motor. Di antara enam orang yang datang itu ternyata ada sahabatku Sasa. Ya, Sasa, si juru parkir Soto Kartongali Jolotundo yang legendaris itu.

"Loh Om, kok di sini?," Sasa bertanya kepadaku sambil pringas-pringis menyodorkan tangan mengajak salaman.

"Lah...Sasa kok juga ke sini?," kubalas bertanya.

"Iya, Om. Mau pesen sapi kurban untuk jamaah masjid kami," jawab Sasa.

"Wah hebat. Jadi kamu dan teman-temanmu ini panitia kurban, to?"

"Iya, Om. Alhamdulillah calon peserta kurban di mesjid kami tahun ini lumayan banyak. Yang sudah mendaftar ada 30 orang. Mudah-mudahan masih nambah hungga 35 orang agar bisa genap 5 sapi," jawab Sasa.

"Monggo dilihat-lihat sapinya dulu, Bapak-Bapak," ajak Ghofur pada tamu-tamunya.

Mereka pun masuk ke kandang melihat sapi satu-persatu. Ghofur menerangkan bahwa semua sapinya sudah divaksin agar sehat dan tidak kena penyakit cacing hati, juga menjelaskan harganya dari yang terendah sampai yang tertinggi.

"Harga ini sudah termasuk bea perawatan, Pak, termasuk free bea pengiriman khusus untuk wilayah Klaten, Jogja, Solo," kata Ghofur meyakinkan tamunya.

Sasa sahabatku hanya ikut masuk sebentar lalu keluar dan kembali duduk denganku.

"Hebat kamu, Sa."

"Hebat pripun, Om?"

"Bisa jadi panitia kurban."

"Ya biasa saja, Om. Ini kan untuk kepentingan bersama, kepentingan jamaah. Kebetulan aku termasuk yang diamanahi, Om."

"Lha ya itu hebatnya. Kamu termasuk orang yang diamanahi. Berarti kamu dipandang amanah."

"Iya ya, Om? Padahal aku sama sekali tidak kampanye minta dipilih, apalagi pakai amplopan....hahahaa."

Dasar Sasa, omongannya suka nyindir-nyindir politisi. Ngomong apapun bisa terkoneksi dengan peristiwa politik. Wong edyan.

"Aneh ya, Om."

"Apa yang aneh, Sa?"

"Orang sekarang banyak yang tega mengorbankan rakyatnya."

"Maksudnya?"

"Orang berebut kuasa dengan tega mengorbankan 700an petugas KPPS."

"Wah ya jangan gitulah, Sa. Rausan petugas KPPS itu meninggal karena kecapekan sehingga penyakitnya kambuh dan tidak tertolong. Jadi bukan dikorbankan, Sa. Hati-hati kamu."

"Kalau rakyat seperti kita ini soal kurban kan karena dherek dhawuh Kanjeng Nabi, Om. Kita kurban kambing atau sapi dengan cara urunan dengan ikhlas mengharap ridlo Allah SWT. Lha kalau orang rebutan kekuasaan sampai tega mengorbankan paseduluran bahkan nyawa orang lain, itu ndherek dhawuh siapa ya, Om?"

"Iya ya, Sa. Mungkin mencontoh Qabil yang tega membunuh Habil. Atau jangan-jangan orang sekarang ini memang lebih banyak yang keturunan Qabil ya, Sa? Sedangkan keturunan Habil cuma sedikit dan kalah terus."

Teman-teman Sasa dan Ghofur keluar dari kandang, rupanya sudah cukup urusan mereka. Kulihat teman Sasa yang tertua, mungkin ketua panitia atau bendaharanya, menyerahkan uang tanda jadi kepada Ghofur.

Hebat, takmir masjid desa itu langsung memesan 5 ekor sapi.
Lantas kami pun bersalam-salaman sebagai tanda sudah akad.
Sasa dan rombongannya pun langsung pamit pulang. Aku dan Ghofur masih melanjutkan ngobrol di gerobak, menghabiskan kopi sambil menunggu saat azan maghrib berkumandang dari masjid sebelah.






Senin, 01 Juli 2019

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADIYAH ROJOLELE ORGANIK

MEROKET, PRODUK UNGGULAN AGRIBISNIS MUHAMMADYAH: ROJOLELE ORGANIK

Oleh: Among Kurnia Ebo

Seharian kemarin saya menemani teman-teman Lazizmu dan MPM PC Muhammadyah Babad Lamongan, Jatim, di bawah pimpinan mas Eko Hijrahyanto Erkasi dan Edy Syahputro, yang lagi studi banding model pemberdayaan agribisnis jamaah Muhammadyah khususnya yang berprofesi sebagai petani di desa Gempol, Karangaanom, Klaten. Selaku tuan rumah yang dikunjungi untuk studi banding ini adalah Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PD Muhammadyah Klaten.

