Senin, 19 Desember 2022

MUSIM DOLOP TIBA

MUSIM DOLOP TIBA

"Musim dolop sudah mulai lagi ya, Pak Bei," kata Narjo sambil melemparkan lipatan koran.

"Apa, Kang?"

"Musim dolop sudah tiba." 

Dolop. Sudah lama Pak Bei tidak mendengar istilah itu. Dulu waktu masih usia SD, hampir setiap hari pasaran Minggu Legi, Pak Bei dan teman-teman sebaya biasa main ke Pasar Jatinom nonton keramaian di sana. Dimulai dari los pasar burung, pindah ke pasar kambing, pindah lagi ke pasar sapi, lalu ikut uyel-uyelan nonton pedagang jamu mendemonstrasikan kehebatan jamunya. 

Dari seringnya nonton atraksi bakul jamu, anak-anak pun jadi tahu bahwa sebenarnya pedagang jamu itu bukan sendirian, tapi ada tim kerja yang masing-masing anggotanya memainkan peran. Beberapa orang berperan sebagai pengunjung yang ikut berkerumun dan ikut menawar harga. Bukan mau benar-benar  membeli, tapi hanya akting sekedar untuk mempengaruhi psikologi penonton. Ada yang pura-pura sakit lempoh yang hanya dengan olesan obat dan satu sentuhan tangan pedagang, si sakit langsung pun sembuh, bisa berdiri dan berjalan. Anggota tim yang lain mencoba menawar harga, di susul anggota lainnya menawar dengan harga lebih tinggi. Mereka benar-benar kompak  mempengaruhi pengunjung agar mau menawar dan membeli obat atau barang yang ditawarkan si pedagang. Itulah fungsi dolob.  

"Apa sekarang masih ada dolop, Kang? Jamannya sudah beda, lho."

"Semakin banyak, Pak Bei. Ada yang profesional alias bayaran, dan ada yang hanya relawan."

"Maksudnya?"

"Kalau dulu di Pasar Legi Jatinom yang dijual kan obat atau jamu. Ada obat pegel linu, obat encok, obat kuat lelaki, dan sebagainya."

"Kalau sekarang?"

"Sekarang yang dijual janji-janji."

"Janji-janji apa?"

"Janji tidak akan impor beras, janji tidak akan nambah hutang negara, janji membuka jutaan lapangan kerja, janji dana abadi pesantren, janji akan memberi contoh hidup sederhana, janji tidak akan menaikkan tarif listrik, BBM, dan pajak, dan masih banyak janji lainnya yang manis-manis."

"Terus..."

"Tapi semuanya kan cuma mbelgedhes."

"Maksudnya?" 

"Ngapusi kabeh, omong kosong. Tapi rakyat gampang percaya, dan akhirnya ketipu lagi."

"Kenapa rakyat bisa ketipu terus ya, Kang?"

"Ya karena ulah para dolop, Pak Bei. Tiap hari rakyat dijejali informasi tentang kehebatan jamu atau jagonya, digiring agar ikut menjelekkan merk jamu yang lain. Lama-lama rakyat pun percaya. Rakyat terpedaya oleh trik para dolop bayaran, dan akhirnya kembali tertipu, hanya menjadi objek penderita."

"Mesakke ya, Kang."

"Tapi rakyat juga kebangetan kok, Pak Bei. Gampang lupa, tidak titen. Asal para dolop sudah bagi-bagi amplop, rakyat pun lupa semua penderitaannya."

"Begitu ya, Kang."

"Dan sekarang ini sudah mulai bermunculan lagi dolop-dolop, baik yang perorangan maupun yang terorganisir dan resmi."

"Contohnya, Kang?"

"Ada yang kelihatannya partai politik peserta pemilu, tapi sebenarnya cuma dolop. Ada yang kelihatannya lembaga survey bonafid, tapi sesungguhnya cuma dolop yang bertugas menggiring opini publik. Namanya juga orang cari makan, Pak Bei. Berbagai cara pun ditempuh."

"Wislah, Kang. Pagi-pagi ngomong politik, bisa hilang selera sarapan."

"Ya sudah, Pak Bei. Aku mau lanjut kerja dulu.  Pamit, ya. Wassalam..."

Kang Narjo loper koran itu meneruskan tugasnya mengantar koran pagi ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Meski pembaca koran tinggal sedikit, tapi Narjo masih tetap setia dengan profesi yang sudah ditekuninya sejak 4 dasawarsa yang lalu.

"Jaga kesehatan ya, Kang," begitu pesan Pak Bei hampir setiap pagi pada sahabatnya.

#serialpakbei
#musimdoloptiba
#wahyudinasution
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah
#lpumkmklaten








Kamis, 15 Desember 2022

PARTAI UMMAT

PARTAI UMMAT

"Pak Bei, bagaimana ini kok Partai Ummat gak diloloskan KPU? Ini pasti ada yang bermain," kata Narjo sambil melempar koran ke teras nDalem Pak Bei. "Lha kalau disuruh kembali ke PAN jelas gak mau saya?," lanjutnya.

"Memang ada yang nyuruh Kang Narjo kembali ke PAN?," tanya Pak Bei.

"Ya belum ada. Tapi kan jelas terbaca arahnya, Pak Bei."

"Terbaca bagaimana?"

"Kalau Partai Ummat lolos jadi peserta Pemilu, PAN bisa tergerus suaranya di Pemilu 2024. Mayoritas pemilih PAN akan hengkang ke Partai Ummat. Makanya perlu dilakukan berbagai cara agar Partai Ummat tidak lolos."

"Kok bisa begitu, Kang?"

"Jelas bisa. Cetho welo-welo. Para petinggi PAN takut kalau para pemilih dan simpatisannya selama ini akan ramai-ramai bedhol desa ke partainya Pak Amien Rais yang baru, Partai Umat."

"Kenapa takut?"

"Loh, mereka pasti sadar telah mengkhianati Pak Amien, sadar telah merampok PAN menjadi partai pendukung Pemerintah. Pak Bei lihat saja, tokoh-tokoh PAN sudah tidak punya mental oposisi, tidak kritis lagi pada kebijakan yang tidak pro-rakyat, tidak peka terhadap kemungkaran yang semakin marak. Pak Bei lihatlah juga kemana arah dukungan mereka untuk calon Presiden nanti. Cetho welo-welo. Makanya menjelang Pemilu 2024, mereka ketakutan sendiri. Takut akan kehilangan banyak suara, takut semakin banyak kehilangan kursi legislatif dan  hanya akan jadi partai gurem."

Wah gawat juga omongan Kang Narjo ini. Ternyata dia bukan sekedar loper koran, tapi juga bisa menyerap sari berita dari koran-koran yang diantarkannya setiap pagi.

"Waduh saya malah gak tahu  kalau sejauh itu, Kang. Kok sampai segitunya analisismu?"

"Makanya Pak Bei harus rajin-rajin baca koran. Biar titen. Biar bisa membaca tanda-tanda jaman, paham obah mosiking kahanan. Jangan berlangganan koran tapi gak pernah dibaca. Ingat, Pak Bei, bagaimanapun juga berita koran lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hoax."

"Iya ya, Kang. Terus bagaimana soal partai tadi?"

"Ya itu yang saya masih bingung mau ikut partai apa nanti."

"Gak usah bingung, Kang. Rasah dipikir, lha cuma soal partai saja kok repot."

"Pak Bei ini bagaimana, to. Ya memang kita ini cuma rakyat, tapi mbok ya agak cerdas sedikit biar tidak terus-menerus dibodohi orang-orang yang sok pintar dan punya modal. Rakyat ini jangan mau dijadikan bebek yang bisa digiring-giring ke mana saja, lalu telurnya mereka yang menikmati."

"Kalau soal partai, Kang, pilihanku sudah jelas kok."

"Partai apa, Pak Bei?"

"Partai Final Piala Dunia 2022?"

"Wooo....lha ini yang namanya jindul. Ya sudah, Pak Bei, aku mau neruskan tugas dulu. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

#serialpakbei
#wahyudinasution






Sabtu, 10 Desember 2022

NGUNDHUH MANTU

NGUNDHUH MANTU

"Baru kali ini ada orang ngundhuh mantu benar-benar ngrepoti negara," kata Narjo.

"Ngrepoti negara bagaimana?" tanya Pak Bei.

"Orang tua punya hajat nikahkan anaknya atau ngundhuh mantu itu kan biasa to, Pak Bei. Orang Jawa bilang, itu netepi darmaning asepuh. Melaksanakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya."

"Iya, terus apa masalahnya?"

"Wah Pak Bei ini bagaimana, to? Makanya dibaca koran ini biar tahu berita terkini. Jadi head-line lho, Pak Bei. Kalau cuma lihat di medsos pasti gak menarik.membacanya. Edyan tenan kok..."

"Siapa yang edan, Kang? Mbok jangan gitulah..."

"Presiden pilihan Pak Bei ini memang elok tenan. Joss. Seneng gawe giris, gawe pengeram-eram."

"Kenapa, Kang?"

"Baru kali ini lho ada presiden mantu anaknya pakai pengamanan puluhan ribu pasukan polisi dan tentara, ngerahkan panser dan peralatan perang, juga didukung drone untuk memantau pergerakan rakyat di kota Solo."

"Mbokya biar saja. Namanya juga presiden, pasti duitnya banyak. Mau melakukan apa saja juga bisa."

"Sugih tenan. Katanya tidak nerima sumbangan. Semua dibiayai sendiri. Tapi apa iya puluhan ribu pasukan itu beliau sendiri yang membiayai. Belum lagi sarana-prasarana pestanya."

"Ya mungkin saja to, Kang. Namanya saja wong sugih."

"Nalar saya gak nyandhak, Pak Bei."

"Kok gak nyandhak ?"

"Yang namanya presiden kan punya banyak menteri, gubernur, bupati, walikota, dirjen, dan lain-lain. Mosok mereka gak nyumbang sama sekali. Ya gak mungkinlah."

"Lah kan memang tidak menerima sumbangan?"

"Kalau sumbangan berupa amplopan duit seperti di masyarakat pada umumnya, mungkin memang tidak sama sekali."

"Terus..."

"Tapi apa gubernur atau bupati tidak rebutan nyediakan tenda, dekorasi, rias manten, catering, dan sebagainya? Apa iya Menteri Pertahanan dan Kapolri, misalnya, tidak perintah ke seluruh jajarannya untuk ngerahkan polisi dan tentara plus peralatan perang untuk pengamanan? Itu kan tanda loyalitas bawahan pada atasan to, Pak Bei. Kalau tidak bantu, itu namanya kebangetan. Mau dipecat?"

"Wah kalau sampai segitu mikirmu,  aku ora tekan, Kang. Ora mudheng. Ora nyandhak."

"Saya ya juga cuma entho-entho kok, Pak Bei. Dari baca koran terus mikir. Mungkin juga salah."

"Ya gak papa, Kang. Rakyat kan cuma bisa nonton, ndelok, kendel alok. Terserah rakyat mau bilang apa, the show must go on, acara jalan terus.

"Ya sudah, Pak Bei. Saya mau neruskan tugas dulu. Ngantar berita."

"Monggo, Kang. Hati-hati, ya. Gak usah ngebut.

"Siapp. Wassalam..."

"Wa'alaikumsalam...."

Loper koran yang wajahnya selalu open dan plengah-plengeh itu meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei, melanjutkan rutinitas paginya. Orangnya sederhana, tapi soal update berita, dialah orang yang rajin dan setia....

#serialpakbei
#wahyudinasution







 




Rabu, 07 Desember 2022

COTHO

COTHO

"Wah benar-benar cotho ya rakyat ini, Pak Bei," kata Narjo usai melemparkan lipatan koran seperti biasanya.

"Cotho bagaimana, Kang?" tanya Pak Bei sambil melepas kacamata bacanya. 

Segera saja loper koran langganan Pak Bei itu mematikan motornya, melepas helm, dan membuka maskernya, lalu melepas uneg-uneg di hatinya.

"Ya gimana gak cotho, Pak Bei. Ini kan lagi musim Piala Dunia, tapi orang seperti saya ini tak bisa lagi menikmati siaran langsung di tivi. Cotho tenaan....," kata Narjo.

"Apa belum beli STB, Kang?"

"Ya pengin beli, tapi di mana-mana gak ada, semua toko kehabisan stok."

"Katanya ada gratisan dari Pemerintah?"

"Katanya begitu. Tapi mungkin cuma di kota saja, gak sampai ke desa."

"Ya sudah gak usah nonton tivi, gak usah nonton Piala Dunia. Kang Narjo kan bisa baca berita koran tiap pagi."

"Ya beda, Pak Bei. Kalau nonton siaran langsung kan emosi kita bisa ikut. Kalau jago kita menang, perasaan jadi puas, bahagia. Kalau kalah ya lemes, sedih. Lha kalau baca koran, kan kita cuma baca tulisan wartawan."

"Ya jangan bilang cuma to, Kang. Nyatanya tulisan para wartawan itu yang jadi sumber penghidupanmu sejak dulu, kan?"

