Senin, 21 Desember 2020

NASIONALIS SEJATI

NASIONALIS SEJATI

"Pak Bei, kalau ada orang atau kelompok masyarakat sudah  jelas-jelas anti kebhinekaan dan mengancam keutuhan NKRI, itu kan sudah selayaknya dibasmi saja dari negeri kita tercinta ini, to? Tapi kenapa justru terkesan banyak yang membela dan melindungi?," kata tamu Pak Bei setelah memperkenalkan namanya Bayu dari Sukoharjo. Kedatangannya pagi ini bersama satu bus rombongan studi banding dari sebuah Lembaga Kursus dan Pelatihan. Dilihat dari fisiknya, usia Bayu sekitar 35 tahun. Mungkin karena profesinya sebagai tour leader, Bayu tampak ramah dan pandai bergaul. Gaya bicaranya juga atraktif dan menggebu-gebu. Pemilik LKP dan crew bus yang ikut duduk lesehan di teras omah Limasan Pak Bei hanya senyum-senyum melihat gaya si Bayu.

"Sebagai seorang Nasionalis Sejati, terus terang saya sangat sedih melihat dan membaca kejadian akhir-akhir ini. Lha wong sudah jelas mereka melawan aparat, mengancam keselamatan petugas, ya wajar kalau mereka didor saja. Iya, to?  Lha kok malah dibela-belain, dibilang aparat telah melakukan penggantian HAM berat. Atau bagaimana menurut, Pak Bei,? tanya Bayu.

Sebagai tuan rumah, tentu kurang bijak kalau Pak Bei langsung menjawab. Itu juga termasuk pertanyaan sensitif. Apalagi Pak Bei belum cukup mengenal siapa sebenarnya si Bayu. Pada situasi saat ini, ngomong harus sangat hati-hati. Menilik sekilas cara pandang Bayu, salah jawaban sedikit saja bisa dianggap menebarkan kebencian, anti kebhinekaan, anti NKRI, dan pro FPI. Lebih ngeri lagi kalau kemudian digoreng di medsos dengan sebutan kadrun, kadal gurun, sebutan yang sungguh sangat ngece bagi sesama anak bangsa.

"Monggo diunjuk dulu kopinya, Mas Bayu. Monggo, Bapak-Bapak.  Kita ngobrol santai saja di sini. Masih banyak waktu. Biasanya anak-anak studi banding di workshop Bundaco ini sekitar dua-tiga jam. Monggo diunjuk," Pak Bei mempersilakan tamu-tamunya.

"Lha wong imamnya saja masih punya kasus memalukan yang perlu dilanjutkan lagi proses hukumnya, kok," Bayu seakan mengungkapkan kekesalannya.

"Maksud, Mas Bayu?," tanya Pak Bei.

"Loh, masak Pak Bei lupa. Dia dulu kan melarikan diri karena kasus chat mesum itu. Ingat, kan?"

"Lah kan sudah di SP3 sama Polisi. Kasusnya tidak terbukti."

"Pak Bei keliru. Penyelidikannya dihentikan karena dia melarikan diri. Sewaktu-waktu bisa dibuka lagi. Syukurlah sekarang sudah pulang sendiri, seperti kutuk marani sunduk."

"Mas Bayu, aku jadi teringat satu kisah dalam Al Qur'an."

"Kisah yang mana, Pak Bei?"

"Tapi sebelumnya tolong Mas Bayu pahami dulu bahwa saya bukan anggota atau simpatisan FPI. Sama seperti Mas Bayu, saya ini Nasionalis Sejati. Kita sama-sama peduli pada nasib bangsa dan negara. Oke?"

"Siap, Pak Bei. Saya paham."

"Alkisah, setelah 10 tahun menghabiskan masa pelariannya ke negeri Madyan, Musa kembali ke Mesir kampung halamannya," Pak Bei memulai kisahnya. Setiba di  Mesir, Musa disambut dan dielu-elukan oleh ribuan kaum Bani Israil sebagai tokoh dan pahlawan yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Diceritakan, dulu sebelum pergi ke Madyan, Musa selalu mengajak mereka untuk saling tolong-menolong, saling menyayangi dan melindungi, dan selalu bertaqwa kepada Tuhan di mana pun berada. Hanya dengan cara itu, Bani Israil akan mampu menghadapi rejim Firaun yang kejam."

"Wah ini dongeng Nabi Musa, ya. Lanjut, Pak Bei," Bayu tampak antusias.

"Dengan cepat, kabar kedatangan Musa sampai ke istana Fir'aun. Dilihatnya kedatangan Musa berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban negeri Mesir. Maka harus dicari  strategi untuk menghalangi pergerakan Musa agar pengikutnya tidak semakin banyak. Para hulubalang dan mata-mata disebar ke seluruh negeri untuk menakuti rakyatnya. Mungkin ini semacam operasi intelijen. Para menteri dan birokrat juga ditugasi membuat aturan-aturan yang bila Musa dan pengikutnya melanggar akan dikenai tindakan tegas."

Pak Bei menyulut lagi kretek sebatang, menghembuskan asap putih bergulung-gulung yang dengan cepat tersaput angin semilir dari arah sawah depan rumah. Bayu dan teman-temannya tampak menunggu Pak Bei melanjutkan ceritanya.

"Tapi rupanya gerakan Musa yang dibantu Harun saudaranya semakin tak terbendung. Pengikutnya semakin banyak, bukan hanya dari kaum Bani Israil, tapi juga hampir semua orang miskin di Mesir. Fir'aun semakin gusar, merasa terancam kewibawaannya. Atas usul para tukang sihir, maka diundanglah Musa ke istana untuk beradu kesaktian."

Tampak Yu Mur asisten Bu Bei datang menyuguhkan dua piring pisang goreng yang masih anget. Pak Bei mempersilakan tamu-tamu menikmatinya. 

"Kalian tahu, siapa yang dimaksud tukang sihir dalam kisah Musa ini?," tanya Pak Bei. 

"Dukun, Pak Bei.," jawab Hendra si sopir bus pariwisata.

"Ahli nujum," jawab Kusno kernet bus.

"Bukan. Mereka itu kaum intelektual dan rohaniawan yang mengabdikan hidupnya pada kekuasaan Raja Firaun. Mungkin seperti Profesor, Doktor, atau Kyai di jaman sekarang. Atau setidaknya para sarjana yang menjadi buzzer dan tugasnya mengelabui mata dan pikiran rakyat Mesir.dengan narasi-narasi penuh tipu-daya."

"Orang-orang hebat ya, Pak Bei?," tanya Kusno

"Hebat, tapi tukang ngapusi," sahut Hendra.

"Diceritakan bahwa tukang-tukang sihir itu ternyata semua takluk menghadapi kecerdasan Musa. Semua teori dan argumentasinya dapat dipatahkan. Ular-ular ganas dan menjijikkan bikinan para tukang sihir dilahap semua oleh tongkat Musa yang berubah jadi ular besar. Maka, saat itu juga para tukang sihir berubah hati dan pikiran. Mereka beriman pada Musa, mengakui bahwa yang disampaikan Musa selama ini benar."

Bayu masih diam dan tampak berpikir keras. Merokoknya sangat cepat, tampak tidak sempat menikmati tiap sedotan dan hembusannya.

"Fir'aun marah gak, Pak Bei?," tanya Kusno.

"Tentu saja Fir'aun marah besar melihat semua itu. Maka diusirlah Musa dan tukang-tukang sihir itu agar keluar dari istana."

"Kok gak langsung ditangkap dan dipenjara atau dibunuh ya, Pak Bei?," tanya Hendra.

"Entahlah. Sebenarnya gampang saja kalau Fir'aun mau melakukannya, tapi mungkin dia masih ngemong rasa Asiyah istrinya yang merawat Musa sejak bayi," jawab Pak Bei.

"Begitulah, Mas Bayu. Sepertiga Al Qur'an itu isinya kisah tentang Nabi/Rasul dan umat jaman dulu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang jaman sekarang. Selalu ada perulangan sejarah dan kejadian. Tentu saja tidak persis sama, bisa hanya mirip-mirip."

"Pangapunten, Pak Bei, Njenengan suka merokok pakai pipa, gak?," tanya Bayu. Pak Bei belum tahu ke mana arah pertanyaan Bayu yang tiba-tiba di luar konteks.

"Maksud Mas Bayu bagaimana?"

"Saya senang sekali mendengar cerita Pak Bei tadi. Saya jadi sadar masih harus banyak belajar lagi. Dan dengan segala hormat, mohon Pak Bei mau nerima hadiah dari saya ini sebagai tanda paseduluran," kata Bayu sambil tangannya menyerahkan pipa rokok yang diambil dari saku bajunya.

"Ya Allah....matur nuwun, Mas Bayu. Pipa ini bagus sekali."

"Itu pipa dari tulang sapi purba, Pak Bei. Jangan tanya harganya. Tapi lihatlah niat dan kebahagiaan saya bisa ngobrol dengan Pak Bei. Kalau boleh kapan-kapan saya mau sowan ke sini lagi."

"Wah saya yang matur nuwun, Mas Bayu. Njenengan ke sini membawa rejeki untuk kami. Alhamdulillah. Akan saya pakai pipa ini tiap hari. Monggo kapan saja kami siap nerima kerawuhan Mas Bayu. Yang penting ngabari dulu, ya, biar gak kecelik."

Tampak anak-anak rombongan studi banding keluar dari workshop Bundaco. Rupanya mereka sudah selesai agendanya. Obrolan pun kami akhiri. Setelah foto-foto di depan nDalem Pak Bei, rombongan pun pamitan untuk meruskan perjalanan ke Jogja. 

#serialsotopakbei4










 








Jumat, 20 November 2020

PANDEMI BELUM BERLALU

PANDEMI BELUM BERLALU

Nama lengkapnya Sugiat, biasa dipanggil Giat atau Yat. Tinggalnya sekampung dengan Pak Bei, tapi beda RT. Dia anak mbarep Yu Semi, teman main dan mengaji Pak Bei di madrasah sejak anak-anak hingga remaja dulu. Karena selepas SMA melanjutkan kuliah dan ngekos di Jogja, Pak Bei jadi tidak tahu persis kapan Yu Semi nikah dan melahirkan anak pertamanya si Giat itu. Kalau dilihat dari fisiknya yang gothot itu, usia Giat masih sekitar 25-27 tahun.

Sesuai dengan namanya, Giat sangat rajin bekerja. Cekatan. Pak Bei memang diam-diam suka memperhatikan etos kerja para pekerja bangunan yang sejak tiga bulan lalu terlibat dalam pembangunan nDalem  Pak Bei. Giat, salah satu pekerja yang bertugas sebagai asisten alias laden tukang itu, juga tak luput dari pantauan Pak Bei. Anak itu sangat rajin dan disiplin. Bila teman-temannya baru datang menjelang pukul 08.00, Giat sudah datang sejak setengah jam sebelumnya. Dia langsung cari-cari kesibukan, seperti menyiapkan adonan pasir-semen, mendekatkan material ke tempat yang mau digarap tukang, atau bahkan sekadar menyapu halaman rumah Pak Bei yang cukup luas itu. Bila halaman sudah bersih, dia lalu mengambil air dari blumbang untuk menyirami tanaman di polibek milik Bu Bei.

Tumben pagi ini Giat tidak seperti biasanya, tapi justru mendekati Pak Bei dan ikut duduk di meja batu di bawah pohon alpukat. Melihat gelagatnya, tampak ada hal yang ingin disampaikannya.

"Kok gak nyapu, Yat," tanya Pak Bei sambil meletakkan HPnya.

" Mboten, Pak Bei. Ini kok tumben halaman tidak banyak sampah seperti biasanya. Masih bersih. Apa kemarin sore sudah ada yang menyapu, ya?"

"Iya, kemarin sore aku sendiri yang nyapu, Yat. Idhep-idhep ngobahke awak," jawab Pak Bei sambil mengepulkan asap kretek dari mulutnya.

"Mohon maaf, Pak Bei. Saya mau tanya sedikit," kata Giat dengan wajahnya menunduk, entah malu entah takut.

"Tanya apa, Yat?"

"Begini. Usaha Pak Bei dan Bu Bei ini kan di tengah kampung, bukan di pinggir jalan raya,"

"Iya memang. Kenapa, Yat?"

"Tapi kok bisa ramai, ya? Tiap hari banyak tamu datang ke sini. Ada yang motoran, banyak juga yang mobilan. Kalau kulihat plat nomornya, banyak juga yang plat luar kota. Kok bisa, Pak Bei? Mereka beli atau cari apa, to?" tanya Giat. 

"Ya macam-macam, Yat. Ada yang beli jilbab, mukena, gamis, atau daster. Ada juga yang pesan seragam sekolah, madrasah, majelis taklim, seragam kantor, dan sebagainya."

"Lha kalau yang pakai mobil-mobil plat merah dan ada tulisan Rumah Sakit atau ada yang pakai ambulan itu cari apa, Pak Bei?"

"Ooh, itu biasanya rombongan dari Rumah Sakit atau Dinas Kesehatan mencari baju APD, Yat."

"Baju APD itu apa to, Pak Bei?"

"Baju APD itu baju Alat Pelindung Diri, biasa dipakai petugas kesehatan ketika menangani pasien yang kena Corona. Biasa juga dipakai oleh relawan atau tenaga pemulasaraan jenazah covid-19 di Rumah Sakit hingga prosesi pemakamannya."

"Ooh maksudnya baju yang brukut nutupi kepala hingga kaki itu, ya? Sering saya lihat di tivi."