Model pemberdayaan petani versi Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadyah adalah concern yang sudah lama dirintis semenjak jaman Pak Said Tuhuleley (alm). Bahkan concern Pak Said pada gerakan pemberdayakan masyarakat di tingkat terbawah khususnya para petani melalui MPM inilah yang telah mengantarkannya memperoleh anugerah Doktor Honoris Causa dari UMM Malang. Slogan "Selama Rakyat Masih Menderita Tidak Ada Kata Istirahat" yang beliau canangkan seakan telah menjadi ruh gerakan MPM PP Muhammadiyah hingga kini. Tujuan dari 'Jihad Kedaulatan Pangan' adalah mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam hal ini, kesejahteraan petani sebagai produsen pangan dapat meningkat dengan menghasilkan produk yang berkualitas (halalan-thoyiban) dan diterima oleh pasar. Sejauh ini realitas kehidupan para petani selama ini masih sangat memprihatinkan. Mereka berada pada struktur sosial-ekonomi terbawah. Kondisi ini meniscayakan kehadiran para aktivis Muhammadiyah untuk terjun ke sektor pertanian dan memberikan pendampingan agar petani dapat berdaulat di negeri sendiri.

Salah satu pilot proyek yang sudah dipandang berhasil (sebagai percontohan) adalah gerakan Tani Bangkit di Gempol, Karanganom, Klaten. Gerakan yang diinisiasi oleh MEK PDM Klaten dan Lazismu PP ini jumbuh dengan visi MPM PP yang telah mendeklarasikan pembentukan JATAM (Jamaah Tani Muhammadyah) pada Maret 2018 guna masifikasi gerakan pemberdayaan petani. Para petani Gempol sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, atas inisiatif sendiri, telah membentuk kelompok Tani Organik dalam wadah Kelompok Tani yang dibentuk oleh Pemerintah Desa. Mereka fokus mengembangkan pertanian organik, dengan varietas padi Rojolele.

Rojolele adalah varietas padi unggulan dan khas Klaten yang konon dulunya adalah beras yang paling disukai raja-raja Mataram. Varietas ini sangat istimewa terutama dalam hal rasa yang pulen dan wangi. 

"Dulu usia tanamnya saja sampai 5 bulan lebih 20 hari. Oleh karena itu, varietas istimewa ini sudah lama langka di pasaran karena para petani enggan menanamnya," terang Pak Rahmadi pengurus Gapoktan. "Melihat potensi lokal ini, Pemkab Klaten bekerjasama dengan BATAN telah melakukan upaya pemuliaan Rojolele. Dengan sentuhan teknologi dari para ahli nuklir, usia tanam Rojolele dapat diperpendek menjadi 108 hari dengan tinggi tanaman yang normal, sama denganntanaman padi pada umumnya," lanjutnya.

Gerakan Tani Bangkit Muhammadiyah hadir di Gempol guna membantu pengembangan budidaya Rojolele Organik. Bila sebelumnya di Gempol baru ada lahan padi organik seluas 5 hektar, maka dengan program yang dibiayai oleh Lazismu PP ini akan terjadi penambahan  luas lahan 16 hektar. "Saat ini penambahan baru berjalan efektif 7 hektar," kata Pak Rahmadi.

"Full 100% organik, ya. Bukan hanya hasilnya. Tapi dari prosesnya hingga perlakuan akhirnya. Kita juga sudah mendapat sertifikasi dari Lesos (Lembaga Sertifikasi Organik). Prosesnya dulu sangat rumit. Monitoring dari Lesos juga rutin dilakukan. Tidak boleh ada SOP yang salah, meski hanya satu." jelas Wahyudi Nasution, Ketua MEK (Majelis Ekonomi Kewirausahaan) PDM Klaten yang juga anggota MPP (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadyah, yang memandu dan menjamu para tamu ini, baik saat rapat, makan siang, maupun di lahan dan gudang pengemasan.

Padi Rojolele yang dihasilkan para petani JATAM di Klaten dikelola dengan manajemen yang rapi dan terpadu sehingga standar kualitasnya dapat selalu dijaga. Pengemasannya pun sudah memakai plastik dan mesin vacum sehingga beras akan awet sampai dua tahun.

"Padi organik Rajalele ini kami jual dalam kemasan  kardus berisi 20 kg. Hargai mulai Rp 450.000 per kardus, dan ada rabat/potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak. Sementara ini masih beredar di kalangan warga Muhammadyah. Kami berikan apresiasi yang tinggi kepada Universitas Muhammadyah Yogyakarta yang sejak 8 bulan lalu telah membeli 5 ton per bulan untuk dosen dan karyawan di UMY. Sinergi ini jelas sangat penting guna memberi semangat kepada para Petani JATAM Gempol. Pembeli yang lain masih skala kecil, baik lewat koperasi maupun personal," jelas Wahyudi, yang juga Direktur Utama pabrik konveksi jilbab dan mukena travelling  BUNDA Collection Klaten.