Pak Bei ingat betul, Narjo sudah jadi loper koran sejak lulus sekolah SMEA, sekitar tahun 1983. Dulu dia keliling tiap pagi ke rumah-rumah pelanggannya pakai sepeda ontel, pit wedok tua yang suaranya glodhek-glodhek. Baru mulai tahun 90an Narjo bisa beli Super Cup bekas sehingga bisa menjangkau pelanggannya bukan hanya di seputar Kecamatan Jatinom, tapi juga Karanganom, Tulung, dan Polanharjo. Di tahun-tahun itu juga Narjo berani menikah dan punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Sebelum pandemi dua tahun lalu, anak-anak Narjo sudah mentas semua, alias ketiganya sudah berumah tangga. 

"Gusti Allah itu benar-benar adil kok, Pak Bei," kata Narjo suatu pagi.

"Lha piye, Kang?"

"Dulu waktu anak-anakku masih sekolah, masih butuh biaya banyak, pelangganku juga sangat banyak sehingga hasil kerjaku cukup untuk membiayai mereka. Dulu tiap hari aku berangkat pagi-pagi habis sholat shubuh dan baru pulang menjelang 'ashar."

"Sekarang gimana, Kang?"

"Sejak anak-anakku selesai sekolah dan berkeluarga, ternyata pelangganku juga jauh berkurang, Pak Bei. Pelangganku dulu sudah banyak yang beralih ke berita online, tidak lagi langganan koran. Jadi pelangganku sekarang tinggal sedikit. Sebelum dhuhur aku sudah sampai rumah."

"Gitu ya, Kang. 

"Memang umurku juga sudah tak lagi muda, Pak Bei. Tenaga sudah menurun. Makanya beban kerja dan jatah rejekiku juga sudah jauh berkurang. Disyukuri sajalah, Pak Bei. Santai. Gak usah ngoyo, gak usah memaksakan diri."

"Benar itu, Kang. Jaman memang sudah berubah. Kita syukuri saja."

"Tapi Pemerintah kita kok kebangetan ya, Pak Bei."

"Kebangetan gimana, Kang?"

"Pak Bei pasti ingat, dulu di tahun 70an, kalau kita mau nonton tivi, nonton ketoprak, nonton Piala Dunia, atau film cowboy Wild Wild West harus ke rumah Pak Lurah, nonton ramai-ramai, itu pun tivi hitam putih. Kalau accu-nya pas lagi di-stroom-ke, nonton tivi libur dulu 2-3 hari."

"Iya betul. Terus gimana?"

"Mulai awal tahun 80an, ketika listrik sudah masuk ke desa-desa, ekonomi rakyat juga sudah makin baik, banyak yang bisa beli televisi. Masih tivi hitam-putih."

"Terus"

"Mulai tahun 2000an, orang yang berduit sudah mulai beralih ke tivi berwarna. Tapi tidak ada paksaan lho, Pak Bei. Mau nonton tivi hitam-putih atau berwarna, rakyat bebas memilih sesuai kemampuannya."

"Iya ya, Kang. Dulu tivi berwarna juga cukup mahal harganya."

"Sekarang Pemerintah kok main paksa."

"Main paksa gimana?"

"Tivi analog dimatikan, semua rakyat mau tidak mau harus pindah ke tivi digital. Itu kan pemaksanaan namanya. Penindasan, Pak Bei. Perampasan hak-hak rakyat."

"Ya jangan terus negatif begitu berpikirmu, Kang."

"Terpaksa berpikir negatif, Pak Bei. Mbokyao rakyat ini diberi kebebasan memilih."

"Maksudmu?"

"Biarkan rakyat memilih mau tetap nonton tivi analog atau mau beralih ke tivi digital. Pemerintah jangan main paksalah."

"Kang, Pemerintah kan ingin memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Rakyat jangan nonton tivi yang sering semutan kepyur-kepyur lagi, tapi nontonlah tivi dengan gambar yang bermutu, berkualitas. Gitu lho, Kang."

"Bola-bali nek negara diurus orang bisnis, kapitalis, ada saja akal-akalannya. Rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini dijadikan target pasar untuk nglarisi dagangannya. Beda banget kalau negara diurus negarawan, Pak Bei."

"Jaman sekarang kok, Kang. Oang yang punya jiwa negarawan biasanya gak punya modal untuk ikut berlomba jadi pengurus. Rakyat juga lebih seneng milih orang yang punya duit, kan?"

"Ya itu masalahnya, Pak Bei. Rakyat ini tidak mau belajar dari setiap kejadian. Ora titen. Pelupa. Asal ada orang kelihatan punya duit lalu pasang poster di jalan-jalan dan datang bagi-bagi amplop, rakyat langsung kesengsem, klepek-klepek, manut, hilang akal, hilang kesadaran. Jadinya ya rusaklah negara ini."

"Sudah siang, Kang. Sana lanjutkan dulu kerjamu. Koran pagi harus diantar pagi-pagi, jangan siang-siang baru diantar."

"Njih, Pak Bei. Siap. Pamit dulu, ya. Wassalam..."

Narjo melanjutkan kerjanya, mengantar koran ke rumah-rumah pelanggannya yang tinggal beberapa. Entah apa yang akan dikerjakannya nanti bila semua pelanggannya sudah beralih ke berita online. Semoga masih banyak pelanggan yang seperti Pak Bei. Meski koran pagi tidak sempat dibacanya, tapi Pak Bei betul-betul gak tega mau berhenti berlangganan. Kasihan Narjo. Semoga sehat selalu ya, Kang Narjo....

#serialpakbei
#wahyudinasution

Minggu, 09 Oktober 2022

KADER SEJATI

KADER SEJATI

"Selamat ya, Mas Tri. Sukses," kata Pak Bei sambil menyalami Trihatmo, sahabatnya yang jadi koordinator acara Tabligh Akbar pagi ini. Dia sedang duduk di kursi. Matanya tampak sembab -- mungkin karena habis menangis terharu-- memandangi ribuan orang yang beranjak dari tempat duduk menuju pintu keluar Edutorium. Di atas dan depan panggung,  tampak ibu-ibu berseragam 'Aisyiyah dan bapak-bapak berbatik Muhammadiyah sedang antri bergiliran foto bersama dan selfie dengan backdrop panggung sebagai bagroundnya. Wajah-wajah panitia pun tampak cerah bahagia. Mereka bersalaman satu sama lain sambil mengucap selamat, hamdalah, dan entah apa lagi yang mereka perbincangkan.

Tapi dari semua itu, Trihatmolah yang paling menarik perhatian Pak Bei. Dia tentu yang paling merasa lega sekaligus terharu atas berlangsungnya acara Tabligh Akbar ini. Dia lega karena seluruh acara dapat berlangsung lancar dan bagus. Kursi-kursi VIP terisi semua oleh tokoh-tokoh Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah, Rektorat UMS, serta jajaran Forkompinda Solo Raya. Dia terharu karena acara juga dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga persediaan konsumsi hampir 17.000 box tidak mencukupi. Memang sempat ada kekhawatiran jamaah yang hadir hanya sedikit karena publikasi yang tersebar seolah membatasi hanya yang pegang undangan yang boleh hadir mengikuti Tabligh Akbar bersama UAH. Maka, Atmo didukung semua panitia pun mengambil langkah-langkah strategis untuk penyelamatan. Dan berhasil, Alhamdulillah.

Pak Bei tahu betul totalitas Trihatmo, sahabatnya dari PDM Solo itu, sebagai koordinator acara. Sejak persiapan berbulan-bulan lalu hingga saat pelaksanaan di hari-H, dia menunjukkan kelasnya sebagai kader sejati Persyarikatan. Usianya tidak lagi muda. Kesahatannya juga tidak lagi prima. Tapi jangan tanyakan semangat dan dedikasinya. Luar biasa. 

"Wah, beruntung sekali teman-teman Kokam bisa ikut mendapatkan berkah dari ngajinya Mas Wildan Zulfikar. Rejeki anak sholeh," kata Trihatmo.

"Iya, Mas. Alhamdulillah. Minhaitsulaayahtasib," jawab Pak Bei.

"Luar biasa. Tidak salah Pak Bei ngusulkan Mas Wildan sebagai Qori' acara ini. Saya ikut bangga, Pak Bei," kata Trihatmo.

"Iya, Mas. Alhamdulillaah. Mohon maaf kalau masih ada kekurangan," jawab Pak Bei pada sahabatnya.

"Hebat, Pak Bei. Kita telah membuktikan bahwa ada Qori' bagus dari Kokam, bahwa anak Kokam juga bisa ngaji bagus," kata Taufiq yang tiba-tiba datang dan langsung nerocos. "Kulihat tadi Ustadz Adi Hidayat juga terpesona. Makanya beliau menghadiahi umroh gratis untuk Mas Wildan dan 9 Kokam lainnya. Alhamdulillah," lanjut Taufiq.

"Kira-kira siapa saja 9 Kokam yang beruntung itu ya, Mas Taufiq?," tanya Pak Bei.

"Ya kalau itu biarkan para komandan Kokam sendiri yang memilih, Pak Bei. Kita gak usah cawe-cawe," jawab Taufiq.

"Tapi, Mas, sebenarnya ada yang jauh lebih penting dari hadiah umroh itu untuk masa depan Persyarikatan," kata Pak Bei.

"Apa itu?"

"Tawaran bea siswa tadi, Mas Taufiq."

"Iya benar itu, Pak Bei," sahut Trihatmo.

"Tadi UAH sudah mendeclared sebagai kader tulen Muhammadiyah. Iya, kan?," tanya Pak Bei.

"Betul. Beliau sangat bangga sebagai kader alumni Ponpes Darul Arqam Garut, Jawa Barat.  Bahkan, Nomor Baku Muhammadiyah-nya pun beliau hafal di luar kepala. Itu luar biasa," respon Taufiq bersemangat.

"Tampaknya UAH sadar betul urgensi Muhammadiyah menyiapkan kader yang punya otoritas keilmuan untuk mengisi Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh di masa depan."

"Iya benar, Pak Bei. Kader-kader harus dipersiapkan dari sekarang."

"Beliau yang punya reputasi sarta jaringan internasional sering mendapatkan peluang bea siswa bagi para mahasiswa yang mau serius mendalami ilmu-ilmu agama. Saat ini  beliau mendapatkan kuota untuk 40 mahasiswa S1 hingga S3, dan yang 30 beliau tawarkan untuk kader Muhammadiyah. Ini peluang bagus. Dan beliau tunggu dalam waktu sepekan PP Muhammadiyah dapat mengirimkan datanya." 

"Itu yang seharusnya disambut dengan sebaik-baiknya oleh para pimpinan Persyarikatan," Amir yang dari tadi hanya mendengarkan ikut merespon juga. "Tadi beliau juga menyinggung," lanjut Amir," bahwa selama ini peluang bea siswa yang ditawarkannya ke PP Muhammadiyah kurang mendapatkan respon menggembirakan sehingga paluang lepas begitu saja."

"Wah sayang sekali, ya. Eman-eman," Trihatmo merespon, "Padahal banyak anak-anak kita lulusan Pondok Pesantren, baik dari Ponpes Muhammadiyah maupun dari luar, yang pintar-pintar dan potensial mendapatkan peluang itu," lanjutnya.

"Kita doakan saja semoga Muktamar ke-48 kali ini akan membuahkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan Persyarikatan," kata Pak Bei 

Obrolan para kader di tengah hiruk-pikuk usai acara Tabligh Akbar pun diakhiri. Pak Bei, Trihatmo, Taufiq, dan Amir harus pindah ke ruang rapat di lantai 2 untuk mengikuti rapat koordinasi bersama para pimpinan.

#serialoakbei
#wahyudinasution
#kadersejati
#tablighakbarbersamauah








 

Selasa, 27 September 2022

TABLIGH AKBAR

TABLIGH AKBAR

Sejak pagi Pak Bei tampak sibuk dengan HPnya, menjawab berbagai pertanyaan seputar acara Tabligh Akbar menjelang Muktamar Muhammadiyah & 'Asiyiyah ke-48 di Surakarta, baik yang via WAG maupun WApri. Pak Bei sadar betul, itu resiko keterlibatannya sebagai Panitia Muktamar. Orang tahunya setiap panitia pasti memahami berbagai hal seputar Muktamar dan harus siap menjawab dengan baik setiap pertanyaan. Padahal tidaklah demikian. Setiap panitia mengurusi seksi atau sub-seksi yang menjadi tanggungjawabnya masing-masing. Hanya pimpinan dan seksi media atau humas yang tentu harus memahami seluruh urusan dan dapat mengkomunikasikan dengan baik kepada publik. Tapi itu hanya teori. Publik tahunya semua panitia paham segalanya. Maka, Pak Bei pun harus bisa menjawab setiap pertanyaan, meski tak jarang harus bertanya dulu pada teman yang ngurusi kegiatan terkait pertanyaan itu.

Masih mending kalau pertanyaan itu tertulis via WA, masih ada kesempatan bagi Pak Bei bertanya dulu pada teman yang mengurusi langsung. Kalau ndilalah pertanyaan via telepon, itu yang bisa bikin pusing pala dan pelo karena khawatir jawabannya tidak tepat dan mengecewakan.

Seperti tadi pagi, misalnya. Pak Bei baru saja selesai mengisi wadah makan dan minuman burung-burung kesukaannya, 2 ekor perkutut dan 3 ekor derkuku, dan mengembalikan kurungan-kurungan di cantelannya, tetiba ada dering telepon masuk di HPnya.

