Minggu, 30 Desember 2018

BELAJAR NGAJI

BELAJAR NGAJI

Langit masih gelap. Hujan rintik-rintik menyertai angin kencang yang datang - pergi sejak kemarin sore.  Biasanya sore-sore begini bisa kunikmati 'candhik ayu' bersama segelas kopi di taman sambil menunggu waktu maghrib. Tapi sore ini tidak. Kuisi waktu sambil iseng main game di laptop.

"Assalaamu'alaikum...."

Terdengar ada tamu mengucap salam di pintu depan. Kujawab salamnya sambil beranjak membuka pintu. Ya Allah....ternyata Sasa. Ada apa surup-surup dan hujan angin begini dia datang?

"Pangapunten, Om. Saya mau minta kopi...hehehe," kata Sasa sambil meringis dan menaruh jas hujan di ayunan.

Aku langsung ke dapur membuatkan kopi kental untuk sahabat yang satu ini. Mungkin dia mampir pulang dari mijat pelanggannya. Atau bisa juga undangan pijatnya baru nanti bakda maghrib, tapi Sasa sengaja berangkat sore karena pengin mampir ngopi dulu di rumahku. Apapun alasannya, kedatangan sahabatku ini selalu kusambut dengan  hati dan tangan terbuka.

Karena udara memang dingin, kopi yang baru kusuguhkan pun langsung diseruputnya. Rokok yang kusodorkan juga langsung diterimanya tanpa basa-basi, diambilnya sebatang, disulut dihisapnya dengan mantap.

"Ada janjian mijat bakda maghrib ya, Sa?"

"Tidak, Om. Aku memang sengaja ke sini mau minta tolong."

"Ada apa?"

"Tolong ajari aku baca Al-Quran, Om."

"Loh kan sudah bisa?"

"Tahu sendirilah, Om. Bacaanku jelek, tidak fasih. Kata istriku, laguku juga jelek banget seperti orang uro-uro...."

"Sa, kalau soal lagu dan soal cengkok, itu sudah gawan bayi. Lahir dan hidup kita kan  memang di pedesaan Jawa. Tentu saja sulit di usia yang sudah tidak muda ini kalau harus belajar ngaji dengan cengkok Arab."

"Bukan soal lagu itu yang penting, Om. Intinya, aku ingin bisa ngaji yang fasih seperti Sampeyan. Tolong aku diajari."

"Mimpi apa kamu tadi malam kok tiba-tiba ingin belajar ngaji fasih? Mau ikut lomba murotal manula?"

"Mbok jangan ngece to, Om. Aku ini serius. Aku perlu berjaga-jaga kalau nanti nemui 'rejaning jaman' dan bisa ikut bursa sebagai Calon Bupati."

"Halah Sa....apa hubungannya ikut bursa Calon Bupati dengan ngaji fasih?"

"Om Om...Sampeyan ini ketinggalan berita. Akhir-akhir ini kan para politisi sedang ribut soal perlunya tes baca Al-Quran bagi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Lha kalau tes itu nanti betul-betul diadakan, syarat Calon Presiden dan Wakilnya harus bisa ngaji fasih, tentunya syarat itu nanti juga akan berlaku bagi Calon Gubernur, Calon Bupati, Calon Ketua RW/RT? Makanya aku perlu siap-siap dari sekarang biar nantinya tidak dipermalukan oleh lawan politik."

"Itu kan cuma trik kampanye  Timses Capres-Cawapres to, Sa? Jangan dianggap seriuslah."

"Weeh...mereka itu para politisi ulung lho, Om. Mereka pasti serius mempersiapkan calon pemimpin bangsa yang besar ini. Tentu tidak asal 'njeplak', Om."

"Benar, Sa, kita memang mau memilih calon pemimpin negara, negara yang besar dengan penduduk multi-etnis, multi-budaya, multi-agama. Kita bukan mau memilih calon yuri MTQ, calon Menteri Agama atau calon Kepala Sekolah dan Rektor Universitas Muhammadiyah, misalnya. Bukan, Sa. Jadi, menurutku omongan para politisi itu hanya 'guyon', sekedar untuk menteror mental lawan politik. Membaca politik mbok jangan terlalu serius, Sa."

"Lha iya ya, Om. Benar kata Sampeyan. Mosok calon Presiden harus dites ngaji? Kan yang penting dites kemampuan dan tanggungjawabnya memimpin negara, kecerdasannya mengatasi masalah bangsa-negara, keberaniannya menghalau setiap gangguan keamanan dan kemerdekaan bangsa. Jindul tenan, kok. Tiwas aku serius mau belajar ngaji fasih."

"Loh kalau soal Sasa ingin bisa ngaji fasih, aku siap membantu kapan saja. Ayo kapan mau kita mulai? Kita buat jadwal dulu, Sa."

Azan maghrib mulai terdengar dari masjid tetangga desa. Dengan gaya 'klecam-klecem', Sasa bilang mau mikir-mikir dulu dan belum bisa membuat jadwal sekarang. Katanya, kalau jadi belajar ngaji fasih bukan lagi untuk politik-politikan, tapi untuk jaga-jaga biar tidak grogi bila sewaktu-waktu diminta jadi imam sholat maghrib,  isya' dan shubuh.

Ah Sasa ini benar-benar tukang parkir gemblung.....









Jumat, 28 Desember 2018

JUMAT PAHING

JUMAT PAHING

Ini hari Jumat Pahing. Sudah lama aku ingin sesekali mendengarkan khotbah Sasa, tapi belum pernah ada kesempatan. Mumpung hari ini pas jadwal Sasa dan kebetulan waktuku agak longgar, maka sejak pagi kuniatkan jumatan di mesjid kampung Sasa.

Azan sudah berkumandang ketika aku datang. Jamaah pun sudah penuh hingga meluber ke teras depan dan samping kiri-kanan. Sayang sekali, aku cuma dapat tempat di pojok teras depan dan tidak memungkinkan menyaksikan gaya khotbah sahabatku Sasa. Tapi malah kebetulan, pikirku, kalau Sasa melihatku bisa-bisa jadi grogi dia.

Kusimak khotbah Sasa dari awal hingga akhir. Lumayan. Semua rukun khotbah terpenuhi, tak ada yang ketinggalan. Meski tidak seberapa fasih ketika mengutip dan membacakan ayat Al-Quran, tapi aku salut dengan pilihan temanya. Dia mengangkat tema kontekstual yang jarang disampaikan khotib-khotib kampung, tema yang agak nyrempet-nyrempet politik terkini, tentang menghadapi Pemilu, tentang memilih pemimpin negara dan wakil rakyat. "Hebat Sasa. Aku saja gak berani nyampaikan tema ini," kataku dalam hati.

Kulihat jamaah cukup antausias mendengarkan khotbah. Tidak ada yang ngantuk, bahkan beberapa tampak mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan khotib.

"Jamaah yang dirahmati Allah, saya tidak ada tendensi mengajak jamaah memilih siapa pada Pemilu nanti," kata Sasa pada khotbah kedua, "Sebagai khotib, saya hanya mengingatkan terutama pada diri saya sendiri, bahwa mengikuti Pemilu adalah sebagian dari ibadah," lanjutnya. "Oleh karena itu, mari kita ikuti Pemilu dengan niat dan cara-cara yang diridhoi Allah SWT. Kita memilih pemimpin sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW, bukan berdasarkan 'nyang-nyangan', bukan berdasarkan 'sogokan' amplop seratus-dua ratus ribu, dan sebagainya. Semoga Allah SWT meridhoi segenap bangsa Indonesia. Aamiin," Sasa mengakhiri khotbahnya.

Usai khotbah, Sasa menjadi imam sholat. Meski yang dibaca  hanya surat-surat pendek dari juzz 'Amma, tapi itu tidak mengurangi syarat-rukun sholat Jumat. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hanya aku sendiri yang memang tidak khusyuk karena pikiranku justru melayang-layang seputar Sasa, masa lalu dan perubahan hidupnya.

Ah Sasa...bener-bener gile lu....

Jumat, 21 Desember 2018

UMUK

UMUK

Siang yang terik. Azan dhuhur terdengar bersahutan dari speaker masjid di seantero kampung. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, berganti baju, memakai sarung dan kopiah, bersiap ke masjid untuk shalat berjamaah. Ketika kulangkahkan kaki keluar pintu, tiba-tiba terdengar salam dari suara yang sudah akrab di telingaku. Suara Sasa. Dia sudah duduk di kursi ruang tamu di teras rumahku.

"Lho Sa, sudah lama di sini?,"

"Baru saja kok, Om. Lima menit," jawab Sasa. Rupanya dia datang ketika aku sedang di belakang.

"Ayo ke mesjid dulu. Ngobrolnya nanti saja."

"Siap, Om," Sasa pun langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu.

"Bawa hp gak, Om?" tanya Sasa sambil mengusap wajahnya yang basah.

"Ya enggaklah, Sa. Buat apa bawa hp ke mesjid?"

"Buat moto aku, Om...hehehe."

"Kita mau shalat, bukan mau foto-foto, Sa."

"Aku pengin punya foto pas lagi shalat bareng Njenengan, Om."

"Halah...buat apa? Mau buat nakut-nakuti malaikat Rakib-'Atid, po?"

"Bukan, Om. Sekedar untuk jaga-jaga."

"Jaga-jaga apa?" tanyaku.

Sasa pun bercerita masih banyak temannya belum percaya bahwa Sasa sekarang sudah beda dengan Sasa yang dulu. Dikiranya Sasa masih bisa diajak mendem dan ugal-ugalan bersama genk rewo-rewonya. Dikiranya Sasa masih cuek gak peduli pada tetangga dan kerabat. Dikiranya Sasa masih sering ndablek tidak peduli pada anak-istrinya. Dan sebagainya.

"Pengin kutunjukkan bukti bahwa Sasa yang sekarang sudah rajin sholat di.mesjid dan berteman dengan orang-orang shalih, Om."

Aku jadi teringat satu istilah dalam marketing: re-branding. Rupanya Sasa ingin mengubah citra dan imej yang sudah lama melekat pada dirinya sebagai 'wong ora enak dipangan". Dia ingin mengganti imej sebagai Sasa si juru parkir dan juru pijat yang shalih dan budiman.'

"Tapi shalat itu urusannya dengan Gusti Allah, Sa. Gak perlu dipamer-pamerkan, lho."

"Iya tahu. Tapi di jaman sekarang, kadang-kadang shalat juga perlu dipamerkan, Om."

"Apa perlunya?"

"Buat tauladan, Om. Inspirasi bagi teman-teman yang belum mau sholat. Dan yang lebih penting lagi,  biar orang tidak terus-teeusan salah paham dan shu'udhon pada kita."

Meski sebenarnya aku kurang sreg dengan jawaban itu, tapi permintaan Sasa kali ini sulit kutolak. Kalau itu bisa membahagiakannya, biarlah kuturuti saja.

"Om, kalau Njenengan setuju, saya nanti yang jadi imam dan Njenengan jadi makmum, ya."

"Beres, Sa. Ini kan sholat dhuhur, gak perlu bacaan keras."

"Ya itu juga maksudku, Om. Kalau imam sholat maghrib-isya' jelas aku gak berani....kkkkk."

Sebelum muazin mengumandangkan iqamah, aku minta tolong istriku untuk pegang hpku dan nanti memfoto kami dulu dari berbagai sisi. Istriku pun setuju.

Iqamah pun berkumandang. Kami bergegas berjajar rapi membentuk saff. Sebagai tamu, Sasa kuberi kehormatan menjadi imam. Terdengar mantap Sasa mengimami sekitar 15 orang bapak-bapak dan ibu-ibu. Aku pun mencoba khusyuk, tapi benar-benar sulit karena terganggu suara jeprat-jepret kamera dan pikiran bahwa foto ini nanti mau dipakai Sasa untuk umuk. 

Astaghfirullahal'dziim....
Sasa Sasa. Kali ini kamu benar-benar bikin aku amat sangat pekewuh sama Gusti Allah.





Sabtu, 15 Desember 2018

KARDUS

KARDUS

"Kalau mau lebih murah, mbokya pakai 'kroso' atau 'besek' saja ya, Om? Kenapa harus pakai kardus?"