Pada pertemuan kemarin, terjadi tanya-jawab menarik antara tamu dari Babat dengan para Pengurus Gapoktan. Salah satunya adalah pertanyaan, "Bagaimana cara menanam padi organik di lahan tadah hujan seperti di Babat?" Pak Dadi, salah satu Pengurus Gapoktan, menjawab dengan yakin karena pernah mencobanya. Dia menanam padi di lahan tadah hujan dengan trik khusus, dan ternyata berhasil.

"Ternyata padi justru bagus dikembangkan di lahan yang tak terlalu melimpah airnya," kata Pak Dadi. 

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah," Dari mana kita harus memulai pertanian organik?"

Pak Satibi, pengurus senior Gapoktan pun menjawab, "Yang penting ada niat dulu dari beberapa orang yang siap memulai sebagai pelopor. Tidak harus banyak. Beberapa orang itu membentuk lembaga, ada oengurus dan ada pembagian kerja. Lalu mau mempelajari SOP Organik dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh."

"Model ini sudah mulai merambah beberapa daerah. Kalau yang melakukan studi banding dan magang di Gempol sudah ada ratusan orang. Tapi yang mempraktekkan langsung baru beberapa daerah," imbuh Pak Rahmadi.

Capek tapi seneng. Itu yang saya rasakan. Entahlah, kalau ada program-program Muhammadyah yang positif, produktif, dan bervisi pemberdayaan jamaah, saya berasa antusias, bersemangat sekali menjalaninya. Saya sendiri berharap keberadaan JATAM ini akan menjadi salah satu amal usaha Muhammadyah unggulan di masa depan, yang langsung menyentuh lapis kehidupan masyarakat terbawah.

"Kita ingin kesejahteraannya meningkat. Cara budidayanya juga terukur dan benar. Sehingga pasar akan dengan senang hati menerima dengan harga yang pantas. Selama ini petani cenderung asal dalam budidaya dan hasilnya pun bakbuk, impas. Ini yang ingin kita terobos. Dengan sinergi bersama Lazizmu dan pihak kampus, saya optimis program idealis ini akan berhasil," jelas Wahyudi saat menjamu tamunya di warung tengkleng Pak Kamto Jatinom yang legendaris itu.

Islam Agamaku
Muhammadyah Gerakanku
Aku Bangga Jadi Warga Muhammadyah

Sabtu, 29 Juni 2019

LEGAWA

LEGAWA

"Wah baru kali ini aku kalah Pilpilan, Om," Sasa mengawali obrolannya sore ini. "Ternyata sangat tidak enak, ya." lanjutnya.

"Nyeseg ya, Sa?" tanyaku.

"Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah."

Istriku datang menyajikan dua gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi, dan biasanya cukup betah ngobrolnya.

Mbok sudah, Sa. Gak usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”

"Penginku juga begitu, Om. Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena dibuat kalah. Diakali....”

“Lha kok gitu, Sa?”

“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi," kata Sasa menampakkan kekesalannya. “Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pamain lawan, dia pasti diganjar kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.

“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Primes, Liga Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”

“Beda pripun, Om?”

 “Loh, Sasa pasti masih ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh botoh alias penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI. Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”

“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”

“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”

“Yang mana?”

Ojo gumunan, ojo kagetan. Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”

“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih dioyak-oyak diajak rekonsiliasi, disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan  Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”

“Termasuk Sasa, kan?”

“Ya termasuk Sampeyan ini....wkwkwk.”

“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”

“Pripun, Om?”

“Omongan politisi kok tok gagas, tok rasakke. Mbok nganti modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”

“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”

“Itu rak karepmu, Sa? Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea, lho.”

“Maksudnya?”

“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa sering tampil di tivi,  semua pakai biaya. Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga. Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya, Sa. Rugi sendiri.”

Wah jiaan....nasib...nasib. Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan. Jindul tenan.....”

“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya masih gampang kesengsem amplop dan rayuan gombal. Iya to, Sa?”

“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”

“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya."

"Maksudnya?"

"Rakyat seperti kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”

“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab, kan?”

“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”  

"Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?"

"Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur."

"Bisa rusak-rusakan ya, Om.
Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”

“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu, bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”

“Njih, Om. Matur nuwun. Saya pamit dulu, ya.”

Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib. Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.


