Senin, 27 Februari 2017

SIKAP ADIL


SIKAP ADIL

“Jaman kok makin tidak adil ya, Om,” kata Sasa setelah mengganjal roda mobilku di parkiran Soto Kartongali tadi pagi.

“Ada apa, Sa?”

“Orang-orang itu, lho. Melihat dan mengomentari sesuatu kok sak karep-karepe dhewe,” jawabnya.

“Ayo sarapan sik, Sa. Dilanjut nanti ngobrolnya.”

“Monggo, Om. Saya harus bertugas,” jawab Sasa dengan senyumnya yang lebar.

Sambil menunggu pesanan soto, kucoba menduga-duga ke mana arah pembicaraan Sasa tadi. Dia bicara tentang jaman yg “makin tidak adil”. Mungkin dia sedang ada masalah di keluarganya atau lagi ribut dengan tetangganya. Mungkin juga sedang prihatin mendengar kabar ibu mantan Bupati yang kesepian hidup di tahanan KPK dan sedang berusaha meyakinkan para penyidik agar menjadikannya sebagai justice-collaborator, bahwa dia tidak sendirian melakukan korupsi, bahwa banyak temannya yang terlibat, bahkan sudah terjadi sejak sebelum beliau jadi bupati. Memang sudah  jarang terdengar di media, tapi cerita itu masih bisa di-update di warung-warung angkringan di malam hari. Bagi Sasa, untuk mengakses info itu tentu tidak terlalu sulit dengan profesinya sebagai juru pijat panggilan langganan para tokoh politik dan pejabat yang banyak tahu soal itu.

Atau, mungkin Sasa teringat telepon dari adiknya di Jakarta yang rumahnya kebanjiran beberapa hari lalu. Katanya, semua orang di kampung tempat tinggal adiknya tidak bisa keluar rumah karena terkepung banjir. Mereka tinggal di lantai atas menahan lapar sambil berharap ada relawan datang membawa bantuan makanan. Lucunya, ternyata yang datang membantu justru seorang tokoh beserta rombongannya yang selama ini orang-orang di kampung itu membencinya setengah mati karena konon tidak toleran, anti-kebhinekaan, dan mengancam keutuhan NKRI. Rombongan itu datang berbasah-basah dan berlepotan lumpur, menyapa dan menyalami warga, mengajak ngobrol dan menyerahkan bantuan makanan dan pakaian. Itu sesuatu yang sangat besar artinya bagi orang yang sedang merasa menderita. Sungguh berbeda dengan para tokoh yang pada setiap musibah justru tidak menampakkkan batang hidungnya, apalagi membantu kesulitan warga dengan sukarela.

Segelas teh nasgihel dan semangkok soto tanpa thokolan sudah tersaji di depanku di antara deretan piring-piring berisi tempe, tahu, perkedel, mangkuk sambel, botol kecap Gito Birun, dan kaleng karak. Secuil kenikmatan surga benar-benar terasa kutemukan pada semangkok Soto Kartongali di pagi hari. Ramuan teh panas-kental-sepet dan manisnya gula batu menjadi penutup menu yang membuat mata kemepyar dan tubuh gobyos bersimbah keringat.

“Sebentar, Sa. Jadi apa masalahmu tadi?” tanyaku pada Sasa yang sudah siap memandu mobilku keluar dari parkiran.

“Ya itu tadi, Om. Wong kok dho ora adil,” jawabnya sambil mendekatiku.

“Siapa?”

“Orang-orang di tivi. Mungkin juga teman-teman Sampeyan, Om."

"Ada apa to, Sa?"

"Om, dari dulu yang namanya Presiden kan biasa berkunjung ke negara lain atau menerima kunjungan Kepala Negara lain. Itu memang tugasnya, dan kita sebagai rakyat harus mendukung. 

"Maksudmu?" aku belum paham ke mana arah bicaranya.

"Kalau Pemerintah kelihatan nyubyo-nyobyu Tamu Negara, itu memang karena kita harus menghormati tamu. Biasanya tamu negara mengajak rombongan pengusaha, lalu terjadilah kerjasama ekonomi dengan Pemerintah kita. Iya to, Om?”

Aku mulai paham. Rupanya Sasa ingin membahas tentang kunjungan Raja Salman dari Saudi Arabia ke Indonesia.

“Terus apa masalahmu, Sa?”

“Sebenarnya bukan masalahku, Om, tapi masalah kita," jawab Sasa diplomatid. "Om, tamu negara naik pesawat kepresidenan dan bawa mobil sendiri kan wajar, to? Itu sama seperti presiden Amerika atau perdana menteri Inggris, Belanda, Jepang, dan sebagainya. Persis juga seperti Presiden kita naik pesawat kepresidenan yang dulu dibeli Pak SBY. Iya to, Om?”

“Bener, Sa. Terus….”

“Selama ini orang juga tidak pernah ngurus para presiden dan perdana menteri itu punya berapa istri dan berapa gendhakan. Bagi kita, yang penting mereka mau menanamkan modalnya di sini, membangun pabrik-pabrik di sini dan menyerap tenaga kerja kita sehingga ekonomi negara bisa bergerak dan kita dan terkesan agak maju. Iya to, Om?”

Wah Sasa kumat lagi. Kali ini ngomyang tentang politik luar negeri, bukan cuma soal ayam jagonya yang gering dan terpaksa dijual murah di pasar Gabus, atau istrinya lagi ngambek karena Sasa cuma ngasih uang sedikit. Jebul tentang hubungan bilateral antar-negara. Beraat. Edan tenan. Jindul ik...

“Lha terus tidak adilnya di mana, Sa?”

“Ya itu tadi, Om. Para pengamat gayeng membicarakan rencana kedatangan Raja Arab Saudi. Ketok pinter dan ampuh-ampuh omongannya, tapi juga ngemu-ngece. Mereka tampak curiga pada Raja Saudi, persis kecurigaannya pada ulama-ulama kita yang gigih melawan kebatilan. Padahal Raja Arab sangat menghormati kita lho, Om."

"Kok tahu, Sa?"