Itu pertanyaan Sasa tadi malam usai kami menyimak obrolan di TV tentang pilihan KPU menggunakan kotak suara berbahan kardus.

"Maksudmu, Sa?"

"Katanya Pemilu dan Pilpres ini pesta demokrasi. Negara punya hajat, mengajak  rakyat bergembira-ria memilih wakil rakyat dan presiden yang akan memimpin negara, yang akan mengurusi semua kepentingan rakyat."

"Terus...."

"Mestinya Pemerintah ngajak rakyat gugur-gunung rewangan, gotong royong, kerja bakti  melaksanakan Pemilu dan Pilpres agar murah biayanya."

"Caranya, Sa'

"Sampeyan tentu masih ingat, Om. Dulu hingga tahun 1970an, kita biasa ikut orang tua dan rewang di rumah tetangga atau kerabat yang punya hajat. Ibu-ibu dan para pemudi memasak aneka masakan di dapur. Kaum laki-laki menata meja-kursi tamu, tarub atau menghias ruangan dan dekorasi panggung, membuat kembar-mayang jari janur, membangun kerun atau gapura dari bambu dihiasi dedaunan dan tandan pisang raja. Sebagian bapak-bapak ada yang sibuk menganyam daun kelapa menjadi 'kroso' yang akan dipakai sebagai wadah aneka makanan 'angsul-angsul' bagi para tamu. Ingat, kan?"

"Iya ingatlah, Sa. Itu kan masa kecil kita."

"Tahun 1980an hingga 1990an, bungkus angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'kroso', tetapi diganti dengan 'besek', kotak terbuat dari anyaman bambu buatan para perajin bambu dan bisa dibeli di pasar-pasar."

"Iya bener. Isinya macam-macam. Ada nasi, sayuran, lauk-pauk, dan panganan."

"Nah, sejak awal tahun 2000an, budaya hajatan berbeda jauh. Angsul-angsul tidak lagi menggunakan 'besek' , tetapi diganti dengan kardus dan isinya hanya satu macam kue. Kardus buatan pabrik lebih murah dan tampilannya keren."

"Iya bener, Sa. Malah oang-orang kaya jaman sekarang tidak lagi melibatkan banyak orang untuk rewangan. Cukup panggil wadding-organizer yang  profesional, beres semua."

"Lha iya, Om. Mbok sudah, kalau memang mau irit, Pemilu nanti kembali ke jaman dulu saja, pakai "kroso" atau "besek" untuk bungkus kertas suara....kkkkk."

"Iyaak...mbok jangan ngoyo-woro to, Sa. Kertas suara kok dibungkus 'kroso'. Apa kata dunia?"

"Pengiritan, Om. Pengiritan...."

"Ya gak bisa begitu, Sa. KPU kan harus bisa menjamin penyelenggaraan Pemilu nanti berlangsung aman, jujur, dan adil bagi semua pihak. Jangan disamakan dengan urusan orang punya hajatan."

"Podho waelah, Om. Sama saja."

"Lha kok sama?"

"Walaah Sampeyan ini, lho. Ini kan sama-sama urusan perut. Urusan makan."

"Urusan negara kok urusan makan. Jangan sinislah, Sa...."

"Bukan sinis, Om. Ini kasunyatan."

"Kasunyatan piye?"

"Om, namanya juga pesta. Pestanya orang-orang yang berebut kekuasaan, yang ingin menguasai negara dengan segala kekayaannya. Ujung-ujungnya ya hanya nafsu memenuhi isi perut dan naluri syahwatnya sendiri."

Waktu menunjukkan tepat pukul 23.00 WIB, saatnya kami kembali nyetel TV nonton duel seru Liga Inggris. Ngobrol politik dengan Sasa cuma bikin kepala ngelu, pusing. Mending nonton bola....

Senin, 10 Desember 2018

NONTON FESYEN SHOW

NONTON FESYEN SHOW

Sasa belum pernah membayangkan bahwa suatu saat bisa menyaksikan pementasan gadis-gadis cantik berjalan lenggak-lenggok di atas panggung mengenakan baju bagus-bagus diiringi dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu. Puluhan juru potret dan tepuk tangan ratusan penonton serta penyerahan  untaian kembang (buket) kepada para desainer semakin mambuat Sasa berdecak kagum. Sepanjang acara cuma senyam-senyum, mungkin gumun melihat gadis-gadis cantik berpostur semampai itu. Maklum saja, selama ini dunia Sasa hanya sekitar area parkir warung soto Kartongali dan sore-malam harinya melayani panggilan pijat di desa-desa sekitar. Tadi ketika kujemput di rumahnya pun tidak kukasih tahu mau kemana, tahunya cuma kuajak jalan-jalan ke kota Klaten.

"Matur nuwun banget ya, Om," kata Sasa sambil mengikutiku berjalan keluar dari Joglo Monumen Juang 45 Klaten. Di tempat inilah IWAPI KLATEN menggelar rangkaian acara sehari IWAPI SHOW yang dipuncaki dengan Gelar Karya 15 Desainer Klaten 2018.

"Seneng to melu aku? Bisa lihat peragawati cantik-cantik....hehehe"

"Wah luar biasa, Om. Gak nyangka di Klaten ada acara sebagus ini. Seumur-umur belum pernah kulihat."

Aku paham maksud Sasa. Hidup di desa memang jarang ada tontonan. Paling nonton pergelaran wayang kulit di Umbul Gedaren tiap bulan Suro,  atau nonton tong setan di pasar malam Yaqawiyyu di Jatinom tiap bulan Sapar. Sesekali ada juga orang kaya punya hajatan dan nanggap Campursari dengan penyanyi-penyanyi yang kemayu dan --istilah Sasa-- 'cemiwel'. Tapi itu jarang banget.

"Kita duduk-duduk dulu di sini ya, Sa," kataku setelah melihat pintu keluar monumen masih penuh sesak orang mau pulang. Sasa mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari sakunya. Kami pun 'udut-udut' dulu sambil memperhatikan wajah orang-orang yang tampak puas usai nonton Fesyen Show yang belum pernah terjadi di kota Klaten.

"Klaten ternyata punya banyak desainer busana bagus-bagus ya, Om."

"Iya ya, Sa. Aku juga baru tahu malam ini. Koleksi karyanya juga variatif tentunya," kataku sambil menjelaskan ke Sasa sebagian desainer yang sudah kukenal. Mereka punya ciri khas masing-masing. Ada yang spesialis bahan tenun lurik, spesialis batik, spesialis baju pengantin, hingga spesialis busana muslim dan mukena travelling.

"Tapi kenapa ya, Om, sentra-sentra konveksi kita yang dulu merajai Pasar Klewer Solo bisa bubar? Padahal ada banyak desainer bagus, lho."

"Ya karena jamannya berkembang terus, Sa. Kalau pelaku usaha tidak mau mengikuti perkembangan, masih asyik dengan dirinya sendiri, bahkan tidak mau rukun dan justru bersaing secara tidak sehat dengan teman-temannya, tentu akan habis tergilas jaman."

"Nuwun sewu, Pak. Ini benar Pak Sasa dari Jolotundo?," tiba-tiba ada laki-laki seumuran kami minta ijin duduk di sebelah Sasa dan memperkenalkan diri namanya Pak Sarno.

"Iya benar. Monggo, Monggo...," jawab Sasa sambil bergesar duduknya.

"Mohon maaf, Pak Sasa, mumpung ketemu di sini, njih. Begini, dua minggu lagi saya mau mantu, menikahkan putri sulung kami. Semua persiapan sudah kami lakukan," lanjutnya.

"Ooh....Pak Sarno mau mantu,  to?" tanya Sasa.

"Iya, Pak Sasa. Benar. Urusan undangan sudah beres semua. Sewa gedung, rias manten, katering, dan hiburan campursari juga sudah kami booking. Tinggal satu lagi masalah yang belum  teratasi."

"Apa itu?"

"Ini kan sudah mulai musim penghujan. Kami jadi khawatir pas acara nanti sepi tidak ada tamu karena hujan turun seharian."

"Terus kersane Pak Sarno?" tanya Sasa.

"Saya minta tolong  Pak Sasa supaya pas hari acara kami nanti tidak turun hujan.'

Mendengar permintaan Pak Sarno itu, Sasa tampak mesam-mesem sambil senyum-senyum melirikku. Aku pun ngampet tertawa. "Modyar kowe, Sa. Dikira pawang hujan.....," batinku.

Tapi aku heran, ternyata Sasa tenang-tenang saja dan tetap cool menghadapi permintaan  yang menurutku lucu itu. Di jaman sekarang kok masih ada orang berpikir menolak hujan demi kelancaran acara hajatan. Padahal pas belum ada hujan kemarin, banyak ormas yang bikin program aksi sosial 'dropping air', mengirim air bersih ke desa-desa di lereng gunung Merapi yang kering dan tandus. Lha kok ini ada orang malah pengin nolak hujan, menolak rejeki yang ditunggu-tunggu banyak orang di daerah atas.

"Pak Sarno percaya sama saya?" tanya Sasa.

"Percaya, Pak Sasa."

"Mau ngikuti syaratnya?"

"Siap, Pak Sasa. Apa syaratnya?"

"Begini, mulai besok pagi sampai hari H nanti, sekitar jam 8, Pak Sarno sholat dhuha 4 rakaat. Sanggup apa tidak?"

"Njih, Pak Sasa. Siap...."

"Setelah itu berdoalah kepada Gusti Allah, mohon agar acara nanti dilancarkan."

"Terus, ada syarat yang lebih khusus gak, Pak Sasa?"

"Maksud Pan Sarno?"

"Misalnya harus nyembelih ayam jago hitam mulus, atau 'poso ngebleng' lima hari lalu mandi air kembang kamboja, kanthil, dan sebagainya?"

"Tidak usah, Pak Sarno. Tidak perlu pakai 'poso ngebleng'. Tidak perlu mandi air kembang  Tapi kalau nyembelih ayam jago, itu wajib sehari sebelumnya. Tidak harus yang hitam mulus lho, ya. Yang blorok atau putih pun boleh. Jangan lupa, ayam jago itu harus dimasak opor yang enak."

"Njih, Pak Sasa. Siap."

"Nah, besok pas hari H pagi sekitar jam 8, saya akan datang menemani Pak Sarno berdoa sambil sarapan opor ayam jago itu."

"Wah, injih, Pak Sasa. Siap. Matur nuwun sanget. Akan saya laksanakan semuanya," kata Pak Sarno sambil menjabat tangan Sasa erat-erat pamitan dan menyelipkan sebungkus rokok di saku Sasa.

"Edan Sasa ini. Pinter melihat peluang ekonomi," kataku dalam hati.

Area monumen sudah sepi, dan kami pun pulang. Sepanjang jalan kami hanya diam. Aku sendiri jadi bertanya-tanya, jangan-jangan Sasa juga dikenal sebagai 'wong tua', semacam dukun, paranormal, dan pawang hujan. Ah Sasa ini cen jinguk tenan kok.....

Jumat, 07 Desember 2018

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

HIZBULLAH VS HIZBUSYSYAITHAN

"Om, kenapa orang sekarang mudah tersinggung?" tanya Sasa sambil bergaya membantuku nyebrang jalan yang padat di depan warung soto Kartongali tadi pagi.

"Siapa, Sa? Mudah tersinggung bagaimana?," tanyaku sambil berjalan menuju amben depan warung. Tumben kali ini Sasa pun ikut duduk, bukan langsung kembali bekerja.

"Orang mendengar istilah Hizbullah dan Hizbusysyaithan saja kok jadi gempar, tersinggung, mau lapor ke polisi. Apa gak pernah baca buku sejarah ya, Om?"

Aku paham ke mana arah bicara Sasa. Ini agak sensiti, tapi sengaja kubiarkan dia menumpahkan kegelisahannya. Sasa butuh ember penampung limbah, pikirku.

"Sa, orang politik kan memang suka bikin sensasi, bila perlu bikin ontran-ontran biar terkenal sehingga meningkat elektabilitasnya. Rasah gumun, Sa. Rasah digagas."