Kamis, 20 Juni 2019

ZONASI

ZONASI

"Om, Sampeyan ini kenapa, to, diajak ngobrol dari tadi kok kesannya males-malesan, tidak nglegakke?," protes Sasa pagi ini.

Bagiku, soto dan teh nasgithel pagi ini lebih menggairahkan daripada obrolan politik ala Sasa. Sengaja sejak tadi kubiarkan Sasa  nggacor tentang kesannya setelah nonton sidang MK tentang sengketa Pilpres di tivi. Aku males nanggapi. Tapi tumben kali ini dia berani protes.

"Aku jadi kayak orang ngomyang, ngomong sendiri dari tadi."

"Piye yho, Sa, aku harus ngomong apa coba? Lha wong aku memang tidak paham politik, kok. Mengikuti perdebatan para pakar hukum tata negara juga tidak mudheng. Orang-orang ampuh, hebat semua, omongannya juga masuk akal semua. Jadi gak jelas mana yang benar mana dan yang tidak benar. Tapi yang pasti semua ingin menang."

"Tapi kesannya Sampeyan jadi gak peduli nasib bangsa dan negara lho, Om."

"Ngono yho, Sa?"

"Iya. Pertandingan belum selesai, tapi Sampeyan sudah leren duluan. Tinggal gelanggang colong playu namanya."

"Sa, aku kan bukan ikut bertanding. Kamu kan aku ini bukan pemain politik? Cuma rakyat biasa. Sebagai rakyat, aku juga sudah ikut Pemilu, sudah nyoblos caleg dan capres-cawapres sesuai selera. Menurutku itu sudah cukup, tinggal nunggu hasilnya."

"Justru kita harus mengawal pilihan kita sampai akhir, Om."

"Apa kita harus ikut demo ke Jakarta biar terkesan peduli, Sa? Ya ayo siap-siap ndang mangkat."

"Ya bukan begitu, Om. Paling tidak kita ini harus mengikuti berita politik biar tidak ndong alias lholak-lholok kalau diajak bicara politik. Aku ini, Om, meski cuma tukang parkir, tapi gak boleh ketinggalan berita supaya bisa meladeni semua obrolan orang, termasuk politik. Biar tidak ndesit, Om."

Jindul tenan. Berarti menurut Sasa aku ini ndesit karena tidak mudheng politik. Untunglah, belum sempat kutanggapi, ada teman datang dan duduk bergabung di meja depanku. Mas Parto namanya, seorang pegawai kecamatan yang kukenal waktu ngurus KTP dulu. Kami pun salaman dan basa-basi tanya kabar layaknya kawan yang jarang ketemu.

"Masih pagi kok sudah keluar kantor to, Mas Parto?" tanyaku.

"Iya, Mas. Tadi sudah ke kantor, terus ijin ngurus sekolah anakku, Mas."

"Anaknya masuk sekolah mana, Mas?"

"Di SMAN Karanganom. Sebenarnya penginnya masuk SMAN 1, tapi gak bisa karena terganjal sistem zonasi. Padahal NEM anakku tinggi, lho, mestinya bisa masuk sekolah favorit," jawab Mas Parto dengan akspresi agak gelo. "Anakku kecewa banget, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah kebijakan dari Pemerintah Pusat," lanjutnya.

"Zonasi ki jan-jane piye to maksude, Mas? Maklumlah, aku gak punya pengalaman nyekolahkan anak di sekolah Negeri. Semua anakku ke pesantren. Jadi belum mudheng juga soal zonasi."

"Sebenarnya maksud Pemerintah ini bagus zekali, Mas. Untuk pemerataan, untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa melanjutkan di sekolah-sekolah terdekat."

"Kayaknya kok banyak orang bengok-bengok kecewa ya, Mas?

"Ya itulah, Mas, banyak masyarakat  terutama yang merasa anaknya pintar belum bisa memahami. Maunya orang tua, anaknya yang pintar bisa ke sekolah favorit agar nanti setelah lulus juga bisa masuk ke Universitas favorit juga. Tapi sekarang Pemerintah menerapkan kebijakan sistem zonasi, jadi banyak yang kaget."

"Lha iya, zonasi itu jelasnya bagaimana to, Mas? Apa masalahnya?" Sasa ikut nimbrung seakan paham obrolanku dengan Mas Parto.

"Contoh gampangnya begini lho, Mas Sasa. Alamatku kan di wilayah Kecamatan Jatinom.  Anakku hanya bisa sekolah di sekolah yang ada di zona eks-Kawedanan Jatinom. Meskipun NEMnya tinggi, anakku tidak bisa sekolah di kota Klaten karena berbeda zona."

"Wah mesakke ya, Mas Parto. Eman-eman cah pinter," Sasa tampak bersimpati.