"Iya, Yat. Biasanya masih dilengkapi sepatu boot, sarung tangan, masker, penutup wajah, dan kaca mata. Jadi rapat gak gampang kemasukan virus covid-19."

"Lha kok nyarinya ke sini, Pak Bei? Kan sudah ada dun-dunan APD dari Pemerintah, to?"

"Ya memang sudah ada paket APD dari Pemerintah untuk Rumah-Rumah Sakit, Yat. Tapi kan jumlahnya juga terbatas. Kalau APD dipakai setiap hari sejak awal pandemi beberapa bulan lalu, pasti sekarang juga sudah pada rusak. Perlu ganti. Kalau minta dun-dunan paket lagi dari Kementerian Kesehatan juga harus pakai prosedur dan butuh waktu, sedangkan APD harus siap saat ini juga demi menjaga keselamatan. Lha wong korban covid-19 di mana-mana malah semakin banyak kok, Yat."

"Jadi begitu ya, Pak Bei. Untung Njenengan dan Bu Bei buat APD. Jadi bisa bantu kahanan yang nggegirisi ini."

"Ya alhamdulillah, Yat. Waktu kami mulai buat APD di awal pandemi dulu memang niatnya bantu kahanan. Waktu itu kami trenyuh melihat berita viral para petugas medis terpaksa pakai jas hujan karena tidak punya APD. Aku juga gak nyangka APD kami jadi laris-manis, banyak yang pesan dari Sabang sampai Merauke. Itu di awal-awal pandemi dulu."

"Saya heran lho, Pak Bei, lha kok sekarang malah semakin banyak orang yang kena covid-19, ya. Kalau dulu kan cuma dengar kabar kejadian di tempat-tempat jauh dari sini. Lah sekarang kejadian malah di sekitar kita, tetangga kampung, dan bajkan orang-orang yang kita kenal sudah jadi korban."

"Makanya kita harus waspada, Yat. Tidak boleh lengah atau bahkan menganggap remeh, nyepelekke. Gak boleh, Yat. Makanya hindari kerumunan atau kumpul-kumpul banyak orang. Usahakan terus pakai masker, dan rajin cuci tangan."

"Wah lha kalau kerja bangunan seperti saya harus terus pakai masker ya sumpek, Pak Bei. Kalau sebentar-sebentar harus cuci tangan, ya malah gak jadi kerja, dimarahi Mas Mandor, gak ada bayaran...."

"Yho wis sing penting ati-ati lan waspada, Yat. Kerja yang baik. Sepulang kerja istirahat di rumah, gak usah begadang atau keluyuran yang tidak perlu."

Teman-teman kerja Giat sudah berdatangan. Mereka tampak langsung menuju tempat kerjanya masing-masing, tidak ada yang berani mendekat ke Pak Bei seperti Giat. 

"Ya sudah sana kerja dulu, Yat. Temanmu sudah datang semua itu."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sampun maringi wekdal lan ilmu." Giat langsung berlari dan bergabung denga teman-temannya, mengaduk pasir-semen dan mendekatkannya ke tukang untuk memasang granit lantai. 

Seperti pagi biasanya, Pak Bei memperhatikan proses pembangunan rumah Limasan berbahan lawasan itu sejak awal hingga hampir rampung. Alhamdulillah sekarang bentuknya sudah kelihatan, tinggal finishing, dan tak lama lagi sudah bisa ditempati sebagai nDalem Pak Bei.

#serialpakbeibubei
#semogapandemisegeraberlalu




Senin, 06 Juli 2020

CUCI TANGAN

CUCI TANGAN

Anak-anak millenial menyebutnya 'makanan favorit'. Orang Jawa yang hidupnya sudah berorde-orde,  sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi alias sudah bisa  disebut sepuh, menyebutnya kareman. Kalau lama tidak ketemu makan karemannya itu, rasanya ada yang kurang dalam hidupnya.

Semua orang punya kareman yang bisa berbeda satu-sama lain. Bahkan suami-istri yang sudah kaken-kaken ninen-ninen pun bisa berbeda karemannya. Seperti Pak Bei dan Bu Bei, misalnya. Pak Bei karemannya soto Kartongali. Meski hampir setiap pagi sarapan soto Kartongali, seolah tak ada bosannya bagi Pak Bei.

Berbeda dengan Pak Bei, Bu Bei punya kareman sarapan jenang lemu, bubur beras yang diberi sambel lethok, sayur sambel berbahan baku tempe besem atau setengah bosok. Aroma dan rasanya yang sedhep itu konon bagus untuk orang yang sering gangguan pencernakan yang perutnya sering kembung atau terasa senep atau sebah. Pada umumnya orang Jawa meyakini bahwa jenang lemu itu menu sarapan yang terbaik untuk pencernakan, terutama untuk bayi, anak-anak, dan manula.

Meski berbeda kareman, tapi Bu Bei lebih sering mengalah pada Pak Bei. Agaknya Bu Bei yang asli Pelambang itu sudah benar-benar Njawani, menjadi penganut prinsip 'wong ngalah dhuwur wekasane'. Lebih suka mengalah demi menjaga keharmonisan bebojoan. Seperti tadi pagi, misalnya, Bu Bei rela menemani Pak Bei sarapan soto Kartongali, dan sengaja tidak membeli jenang lemu pagi-pagi seperti biasanya. 

Seusai membereskan pembagian pekerjaan untuk karyawannya, berangkatlah Pak Bei-Bu Bei menuju warung kareman Pak Bai di kawasan Jolotundo. Karena kebetulan pas hari pasaran Legi, jalanan menuju arah Jatinom sangatlah padatnya. Dengan sabar Pak Bei menyetir mobilnya pelan-pelan di belakang konvoi truk-truk pengangkut pasir Merapi yang akan menuju daerah Solo, Purwodadi, dan sekitarnya.

Setiba di depan Soto Kartongali, seperti biasa setiap mobil atau motor yang memberi sign mau parkir langsung disambut Sasa, si juru parkir teladan nasional. Dengan sigapnya, Sasa berlari dan  memberi aba-aba agar mobil Pak Bei merapat parkir di sebelah kiri jalan yang kebetulan masih longgar. Badannya membungkuk-bungkuk, kedua tangannya seperti menari sambil menuding-nuding, dan mulutnya teriak-teriak kiri-kiri, terus-terus, hoop. Setelah roda depannya lurus, Sasa lari ke kanan mobil untuk membukakan pintu sopir.

"Walaah....jebul Pak Bei-Bu Bei to ini. Alhamdulillah. Sebentar-sebentar....," kata Sasa sambil cepat pasang badan menghentikan laju kendaraan dari arah kiri-kanan dengan bendera dan sempritannya. "Monggo-monggo....," Sasa mempersilakan Pak Bei-Bu Bei menyebrang jalan dengan aman.

Sampai di depan warung, ternyata Sasa masih mendampingi sahabatnya itu. "Nyuwun pangapunten, monggo wijik dulu sebelum masuk, "katanya mempersilakan Pak Bei-Bu Bei cuci tangan di washtafel.

"Wah anyar ini, Sa?" tanya Pak Bei mengomentari washtafel yang tampak masih baru dipasang.

"Injih, Pak Bei. Nyu normal katanya ..."

"Maksude piye kuwi?"

"Jaman sekarang kita diajak kembali seperti jaman kita kecil dulu, Pak Bei. Kalau mau makan harus wijik dulu. Cuci tangan pakai sabun. Jadi Kang Panut ya harus memasang kran air dan sabun ini di depan warung."

"Ini namanya protokol kesehatan, Sa."

"Iya ya, Pak Bei. Kalau jaman kita sekolah dulu setiap upacara bendera Senin pagi ada yang bertugas jadi protokol upacara. Sekarang kok ada protokol kesehatan...hahahaa....ada-ada saja ya."

Pak Bei-Bu Bei langsung masuk dan memilih tempat duduk yang masih longgar di dekat dapur, sedangkan Sasa kembali bertugas di parkiran. Dari tempat itu Pak Bei-Bu Bei bisa memperhatikan cara kerja Yu Siti, si koki warung, yang sedang menggoreng tempe dan pisang raja. Dapur warung itu tentu saja jauh dari kesan bersih karena masaknya masih menggunakan keren dan kayu bakar yang asapnya memenuhi ruangan. Beberapa pelayan tampak wira-wiri membuat teh nasgithel di meja dapur. Penggemar teh nasgithel tentu paham bahwa teh yang benar-benar terasa nyamleng itu bila airnya dimasak pakai arang atau kayu bakar, bukan pakai kompor gas apalagi kompor minyak.

Dua mangkok soto dan dua gelas teh nasgithel sudah tersaji. Sambal dan kecap kental manis yang khas telah terjajar di meja bersama piring-piring berisi tempe, tahu, dan pisang goreng. Kaleng karak, alias krupuk berbahan beras, tampak masib penuh. Pagi itu, Pak Bei benar-benar ketemu karemannya. Bu Bei pun tampak bahagia menemani.

Tak berapa lama, Pak Bei-Bu Bei tampak sudah selesai menyantap sotonya. Sasa pun segera mendekat dan  bergabung duduk di depan Pak Bei.

"Sekarang semua orang harus rajin cuci tangan ya, Pak Bei," kata Sasa.

"Iya, Sa. Demi menjaga kebersihan dan kesehatan, agar terhindar dari pendemi virus corona," jawab Pak Bei sambil tangannya meraih gelas teh nasgithel.

"Saya kok agak khawatir akan salah kedaden, Pak Bei."

"Salah kedaden bagaimana?"

"Seperti kata Pak Bei tadi, maksud rajin wijik itu kan supaya orang terjaga kebersihan dan kesehatannya, to?"

"Ya betul itu."

"Saya khawatir nanti akan terjadi orang suka cuci tangan dari masalah yang dibuatnya. Tidak mau bertanggung jawab. Sok bersih. Kemresik."

"Walah Sa, maksudmu itu, to? Ya mudah-mudah tidak terjadi. Mbokya berpikir positif saja."

"Orang sekarang juga disuruh tutup mulut ya, Bu Bei?"

"Pakai masker, Mas Sa."

"Iya. Benar-benar wolak-waliking jaman."

"Maksudnya?"

"Lha kemarin-kemarin kita suka sinis pada wanita yang pakai jubah dan cadar yang kelihatan cuma matanya. Dibilang kayak ninja, radikal, dan sebagainya. Iya to, Bu Bei? Sekarang semua orang gak perempuan gak laki-laki, gak orang-tua gak anak-anak, semua harus pakai masker hingga yang  kelihatan  cuma matanya."

"Iya juga ya, Mas Sa."

"Makanya, kalau tidak menyukai sesuatu itu mbok jangan kebangetan ya, Bu Bei. Bisa keweleh, kata simbah. Sekarang kita jadi tahu bahwa ternyata pakai cadar itu baik juga,. Iya to, Bu Bei?"

"Iya ya, Sa. Benar juga katamu, kata Pak Bei. "Gething nyadhing, kata orang tua dulu. Yang kita benci setengah mati, ternyata sekarang harus kita lakukan juga. Yang kita sangka buruk, ternyata baik," lanjutnya.

Bu Bei beranjak ke kasir untuk membayar makanannya. Pak Bei berjalan ke depan bersama Sasa sambil terus ngobrol, entah apa lagi yang diobrolkannya. Tidak langsung nyebrang jalan, tapi Pak Bei menunggu Bu Bei sambil berdiri bersama Sasa di depan warung. Baru setelah Bu Bei datang, Sasa langsung pasang badan mengamankan sahabatnya itu menyebrang jalan, lalu memberi aba-aba mobilnya keluar dari parkiran dengan aman.

#serialpakbei-bubei
#6/7/20







Kamis, 02 Juli 2020

BLANTIK

BLANTIK

Hari masih pagi. Matahari merah mulai menyapa dunia dari arah timur. Beberapa ibu-ibu tetangga tampak wira-wiri di jalan depan rumah untuk urusan membeli jenang lemu di warung Budhe Wur untuk sarapan anak-anaknya. Beberapa petani tampak sudah asyik mencangkul dan mengolah sawahnya. Seperti biasa, Pak Bei menggerakkan badannya dengan menyapu halaman, membersihkan daun-daun kering dari pohon alpukat yang rimbun. Sampah daun kering itu lalu dibakar di jogangan di sudut halaman.  Bu Bei asyik menyirami pot-pot bunga dan tanaman sayur di polibek hitam yang terjajar rapi di sudut halaman.

"Assalaamu'alaikum....," terdengar uluk salam perempuan yang suaranya tidak asing bagi Bu Bei. Itu suara Yu Mur, kitcen staf alias asisten dapur Bu Bei.

"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Bei. "Kok tumben mruput, Yu? Masih jam segini sudah datang."

"Injih, Bu Bei. Ada perlu sedikit dengan Pak Bei. Mau matur."

"Dengan Pak Bei?"

"Injih."

"Wah tampaknya kok penting baget to, Yu. Pak Bei, ini lho Yu Mur mau matur," Bu Bei memanggil Pak Bei.

Pak Bei yang sedang asyik membakar sampah pun beranjak untuk bergabung dengan Bu Bei dan Yu Mur.

"Ada apa, Yu? Mau pamit gak kerja?"

"Bukan, Pak Bei. Saya disuruh Pakne supaya matur Pak Bei."

"Loh kok bukan bojomu sendiri yang ke sini?" tanya Pak Bei.

"Tadi saya ajak gak mau, malu katanya."

"Walah kok ndadak isin. Mau ngomong apa, to?"

"Begini....katanya sekarang Pak Bei jadi blantik sapi, ya?"