"Jasmerah, Om. Jasmerah. Jangan melupakan sejarah..."

"Gayamu, Sa. Sejarah yang mana?" Kupancing Sasa supaya 'ndleming'.  Seorang pelayan  menyajikan semangkok soto dan segelas teh nasgithel, langsung kusantap.

"Lah...mosok lupa, Om? Sejak masa revolusi dan perang kemerdekaan dulu, ketika TNI masih ringkih dan belum kuat menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah kita, umat Islam membentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah. Ingat, kan?"

"Iya. Terus..."

"Dengan senjata seadanya, dengan wirid dan asma' dari para Kyai, dengan bekal logistik yang digalang oleh ibu-ibu desa, pasukan Hizbullah-Sabilillah dengan gagah berani terjun berperang membantu TNI mengusir penjajah yang hendak kembali mencengkeram negeri kita."

"Terus apa hubungannya dengan orang sekarang yang gampang tersinggung?"

"Lha iya. Istilah hizbullah itu kan sudah ada sejak dulu, diambil dari Al-Quran. Lawannya hizbusysyaithan, pasukan setan,  rombongan penjajah. Lha kok baru sekarang pada tersinggung, Om?"

"Jamannya kan sudah beda, Sa."

"Beda apanya?"

"Loh, dulu kan jelas yang kita lawan Londo dan sekutunya. Kita usir mereka karena kita ingin merdeka sebagai bangsa dan negara. Sekarang kita sudah 73 tahun merdeka. Tidak ada lagi penjajah, tidak ada lagi pasukan setan."

"Podho wae, Om. Sama saja."

"Kok podho?"

"Om, sejak jaman Nabi Adam hingga kiamat nanti, tantangan manusia masih sama, yaitu melawan godaan setan. Iblis mbahnya para setan menggoda manusia, mengajak manusia nuruti hawa nafsunya. Qabil anak Adam dulu tega membunuh adiknya, si Habil, karena manut bujukan setan. Dia ingin mendapatkan istri yang lebih cantik dan menguasai harta sebanyak-banyaknya.
Nah, mungkin karena keturunan Qabil jauh lebih banyak, mayoritas dan dominan, maka Tuhan perlu menurunkan para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi, agar selamat di akhirat nanti."

Edan. Ketempelan jin dari mana orang ini sehingga punya referensi sejarah awal kejahatan manusia? Kok mendadak bisa sepinter itu analisisnya? Ah, pasti bukan dari nonton TV yang penuh iklan dan informasi hoax. Tapi mosok ada malaikat yang langsung menginstal ilmu itu ke memori otaknya? Edan tenan Sasa.

"Sa, lha kok dadi adoh temen omonganmu? Kadohan itu. Terlalu jauh...."

"Tidak, Om. Ini kan tantangan abadi manusia. Sejarah peradaban yang tetap kontekstual, namun sering kita lupakan."

Jinguk tenan Sasa. Dari mana dia dapat istilah itu?

"Wolak-waliking jaman, Om. Di tahun politik ini apapun bisa jadi urusan politik, semua dibaca dengan kacamata politik."

"Makanya hati-hati kalau ngomong, Sa. Harus 'empan papan', lihat-lihat dulu tempat, waktu, dan lawan bicara."

"Iya, Om. Jaman.sekarang memang serba repot. Orang ngomong baik dan bener pun bisa dijadikan musuh bersama.

"Maksudmu?"

"Jaman serba politik, Om. Dunia saat ini seakan hanya milik para pilitisi, milik orang-orang yang sedang berebut kekuasaan dan kekayaan. Yang bener disalah-salahkan, yang salah dibela mati-matian."

"Wislah, Sa.  Pagi-pagi ngomong politik jadi mules perutku. Aku pulang dulu ya....."

Kutinggalkan Sasa setelah kuselipkan uang dengan paksa ke kantongnya. Kali ini Sasa hanya pringas-pringis tidak bisa menolak.

Dah Sasa......

#serialsasa

Senin, 03 Desember 2018

LINGSEM

LINGSEM

Sebenarnya belum seberapa kangen makan soto Kartongali, dan ndelalah juga di rumah masih ada lodeh terong dan rempeyek teri sisa menu karyawan kemarin, menu favoritku. Tapi karena sejak tadi malam sudah kepikiran Sasa yang kemarin ikut Reuni 212 di Monas, maka pagi ini aku tetap ke Kartongali untuk mangayugabyo kepulangannya, dan tentu saja sekalian sarapan soto yang sedapnya selalu terngiang di lidah.

"Wah luar biasa, Om. Mrinding aku. Tak henti-hentinya air mataku menetes begitu melihat jutaan manusia mengalir bagai air bah dari berbagai arah dengan wajah dan senyum ramah menuju satu titik, Silang Monas," kata Sasa mengisahkan kesannya.

"Terharu ya, Sa?"

"Terharu sekaligus bangga, Om."

"Kok bangga?"

"Bersyukur, Om. Ing atase Sasa lho, cuma wong ndeso yang dulu sempat hidup tidak karuan, 'ora enak dipangan' kata orang-orang, tidak dihargai, lha kok diparingi hidayah dan bisa ambil bagian lagi dalam peristiwa besar umat Islam Indonesia."

Sambil menyantap soto, kudengarkan Sasa berapi-api menceritakan kesan perjalannya sejak keberangkatan bersama rombongan 12 bus dari Klaten, tentang shubuhan di Monas bersama jutaan jamaah dengan doa qunut panjang sekali, tentang banyaknya orang membagikan makanan-minuman aneka rupa buat sarapan jamaah, tentang para tokoh yang bergantian menyampaikan orasi, dan  tentang jamaah yang seusai acara seperti berlomba memunguti sampah di Monas dan sepanjang jalan yang dilalui.

"Subhanallah, Om, nyenengke tenan. Jutaan orang berkumpul dengan tertib, khusyuk, ramah, dan sopan untuk menyatukan tekad menjaga kedaulatan bangsa dan negara...."

"Dibanding yang dulu lebih banyak yang mana, Sa?"

"Ya jelas lebih banyak yang kemarin, Om. Dulu kan banyak yang gagal berangkat karena perusahaan-perusahaan bus  tidak berani ngangkut jamaah karena takut dicabut ijinnya. Yang kemarin beda, Om. Sepanjang jalan sejak berangkat hingga pulang kita aman lancar tanpa gangguan."

"Sa, pas acara kemarin itu,  dua Capres kita hadir semua gak?

"Lha itu, Om. Sayang sekali yang hadir cuma satu. Misal dua-duanya hadir pasti lebih gayeng."

"Apa karena yang satunya memang tidak diundang ya, Sa?"

"Aku juga tidak tahu persis, Om. Kemarin aku juga mbatin kenapa yang satu tidak hadir? Jadi kasihan aku."

"Lha kok kasihan?"

"Begini lho, Om. Ibarat di satu desa ada orang lagi punya hajatan, semacam walimah. Yang punya hajat pun  mengedarkan banyak undangan sehingga banyak orang hadir ikut bergembira dan mendoakan. Tapi ada satu yang tidak hadir di sana, yaitu tetangga terdekatnya yang kaya raya dan rumahnya magrong-magrong."

Aku belum menangkap ke mana arah omongan Sasa. Katanya  Reuni 212  sebagai media konsolidasi umat Islam untuk menjaga kedaulatan bangsa, kok ibaratnya walimahan?

"Ada dua kemungkinan, Om. Pertama, mungkin memang tidak diundang entah sebab apa sehingga beliau 'nglungani', sengaja pergi dari rumahnya. Kedua, mungkin sebenarnya juga diundang, tapi gengsi untuk hadir karena yang ngundang cuma wong cilik dan miskin. Beliau merasa tidak penting untuk hadir."

"Terus, Sa...."

"Masih ada kemungkinan ketiga, Om. Lingsem."

"Apa itu lingsem?"

"Mau hadir malu, gengsi. Makanya mending gak usah hadir demi 'njaga praja', menjaga harga diri dan kewibawaan."

"Wah pikiranmu kadohan, Sa. Kejauhan. Mosok lingsem..."

" Namanya juga penonton, Om. Bebas berpendapat, bebas berkomentar, seperti komentator sepakbola....hahaaa."

"Ya sudah, Sa. Yang penting kamu sudah selamat sampai di rumah, sehat, dan bisa kerja lagi."

"Iya, Om. Alhamdulillah. Pangestunipun...."

Sasa pun langsung kembali asyik mengatur parkir pengunjung warung yang mulai ramai. Gayanya yang ramah tapi tampak sangar, liak-liuk tubuh dan bengok-bengok suaranya yang kadang terdengar nganyelke, tangan kanan pegang bendera kecil dan tangan kiri nenteng kayu ganjal roda, dan sapaannya yang ramah pada semua tamu.
Ah Sasa, orang tidak akan nyangka bahwa di balik penampilan dan pekerjaan yang dipandang remeh itu, dia punya ghirah yang bagus untuk kabaikan bangsa dan negaranya.
Dan, aku jelas kalah dalam hal itu.....

Rabu, 28 November 2018

SEDUMUK BATHUK SENYARI BUMI

SEDUMUK BATHUK SENYARI BUMI

Hujan baru saja reda ketika dua pemuda desaku datang ke rumah. Tumben. Setahuku mereka masih kuliah di Jogja dan hanya pulang pas Sabtu-Minggu atau libur kuliah.

"Ada apa, Le?," tanyaku setelah obrolan basa-basi sejenak tentang kuliah mereka dan suasana Jogja yang ngangeni meski sekarang jalanan macet di mana-mana. Tiga gelas kopi disajikan istriku.

"Begini, Pakdhe," kata salah satu pemuda itu, "kemarin kami baca di satu media online tentang pembangunan gapura batas Kecamatan Jatinom-Ngawen di depan Balai Desa kita. Itu ceritanya bagaimana  to, Pakdhe? Katanya masyarakat sama sekali tidak diajak rembukan sebelumnya, tiba-tiba sudah ada tukang-tukang bekerja mengali fondasi persis di depan wajah desa kita?"

"Ooh soal itu. Masuk di berita online to, Le?"

"Iya, Pakdhe," kata pemuda satunya, "Kami berdua sengaja pulang untuk itu. Pas kami  lewat sana tadi, tukang-tukang tampak sudah mulai ngecor."

"Itu tidak masuk akal, Pakdhe.  Bagaimana mungkin Balai Desa kita separohnya ikut wilayah kecamatan tetangga? Kesannya nanti begitu, Pakdhe."

"Ada kesan kampung Sumberejo dicaplok Desa dan Kecamatan sebelah. Kok tidak ada yang protes? Kepala Desa kita ngapain aja, Pakdhe?"

Kaget juga aku diberondong pertanyaan-pertanyaan kritis dua pemuda itu, tapi tetap kucoba menutupi. Mungkin mereka pikir aku punya kekuatan menggagalkan proyek pemerintah. Padahal aku juga cuma rakyat biasa sama seperti mereka, bukan tokoh apalagi pejabat atau politisi yang punya power. Tapi sungguh aku bangga masih ada pemuda dan mahasiswa yang kritis, peduli, dan berani bertanya.

"Kemarin Pakdhe sudah tanya soal itu ke Kepala Desa, Le. Katanya itu proyek Kabupaten dan Desa tidak bisa menolak. Pakdhe ingatkan bahwa pembangunan gapura batas kecamatan yang salah letak itu pasti akan jadi masalah."

"Ya jelas, Pakdhe. Ada kesan sebagian teritorial kita dicaplok Desa tetangga, tetapi masyarakat dan Kepala Desa kita diam saja."

"Pakdhe pikir, kalau benar itu proyek Kabupaten, pasti karena ketidaktahuan Bupati, Camat, dan para pejabat terkait tentang batas teritori desa dan kecamatan. Memang harus ada yang memberitahu, Le."

"Betul, Pakdhe. Mestinya pemerintah jangan hanya asal bikin proyek dan ngejar fee tanpa mempertimbangkan perasaan rakyatnya."