"Loh, Sampeyan ini  bagaimana? Dulu waktu Presiden Soeharto naik Haji diberi penghormatan luar biasa, bahkan diajak masuk ke dalam Ka’bah. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Ka’bah lho, Om. Terus, waktu Presiden Jokowi melaksanakan umroh, bukan hanya Putra Mahkota atau menterinya yang menjemput, tetapi Raja Arab sendiri yang menyambutnya di bawah tangga pesawat. Apakah itu karena hebatnya Soeharto atau Jokowi sebagai pribadi, Om? Bukan. Tapi karena Raja Arab memandang Indonesia sebagai bangsa yang besar dan mayoritas penduduknya muslim sehingga dihormati sebagai saudara seiman.”

Edan Sasa ini. Rupanya dia juga berbakat menjadi pengamat politik luar negeri, bukan hanya berbakat jadi juru parkir dan tukang pijat.

“Sa, tapi kenapa Raja Salman seakan mau pamer kemewahan, ya? Mbokya datang dengan sederhana saja seperti Kanjeng Nabi dulu.”

“Om, jaman sudah berbeda. Tidak mungkin seorang Kapala Negara pergi jauh ke luar negeri hanya naik onta atau kapal layar dan memakai baju bertambal. Ya tidak akan dihormati orang, Om, bahkan diremehkan dan dianggap lemah."

"Oh, begitu ya, Sa."

"Jaman sekarang orang dihormati kalau tampak kaya, Om. Apalagi Raja Salman yang jelas kaya, Om, Pelayan Dua Tanah Haram. Beliau harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Arab Saudi bukan ecek-ecek, bukan megara miskin yang datang mengemis-ngemis minta sedekah. Tidak boleh itu, Om."

“Tapi itu bisa dibilang sombong lho, Sa.” 

“Loh, katanya menyombongi orang yang sombong itu sodaqoh, Om?"

"Kok bisa gitu, Sa?"

"Lha kita ini orang-orang sombong yang selalu bangga dengan kakayaan alam dan penduduk yang banyak. Padahal, siapa yang selama ini mengeruk kekayaan alam kita? Para kumpeni, Om. Dari dulu kumpeni memang benci pada orang Islam. Apalagi sekarang yang mau datang Raja Arab Saudi, negara tempat kiblat kaum muslimin berada.”

“Terus piye, Sa? Kan belum jelas juga kunjungan Raja Salman akan mendatangkan manfaat bagi bangsa Indonesia?”

“Ya memang belum tentu, Om. Tapi yang pasti, kita harus menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bisa menghormati tamu.'

"Ngono yho, Sa?"

"Jangan curiga dan menebar kebencian pada tamu, Om. Lha wong kepada tamu-tamu yang sudah terbukti merusak saja kita masih menghormati sedemikian rupa dan kita subyo-subyo. Bahkan, permukiman kumuh digusur demi menyediakan lahan untuk investasi mereka, laut direklamasi agar mereka bisa investasi lebih murah. Iya to, Om?”

“Sudahlah, Sa. Ngobrol sama kamu gak ada habisnya. Wis, yho…”

Segera kutancap gas dengan kepala pening bercampur takjub pada kecerdasan Sasa. Analisis politik dan budayanya jauh meninggalkan profesinya sebagai juru parkir dan juru pijat. Andai dulu Sasa berkesempatan kuliah di Fisipol UGM, di jurusan HI misalnya, tentu pada usaianya saat ini sudah jadi pengamat politik yang handal, disegani, dan menjadi rujukan para pengambil kebijakan. Tapi Sasa tetaplah Sasa, sahabatku yang bersahaja sebagai danyange parkiran soto Kartongali…..


Senin, 20 Februari 2017

REKLAMASI


REKLAMASI

Hampir seminggu Sasa tidak tampak bekerja. Kata Kang Panut, Sasa dheyek-dheyek karena pinggangnya kecetit. Segera kutengok ke rumahnya, di rumah sempit yang untuk sampai ke sana harus jalan kaki melewati gang yang juga sangat sempit itu. Kulihat Sasa sedang duduk lesehan di atas tikar depan pintu, telanjang dada, sambil membaca koran terbaru yang mungkin sengaja dibelikan istrinya tadi pagi.

"Sa, Kamu kenapa?" tanyaku.
"Wah, Om, kok sampe sini? Monggo duduk lesehan."
"Sakit apa, Sa?”
" Pinggangku kecetit pas menggali kuburan untuk tetangga meninggal minggu lalu. Tapi sekarang sudah lumayan ini," kata Sasa sambil berdiri memperagakan jalannya yang sudah hampir normal, tidak separah beberapa hari lalu.

"Ada berita apa di koran hari in, Sa?"
“Walah, Om, berita koran ya cuma begini-begini saja. Biasa, gak ada yang istimewa.”
“Nyatanya tadi kamu tampak serius bacanya?”
“Ini lho, Om. Aku cuma mantau perkembangan harga cabe di pasar Gabus dan pasar-pasar se-Solo Raya. Masih tinggi, di angka 140an ribu. Siapa yang paling untung, coba? Pasti bukan teman-teman petani, Om.”
“Lha terus siapa untung, Sa?”
“Walah, Sampeyan kok kayak gak tahu saja. Ya jelas para pedagang besar, para spekulan, dan importir. Gayanya saja mereka membantu pemerintah mengatasi lonjakan harga dengan cara impor, padahal sesungguhnya mereka juga yang sengaja menimbun barang di gudang-gudang pendinginan, dikeluarkan sedikit-sedikit sehingga terjadi kelangkaan cabe di pasaran. Mereka yang mengatur harga jual sehingga keuntungannya bisa berlipat-ganda. Anehnya, Om, pemerintah cuma manut saja dibohongi. Mungkin karena sudah dikasih persenan di muka, ya.”
“Mungkin, Sa. Terus, ada berita apalagi?”
“Ini, kelanjutan lakon Duet Srikandi pecah kongsi. Politik lokal, Om. Gak penting. Apalagi seputar kriminalitas yang semakin marak ini. Males aku bacanya. Kasihan.”
“Kenapa kasihan, Sa?”
“ Menurutku ya, Om, para pelaku kriminal itu jan-jane cuma korban. Korban kebijakan pemerintah, kebijakan politik yang membuat orang-orang selalu merasa miskin, merasa kurang sehingga nekad melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Intinya kurang bersyukur, Om.”
Edan tenan Sasa. Sudut pandang dan nalisisnya atas setiap fenomena selalu unik dan cerdas. Jalmo tan kena kiniro. Benar-benar di luar perkiraanku.