"Haah....kata siapa, Yu?,"

"Kemarin Bu Bei cerita katanya setiap menjelang Idul Adha Pak Bei jualan sapi kurban."

Tidak pernah terpikir di benak Pak Bei bahwa kegiatannya membantu ponakan menjual sapi kurban ternyata disebut blantik oleh asisten dapurnya.

"Hiyo, Yu. Sekarang aku jadi blantik. Terus piye, Yu?," tanya Pak Bei.

"Kami mau nyuwun tulung Pak Bei."

"Minta tolong apa?"

"Minta tolong Pak Bei jualkan sapi-sapi kami."

"Loh...Yu Mur punya sapi, to? Elok tenan. Ada berapa ekor?"

"Celengan kok, Pak Bei. Cuma dua ekor," jawab Yu Mur dengan malu-malu.

"Wah hebat ...alhamdulillah Yu Mur bisa punya tabungan dua ekor sapi," Bu Bei tampak senang.

"Jebul nyait Kowe, Yu. KayaPunya celengan dua sapi."

"Alhamdulillah, Pak Bei. Untuk kerja sambilan Pakne setiap pagi dan sore."

"Mau dijual berapa sapimu, Yu?"

"Pak Bei mirsani ke kandang dulu saja. Kalau sudah pirsa, pasti Pak Bei bisa naksir harganya, pantasnya dijual berapa."

"Yho wis. Bilang sama bojomu, Insya Allah tak bantu. Nanti aku ke kandang jam 9nan, ya."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget."

Yu Mur pamit pulang. Dia nanti akan kembali lagi sebelum jam 8 untuk bekerja seperti biasanya, memasak makanan untuk 30an karyawan Bundaco, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian keluarga Bu Bei. Suami Yu Mur, Kang Suhar namanya, biasa bekerja sebagai buruh bangunan. Sebagaimana orang desa pada umumnya, Kang Suhar juga menggarap sepetak sawah warisan untuk ditanami padi atau sayuran. Ternyata hasil kerja mereka bisa ditabung dalam wujud 2 ekor pedet, anakan sapi, lalu dipelihara selama beberapa bulan untuk dijual pas menjelang Idul Adha. Begitulah umumnya wong ndesa, menjalani hidup dengan bersahaja, prasojo, apa adanya, ayem-tentrem dan tidak ngoyo.

#serialpakbeibubei
#3/7/20

Rabu, 27 Mei 2020

KUPAT DIGITAL

KUPAT DIGITAL

Tentu bukan hanya Pak Bei yang merasakan betapa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terasa sangat luar biasa. Bukan hanya umat Islam yang merasakan bedanya, bahkan yang non-muslim pun __terutama palaku bisnis__ pasti merasakan betapa tahun ini roda ekonomi betul-betul kempes dan loyo, bahkan mandhek. Tidak ada prepegan, kata orang Jawa. Pendemi Covid-19 telah memaksa semua lini kehidupan lockdown. Ribuan atau bahkan jutaan pekerja pabrik terkena PHK. Juga pekerja bangunan, tukang ojek online, pelaku UMKM, pedagang pasar tradisional, warung-warung makan, terpaksa tutup usaha dan  nganggur. Semua orang harus menjalani social and phisical distancing, menjaga jarak sosial dan fisik, sehingga tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya, semua tempat berkumpul banyak orang termasuk sekolah dan kampus, harus ditutup. Sungguh, ini lelakon yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, tapi nyata-nyata terjadi dan dirasakan semua orang.

Pagi itu, sepulang dari sholat Ied bersama warga sekampung di jalan desa dekat rumah, seperti lebaran biasanya, Bu Bei dan anak-anak bergiliran ujung kepada Pak Bei, bersimpuh  memohon maaf atas segala kesalahan. Pak Bei pun membalasnya dengan permintaan maaf yang sama, mencium keningnya, dan khusus kepada anak-anak selalu disertai doa dan nasihat untuk kebaikannya. Setelah ujung kepada Pak Bei, anak-anak pun ujung satu-persatu kepada Bu Bei. Adegan sakral ini tidak jarang disertai sesenggukan dan  tetesan air mata Bu Bei dan anak-anak. Setelah itu, ketiga anak Pak Bei-Bu Bei pun saling bermaafan satu sama lain.

Biasanya tak lama setelah itu, ponakan-ponakan dan tetangga mulai berdatangan untuk ujung kepada Pak Bei-Bu Bei. Setelah ujung, mereka menyerbu aneka kue kering dan basah yang terjajar rapi di meja dan gelaran karpet. Ada yang betah berlama-lama ngobrol dengan Pak Bei-Bu Bei, banyak juga yang tergesa-gesa karena ingin segera pindah ujung ke rumah lainnya.

Tapi itu semua tidak terjadi pada lebaran kali ini. Sejak beberapa hari lalu, takmir masjid telah mengumumkan akan menyelenggarakan sholat Ied dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah. Setelah sholat Ied, tidak ada halal-bihalal dengan bersalam-salaman dan ujung dari rumah ke rumah. Itu semua diganti dengan pembacaan ikrar halal-bihalal seusai sholat Ied yang dipimpin oleh petugas dan diikuti seluruh jamaah. Usai sholat Ied, semua dihimbau pulang dan menutup pintu rumahnya masing-masing.
Begitulah lebaran kali ini semua orang menikmatinya bersama keluarga masing-masing. Tanpa tamu, tanpa persediaan kue dan aneka makanan seperti biasanya. Sungguh terasa sangat istimewa.

Pak Bei-Bu Bei dan anak-anak asyik dengan gadgetnya masing-masing, berlebaran dan bermaafan dengan keluarga dan kolega secara virtual. Ada yang cukup dengan pesan WA, tapi beberapa harus melalui video call. Semua orang bergembira dan saling memaklumi keadaan.

Pak Bei-Bu Bei duduk di meja makan dan sedang asyik berbalas ucapan Idul Fitri dengan teman-temannya, tiba-tiba terdengar ada orang mengucapkan salam dan mengetuk pintu depan. Cahya anak sulung Pak Bei pun segera beranjak membukakan pintu dan mempersilakan tamunya duduk di kursi depan.

"Yah, ada tamu teman Ayah," kata Cahya.

Pak Bei beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ruang tamu di depan.

"Assalaamu'alaikum.....," seru tamunya begitu tampak Pak Bei di pintu.

"Wa'alaikumsalam.....alhamdulillaah ada tamu agung ini," jawab Pak Bei dengan gembira.

"Namaku masih Sasa, Pak Bei, bukan Agung," jawab tamunya disertai suara tawa terkekeh-kekeh.

Ternyata Sasa tamu agung Pak Bei hari ini, teman sekolah di SMP Muhammadiyah Jatinom dulu dan sahabat di usianya yang sama-sama tak lagi muda.

"Piye kabarmu, Sa?," tanya Pak Bei pada sahabatnya. "Sudah lama kita gak ketemu, ya," sambungnya.

"Alhamdulillaah waras-wiris, Pak Bei," jawab Sasa sambil menggeser duduknya mendekat ke Pak Bei dan menyodorkan tangan untuk salaman. Rupanya Sasa mau ujung pada Pak Bei.

"Ngaturaken sungkem pangabekti kula dateng Pak Bei, Sugeng Riyadi, sedaya kalepatan nyuwun agunging pangaksami," Sasa menyampaikan ucapan lebarannya dengan takdzim.

"Hiyo podho-podho, Sa, semono uga aku akeh klera-kleruku marang sliramu, aku njaluk lumunturing sih kawelasan lan pangapuramu. Mugo-mugo dosaku lan dosamu dingapura dening Gusti Allah ing dina riyaya iki....aamiin," Pak Bek pun menjawab dengan panjang dan tak kalah takdzimnya.

Bu Bei keluar dengan membawa nampan dan dua gelas kopi.

"Alhamdulillaah ada tamu agung yang lama tidak kelihatan, " kata Bu Bei sambil meletakkan nampan di meja." Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih, Pak Sasa. Sedaya lepat kula nyuwun pangapunten," lanjutnya.

"Njih, Bu Bei, semanten ugi kula tiyang sepuh kathah klenta-klentu kula, nyuwun agunging pangaksami," jawab Sasa.

"Kok sendirian to, Pak Sasa? Mumpung lebaran mbokya Mbakyu diajak ke sini," kata Bu Bei.

"Walah Bu Bei ini, lho. Saya sowan ke sini ini kan nekad."

"Nekad bagaimana, Pak Sasa?"

"Di mana-mana tidak ada orang badan, berlebaran dari rumah ke rumah. Semua orang nutup pintu, asyik dengan keluarganya masing-masing. Tidak ada silaturahmi, bertatap muka, dan bermaafan, lalu makan kupat bersama sebagai tanda ngaku lepat, mengakui kesalahan dan meminta maaf," Sasa seakan mendapatkan ember untuk menumpahkan kegelisahannya.

"Ya memang, Pak Sasa."

"Katanya sekarang ini jamannya kupat digital, Bu Bei, ngaku lepat dan bermaafan tapi cuma lewat hp."

"Ya karena kahanan kok, Pak Sasa. Semua orang harus menjaga diri agar tidak terkena virus corona."

Sasa nyeruput kopi, menyulut rokok, lalu melanjutkan bicaranya, "Lha kalau saya ya gak bisa to, Bu Bei. Saya ini pegang hp saja cuma kadang-kadang, hanya kalau pas ada perlu, saya pinjam hp anak. Dan menurut saya, yang namanya badan itu ya harus sowan, bersalaman sambil ngucapkan Sugeng Riyadi dan minta maaf."

"Sebenarnya saya juga  merasa tidak lega, Sa, kurang marem. Lebaran kok jadi sepi nyenyet begini. Tapi mau gimana lagi, lha wong kahanan mengharuskan seperti ini.  Kita berdoa saja semoga kahanan segera membaik dan kita bisa hidup normal lagi."

"Leres, Pak Bei. Saya juga sudah kangen pengin kerja lagi seperti biasa di parkiran Soto Kartongali dan malamnya melayani pijet sedulur-sedulur yang ngersakke."

"Sudah lockdown berapa lama, Pak Sasa?"

"Wah lumayan lama, Bu Bei. Sejak sebelum puasa warung sudah sepi. Bulan puasa tutup total. Jadi saya nganggur ngethekur di rumah sudah sebulan lebih. Untung kemarin masih ada beberapa ekor jago bangkok bisa saya jual ke pasar buat makan. Tapi sekarang sudah habis. Belum tahu besok mau jual apa lagi."

Trenyuh hati Pak Bei mendengar cerita sahabatnya.Tapi Sasa bukanlah satu-satunya. Pak Bei jadi teringat sejak sebelum Ramadhan banyak tamu datang dan minta pekerjaan. Mereka para penjahit borongan yang selama ini bekerja pada beberapa juragan konveksi. Karena pasar Klewer, Beringharjo, dan Tanah Abang ditutup, maka para pelaku usaha konveksi pun ikut tutup sehingga ribuan tenaga jahit kehilangan pekerjaan.

Miris Pak Bei membayangkan kalau pendemi ini tidak segera berakhir, entah berapa banyak orang yang akan mati kelaparan karena kehilangan pekerjaan dan sumber penghidupan.
Wallahua'lambishawab....

#serialpakbeibubei

Jumat, 01 Mei 2020

KARANTINA MANDIRI

KARANTINA MANDIRI

Ini hari ke delapan keluarga Pak Bei menjalani karantina mandiri, tidak srawung dengan tetangga kiri-kanan dan tidak ikut sholat jamaah di masjid. Keputusan itu diambil setelah minggu lalu Bu Bei mendapat teguran keras dari tetangga gara-gara Pak Bei dan Cahya anak lakinya ikut sholat Jumat di masjid.

"Pak Bei sekeluarga kan baru pulang dari Palembang. Mbok isolasi dulu di rumah, gak usah ke masjid. Sebagai tokoh, mestinya Pak Bei bisa memberi contoh bagi masyarakat," begitu kalimat yang dikirim via WA.

Mak-jleb. Tusukan pisau itu terasa sangat tajam mengoyak ulu hati Bu Bei dan Pak Bei. Perih rasanya. Kepergian Pak Bei sekeluarga ke Palembang tempo hari seolah dalam rangka dolan atau kulakan virus corona di zona merah. Sungguh sadis. Boro-boro orang itu berbasa-basi dulu, tanya-tanya soal perjalanan, atau syukur mengucapkan bela-sungkawa atas meninggalnya ibu tercinta.
Tidak. Tidak penting mengetahui ke mana perginya keluarga Pak Bei. Tidak perlu tahu untuk apa orang bepergian. Tidak perlu juga tahu satus kota yang dituju itu termasuk zona hijau, kuning, atau merah. Orang-orang sudah gebyah uyah dengan kesimpulannya sendiri bahwa keluarga Pak Bei yang baru pulang dari bepergian pasti membawa virus corona sehingga haram ikut sholat jamaah di masjid.

"Gak apa-apa, Yah. Inilah resiko hujan informasi via medsos. Orang tidak lagi bisa berpikir rasional dan adil. Yang ada hanya ketakutan berlebihan terhadap covid-19. Kita maklumi saja. Gak usah dilawan," kata Cahya mencoba menenangkan Pak Bei dan Bu Bei. "Ini justru kesempatan kita menikmati ibadah Ramadhan di rumah saja, gak usah repot-repot ke masjid," sambungnya.

"Tapi orang itu sudah kebangetan, Le. Terlalu," kata Bu Bei.