"Pak Bei, jadinya kapan acara Tabligh Akbar bersama Ustad Adi Hidayat? Ini jamaah mesjid kami sangat antusias untuk hadir bareng-bareng mengikuti langsung tausiyah UAH, ustad kesayangan kita. Kok belum ada publikasinya?," tanya seseorang yang mengaku bernama Taufiq dari Kebak Kramat, Karanganyar.

Bagi Pak Bei, itu kabar bagus, menunjukkan bahwa  animo masyarakat menghadiri acara Tabligh Akbar cukup tinggi. Tidak salah teman-teman panitia memilih UAH yang dihadirkan dengan keyakinan punya daya magnet kuat di masyarakat. Tapi sebenarnya Pak Bei juga agak ngeri mengingat kapasitas Edutorium UMS yang hanya sekitar 5.000 orang. Kalau nanti yang hadir sampai puluhan ribu orang bagaimana? Berarti Pantia harus mengantisipasi, paling tidak menyiapkan sound-system yang memadai, layar lebar LED di luar gedung, dan syukur bisa nyiapkan konsumsi snack atau sekadar air minum botol. Waoow....itu tentu akan menambah budget yang tidak sedikit.

"Mas Taufiq, Insya Allah acara Tabligh Akbar bersama UAH akan kita laksanakan pada Sabtu, 8 Oktober pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Itu bertepatan dengan hari libur Maulid Nabi, pas tanggal merah. Jadi Monggo kalau Mas Taufiq dan jamaah bisa hadir ngaji bareng, tentu panitia akan menyambut dengan gembira," jawab Pak Bei.

"Tidak ada perubahan tanggal ya, Pak Bei?"

"Tidak berubah, Mas. Tetap tanggal 8 Oktober 2022."

"Baiklah, Pak Bei, akan saya infokan ke jamaah dan teman-teman kami di kecamatan lain." kata Taufiq.

"Siap, Mas Taufiq. Silakan info ini diteruskan ke teman-teman. Kita sama-sama mensukseskan seluruh rangkaian acara Muktamar ke-48. Sampai jumpa di Edutorium tanggal 8 Oktober nggih, Mas."

"Matur nuwun sanget, Pak Bei. Assalaamu'alaikum...."

Pertanyaan Taufiq itu sama dengan pertanyaan Pak Baidi dari Weleri tadi malam yang siap hadir bersama rombongan 2 bus. Itu juga sama dengan cerita Didin bahwa PCM Pedan Klaten akan hadir paling tidak 3 bus belum termasuk yang pakai mobil pribadi. Sama juga dengan WA dari Ibu Sholihah dari Slogohimo Wonogiri yang akan hadir bersama jamaahnya dengan mencarter 1 bus besar.

"Luar Biasa. Semoga panitia bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi semua tamunya," kata Pak Bei dalam hati sambil beranjak menuju halaman untuk menyirami aneka bunga mawar yang bermekaran.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#seksisyiar
#muktamar50harilagi




Selasa, 20 September 2022

KI AGENG GRIBIK

KI AGENG GRIBIK
(Perjumpaan-2)
Oleh: Wahyudi Nasution

Obrolan pagi itu menjadi lebih gayeng sejak Mbak 'Aisyah melibatkan satu stafnya yang indigo. Riska, begitu nama panggilan staf yang asli dari Garut, Jawa Barat itu, diajak bergabung gara-gara obrolan kami masuk ke seputar sejarah Ki Ageng Gribik. Katanya, Riska biasa didatangi 'seseorang' yang sudah lama meninggal, lalu bisa berdialog panjang-lebar tentang sesuatu hal. Katanya, tadi malam Riska tidak bisa tidur karena sibuk mencatat di HPnya nama-nama yang disampaikan 'orang' itu terkait silsilah Ki Ageng Gribik.

Bermula dari obrolan Pak Bei dengan Mas Pri yang semakin seru, bahkan terkesan agak berdebat. Namanya juga obrolan lelaki. Beda dengan Mbak Aisyah dengan Bu Bei yang tampak asyik ngobrol seputar dunia wanita, tentang kegiatan Mbak 'Aisyah yang semakin padat dari kita ke kota, tentang anak-anak muda korban narkoba yang semakin hari semakin banyak, tentang yayasan yang dibangun Mbak 'Aisyah untuk pemulihan kembali para korban narkoba yang operasionalnya dibiayai sendiri dari hasil seminar dan ceramahnya. Bu Bei pun bercerita tentang kegiatannya sebagai Ketua DPC IWAPI Klaten dan sebagai Wakil Ketua Umum DPD IWAPI Jawa Tengah. Dalam satu meja bundar pagi itu, terjadi dua tema obrolan, namun masing-masing tampak sesekali mencuri-curi dengar obrolan tetangga.

"Mas, tadi Njenengan cerita bahwa sudah beberapa tahun terakhir ini tidak melibatkan diri di upacara Yaqawiyyu. Kenapa begitu? Bukankah ayah Mas Pri almarhum dulu sangat concern untuk berkontribusi mambangun masyarakat Jatinom, termasuk Saparan Yaqawiyyu?," tanya Pak Bei. 

"Ya kan karena pandemi, Pak Bei," jawab Mas Pri sambil senyum-senyum.

"Loh tadi katanya susah sejak setahun sebelum pandemi? Dan Saparan kali ini pun Mas Pri juga sengaja tidak ambil peran?"

"Ya memang. Bahkan kali ini aku sama sekali tidak mau menginjakkan kaki ke makam Ki Ageng Gribik."

"Kenapa, Mas?"

"Yah kan sudah ada yang punya, Pak Bei. Sudah ada yang mengaku-aku sebagai dhuriyah atau keturunan Ki Ageng Gribik. Rupanya masyarakat sini pun percaya, lalu membiarkan makam leluhur Jatinom itu diobok-obok untuk kepentingan politik. Ya sudah, mau apa kita? Tapi saya yakin, mereka sesungguhnya tidak tahu siapa Ki Ageng Gribik dan dari mana asalnya."

"Menurut Mas Pri, siapa Ki Ageng Gribik itu?"

"Ki Ageng Gribik itu aslinya dari Jawa Timur, datang ke sini untuk berdakwah. Beliau juga membeli tanah-tanah di sekitar sini untuk dijadikan daerah perdikan yang merdeka dari intervensi keraton. Jadi kawasan Jatinom ini dulu semacam Pondok Pesantren."

"Mas Pri, saya punya teori yang mungkin agak berbeda tentang Ki Ageng Gribik."

"Beda bagaimana?"

"Ki Ageng Gribik itu paling tidak ada tiga, Mas," kata Pak Bei. "Ini berdasarkan angka tahun, beberapa kejadian, serta informasi sejarah yang pernah saya baca. Dengan logika dan imajinasi, saya mencoba otak-atik gathuk, Mas," sambungnya.

"Kok bisa ada tiga, Pak Bei?"

"Iya, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang pertama adalah Maulana Malik Maghribi, salah satu Walisanga angkatan pertama. Beliau berasal dari Maghribi atau Maroko. Sebagai da'i resmi Kasultanan Turki yang dikirim ke Tanah Jawa pada awal ke-14, beliau tentu sangat menguasai ilmu-ilmu agama. Di samping itu,  beliau juga punya ketrampilan khusus untuk diajarkan ke masyarakat, yakni ketrampilan di bidang pertanian. Itulah sebabnya masyarakat Klaten punya kultur yang kuat di bidang pertanian, lebih kuat dibanding daerah-daerah sekitar. Itu jejak dakwah Ki Ageng Gribik, Mas. Itulah sebabnya kenapa dulu VOC memilih Klaten sebagai based-camp di antara Keraton Jogja-Solo untuk penguatan bisnis pertanian dan perkebunan."

"Iya juga sih. Infrastruktur pertanian di Klaten ini memang bagus. Tapi bukankah itu buatan Belanda, Pak Bei?"

"Yang membangun fisik irigasinya memang Belanda, Mas Pri. Tapi budaya dan etos kerja petaninya warisan Ki Ageng Gribik."

"Terus yang kedua siapa?"

"Yang kedua cucu Sunan Giri yang dikirim nyantri ke Jatinom, di padepokan sahabatnya di lereng Gunung Merapi, yakni Ki Ageng Gribik. Cucu sahabatnya itu digula-wenthah atau didik dengan sebaik-baiknya oleh Ki Ageng Gribik, lalu kelak setelah dewasa diambil jadi menantunya. Menantunya ini yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan sebagai Ki Ageng Gribik kedua. Ini jumbuh dengan silsilah resmi K.H. Ahmad Dahlan, bahwa pendiri Muhammadiyah itu keturunan ke-11 Ki Ageng Gribik Jatinom dan keturunan ke-13 Sunan Giri."

"Iya bener, Pak Bei. Saya juga pernah baca silsilah itu. Itu Ki Ageng Gribik kedua, ya?," Mbak 'Aisyah menyahut. Rupanya dia diam-diam ikut mendengarkan cerita Pak Bei.

"Iya, Mbak. Ki Ageng Gribik kedua, cucunya Sunan Giri."

"Lalu yang ketiga siapa?," tanya Mas Pri yang tampak jadi penasaran.

"Di akhir abad ke-14, ketika terjadi ontran-ontran atau gegeran di Kraton Majapahit yang kita kenal sebagai Perang Paregreg, ada seorang pemuda keturunan Brawijaya V, namanya Joko Dolog, melarikan diri ke arah barat, Lalu, Joko Dolog suwita di Padepokan Ki Ageng Gribik Jatinom. Sebagai santri, dia berganti nama menjadi Wasibagna Timur. Nah, mungkin karena keturunan raja Majapahit, Wasibagna Timur cepat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya. Bahkan, dia kemudian diambil jadi menantu gurunya itu. Nah, si Joko Dolog alias Wasibagna Timur inilah yang kemudian meneruskan kepemimpinan padepokan dan menyandang nama besar Ki Ageng Gribik yang ketiga."

"Pak Bei, si Riska anak buahku yang indigo tadi pagi sempat cerita soal siapa Ki Ageng Gribik. Coba kuajak ke sini saja, ya. Kayaknya ada kesamaan," kata Mbak 'Aisyah sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Jadi benar kan, Ki Ageng Gribik itu orang Jawa Timur?," tanya Mas Pri seakan mencari pembenaran.

"Ya benar, Mas Pri. Ki Ageng Gribik yang ketiga keturunan Brawijaya V dari Majapahit Jawa Timur."

Mbak 'Aisyah kembali bersama Riska. Setelah bersalaman dengan Bu Bei, Riska mulai bercerita betapa tadi malam tidak bisa tidur karena sibuk mencatat nama-nama beserta urutan silsilah hingga sampai ke Ki Ageng Gribik. Dengan terbata-bata, Riska menyebut sejumlah nama anak-cucu Brawijaya V, di antaranya Wasibagna satu, Wasibagna dua, dan Joko Dolog yang dikenal sebagai Wasibagna Timur. Timur artinya muda. Wasibagna Timur inilah Ki Ageng Gribik yang makamnya ada di Jatinom."

"Nah, klop kan dengan othak-athik saya tadi, Mas? Itu Ki Ageng Gribik ketiga. Mungkin makam di  belakang Mesjid Besar Jatinom itu makam Ki Ageng Gribik ketiga."

"Makam Ki Ageng Gribik pertama dan kedua yang mana ya, Pak Bei?," tanya Mbak 'Aisyah.

"Mungkin, cuma mungkin lho, makam Ki Ageng Gribik pertama yang ada di Demak itu. Seingat saya, di kompleks makam Demak ada makam Ki Ageng Gribik. Makam Ki Ageng Gribik kedua ada di Malang."

"Di Malang ada makam Ki Ageng Gribik?," tanya Bu Bei.

"Ada. Tapi orang tidak nggagas apa bedanya Ki Ageng Gribik yang makamnya di Malang dan di Jatinom."

"Pak Bei, Riska ini kan asli gadis Sunda, dan baru kali ini kuajak kemari. Jadi gak mungkin dia tahu Ki Ageng Gribik. Tapi ada 'orang' yang ngasih tahu, bahkan dengan sabar nunggui Riska mencatatnya. Ternyata infonya hampir sama dengan teori Pak Bei tadi, ya," kata Mbak 'Aisyah.

"Itu ada 'orang'nya," kata Riska sambil jarinya menuding ke plafon tepat di atas kepala Mas Pri.

"Iih Riska. Jangan gitulah," kata Mas Pri yang tampak merinding.

"Jadi, Mas Pri, kalau ada orang mengaku-aku sebagai keturunan Ki Ageng Gribik, itu maksudnya Ki Ageng Gribik yang mana? Selama ini orang Jatinom saja tidak ada yang berani mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng, kan?"

"Ya itulah, Pak Bei. Saya juga heran, kok bisa-bisanya orang luar mengklaim sebagai dhuriyahnya. Bapaknya saja yang dulu menjadi menjadi menteri Orba selama 3 periode, sama sekali belum pernah ke sini, apalagi mengaku-aku sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik."

"Benar, Mas. Saya juga tahu. Ada dua menteri yang pernah datang ke sini tahun 1981 atau 1982, yakni Menko Kesra Surono dan Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara. Waktu itu mereka meresmikan program Listrik Masuk Desa, lalu menyempatkan sholat ashar di Mesjid Gedhe dan berziarah sebentar ke makam Ki Ageng Gribik."