“Lha itu kok ada foto kopian, Sa. Tulisan siapa itu?
“Hahahaa…..iya ini, Om. Tadi malam dikasih anakku, katanya dikasih kakak temannya. Tulisan Tere Liye tentang reklamasi laut Jakarta. Memang seharusnya kita tolak kok, Om.”
“Kamu baca tulisan sastrawan, Sa? Elok tenan. Isinya apa, coba?” tanyaku penasaran. Selera baca Sasa nggilani tenan.
“Aku gak tahu siapa Tere Liye, Om. Tapi aku setuju dengan hitung-hitungannya yang masuk akal ini. Aku setuju banget. Kita digobloki habis-habisan soal reklamasi. Dan ini pasti hanya bisa terjadi bila ada kongkalingkong antara pemilik modal besar dengan penguasa. Pemilik modal besar melakukan apa saja untuk melancarkan pencapaian ambisinya melipatgandakan modal. Bahkan, mereka mengatur siapa-siapa yang layak dijadikan penguasa. Tentu yang mereka anggap bisa diajak kerjasama, kongkalingkong. Yang aku heran, teman-teman Sampeyan kok malah nggeguyu, sinis, nyinyir pada para alim-ulama yang mencoba mengingatkan bahayanya reklamasi serta bahaya memilih pemimpin yang jelas-jelas akan membuat kerusakan di muka bumi ini.”

“Yah, teman-temanku kan hanya bicara soal demokrasi, Sa. Tidak bicara tentang reklamasi. Dalam berdemokrasi, jangan pakai ukuran agama, jangan bawa-bawa Ayat Suci, jangan pakai kata-kata kafir apalagi mengkafirkan orang yang berbeda keyakinan,” kucoba menyanggah Sasa.
Iyaaak….tenaane, Om? Apa bukan karena teman-teman Sampeyan melihat peluang akan mendapat jabatan dan proyek besar di masa depan bila mendukung kelompok bermodal besar itu? Yang bener sajalah. Gak usah sok demokratislah, sok pluralis, sok pro-NKRI….. hahahaaa,”
Jindul tenan Sasa ini. Sindiran Sasa terasa mak-jleb di ulu hatiku, seakan-akan aku sendiri yang dituduhnya. Omongannya kayak orang ngomyang, ngigau, kumat stresnya. Aku kan hanya berusaha memahamkan sikap dan pilihan teman-temanku yang memang harus tetap dihormati. Tidak perlu menganalisis sejauh itu, gak perlu negative-thinking.
“Mbokya jangan shu’udhon begitu to, Sa. Gak baik, lho.”
“Aku bukan shu’udhon, Om. Ini cuma othak-athik-gathuk, mencoba menganalisis atas sikap mental para pemilih, termasuk teman-teman Sampeyan, berdasarkan bacaan ini. Bukankah dulu Sampeyan yang bilang bahwa analisis bisa benar bisa juga salah, bisa dianggap benar oleh sebagian orang dan bisa dianggap salah oleh sebagian lainnya. Dan semua sah-sah saja.”
“Iya bener. Tapi mbokya jangan terus menuduh sekan teman-temanku bermental proyek dan haus jabatan. Teman-temanku itu orang-orang pinter lho, Sa. Sekolah mereka jauh lebih tinggi dariku. Hebat-hebat, Sa. Jangan ngece-lah….”
“Bukan ngece, Om. Aku percaya teman-teman Sampeyan orang baik dan pinter. Jangan salah paham, Om. Itu tadi cuma othak-athik-gathuk. Aku mohon maaf bila Sampeyan kurang berkenan.”
“Iya sama-sama, Sa. Aku juga minta maaf. Semoga Kamu cepet pulih dan bisa kembali bekerja, ya.”

Aku pun pamitan dengan perasaan kecut. Kutinggalkan Sasa dengan tatap matanya yang juga tampak menyesal.

Jumat, 17 Februari 2017

PENGKHIANAT NEGERI


PENGKHIANAT NEGERI

Tadi siang, ketika aku sedang asyik menemani 17 orang ibu-ibu dari Klaten berlatih membuat roti pada sebuah pabrik tepung di Semarang, terdengar beberapa sms masuk di hp-ku. “Hari gini kok sms, paling juga iklan seperti biasanya,” begitu pikirku. Memang, aku sudah biasa kecelik oleh sms. Kadang cuma iklan dari provider supaya kita terus mengisi pulsa, kadang dari restoran cepat saji atau dari kios roti-waralaba menawarkan program diskon beli 6 dapat 12, kadang orang iseng minta dikirim pulsa, dan sebagainya. Makanya tadi aku sengaja cuek, tidak kubuka sms-sms itu hingga acara pelatihan selesai.
Melihat suasana pelatihan bersama chef yang sangat trampil tadi jelas menarik. Ibu-ibu juga antusias belajar dari membuat adonan, memproses fermentasi, membuat variasi bentuk dan aneka rasa, hingga memasukkannya ke dalam oven. Dalam beberapa menit, adonan tadi sudah berubah menjadi roti dengan bentuk dan warnanya yang menarik serta aromanya yang menggairahkan. Ibu-ibu pun tampak bahagia dan semangat untuk lebih mengembangkan usaha roti di rumahnya masing-masing. Sambil menikmati roti hangat yang baru keluar dari oven, kubuka sms satu-persatu dan kubaca dengan seksama. Ya Allah, ternyata ada tiga dari Sasa sahabatku.