"Namanya juga orang awam kok, Bun. Tahunya setiap orang yang pulang dari bepergian ya harus isolasi diri selama 14 hari," jawab Cahya.

"Le, kita ke Palembang bukan untuk piknik, lho. Nenekmu sakit keras di Rumah Sakit, kita gak bisa ke sana. Hingga nenekmu meninggal pun kita tak bisa langsung ke sana. Bunda ini anak mbarep, Le. Sedih sekali. Tapi ya sudahlah.....," Bu Bei menyeka air matanya.

"Baiklah, ayah setuju jalan pikiran Cahya," Pak Bei siap mengambil keputusan. "Kita sementara ini tidak akan ikut arus masyarakat yang tetap ingin mengadakan jamaah sholat Jumat dan sholat Tarawih di masjid. Biarkan saja mereka. Kita doakan semoga itu menjadi pilihan yang terbaik," lanjut Pak Bei.

"Mulai saat ini hingga setidaknya 14 hari ke depan, kita mengisolasi diri di rumah. Karantina mandiri. Kita nikmati Ramadhan tahun ini di rumah kita sendiri. Kita sholat jamaah rawatib, tarawih, dan tadarus di rumah."

Begitulah keputusan Pak Bei di awal Ramadhan yang disambut gembira oleh Bu Bei dan ketiga anaknya. Ruang gandhok yang biasa menjadi tempat berkumpul dan ngobrol telah disulap manjadi tempat sholat jamaah yang nyaman, dengan gelaran dua karpet tebal. Di salah satu tiang juga dipasang kipas angin tornado agar ketika sholat berjamaah tidak ada yang merasa gerah. Seusai berbuka dan sholat maghrib, Cahya biasa memimpin kedua adiknya, Zika dan Alya, membaca Al Quran. Tentu Zika dan Alya pun tidak keberatan karena tadarus itu sudah menjadi kebiasaan mereka di Pondok Gontor Putri.

Urusan menu buka puasa dan sahur, itu sepenuhnya menjadi kewenangan Bu Bei. Di samping masak sendiri, Bu Bei juga suka pesan kue atau lauk-pauk ke teman-temannya yang punya bisnis makanan. Nglarisi jualan teman, begitu komitmen Bu Bei yang selalu ditanamkan ke anak-anaknya.

Ramadhan yang indah, semua dilakoni dengan gembira.

#serialpakbeibubei

Kamis, 23 April 2020

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Akhirnya Bu Bei bisa tersenyum lega setelah Pak Bei menunjukkan bookingan 3 tiket pesawat Solo-Palembang atas nama Bu Bei dan kedua anak gadisnya, Zika dan Alya, untuk hari Rabu, serta 2 tiket atas nama Pak Bei dan Cahya untuk hari Minggu. Ya, keluarga Pak Bei-Bu Bei harus mudik ke Palembang, pulang kampung selama beberapa hari.

Sudah semingguan Bu Bei tampak murung dan sesekali air matanya berhamburan sejak mendengar kabar dari adiknya, si Heni, bahwa Ibunya yang sudah uzur itu diopname di rumah sakit dan kondisinya semakin menurun. Banjir air mata semakin tak terbendung ketika Jumat pagi bakda shubuh tanggal 10 April adiknya mengabarkan bahwa Ibu yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Allah SWT dengan tenang.

Seharian Bu Bei tampak murung dengan matanya yang sembab. Sesekali Pak Bei memeluk dan berusaha menenangkannya, mengajaknya untuk ikhlas dannridho menerima takdirNya. Sholat ghaib, sholat jenazah dari jauh, alias tanpa menghadap jenazah di depannya, telah dilakukan tadi pagi bersama seluruh karyawannya.

"Anak-anakku, sahabat-sahabatku, bakda shubuh tadi ibu kami di Palembang telah kembali ke hadirat Allah SWT setelah sakit selama seminggu," kata Pak Bei memberi pengantar sebelum sholat ghaib dimulai. "Sebagai anak sulung, seharusnya kami sudah pulang ke Palembang sejak kemarin-kemarin agar bisa menemani dan merawat beliau di Rumah Sakit. Tapi tidak bisa. Situasinya tidak memungkinkan kami pulang kampung, mudik. Tidak mungkin," suara Pak Bei terdengar parau dan matanya tampak berkaca-kaca.

Bu Bei mengusap air matanya. Semua karyawan menundukkan kepala. Terharu. Semua orang paham kalau pun kemarin Pak Bei dan Bu Bei ke Palembang, kemungkinan juga tak akan bisa masuk ke Rumah Sakit untuk menunggui Ibu. Bisa jadi, mereka justru harus ikut karantina selama 14 hari di ruang isolasi milik Pemprov Sumsel di Jakabaring, atau setidaknya harus melakukan isolasi mandiri di rumah dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP). Maka tidak ada pilihan lain, keluarga Pak Bei harus ikhlas mendoakan Ibu dan nenek tercinta dari jauh, bahkan hingga beliau meninggal dunia pagi itu.

"Anak-anakku dan sahabat-sahabatku, kami minta kalian membantu berdoa dengan bersama-sama melakukan sholat ghaib, semoga Ibu kami mendapatkan husnul-khotimah, diampuni semua dosanya, dilapangkan kuburnya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Marilah kita mulai sholat ghaib, semoga Allah SWT meridhoi...aamiin."

Lima hari kemudian, Bu Bei bersama Zika dan Alya pun terbang ke Palembang dengan keyakinan akan dimudahkan segala urusan selama perjalanan. Pak Bei dan Cahya anak lelakinya akan menyusul lima hari kemudian setelah menuntaskan dulu ratusan order baju APD dari dokter dan Rumah Sakit di berbagai daerah. Maklumlah, semua dokter dan tenaga medis menunggu-nunggu datangnya APD yang sudah dipesannya sejak beberapa hari lalu. Tentu Pak Bei pun harus menjaga komitmennya meski dalam situasi yang serba sulit itu.

Agenda terpenting kepulangan keluarga Pak Bei-Bu Bei tentu menziarahi makam almarhumah Ibu Hodimah binti Ahmad Rifa'i di kompels pemakaman umum Puncak Sekuning. Misi berikutnya adalah memimpin adik-adiknya untuk berembuk tentang berbagai hal sepeninggal Ibu. Maklumlah, ayahnya, yakni Bapak Ali Kusmen, sudah meninggal 15 tahun yang lalu ketika menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Ma'la di luar kota Mekah. Sepeninggal Ibu, maka Bu Bei sebagai anak sulung harus tampil memimpin ketiga adiknya agar selalu rukun dan tetap akrab satu sama lain.

Bu Bei menyadari bahwa ketiga adiknya punya kesibukan dengan keluarganya masing-masing. Ketiganya tinggal di kota Palembang, dan hanya Bu Bei yang tinggal di Jawa sejak lulus SMA dan kuliah di Bulak Sumur Jogjakarta lalu mendapat suami Pak Bei yang orang Jawa. Selama ini, si-Heni anak nomor dualah yang total menemani dan merawat Ibu, hingga rela melepaskan pekerjaannya sebagai insinyur sipil. Si-Deni anak ketiga punya kesibukan menemani dan merawat ibu mertuanya yang juga sudah uzur. Si bungsu Aisyah masih rempong dengan kedua anaknya yang masih balita. Begitulah, kepulangan Bu Bei sungguh sangat berarti bagi keutuhan keluarga alm. Pak Ali Kusmen.

"Selamat datang, Pak Bei sekeluarga. Semoga selama perjalanan ke Palembang hingga pulang ini tidak mengalami hambatan apapun," kata Pak Kades yang langsung datang bersama Pak RT begitu keluarga Pak Bei tiba di rumah.

"Njih, Pak Kades. Matur nuwun kerawuhanipun. Alhamdulillah perjalanan kami sangat lancar, tidak semenakutkan kabar atau berita yang setiap hari kita baca di medsos," jawab Pak Bei.

"Apa gak ada pemeriksaan ketat ketika sampai di sana, Pak Bei?," tanya Pak RT."

"Blas gak ada, Pak RT. Sama sekali tidak ada, selain di bandara semua penumpang yang datang wajib mengisi Formulir Kewaspadaan," jawab Pak Bei.

"Apa Palembang belum termasuk zona merah ya, Pak Bei?," tanya Pak Kades.

"Entahlah. Dengar-dengar mulai tanggal 25 akan berlaku PSBB. Tapi gak apa-apa, toh kami sudah keluar dari sana."

"Untung Pak Bei sudah kembali. Kalau belum bisa repot," kata Pak RT.

"Repot bagaimana, Pak RT?"

"Looh...Pak Bei belum dengar, ya? Kemarin Pak Presiden melarang seluruh rakyat mudik lebaran. Besok tidak boleh ada orang mudik, Pak Bei."

"Yang dilarang kan mudik, Pak RT? Kalau pulang kampung kan boleh. Iya to, Pak Kades?"

Pak Kades hanya senyum-senyum tidak menjawab sepatah kata pun. Hari sudah menjelang maghrib. Pak Kades dan Pak RT pun berpamitan. Pak Bei masuk rumah dengan senyum-senyum mengingat kabar Pak RT tentang larangan mudik.

"Yang dilarang kan mudik, bukan pulang kampung," kata Pak Bei dalam hati dengan geli.

#serialpakbeibubei

Sabtu, 04 April 2020

GLOBAL DETOX

GLOBAL DETOX

Sudah sepuluh hari terakhir ini Pak Bei dan Bu Bei tampak sangat sibuk melayani pesanan baju Alat Pelindung Diri (APD) dari berbagai penjuru Tanah Air. Para dokter, dokter gigi, perawat, bidan, ormas, dan kelompok masyarakat peduli, setiap hari sejak pagi hingga tengah malam tanpa henti menelpon atau kirim pesan WA, dari bertanya-tanya hingga memesan (PO), lalu mendesak minta APD segera dikirim. Maklum, di mana-mana terjadi krisis APD. Mereka pun terpaksa saweran untuk mencari APD. Sayangnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah tampak tidak cukup siap menghadapi wabah pendemi ini. Sebagai kepala urusan PR dan CS, Pak Bei harus sabar merespon satu-persatu karena paham betapa para tenaga medislah yang paling beresiko dalam perang melawan corona.

Sebagai kepala urusan produksi, Bu Bei pun tak kalah sibuk dan tegangnya. Menjelang tidur, Bu Bei harus merekap semua order yang masuk lewat Pak Bei, lalu menghitung berapa bahan baku dan bahan penunjang yang dibutuhkan dan diorder ke suplayer, serta membagi pekerjaan untuk karyawan dan mitranya di luar. Bu Bei juga harus terus menggalang mitra kerja produksi, baik penjahit perorangan maupun koleganya sesama pengusaha konveksi yang saat ini terpaksa berhenti produksi karena pasar-pasar langganannya di kota besar  terkena kebijakan lockdown. Untuk urusan mencari mitra, baik mitra produksi maupun suplayer, tidak jarang Bu Bei mengajak Pak Bei untuk bantu meyakinkan. Upase mandi, begitu istilah Bu Bei agar Pak Bei mau membantunya meyakinkan calon mitra.

Ada hal menarik dari obrolan bakda sarapan pagi ini. Sambil mengupas pepaya kesukaannya, Bu Bei seperti ngundamana, berbicara sendiri mereview kahanan yang sedang terjadi.

"Tampaknya kali ini Gusti Allah sungguh-sungguh mendetox alam ciptaanNya ya, Pak Bei."

"Mendetox bagaimana maksud Bu Bei?"

"Tentu Pak Bei masih ingat kejadian Tsunami di Aceh dn Padang, gempa bumi di Jogja dan Klaten, gunung Merapi meletus, gunung Kelud, gunung Agung, gempa Lombok dan likuifaksi di Palu?"

"Ya masih ingat."

"Itu bencana cuma lokal. Memang sangat memilukan karena banyak jatuh korban nyawa dan benda.

"Iya, terus...."

"Setelah recovery, biasanya daerah-daerah yang dulu porak-poranda menjadi tampak maju dan lebih makmur."

"Iya ya. Betul itu, Bu Bei." Pak Bei jadi teringat, sejak letusan gunung Merapi hingga saat ini, setiap hari ada ribuan truk lalu lalang mengangkut material tambang galian-C. Masyarakat setempat menjadi makmur bahkan kaya-raya, baik yang hanya menjadi buruh maupun pengelola kegiatan penambangan. Para pejabat Daerah yang biasanya jadi investor alat-alat berat, truk, begho, atau pemecah batu, dan sekaligus pemilik ijin penambangan, seakan panen raya tiada henti swlama bertahun-tahun. Konon, hasilnya bisa milyaran per bulan.

"Jadi, memang setiap terjadi bencana pasti ada korban sekaligus kepiluan, Pak Bei. Tapi sesudahnya, ada Rahmat Tuhan yang berlimpah-ruah dan bermanfaat bagi manusia."

"Tapi kali ini beda sekali, Bu Bei."

"Ya memang beda. Wabah Covid-19 ini menyerang seluruh dunia."

"Ya itulah, Bu Bei. Pada bencana lokal, masih ada Pemerintah Pusat yang gagah-perkasa membantu Pemerintah Daerah. Juga ada solidaritas dari masyarakat di daerah-daerah aman, dari berbagai negara kaya, dan bahkan PBB. Semua memberi bantuan besar-besaran, baik yang sifatnya jangka pendek, maupun untuk recovery pasca-musibah selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Kalau sekarang, siapa yang mau membantu? Semua dalam ketakutan yang sama."

"Lha ya itulah, Pak."