"Padhe, perlukah kami galang teman-teman pemuda untuk bikin aksi protes agar pembangunan itu dihentikan?"

"Ya kalau kalian para pemuda melihat ada sesuatu yang bengkok lalu merasa perlu meluruskan, itu baik-baik saja menurutku. Memang begitu seharusnya pemuda."

Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor tua masuk halaman dan berhenti. Loh Sasa. Ada apa sore-sore begini sahabatku datang kemari? Kedua pemuda pun bergeser tempat duduk dan menyalami Sasa dengan sopan. 

"Dari mana saja, Pak Sasa?" tanya salah satu pemuda.

"Dari rumah, Mas. Sengaja ke sini mau minta kopi," jawab Sasa sambil melirikku memberi kode.

"Kok kenal Pak Sasa, Le?"

"Pakdhe ini lho. Yang tidak kenal Pak Sasa si juru parkir teladan nasional dari Jolotundo ini berarti kurang piknik....hahahaa."

"Pasti gak pernah nyoto Kartongali.....," sahut Sasa.

"Piye, Sa, ada kabar apa ini?," tanyaku ke Sasa.

"Cuma mau ngasih tahu kok, Om, sakilan minta pamit."

"Pamit mau kemana?"

"Besok Minggu-Senin saya tidak kerja. Sabtu siang saya akan berangkat ke Jakarta ikut Reuni 212 di Monas."

"Waow....elok tenan Pak Sasa ini."

"Kami yang muda saja malah  gak kepikir ikut aksi itu lho, Pak," kata pemuda satunya.

"Ini soal prinsip, Mas. Sedumuk bathuk senyari bumi," kata Sasa.

"Maksudnya apa itu, Pak Sasa?"

"Ini soal panggilan hati ikut menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara, Mas. Sejengkal tanahpun tak boleh lepas dari  pangkuan negari ini. Kalian harus tahu, negara ini sedang dalam bahaya. Kekayaan alam kita satu-persatu sudah berpindah tangan ke para kumpeni. Berjuta-juta hektar tanah telah dikuasai hanya segelintir orang, dan sebentar lagi negara kita akan dikendalikan asing. Beratnya, Mas, mereka kongkalingkong dengan para pejabat dan politisi kita. Ini harus dihentikan, Mas. Ini soal harga diri bangsa."

"Wah menarik ini. Terus, Pak Sasa...."

"Kita seharusnya malu dengan Eyang Fatahillah, Mbah Sultan Agung, Mbah Diponegoro, Datuk Imam Bonjol, Ibu Kartini, Tjut Nya Dien, Mbah Cokroaminoto, Mbah Ahmad Dahlan, Eyang Soekarno, Datuk Hatta, Mister Yamin, Buya Natsir, Buya Hamka, dan sebagainya."

"Harus malu bagaimana, Pak Sasa. Jamannya kan sudah berbeda."

"Memang jaman sudah berbeda. Dunia terus berubah. Itu sudah sunatullah. Tapi yang namanya negara yang didirikan dengan susah payah dengan toh nyawa wutahing ludira, harus tetap kita pertahankan sebagai warisan berharga dari para pendahulu. Hanya orang gendheng yang mau percaya bahwa batas teritorial negara tidak penting dan membiarkan kekayaan negaranya dikuasai asing," pidato Bung Sasa panjang lebar  dan berapi-api.

Kubiarkan Sasa memberi kuliah kewarganegaraan pada kedua pemuda yang tampak antusias itu. Memang sesekali pemuda dan mahasiwa perlu diajak kuliah lapangan seperti ini agar tidak hanya mendapatkan referensi dari dosen, buku-buku, dan media online yang kadang hanya Hoax.

"Berangkat ke Jakarta dengan siapa, Sa? Naik apa?", tanyaku ke Sasa.

"Banyak teman, Om. Belum tahu besok naik apa, yang penting Minggu pagi kami sudah sampai Monas," jawab Sasa.

Azan maghrib terdengar bersahutan. Dan kami pun bubar. Selamat berjuang, Sa. Semoga perjalanan jihadmu lancar dan aman. Biarlah kedua pemuda ini belajar dulu dari kasus yang kecil dan lokal, kasus pembangunan gapura di Desa kami.

#serialsasa







Sabtu, 24 November 2018

AWAS ADA GENDRUWO

AWAS ADA GENDRUWO

"Untung kemarin Sampeyan gak ikut saran saya, Om," kata Sasa tiba-tiba duduk di sampingku.

Hari masih pagi, warung pun masih sepi. Piring-piring masih penuh berisi gorengan tempe, tahu, perkedel, dan pisang raja  terjajar rapi di meja. Segelas teh nasgithel yang diantar pelayan langsung kusruput sambil menunggu soto terhidang.

"Saran yang mana, Sa?"

"Supaya Sampeyan ikut nyaleg."

"Oh, soal politik, to? Aku gak bakat politik kok, Sa."

"Ini bukan soal bakat kok, Om. Hanya soal berani nekad atau tidak. Teteg atau tidak. Tegel atau tidak."

"Sudah jelas aku tidak punya itu semua."

"Ya malah untung, Om."

"Lah kok malah untung?"

"Om, ini sudah masuk musim kampanye.  Gendruwo-gendruwo mulai mubal, keluar semua dari persembunyiannya. Satu persatu mulai menampakkan wajah aslinya. Ngeri, Om."

"Iyaak ngomong opo to, Sa? Mbok jangan tahayul."

"Ini bukan tahayul, Om. Nyata. Kasat mata. Cetha wela-wela."

"Gendruwo kok kasat mata. Dagadu..."

"Poya hoho.....wkkkk"

Semangkok soto sudah tersaji dan langsung kuberi kecap, sambal, serta remetan karak seperti biasanya. Karena masih panas, kutunggu beberapa saat sambil ngobrol dengan sahabatku Sasa. Sebenarnya malas pagi-pagi ngobrol politik. Tapi demi menghormati sahabat, aku harus berusaha melayani obrolan Sasa sebaik-baiknya, apapun temanya. Dan lagi-lagi tema pagi ini soal politik. Jinguk tenan Sasa ini, batinku.

"Sa, gendruwo itu hantu sebangsa wedhon, glundhung pringis, wewe gombel, kuntilanak, blorong, banaspati dan sebagainya itu, kan?"

"Iya, Om."

"Gak usah ngeri, gak usah takut. Masih hafal ayat kursi, kan? Gendruwo dan sebangsanya itu takutnya sama ayat kursi."

"Hahahaa....Om Om, yang takut sama ayat kursi itu cuma gendruwo jaman dulu, jaman OLD. Gendruwo jaman NOW justru rebutan ayat kursi."

Kucoba mencerna omongan Sasa. Ini sanepan apa asal njeplak. Guru ngajiku sejak kecil mengajari menghafal ayat kursi yang salah satu kegunaannya untuk mengusir hantu. Menjelang tidur pun kita disuruh baca ayat kursi tiga kali agar terhindar dari mimpi buruk, gangguan setan dan gendruwo.

"Sa, tolong kalau ngomong yang jelas. Maksudmu bagaimana? Jangan main-main dengan ayat suci, lho."

"Om, Sampeyan tahu nggak, ada berapa ribu kursi parlemen di pusat, provinsi, dan kabupaten se Indonesia? Sampeyan tahu nggak, ada berapa puluh ribu caleg yang sekarang ini mulai berjuang keras berebut mendapatkan kursi itu? Ngeri tenan, Om."

"Itu kursi, bukan ayat kursi, Dul."

"Yang disebut kursi itu kalau sudah dipegang dan diduduki, Om. Kalau masih di angan-angan, masih menjadi rangsangan ambisi, belum nyata, itu ayat kursi namanya."

"Tapi ya jangan samakan mereka dengan gendruwo to, Sa. Kasihan. Mereka orang-orang baik yang siap mewakafkan ilmu dan tenaganya bagi kebaikan bangsa dan negara."

"Iya ya, Om. Mereka seperti Malaikat pengantar rejeki dan Dewi Sri pembawa kemakmuran."

"Lha kok sinis to, Sa?"

"Bukan sinis, Om. Kita ini sudah berkali-kali ikut pilkades, pemilu, pilkada, pilgub, dan pilpres. Pas musim kampanye, para calon berlomba tampil dengan janji-janji manis. Dan kita pun percaya, lalu memilihnya, tapi kemudian kecewa. Yang kita sangka malaikat jebul gendruwo. Yang kita sangka Dewi Sri jebul banaspati. Hasil kerja mereka justru membuat kehidupan tidak semakin baik. Mereka justru kongkalingkong dengan para kumpeni agar cepat balik modal dan aman posisi. Makanya kita gak jadi merdeka sebagai bangsa dan negara, Om."

Untung semangkok soto sudah tandas kumakan dan perutku sudah hangat. Mendengar omongan Sasa panjang-lebar tadi rasanya sungguh mak-jleb. Kok sampai segitunya Sasa nggagas negara ini. Cukup teliti juga dia mengamati perilaku para politisi. Ah Sasa, ngobrol denganmu bisa bikin hidup jadi pesimis.

Untung di luar tampak ada dua tiga mobil berhenti mau parkir. Dari plat nomornya tampak rombongan dari luar kota mau sarapan. Sasa pun bergegas memandu parkirnya, tanpa sempat ba-bi-bu pamitan denganku. Dasar wong edyaan.....




















Rabu, 21 November 2018

SONTOLOYO

SONTOLOYO

Sasa benar-benar tidak habis pikir kenapa di jalan raya yang cukup padat itu harus dipasang polisi tidur. Jalan provinsi penghubung  antara Semarang - Jogja via Boyolali-Jatinom-Klaten itu sudah bagus, tapi  kenapa malah dirusak? Siapa yang memasang? Apa maksudnya? Tidak adakah cara lain untuk mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati dan tidak ngebut?

"Kenapa tidak dipasang rambu-rambu lalu-lintas, misalnya,  atau polisi Polsek diterjunkan menjaga tempat-tempat rawan lakalantas?," Sasa mulai ngomyang.

"Mungkin karena kekurangan personil, Sa."

"Mbokya meniru kota Solo, Om. Di Solo itu, hampir di setiap persilangan jalan ada supeltas alias "polantas swasta" alias polisi-cepek yang luwes dan cekatan mengatur lalu-lintas."

"Bener itu, Sa."

"Kenapa justru polisi tidur yang disuruh menjaga jalan? Owalah....wolak-waliking uteg...," Sasa tampak benar-benar tak habis pikir. "Jian sontoloyo tenan. Jinguk....."

"Jangan misuh, Sa."

"Terpaksa, Om. Bayangkan, kemarin malam gara-gara melewati rangkaian polisi tidur itu rantai motorku lepas. Padahal pas aku lagi mboncengkan mbokne bocah-bocah. Terpaksa kutuntun motorku sampai rumah. Sontoloyo tenan....."

"Sasa juga sih, mboncengke istri kok ngebut.. "

"Ngebut piye to, Om? Motor supercup tua ini mana bisa ngebut."

Isyriku datang  menyajikan dua gelas kopi dan sepiring pisang godhok yang masih hangat. Memang, di taman alpukat yang teduh di samping  rumah ini, kami biasa menikmati sore sambil menunggu datangnya maghrib.

"Monggo diunjuk, Mas Sasa. Mumpung masih panas," kata istriku.

"Injih, Bunda" Sasa pun langsung menyambar gelas kopi dan menyeruputnya lalu makan pisang kepok hangat.

"Mas Sasa tadi kudengar beberapa kali ngomong Sontoloyo. Artinya apa itu, Mas? Kemarin sempat heboh juga lho di medsos," tanya istriku. Maklum, istriku ini asli dari Palembang. Dia tidak kenal kosa kata sontoloyo.

"Nuwun sewu lho, Bunda. Ceritanya begini...," Sasa berhenti sejenak menyalakan rokok, "Suatu ketika di jaman dahulu kala, ada seorang penggembala bebek sedang menggiring pulang ratusan bebeknya dari sawah," lanjutnya.

"Wah asyik....Mas Sasa mulai mendongeng nih. Lanjut, Mas," kata istriku.