“Om, nanti malam ada di rumah? Saya mau sowan lagi,” begitu smsnya yang pertama.
“Sejak kemarin aku hanya di rumah nonton tivi, Om. Males keluar. Ini ada masalah penting yang harus kuobrolkan dengan Sampeyan,” begitu smsnya yang kedua.
“Kalau Sampeyan sibuk ya sudah gak apa-apa, Om. Aku maklum, kok. Biarlah kunikmati kegundahanku ini sendirian,” sms ketiga.

Segera kubalas bahwa aku sedang ada acara di Semarang sejak tadi pagi dan baru nanti sore selesai. Mungkin sekitar jam 20.00 WIB nanti malam sudah sampai rumah.
Tapi Sasa tidak membalas smsku. Mungkin dia tidur atau kehabisan pulsa atau jangan-jangan mutung karena tiga sms-nya tadi tak kunjung kubalas, begitu pikirku.

Benar juga. Mobil carteran berkapasitas 18 penumpang itu sampai di halaman rumahku tepat pukul 20.00 WIB. Aku pun turun, sementara teman-teman melanjutkan perjalanan menuju rumahnya masing-masing. Betapa kaget ketika kulihat di teras rumahku ada sosok laki-laki duduk sambil membolak-balik koran. Ternyata Sasa.

“Sudah lama, Sa?’ tanyaku.

“Lima menitan, Om,” jawabnya.

“Kukira gak jadi, Sa. Tadi gak balas smsku. Tunggu sebentar, ya.” Aku pun masuk rumah dan minta istriku membuatkan kopi dua gelas.

“Kok tampak serius banget. Ada masalah apa, Sa?” tanyaku.

“Hehehee….sebenarnya bukan aku yang punya masalah, Om.”

“Masalah siapa?”

“Negara ini.”

Weeh lha dalah, elok tenan. Jadi kamu gundah dan gak keluar-keluar rumah dari kemarin itu karena nggagas Negara, to? Memangnya ada masalah apa di Negara kita, Sa?”

“Ini serius lho, Om. Bukan guyon. Bukan ngoyo-woro.”

“Lha iya, terus apa masalahnya sehingga hatimu jadi gundah-gulana begitu? Hahahaa…..”

“Wah Sampeyan ini lho, kura-kura makan tahu.”

“Maksudmu?”

“Pura-pura tidak tahu, seperti tokoh-tokoh yang suka bicara berbusa-busa di tivi.”

“Lha memang ada masalah to, Sa?”

“Hasil Pemilihan Gubernur DKI kemarin itu lho, Om. Aku kok jadi ngeri.”

“Walah, Sa, mbokya sudah. Itu kan bukan urusan kita. Orang Jakarta yang punya hak pilih saja ora nggagas, kok. Mereka oke-oke saja. Kenapa kamu repot?”

“Lha ya itu masalahnya, Om. Tampaknya orang Jakarta sudah tidak mau diingatkan lagi. Mereka terlalu yakin dengan pikirannya sendiri, bahkan tidak mempan diingatkan dengan ayat suci.”

“Begini lho, Sa. Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, dan Pilkades itu sudah ada kitab sucinya sendiri. Namanya konstitusi, undang-undang, sudah disepakati dan disahkan oleh para Wakil Rakyat di DPR. Semua dijalankan berdasarkan konstitusi itu. Kalau kamu masih mempermasalahkannya atas dasar Kitab Suci, atas dasar agama yang Kamu yakini, itu justru inkonstitusional.”

“Om, aku ini memang wong bodho. Aku tidak tahu konstitusi, tidak tahu apa saja isi undang-undang yang seakan-akan ampuhnya melebihi Kitab Suci itu, juga tidak tahu siapa saja dan bagaimana cara menyusunnya. Tapi menurut panggraitaku, Om, kondisi Negara ini sudah sangat bahaya.”

“Bahaya piye to?”

Ason-ason kabeh. Sembrono. Ngurus Negara kok awur-awuran. Merasa konstitusional. Diingatkan baik-baik pakai Ayat Suci, malah dibilang inkonstitusional.”

“Kalau mau ngingatkan tata-kenegaraan ya harus pakai konstitusi, Sa.”

“Om, kata guruku dulu, benar itu ada tiga macam. Pertama, bener benere dhewe, yaitu benar menurut pikirannya sendiri. Itu yang namanya egois. Kedua, bener benere wong akeh, yaitu benar menurut kesepakatan orang banyak. Dan yang ketiga, bener kang sejati, yaitu benar menurut ukuran Sang Pemilik Kebenaran, Yang Maha Benar, Allah SWT.”

“Lha iya, terus piye, Sa?”

“Kalau melihat kahanan atau kondisi saat ini, orang hanya memakai jenis kebenaran yang kedua, bener benere wong akeh. Meskipun salah, tapi kalau menurut orang banyak sudah benar, ya dianggap benar. Tidak bisa lagi diganggu-gugat. Ibarat sudah jelas mobil berjalan menuju jurang, tapi para penumpangnya yakin bahwa jurusan itu sudah benar. Diingatkan pun sudah tidak percaya. Padahal bisa modar kabeh masuk jurang, Om….”

“Nggak segitunya kali. Nyatanya Sila pertama Pancasila masih Ketuhanan Yang Maha Esa kok, Sa. Belum diganti.”

“Harusnya sudah diganti, Om. Buat apa lagi Pancasila kalau orang sudah tidak mau percaya pada Tuhan, tidak mau percaya pada kitab suciNya, tidak mau lagi menggunakan ukuran baik-buruk, benar-salah, indah-jorok berdasar tuntunan Kanjeng Nabi.”

“Wah bagus itu, Sa. Bagaimana kalau orang yang tidak setuju dengan Pancasila, tidak percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, kita suruh minggat saja dari negeri ini, gak usah jadi rakyat Indonesia?”

“Setuju aku, Om. Mathuk. Pengkhianat Negara kok semena-mena. Harus diusir. Kalau tidak, kasihan arwah para pendiri Republik ini.”