"Sayang sekali tiap hari rakyat justru disuguhi para pejabat dan cerdik pandai yang masih saja eker-ekeran, bertengkar tiada habisnya, saling menyalahkan, sementara teman-teman tenaga medis harus di garda terdepan pertempuran tanpa dibekali peralatan memadai."

Azan dhuhur terdengar bersahutan. Obrolan pun diakhiri. Pak Bei dan Bu Bei bersiap ke masjid ikut sholat berjamaan. Untung mushola di depan rumah tidak dilockdown.

#serialpakbeibubei



Rabu, 01 April 2020

LOCKDONESIA

LOCKDONESIA

Sejak seminggu lalu, Pak Bei tampak sibuk luar biasa dengan pekerjaannya sebagai pengusaha konveksi. Bila sebelumnya masih tampak sore-sore duduk santai di taman bawah pohon alpukat di pojok rumahnya sambil ngopi dan berbincang dengan teman-temannya yang suka mampir, beberapa hari ini Pak Bei tak pernah tampak lagi batang hidungnya, kecuali tahu-tahu mak wush mobilnya lewat di jalan keluar desa. Pak Bei juga belum pernah tampak bergabung dengan teman-teman segenerasinya yang  sudah mulai main pingpong lagi di aula masjid setiap bakda isya'. Ketika salah seorang bertanya melalui pesan WA dan mengajaknya bergabung, Pak Bei hanya menjawab, "Maaf, Lur, belum bisa bergabung. Lagi prepegan." Teman-temannya pun maklum, setiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri semua pengusaha konveksi memang sibuk. Istilah orang Jawa, prepegan.

Begitulah. Sejak menawarkan produk baru berupa baju Alat Pelindung Diri (APD) melalui akun FB dan beberapa WAG yang kemudian menjadi viral itu, Pak Bei sulit beranjak dari tempat duduknya di gandhok rumah untuk merespon banyak sekali pesan WA yang masuk, baik yang masih sekadar minta info maupun yang langsung PO baju APD.

"Jan ora nyana ora njimpittidak mengira sama sekali akan jadi seperti ini," kata Pak Bei pada wartawan-wartawan yang datang mewawancarai dan bertanya alasan Pak Bei membuat APD. "Awalnya, seminggu yang lalu saya trenyuh, prihatin melihat foto dan video di WAG tentang para petugas medis yang bertugas mengevakuasi atau memeriksa dan merawat orang-orang yang diduga terinfeksi virus Corona. Mereka terpaksa hanya memakai jas hujan sebagai pelindung karena tidak punya APD. Kita tahu, Mas, para petugas medis itu di garda terdepan melawan ganasnya Covid-19. Sangat berbahaya kalau mereka tidak dilengkapi APD. Kasihan sekali, keluarganya di rumah pasti sangat khawatir," lanjut Pak Bei.

"Tapi bukankah Bunda Colection usaha Pak Bei ini sedang sangat padat pekerjaan saat ini?," tanya salah satu wartawan.

"Lha ya itulah, Mas. Mulanya kami hanya ingin membantu dan berkontribusi menghadapi wabah ini dengan  kemampuan kami yang terbatas. Kucari info seputar APD, bahan dan modelnya, lalu kami buat sampel dengan sedikit bahan yang mampu kami beli. Seorang karyawan kuminta mencobanya dan kami foto. Sorenya kuposting di FB dan WAG dengan tambahan narasi sederhana. Ternyata responnya luar biasa dari seluruh penjuru Tanah Air. Viral, Mas. Para dokter, bidan, perawat, pengelola Rumah Sakit, juga ormas-ormas langsung memesan dan minta supaya cepat dikirim. Ini sungguh di luar ekspektasi kami, Mas," terang Pak Bei.

Sejak pagi bakda shubuh hingga menjelang dini hari, Pak Bei sibuk melayani pemesan via WA. Tanggung jawab produksi diserahkannya pada Bu Bei yang juga tak kalah sibuknya menggalang para penjahit se Kabupaten untuk bergabung membuat APD. Sesekali Pak Bei nemani Bu Bei mendatangi rumah calon mitra kerjanya dan ikut meyakinkan betapa penting peran penjahit dalam melawan wabah corona.

"Kita harus berbuat, Bu. Kita harus membantu saudara-saudara kita para petugas medis dengan kemampuan kita, yakni membuat baju APD," begitu Pak Bei memotivasi calon mitranya.

Tapi betapa kagetnya Pak Bei dan Bu Bei ketika kemarin pagi hendak mendatangi calon mitra di satu dusun, ternyata tidak bisa masuk karena jalan-jalan masuk ke dusun itu ditutup dengan bambu dan dipasangi tulisan, "Maaf, dukuh ini kami lockdown," atau, "Kami perang melawan corona," atau, "Corona? No way...," dan sebagainya. Yang lebih aneh lagi, di jalan-jalan antar Desa ada beberapa bangunan darurat pos penyemprotan disinfektan yang dijaga beberapa Hansip Setiap orang yang lewat jalan itu harus masuk dan berhenti dulu untuk disemprot disinfektan.

"Edya tenaan.....Ini yang namanya gugon tuhon, alias mengada-ada, salah kaprah. Semua orang jadi kontra produktif," begitu grenengan Pak Bei. Bila Pak Bei sudah mulai ngomel hal-hal yang agak berbau politik, Bu Bei memilih diam dan asyik dengan gadgetnya. Pak Bei pun capek sendiri dengan grenengannya, lalu diam dan kembali konsentrasi nyetir mobilnya.

#serialpakbeibubei





Rabu, 25 Maret 2020

GEGER CORONA

GEGER CORONA

Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa seluruh penduduk bumi akan mengalami Perang Dunia sedahsyat ini. Perang dahsyat yang bukan lagi antar negara atau pakta pertahanan yang memperebutkan teritorial, cadangan minyak dan gas bumi, atau balas dendam karena terjadi pembunuhan seorang diplomat, misalnya. Bukan. Sama sekali bukan.

Pada perang kali ini, seluruh penduduk bumi menghadapi tentara langit tak kasat mata yang menyerang dari berbagai penjuru, membunuh siapa saja yang dijumpainya, tanpa ampun dan tanpa pandang bulu. Tentara langit itu bernama Virus Corona namanya, atau disebut Covid-19, konon berasal dari provinsi Wugan, China. Ribuan nyawa sudah melayang di berbagai negara, dan ratusan ribu penduduk bumi telah terpapar virus ini. Setiap saat, media tivi dan media sosial tak henti memberitakan --dan viral-- tentang jatuhnya korban di berbagai kota.

Musuh bersama kali ini tidak bisa dihadapi dengan mengandalkan tentara dan polisi dengan senjata lengkap dan canggih sekalipun. Pesawat tempur super canggih dilengkapi rudal berkepala  uklir seperti SU-35 yang hingga kini Pemerintah kita masih gojak-gajek mau kita beli atau tidak pun tidak akan ada artinya. Rudal Patriot, Tank Leopard, apalagi panser Anoa buatan PT Pindad dan berbagai senjata tentengan seperti AK47 dan M16 pun pasti mejen semua, alias tak mampu berbuat apa pun menghadapi Covid-19.

Guna menghindari semakin banyak jatuh korban, Pemerintah Pusat hingga Provinsi, Kabupaten/Kota dan Desa telah menyampaikan instruksi bagi warganya. Juga berbagai lembaga keagamaan seperti MUI dan PP Muhammadiyah, telah mengeluarkan maklumat agar ditaati seluruh masyarakat. Instruksi dan maklumat itu berisi anjuran dan larangan, seperti menjaga kebersihan, menghindari bepergian dan kerumunan warga (social distance), dan sebagainya. Seluruh kegiatan di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan kantor-kantor telah diliburkan. Karpet-karpet masjid dan mushola telah digulung. Di beberapa daerah, ibadah Sholat Jumat dan sholat rawatib berjamaah ditiadakan. Peribadatan di gereja-gereja, klenteng, pura, dan vihara juga dihentikan untuk jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Rencana orang menggelar hajatan seperti resepsi pernikahan terpaksa harus dibatalkan. Bila ada yang nekad, polisi tidak segan-segan akan  membubarkannya.

Pada pertempuran kali ini, yang paling berat dan beresiko tinggi adalah para petugas medis seperti dokter dan perawat. Mereka harus berada di garda terdepan meski tak jarang mereka kesulitan perlengkapan penunjang seperti pakaian Alat Pelindung Diri (APD), masker, sarung tangan, dan sepatu yang aman. Demikian juga para relawan dan sopir ambulan yang setiap saat harus mengevakuasi korban, atau para penggali kubur yang harus mengubur jenazah korban Covid-19. Sungguh mereka sangat rentan tertular virus mematikan ini.

"Kang, kita harus ikut berbuat," begitu suara Makruf rekan Pak Bei yang tinggal di Jogja dan aktivis pemberdayaan masyarakat via telepon kemarin pagi. "Ini semua Rumah Sakit mengalami krisis APD, Kang. Mereka mau beli, tapi di mana-mana tidak ada barang. Ketersediaan barang tak sebanding dengan kebutuhan yang sangat tinggi dan mendesak ini," begitu Makruf melanjutkan.

"Apa yang bisa kita perbuat, Nda?, tanya Pak Bei.

"Begini. Sampeyan kan punya usaha konveksi. Ada banyak penjahit. Tolong Sampeyan bikin APD. Ini kebutuhan mendesak, Kang. Kalau Sampeyan siap, nanti saya hubungkan dengan berbagai pihak dan Rumah Sakit."

Mendengar suara Makruf itu, Pak Bei sangat tertohok. Makruf yang juga dosen UMY itu masih punya kepekaan tinggi terhadap situasi sulit yang sedang terjadi. Seharusnya Pak Bei sudah dari kemarin melihat hal itu, tapi tidak. Pak Bei tidak punya imajinasi ke sana, dan masih suntuk dengan pekerjaannya sendiri yang kebetulan lagi prepegan, lagi banyak order menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

"Terus piye, Nda? Apa yang bisa kulakukan?," tanya Pak Bei.

"Pak Bei siapkan beberapa penjahit, ayo kita produksi APD."

"Waah....semua karyawanku sudah full ngerjakan order menjelang Ramadhan, Nda. Modalku juga sudah terserap ke sana."

"Sampeyan pasti bisa cari solusi, Kang. Kan banyak penjahit di luar yang bisa diajak. Soal modal kita pikir belakangan. Dah gitu, ya, kutunggu APD karya Pak Bei," Makruf mengakhiri pembicaraan.

Kebetulan kemarin Pak Bei dan Bu Bei ada agenda kulakan ke Solo, sekalian cari bahan untuk membuat APD sesuai saran Makruf. Alhamdulillah dapat juga bahan yang dicari. Hari ini, sejak pagi seorang karyawannya yang cukup mahir, Iftina namanya, ditugasi membuat sampel baju APD. Alhamdulillah sore ini satu sampel baju APD sudah siap dilounching. Yang berminat PO untuk melindungi para petugas di Rumah Sakit, silakan hubungi Pak Bei di WA 087839454741.

Semoga Allah SWT melindungi seluruh bangsa Indonesia dari wabah Corona ini. Aamiin.

#serialpakbeibubei



Jumat, 20 Maret 2020

PAGEBLUK

PAGEBLUK

Sabtu pagi. Tidak biasanya Bu Bei mengadakan briefing karyawan. Sejak awal membuka usaha konveksi 16 tahun yang lalu, briefing selalu diadakan setiap Senin pagi untuk mengavaluasi pekerjaan seminggu lalu dan mengarahkan pekerjaan seminggu ke depan, sekaligus membina mental spiritual karyawan. Bila diperlukan, sesekali Pak Bei bergabung dan ikut bicara.

"Teman-temanku, sahabat-sahabatku, adik-adikku,"  Bu Bei mengawali breifing dengan sapaannya yang khas, "Pagi ini saya merasa perlu mengumpulkan kalian sehubungan dengan semakin hebohnya wabah corona yang sedang melanda dunia dan negeri kita," lanjutnya. Semua karyawan tampak antusias mendengarkan. Satu dua karyawan yang datang terlambat langsung ikut bergabung duduk melingkar.

"Tentu kalian sudah mendengar dari tivi dan medsos, betapa dahsyatnya dampak wabah pendemik ini. Di negeri kita saja sudah 300an korban meninggal serta ribuan orang dalam pantauan. Korban mungkin akan terus berjatuhan bila Pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah darurat demi menyelamatkan rakyat. Sayang sekali yang kita saksikan dan baca tiap hari justru para pejabat dan tokoh politik yang seolah saling menyalahkan, saling mencaci, saling curiga, lalu dihubung-hubungkan dengan Pilpres 2024 yang masih jauh."

Pak Bei yang dari tadi hanya nguping, menyimak diam-diam sambil menikmati kopi di meja makan, tampak tergerak ikut bergabung di arena briefing. Sambil mmbawa dingklik, tempat duduk pendek, Pak Bei masuk dan langsung duduk di samping Bu Bei.

"Sahabatku semua, alhamdulillah kali ini Pak Bei mau bergabung dengan kita, tentu ada yang ingin beliau sampaikan. Mari kita dengarkan baik-baik. Silakan, Pak Bei," kata Bu Bei.

"Anak-anakku," kata Pak Bei setelah mengucapkan salam, "Dunia kita saat ini sedang mengalami pagebluk berupa wabah virus corona yang juga disebut covid-19. Sejarah telah mencatat dunia ini pernah beberapa kali mengalami pagabluk. Sejak jaman sebelum Masehi, manusia telah mengalami bermacam-macam pagebluk. Ada wabah malaria, lepra, pes, black dead, virus flu babi, flu burung, SARS, dan sebagainya. Jutaan nyawa melayang karena pagebluk. Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami serangan dahsyat virus corona yang berasal dari Wuhan China." Pak Bei menghela nafasnya. Semua karyawan yang semula menyimak sambil memandang Pak Bei pun menundukkan wajahnya. Entah apa yang dibayangkannya.