"Barisan ratusan bebek yang larinya ethek-ethek itu menyusuri pematang, lalu melewati pal (jalan di tengah sawah) yang kebetulan sedang ada gerobak penuh muatan gabah lewat dan jalan pelan-pelan."

"Terus, Mas....?", istriku tampak antusias.

"Kedua sapi penarik gerobak itu rupanya  kaget melihat ratusan bebek yang tiba-tiba lewat di sampingnya. Sepontan sapi-sapi itu berhenti, tidak mau jalan, seperti ketakutan. Si sopir gerobak pun mencambuknya berkali-kali, tapi sapi-sapi tetap tidak mau jalan. Lalu si kusir gerobak teriak pada penggembala bebek, "Wooo dasar sontoloyo....."

"Penggembala bebek marah dong, Mas?," tanya istriku.

"Hahahaa....ya tidak to, Bunda. Sontoloyo kan memang sebutan bagi penggembala bebek. Malah si sontoloyo pun membalas teriak pada kusir gerobak, "Wooo....dasar bajingan...."

Aku pun terbahak-bahak melihat cara Sasa bercerita, sedangkan istriku hanya senyum-senyum, mungkin dia sedang berusaha mencerna cerita dan memahami istilah yang dianggapnya kasar itu. Kata "bajingan" itu asalnya memang sebutan bagi kusir gerobak. Maka, si penggembala bebek dan kusir gerobak itu tentu tidak tersinggung apalagi marah mendengar namanya disebut.

"Tapi mohon maaf lho, Bunda, aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya kok kata "sontoloyo' dan "bajingan" itu kemudian bisa jadi bahasa umpatan yang sangat kasar."

"Ternyata awalnya hanya cerita tentang wong cilik, orang-orang pinggiran, di jaman dahulu kala ya, Mas?"

"Betul, Bunda. Sampai sekarang pun kata-kata itu hanya pantas diucapkan oleh wong cilik. Para priyagung, priyayi, pejabat apalagi tinggi, pantang mengucapkannya karena bisa menurunkan wibawanya sendiri."

Azan maghrib mulai terdengar bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri obrolan dan bergegas ke masjid....

Rabu, 14 November 2018

MINTA FATWA

MINTA FATWA

"Om, saya mau minta fatwa," kata Sasa begitu segelas kopi kuletakkan di depannya. Sasa tiba-tiba datang sore tadi pas hujan mulai turun. Dan seperti biasa kulakukan pada semua tamu, sebelum ngobrol kubuatkan dulu kopi semendo "tjap iboe mertoea" yang nikmatnya tiada bandingannya.

"Kali ini saya bener-bener ngelu, Om. Mumet. Ewuh tenan."

"Ada apa to, Sa? Mbokya slow wae seperti biasanya."

"Mau slow bagaimana, Om? Situasi kayak gini kok slow."

"Apa masalahnya?"

"Bayangkan seandainya Sampeyan yang jadi saya, Om," kata Sasa sambil tangannya meraih gelas kopi lalu nyeruputnya. "Kira-kira apa yang akan Sampeyan lakukan kalau hampir setiap hari Caleg-Caleg atau timsesnya datang bergantian minta dukungan? Dari berbagai partai lho, Om."

"Wah, hebat itu, Sa."

"Hebat apanya? Memangnya Sasa ini apa? Cuma tukang parkir dan tukang pijat."

"Ya jangan merendah gitulah, Sa..."

"Lha saya kok dianggap punya pengaruh.  Mau dijadikan vote-getter lagi. Cen dho gendheng kabeh...."

"Ya jangan begitu, Sa. Namanya Caleg memang harus enthengan silaturahmi dan minta dukungan. Siapa pun yang sekiranya punya pengaruh di masyarakat pasti disowani. Itu lumrah."

""Memangnya aku ini siapa to, Om?"

"Looh....Sasa kan juru parkir yang kondyang-kaloka di seantero perdikan Jolotundo....khkhkh."

"Jindul ik malah ngece."

"Tenanan ini, Sa. Bukan ngece."

Lalu Sasa menyebutkan sejumlah nama Caleg yang hanya kukenal beberapa. Dianalisisnya satu-persatu sesuai yang dia ketahui. Si ini dari partai ini begini begini begini. Si itu dari partai itu begitu begitu begitu. Kalau yang ini sejak dulu hobinya molimo. Yang itu pernah ndhemeni tetangga. Yang sana sebenarnya orang baik, tapi tidak enthengan dan agak pelit. Yang satunya lagi ustad, tapi Sasa justru kasihan dan eman-eman kalau dia masuk politik. Ada juga yang kondhang sebagai preman tapi ramah.. Dan sebagainya.

"Terus kamu mau mendukung yang mana, Sa? Pasti kembali ke habitatmu yang dulu, kan?"

"Jelas tidak, Om. Saya tidak ada urusan lagi dengan partai-partaian.'

"Ah tenane, Sa?"

"Tenin, Om. Jan-jane saya dulu cuma ikut-ikutan, kok. Tapi kemudian disuruh jadi satgas. Eeh...jebul cuma diapusi thok....wkkkkk."

"Jadi satgas kan keren, Sa. Kamu pasti kelihatan gagah dan sangar dengan seragam doreng."

"Walah, Om....itu masa lalu yang bikin malu. Nyesel tenan aku," kata Sasa sambil beringsut duduk mendekatiku. "Om, tolong aku dikasih fatwa. Aku harus bagaimana dan sebaiknya ngewangi yang mana?"

"Pilihlah yang menurutmu terbaik."

"Gak ada, Om."

"Yang terbaik di antara yang buruk-buruk."

"Gak ada tenan, Om."

"Atau mungkin begini saja, Sa. Coba tentukan dulu pilihan Capres-Cawapresmu. Ke depan kamu pengin dipimpin Presiden yang  mana? Terserah mau yang  01 atau 02. Dari situ sudah kelihatan partai-partai pendukungnya. Pendukung 01 partai ini ini ini, pendukung 02 partai itu itu itu. Nah, pilihlah Caleg dari partai yang sesuai dengan pilihan Capresmu. Caleg-caleg yang  pilihan Capresnya berbeda denganmu rasah digagas. Buang kalen wae. Gampang to, Sa?"

"Wah ini...masuk ini, Om. Aku jadi punya bayangan sekarang. Bener-bener gak rugi aku hujan-hujan ke sini minta fatwa...khkhkhkh. Matur nuwun ya, Om."

Hujan sudah reda. Sebentar lagi waktu azan maghrib. Sasa pamit pulang sambil senyam-senyum tampak lega hatinya.

Senin, 12 November 2018

AJINING DIRI SAKA LATHI

AJINING DIRI SAKA LATHI

"Kahanane semakin ngemar-emari ya, Om," kata Sasa sambil ngelap meja depanku. Dia memang suka bantu pekerjaan di dalam  warung bila para pelayan tampak keteteran melayani pembeli. Sangat cekatan dia nyingkirkan mangkok-mangkok dan gelas kosong, lalu ngelap meja hingga bersih dan nyaman bagi pengunjung warung.

"Kahanan yang mana, Sa?"

"Ya kahanan politik to, Om. Kalau kahanan warung ini Insya Allah tetap aman terkendali selama masih ada Sasa," jawab Sasa sambil mringis menampakkan gigi-giginya yang tidak seberapa putih.

"Ngemar-emari piye, Sa? Menurutku ya gitu-gitu aja. Biasalah politik..."

"Ya memang. Tapi ini sudah keterlaluan, Om."

"Kok keterlaluan?"

"Ya iyalah. Mosok tiap hari, pagi-siang-malam rakyat hanya disuguhi pertengkaran, saling caci, saling fitnah, saling ancam, saling lapor. Bahkan ada yang lebih parah lagi, Om. Mereka sudah tidak malu-malu lagi misuh, mengumpat lawan politiknya dengan kata-kata yang sangat kasar dan tidak pantas diucapkan seorang tokoh apalagi pejabat."

"Sa, wong Jowo itu hanya misuh kalau terpaksa, lho. Mungkin hatinya memang benar-benar kecewa."

"Ya itu kalau wong cilik seperti Sasa ini. Mau misuh tiap hari juga gak masalah karena nasibku memang teraniaya. Lha kalau pejabat seperti Bupati atau Menteri yho ora ilok, Om. Tidak pantas. Mestinya "ing ngarsa sung tulada", berada di depan dan sanggup menjadi teladan bagi rakyatnya. Kalau menjaga lisannya saja sudah tidak mampu, wis trocoh kabeh, bagaimana dia menjaga perilakunya? Wis mesti rusak-rusakan, Om."

"Iyyaak kamu ini koyo ngerti-ngertio wae, Sa-Sa. Mbok jangan shu'udhon. Belum tentu mereka seperti prasangka kita. Ada lho orang yang lisannya baik, sopan, lembah-manah, tapi jebul korupsi, jebul mengkhianati istri, jebul suka nelikung atasannya. Iya to, Sa?"

"Wis embuh lah, Om. Maksudku cuma sederhana, kok. Kalau orang pengin jadi politisi, pengin jadi pejabat, apalagi sudah jadi pejabat, mbok ya belajar ngomong yang baik, berperilaku yang baik,  prasojo, jujur, gak usah neko-neko. Gak usah ngumbar janji. Gak usah mencaci lawan politiknya. Kalau tidak sanggup ngomong yang baik, lebih baik diam. Atau, sekalian turun saja menjadi rakyat seperti Sasa ini."

"Ngono yho, Sa? Baiklah, sesuk nek ketemu dho tak kandhanane....wkkkk."

Sasa meninggalkanku, berlari menuju jalan raya. Dia kembali ke tugas utamanya mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau masuk atau mau keluar dengan gayanya yang tampak sangar dan teriakan aba-abanya yang kadang terdengar menggelegar.
Dia hanya ingin memastikan semua pengunjung Soto Kartongali merasa aman dan nyaman, juga tidak mengganggu lalu-lintas jalan propinsi yang cukup padat.

Selamat bertugas, Sa.
Biarlah para politisi itu menampilkan dirinya apa adanya. Jangan diganggu, ya. Bisa bahaya.....

Minggu, 11 November 2018

NDOBOS

NDOBOS

Siang yang terik. Jam 11-an siang, Sasa masih terus kerja mengatur parkir, memandu setiap kendaraan yang mau keluar ke jalan raya atau mau masuk ke parkiran. Kulitnya yang hitam tampak legam, rambutnya yang ikal tampak awut-awutan, baju dan bendera kecil di tangannya tampak lusuh. Penampilannya tampak sangar. Dia memberi aba-aba dengan suaranya yang keras, badan mbungkuk-bungkuk, sambil tangan kirinya memegang ganjal roda dan tangan kanannya megang bendera kecil merah-orange. Bila roda sudah benar-benar lurus pada posisinya, barulah sopir boleh mematikan mesin dan turun dari mobilnya.

"Mohon maaf lho, Pak. Ini supaya roda mobil Panjenengan tidak cepat rusak," begitu Sasa selalu  minta permakluman para sopir yang tampak kurang berkenan. "Monggo pinarak," Sasa pun mempersilakan masuk dengan jempol tangannya yang luwes.

Sambil memperhatikan aksi Sasa, aku teringat obrolan kami kemarin pagi ketika warung masih sepi. Dia mereview beberapa nama dan sifat teman sekolah kami dulu.

"Si-Anu dulu sukanya ndobos ya, Om. Pintar sekali bikin cerita, seakan nyata, padahal aslinya omong-kosong," kata Sasa menyebut satu nama. "Gak bisa dipercaya. Sukanya bikin janji, tapi mletho, tidak pernah nepati. Esuk dele sore tempe, pagi bilang begini sorenya bilang begitu. Tobat tenan," imbuhnya sambil tertawa.

"Sekarang dia di mana ya, Sa?" tanyaku.

"Di Jakarta, Om. Sukses dia. Sudah jadi bos."

"Jadi pejabat atau punya perusahaan?"

"Gak tahu persisnya, Om. Pernah sekali mampir ke sini, mobilnya bagus, pengawalnya dua orang."

"Wah hebat ya, Sa? Punya pengawal..."