Sasa tampak lega. Sorot matanya sudah mulai normal, tanda kegalauan hatinya sudah berkurang. Dia pun pamit pulang dengan sepeda jengki tuanya yang berderit-derit suaranya. Semoga malam ini Sasa bisa pulas tidurnya, besok pagi bisa bertugas lagi mengatur parkir di warung Soto Kartongali.


Senin, 13 Februari 2017

KAFIR KOK BANGGA


KAFIR KOK BANGGA

Ternyata benar, Sasa datang ke rumahku bakda isya’ sesuai janjinya. Tadi pagi dia sibuk ngurusi parkir, sementara aku juga tidak cukup punya waktu untuk ngobrol setelah sarapan soto Kartongali.

“Sa, jan-jane aku pengin dengar ceritamu dari Istiqlal kemarin, tapi ini aku harus cepat-cepat pulang. Sudah ditunggu tamu di rumah,” kataku sebelum meniggalkan parkiran.

Slow wae, Om. Nanti malam saja aku sowan, ya. Habis Isya’. Banyak oleh-olehku dari Jakarta. Sudah kangen ngopi juga aku,” kata Sasa dengan senyum lebarnya.

Tenane, Sa? Tak tunggu, lho.”

“Siap, Om. Insya Allah.”

Biasanya Sasa ke rumahku bila kuundang untuk mijat atau mampir sepulang dari mijat pelanggan. Karena kali ini sudah janjian, maka sehabis maghrib tadi sudah kuorder istriku supaya menggorengkan pisang kepok yang dipanen kemarin.

“Mas Sasa sendirian?” tanya istriku sambil menyuguhkan kopi dan pisang goreng hangat.

“Iya, Mbak. Biasa ke mana-mana juga sendiri.” Jawab Sasa.

“Mbokya sekali-sekali mbakyu diajak ke sini. Kan bisa ngobrol sama saya,” kata istriku.

 Njih kapan-kapan, Mbak. Insya Allah.”

Setelah mempersilakan Sasa menikmati suguhannya, istriku pun pamit undur diri. Sasa mulai menceritakan perjalanannya, runtut sejak menunggu lengkap rombongan, lalu melingkar dan doa bersama sebelum naik bus, hingga keberangkatan yang di-untapke banyak orang. Ada beberapa beserta yang mabok di jalan, termasuk dia sendiri yang memang jarang bepergian naik bus. Beruntung panitia sudah menyiapkan obat-obatan darurat, PPPK, terutama obat anti-mabok dan anti-masuk angin, di samping juga membawa aneka makanan dan minuman sumbangan para dermawan. Rombongan hanya berhenti untuk sholat maghrib-isya’ dan makan malam di Alas Roban serta sholat shubuh di rest-area Tol Cikampek.

“Ya Allah, Om, betapa senang hatiku bisa ikut rombongan itu. Orangnya baik-baik semua,” Sasa melanjutkan ceritanya. "Begitu masuk Jakarta, Om, banyak sekali bus dan mobil rombongan dari berbagai penjuru menuju Masjid Istiqlal. Di kiri-kanan sepanjang jalan juga kulihat orang-orang berbaju putih dan berkopiah berjalan kaki menuju ke sana.”

Lalu Sasa bercerita betapa dia tidak mampu menahan haru ketika masuk kawasan Istiqlal melihat banyak stand makanan dan minuman gratis. Ibu-ibu dan gadis-gadis cantik berbusana muslimah dibantu bapak-bapak dan pemuda menawarkan makanan-minuman gratis itu dengan ramahnya. Dilihatnya juga beberapa rombongan sedang duduk menikmati sarapan, tetapi lebih banyak yang langsung menuju masjid untuk bergabung dengan jamaah sambil bertasbih, bertahmid, dan bertakbir, serta melantunkan Sholawat Nabi tiada henti.

“Beruntung kami sampai di sana masih pagi, Om. Jadi bisa masuk Masjid, masih bisa mendengarkan dengan jelas pidato dan doa-doa dari para tokoh yang selama ini hanya kulihat di televisi,” kenang Sasa sambil menghisap kretek di tangannya.

“Terus apalagi yang paling mengesankan, Sa?” tanyaku.

“Begini, Om. Aku ini bener-bener heran. Acara sebagus itu kok sempat mau dilarang? Kami juga ditakut-takuti supaya tidak jadi berangkat. Padahal kulihat sendiri di sana orang-orangnya bersih, tertib, khusyuk, dan ramah satu sama lain. Isinya juga tausiyah dan doa-doa untuk kebaikan seluruh kaum muslimin dan untuk seluruh bangsa. Tidak ada caci-maki. Tidak ada keributan sedikitpun." 

"Beda dengan yang dikhawatirkan ya, Sa?" 

"Beda banget, Om. Sampeyan tahu sendiri seperti apa kumpulanku selama ini to? Rhewo-rhewo kabeh, urakan, dan bau ciu…...hahahaha. Di Istiqlal sama sekali berbeda. Semuanya baik. Makanya aku heran kenapa kebaikan seperti ini harus dihalang-halangi.”

“Yah mungkin karena ada yang merasa kepentingannya terganggu, Sa,” jawabku santai.

“Terganggu bagaimana? Takut kalah dalam pemilihan gubernur atau presiden?”

“Mungkin saja, Sa. Kamu kok kayak gak tau saja.”

“Maksudmu, Om?”

“Loh, bukankah sebelum berangkat kemarin kamu sudah bercerita tentang Fatahillah dan Sultan Agung yang bertahun-tahun memimpin perang merebut Batavia? Katamu sekarang ini sama saja dengan dahulu, bahwa kita harus merebut kembali Jakarta dari para penjajah?”

“Lha iya, Om.”

“Tapi jaman sudah berbeda, Sa. Ini jaman demokrasi. Dalam demokrasi itu tidak boleh bawa-bawa agama, tidak boleh mengobarkan sentimen agama. Ibarat bermain bola, Sa, kamu tidak boleh minta klubmu harus menang hanya karena semua pemainmu beragama Islam. Itu bisa disebut tidak konstitusional, tidak demokratis, anti-kebhinekaan, dan anti-Pancasila.”

“Ah, Sampeyan ini bikin ibarat kok kayak gitu. Sangat tidak pas.”