"Tapi malah bagus itu, Sa," kucoba memahami info dari Mas Parto, "Dengan begitu akan terjadi pemerataan potensi anak didik."

"Maksudnya, Om?"

"Kalau dulu, semua anak pintar ngumpul di SMAN 1 . Lalu lulusan dari sana banyak yang ketrima di UGM, ITB, UI, dan Perguruan Tinggi favorit lainnya. Sementara SMAN lainnya harus setengah mati mengejar ketertinggalan, padahal dasar bibitnya memang biasa-biasa saja. Begitu to, Mas Parto?"

"Leres, Mas. Memang itu maksud Pemerintah. Jadi sekarang anak-anak pintar di sekitar Jatinom cukup sekolah di SMAN Jatinom, SMAN Karanganom, dan SMAN Polanharjo. Mudah-mudahan nanti hasilnya juga bagus."

"Malah dekat dan bisa irit biaya transport to, Mas?"

"Iya betul, Mas. Pegawai rendahan seperti aku gak usah repot-repot kredit sepeda motor untuk anak. Aku bisa ngantar anak dulu sambil ke kantor."

Obrolan harus kuakhiri karena ada WA masuk di hpku. Dari istriku, katanya aku ditunggu tamu di rumah. Aku pun pamit Mas Parto yang masih menikmati tehnya, dan Sasa sahabatku yang juga harus kembali bertugas di parkiran.

#serialsasa



Minggu, 09 Juni 2019

NYANTRI

NYANTRI

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, "Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?" Atau, "Anaknya sudah hafal berapa juz?" Atau, "Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?"

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjtkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi,  modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, "Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?" Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro'ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, "Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?" Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan  bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi 'hebat' seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap 'mbahnya teroris' seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, "Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri....dst."

#catatanwalisantrigontor

Jumat, 07 Juni 2019

BADAN

BADAN

"Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

"Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin....," jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak aku menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setiap dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

"Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu," kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

"Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini," jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

"Assalaamu'alaikum....," Wildan mengucap salam dan kami jawab "Wa'alaukumasalam."

"Dari mana, Wil?," tanyaku.

"Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om," jawab Wildan.

"Wah kebetulan ada Ustadz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali," Sasa mencoba memperkenalkan diri.

"Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten."

"Njih sami-sami....tapi Ustadz mbok jangan ngece, to."

"Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?," Wildan minta persetujuanku.

"Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman."

"Lha ya itu kelebihan Pak Sasa."

"Kok kelebihan?"

"Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir."

"Wah mbok jangan gitu to, Ustadz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari."

"Pak Sasa, semua orang memeng butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Itu namanya tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus. Terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya."

"Berani mencuri ya, Ustadz?"

"Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah."

"Iya bener itu, Ustadz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya."

"Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang."

"Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustadz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi."

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya.







Minggu, 26 Mei 2019

WINGIT

WINGIT

Upayaku menghindari ketemu Sasa di bulan puasa ini akhirnya gagal total. Sebenarnya kami sudah janji untuk tidak ketemu dulu selama sebulan. Kami sepakat akan menjalani puasa tanpa terganggu pikiran-pikiran politik yang bisa bikin hati tidak nyaman. Tapi dasar Sasa, tanpa ekspresi bersalah, tiba-tiba dia datang tadi sore menjelang waktu buka.

"Loh, Sa, belum lebaran kok sudah ke sini?," tanyaku setelah mempersilakannya duduk.

"Iya, Om, mau ikut buka di sini," jawab Sasa dengan santainya.

"Ya mari kita ikut takjilan di masjid," jawabku.

Kami pun menuju masjid bergabung dengan semua tetangga yang sudah duduk di teras masjid menghadap piring-piring nasi dan teh nasgithel yang sudah terjajar rapi. Begitulah masyarakat di kampungku setiap sore di bulan Ramadhan, semua  berkumpul di masjid untuk takjilan, buka bersama, dengan menu berbeda-beda tergantung jadwal penyedia buka. Kadang menu sate ayam, kadang menung lodeh terong dan tempe goreng,  kadang soto ayam, kadang sambal goreng tahu kentang dan ayam bakar, dan kadang juga sekadar ayam goreng dan sambal tomat. Saat-saat seperti ini sungguh sangat ngangeni, makan bersama dilanjut sholat maghrib berjamaah. Pulang dari masjid perut sudah kenyang, tinggal nyantai dengan keluarga sambil ngopi dan makan camilan seadanya.

Sore ini jadi agak beda karena ada Sasa. Seperti biasanya, kami ngobrol di depan sambil menunggu Zika, anak gadisku  yang baru lulus dari Gontor Putri dan menunggu waktu mulai setahun pengabdian setelah lebaran nanti, menyuguhkan dua gelas kopi pesananku.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," kata Zika sambil meletakkan kopi di meja.