"Kok Pak Bei masih ingat?," tanya Mbak 'Asiyah.

"Ya jelas ingat banget, Mbak. Lha waktuniru sekolah saya di SMP Muhammadiyah Jatinom, dan sebagai anggota drum band, saya ikut berjajar menyambut kehadiran tamu-tamu agung itu."

"Oya? Wah tentu asyik ya jadi pemain drum band SMP di desa bisa ikut menyambut kedatangan menteri," kata Mbak 'Aisyah sambil senyum-senyum.

"Mas Pri, saya lebih percaya seandainya Mas Pri atau ayah Mas Pri, juga keluarga besar Haji Sholeh, Haji Anwar, Haji Abdul Ghoni, dan sebagainya yang menurunkan tokoh-tokoh di Jatinom ini yang mengklaim sebagai dhuriyah Ki Ageng Gribik. Semua orang Jatinom pun akan maklum"

"Nyatanya tidak ada kan, Pak Bei? Itulah makanya makam Ki Ageng Gribik beserta tradisi haul Saparan Yaqawiyyu menjadi milik publik. Semua orang bisa ikut merayakannya, dan ikut merasakan manfaatnya. Semua orang Jatinom bisa terlibat dengan cara dan kemampuannya. Lha kalau tiba-tiba ada yang mengklaim sebagai dhuriyah, lalu memberi dana rehab kompleks makam dan menunjuk pengelolanya, lalu mengatur-ngatur keterlibatan masyarakat dengan semena-mena, ini kan menyedihkan, Pak Bei," kata Mas Pri.

"Benar, Mas Pri. Saya juga pernah dengar bahwa Cafe Klampeyan yang sahamnya milik masyarakat sekitar itu beberapa waktu yang lalu dibubarkan atas instruksi beliau. Padahal itu riil ekonomi rakyat. Saya lihat juga cukup ramai pengunjungnya. Ada panggung musik untuk para remaja menampilkan ketrampilannya bermusik. Sayang sekali malah dibubarkan."

"Yah itu pasti karena ada anteknya di sini yang merasa berkuasa, Pak Bei. Namanya saja antek, pasti dia dibiayai dan backup penuh oleh bosnya."

"Baiklah, Mas Pri dan Mbak 'Aisyah, saatnya kami mau neruskan perjalanan," kata Pak Bei.

"Mau kemana?," tanya Mbak 'Asiyah.

"Ke Ambarawa, Mbak, ngantar pesanan mukena ke pelanggan," jawab Bu Bei.

"Baik, Pak Bei. Obrolan menarik. Kapan-kaoan kita lanjutkan, ya," kata Mas Pri sambil berdiri mengantar Pak Bei-Bu Bei menuju mobilnya.

"Looh kita belum foto-foto," kata Mbak 'Aisyah mengingatkan.

"Nah iya bener. Ayo kita foto dulu," Bu Bei merespon dengan gembira.

Setelah sesi foto beberapa gambar, Pak Bei-Bu Bei pun meninggalkan Mas Pri dan Mbak 'Asiyah yang mengantar hingga di pintu gerbang.

#serialpakbei
#perjumpaandua
#saparanyaqawiyyu
#kiagenggribikjatinom




















Senin, 19 September 2022

PERJUMPAAN

PERJUMPAAN
Oleh: Wahyudi Nasution

Tak pernah terlintas di kepala Pak Bei bahwa gadis cantik yang dulu tahun 1989 dikenalnya di Ujungpandang (Makassar) itu suatu saat bisa ketemu lagi ketika usianya sudah sama-sama tak lagi muda. Namanya 'Aisyah, mahasiswi Kedokteran Unhas yang ikut aktif sebagai panitia pengundang Sanggar Shalahuddin untuk mementaskan Teaterikalisasi Lautan Jilbab selama dua malam di Gedung Manunggal. Waktu itu bersama Cak Nun (penulis naskah), Agung Waskito alm. (sutradara), dan Sapto Raharjo alm. (penata musik), Pak Bei muda (baru umur 22 tahun) memimpin rombongan 30 pemain teater, naik kereta api dari stasiun Lempuyangan Jogja menuju Gubeng Surabaya, lalu naik angkot ke Tanjung Perak, dilanjut naik KM Tidar menyeberang Laut Jawa. 'Aisyah itulah panitia yang paling aktif dan baik pelayanannya. Tidak pernah terbayangkan juga bahwa salah satu panitia laki-laki yang agak senior usianya, namanya Priyanto, mahasiswa Kedokteran Unhas angkatan jauh lebih tua dari 'Aisyah, yang waktu itu aktif membantu Mas Sapto Raharjo mencari persewaan keyboard Roland S-50 hingga Surabaya, ternyata orang Jatinom, satu kecamatan dengan Pak Bei. 'Aisyah dan Priyanto kemudian berjodoh, jadi suami istri, dan tinggal di Jakarta. Dokter Priyanto mengelola beberapa Rumah Sakit milik keluarga, dan dokter 'Aisyah menekuni rehabilitasi korban narkoba dan mengisi seminar-seminar parenting di berbagai kota. Dokter 'Aisyah Dahlan, begitu nama bekennya, sangat populer terutama di kalangan ibu-ibu saat ini. Bu Bei salah satu penggemarnya. Ceramah-ceramah di Tv dan YouTube selalu diikutinya. Kabarnya, hampir setiap tahun di bulan Safar mereka pulang ke Jatinom, tapi sejak pandemi covid-19 tak pernah lagi, dan baru Safar tahun ini mereka kembali pulang ke kampung halaman Mas Pri manikmati hari raya Jatinom, Yaqawiyyu.

"Bu Bei, besok Safar Ibu Aisyah dan rombongannya akan pulang ke Jatinom. Rencananya akan buat acara seminar juga," begitu pesan WA dari Mbak Riwi yang karyawan di yayasan keluarga Mas Pri beberapa waktu lalu.

"Alhamdulillaah," jawab Bu Bei berbinar-binar. "Saya boleh datang gak, Mbak Riwi?" tanyanya.

"Boleh, Bu Bei. Besok kumintakan undangannya, ya. Peserta dibatasi dan harus bawa undangan."

Bulan Safar sudah masuk pertengahan. Kamis sore menjelang puncak upacara  tradisional Yaqawiyyu, yakni sebaran apem dalam rangka haul Ki Ageng Gribik, Bu Bei berangkat ke tempat acara bersama beberapa temannya berbekal undangan dari Mbak Riwi. Pak Bei berpesan, "Nda, bila memungkinkan, tolong nanti sampaikan salamku untuk Mbak 'Aisyah. Semoga dia masih ingat."

"Waduuh, apa bisa ya? Gak janji lho, Pak Bei. Nanti lihat sikon dulu."

Menjelang Maghrib, Bu Bei pun  tiba di rumah dengan wajah cerah-ceria usai ketemu langsung dengan salah satu idolanya. Pak Bei yang sedang ngopi di teras rumah sambil menunggu azan Maghrib menyambutnya dengan santai.

"Luar biasa. Benar-benar luar biasa," kata Bu Bei sambil tersenyum manisnya, persis seperti bunga mawar warna pink fanta yang sedang bermekaran di taman depan nDalem Pak Bei.

"Apanya yang luar biasa?"

"Ya ceramahnyalah. Sangat menarik. Tapi ada satu yang lebih menarik," kata Bu Bei sambil duduk di kursi dekat Pak Bei.

"Apa itu?"

Bu Bei bercerita bahwa tadi seusai acara, semua peserta antri bersalaman dengan Bu 'Aisyah. Ketika tiba gilirannya, Bu Bei pun menyalami Bu 'Aisyah dengan cipika-cipiki, lalu dibisikannya pesan dari Pak Bei, "Bu 'Aisyah dapat salam dari Pak Bei. Lautan Jilbab."

"Masya Allah. Lautan Jilbab. Allahu Akbar. Gimana kabar Pak Bei? Tinggal di mana dia sekarang?"

"Di Jatinom sini, Bu. Saya istrinya."

"Subhanallah...alhamdulillaah bisa tersambung lagi. Salam kembali untuk Pak Bei ya, Bu. Masya Allah."

"Ah yang bener beliau masih ingat aku?," Pak Bei seolah belum percaya.

"Masih gak percaya? Untuk urusan menyampaikan pesan, Bu Bei ini ahlinya. Selalu punya cara," kata Bu Bei dengan agak kemayu. "Beliau tadi sangat ekspresif ketika mendengar keyword Lautan Jilbab. Tampaknya itu pengalamannya yang tak terlupakan," sambung Bu Bei.

"Terus ada pesan apa?"

"Oya, kita diundang ngobrol-ngobrol di rumah Jatinom besok Sabtu pagi," kata Bu Bei meyakinkan Pak Bei.

Sabtu pagi, Pak Bei dan Bu Bei mau ke Ambarawa mengantar mukena-mukena pesanan pelanggan Bunsaco. Di jalan yang padat menjelang masuk kota Jatinom, Pak Bei yang teringat undangan itu langsung mengarahkan mobilnya ke rumah keluarga besar Mas Pri.

"Kita mampir dulu sebentar, Nda, nyambung silaturahmi," kata Pak Bei.

Setelah mobil terparkir di halaman, Bu Bei turun nemui ibu-ibu yang sedang nemani anak-anaknya bermain. Bu Bei menyampaikan maksud kedatangan kami sebagai teman lama. Ibu-ibu itu pun langsung beranjak ke rumah utama memanggilkan Bu 'Aisyah. Beberapa saat kemudian ibu-ibu itu mengajak kami ke rumah sebelah. Ya Allah, ternyata di sana kami diajak sarapan bareng rombongan dari Jakarta. Terlihat aneka makanan khas Jatinom telah tersaji di meja. Ada Sego megono, jenang lemu, sego gudhangan, sego trancam, dll. Aneka lauk juga tersedia di piring-piring saji. Ada tempe garit, tempe bacem, tahu bacem, tahu bakwan, dan telor asin. Dan satu lagi, karak. Ini krupuk berbahan beras atau nasi sisa dan favorit sebagai lauk Sego megono.
Pak Bei dan Bu Bei pun memilih sego megono, tempe bacem, dan karak. Nikmat tiada tara.

Sekitar setengah jam menunggu, seorang lelaki agak gendut berambut gondrong, berkaos dan celana pendek warna putih, datang bersama dokter 'Aisyah yang berbaju dan berjilbab hitam.

"Apa kabar, Pak Bei? Sudah lama sekali kita tidak ketemu, ya," kata laki-laki itu sambil menggenggam erat tangan Pak Bei. "Aku Prihanto yang dulu nemani Mas Sapto Raharjo cari keyboard sampai Surabaya," lanjutnya.

"Ya Allah, ini Mas Pri yang dulu sibuk bantu kami selama di Ujungpandang? Jebul asli sini, to.  Tonggo."  

"Mas Sapto Raharjo dan Agung Waskito sudah meninggal, ya?"

"Iya benar, Mas Pri. Sudah beberapa tahun yang lalu."

"Iya ,sudah lama kudengar kabar itu waktu ikut acara Kenduri Cinta Cak Nun di TIM Jakarta." Ternyata Mas Pri dan anak-buahnya sering datang ke acara rutin Cak Nun di halaman Taman Ismail Marzuki.

(bersambung)

#serialpakbei
#wahyudinasution
#saparanyaqawiyyujatinom











 yang  percaya, pasti Bu Bei akan menemukan cara 







Sabtu, 17 September 2022

RIP SASA

RIP SASA


Siang terik di Ambarawa. Pak Bei baru selesai sholat dhuhur ketika terdengar nada pesan WA masuk di HPnya. "Biarkan saja dulu. Paling juga WA group yang lebih sering tidak urgen dibaca," begitu pikir Pak Bei yang memilih melanjutkan wiridan  seperti biasa usai sholat. Setelah selesai baru dilihatnya pesan masuk di HPnya.

"Assalamualaikum wr. wb.
Maaf Pak Bei,  edaran  berita layu-layu belum di bikin, ya?," begitu pesan dari Margono, senior yang aktif di WAG Alumni SMP Muhammadiyah 2 Jatinom.

"Siapa yang meninggal, Mas?," tanya Pak Bei.

"Sasa, juru parkir Soto Kartongali."

"Ah yang bener? Tadi pagi kulihat dia bekerja dan tampak segar-bugar, Mas," Pak Bei tidak percaya. "Tolong dipastikan dulu, jangan-jangan cuma kabar Hoax?," lanjutnya.

Pak Bei kembali duduk di kursinya tadi, menyulut kretek yang terselip di pipanya, sambil menunggu balasan dari Margono. 

"Infonya valid dan sudah beredar di beberapa WAG, Pak Bei."

"Sasa sakit apa to, Mas?"

"Gak sakit. Tadi pagi dia kerja sampai jam 10an. Katanya sempat pingsan di parkiran, terus pulang karena gak enak badan. Sampai di rumah dikeroki istrinya, tapi karena kondisi mengkhawatirkan, maka dilarikan ke RS PKU Jatinom. Ternyata sampai di PKU kondisi Sasa tidak tertolong. Innaalillaahiwainnailaihirooji'uun."

"Ya Allah Sasa, semoga husnul-khotimah. Matur nuwun infonya, Mas," jawab Pak Bei sambil menyandarkan punggungnya di kursi. 