“Tidak pas bagaimana, Sa?”

“Ya jelas tidak pas itu, Om. Ngoyo-woro, bahkan ngece.”

Ngece bagaimana?”

“Om, orang bodoh seperti aku saja tahu bahwa sepakbola itu olah raga yang punya aturan main jelas. Menang atau kalah tidak ada urusannya dengan agama. Tapi kalau soal merebut Jakarta, ini usaha menyelamatkan Ibu Kota dari ulah kaum penjajah. Kahanan negara yang rusak-rusakan ini harus kita perbaiki, Om. Kalau Ibu Kota jatuh, Negara kita pasti akan semakin hancur berkeping-keping. NKRI bisa bubar. Katanya “harga mati”…..?”

“Tapi ya jangan terus mengkafir-kafirkan oranglah, Sa?”

“Om, aku ini kemarin ngikuti acara di Istiqlal sejak pagi hingga usai acara, tidak ada sedikitpun kudengar kata-kata kafir apalagi mengkafir-kafirkan orang. Kita sudah tahu, kok, bahwa sejak jaman Kanjeng Nabi dulu kaum muslimin selalu dimusuhi, difitnah, diadu-domba, dan dilemahkan oleh orang-orang kafir. Sekarang ini sama saja, Om. Orang-orang kafir yang membuat kerusakan di muka bumi, tapi kita yang disalah-salahkan terus. Aku juga heran, lho, kenapa justru banyak teman kita sendiri ikut sinis terhadap niat baik para ulama dan kaum muslimin? Apa karena sering dikasih makan orang kafir lalu ikut sinis pada temannya sendiri? Ikut jadi kafir kok bangga…..hahaha.”

Edan tenan Sasa, kataku dalam hati. Kok tiba-tiba jadi pinter kayak gini. Belajar ke mana dia? Mosok dapat ilmu ladunni, dapat bisikan langsung dari malaikat Jibril sehingga bisa membaca dengan tartil setiap kahanan yang dilihatnya? Ah, yang bener aja, Sa……




Sabtu, 11 Februari 2017

WANITA PERKASA ITU (3)

WANITA PERKASA ITU (3)
(Mengenang ibuku, Asiyah Sahrowardi, yang melahirkanku tepat 50 tahun yang lalu, 6 Febr 1967)

Mas Muhadji langsung menyalami dan duduk di dekat ibu. Setelah berbasa-basi sejenak, aku langsung ke dapur membantu istriku menyiapkan minuman dan nyamikan. Tak berapa lama, segelas teh nasgithel, 2 gelas kopi, dan sepiring pisang goreng telah siap menemani kami ngobrol melepas rindu pagi itu.

“Monggo Pakdhe, minum kopi dulu. Ini Kopi Semendo asli kiriman ibuku di Palembang. Kebetulan juga kemarin panen pisang kapok. Monggo, Pakdhe,” istriku mempersilahkan Pakdhe Muhadji menikmati wedangan.
“Iya, Dek. Sini ngobrol-ngobrol dulu,” Mas Muhadji mengajak istriku ikut bergabung. “Ada salam dari Mbakyumu Pupu.”
“Kok nggak diajak, Pakdhe?”
“Yah, namanya juga mendadak. Sebenarnya semua pengin ikut, tapi susah bener cari tiket,” jawab Mas Muhadji sambil menikmati kopi dan pisang goreng yang masih panas. Obrolan pun berlanjut seputar anak-anak Mas Muhadji: Eka yang masih kuliah di STIP, Sugeng yang masih klas 1 SMA, dan Ramadhan yang masih klas 4 SD. Tidak lupa juga Ibu menanyakan kabar Budhe Yoto di Jakarta. ”Piye kabare budhemu, Ji? Sudah lama kami gak ketemu. Kalau pas ke Jakarta, jangan lupa mampir ke Sumurbatu, lho,” begitulah ibu selalu berpesan.

Memang, dulu Mas Muhadji mengawali kisah perantauannya dengan menumpang tinggal di rumah Pakdhe dan Budhe Yoto, rumah sempit di tepi Jl. Sumurbatu, Kemayoran. Kebetulan di sana ada anak Pakdhe yang seusia Mas Muhadji, namanya Mas Haryono, dan ada adiknya yang seusia Mbak Mun, namanya Mbak Anjar. Dengan bimbingan Pakdhe Yoto itulah Mas Muhadji belajar lara-lapa mencari kerja di Jakarta, dari kerja serabutan hingga menjadi kuli pada sebuah pabrik minuman. Beberapa tahun, dia numpang tinggal di sana hingga mendapatkan pekerjaan yang mapan di Krakatau Steel Cilegon dengan bekal ijazah STM-nya. Wajar bila kemudian ibu selalu berpesan agar Mas Muhadji sering-sering menengok Pakdhe-Budhe Yoto.
“Wah sayangnya Mun gak bisa pulang, Ji. Padahal anak itu selalu kukangeni. Katanya juga susah cari tiket.” kata ibuku dengan nada menampakkan kekecewaan.
“Yah kita maklumi saja. Memang akhir tahun seperti ini susah cari tiket. Apalagi dari Bali yang pusatnya orang berlibur,” Mas Muhadji mencoba menghibur ibu.

Maklumlah bila ibu selalu ngangen-angen Mbak Mun. Sejak ditinggal Mas Muhadji merantau, Mbak Mun itulah anak tertua di rumah kami. Dialah mitra ibu mengurus rumah, dari menyapu lantai, ngepel, hingga menata perabot rumah tangga. Dia tahu betul selera ibu soal kebersihan dan kerapian rumah. Dia memang pintar mengambil hati ibu sehingga apapun permintaannya hampir selalu dituruti. Dia juga yang ngajari adik-adiknya, aku dan Mas Agus, menyapu halaman dan menimba air setiap pagi sebelum mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Dia yang membagi tugas. Mas Agus menyapu halaman depan, halaman samping kanan rumah, jalan, serta mengisi bak mandi depan. Aku menyapu halaman kiri dan belakang rumah, lalu mengisi kulah di dapur. Mbak Mun sendiri bertugas membersihkan lantai ruang tamu, gandhok, dan emper, lalu nyuci piring-piring kotor di dapur. Untuk makan seharian, ibu sudah menyiapkannya sejak sebelum shubuh.