"Njih, Mbak, matur nuwun," jawab Sasa. "Itu tadi anak nomor dua, Om?," tanya Sasa sambil menuang kopi di lepek.

"Iya, Sa. Biasanya di pondok, tapi ini lagi libur Ramadhan dan Idul Fitri."

"Om, situasainya kok jadi soyo wingit, ya?, Sasa membuka obrolan setelah minum kopi dan menyalakan rokok.

"Wingit bagaimana?"

"Pemilu dan Pilpres sudah usai, tapi kok usreg tidak rampung-rampung."

Sudah kuduga, pasti Sasa sudah gatel pengin ngobrol tentang situasi politik, tema yang sebenarnya ingin kuhindari karena bisa bikin mules di perut. Tapi bagaimana mungkin kularang Sasa ngomong soal itu? Lha wong dia juga rakyat yang telah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara. Apapun pilihannya,  dia berhak tahu perkembangan informasi, juga berhak komentar sesuai kapasitasnya. Tapi yang pasti aku harus hati-hati meladeni obrolan Sasa. Toh dia juga tahu situasinya memang lagi wingit. Meminjam istilah Sasa, kriwikan isoh dadi grojogan, salah omong sedikit saja bisa jadi masalah besar."

"Aku tidak habis pikir tenan, Om."

"Soal apa?"

"Orang sudah lupa cita-cita reformasi dulu."

"Lha piye, to?"

"Tentu Sampeyan juga masih ingat semua kejadian di tahun 90an, ketika di mana-mana Pak Amien Rais meneriakkan pentingnya suksesi, mengganti Presiden Soeharto yang sudah lama berkuasa."

"Ya masih ingat banget, Sa. Waktu itu aku masih di Jogja, juga ikut hingar-bingar reformasi."

"Lha iya ya, Om. Dulu orang pada takut-takut mendukung Pak Amien, tapi mahasiswa di mana-mana mengelu-elukan Pak Amien yang berani kritis pada Pemerintah dan lantang menyuarakan reformasi. Lalu terjadi demonstrasi di mana-mana, terjadi gegeran di berbagai kota. Obong-obongan. Lalu Pak Harto pun jatuh."

"Jangan lupa, dulu juga terjadi krisis moneter, Sa. Itu yang membuat Pak Harto jadi lemah."

"Iya, Om, aku masih ingat itu. Ada beberapa menteri mundur dan berbalik mendukung reformasi. Itu yang semakin melemahkan Pak Harto."

"Mereka pintar membaca situasi kok, Sa. Cepat-cepat menyelamatkan diri, mendadak jadi pro-reformasi."

"Dulu kan banyak mahasiswa yang meninggal karena ditembak tentara ya, Om. Itu terus bagaimana jluntrungannya?"

"Sudah gak jelas, Sa."

"Aneh, ya?"

"Apanya yang aneh?"

"Orang-orang yang harusnya tersingkir karena reformasi itu kok malah jadi aman sentosa,  bisa kembali berkuasa, ya? Lha kok Pak Amien sekarang malah seperti dikuyo-kuyo?"

"Dikuyo-kuyo piye, Sa?"

"Sekarang kok jadi semua orang seperti memusuhi Pak Amien, Om? Jasmerah- nya mana coba? Lha kok dho ora nitik? Berkat reformasi kan banyak orang yang jadi panen, tiba-tiba jadi politisi, jadi pejabat, jadi bupati, gubernur, presiden. Hiya to, Om? Lha kok sekarang mereka jadi memusuhi Pak Amien. Mestinya mereka matur nuwun."

"Mungkin memang Pak Amien yang salah kok, Sa?"

"Salah pripun?"

"Beliau terlalu jujur. Dulu setelah Pak Harto jatuh lalu diganti Pak Habibie sampai Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999. Nah, di SU MPR itu beliau cuma memilih jadi Ketua MPR, tidak mau dipilih jadi Calon Presiden. Namanya Ketua MPR ya tidak bisa mengatur jalannya reformasi, Sa, sampai hari ini."

"Iya ya, Om. Ibarat bus disopiri orang lain, dan beliau hanya jadi pengurusnya."

"Wislah, Sa. Namanya juga politik. Wis bejane Pak Amien dimusuhi para penguasa."

"Wah tapi kok ya kebangetan to, Om?

"Kebangetan piye?"

"Orang-orang itu, lho. Kok tega-teganya pada Pak Amien, difitnah terus, bahkan beliau dituduh makar lalu diperiksa polisi. Mosok Pak Amien makar ya, Om? Dan amehnya, kok ya belum tampak ada gerakan membela Pak Amien?"

Azan isya' terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar. "Slamet-slamet," batinku.