"Tapi kita tidak usah takut, Anak-anakku," Pak Bei melanjutkan wejangannya. "Kita harus yakin bahwa kematian itu soal batas usia. Kematian pasti akan datang kapan saja, di mana saja, dan entah sebab apa. Hanya Allah SWT yang tahu."

Suasana hening. Semua wajah menunduk. Pak Bei kembali meneruskan wejangan, "Lalu bagaimana cara kita menyikapi pagebluk ini, Anak-anakku? Pertama, jangan takut dan jangan panik. Kedua, ikuti himbauan, arahan, dan larangan yang disampaikan Pemerintah. Jangan sok pintar sendiri dan jangan sok berani alias kemendel. Jaga kebersihan. Jangan bepergian  bila tidak penting. Hindari kerumunan. Rajin cuci tangan."

"Pangapunten, Pak Bei," tampak karyawan yang biasa dipanggil Mbak Atun angkat bicara, "Pemerintah kan menghimbau supaya anak-anak sekolah belajar di rumah, alias libur sekolah. Rakyat juga disuruh kerja di rumah, Pak Bei. Lah kalau kami harus kerja di rumah, bagaimana caranya? Ini kan sama dengan kita libur gak kerja. Lalu kita mau makan apa, Pak Bei? Apa Pemerintah mau menanggung biaya hidup kami?"

"Iya betul. Iya betul. Iya betul itu," tampak beberapa karyawan lain menyetujui pertanyaan Mbak Atun.

"Begini, Anak-anakku. Memang betul Pemerintah menyampaikan himbauan itu. Kantor-kantor Pemerintah pun langsung mentaatinya. Semua pegawai bekerja dari rumah. Mungkin juga pabrik-pabrik besar dengan karyawan ribuan akan segera ikut meliburkan karyawan, tentu dengan konsekuensi karyawan tetap digaji, meski hanya gaji pokok saja. Itu wajar, karena pabrik-pabrik besar selama ini sudah mendapatkan fasilitas khusus dari Pemerintah, sejak membangun pabrik, perijinan, rekrutmen tenaga kerja, pajak, dan sebagainya."

"Kalau kita bagaimana, Pak Bei?," Mbak Atun bertanya lagi.

"Kita ini usaha kecil, modal kecil, usaha rumahan, UMKM, yang alhamdulillah tidak pernah ngrepoti Pemerintah, tapi justru membantu Pemerintah membuat lapangan kerja di desa. Karyawan kita juga cuma sedikit, tidak sebanyak di pabrik-pabrik yang ribuan karyawan berkumpul sehingga dikhawatirkan akan mudah menularkan virus. Jadi, Insya Allah kita tidak akan libur. Kita tetap bekerja seperti biasa."

"Maaf, Pak Bei," tampak Bu Bei menyela, "Tadi sudah saya sampaikan supaya untuk sementara ini semua karyawan menghindari salam-salaman apalagi cipika-cipiki. Hindari juga saling bersentuhan, apalagi duduk suk-sukan. Dan jangan lupa sering cuci tangan pakai cairan yang sudah kita siapkan."

"Baiklah, Anak-anakku. Demikian wejanganku pagi ini. Ingat, kita ikuti himbauan Pemerintah dan orang-orang pandai, berikhtiar maksimal demi menjaga kesehatan, dan selebihnya kita bertawakkal pada Allah SWT. Selamat bekerja, Anak-anakku."

Lingkaran beiefing pun bubar. Tak berapa lama kemudian suara dinamo mesin-mesin jahit mulai terdengar. Semua karyawan khusyuk bekerja, mengerjakan tugasnya masing-masing sesuai arahan tertulis yang dibuat Bu Bei sejak  tadi malam.

Senin, 16 Maret 2020

KDRT

KDRT

Pak Bei masih terbengong-bengong mendengar cerita dari salah satu karyawannya. Betul-betul tidak habis pikir bagaimana lelakon seperti itu bisa terjadi di jaman ini. Lidah Pak Bei seakan kaku, kelu, tak mampu berkata-kata untuk sekadar merespon. Kopi panas yang sudah dituangkannya di lepek dari tadi pun lupa tak kunjung diminumnya. Bu Bei yang duduk di dekat Sri Rejeki karyawannya itu pun tampak sembab matanya, berkaca-kaca. Bu Bei tampak sangat terharu. Sesekali disapunya air mata yang menetes di pipi dengan tisu di tangan kirinya.

Sri Rejeki termasuk karyawan senior pada konveksi Bu Bei. Tidak kurang dari 11 tahun dia bekerja sebagai operator mesin jahit, sejak kedua anaknya masih usia SD dan sekarang sudah besar-besar. Seperti karyawan senior lainnya, si Sri sudah sangat mbateh di nDalem Pak Bei, sudah seperti keluarga, sehingga tidak sungkan-sungkan minta curhat dan eguh-pertikel pada juragannya seusai jam kerja. Seperti sore itu, Sri Rejeki minta curhat tentang lakon adik perempuannya yang tinggal di Jakarta.

Diceritakannya, adiknya itu bernama Surani, biasa dipanggil Rani. Sejak lulus D3 keperawatan 10 tahun yang lalu, Rani diterima bekerja pada sebuah klinik kesehatan di Jakarta. Dua tahun bekerja, dia pun menikah dengan jejaka asal Lampung yang bekerja pada sebuah bank swasta di Jakarta. Saat ini, mereka telah dikarunia 3 anak yang lucu-lucu. Ekonomi rumah tangga adiknya juga tampak bagus, terbukti mereka sudah punya rumah sendiri dan sebuah mobil yang dipakai mudik lebaran tahun lalu.

Sungguh miris dan di luar dugaan. Tiga malam yang lalu, Rani kirim WA, curhat tentang peristiwa yang baru saja dialaminya pada mbakyunya. Dia kirim foto wajahnya yang berdarah-darah, bibirnya sobek, dan pelupuk matanya tampak biru.

"Ya Allah....kamu kenapa, Nduk?," tanya si Sri merespon foto adiknya.

"Memang sudah nasibku kok, Yu," jawab Rani disertai ikon menangis.

"Habis jatuh? Kecelakaan?"

"Enggak kok, Yu."

"Lha kenapa? Ya Allaah.....pasti sakit itu."

"Aku malu mau cerita, Yu."

"Nduk, aku ini mbakyumu, pengganti almarhumah Simbok. Kalau kamu sakit, aku juga merasa sakit. Kalau kamu sedih, aku juga jadi sedih. Ceritakan apa masalahmu, Nduk, mungkin aku bisa membantu," si Sri berusaha membujuk adiknya supaya mau cerita.

"Yu, aku mau cerita, tapi tolong disimpan rapat-rapat, jangan diceritakan pada siapapun, ya."

"Iya, Nduk. Percayalah pada mbakyumu ini."

"Yu, dulu aku tidak pernah mengira bahwa suamiku akan berubah seperti ini."

"Berubah piye, Nduk?"

"Sejak lima tahun yang lalu, dia sering menganiaya aku seperti ini, Yu," jawab Rani disertai 5 ikon menangis.

"Loh....jadi wajahmu jadi seperti itu karena dipukuli suamimu?"

"Iya, Yu. Selama ini aku tidak berani cerita pada siapapun."

"Masya Allah...kejam sekali. Kira-kira kenapa dia bisa berubah jadi kejam begitu, Nduk?"

"Dulu awalnya dia pulang kerja jam 1 malam, Yu. Dari sore HPnya gak bisa kuhubungi, padahal anakku yang kecil badannya lagi anget. Waktu kutanya dari mana saja kok baru pulang, dia langsung marah-marah sambil menampar wajahku beberapa kali, Yu."

"Terus, Nduk?"

"Dia tidak mau cerita kemana saja. Malah diulang lagi beberapa malam sesudahnya. Pulang malam, marah-marah, dan memukuli aku. Dan itu sering terjadi hingga saat ini."

"Owalah, Nduk, lelakon seperti itu selama ini cuma kamu simpan sendiri? Mertuamu tahu gak?"

"Ya gak tahu, Yu. Jangan sampai mereka tahu. Kasihan sudah sepuh. Dan lagi suamiku kan anak tunggal, menjadi kebanggaan bapak-ibunya. Kalau mereka tahu pasti kecewa."

"Tapi kelakuan suamimu harus dihentikan, Nduk. Pilihannya, kamu cerita ke mertuamu atau lapor ke polisi."

"Tidak mungkin itu, Yu."

"Kok tidak mungkin?"

"Kalau aku cerita ke bapak-ibu, jelas aku gak tega karena bisa merusak kebahagiaan mereka. Dan kalau suamiku tahu, pasti akan semakin marah padaku, bahkan bisa-bisa aku dicerai, Yu. Kalau aku lapor polisi, jelas kasihan suamiku karena dia bisa ditahan karena melanggar hukum. Mesakke anak-anakku, Yu."

"Lha terus piye, Nduk? Mau diam saja dengan keadaanmu ini?"

"Biarlah kujalani lelakonku ini, Yu. Sudah nasibku."

Pak Bei menghembuskan asap kreteknya kuat-kuat untuk melepaskan gejolak batin yang menggumpal di dadanya.

"Njur aku kudu piye, Sri? Adikmu yang jelas teraniaya lahir-batinnya saja tidak ingin berubah. Dia tampak sangat mencintai suaminya, sangat ngeman anak-anaknya."

"Lha injih, Pak Bei. Saya juga bingung harus bagaimana melihat penderitaan adik saya itu."

"Sabar ya, Mbak Sri. Doakan saja mudah-mudahan Gusti Allah melembutkan hati adik iparmu."

"Injih, Bu Bei. Aamiin..."

"Kalau adikmu disuruh ngamalkan wirid untuk melembutkan hati suaminya, kira-kira mau gak, Sri?"

"Saya yakin mau, Pak Bei. Mungkin hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukannya."

"Ya sudah pulanglah dulu. Sebentar lagi maghrib, anak-anakmu pasti sudah menunggu. Nanti malam kukirimi wirid via WA, teruskan ke adikmu supaya diamalkan."

"Njih, Pak Bei. Matur nuwun sanget. Saya nyuwun  pamit dulu."

Si Sri pun pulang. Pak Bei dan Bu Bei beranjak ke kamar mandi, bersiap-siap ke masjid untuk mengikuti sholat jamaah.

#serialpakbeibubei




Kamis, 12 Maret 2020

ANGSUL-ANGSUL

ANGSUL-ANGSUL

Menjelang jam 8 pagi. Pak Bei masih asyik menyapu halaman sambil sesekali badannya membungkuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di musim hujan. Beberapa ekor ayam milik tetangga tampak asyik notholi laron-laron yang sudah kehilangan sayap dan bertebaran di tanah. Burung puter dan perkutut kesayangan Pak Bei tak hentinya manggung di sangkarnya seakan sedang bersaing menunjukkan eksistensi di depan majikannya. Burung kenari, love bird, dan trotokan pun tak  mau ketinggalan saling memamerkan gaya ocehannya.

Satu dua karyawan Bundaco mulai berdatangan, memarkir sepeda motornya, menyalami Pak Bei dengan takzim, lalu duduk-duduk dan ngobrol sambil menunggu pintu workshop dibuka oleh teman yang sedang piket. Pak Bei sering memanfaatkan suasana pagi seperti ini untuk diam-diam nguping pembicaraan karyawan yang kadang terdengar seru diselingi tawa-ria . Mereka gupyuh saling menceritakan kejadian di rumah atau desanya, tentang anak-anaknya yang suka jajan bakso ojek, tentang tilikan tetangga yang sakit dan diopname di Rumah Sakit, tentang pengajian dan arisan ibu-ibu di desanya, atau tentang hajatan tetangga yang tak jarang menjadi kembang lambe alias rerasanan masyarakat desa hanya karena angsul-angsul yang kurang patut.

Pak Bei jadi penasaran dengan rasanan seputar angsul-angsul itu, satu bentuk budaya hajatan yang --tampaknya-- hanya ada di Jawa, khususnya di pedesaan. Orang punya hajat, entah itu syukuran kelahiran bayi seperti sepasaran dan selapanan,  selamatan kematian seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun atau medhak pisan, medhak pindho, dan nyewu alias seribu hari, apalagi hajatan yang lebih besar seperti sunatan atau pernikahan anak, pasti melibatkan kerabat dekat dan tetangga untuk rewangan beberapa hari menyiapkan tempat acara dan aneka makanan untuk suguhan tamu-tamu. Kerabat dan tetangga dekat bukan hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran atau eguh-pertikel, tetapi juga sumbangan dalam bentuk sembako dan uang alias amplopan untuk membantu kelancaran acara. Khusus acara mantu alias walimahan atau pesta pernikahan, shahibul-hajat pasti menyebarkan undangan untuk teman-teman, kerabat jauh, dan handai tolan untuk hadir. Penerima undangan pun hadir dan dengan senang hati sebagai tamu terhormat yang datang dengan pakaian dan dandanan istimewa. Biasanya mereka memberi amplop sumbangan atau kado berupa barang sebagai tanda turut berdoa dan bergembira. Di pedesaan Jawa, sebagai tanda terima kasihnya, biasanya shahibul-hajat menyiapkan angsul-angsul yang dibagikan kepada semua tamunya.