Terbayang wajah Sasa sahabat glenak-gleniknya beberapa tahun terakhir. Sasa ini teman sekolah Pak Bei di SMP Muhammadiyah Jatinom 1979-1982, teman di kegiatan drum band yang diasuh Pak Mas'ud (alm), teman belajar Pramuka yang diasuh Pak Adnan tiap Sabtu sore, teman belajar merokok pada jam-jam istirahat di kompleks makam Ki Ageng Gribik belakang Mesjid Besar Jatinom,  teman yang sejak lulus SMP hingga beberapa puluh tahun tidak pernah ketemu dan baru ketemu lagi setelah sama-sama berumur.

Perjumpaan kembali Pak Bei dengan Sasa terjadi warung Soto Kartongali. Sasa menjadi juru parkir di sana, sedang Pak Bei punya kegemaran makan soto. Soto Kartongali ini soto yang paling legendaris di kawasan Jatinom, dan menjadi lebih istimewa karena ada Sasa, juru parkir yang layak mendapatkan predikat Juru Parkir Teladan Nasional. Dia bekerja tidak seperti umumnya juru parkir yang hanya mendekati sopir atau pengendara motor ketika mau minta uang parkir. Tidak. Sasa bekerja dengan sepenuh jiwa-raganya melayani dan menjaga keselamatan pengendara. Memakai rompi hijau khas juru parkir, bendera kecil warna merah-orange, sempritan tercantel di leher, dan balok kayu pengganjal ban mobil. Tapi itu hanya properti. Sasa lebih banyak bekerja dengan mulutnya bengok-bengok memberi aba-aba, sambil badannya membungkuk-bungkuk dan tangannya menuding-nuding memandu ke mana sopir mesti mengarahkan rodanya. Banyak orang yang baru pertama ke Soto Kartongali kaget bahkan sebel dengan pelayanan Sasa. Sok banget, begitu kesannya. Tapi bagi yang sudah biasa, mereka akan percaya dan manut arahan Sasa. Hebat betul pelayanannya. Dan satu hal yang istimewa, Sasa tidak mesti mau menerima uang pemberian para pengguna parkir. Kalau pun dia menerima, tentu akan disertai kata-kata santun, "Matur nuwun, Pak. Monggo ngatos-atos. Mugi-mugi tansah pinaringan sehat."

Sepanjang perjalanan pulang dari Ambarawa, semua memori Pak Bei tentang Sasa seakan kembali diputar. Sahabat yang bersahaja, yang hidupnya hanya  untuk melayani dan membantu orang lain. Pagi-pagi hingga siang menjadi juru parkir, sore hingga malam melayani panggilan pijat capek dari rumah ke rumah. Waktu masih muda, setelah lulus SMP hingga beberapa tahun, Sasa bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jatinom-Klaten. Tentu saja sebagai kernet dia juga harus belajar nyopir, mengganti ban, dan mengenali mesin bila ada yang perlu perbaikan. Dan yang pasti, Sasa juga harus beradaptasi dengan kehidupan jalanan yang keras dan kadang membuat orang lain kurang respect. Ternyata perkembangan jaman membuat para pengusaha angkutan bangkrut. Sasa pun kehilangan pekerjaan. Beruntung Kang Panut (alm.) memberi kesempatan agar Sasa mengelola lahan parkir di warung Soto Kartongali, menjadi juru parkir dengan pola bagi-hasil.

"Saya sudah marem, Pak Bei," kata Sasa suatu pagi.

"Marem apa, Sa?"

"Sudah cukuplah kenakalanku dengan teman-teman dulu. Sekarang saatnya mertobat."

"Bertobat maksudnya?"

"Iya, Pak Bei. Saya ingin hidup seperti manusia pada umumnya, hidup yang bukan hanya bersenang-senang, tapi bermanfaat bagi orang lain."

"Wah bagus itu, Sa. Apa yang bisa kubantu?"

"Tolong ajari saya, Pak Bei. Temani saya agar bisa jadi orang baik."

Sejak itulah Sasa sangat aktif ngobrol dengan Pak Bei. Bila tidak sempat ngobrol di warung, Sasa datang ke nDalem Pak Bei. Kadang pagi-pagi, kadang sore, kadang malam setelah dia melayani panggilan pijat. Tema obrolannya juga bermacam-macam, dari masalah pasar Jatinom yang ilang kumandhange, soal hujan amplop tiap musim Pemilu dan Pilkada yang justru membuat rakyat kecelik dan menderita, soal budaya nyadran dan Saparan di Jatinom, soal tokoh politik yang arogan terhadap rakyatnya, soal lahan pertanian yang terkena proyek jalan tol Jogja-Solo, dan sebagainya. Dan baru dua minggu lalu Sasa datang sambil mlepah-mlepah, marah, karena merasa didholimi ketika ditolak mau beli Pertalite di beberapa SPBU hanya gara-gara dia tidak punya HP Android dan tidak punya barcode.

"Ya Allah, Sasa....aku bersaksi Kamu orang baik dan selalu berbuat baik hingga akhir hayatmu. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosamu, meridhoimu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNya...aamiin," doa Pak Bei usai sholat jenazah.


#serialpakbei
#wahyudinasution
#dukacitamendalam
#doaterbaikuntuksasa











Kamis, 15 September 2022

SEBARAN APEM

SEBARAN APEM

Salah satu kebahagiaan Pak Bei adalah ketika sore-sore bakda 'ashar atau malam-malam  bakda isya' dan kebetulan tidak ada agenda keluar, bisa duduk manis di teras rumah sambil menikmati kopi Semendo. Lalu, tiba-tiba berdatangan teman-temannya untuk sekadar ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali diselingi gojekan pari kena. Atau, tetiba datang mak-gruduk  anak-anak muda millenial ingin mengajak diskusi isu-isu yang sedang aktual di masyarakat dan media sosial. Bagi Pak Bei, kedatangan anak-anak millenial yang punya kepekaan dan semangat juang membuat jiwanya kembali terasa muda dan bergairah. Mereka bukan mau bertanya, tapi mengajak Pak Bei berdiskusi untuk mengkonfirmasikan berbagai hal yang mereka gelisahkan. Kadang pertanyaannya perlu jawaban sederhana, tidak mbulet, yang penting bisa melegakan jiwanya. Tapi kadang juga bikin pusing kepala barby karena jawaban atas pertanyaan mereka harus rasional dan tidak menggurui. Namanya juga generasi millenial. Kritis, tapi kadang juga nganyelke, seperti anak-anak muda yang datang tadi sore. 

"Soal acara sebaran apem di Jatinom itu bagaimana menurut, Pak Bei?," tanya Irfan membuka obrolan. "Kebetulan besok siang bakda Jumatan adalah puncak peringatan Yaqawiyyu berupa Sebaran Apem di Klampeyan bawah Mesjid Gedhe Jatinom," lanjutnya. 

"Masalahnya apa, Dek?," tanya Pak Bei.

"Acara mubazir seperti itu kok diuri-uri, dilestarikan jadi tradisi tahunan selama berabad-abad. Itu bagaimana, Pak Bei?," lanjut Irfan.

Sengaja Pak Bei tidak langsung merespon, tapi memberi kesempatan yang lain untuk menyampaikan pikirannya. Sambil menikmati kretek di pipanya, Pak Bei membiarkan anak-anak muda itu saling mengemukakan pendapat.

"Yah gimana, ya. Kita juga harus jujur dengan melihat sisi positifnya. Bagaimanapun  di acara tradisional Yaqawiyyu Jatinom setiap bulan Shafar ini telah terjadi perputaran ekonomi yang cukup besar dengan adanya Pasar Malam dan hadirnya puluhan ribu orang dari berbagai penjuru. Artinya, ada devisa masuk ke Jatinom yang luar biasa besar dan jelas berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Jatinom," Arkhan merespon Irfan dari sudut pandang ekonomi. 

"Tapi kita juga perlu waspada lho, Bro," Singgih ikut merespon, "Jangan-jangan kita ini melakukan dosa berjamaah."

"Maksudnya?," tanya Arkhan.

"Kita telah dengan sengaja mempertontonkan kebodohan dengan melempar-lemparkan berton-ton makanan berupa kue apem untuk diperebutkan ribuan orang pada puncak acara Saparan Yaqawiyyu," jawab Singgih. 

"Dan kita harus ingat juga, Bro, ada ustadz yang mengkhawatirkan acara Yaqawiyyu itu termasuk bid'ah dan syirik sehingga harus dijauhi," Irfan kembali bicara.

"Maksudnya?" tanya Arkhan.

"Dikatakan bid'ah karena tidak ada tuntunan syariatnya. Tapi memang sih, ini soal muammalah, bukan ibadah mahdhah, jd sebenarnya kita gak perlu khawatir bid'ah," jawab Irfan. "Dikatakan syirik karena biasanya apem-apem yang diperebutkan itu untuk dibawa pulang oleh orang yang mendapatkannya, lalu ditanam di sawah-sawah atau tegalan agar tanamannya subur dan tidak diserang hama. Ada juga yang ditanam di kios pasar atau toko agar laris dagangannya. Ada juga yang ditanam didepan rumah agar rejekinya lancar dan keluarganya tidak terserang penyakit. Jadi semacam tolak-bala. Maka, bila kita hadir atau bahkan terlibat di dalam upacara Sebaran Apem itu dikhawatirkan akan berdosa," Irfan menjelaskan seperti seorang Ustadz.

"Masih ada yang mau bicara?," tanya Pak Bei sambil menatap mata anak-anak muda itu satu-persatu.

"Sampun, Pak Bei. Sudah. Itu dulu saja. Kami pengin dengar pendapat Pak Bei," jawab Menot.

"Baiklah kalau begitu
Kalian tahu upacara Yaqawiyyu  Jatinom itu apa?," tanya Pak Bei.

"Tahu, Pak Bei. Itu acara haul Ki Ageng Gribik, salah satu ulama Walisanga yang mengawali dakwah Islam di Tanah Jawa abad ke-13, yang memilih basis dakwahnya di Jatinom dan makamnya berada di belakang Masjid Gedhe Jatinom," jawab Alfian.

"Benar. Kamu pinter, Cah Bagus. Ki Ageng Gribik adalah  salah satu Walisanga angkatan pertama yang dikirim oleh Sultan Hamid II dari Turki untuk merespon permintaan para pedagang yang sudah lebih dulu masuk ke Pulau Jawa."

"Tapi Pak Bei, kenapa tradisi haul Ki Ageng Gribik harus ada dan sebaran apem secara besar-besaran?," tanya Menot yang diam saja dari tadi.

"Memangnya kenapa?," Pak Bei memancing Menot meneruskan bicaranya.

"Menurut hemat saya, seorang ulama besar tidak mungkin mengajari umatnya bersedekah dengan cara yang buruk, dengan cara melempar-lemparkan makanan untuk diperebutkan seperti itu. Sebaran Apem. Saya yakin itu bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot.

"Iya, Pak Bei. Sedekah kan  artinya kebaikan, maka mestinya juga dilakukan dengan cara yang baik," Irfan menambahkan.

"Lha terus kira-kira ajaran siapa menurut kalian?" tanya Pak Bei.

"Namanya saja haul, Pak Bei, peringatan tahunan atas meninggalnya seorang tokoh. Tentu saja yang melakukannya bukan orang yang sudah meninggal, tapi yang masih hidup. Mungkin para sahabat atau santri-santrinya, Pak Bei. Jadi bukan ajaran Ki Ageng Gribik," jawab Menot. 

"Aku memahami kegelisahan kalian. Tampaknya memang perlu ada upaya sungguh-sungguh dari anak-muda Jatinom seperti kalian ini untuk mengembalikan ajaran Ki Ageng Gribik. Menemukan cara sedekah apem dengan cara yang baik. Bentuknya bagaimana, silakan dicari bersama-sama."

"Pak Bei, masalahnya tradisi Saparan ini sudah berlangsung berabad-abad," kata Irfan. "Bahkan," Irfan melanjutkan, "Upacara Yaqawiyyu sekarang ini sudah semakin besar dan ramai karena sudah ada sentuhan industri pariwisata. Seperti kata Arkhan tadi, motifnya ekonomi."

'Lebih parahnya lagi, Pak Bei, sudah beberapa tahun terakhir ini Upacara Yaqawiyyu dieksploitasi dan ditumpangi untuk kepentingan para politisi. Anehnya, tetiba ada seorang politisi yang mengaku keturunan Ki Ageng Gribik. Dan konyolnya masyarakat Jatinom pun percaya. Parah kan, Pak Bei?," nada bicara Menot seperti marah.

Pak Bei hanya senyum-senyum saja melihat anak-anak muda yang kritis itu. Terdengar azan Maghrib bersahutan dari Toa masjid-mushola sekitar.

"Baiklah, mari kita ke mesjid dulu. Obrolan bisa kita lanjutkan nanti bakda Maghrib," kata Pak Bei.