Mbak Mun ini juga yang waktu aku masih balita selalu menggendongku ke mana-mana. Pagi hari aku dan Mas Agus dititipkan dulu ke kerabat dekat rumah. Sepulang sekolah, dia menjemput kami dan diajaknya ikut bermain pasaran, jethungan, atau gobak sodor dengan teman-teman sebayanya. Bila musim panen mlinjo tiba, aku juga diajaknya ikut oncek di rumah tetangga jauh yang tebasan mlinjo. Kulit mlinjonya itu boleh dibawa pulang untuk dimasak atau dia mendapat upah serupiah dua rupiah buat uang saku sekolah. Mungkin karena kesibukannya mengurus adik-adiknya itulah, nilai rapor sekolah Mbak Mun agak pas-pasan. Bahkan, dia pernah mogok tidak mau sekolah dan akhirnya tidak naik kelas gara-gara buku-buku sekolahnya dibuang Mas Agus ke dalam sumur depan rumah. Namanya juga anak-anak. Mbak Mun kadang terlalu galak mengatur adik-adiknya, sementara Mas Agus juga kadang berani melawan.

“Rencana acara besok bagaimana, Yud? Siapa saja yang diundang?” Mas Muhadji bertanya kepadaku tentang acara khataman besok malam.
Kujelaskan padanya bahwa pengajian bapak-bapak sudah kuundang untuk ngaji dan sholawatan. Pengajian ibu-ibu juga sudah kuhubungi koordinatornya. Urusan konsumsi sudah kupasrahkan pada istriku untuk koordinasi dengan Yu Waqi’ah. Mbah Darus yang akan memberi tausiyah setelah tadarus Al-Quran.
“Ya sudah, berarti tinggal pelaksanaan, ya. Nanti siang mobilmu kupakai ke Kotagede jemput Agus dan anak-anaknya. Musim hujan kayak gini, kasihan kalo mereka motoran. Sekalian nanti pulangnya kuampiri Yu Siti. Kita ngobrol lagi nanti malam,” begitulah Mas Muhadji. Setiap kali pulang, dia berperan sebagai imam keluarga kami. Dan kami pun mentaatinya.
(bersambung)

Jumat, 10 Februari 2017

INGIN JADI MANUSIA



INGIN JADI MANUSIA

Aku tidak tahu siapa saja temanku yang berangkat ke Jakarta mengikuti Aksi-112 di Masjid Istiqlal pagi ini karena kemarin siang tidak sempat nguntapke apalagi nyangoni sekadar air minum untuk bekal perjalanan.  Beruntung ada satu group WA yang sejak tadi malam hingga saat ini clang-cling-clang-cling mengirim semacam laporan langsung perjalanan disertai foto-foto dan video pendek, berbeda dari biasanya yang setiap dini hari menjelang shubuh penuh postingan ajakan tahajud dan shubuhan di masjid atau copasan tausiyah yang sering tidak sempat kubaca. Pada foto-foto pagi ini, kulihat ada beberapa wajah teman yang sudah kukenal dan ada juga yang belum. 

Ada satu wajah yang membuatku terharu dan bangga sekaligus geli.  Wajah Sasa. Ya, wajah Sasa sahabatku yang sehari-harinya jadi juru parkir dan juru pijat itu kali ini sungguh tampak berbeda. Dia tertawa bahagia memakai kopiah hitam, berbaju putih bersih, duduk di dalam bus dan melambaikan tangan ke arah kamera bersama teman-temannya. Pada foto yang lain, tampak Sasa agak canggung berada berada di antara ribuan manusia dengan latar belakang Masjid Istiqlal. 

Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda ada sms masuk. Cepat-cepat kubuka, siapa tahu ada pelanggan Bunda Collection mau nambah order mukena travelling untuk stok menjelang Ramadhan- Idul Fitri. Biasanya order masuk via tlp/sms/WA ke  hp istriku, tapi kadang juga masuk via hp-ku.Tapi ternyata bukan order. Sms kali ini dari Sasa. Ya, sasa yang foto-fotonya baru kulihat di satu group WA. Subhanallaah, Sasa…..

“Om, ini luar biasa. Saat ini aku di Istiqlal, berada di antara jutaan manusia seperti lautan putih, semua mengumandangkan takbir dan shalawat tanpa henti. Aku bener-bener merinding dan menangis ini, Om. Allahu Akbar……,” begitu Sasa mengirim pendeknya.

“Ya Allaah….rumangsamu yang merinding cuma kamu, Sa? Rumangsamu sms-mu ini tidak bikin aku terharu? Sasa...aku bangga punya sahabat sepertimu. Semoga aman dan dilancarkan semuanya. Aamiin,” balasan sms kukirim ke Sasa. 

Teringat kata-kata Sasa kemarin pagi ketika aku mau pulang setelah gobyos sarapan soto. Dia sudah tidak mau lagi ikut ubyang-ubyung yang tidak jelas, tidak mau lagi ikut mogleng-mogleng kampanye parpol bersama teman-teman yang bau mulutnya seperti sawo bosok sehabis minum ciu. Sudah kapok, tidak mau lagi kapusan terus. Dia merasa sudah saatnya kembali mengaji bersama teman-teman di masjid, belajar mencintai Allah SWT dan Kanjeng Nabi, belajar menjadi manusia sejati yang bukan hanya berpikir mencari bondho-donya tetapi mulai menyiapkan bekal bila sewaktu-waktu dipanggil Gusti Kang Murbeng Dumadi. Siap-siap husnul-khotimah, katanya.

“Loh, Sa, tapi kenapa harus ke Jakarta? Bukankah untuk melaksanakan niat baikmu itu ada banyak cara yang bisa kita lakukan di sini kapan saja?” tanyaku.