"Jalma tan kena kinira, Om. Dulu suka ndobos, sekarang justru sukses. Mungkin justru karena pinter ndobos itu ya, Om? Banyak orang gampang terbuai omongannya."

"Ya jangan begitulah, Sa. Suka ndobos kan dulu."

"Loh, sudah sifatnya kok, Om. Memang wolak-waliking jaman. Jaman sekarang ini, orang yang pinter ndobos, suka bohong, pinter apus-apus justru beruntung. Orang yang lugu kayak saya ini, ya tetap saja begini."

"Walah Sa, hidup kan cuma wang-sinawang. Belum tentu teman kita itu lebih bahagia daripada kamu, lho."

"Ya memang, Om. Tapi kalau setiap hari istri ngomel karena duit hasil kerjaku semakin tidak cukup untuk belanja keperluan harian, jadinya terasa banget, Om. Berat jadi rakyat. Enak yang pinter ndobos, pinter ason-asonan. Duitnya bisa berlimpah-ruah."

"Wislah, Sa. Sing sabar, yho. Ingat katamu dulu, kudu nrimo ing pandum.”

"Njih, Om. Siap. Harus sabar. Nrimo ing pandum Tapi kenapa ya, Om, orang sekarang lebih gampang percaya pada orang yang banyak omong dan banyak janji?"

“Maksudmu?”

“Tapi nuwun sewu lho, Om, ini agak politik.”

“Gak papa, Sa. Tenang saja. Kita kan sama-sama rakyat, bukan orang politik, bukan pejabat, juga bukan intel. Jadi bebas ngomong. Slow wae, Sa.”

“Begini lho, Om, sudah kutiteni dari dulu dan sudah kucermati dengan seksama, para politisi dan Pemerintah kita terlalu banyak janji.”

“Lah kok bisa?”

“Coba Sampeyan ingat-ingat apa saja janji Pemerintah ketika kampanye dulu. Masih ingat, gak?”

“Wah, apa saja ya, Sa? Sudah lupa aku.”

“Lha inilah masalah utama bangsa kita, pelupa semua. Ibarat penyakit, sudah tahap kronis.”

Weh ngece....”

“Bukan ngece, Om. Nyatanya memang begitu, kok. Rakyat gampang terbuai dengan janji-janji politisi, alias seneng dikadhali.”

“Coba sebutkan satu atau dua saja janji politisi yang tidak ditepati, Sa.”

“Aku masih salah satu janjinya di bidang perdagangan, mau menurunkan harga sembako. Mana buktinya, coba? Mbel thut, Om.”

“Terus apa lagi?”

“Janjinya di bidang pertanian lebih parah, Om.”

“Apa saja janjinya?”

“Sampeyan kan aktif nemani petani, Om? Kusebutkan tiga saja yang Sampeyan pasti paham.”

“Apa saja, Sa?”

“Penguatan Bulog, mensejahterakan petani, dan mengelola persediaan pupuk agar harganya tetap murah. Nyatanya bagaimana, Om? Bulog semakin kuat atau semakin rusak digerogoti tikus-tikus? Petani semakin makmur sejahtera atau semakin miskin karena kalah bersaing dengan produk impor? Pupuk semakin mudah dan murah atau semakin langka dan mahal? Mikir, Om....”

Jinguk tenan, Sasa. Ternyata daya ingatnya luar biasa. Itu memang problem sektor pertanian yang hingga kini belum teratasi. Petani semakin miskin. Harga pupuk dan obat semakin mahal, tapi harga jual hasil panen tetap rendah di pasaran. Lahan pertanian semakin sempit karena banyak yang berubah menjadi perumahan, pabrik-pabrik, dan jalan tol. Bulog juga tidak kunjung berdaya sebagai penjaga pangan Nasional karena belum bersih dari wabah tikus. Walaah...ternyata itu semua termasuk yang dijanjikan waktu kampanye, to?

Sasa..Sasa....sayangnya kamu cuma tukang parkir. Omonganmu tidak punya pengaruh, tidak didengar orang, padahal daya ingatmu sungguh tidak kalah dari para sarjana, cendikiawan, aktivis, dan juru dakwah. 

Ah Sasa....maqom-mu memang harus nrimo ing pandum.....








Senin, 22 Oktober 2018

PASAR ILANG KUMANDHANGE

PASAR ILANG KUMANDHANGE

Pasar Legi Jatinom.  Dulu, pasar ini merupakan pasar terbesar di kawasan utara-barat Kabupaten Klaten.  Bukan hanya masyarakat Jatinom yang datang berbelanja, tetapi juga dari Karanganom, Polanharjo, Tulung, Kemalang, Karangnongko serta Ampel dan Musuk Boyolali. Yang berjualan juga bukan hanya pedagang-pedagang Jatinom yang memang kondang sebagai “bangsa pedagang”, tetapi juga dari Pedan, Ceper, dan Wedi. Segala macam keperluan ada di sini, dari mulai sembako, pakaian, sapi, kambing, burung, hingga semua peralatan pertanian. Bisa dikatakan, pasar inilah pusat ekonomi terbesar di kawasan timur lereng Gunung Merapi, habitatku sejak kecil.

Seperti anak-anak desa pada umumnya, hari pasaran Legi adalah hari yang kami tunggu-tunggu, apalagi kalau pas Minggu Legi. Aku biasa bersama teman-temanku jalan-jalan ke pasar melihat-lihat pasar burung, melihat “atraksi” perajin pandai besi sedang membuat sabit dan cangkul, atau melihat cara orang tawar-menawar kambing dan sapi serta para blantik yang memakai topi koboi duduk methingkrang di warung sate kambing Bu Dirjo. Kami juga suka duduk ndlesep di antara kerumunan orang menyaksikan penjual jamu-kuat, jamu-encok, dan jamu pegel-linu  yang bengok-bengok dengan megaphonenya di antara kios para pedagang pakaian. Setelah capek, kami pun singgah di kios ibuku untuk makan sego-pecel Yu Sipon atau soto ayam Bu Among. Sambil pulang, kami biasa singgah di pojok utara lapangan Bonyokan melihat pasar sepeda bekas dan cara para makelar menawarkan dagangannya.

Minggu Legi pagi ini aku sengaja datang untuk bernostalgia sambil sarapan Soto Mbah Gito Birun, soto sapi dengan kecapnya yang khas tak ada bandingnya di dunia. Dulu, warung ini tempat sarapan para blantik sapi, tetapi sekarang semua penggemar soto tak akan melewatkan kesempatan menikmatinya. Maklumlah, warung ini hanya buka 5 hari sekali, khusus hari pasaran Legi. Meski jaman sudah jauh berubah, Mbak Gito Birun tetep ora kengguh, tidak tergiur untuk menyesuaikan perubahan jaman dengan buka setiap hari atau bahkan membuka kesempatan waralaba di berbagai kota. Penampilan warungnya tetap bersahaja, apa adanya, bahkan terkesan lethek khas pasar sapi. Tidak percaya? Silahkan dicoba.

“Pasar Legi sekarang jadi seperti kuburan ya, Om. Sepi tenan,” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan duduk di sampingku. Ternyata Sasa sahabatku.
“Loh, Sa, kok gak kerja?” tanyaku.
“Prei dulu, Om. Istri lagi butuh uang untuk nyumbang tetangga yang lagi hajatan. Tiga ekor jago terpaksa kujual,” jawab Sasa sambil nyeruput teh nasgithel yang sudah terhidang.
Kulihat pasar ayam jago di depan warung sudah ramai. Semua pengunjungnya laki-laki membawa kiso, tas khusus ayam jago. Ada 2 serumbung tempat uji-coba kabrukan yang selalu dikerumuni pengunjung. Mereka bukan berjudi, tetapi hanya sekedar menguji seberapa tangguh ayam jagonya. Semakin dahsyat kabrukannya akan semakin mahal harga jualnya.

”Aku ingat betul pasar ini mulai sepi sejak krismon dulu, Om,” Sasa ngomong lagi.
“Apa hubungannya, Sa?” tanyaku.
“Loh, ya jelas sekali to, Om,“ jawab Sasa sambil mulai makan soto di piringnya.
“Waktu itu, banyak orang yang kehilangan pekerjaannya lalu pengin berjualan di pasar ini. Karena tidak mendapatkan tempat di dalam, mereka menggelar dagangan di pinggir lapangan Bonyokan sana. Ada yang jualan pakaian bekas, segala paralatan rumah tangga bekas, dan onderdil kendaraan yang juga bekas. Jadilah lapangan Bonyokan pasar klithikan yang ramai setiap Legi.  Karena di sana semakin ramai, banyak pedagang yang dulu menempati kios di dalam pasar ini justru ikut pindah ke lapangan.”
“Terus, Sa,” aku hanya mendengarkan sambil merokok dan kipas-kipas menikmati suasana.

“Sejak krismon itu pedagang burung juga semakin banyak. Namanya juga orang pengin berusaha to, Om.”
“Lha iya, Sa. Terus….”
“Karena los di dalam pasar terlalu sempit, mereka menggelar dagangannya di oro-oro. Jadilah oro-oro itu pasar burung yang sangat ramai setiap Legi, sedangkan yang di dalam jadi sepi pengunjung,” kata Sasa bersemangat.

“Apalagi sejak pasar sapi dipindah, Om. Wah, pasar Legi hanya ini jadi pasar wedok, hanya kaum perempuan yang masuk. Sepi-nyenyet tidak banyak pengunjung seperti dulu. Kaum laki-laki tempatnya di luar, di pasar klithikan, di pasar burung, di pasar kambing, dan di pasar sapi.”
“Terus piye, Sa?”
“Yah, kasihan ibu-ibu pedagang yang masih bertahan di dalam pasar,” kata Sasa.

Aku jadi teringat ibuku almarhumah yang sudah berjualan sejak awal pendudukan Jepang hingga berganti-ganti Orde. Tentu beliau akan terkaget-kaget bila mengalami perkembangan pasar saat ini.
“Ngendikane Sunan Kalijaga sudah betul-betul kejadian ya, Om.”
“Wah…ngendikane Sunan Kalijaga yang mana, Sa?” kaget aku.
“Pasar ilang kumandhange.”
“Piye kuwi,?” tanyaku.
“Loh, Sampeyan mosok lupa. Kanjeng Sunan Kalijaga sudah ngendika bahwa tanda akhir jaman itu bila kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wedok ilang wirange…..hahaha, ” jawab Sasa dengan gayanya mengingatkanku pada diskusi-diskusi dengan teman-teman jaman kuliah di Jogja dulu.

Sasa ini edan tenan, pikirku sambil membayar soto dan makanan kami sambil ketawa dalam hati. Aku betul-betul salut dengan daya rekamnya atas setiap perubahan jaman. Tentu belum saatnya Sasa kuberitahu tentang fenomena pasar online jaman sekarang yang omsetnya bisa milyaran rupiah setiap hari, tentang kumadhange pasar yang bukan lagi hanya radius 1-2 kilometer tetapi ke seluruh dunia, tentang transaksi antara penjual dan pembeli yang hanya mengandalkan kepercayaan tanpa tatap muka dan melihat wujud barangnya, atau tentang pasar-pasar modern di kota besar yang gemerlapan, yang barang-barangnya serba bagus dan tidak ada proses tawar-menawar di sana.

Tapi Sasa kapan-kapan akan kuberitahu biar tidak ndesit melihat perubahan jaman. Mungkin juga dia tidak mudheng, tidak paham. Atau,  bisa jadi langsung nggeblak, semaput, pingsan…..

Kamis, 11 Oktober 2018

QARUN

QARUN

Alkisah, pemuda miskin bernama Qarun yang rajin ibadah itu diajari berwirausaha oleh Musa a.s. Diajarinya cara mengolah bijih2 kuning yang banyak berserakan di tanah, dibuat aneka aksesories dan perhiasan yang bisa bikin cantik penampilan perempuan, yang bisa bikin laki-laki tampak lebih berwibawa bila memakainya.   Perhiasan  dari bijih-bijih kuning yang kemudian kita sebut emas itu laris-manis di pasaran, menjadi barang yang sangat mahal, bahkan menjadi alat ukur kekayaan. Begitulah, Qarun menjadi pengusaha yang kaya-raya dengan ribuan karyawan, yang kunci gudangnya saja banyak sekali sehingga untuk membawanya harus dipikul oleh beberapa orang.