#serialpakbei
#wahyudinasutiom
#sebaranapem
#saparanyaqawiyyujatinom



Minggu, 11 September 2022

SEMAKIN DEKAT

SEMAKIN DEKAT

Untuk yang kesekian kalinya Pak Bei mendapat pertanyaan yang sama seputar agenda Muktamar Muhammadiyah & 'Aisyiyah ke-48 di Surakarta. Kali ini pertanyaaan bukan lagi via inbox dari teman FB atau WA dari teman di luar daerah atau provinsi, tapi dari teman-teman seputaran Klaten yang grudukan datang ke nDalem Pak Bei pagi-pagi. Semua pengin tahu agenda apa saja yang perlu dihadiri masyarakat sekitar Solo dan kapan waktunya. 

"Sebagai Penggembira, kita kan cuma dekat, Pak Bei. Bisa nglajo, alias bisa pulang-pergi tanpa perlu menginap," kata Mas Marwan yang datang bersama teman-teman dari Kalikotes.

"Makanya kami perlu tahu jadwal acara yang kira-kira penting untuk kami hadiri, Pak Bei," tambah Mas Rumini dari Pedan.

"Baiklah, Teman-Teman, ayo diminum dulu kopinya," kata Pak Bei sambil mempersilakan tamunya menikmati suguhan kopi andalannya.

"Ada beberapa agenda penting yang terutama masyarakat Solo Raya jangan sampai ketinggalan. Pertama, Tabligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat di Edutorium UMS pada Sabtu, 8 Oktober pukul 08.00-10.00 WIB. Ini pas tanggal merah Maulid Nabi. Jadi bagus kalau semua Ranting dan Cabang bisa hadir berombongan untuk ngaji bersama UAH ini."

"Pak Bei, kabarnya UAH itu asli kader Muhammadiyah, ya?" tanya Amir dari Tulung.

"Iya benar, ustadz muda yang asli dari Pendeglang Banten itu alumni Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Jawa Barat, memperoleh gelar LC dan MA (Sarjana S1 dan S2) dari satu Universitas terkenal Tripoli, Libya."

"Orangnya pintar banget, ya. Hafal Al Qur'an dan berbagai kitab, bahkan letak tulisan di halaman berapa baris ke berapa beliau hafal di luar kepala," kata Sanusi dari Ngawen.

"Iya, orang kok seperti Mbah Google, ya. Bisa menjawab setiap pertanyaan dengan baik berdasar bacaannya yang kuat," sahut Amir.

"Nah, makanya saya sarankan Teman-Teman ajaklah rombongan untuk hadir. Ingat, karena kapasitas gedung Edutorium terbatas, maka datangnya jangan sampai terlambat," kata Pak Bei.

"Pak Bei, nanti kalau sampai di sana gedung sudah penuh, bagaimana?," tanya Doni dari Delanggu.

"Tenang saja, Nda. Insya Allah di luar akan dipasang beberapa layar lebar LED atau Videotron agar semua jamaah bisa mengikuti ceramah UAH secara langsung," jawab Pak Bei. 

"Terus agenda penting yang kedua apa, Pak Bei?," tanya Rumini.

"Nah ini juga penting, terutama bagi para penggemar olah raga sepeda, pegowes. Segera daftar dan ikutilah Gowes Virtual. Ini pesertanya dari seluruh dunia. Pendaftaran sudah dibuka beberapa lalu secara online via http://muktamaride.id. Nah, untuk Pegowes di seputaran Solo Raya juga ada Gowes Luring pada 6 November 2022. Ini gowes seperti biasa. Para peserta dari SOBOSUKAWONOSRATEN (Solo, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten) berangkat dari PDM masing-masing menuju titik kumpul di Edutorium UMS. Di sana nanti akan diumumkan para pemenang Gowes Virtual dan Gowes Luring dengan aneka hadiah menarik. Nah, ini yang perlu dipersiapkan oleh PDM-PDM se-Solo Raya, segera berkoordinasi dengan Panitia Muktamar di Solo. Kami yakin akan banyak sekali peminatnya."

"Yang ketiga apa, Pak Bei?," tanya Udin dari Jatinom.

"Kalian pernah nonton acara Mata Najwa di TV?"

"Sering," jawab Sanusi. 

"Kalau gak sempat nonton di TV, saya biasanya nonton di YouTube, Pak Bei," imbuh Amir.

"Bagus. Berarti Teman-Teman perlu hadir di acara Muktamar-Talk bersama Najwa Shihab di Edutorium UMS tanggal 10 November 2022 pukul 08.00-10.00 WIB."

"Waow...jadi kita bisa ngikuti live Mata Najwa ya, Pak Bei? Josss. Siapa saja narasumbernya?" tanya Sanusi.

"Segmen pertama ada Pak Haedar Nashir Ketum PP Muhammadiyah dan Pak Yahya Staquf Ketum PBNU. Segmen selanjutnya ada Pak Abdul Mukti Sekum PP Muhammadiyah, Pak Mahfudz MD Menkopolhukham kita, dan Mbak Rahmawati Husein Tokoh Kebencanaan PBB yang juga Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Mas Yusril Fahriza yang lagi terkenal sebagai Komika dan Aktor, dan ada Mas Ismail Fahmi si founder Drone Emprit yang fenomenal."

"Wah menarik sekali. Harus datang kita, Lur," kata Udin.

"Siap. Kita berangkat bareng-bareng, ya," Rumini menyahut.

"Acara yang keempat apa, Pak Bei?," tanya Amir yang tampak sudah tidak sabar.

"Nah ini yang tentu menarik bagi kalangan muda seperti Kalian. Di tanggal 18 November pukul 19.00-23.00, ada Malam Mangayubgyo di halaman parkir Edutorium. Ini acara penyambutan untuk seluruh Muktamirin dan Penggembira, acara Pembagyoharjo istilah orang Solo. Seluruh tamu akan menikmati penampilan Metronome Band dari Semarang, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, dan dipuncaki oleh bintang tamu Band Letto dari Yogyakarta dan Tantri Kotak dari Jakarta. Dan ada yang lebih penting lagi acaranya, yaitu penyerahan Anugerah Kebudayaan untuk 3 Maestro Musik Keroncong, yaitu Bapak Gesang (alm.), ibu Hj..Waldjinah, dan Mas Didi Kempot (alm.). Ketiganya dioandang telah berjasa besar bagi perkembangan musik khususnya keroncong di Tanah Air hingga terkenal di manca negara. "

"Letto dan Tantri Kotak nanti pentas live, Pak Bei?

"Iya benar, Nda. Pasti meriah."

"Asyik...kita harus datang ramai-ramai, Lur," kata Amir.

"Pada prinsipnya," lanjut Pak Bei, "Di acara malam itu nanti akan terjadi Silaturahmi Akbar yang diikuti masyarakat umum dan seluruh Muktamirin, aktivis Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dari Cabang, Daerah, Wilayah se-Indonesia dan Cabang-Cabang Istimewa di Luar Negeri, serta seluruh Pimpinan Pusat. Kalian nanti bisa mendapatkan teman baru dari berbagai penjuru."

"Nah itu yang lebih penting untuk kita, Lur. Siapa tahu bisa ketemu jodoh aktivis NA dari Medan, Bugis, atau Papua di sana," kata Marwan disambut gelak-tawa teman-temannya.

"Acara kelima apa, Pak Bei?," tanya Udin.

"Nah ini yang tidak kalah penting, yaitu acara Pembukaan Muktamar oleh RI-1 di Stadion Manahan tanggal 19 November pukul 07.00-10.00 WIB."

"Dibuka oleh Pak Jokowi, Pak Bei?"

"Iya benar. Kita tahu, Muktamar adalah hajatan terbesar persyarikatan Muhammadiyah yang telah berkontribusi besar bagi berdirinya negara RI. Muhammadiyah juga aktif mengisi serta merawat kemerdekaan RI melalui ribuan Amal Usaha di bidang pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, majelis taklim, dan lain-lain. Maka wajar kalau Muktamar dibuka oleh Presiden RI."

"Berarti nanti juga hadir Pak Ganjar gubernur Jawa Tengah dan Mas Gibran Wali Kota Solo, Pak Bai?"

"Insya Allah mereka akan hadir. Juga akan hadir para Menteri, Bupati se-Solo Raya, para tamu undangan seperti Duta-Duta Besar dari negara sahabat, dan para Tokoh Persaudaraan dan Perdamaian Lintas Agama yang rencana akan diajak oleh Pak Dien Syamsuddin."

"Pak Bei, konon Muktamar nanti akan hadir jutaan orang dari seluruh penjuru. Kalau semua hadir ke stadion Manahan tentu tidak muat tempatnya. Gimana solusinya, Pak Bei?," tanya Sanusi.

"Betul sekali. Kapasitas Stadion Manahan Solo tentu terbatas sehingga tidak semua Penggembira bisa masuk ke sana. Maka, panitia akan memasang layar lebar LED di beberapa tempat seperti halaman Stadion Manahan, halaman Edutorium UMS, dan De'Colomadu. Insya Allah semua Penggembira akan bisa mengikuti acara Pembukaan secara langsung meski dari luar Stadion."

"Baik, Pak Bei. Terima kasih infonya. Sudah cukup jelas. Insya Allah info ini akan kami teruskan ke jemaah," kata Rumini.

"Sabar dulu, Lur. Mungkin masih ada lagi yang keenam," kata Marwan.

"Benar, Mas Marwan. Masih ada yang keenam dan tidak boleh terlewatkan."

"Apa itu, Pak Bei?"

"Muktamar Fair. Ini Bazar UMKM dan Expo Inovasi Teknologi dari Perguruan Tinggi dan Sekolah-Sekolah Muhammadiyah. Bertempat di De'Colomadu mulai tanggal 17 hingga 21 November. Di sana nanti semua Muktamirin dan Penggembira bisa belanja aneka oleh-oleh sambil melihat karya-karya inovasi teknologi kader Muhammadiyah, dan menikmati sajian kesenian di panggung yang tersedia."

"Pak Bei, kalau kita pengin ikut Bazar UMKM bagaimana caranya?," tanya Rumini.

"Kalau soal itu, buka saja http://bazar.muktamar48.id, daftarlah via online. Oke, Nda? Terima kasih atas kunjungan Teman-Teman pagi ini. Sering-seringlah mampir ke sini ngobrol-ngobrol sambil ngopi."

"Siap, Pak Bei. Kami pamit dulu, njih."

Para pemuda itu berpamitan dengan takzimnya. Pak Bei nguntapke, melapas kepergian mereka di halaman.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#seksisyiarmuktamar48
#muktamarsemakindekat















Selasa, 06 September 2022

BBM SUBSIDI

BBM SUBSIDI

Lagi-lagi Pak Bei seolah tak mampu merespon kegelisahan Sasa, juru parkir Soto Kartongali Jolotundo Jatinom yang menjadi sahabat glenak-gleniknya itu. Apalagi kalau kegelisahan Sasa sudah berubah manjadi kemarahan yang memuncak, tidak jarang kata-kata dan kalimat misuh keluar dari mulutnya.

Seperti malam ini, ketika Pak Bei baru saja pulang dari kampus UMS mengikuti rapat koordinasi Panitia Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Surakarta. Sejak jam 9 pagi hingga menjelang siang, Pak Bei sudah mengikuti rapat untuk menentukan siapa saja narasumber acara Muktamar Talk bersama Najwa Shihab tanggal 10 November nanti. Menunggu waktu rapat lagi bakda ashar, Pak Bei bertandang ke rumah sahabatnya sesama Panitia, Pak Uud, sekaligus ingin melihat usaha kuliner Gudeg Jogja yang dikelola isterinya dan laris-manis penjualannya melalui online. Tentu saja Pak Ben pun sempat menikmati suguhan Gudeg yang rasanya manis, legit, dengan suwiran daging serta telur ayam yang gempi dan berasa nyokot di lidah. 

"Negara kok jadi semakin rusak kayak gini ya, Pak Bei. Bajigur tenan," kata Sasa begitu Pak Bei menyuguhkan kopi dan ikut duduk di teras. 

"Apanya yang rusak, Sa?," tanya Pak Bei sambil menyulut sebatang kretek yang sudah terselip di pipanya.

"Iyak, masih nanya apa yang rusak? Lha sudah jelas rusak-rusakan semua sendi kehidupan bernegara ini, kok," Sasa maido, tidak percaya bahwa Pak Bei tidak paham maksudnya.

"Ada cerita apa to, Sa? Mbokya ceritakan saja. Sahabatmu ini siap menjadi ember penampung limbahmu."

"Jinguk tenan. Sebagai rakyat, kali ini aku betul-betul merasa diremehkan, Pak Bei. Pelecehan."

"Gimana ceritanya?"

"Tadi siang aku ngantar tetangga untuk kontrol ke RS Ortophedi di Solo pakai mobil ponakanku. Sambil pulang, kulihat kedip-kedip lampu kuning di Speedometer tanda agar kami segera mengisi Pertalite. Kami pun mampir di pom bensin Kartasura. Ehh ternyata di pom itu hanya ada Pertamax dan Solar-Dex, stok Pertalite kosong, katanya. Hal yang sama terjadi di pom bensin berikutnya, di Sawit. Waduh, gawat kalau di pom bensin Delanggu nanti juga kosong Pertalite. Masa harus beli Pertamax yang mahal? Edyan," Sasa bercerita dengan ekspresif.

"Di pom Delanggu ada Pertalite, kan?," tanya Pak Bei.

"Ada. Tapi asyuog," Sasa misuh lagi.

"Lah kenapa?"