"Sasa mau ikut tarawih di sini atau mau pulang?"

"Pulang saja, Om. Pangapunten sudah ganggu waktinya."

"Slow wae, Sa. Kapan-kapan kita lanjut lagi obrolannya, ya."

Sasa pun pamit pulang naik sepeda jengkinya. Aku pun langsung bersiap ke masjid.























Minggu, 12 Mei 2019

TAKJILAN

TAKJILAN

Aku baru bangun tidur ketika anakku memberitahu bahwa ada Pakdhe Sasa nunggu di kursi depan. Entah ada isu apa puasa-puasa begini sahabatku datang. Mudah-mudahan tidak ngajak ngobrol politik. Tapi biarlah dia nunggu dulu. Aku mau mandi dan siap-siap ke mesjid ikut buka puasa bersama, takjilan bersama seluruh jamaah.

"Pangapunten, Om, aku mau ikut buka di sini," kata Sasa setelah aku duduk di sampingnya.

"Kita takjilan di mesjid ya, Sa."

"Ya itu maksudku, Om. Kudengar di sini setiap sore ada takjilan. Aku ingin ikut sekali-sekali. Katanya nikmat banget."

Memang, sejak puluhan tahun lalu di masjid-masjid kampungku ada tradisi takjilan setiap bulan Ramadhan. Semua orang, besar-kecil tua-muda, ikut buka bersama di masjid. Setiap keluarga mendapatkan giliran menyiapkan makanan dan minuman, minimal sekali dalam sebulan. Menu dan kualitas masakannya juga beda-beda tergantung kemampuan keluarga itu. Kadang ada yang masak sambal-goreng dan lauk ayam, ada yang masak sop ayam dan tempe goreng, ada yang masak pecel, dan ada juga yang tidak mau repot masak dan milih ngundang warung soto. Tapi apapun menunya, semua orang tampak gembira mengikuti takjilan.

"Agak aneh juga ya, Om," kata Sasa sepulang dari masjid tadi.

"Apa yang aneh?"

"Begitu terdengar azan, semua langsung makan nasi. Kelas berat. Lauknya sambal-goreng dan ayam lagi...."

Sasa pun menceritakan kebiasaannya buka puasa di rumahnya hanya dengan segelas teh dan kue-kue ringan seadanya, makan nasi setelah sholat maghrib. Tadi sempat kaget ketika ikut ke masjid dan duduk menghadap piring-piring nasi dan segelas teh.

"Wah ternyata memang nikmat banget ya, Om. Kubayangkan orang di sini jadi ngirit di bulan puasa."

"Ngirit piye, Sa?"

"Pasti ibu-ibu gak perlu masak tiap sore dan nyiapke makanan neko-neko di rumahnya, Om. Kalau sudah buka di masjid dengan nasi, perut sudah tenang, tak perlu lagi makan di rumah. Anak-anak kecil pun tampak menikmati menu takjilan."

"Ya memang, Sa. Ibu-ibu tinggal masak yang untuk sahur besok pagi."

"Makanya pasti jadi ngirit, Om. Beda dengan di kampungku yang justru boros di bulan puasa. Macam-macam makanan disiapkan untuk buka di rumah, padahal perut ini cuma butuh sepiring nasi dan segelas teh."

"Asyiknya itu di makan bersama itu kok, Sa. Jadi gak penting lagi menunya apa. Kita belajar saling menghargai sedekah tiap penyedia takjilan."

"Akan kucoba ngajak jamaah di kampungku bikin takjilan model di sini, Om."



Jumat, 03 Mei 2019

BERAS FITRAH

BERAS FITRAH

Aku lagi asyik melihat-lihat desain kemasan beras di google ketika sahabatku Sasa mak-bedunduk sudah berada di depanku.

"Assalaamu'alaikum.....," ucapnya sambil menyodorkan tangan ngajak salaman. Langsung kujawab salamnya dan kuraih tangannya. Kami bersalaman.

"Lagi sibuk apa, Om?"

"Ini lagi cari-cari inspirasi desain kemasan beras, Sa. Mau kopi?"

"Siap, Om. Memang ke sini aku mau ngopi....hahahaa."

Anakku lanang yang kebetulan lagi di rumah sudah tahu tugasnya. Tak berapa lama, dua gelas kopi sudah dibuatnya dan diantar ke meja tempat kami biasa ngobrol.

"Monggo diunjuk, Pakdhe," anakku mempersilkan.

"Yho, Cah bagus. Ini lagi libur to, Le?"

"Njih, Pakdhe. Mulai libur awal Ramadhan. Monggo disekecakke, Pakdhe," kata anakku lalu pamit undur diri.