Singkat cerita, Qarun tidak sempat lagi beribadah, tidak mau lagi datang ke majelis taklim yang diasuh Musa a.s., bahkan dia sekarang lebih berpihak pada Fir'aun. Beberapa kali Musa a.s. mencoba mengingatkan agar Qarun menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang-orang miskin dan kaum Bani Israil yang tertindas. Tapi Qarun yang kaya-raya tetap kekeh dengan pendiriannya, dan memilih terus bersekutu dengan Fir'aun.

Sebagaimana Fir'aun, Qarun pun merasa jengah dengan dakwah Musa a.s. yang semakin hari semakin banyak pengikutnya. Maka, rencana licik dan jahat pun disusun dengan rapihnya. Diundanglah Musa a.s. untuk memberikan tausiyah/tabligh akbar pada ribuan karyawannya di istana Qarun. Musa a.s. yang tetap positive thinking/husnudlon itu pun datang dikawal beberapa temannya.

Tabligh akbar dimulai. Musa a.s. mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur pada Allah SWT dengan rajin beribadah kepadaNya, berbakti pada orang tua, menginfakkan sebagian hartanya, saling tolong-menolong, yang kuat melindungi yang lemah, dst.

Tiba-tiba, seorang perempuan cantik semlohai berdiri mengacungkan tangannya ingin bertanya. Musa a.s. pun mempersilahkan si-cantik itu berbicara.

"Ustad Musa, mohon maaf sebelumnya, saya mau mengutarakan isi hati," kata perempuan cantik itu dengan suaranya yang agak genit.

"Iya silahkan, Mbak."

"Eh eh...begini....eehh... Dengan," kata perempuan itu sambil matanya lirak-lirik ke arah singgasana Qarun. Seluruh hadirin terdiam menunggu-nunggu apa yang akan disampaikan.

"Tapi aku malu mau terus terang," katanya sambil bergaya tersipu malu.

"Ayo ngomong saja terus terang," teriak Qarun dari singgasananya.

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Suara sesenggukan mulai terdengar. Dia menangis untuk beberapa saat. Musa a.s. dan seluruh hadirin pun ikut terharu.

"Begini, Ustad Musa. Aku ini seorang pelacur...."

"Waaooww....asyeek....suit..suiitt. Piro regane?," terdengar riuh-rendah suara para lelaki.

"Sudah tidak terhitung berapa banyak lelaki yang kulayani demi memuaskan birahinya. "

"Suit..suit....terus terus...enak tuh....," terdengar sorak-sorai para lelaki.

"Tadi sore aku diundang kemari oleh Mr. Qarun," perempuan itu menunduk dan matanya sesekali melirik ke arah Qarun. "Aku dikasih beberapa perhiasan ini. Tapi...."

"Tapi apa, Mbak. Katakan saja," kata Musa a.s.

"Tapi aku disuruh ngomong di sini, di depan khalayak ini, bahwa Ustad Musa sudah pernah berzina denganku tapi tidak mau membayar."

Semua orang terdiam. Seluruh mata tertuju ke arah Musa a.s. yang wajahnya merah padam manahan amarah. Musa a.s. tidak menyangka Qarun tega memfitnah dengan cara sekeji itu. Sekuat tenaga Musa a.s. tetap berusaha menahan diri. Di sisi lain, Qarun di singgasananya tampak gusar dan kecewa. Mestinya bukan begitu yang disampaikan perempuan itu.

"Payah. Salah redaksi itu. Goblok. Dasar pelacur," kira-kira begitu pikir Qarun.

Dalam kemarahannya, Musa a.s. berdoa agar Allah SWT menurunkan azab pada Qarun dan seluruh hulu-balangnya. Seketika langit pun gelap-gulita, petir menyambar-nyambar. Tanah tempat acara berlangsung terbelah dan ambles. Tampak lumpur menyembul dari dalam tanah lalu menyerang dan menggulung orang-orang dan benda yang ada. Teriakan histeris terdengar dari orang-orang yang berupaya menyelamatkan diri. Namun sia-sia. Qarun berserta seluruh pengikut, hulu-balang, dan harta bendanya tertelan bumi yang ambles itu. Air hujan pun menggenang memenuhi tanah ambles itu menjadi sebuah danau, danau Qarun. Sementara Musa a.s. bersama para sahabatnya sudah meninggalkan tempat dari tadi dan selamat.

#kisah menjelang jumatan

Jumat, 05 Oktober 2018

SASA KENA TIPU

SASA KENA TIPU

"Wah, kapusan lagi, Om. Jinguk tenan og," tiba-tiba Sasa sudah duduk di sampingku sambil ngomel-ngomel.

"Kapusan bagaimana, Sa? Kamu kena tipu lagi?"

"Iya, Om. Kelihatannya cantik dan sopan, jebul kecu. Aku jadi malu banget sama Kang Panut."

"Coba cerita yang bener..."

"Seminggu lalu ada ibu-ibu memelas minta kerjaan di sini. Katanya kerja apapun mau. Dia janda, perlu kesibukan, biar tidak ngrepoti anak-anaknya."

"Ya bagus itu, Sa. Orang kalau sudah biasa kerja, biar sudah tua juga tetap pengin cari-cari kerjaan."

"Ya justru itu, Om. Aku salut sama ibu itu. Pembawaanya juga sopan. Terus kubilang ke Kang Panut supaya dikasih kerjaan. Kang Panut pun manut. Si ibu itu dikasih kerjaan dan boleh nginap di sini."

"Lha terus apa masalahnya, Sa?"

"Jebul kecu tenan, Om. Tadi pagi sebelum shubuh saat orang dapur mulai kerja, dia sudah tidak ada, sudah minggat. Hape Kang Panut dan uang beberapa lembar diembatnya. Jinguk tenan. Malu aku, Om."

"Ooh...jadi kamu kapusan to? Dibohongi ibu itu?"

"Ya iya, Om. Kecu tenan og...."

"Sa, kamu ini kok kayak gak pernah dibohongi orang. Coba diingat-ingat, sudah berapa puluh kali kamu kecelik, ketipu, kapusan  oleh janji-janji politisi yang kamu pilih dan sanjung-sanjung?"

"Wah lha ini. Kalau sudah sampai di situ, modyar aku."

"Modyar piye?

"Ya modyar. Jelas sekarang lebih parah kok, Om. Kapusan kabeh. Keblinger oleh janji-janji waktu kampanye. Gak ada yang netes. Semakin banyak orang korupsi. Harga-harga semakin mahal. Modyar kabeh...."

"Wis wis, Sa. Gak usah diteruske. Sudah sana kerja lagi. Aku mau nyoto dulu."

"Siap, Om. Pokoknya kerja kerja kerja, sak modyare....wkkkkk."

Sasa pun kembali ke tugasnya sebagai juru parkir teladan, dan aku menikmati semangkok soto juara nasional sejak 1950an, Soto Kartongali Jolotundo.

Senin, 24 September 2018

HARI TANI

HARI TANI

Baru tahu ada Hari Tani yang  konon jatuh pada hari ini, Senin 24 September. Kok ya kebetulan banget. Hari ini adalah hari/tanggal perdana pengiriman 5.000 kg Beras Sehat ROJOLELE produk petani-petani dampingan kami di Gempol, Karanganom, Klaten untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sesuai order UMY, beras itu harus kami vacum dulu dalam kemasan 1 kg biar tahan lama dan tidak diserang thether/kutu beras.

"Loh, Om, ini beras Rojolele yang dulu penanaman perdananya dilakukan Pak Hajriyanto Y. Thohari itu?," tanya Sasa melihat kami "gugur-gunung" mindahkan ratusan karung beras dari gudang ke bak truk.

"Iya benar, Sa," jawabku.

"Yang dua bulan lalu panen perdananya ngrawuhke Pak Kyai Marpuji Ali?," tanya Sasa lagi.

"Injih leres, Den..." jawabku.

"Wah hebat. Memang begini seharusnya Muhammadiyah."

"Maksudmu bagaimana, Sa?," tanyaku.

"Loh, selama ini Muhammadiyah kan sudah kondang ampuh di bidang pendidikan, kesehatan, dan tablig to, Om. Bikin ribuan sekolah, ratusan kampus dan rumah sakit sambil merem saja sudah beres semua," kata Sasa sambil jongkok di sampingku.

"Lha iya, Sa. Terus....?"

"Memang sudah saatnya Muhammadiyah serius membantu para petani agar bisa bebas dari belenggu dan penderitaannya. Dan Sampeyan sudah memulai dari sini. Lanjutkan, Om."

"Sik to, Sa. Maksudmu ki piye? Tolong dijelaskan."

"Walaah Sampeyan ki kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kan sudah jelas to, Om, petani itu profesi yang paling berat kerjanya, hasilnya ditunggu-tunggu, tapi dihargai sangat rendah, bahkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya."

"Biasa aja kalee..."

"Biasa piye to, Om? Sampeyan ini kayak gak pernah lihat berita. Beras hasil keringat petani itu dihargai sangat rendah. Harga di pasaran dibatasi oleh Pemerintah dengan HET, Harga Eceran Tertinggi. Tidak boleh melebihi HET. Semakin murah harganya semakin baik."

"Sa, Pemerintah memang harus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, biar stabil, biar perut seluruh rakyat bisa terpenuhi."

"Iyaak...stabil apanya?  Nyatanya semua harga kebutuhan hidup naik terus kok. Harga bumbon naik, harga sabun dan odol naik, harga BBM dan listrik naik terus gak turun-turun, biaya sekolah pun naik terus. Tapi kenapa harga beras gak boleh naik, Om? Memangnya petani gak butuh nyekolahkan anaknya tinggi-tinggi? Kalau sakit harus cari surat miskin ke kelurahan?"

"Wah rupanya pikiranmu sudah terkontaimasi pikiran para politisi, Sa. Males aku jadinya."

"Keliru itu, Om. Bukan begitu maksudku. Aku cuma ingin mengatakan bahwa nasib petani perlu mendapatkan perhatian serius dari lembaga dakwah sebesar Muhammadiyah. Tidak bisa kita mengandalkan perhatian Pemerintah dan pejabat yang dat-nyeng, yang cuma sibuk memperdebatkan angka-angka, yang sibuk mengamankan posisi, dan sibuk membangun citra agar bisa terpilih lagi."

Kubiarkan saja Sasa "ngoceh" terus, sambil aku terus mencatat karung yang sudah dipindahkan ke bak truk. Kalau sudah nyrempet-nyrempet politik gitu, aku jadi males nanggapinya. Sambil klepas-klepus menghisap rokok, Sasa meneruskan kuliah paginya.

"Mereka seakan peduli pada petani, tapi sebenarnya cuma "mlekotho" petani, Om. Diam-diam mengimpor beras, gula, kedelai, garam, dan bawang dari luar negeri. Alasannya untuk menjaga stok dan mencukupi kebutuhan dalam negeri. Akhirnya petani kita semakin menderita dan terpuruk nasibnya. Kalau ada pejabat yang coba-coba berani membela petani, maka cepat atau lambat dia akan disingkirkan dari posisinya.'

"Memang ruwet kok, Sa. Makanya aku males ngobrol soal ini. Jaman sekarang, Sa, kita salah ngomong sedikit saja bisa dhedel-duel dikeroyok bala-kurawa."

"Tenang saja, Om. Langkahmu ini sudah benar. Petani butuh dikancani, dan Sampeyan sudah memulai. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang peduli pada petani. Lanjutkan, Om. Sasa siap membantu kapan saja Sampeyan butuhkan."

Kalimat terakhir Sasa membuatku agak terharu. Ing atase Sasa, orang yang hidupnya besahaja, yang sehari-harinya menjadi juru parkir di pagi-siang hari dan sore-malamnya menjadi juru pijat panggilan. Dia punya  apresiasi dan komitmen yang bagus pada gerakan pembebasan mustadh'afin, meski dengan gaya dan bahasanya yang sederhana.
Aah Sasa...makanya kehadiranmu selalu kurindu.