"Di sana aku ditanya apa sudah daftar MyPertamina. Ya jelas belumlah. Lha wong mobil ini juga cuma pinjaman punya ponakan."

"Lha terus?"

"Petugas pom itu pinjam HPku mau bantu mendaftarkan. Ya jelas gak bisa."

"Kenapa gak bisa?"

"Waduh maaf, HP Bapak gak bisa buat daftar MyPertamina. Harus pakai HP Android, Pak. Begitu kata petugas pom itu."

"Terus?"

"Lalu kutanya, apak gak boleh beli Pertalite kalau gak punya HP Android?"

"Bisanya ngisi Pertamax, Pak," katanya. 

"Ya sudah gak jadi saja. Tolong ditutup lagi tangkiku. Jinguuk..." kataku dengan mangkel.

Sepanjang jalan, sambil hatiku kebat-kebit khawatir mobil mogok kehabisan bensin, pikiranku melayang ke mana-mana. Baru dua Minggu lalu kita memperingati Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Seluruh rakyat dihimbau mengibarkan bendera merah putih, menghias gapura-gapura desa, bikin aneka lomba permainan anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak. Semua rakyat bergembira menikmati kemerdekaan. Malam 17an masyarakat di kampung-kampung ngadakan acara Tirakatan untuk merenungi perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Lalu paginya, murid-murid sekolah dan para pegawai ikut upacara bendera. Konyolnya, Pak Bei, siangnya rakyat disuguhi tontonan tidak bermutu."

"Tontonan apa?"

"Presiden, para Menteri, dan semua Pejabat Tinggi Negara jogetan bareng penyanyi cilik dengan irama dangdut koplo di acara resmi Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara. Jindul tenaan. Rusak...rusak. Dobol kabeh.."

Pak Bei hanya terdiam kami-tenggengen mendengar kemarahan Sasa. Ternyata Sasa juga prihatin bahkan marah melihat tayangan Peringatan Hari Kemerdekaan  di tv yang justru dipuja-puji banyak orang itu. Dan tampaknya kemarahan sahabatnya kali ini cukup serius, meski hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata kasar, pisuhan.

"Makanya jadi rakyat jangan mau dibohongi terus. Agak cerdas dikitlah, Sa."

"Ya itulah, Pak Bei. Rakyat ini angel tenan kandhan-kandhanane. Semua sudah mata duitan. Ngiler semua melihat amplop dibagi-bagikan setiap musim Pemilu. Sudah jelas katuranggan orang itu kurang baik, kurang jujur, kurang amanah, lha kok disuruh jadi pemimpin, disuruh ngurusi negara. Sudah jelas orang bakatnya cuma jadi maling kok disuruh jadi pejabat, dipilih jadi wakil rakyat, dipercaya jadi penegak hukum, disuruh jadi Rektor perguruan tinggi. Ya ambyar semua jadinya."

"Hahaha....Merdeka!!," kata Pak Bei sambil mengepalkan tangan dan matanya mendelik sengaja ngece Sasa.

"Belum, Pak Bei. Belum merdeka. Hanya orang goblok yang percaya kita sudahnmerdeka. Saat ini kita justru dijajah oleh saudara-sudara kita sendiri yang berubah jadi gentho, Pak Bei. Masalahnya gentho-gentho itu semakin banyak, cepat sekali mereka beranak- pinak, seperti virus Corona yang cepat sekali berkembang-biak dan menular ke siapa saja. Semua pejabat pun ikut jadi gentho, Pak Bei. Berpesta-pora tanpa malu. Sungguh mengerikan."

"Sudahlah, Sa, gak usah terlalu serius mikir kahanan negara. Rakyat ini santai sajalah. Yang penting masih bisa merasakan nikmatnya makan meski hanya lauk sambal dan kerupuk, masih bisa menikmati kopi meski tanpa gula, masih bisa klapas-klapus ngrokok tiap hari. Kalau terpaksa tidak kuat beli rokok, masih bisa ngrokok tingwe, Sa. Slow waelah."

"Angel, Pak Bei."

"Angel bagaimana? Biarkan saja gentho-gentho itu ngutil, maling, dan ngrampok kekayaan negara. Kalau kita usik, kita teriak, bisa-bisa kita malah dituduh menebar ujaran kebencian, radikal, intoleran, anti-NKRI, anti-kebhinekaan. Repot, Sa. Sudah banyak korbannya. Lebih baik rakyat diam saja sambil berdoa segera turun azan dari Tuhan untuk para gentho itu."

"Ya gak bisa begitu, Pak Bei. Kita tetap harus merapatkan barisan dan berjuang memerangi gentho-gentho itu, apapun caranya. Melihat kemungkaran kok cuma diam dan berdoa. Itu selemah-lemah iman, Pak Bei."

Mak jleb.... Kata-kata terakhir Sasa sungguh terasa menohok ulu hati. Sebenarnya maksud Pak Bei tadi cuma menghibur sahabatnya, yang kesehariannya saja tampak hanya rakyat biasa, rakyat jelalatan yang tiap harus berpanas-panas berhujan-hujan mencari nafkah di lahan parkiran. Sebenarnya Pak Bei juga tahu banyak sekali orang seperti Sasa, rakyat bawah, miskin ekonominya, dan hidupnya dipandang sebelah mata. Tapi ternyata orang-orang seperti Sasa juga punya kegelisahan dan justru perlu diwaspadai karena sesungguhnya punya mental pejuang yang menyala-nyala. Bahkan, mungkin hanya soal waktu bisa digerakkan kapan saja untuk melawan kebatinan di negeri ini. Wallaahua'lambishawab.

#serialpakbei
#bbmnaiktinggi
#negaradalambahaya















Sabtu, 03 September 2022

WISATA MUKTAMAR

WISATA MUKTAMAR

Bakda maghrib, Pak Bei sedang khusyuk nderes Al-Quran ketika tetiba terdengar nada panggilan masuk di HPnya. Karena dari nomor tak dikenal, belum tersimpan di phonebook-nya, maka panggilan itu diabaikan saja. Pak Bei meneruskan bacaan hingga sampai di tanda ruku'. Ternyata panggilan dari nomor yang sama masuk lagi, dan Pak Bei segera mengangkatnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab dengan baik oleh Pak Bei, lelaki itu pun memperkenalkan diri. Namanya Pak Abduh, warga Muhammadiyah dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Dapat nomor Pak Bei dari teman anaknya yang kuliah di UIN Padang Sidempuan, katanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak Abduh?," tanya Pak Bei.

"Begini, Pak Bei. Mohon maaf sebelumnya, saya mau minta informasi seputar Muktamar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah ke-48 di Solo bulan November nanti. Apakah Pak Bei berkenan?," tanya Pak Abduh dengan sopan.

"Boleh, Pak Abduh. Silakan. Info apa yang Bapak perlukan?"

"Kami warga Muhammadiyah Padang Sidempuan berencana mau ramai-ramai datang ke Solo sebagai Penggembira Muktamar."

"Alhamdulillaah, bagus itu, Pak Abduh. Apa yang bisa kami bantu?"

"Kami perlu beberapa informasi. Pertama, sebaiknya tanggal berapa kami sampai di Solo? Kedua, apa saja agenda Muktamar yang bisa kami ikuti?," itu dulu Pak Bei. Mohon informasinya."

"Baik, Pak Abduh. Soal kapan sebaiknya rombongan Penggembira sampai di Solo, saya sarankan Pak Abduh dan kawan-kawan sudah masuk di Solo tanggal 18 November pagi. Siangnya bisa istirahat, sore bisa jalan-jalan ke Bazar UMKM dan Expo Inovasi Teknologi di D'Colomadu. Lalu malamnya ikut acara Malam MANGAYUBAGYO di halaman Edutorium UMS."

"Ada Bazar UMKM? Berarti kami bisa cari cenderamata untuk oleh-oleh di sana, Pak Bei?"

"Bisa, Pak. Ada 500 stand UMKM aneka produk, dari fashion, cenderamata, sampai makanan. Dan jangan lupa, Pak Abduh dan kawan-kawan bisa lihat-lihat juga karya-karya inovasi teknologi dari Sekolah-Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bisa juga sambil menikmati suguhan pentas-pentas kesenian di sana."

"Baik, Pak Bei. Insya Allah kami akan kunjungi Bazar UMKM dan Expo itu. Terus yang acara malamnya tadi apa namanya, Pak Bei?"

"Malam MANGAYUBAGYO, Pak Abduh. Itu semacam Malam Ta'aruf, malam penyambutan dari Panitia Penerima untuk para Muktamirin dan Penggembira. Acara itu kami persiapkan sebagai tanda kebahagiaan kami menyambut kehadiran teman-teman seperjuangan dari berbagai penjuru di kota Solo."

"Apa saja acaranya?"

"Kami akan suguhkan beberapa sajian musik, antara lain Metronome Band dari Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Orkes Keroncong Swara Bhaskara dari Solo, dipuncaki penampilan Band Letto dari Jogja dan Tantri Kotak dari Jakarta."

"Wah manarik sekali ini, Pak Bei. Band Letto itu yang vocalisnya Noe anaknya Cak Nun, kan?" 

"Benar sekali, Pak Abduh," jawab Pak Bei dengan agak kaget, ternyata Pak Abduh sudah mengenal Cak Nun.

"Tantri Kotak itu penyanyi yang pakai jilbab itu, ya?"

"Benar, Pak Abduh. Dia penyanyi berjilbab yang cantik dan energik di setiap pentasnya."

"Wah asyik itu."

"Dan satu lagi, Pak Abduh. Di acara itu kita juga akan menyaksikan penyerahan Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk 3 maestro musik keroncong dari Solo, yaitu Bapak Gesang almarhum, Ibu Hj. Waldjinah, dan Didi Kempot almarhum."

"Wah hebat itu, Pak Bei. Salut."

"Gimana maksud, Pak Abduh?"

"Ada Anugerah Kebudayaan dari Muhammadiyah untuk seniman, itu luar biasa, Pak Bei. Kita tunjukkan pada dunia bahwa Muhammadiyah punya apresiasi tinggi pada seniman-budayawan."

"Insya Allah, Pak Abduh."

"Tapi kenapa hanya untuk seniman musik keroncong dari Solo, Pak Bei? Padahal seniman-budayawan kita kan banyak yang hebat dan kelas dunia. Ada Buya Hamka, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, Pedro Sudjono, Amri Yahya, Taufiq Ismail, Chaerul Umam, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, dan masih banyak lagi lainnya."

"Iya memang banyak, Pak Abduh. Tapi Anugerah Kebudayaan pada Muktamar di Solo ini baru bisa untuk ketiga maetro keroncong itu. Mudah-mudahan pada setiap muktamar selanjutnya akan ada lagi untuk para seniman-budayawan yang lain, seperti nama-nama yang Pak Abduh sebutkan tadi."

"Lalu, acara apalagi yang bisa kami ikuti?"

"Acara Pembukaan Muktamar ke-48 bersama Presiden Jokowi di Stadion Manahan, Pak Abduh. Tapi tentu saja nanti ada prosedur yang harus ditaati oleh seluruh hadirin. Maklumlah, ini acara resmi yang melibatkan RI-1, tentu ada protokoler yang ketat."

"Iyalah, Pak Bei. Kami maklum itu, dan Insya Allah kami akan ikuti semua aturan yang ada."

"Iya, Pak Baduh."

"Pertanyaan selanjutnya, Pak Bei, selain menyaksikan acara-acara di Muktamar, tentu kami juga ingin berwisata sambil mencari inspirasi untuk pengembangan dakwah Muhammadiyah di daerah kami. Kira-kira, PDM atau PCM mana saja di sekitar Solo yang layak dan bisa kami kunjungi? Kami juga ingin studi banding, Pak Bei."

"Ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi, Pak Abduh. Tinggal pilih mau ke PDM Kota Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, atau ke Klaten. Setiap PDM punya kekhasan masing-masing."

"Apa saja itu, Pak Bei?"

"PDM Kota Solo punya produk MieMu berbahan mocav yang layak dikonsumsi. Karanganyar cukup progresif dan punya pabrik AirMu yang cukup pesat perkembangannya. Sragen punya pengelolaan LAZISMU yang bagus dan sekolah Trensain yang fenomenal. Sukoharjo punya Pondok Pesantren Imam Suhodo yang jadi salah satu rujukan pondok pesantren Muhammadiyah, juga punya SMK yang bisa bikin bed untuk  Rumah Sakit yang bagus kualitasnya. Klaten punya beberapa PCM yang cukup maju. PCM Jatinom, misalnya,  punya AUM BMT Yaqawiyyu dengan aset ratusan milyar dan 100% sahamnya milik Persyarikatan. Juga punya sekolah-sekolah bagus dan PKU yang berkembang pesat.  Delanggu punya PKU yang besar dan hebat. Cawas punya BMT Ahmad Dahlan yang assetnya ratusan milyar juga. Ada juga Ranting Gading yang kreatif di gerakan ekonomi melalui TokoMu yang layak dikunjungi."

"Kalau kami mau cari inspirasi seputar dakwah di sektor pertanian, sebaiknya ke mana, Pak Bei?"