Seperti biasanya, kami minum kopi yang masih panas dengan manfaatkan piring kecil yang disebut lepek. Kopi dituang ke lepek sedikit-sedikit, ditunggu beberapa detik, lalu dimimun dengan penuh penghayatan. "Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?," begitu pertanyaan Gusti Allah dengan gaya repetitif

"Mau buat kemasan beras lagi to, Om? Buat apa?," Sasa mulai membuka obrolan.

"Tadi aku dihubungi Pengurus Lazismu Pusat supaya nyiapkan beras fitrah untuk para muzakki."

"Berapa ton, Om?"

"Ya belum tahu, Sa. Mestinya banyak. Kalau ngirim ke Jakarta kan minimal 1 truk, bisa muat 7,5 ton. Kalau kurang dari itu jadi mahal di ongkos kirim."

"Sudah mulai nyiapkan berasnya, Om?"

"Belum, Sa. Perlu buat desain kemasannya dulu untuk ditawarkan ke para muzakki dan masyarakat umum."

"Beras dari mana itu nanti?"

"Ya dari petani-petani dampingan kita. Kalau masih kurang bisa kita minta tambahan dari dampingan teman-teman di Sragen atau Karanganyar."

"Berarti bukan hanya beras Rojolele, Om?"

"Beras C4 super, Sa. Tapi yang Rojolele juga kita siapkan."

"Harusnya memang begitu, Om."

"Maksudnya?"

"Beras untuk fitrah kan mesti sama dengan yang dimakan sehari-hari. Yang biasa makan beras medium, zakat fitrahnya cukup dengan beras medium seperti C4. Kalau orang biasa makan beras premium seperti Rojolele, zakat fitrahnya juga beras Rojolele. Jangan C4. Malu sama Gusti Allah, kan?"

"Iya ya, Sa. Harusnya malu, ya?

"Tapi, Om, kita kan baru besok lusa akan mulai puasa. Kok Sampeyan ini sudah mikir zakat fitrah? Kok jadi seperti bakul beras, to?"

"Hahaha.....iya ya, Sa?  Aku kadang juga bertanya seperti itu."

"Lha iya, saat-saat seperti ini Sampeyan kan lagi prepegan. Pasti Bunda Collection lagi banyak pesanan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.  Lha kok malah suntuk ngutusi beras...."

Mak-jleb rasanya mendengar omongan Sasa. Bukan salah. Masuk akal. Memang sejak dulu di mana-mana semua pelaku usaha konveksi pasti sangat sibuk tiap menjelang Ramadhan. Kami pun begitu.

"Alhamdulillah bisa jalan semua kok, Sa. Usaha kami kan sudah berjalan bertahun-tahun, jadi sudah bisa menemukan iramanya. Jadi gak masalah kusambil ngurusi petani dan  beras fitrah ini. Kalau mau, kusambi mancing atau jalan-jalan pun tidak masalah."

"Nah itu, aku gumun dengan Sampeyan ini."

"Gumun apa? Jangan gumunan, to."

"Lha kok mau-maunya Sampeyan ngurusi petani? Mestinya kan bisa jalan-jalan sambil ngembangkan bisnisnya sendiri."

"Iya ya, Sa."

"Seharusnya yang ngurusi petani itu Pemerintah, Om. Mereka kan digaji negara untuk ngurusi kepentingan rakyat. Lah Sampeyan ini pejabat bukan, politisi juga bukan. Nuwun sewu, Sampeyan ini hanya rakyat biasa seperti saya. Lha mbok sudah, urusan pertanian dan perberasan itu biar diurusi Pemerintah dan orang-orang politik yang suka umbar janji itu."

"Seharusnya juga begitu, Sa. Wislah, gak usah ngomong politik. Bikin mumet dhewe."

"Ya memang, Om. Bagaimana tidak mumet melihat Pemerintah nyambi jadi makelar."

"Makelar piye, maksudmu?"

"Kalau ngurusi petani kan gak dapat apa-apa, kan mending impor beras bisa dapat persenan, Om."

"Persenan dari mana?"

"Ya dari pelaku impornya to, Om. Mosok dari Sasa....hahahaa..."

"Wislah, Sa. Kita ini rakyat biasa yanv butuh sesrawungan, butuh kekancan, butuh berbuat baik, butuh tolong-menolong. Makanya kita mau srawung dengan siapa saja, termasuk dengan para petani. Biarkan saja kalau ada orang masih kadonyan, hanya ngejar urusan dunia. Kita doakan saja mereka segera bertobat sehingga husnul-khotimah."

"Aamiin.... Ya sudah, Om. Aku pamit dulu, ya. Mau mampir mandi di umbul Gedaren biar seger," Sasa pun pamit pulang, nyengklak sepeda jengki tuanya yang tampak jarang dirawat.