Dulu, angsul-angsul itu berupa satu paket makanan berisi nasi, sambe goreng, kering tempe atau mihun, sepotong ayam goreng dan sebutir telur godhok, kue-kue seperti wajik, jenang lot, carang gesing, dan sebagainya yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa alias kroso. Bagi para tamu, angsul-angsul itu sedemikian berartinya sebagai oleh-oleh untuk anak-anaknya di rumah. Isi angsul-angsul yang komplit dan enak seakan mampu menghapus segala kekurangan shahibul-hajat dalam menerima tamunya. Sebaliknya, bila angsul-angsul agak kurang bermutu, maka bisa dipastikan hajatan sebesar apapun hanya akan menjadi kembang lambe tamu-tamunya.

Tapi itu dulu. Budaya hajatan jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tamu yang mendapatkan angsul-angsul hanya yang datang menyumbang ke rumah di hari sebelumnya, bukan yang datang di acara resepsi. Itu pun hanya berupa sekotak roti bakery yang tidak istimewa kualitas dan rasanya. Tamu yang datang di acara resepsi paling banter hanya mendapatkan suvenir berupa gunting kuku, atau pisau kethul, sisir, kipas, dsb yang terukir nama sepasang mempelai.

"Wah jan ora memper tenan kok, Yu. Blas tidak bermutu. Berani mantu nyebar undangan 3.000 orang, lha kok gak kuat ngasih angsul-angsul yang agak patut untuk tamunya," kata Marmi.

"Ya mungkin dia gak mau rugi kok, Mi. Pedagang kan pasti punya perhitungan yang cermat untuk semua pengeluaran dan pemasukannya," Sanah mencoba memahamkan Marmi.

"Lha kalau niatnya cari untung mbok gak usah punya gawe. Mending duitnya dikasihkan anaknya biar dipakai untuk modal usaha," sanggah Marmi.

"Yah itu kan kalau orang bodoh seperti kita, Mi," Tutik yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut ngomong juga. "Kalau orang pinter, semuanya sudah dihitung dengan cermat. Jangan sampai rugi. Syukur kalau bisa untung sebanyak-banyaknya. Makanya nyebar undangan yang banyak sekalian, tidak tanggung-taggung," lanjutnya Tutik.

Pintu workshop sudah terbuka, bel tanda karyawan harus mulai kerja pun sudah dibunyikan.  Semua karyawan yang dari tadi duduk-duduk dan ngobrol pun langsung mak gruduk masuk menuju tempat kerjanya masing-masing. Pak Bei yang dari tadi nyabuti rumput sambil senyam-senyum menguping pembicaraan karyawan pun melangkahkan kakinya, ganti kesibukan ngurusi burung-burung peliharaannya.

#serialpakbeibubei

Minggu, 08 Maret 2020

KRISMON LAGI

KRISMON LAGI

Betapa enak hidup seperti Pak Bei. Tinggal di desa yang ayem-tentrem di kawasan lereng gunung Merapi, di sekitarnya sawah terbentang dengan aneka tanaman padi, sayur, palawija, dan jeruk. Selokan irigasi yang lewat pinggir pekarangan rumah itu tanpa henti mengalirkan air jernih menuju persawahan. Sebenarnya tidak terlalu jauh juga rumah Pak Bei dari keramaian jalan raya. Dari jalan provinsi yang menghubungkan kota Klaten menuju Boyolali-Semarang cukup masuk 200 meter. Cukup dekat, tetapi suasana desa ini benar-benar hening sepi tanpa hiruk-pikuk deru mesin kendaraan dan bau asap knalpot. Hanya di saat-saat masuk waktu sholat, terdengar lantunan azan dari corong-corong masjid sekitar,  atau suara pesawat terbang dari dan menuju bandara Adisucipto, Yogyakarta. Selebihnya, hanya suara hembusan angin dan nyanyian burung-burung di kurungan yang tergantung di serambi rumah Pak Bei. Bila malam hari tiba, terdengar suara belalang dan jangkrik di pepohonan sekitar rumah, atau suara kucing berteriak-teriak hendak kawin, tanda mereka sedang birahi.

Sebagai orang desa, kegiatan Pak Bei setiap pagi selepas shubuh diawali dengan nderes Al-Quran. Setengah jam kemudian, Pak Bei mulai buka-buka hp di meja makan, baca-baca FB, Twitter, dan pesan WA group yang biasa masuk tanpa permisi memberondong tausiyah, gugah-gugah tahajud, atau obrolan dan caci-maki politik serta berita-berita yang tidak jarang hanya Hoax. Kadang Pak Bei tampak senyum-senyum atau mengernyitkan wajah, kadang juga ikut nulis komentar, sekadar sebagai tanda menghargai pertemanan di medsos. Bu Bei yang usreg di dapur menyiapkan menu sarapan pun tak lupa  membuatkan segelas kopi kesukaan Pak Bei, kopi semendo dari Palembang Tak lama kemudian, asap putih tampak mulai mengepul di ruang makan, tanda Pak Bei sudah menyulut kretek kegemarannya.

Beberapa saat kemudian, Pak Bei mulai menggerak-gerakkan badannya di halaman, olah raga senam kecil-kecilan sekadar menghangatkan badan, dilanjut menyapu sampah dedaunan yang berserak sisa hujan angin tadi malam. Bila halaman sudah bersih, Pak Bei mulai ngopeni beberapa burung kesayangannya: membersihkan kurungan, mengisi makanan, dan mengganti air minum. Bila matahari sudah naik sepenggalah, burung-burung itu dijemur setelah dimandikan terlebih dulu. Kenari, Love Bird, dan Trotokan disemprot air hingga thili-thili basah kuyup, dan khusus perkutut bangkok dimandikannya dengan cara dipegang dan dielus-elus lembut dangan jari-jarinya yang basah.

Begitulah rutinitas Pak Bei di pagi hari sebelum karyawan usaha konveksinya berdatangan dan menyalaminya satu-persatu. Sebelum karyawan mulai kerja jam 08.00, biasanya ada seorang staf admin, Mbak Lia namanya, bengok-bengok membacakan arahan, tugas dan target pekerjaan hari ini yang sudah ditulis Bu Bei tadi malam. Khusus di Senin pagi sebelum mulai kerja, semua karyawan berkumpul melingkar mengikuti briefing dari Bu Bei. Seperti dosen sedang mangajar mahasiswanya, briefing Bu Bei bukan hanya soal pekerjaan, tapi meluas ke soal-soal hidup bermasyarakat, membina rumah tangga, mendidik anak, ngopeni orang tua atau mertua, diselingi guyonan-guyonan khas keputrian. Maklumlah, ke-30 karyawan Bu Bei semua perempuan. Beberapa masih gadis, tapi lebih banyak yang sudah berkeluarga dan sudah bekerja pada Bu Bei sejak 15an tahun lalu.

Di antara 30 karyawan itu, ada seorang karyawan yang bertugas sebagai kitchen staf alias juru masak yang menyiapkan makan siang karyawan. Muryani namanya, biasa dipanggil Mbak Mur. Di samping tugas utama sebagai juru masak, Mbak Mur merangkap sebagai asisten Bu Bei untuk tugas-tugas domestik seperti mencuci dan nyetrika pakaian, juga membersihkan rumah yang cukup luas itu. Etos kerja Mbak Mur sangat profesional. Tidak banyak cakap, tapi apapun menu masakannya dijamin lezat rasanya. Sesuai dengan tugasnya sebagai asisten urusan domestik, dia juga sangat menguasai seluk-beluk nDalem Pak Bei. Semua sudut rumah beserta isinya dikuasainya dengan baik. Tidak jarang Pak Bei dan Bu Bei harus tanya ke Mbak Mur bila mencari sesuatu.

Betapa heran Pak Bei pagi tadi tanpa sengaja mendengar obrolan Mbak Mur dengan Yu Marni penjual sayur keliling langganannya. Mereka seperti ngomel-ngomel, entah apa yang diomelkan. Rasa penasaran menggiring Pak Bei mendekatinya.

"Ada apa kok tampak serius obrolannya, Yu?" tanya Pak Bei.

"Ini lho, Pak, harga-harga sekarang naik semua. Cabe rawit satu ons saja kok 15 ribu. Brambang bawang naik semua. Sawi 10 unting 5 ribu. Tempe, tahu, dan ikan asin juga ikut naik," jawab Mbak Mur dengan nada kesal.

"Sekarang pasar Gabus juga sepi lho, Pak. Tidak seperti biasanya. Entah ini pertanda apa," kata Yu Marni yang setiap pagi kulakan di pasar Gabus.

"Ini kok seperti jaman mau krismon dulu ya, Pak?," Mbak Mur mencoba memancing jawaban Pak Bei yang cuma senyum-senyum dari tadi.

"Yang salah kita juga kok, Mur," kata Yu Marni.

"Salah piye, Yu?

"Salah milih presiden. Iya to, Pak Bei?"

Pak Bei agak kaget ditanya Yu Marni. "Lha kok tekan salah milih presiden to, Yu. Piye maksudmu?," Pak Bei minta penjelasan.

"Lha kalau situasai jadi seperti ini, Pak. Harga-harga semua naik, jadi larang sandhang-pangan, biaya sekolah mahal, orang sakit jadi semakin sulit urusan ke dokter, siapa lagi penyebabnya kalau bukan presiden yang tidak jegos bekerja. Iya to, Pak?," jawab Yu Marni.

"Iya ya, Yu. Salahe rakyat juga, waktu pemilu mau disogok duit nyeket ewu. Dho kapok saiki," tambah Mbak Mur.

Pak Bei cuma senyum-senyum mendengar jawaban Yu Marni dan Mbak Mur yang di luar dugaan. Rupanya sedang benar-benar terjadi situasi yang diomongkan pada pengamat ekonomi dan politik, situasi krusial yang konon bisa menyebabkan jatuhnya presiden dari singgasananya.

"Wallaahua'lambishawab....," gumam Pak Bei meninggalkan ibu-ibu yang masih bertransaksi di bawah pohon alpukat.

#serialpakbeibubei

Senin, 03 Februari 2020

VIRUS

VIRUS

"Orang sekarang kok gampang kagetan ya, Om," Sasa mengawali obrolan di tengah suasana gerimis sore. Dua gelas kopi telah kusajikan di meja. Aku pun sudah duduk manis siap nemani glenak-glenik sahabatku ini. Setelah nyeruput kopi satu dua teguk dan menyalakan rokok, Sasa meneruskan grenengannya, "Orang sekarang jadi gumunan, gampang kagum. Nerima kabar sedikit saja heboh berhari-hari. Semua orang ikut komentar, pinter-pinteran ngomong. Jadi njelehi ya, Om."

"Sebentar, Sa. Kamu ini mau ngomong soal apa, to? Ngalangnya kok jauh. Mbok to the point saja."

"Gumun tenan aku, Om."

"Loh, tadi katanya orang sekarang gumunan. Jebul kamu sendiri to yang gumunan?"

"Wah jindul ik. Maksudku, aku ini gak habis pikir dengan kecenderungan orang sekarang yang dikit-dikit heboh, Om. Bukan gumun karena kagum."

"Makanya kalau ngomong gak usah muter-muter, dadi mumet dhewe ndhasmu. Apa yang membuatmu heran, Sa?"

"Soal virus corona, Om. Beritanya kok nggegirisi, seolah-olah hal paling penting dan semua rakyat harus tahu."

"Ya memang itu virus berbahaya kok, Sa. Konon belum ada vaksin penangkalnya. Cepat sekali menular. Hingga saat ini sudah 300an orang meninggal dan puluhan ribu orang terinveksi."

"Tapi itu kan di China sana to, Om?"

"Iya memang asalnya dari Wuhan, China, tapi sudah menular ke kota-kota lain dan beberapa negara, Sa.  Kita pun pantas khawatir virus itu masuk ke Indonesia melalui para pelancong dari sana. Makanya Pemerintah kita memulangkan WNI yang selama ini tinggal di sana, juga menutup sementara semua penerbangan dari dan ke China."

"Ya ini lho maksudku, Om."

"Yang mana, Sa?"

"Aku setuju-setuju saja Pemerintah kita melakukan itu. Memang sudah menjadi kewajibannya melindungi semua warga negara dari mara bahaya."

"Iya, terus....?"

"Memangnya virus berbahaya dan mematikan hanya corona?"

"Maksudmu?"

"Menurutku ada virus lebih berbahaya dan menular yang bisa membunuh orang dan jelas akan meruntuhkan negara, Om."

"Apa itu?"

"Korupsi, Om. ."

Jindul tenan Sasa. Ternyata ngomong mutar dari tadi ujung-ujungnya ke sana. Cerdas tenan sahabatku ini.

"Virus ini jelas sangat berbahaya dan belum ada obatnya sampai sekarang."

"Benar itu, Sa. Sudah mewabah di mana-mana. Semua instansi dari tingkat Desa sampai tingkat Pusat rawan korupsi. Dari Menteri, wakil rakyat, Direktur BUMN, penegak hukum, tokoh agama, petugas pajak,  pemungut retribusi di pasar-pasar, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan Perangkatnya, sudah terpapar korupsi."

"Edyan tenan. Semua orang korupsi ya, Om."

"Ya tapi jangan gebyah-uyah, Sa. Masih banyak pejabat dan petugas yang lurus, lho."

"Aku jadi curiga jangan-jangan semua pejabat sudah korupsi, Om, cuma ndelalah masih tampak bersih dan belum ketangkap KPK saja."

"Wah ya jangan terus pesimis gitu to, Sa. Jangan negative thinking. Percayalah bahwa fitrah semua manusia cenderung baik dan lurus."