“Itu benar, Om. Memang banyak cara bisa kita lakukan di sini. Dan kali ini aku ingin bersama-sama kaum muslimin dari berbagai penjuru mengingatkan orang Jakarta supaya tidak salah memilih pemimpin. Kita harus berusaha agar Ibu Kota kita tidak rusak, tidak jatuh ke tangan Kumpeni lagi.”

Rupanya Sasa masih ingat pelajaran sejarah jaman sekolah dulu. Dia menyebut-nyebut perjuangan Fatahillah membebaskan Jayakarta dari Portugis. Fatahillah menggalang kekuatan rakyat dan santri-santri hingga memenangkan pertempuran melawan Portugis yang bersenjata modern. Dia juga menyebut-nyebut perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram, menyerbu Batavia yang dikuasai Belanda dengan  menggalang kekuatan rakyat sejak wilayah Kedu, Banyumas, terus menyeberang ke Tanah Sunda, Priangan,dan Cirebon, lalu mendapatkan dukungan pasukan dan logistik dari Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Menurut Sasa, kondisi Jakarta saat ini tidak jauh berbeda dengan jaman itu. Yang berbeda cuma cara pertempurannya. Sekarang jaman demokrasi, siapa yang bisa mendapatkan dukungan suara terbanyak, dia memenangkan pertempuran.

“Tetapi orang sudah lupa sejarah, Om. Yang ada di kepalanya hanya uang-uang-uang sehingga gampang dibeli oleh Kumpeni. Makanya kita harus mengingatkan orang-orang Jakarta, Om,” kata Sasa pajang lebar di parkiran kemarin.

Ah Sasa, aku memang harus banyak belajar kepadamu. Terima kasih, Sa……        


Rabu, 08 Februari 2017

HARGA DIRI

HARGA DIRI

“Om, saya pamit besok gak kerja 3 hari,” kata Sasa setelah memandu parkirku pagi tadi.

“Memang mau ke mana, Sa?” tanyaku sambil turun dari mobil.

“Mau berangkat ke Jakarta dengan teman-teman.”

“Weeh....ada acara apa? Piknik?”

“Wah Sampeyan ini bagaimana? Saya mau ikut Aksi-112 di Monas dan Bundaran HI, Om. Besok siang berangkat ramai-ramai naik bus,” kata Sasa mantap. 

Tenane, Sa? Kamu mau ikut aksi umat Islam di Jakarta? Elok. Piye critane, Sa?,” tanyaku belum percaya mendengar rencana Sasa. 

Setahuku, selama ini dia termasuk temanku yang cukup aktif mengikuti kegiatan dan kampanye-kampanye partai. Dulu sering kulihat dia pakai seragam satgas hitam-hitam, pakai baret merah dan bersepatu ala tentara, berkacamata hitam, bergerombol dengan teman-temannya atau sedang mengatur jalan yang dilalui para peserta konvoi. Sungguh, Sasa tampak gagah dan sangar di mataku. 

“Aku sudah insyaf, Om. Kapok ikut ubyang-ubyung orang-orang politik. Diapusi thok,” katanya. 

“Weeh elok..."

“Aku sekarang lebih percaya pada ngendikane para alim-ulama, Om. Memang dulu aku ndugal, tapi sekarang wis wayahe kumpul karo wong-wong kang sholeh. Kita ini sudah tidak muda lagi,” kata Sasa sembari bergerak sigap memandu mobil yang datang dengan bendera kecilnya, dengan liyak-liyuk tubuhnya, dengan nuding-nudingkan telunjuknya, dengan suaranya yang bengok-bengok, dan dengan senyumnya yang selalu lepas dan lebar.

Aku pun segera masuk ke warung dan duduk di meja paling dekat dengan tempat Kang Panut meracik mangkok-mangkok soto. Tempat favoritku itu kebetulan lagi kosong karena warung belum terlalu ramai. Piring-piring berisi tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan mentho masih terjajar rapi. Masih penuh isinya. Semangkok sambel dan dua botol kecap Gito Birun juga masih utuh. Kaleng karak dan kerupuk juga masih penuh. Tidak berapa lama, semangkok soto dan segelas teh nasgithel pun terhidang di depanku dan segera kusantap. Alangkah nikmatnya.

Sasa, mungkin tadi dia hanya bermaksud cerita biasa saja. Tapi sejujurnya, kata-kata Sasa sungguh menohok perasaanku. Masing terngiang ungkapannya kapok, diapusi thok, percaya ngendikane para alim-ulama, dan wis wayahe kumpul karo wong-wong kang sholeh. Apakah sedemikian drastisnya perubahan diri Sasa, pada hati, pikiran, dan mentalnya? 

Aku sendiri sama-sekali belum tergerak untuk ikut terjun aksi di Jakarta karena masih banyak pekerjaaan dan tanggungjawab yang bisa kukerjakan di sini. Tetapi Sasa, sahabatku yang secara lahiriyah tampak bernasib tidak lebih baik dariku, juga tampak biasa saja dalam menjalankan ibadah sehari-hari, justru punya kesadaran untuk ikut berkontribusi dalam aksi membela harga diri wong cilik, harga diri umat Umat Islam serta para Ulama yang selalu difitnah, direndahkan, dan dipinggirkan.

Aku jadi teringat jaman masih di kampus dulu suka berdiskusi dengan teman-temanku. Kami suka mengamati perilaku manusia, mengkritisi teman-teman sendiri, nyinyir pada alim-ulama yang sok-suci dalam pandangan kami, mendiskusikan kondisi umat yang masih bodoh menurut referensi yang kami baca, serta mengkritisi pemerintah yang represif dan membungkam aspirasi rakyat. Sampai hari ini pun, aku dan teman-temanku masih istiqamah sebagai pengamat tanpa pernah tergerak untuk ikut menyelami realitas umat di dusun-dusun atau pinggiran perkotaan, juga tidak berempati pada kerja keras para dai dan guru ngaji yang tak takut panas tak takut hujan terus telaten mengajari umat membaca Kitab Suci serta menjaga keimanan dan akidahnya.

Ah Sasa, pagi ini aku betul-betul malu menatap wajahmu.