#serialsasa

#SELAMAT HARI TANI 2018

Selasa, 22 Mei 2018

KHOTBAH JUMAT

KHOTBAH JUMAT

Akhirnya pagi itu aku berhasil berbuka “puasa nyoto Kartongali” setelah kurang-lebih satu tahun tidak ke sana. Warung soto paling legendaris di kawasan Jolotundo Jatinom itu memang jarang sepi terutama di pagi hari. Sedemikian larisnya hingga setiap kali aku lewat dan ingin mampir selalu gagal karena parkiran penuh. Tapi pagi itu sepulang dari ngantar sekolah anak, parkiran tampak longgar, maka aku pun langsung merapat tepat di depan pintu masuk dipandu Sasa si-juru parkir teladan tingkat Nasional.

Semangkok soto ayam dengan lauk perkedel, tempe, karak, dan difinishing dengan segelas teh nasgithel alangkah nikmat terasa. Luar biasa. Kemepyar. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?,” begitu pertanyaan berulang-ulang dari Tuhan. Tapi karena itu pertanyaan retoris, maka hanya bisa kujawab dengan menirukan para mubaligh mengawali tausiyahnya, “Alhamdulillah wasyukrulillah, segala puja-puji dan syukur hanya untuk Allah SWT”.

Sebenarnya aku mau langsung pulang seusai sarapan, tapi Sasa tidak memberiku jalan untuk keluar dengan aba-abanya yang atraktif seperti waktu aku masih sering ke sana.

“Sebentar, Om. Jangan pergi dulu. Aku ingin curhat,” katanya.

“Mbok ke rumah saja nanti sore, Sa,” kataku sambil menghidupkan mesin.

“Tidak, Om. Sekarang saja. Darurat ini. Mumpung ketemu,” Sasa mendekat.

“Begini, Om. Sudah sejak beberapa bulan ini aku diminta khotbah Jumat di mesjid kampungku sendiri. Kebetulan besok Jumat Pahing pas jadwalku,” Sasa mulai bercerita.

“Waoow….elok temen kamu, Sa. Hebat itu. Lanjutkan…..”

Salut. Tampaknya Sasa yang sekarang memang sudah jauh berbeda dengan Sasa beberapa tahun lalu. Ternyata dia sungguh-sungguh ketika dulu menyatakan sudah insyaf dan kapok ikut kelompok rewo-rewo, lalu aktif ikut pengajian-pengajian, bahkan kemudian juga ikut aksi umat Islam di Jakarta 411 dan 212. Kukira waktu itu Sasa hanya ikut-ikutan berangkat ke Istiqlal dan Monas karena pengin melihat Ibu Kota. Ternyata tidak. "Batavia harus kita bebaskan dari cengkeraman kumpeni," katanya.

“Sejak kemarin saya jadi ngeri, Om. Harus bagaimana ini? Apa harus kubatalkan jadwal khotbahku?”

“Loh ada apa, Sa? Kalau sudah terjadwal sebagai khotib, berarti Sasa memang sudah dipercaya dan dijagakke oleh jamaah, lho,” kataku.

“Om, Njenengan pasti tahu bahwa sejak beberapa waktu lalu kabarnya pencaramah agama dan khotib Jumat akan ditata oleh Pemerintah. Bahkan, beberapa hari terakhir ini konon Pengawas Pemilu yang akan membuatkan teks khotbah Jumat.”
 
“Kabarnya memang begitu, Sa. Terus apa masalahnya?”

"Njenengan kan tahu, Om, sebenarnya saya ini sama sekali tidak punya cukup ilmu dan keahlian pidato, tapi terpaksa mau jadi khotib Jumat karena dipaksa masyarakat.”

“Ya dilakoni dengan ikhlas wae to, Sa.”

“Bukan itu masalahnya, Om. Masyarakat kampung saya saat ini sedang semangat-semangatnya beribadah. Tua, muda, remaja, anak-anak, semua rajin ke mesjid yang baru selesai kami bangun. Lalu masyarakat pengin ngadakan Jumatan sendiri, tidak lagi ikut Jumatan di kampung sebelah.”

“Wah apik kuwi, Sa. Alhamdulillah….”

“Yang namanya Jumatan kan harus ada khotibnya, Om.”

“Ya iyalah, Sa.”

“Saya termasuk yang ketiban sampur harus khotbah setiap Jumat Pahing dan Jumat Kliwon. Tidak bisa menolak, Om. Maka saya pun terus belajar, kulakan ilmu untuk dibagikan ke jamaah.”

“Bagus itu, Sa. Memang harus begitu.”

“Tapi sekarang saya jadi takut. Jangan-jangan khotbah saya nanti dianggap membodohi jamaah? Jangan-jangan saya nanti dianggap menebarkan kebencian, mengancam persatuan-kesatuan bangsa, tidak pro-kebhinekaan, anti-Pancasila, dan anti-NKRI.  Lalu tahu-tahu saya diciduk. Ngeri to, Om?”

“Lha kok mikirmu sampai segitu to, Sa?” tanyaku dengan nahan ekspresi gumun pada sahabatku yang semakin kritis ini.  Tidak kuduga Sasa akan sejauh itu.

“Apa Pemerintah, Kemenag, dan Bawaslu bisa nyediakan khotib untuk seluruh mesjid, baik di kota maupun di desa dan kampung-kampung? Apa Pemerintah akan merekrut khotib secara besar-besaran lalu diadakan penataran paket 100 jam seperti jaman Penataran P4 dulu, lalu hanya khotib yang sudah bersertifikat yang boleh khotbah dan digaji oleh Pemerintah? Memangnya Pemerintah cukup punya duit untuk itu? Lha hutangnya saja semakin menggunung to, Om. Aku sih gak masalah. Malah beneran bisa terbebas dari kewajiban khotbah. Monggo, silahkan Pemerintah nerjunkan khotib. Tapi jangan sampai yang terjadi justru kesengajaan mematikan inisiatif dan swadaya masyarakat. Bisa gawat. Om.”

Sasa masih neruske ngomyang dan aku hanya terdiam tak berani merespon. Beruntung ada mobil datang mau merapat parkir dan Sasa langsung bergerak menyambutnya. Pelan-pelan kupancal pedal gasku meninggalkannya.

“Bali sik yho, Sa,” kulambaikan tanganku kepadanya.

#serialsasa

Minggu, 06 Mei 2018

NYADRAN

NYADRAN

Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan tiba. Orang beramai-ramai mengunjungi pesarean tempat keluarganya dimakamkan dengan membawa sapu, cangkul, sabit, cengkrong, dan alat-alat yang diperlukan untuk membersihkan makam. Setelah makam bersih lalu ditaburi bunga mawar atau melati untuk pewangi. Biasanya setelah itu orang-orang duduk khusyuk mendoakan arwah almarhum/almarhumah agar diampuni dosanya dan mendapat tempat terbaik di aisiNya.

Rangkaian kegiatan itu juga disebut besik. Dulu di beberapa tempat biasa dijumpai orang-orang membakar kemenyan sebelum berdoa. Suasanapun jadi magis.

Seusai besik, orang-orang pulang ke rumah masing-masing untuk berganti pakaian dan mengambil ambeng atau tumpeng serta aneka kue pelengkap seperti tape ketan, jadah, apem, wajik, lemet, kacang godhok, dan buah-buahan. Mereka berkumpul di bangsal dekat makam, duduk bersila menghadap ambengnya masing-masing. Setelah semua warga berkumpul, termasuk para perantau yang sempat mudik nyadran, tahlilan dan doa dipimpin seorang kaum pun dimulai. Usai tahlilan dan doa  dilanjutkan makan bersama. Orang bebas memilih semua makanan yang ada atau cukup makan dari ambeng yang dibawanya dari rumah. Inilah saat anak-anak bersuka-cita berebut makanan yang diinginkan dan sudah dilirak-liriknya sambil ikut tahlilan tadi.

“Wah nyadran kali ini lebih ramai dari tahun lalu, Om. Ndelalah pas hari Minggu, anak-anak sekolah pada libur,” Sasa mengawali ceritanya.

“Anak-anak ikut besik di sarean, Sa?, tanyaku.

“Hiya, Om. Tapi namanya anak-anak, mereka bukannya ikut bersih-bersih makam.”

“Dho dolanan?”

“Mencari ketonggeng, Om. Tumpukan-tumpukan batu bata di sekitar makam dibongkarinya. Kulihat mereka dapat beberapa ekor lalu diwadahi pakai toples Aku juga gak mudheng mau buat apa ketonggeng. Kukira untuk tugas sekolah. Aku cuma khawatir kalau mereka dientup pasti sakit luar biasa.”

“Kamu gak tanya, Sa?”

“Tanya, Om. Katanya mau diternak. Anak jaman sekarang makin aneh-aneh ya, Om. Ketonggeng mau diternak. Tenanan ato cengengesan to, Om?”

Tampaknya kali ini Sasa kurang update berita. Tumben. Jadinya gak mudheng melihat fenomena anak-anak berburu kalajengking. Berita mutakhir yang bikin heboh jagad maya dan jagad politik kok sampai gak paham. “Ah Sasa...kok tumben ketinggalan isu penting,” batinku.

“Kamu ngapain aja seminggu ini, Sa? Apa gak lihat berita di tivi, atau diceritai ponakanmu yang rajin baca berita di internet?

“Tiviku rusak, Om. Belum kuserviske. Ndelalah semingguan ini ponakan juga gak nongol. Lha ada isu apa to, Om?”

“Ngene lho, Sa. Anak-anak yang berburu ketonggeng itu mesti gara-gara dengar saran Presiden kepada para Bupati dan Wali Kota.”

“Saran apa, Om?”

“Para Bupati dan Walikota supaya mengembangkan komoditas yang bernilai jual sangat tinggi, yaitu racun kalajengking alias ketonggeng.”

“Ah mosok Pak Presiden ngasih saran gitu, Om?”

"Kandyani kok. Konon, harga racun itu per ons bisa sampai 135 Milyar.”

“Paling itu cuma guyon, Om.”

“Guyon piye? Di farum resmi lho, Sa.”

“Ya meskipun di forum resmi, tapi piye-piye Presiden kita itu wong Jowo, Om. Kadang kalau ngendikan pakai sanepan, perumpamaan, istilah ponakanku pakai metamor.”

“Metafor?"

“Ya pokoknya pakai for for gitulah."

"Terus, Sa...."

"Mari coba kita pahami kata kalajengking itu. Kala, berarti waktu, saat. Jengking, berarti jatuh. Kata kalajengking bisa diartikan waktu/saat jatuh, waktu ketika kita terpaksa turun dari posisi saat ini, saat kita hanya bisa diam saja dan tidak bergerak.”

“Artinya, Sa?”

“Mungkin Pak Presiden bermaksud mengingatkan para Bupati dan Walikota supaya tansah eling lan waspada bahwa masa jabatannya cuma sebentar sehingga harus rajin-rajin kerja  keras untuk mensejahterakan rakyatnya. Jangan leha-leha nyantai menunggu saat jatuh terjerembab. Jangan enak-enak nglumpukke  duit dengan cara korupsi. Sebab kalau jatuh bisa terasa menyakitkan seperti racun ketonggeng.”

Wah ini....tafsir yang bagus dan cerdas. Kalau benar kata Sasa bahwa itu sanepan, alangkah dungunya orang-orang yang nyinyir dan mencibir soal kalajengking. Tapi kalau bukan sanepan, alias sungguhan, betapa habat anak-anak jaman NOW. Sangat peka dan cepat tanggap terhadap peluang bisnis dan komoditas yang bernilai WAOW.

Ahh, Sasa. Tak mungkin kujelaskan bahwa secara ilmiah racun ketonggeng memang punya khasiat yang dahsyat untuk ngobati kanker. Tak mungkin juga kujelaskan karena sedemikian sulitnya beternak kalajengking dan teknis pengambilan racunnya sehingga harga racun jadi sangat muahal, jauh lebih mahal dari harga emas.

Ahh, Sasa. Janjane aku yho ora mudheng je....