"Ya saya percaya itu, Om. Tapi masalahnya virus korupsi ini sudah terlanjur mewabah di seantero Nusantara. Penegak hukum saja sudah terpapar. KPK pun tampaknya sedang sakit keras dan nyaris mati suri."

"Kita doakan saja semoga wabah korupsi segera berlalu, Sa."

"Aku jadi khawatir juga, Om."

"Khawatir apa?"

"Jangan-jangan berlalunya wabah korupsi ini menunggu turunnya azab. Terjadi bencana alam yang luar biasa, misalnya."

"Wah ya jangan gitu, Sa. Tuhan kan sudah sering nurunkan bencana alam, tapi bangsa kita juga tak kunjung tobat. Iya, to?"

"Iya ya, Om. Pas ada bencana alam semua orang jadi baik budi. Begitu bencana berlalu, para pejabat kembali andrawina kembul bujana."

"Mudah-mudahan ancaman virus corona ini bisa menyadarkan bangsa kita ya, Sa."

"Iya, Om. Kayaknya perlu ada tobat nasional ini, Om. Biar selamat semua."

Sebentar lagi maghrib tiba. Tapi Sasa tidak pamitan karena bakda maghrib nanti mau langsung ke rumah pasien pijatnya. Maklumlah, di samping pagi hari dia kerja sebagai juru parkir Soto Kartongali Jolotundo, di sore dan malam hari dia biasa melayani pijat panggilan dari rumah- ke rumah. Pijat capek, bukan pijat pengobatan seperti tabib.

#serialsasa









Kamis, 23 Januari 2020

TA'AWUN

TA'AWUN

Sore itu, aku sedang ngobrol bersama istri dan sahabatku Sasa ketika tiba-tiba datang seorang pemuda menyampaikan uluk-salam seperti umumnya orang bertamu. Kami pun menjawab salamnya dan mempersilakan pemuda itu duduk. Menilik penampilannya, pemuda itu umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Wajahnya bersih tampak belum banyak dosa. Sorot matanya jernih tajam, bibirnya juga murah senyum. Dia kuliah semester 6 dan masih aktif sebagai anggota IMM di Klaten.

"Mohon maaf, Pak. Perkenalkan nama saya Sandi," pemuda itu memperkenalkan diri.

"Siapa, Mas? Sandi? Sandi Uno, ya?," tanya Sasa sok usil.

"Sandi saja, Pak, gak pakai Uno," jawabnya.

"Mungkin bapakmu dulu pengagum Sandi Uno ya, Mas? Atau jangan-jangan kemarin juga ikut relawan Prabowo-Sandi?" Sasa masih neruskan usilnya.

"Mas Sasa ini bagaimana, to?" istriku menyela, "Waktu Mas Sandi ini lahir, tentu Sandiaga Uno masih anak-anak dan  belum terkenal seperti sekarang," lanjutnya.

"Iya ya, Mbak. Lha kok ndelalah namanya sama-sama Sandi, ya?"

"Ada agenda apa ini, Mas Sandi?  Wonten dhawuh?" tanyaku ke Sandi.

"Begini, Pak. Saya marketing dari LDKWM Pimpinan  Daerah Muhammadiyah Klaten, sowan ke sini mau sosialisasi program. Mungkin nanti Bapak dan Ibu berkenan ikut program ini, syukur juga berkenan mengikutkan semua karyawan Bunda Collection," jawab Sandi.

"Program apa tadi, Mas?" tanya istriku.

"LDKWM, Bu, yaitu Lembaga Dana Kerukunan Warga Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten."

"Maksudnya bagaimana itu, Mas?," Sasa ganti bertanya.

Sandi pun berusaha menjelaskan tentang LDKWM. Berbeda dengan cara sales asuransi atau agen MLM dalam memprospek calon klien atau downline-nya, Sandi tampak santun memahamkan kami tentang pentingnya LDKWM. Dijelaskannya bahwa program ini dibuat sebagai upaya PDM Klaten membangun dan mengembangkan budaya ta'awun, budaya tolong-menolong antar warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya. Masyarakat perlu diajak untuk saling tolong-menolong terutama pada yang sedang teekena musibah atau kesusahan dengan menjadi anggota LDKWM. Caranya gampang sekali. Calon anggota cukup mendaftar dan membayar infaq atau iuran sebesar Rp 20.000 per tahun. Setelah itu, peserta akan mendapatkan Kartu Anggota yang akan berlaku satu tahun.

"Cuma Rp 20.000 per tahun, Mas? Kok murah banget ya, Om? Gak seperti iuran wajib BPJS yang semakin mahal, "  Sasa menyela.

"Iya, Pak. Memang murah. Bahkan untuk anak-anak pelajar TK, SD, SMP, SMA besarnya iuran cuma Rp 10.000 per tahun. Ini karena kita menyesuaikan dengan kekuatan warga yang ekonominya rendah," jawab Sandi.

"Terus peserta dapat manfaat apa, Mas Sandi?," tanya istriku.

"Ada beberapa manfaat yang akan didapatkan peserta, Bu. Pertama, bila peserta sakit lalu periksa dokter dan rawat jalan, dia bisa ngajukan klaim ke LDKWM untuk mendapatkan santunan sebesar Rp 30.000. Kedua, kalau peserta diopname, dia bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 350.000. Klaim santunan yang pertama dan kedua ini bisa dilakukan tiga kali dalam satu tahun."

"Lumayan juga ya, Mbak?" Sasa menyela.

"Masih ada manfaat ketiga dan keempat, Pak."

"Apa itu, Mas?"

"Yang ketiga, kalau peserta meninggal karena sakit, keluarganya bisa mendapatkan santunan, semacam bebungah, sebesar Rp 500.000. Dan yang keempat, bila peserta meninggal karena kecelakaan, keluarga bisa mendapatkan santunan sebesar Rp 1.250.000."

"Wah hebat itu. Dengan membayar iuran Rp 20.000 dan Rp 10.000 per tahun bisa dapat manfaat lumayan lho, Mas Sasa," kata istriku, "Terus cara ngajukan santunan bagaimana, Mas Sandi?"

"Cukup nunjukkan bukti periksa dokter, kuitansi opname, atau surat keterangan meninggal, Bu," jawab Sandi.

"Dengan iuran cuma segitu dan manfaatnya yang lumayan bagi peserta, apa pengelola gak rugi ya, Om?," Sasa komentar lagi.

"Insya Allah tidak, Pak. Pertama, karena biaya operasional kami sangat kecil. Kedua, dengan mengelola ini kami para relawan cuma mengharap barokahnya."

"Gak digaji ratusan juta seperti direksi BPJS?"

"Wah ya tidak, Pak. Ini cuma lembaga sosial kok, bukan lembaga bisnis. Makanya syarat jadi peserta dan cara klaim santunan juga sangat mudah."

"Bagus itu, Mas. Orang pintar bilang, untuk urusan tolong-menolong, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit?," sahut istriku.

"Wah tapi kalau BPJS memang sangat zulit kok, Mbak. Sudah iurannya mahal, penggunaannya pun rumit," kata Sasa.

"Rumit piye, Sa? Semua kan harus ada aturan dan prosedurnya?"

"Rumit tenan kok, Om. Kalau kita sakit, biar sudah thelo-thelo dan kejang-kejang, kita tidak bisa langsung ke rumah sakit yang kita inginkan, tapi harus ke dokter keluarga dulu minta rujukan. Iya to, Mbak?"

"Iya benar, Mas? Kalau pun kita dapat rujukan hanya untuk periksa di rumah sakit type-D, tidak bisa langsung ke type-C atau B apalagi A."

"Repot lagi kalau pasien sehabis opname mau kontrol, Om. Harus nyiapkan waktu sehari penuh, sejak antri pendaftaran di loket BPJS, antari pendaftaran periksa, antri cek tensi, antri periksa dokter, hingga antri apotek. Butuh waktu berjam-jam, Om. Sungguh tidak enak jadi orang sakit jaman sekarang."

"Dari dulu juga tidak enak, Sa."

"Dulu lebih mudah urusannya, Om. Kita tinggal milih dokter atau rumah sakit dan membayar biaya periksa dan obatnya. Sekarang bertele-tele, Om."

Waktu maghrib tiba. Terdengar azan bersahut-sahutan dari masjid-masjid di seantero kampungku. Obrolan kami pun berakhir.

#serialsasa

Minggu, 05 Januari 2020

LENDHUT

LENDHUT

Sasa masih tampak sangat prihatin dengan kondisi Jakarta usai diterjang banjir bandang beberapa hari lalu. Dengan intonasi datar dan wajah sedih, dia ceritakan kembali kabar dari Marno, adiknya yang tinggal di kawasan Bekasi.

Diceritakannya, Marno telah merantau ke Jakarta sejak lulus SMK dan bekerja pada sebuah pabrik di kawasan Cakung. Marno juga sudah menikah dengan gadis Jawa yang juga teman kerjanya, dan saat ini telah dikarunia dua anak. Meski gajinya tergolong pas-pasan, tapi dengan tekad dan keyakinan yang kuat soal rejeki dari Tuhan, dia juga telah memiliki rumah sangat sederhana yang dibayarnya dengan cicilan tiap bulan selama sepuluh tahun. Di rumah itulah dia membina rumah tangga bersama istrinya dengan bahagia, merawat serta mendidik anak-anaknya yang masih balita dan lucu-lucu. Di waktu-waktu senggang, Marno juga menyempatkan srawung ajur-ajer dengan tetangga kiri-kanannya.

Namun, kebahagian itu seakan lenyap tiba-tiba, ketika di shubuh dini hari itu kompleks perumahan tempat tinggalnya diterjang banjir bandang menyusul hujan deras yang turun sejak tadi malam, satu kejadian yang konon di luar perkiraan para ahli di BMKG sekalipun. Suasana pagi pun gempar. Semua orang berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya. Dalam keadaan panik, Marno pun hanya sempat  menyelamatkan istri dan kedua anaknya, ikut mengungsi ke masjid berlantai dua di kampung sebelah hingga banjir surut. Hanya beberapa lembar pakaian anak-anak yang sempat dibawanya. Harta benda lainnya ditinggalkan begitu saja demi menghindari air bah yang tampak semakin meninggi. Beruntung selama dua hari satu malam tinggal di masjid, banyak dermawan dan relawan yang datang membawa makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan.

Singkat cerita, setelah banjir surut, semua pengungsi terutama yang laki-laki pun pulang duluan ke rumahnya untuk melihat keadaan. Betapa pilu hari Marno melihat seisi rumah berbalut lendhut alias lumpur endapan banjir. Dilihatnya ruang tamu dan perabotnya berwarna coklat. Sepeda roda tiga, apolo yang biasa untuk si kecil belajar jalan, dan satu sepeda motor alat transportasi kerjanya juga berbalut lendhut. Dilihatnya juga dua kamar tidur yang tak mungkin lagi bisa digunakan karena kasurnya berselimut lendhut cukup tebal. Lemari pakaian beserta isinya juga berbalut lendhut. Ditengok juga ruang dapurnya yang sempit, dilihatnya seluruh peralatan masak dan makan-minum terbungkus lendhut.

"Kasihan sekali, Om. Ingin sekali aku ke sana membantu adikku bersih-bersih rumah, tapi keadaanku saat ini lagi tidak memungkinkan," Sasa mengakhiri ceritanya dengan tatapan mata yang tampak kosong, sedih karena tidak bisa membantu adiknya.

"Dibantu doa saja, Sa, semoga adikmu sekeluarga tetap sehat dan segera bisa bangkit kembali."

"Iya, Om. Terima kasih," jawab Sasa sambil bersiap menyulut rokoknya. "Untung yang kebuntel lendhut hanya rumah dan perabotnya ya, Om," lanjutnya.

"Lha kok untung?"

"Ya masih untung, Om. Coba kalau yang kebuntel lendhut itu orangnya atau hatinya atau pikirannya."

"Hati dan pikiran kok kebuntel lendhut? Terus apa jadinya, Sa?"

"Ya jadinya gak punya otak, pikirannya kotor, dan hatinya penuh kedengkian, Om."

"Apa iya to, Sa?"

"Wah Sampeyan ini bagaimana. Coba perhatikan berita-berita dan dialog di tivi,  banyak orang berlagak pinter, tapi otaknya kebuntel lendhut."

"Yang mana?"

"Orang -orang yang sesungguhnya tidak peduli pada nasib orang lain, tidak mau membantu kesulitan orang lain, tapi kerjanya mencari-cari kesalahan lalu menimpakan semua kesalahan itu pada Gubernur DKI. Itu kan wong pekok namanya."

"Pekok piye to, Sa? Mereka kan berupaya kritis pada pemerintah yang dianggap melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan?"

"Sok kritis tapi tidak cerdas."

"Maksudmu?"

"Apa mereka gak tahu bahwa Bogor dan Bekasi itu wilayah Jawa Barat, bahwa Tangerang itu wilayah Banten? Apa mereka juga gak tahu bahwa Semarang itu ibukota Jawa Tengah, dan Surbaya itu ibukota Jawa Timur? Atau jangan-jangan mereka memang tidak paham Ilmu Bumi ya, Om?"

"Mereka orang pinter-pinter dan pengalaman kok, Sa. Ya pasti tahulah."

"Tahu tapi pekok."

Hujan sudah reda. Candhik ayu membuat cuaca sore jadi tampak jingga. Tidak lama lagi waktu maghrib akan tiba. Sasa pun pamit pulang setelah menghabiskan kopinya.