"Ooh kalau itu Pak Abduh bisa ke Klaten atau ke Sragen. Di Klaten ada pilot project Tani Bangkit yang sudah berjalan 5 tahun di desa Gempol kecamatan Karanganom. Itu kerja kolaboratif yang sangat bagus antara LAZISMU PP, MPM PP, MEK PDM Klaten, dan UMY untuk pengembangan budidaya padi Rojolele Organik. Dalam kolaborasi ini, LAZISMU  PP berperan sebagai founding, MPM PP sebagai pendamping on-farm atau budidaya, MEK PDM Klaten yang mendampingi off-farm atau pascapanen, dan UM Yogyakarta sebagai buyer atau pembelinya."

"Wah menarik itu. Kalau yang di Sragen bagaimana, Pak Bei?"

"Pak Abduh bisa belajar pengorganisasian Jamaah Tani Muhammadiyah atau JATAM di Sragen. Ini pengorganisasian petani yang digagas oleh MPM PP untuk penguatan petani. JATAM ini sudah berdiri di beberapa daerah, dan JATAM  Sragen adalah salah satu yang cukup bagus perkembangannya dan layak dikunjungi."

"Terima kasih, Pak Bei. Mohon maaf obrolan kita jadi panjang kali lebar, ya, padahal kita baru kenal."

"Gak apa-apa, Pak Abduh. Gak masalah."

"Pertanyaan terakhir, Pak Bei. Di Solo nanti kami bisa nginap di mana, ya?"

"Kalau soal itu, silakan Pak Abduh kontak ke Panitia yang khusus ngurusi Penggembira. Insya Allah penginapan untuk Penggembira sudah disiapkan,"  Pak Bei menyebutkan nama dan nomor kontaknya agar dicatat Pak Abduh.

"Baiklah, Pak Bei. Terima kasih atas waktu dan informasinya  Semoga kita selalu sehat dan dapat berjumpa di Solo nanti."

"Aamiin....terima kasih juga, Pak Abduh. Salam untuk teman-teman di Padang Sidempuan."

Obrolan via telepon diakhiri pas azan isya'. Pak Bei pun bersiap ke masjid untuk ikut sholat jamaah.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#panitiamuktamarke-48
#seksisyiar






Kamis, 25 Agustus 2022

GOWES VIRTUAL

GOWES VIRTUAL

Seperti biasanya, setiap malam Jumat Pak Bei ikut Yasinan di kampung, satu majelis tilawatil-Quran khusus bapak-bapak dan pemuda. Menurut shahibul-hikayat, tradisi itu sudah berjalan sejak masa-masa awal kemerdekaan RI, diinisiasi oleh seorang guru ngaji kampung bernama Pak Wahab bin Mad Rais, ayahanda Pak Bei. Tempatnya bergilir dari rumah ke rumah jamaah. Konon, di masa awal dulu yang dibaca khusus surat Yaasiin. Dalam perkembangannya, jamaah membaca Al-Quran yang dijilid per-juzz dan dikenal sebagai Muqadaman. Sekitar 30 menit,  jamaah membaca bagiannya masing-masing secara bersama-sama. Seperti orang balapan lari, dalam mengaji bareng ini tentu ada yang lancar-fasih bacaannya dan keras suaranya, tapi juga ada yang pelan bahkan terbata-bata agak kurang lancar. 

Setelah mengaji, para pemuda mengeluarkan sajian makanan dan minuman yang disiapkan oleh tuan rumah. Sesuai dengan jamannya, dulu waktu Pak Bei masih remaja, menu wedangannya sering berupa ketela rebus, pondhoh, kacang  rebus, jagung, dan klethikan menggleng, rendeng, atau karak. Sekarang menunya lebih variatif, bahkan tidak jarang tuan rumah juga menyiapkan makan besar seperti soto ayam, kare ayam, lontong opor, atau nasi rames dan ayam goreng. Setelah menikmati makanannya, sambil klepas-klepus merokok, jamaah mendengarkan tausiyah dari ustadz lokal yang bertugas secara giliran. 

Tradisi yang sudah berlangsung berpuluh tahun itu rupanya menggelisahkan Pak Bei. Maka, sejak 5 tahun lalu jamaah diajaknya mengubah pola mengaji. Infak yang terkumpul tiap malam Jumat dan saldonya sudah lumayan banyak dibelikan sejumlah mushaf Al-Quran dan Terjemah sebagai inventaris. Setiap jamaah mendapatkan satu mushaf. Agar mushaf Al Quran yang ekslusif itu tidak cepat rusak, maka setiap jamaah juga dibagikan sebuah tas yang diberi tulisan sablon "Majelis Tilawatil Quran Kwaon YASINAN". Sejak itu, setiap jamaah berangkat dari rumahnya dengan menenteng tas keren berisi mushaf Al-Quran. Pola pembacaannya pun diubah. Tidak lagi balapan, tetapi dipandu oleh salah seorang yang bagus bacaannya, sepotong-sepotong, lalu diikuti atau ditirukan oleh seluruh jamaah. Dimulai dari awal Juzz 1 hingga beberapa halaman dalam waktu sekitar 30 menit. Setelah selesai, biasanya pemandu akan membacakan terjemahan dan menerangkan tafsirnya sesuai kemampuan yang dimiliki. Pola ini ternyata dirasakan oleh jamaah lebih khidmad dan khusyuk. 

Setelah majelis selesai dan jamaah pulang, biasanya beberapa bapak dan dan para pemuda ngobrol-ngobrol dulu sambil menghabiskan minuman dan makanan yang masih tersisa, atau sambil menikmati bekal rokok masing-masing. Tema obrolan bisa kemana-mana, biasanya tergantung isu yang lagi hot atau viral di medsos. Dan malam ini, obrolan lebih terfokus pada salah satu agenda Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, yakni Gowes Virtual atau MUKTAMARIDE.

"Pak Bei, Gowes Virtual itu bagaimana, to? Saya pengin ikut, tapi belum punya bayangan sama sekali bagaimana caranya," kata Suratman yang terkenal paling maniak-gowes di kampung itu.

"Iya, Pak Bei. Tolong dijelaskan, katanya pesertanya nanti dari seluruh Indonesia bahkan dunia? Sepertinya menarik sekali," Ratsono menambahkan.

"Benar, Om, saya juga banyak nerima pertanyaan itu, tapi gak bisa jawab karena memang saya belum paham sama sekali," kata Ustadz Musthofa yang biasa ngisi pengajian dari kampung ke kampung. "Tolong dilaskan, bagaimana teknisnya, cara daftarnya, penentuan pemenangnya, hadiahnya, dan sebagainya," tambahnya.

Semua mata peserta ngobrol tertuju pada Pak Bei. Mereka tampak antusias menunggu jawaban Pak Bei yang dari tadi hanya senyum-senyum mendengarkan pertanyaan bertubi-tubi. 

"Baiklah, Teman-Teman," Pak Bei mulai menjawab pertanyaan setelah menyulut dulu rokok kreteknya. "Muktamar di Solo nanti tampaknya memang istimewa, bahkan sangat istimewa. Karena apa? Pertama, karena Muktamar ke-48 ini mestinya sudah terselenggara pada Juli 2020 yang lalu, tapi karena sejak awal 2020 terjadi pandemi Covid-19, maka penyelenggaraan Muktamar pun harus ditunda, dan baru akan terlaksana pada November 2022. Ini artinya, masyarakat Solo harus menunggu 37 tahun untuk bisa kembali menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, sejak 1985."

"Wah  tahun itu saya belum lahir itu, Pak Bei," kata Sumadi.

"Saya juga belum," kata Ibnu.

"Saya masih balita," kata Ratsono.

"Kedua, sebagai tuan rumah, masyarakat Solo --dalam hal ini Panitia Penerima yang difasilitasi oleh UMS-- berusaha menyiapkan diri sebaik-baiknya guna menyambut jutaan tamu yang bakal hadir ke Solo, baik sebagai peserta muktamar alias muktamirin maupun sebagai jamaah alias penggembira."

"Wah pasti repot banget nyiapkan tempat dan ubo-rampe-nya ya, Pak Bei?" tanya Hanafi.

"Ya jelas, Nda. Untuk tempat Muktamar ya saja, UMS membangun gedung Edutorium  yang sangat megah dengan biaya 300an M, lho. Seluruh gedung kampus UMS juga disiapkan untuk acara muktamar. Untuk penginapan muktamirin dan penggembira, Seksi Akomodasi sudah booking hampir seluruh hotel di Solo. Untuk konsumsi jangan tanya, betapa repotnya teman-teman Seksi Konsumsi. Mereka harus menggandeng pengusaha-pengusaha catering dan rumah-rumah makan di sekitar Solo sebagai vendor."

"Wah ya pasti repot sekali, Pak Bei. Orang hajatan manten saja sudah sangat repot nyiapkan tempat dan konsumsi. Apalagi ini muktamar yang dihadiri jutaan orang," kata Udin.

"Soal Gowes Virtual tadi bagaimana, Pak Bei? Ini yang lebih penting bagi saya," Suratman tampak sudah tidak sabar.

"Oke, Nda. Begini. Seperti Kalian, sekarang ini di mana-mana orang demam olah raga sepeda, alias gowes. Tiap hari terutama pas hari libur, kita lihat di mana-mana ketemu rombongan pegowes menyusuri jalan entah mau kemana dan berapa kilo telah mereka kayuh sepedanya. Namanya juga olah raga, tentu itu sangat positif. Nah, sesuai spirit  Muhammadiyah for All alias Muhammadiyah untuk semua orang, maka panitia muktamar pun merasa perlu membuat program khusus bagi para pegowes di seluruh penjuru wilayah, kota, dan desa bisa terlibat muktamar. Maka kemudian dirumuskanlah konsep Gowes Virtual. Apa yang dimaksud Gowes Virtual?" Pak Bei sengaja mengajukan pertanyaan repetitif sambil menatap mata satu-persatu.

"Nah ini. Teruskan, Pak Bei," Ratsono juga ikut tidak sabar.

"Inilah lomba gowes secara daring," kata Pak Bei.

"Maksudnya?" Suratman semakin tidak sabar.

"Saudara-saudara kita para pegowes di Jayapura, Manokwari, Sorong, Ambon, Ternate, Palu, Banjarmasin, Bima, Denpasar, Banyuwangi, Surabaya, Jakarta, Banten, hingga Lampung, Palembang, Padang, Medan, dan Aceh, atau bahkan yang di Australia, Malaysia, Jepang, Canada, Mesir, Jerman, Belanda, dan sebagainya, ayo silakan ikut lomba ini dengan bersepeda di daerahnya masing-masing."

"Tidak harus ke Solo, Pak Bei?" tanya Inung.

"Ya tidak to, Le. Namanya saja virtual. Begini caranya....
1. Buatlah kelompok peserta terdiri dari 3-5 orang lalu salah seorang wakil mendaftar sebagai peserta via http//muktamaride.com. Pendaftaran akan dibuka mulai 1 September.
2. Lakukan pembayaran dan konfirmasi pembayaran dengan mengunggah bukti transfer. 
3.Setiap kelompok akan mendapatkan ridepack yang akan dikirimkan ke alamat yang dicantumkan.

4. Setiap kelompok diwakili satu orang/akun bergabung dalam club strava “Muktamaride 48” pada aplikasi Strava yang dapat didownload dari Playstore.

"Om, tolong digambarkan sekalian teknis pelaksanaannya nanti," Ustadz Musthofa tampak sudah penasaran.

"Begini, Mas," Pak Bei melanjutkan,

"1. Peserta dalam setiap kelompok menentukan sendiri lokasi start dan finishnya di daerah masing-masing. 

2. Setiap kelompok wajib menempuh jarak minimal 48 km dengan waktu pelaksanaan 7 Oktober hingga 5 November 2022. 

3. Peserta diperbolehkan menyelesaikan jarak tempuh tersebut dengan sistem cicil selama waktu pelaksanaan tadi. 

4. Peserta wajib mengunggah foto maupun video aktivitas bersepeda dengan latar icon Muhammadiyah atau icon daerah masing-masing. 

5. Selama bersepeda virtual sejauh 48 km peserta wajib menggunakan aplikasi Strava sebagai alat bantu tracking panitia. 

6. Peserta wajib mengirimkan screenshoot/tangkapan layar hasil tracking dari aplikasi Strava yang sudah menunjukkan hasil minimal 48 km kepada panitia."

"Jadi jarak tempuh setiap peserta 48 km ya, Pak Bei?," tanya Suratman.

"Iya, Nda. Tapi itu bisa dicicil antara tanggal 7 Oktober hingga 5 November. Misalnya Minggu pertama menempuh 15 km. Minggu kedua 15 km. Minggu ketiga 18 km. Total 48 km."

"Oke, Pak Bei. Dari kampung ini semoga nanti bisa ikut 3-4 kelompok," kata Ratsono optimis.

"Baiklah, sudah cukup larut malam, udara sudah terasa anyep. Mari kita pulang. Terima kasih infonya, Pak Bei. Sudah cukup jelas," kata Ustadz Musthofa.s

"Masih ada satu yang kurang, Pak Bei: hadiahnya apa?" tanya Suratman.

"Tenang saja, Nda. Insya Allah akan ada banyak hadiah untuk pemenang, salah satunya Umroh. Asyik, kan?" jawab Pak Bei.

"Baiklah, mari kita bubar sekarang. Wassalamu'alaikum....," ustadz Musthofa mendahului berdiri diikuti semua temannya. Pulang ke rumah masing-masing.


#serialpakbei

#wahyudinasution